Golok Yanci Pedang Pelangi
Karya Gu long
Disadur oleh : Gan KL
Setiap orang tentu pernah bermimpi.
Mimpi memang sesuatu yang aneh. Banyak
peristiwa yang tak mungkin terjadi dalam kehidupan
nyata sering kali dapat dialami dalam mimpi. Anganangan
yang sukar terwujud dalam kehidupan nyata
dapat dialami dalam mimpi.
Macam ragam pula orang bermimpi. Ada mimpi
yang seram, mimpi yang sedih, mimpi gembira, yang
menakutkan dan menggusarkan.
Akan tetapi, siapapun pasti tidak pernah mengalami
“mimpi aneh” yang akan kita ceritakan seperti
berikut ini.
Malam kelam, kabut tebal menyelimuti bumi.
Berjalan di tengah kabut yang mengambang itu, Ho Leng-hong merasa bagaikan
sedang berjalan di tengah awan, tubuh terasa enteng dan seakan-akan hendak
melayang-layang sehingga dia kelihatan lebih cakap dan bergairah.
Bila dalam sakunya waktu itu tidak diganduli dengan lima puluh tahil perak, bisa jadi
dia akan benar-benar melayang-layang terbawa kabut.
Orang kuno bilang: Kalau rejeki sudah nomplok, gunung pun tak dapat
mengalanginya. Dan malam ini Ho Leng-hong benar-benar telah meresapi kebenaran
pepatah tersebut.
Ambil contoh seperti apa yang baru saja dialaminya di rumah perjudian keluarga
Him sana, dia bermain Pay-kiu. Kartu yang dipegang selalu bagus dan mengherankan.
Bila orang lain menjadi “Ceng” (bandar), kartu yang dipegangnya selalu mati dan
pasti tombok. Sebaliknya jika giliran Ho Leng-hong yang menjadi bandar, maka kartu
yang dipegangnya pasti bagus, andaikan tidak menang, paling sedikit juga seri. Bila
pemain atau pemasang mendapat kartu “Te kiu”, maka dia mendapat kartu “Thiankiu”.
Jika pemain memegang kartu “Thian-tui” dan “Te tui”, dia mendapat kartu “Cicun”
yang merupakan kartu yang tak terkalahkan. Maklum, Ci-cun sendiri berarti
yang maha besar.

Begitu bagus kartu yang dipegangnya sehingga membikin lawan-lawannya sama
mendelik dan kheki setengah mati, berulang-ulang mengusap keringat dan susul
menyusul merogoh saku ... akhirnya, semua isi saku lawan-lawannya berpindah
tempat ke saku Ho Leng-hong.
Rumah perjudian keluarga Him itu berformat kecil, tapi uang “tong” cukup
besar.Bukanlah pekerjaan gampang jika ingin menang lima puluh tahil perak di sini.
Demi merayakan “panen” yang baru saja terjadi, Ho Leng-hong tidak mau menyiksa
dirinya sendiri, maka begitu meninggalkan rumah judi itu, segera ia masuk ke restoran
Lau-muacu (si burik Lau) di penggaulan jalan sana.
Keluar dari restoran Lau si burik, sedikitnya delapan bagian di terpengaruh oleh
minuman keras. Tapi, biarpun mabuk, dia tak lupa daratan sama sekali, sedikitnya dia
masih ingat ke mana dia harus “mendarat”.
Dia masih ingat janjinya dengan Siau Cui yang lagi menunggu kedatangannya. Ia pun
tidak lupa di mana letak “Go-tong-kang” (gang waru), maka ke arah gang itulah dia
menuju.
Waktu masuk ke lorong yang sudah apal baginya itu, tiba-tiba timbul semacam
rangsangan yang sukar dijelaskan. “Uang adalah nyali”, atau uang sama dengan
keberanian.
50 tahil perak memang bukan suatu jumlah yang terlalu besar, tapi kalau digunakan
mengiming-iming di depan hidung kawanan budak germo itu, sedikitnya dapat
membuat mata anjing mereka melotot.
Maklum, biasanya Ho Leng-hong dianggap langganan “kurus”, bersaku kosong,
sehingga kurang mendapat pelayanan yang layak. Sekarang sakunya berisi 50 tahil
perak, ia ingin berlagak “Cukong” supaya kawanan budak itu tidak lagi menghinanya.
Begitulah, sambil menepuk sakunya yang berisi itu, ia berdehem sekali, lalu
membusungkan dada dengan lagak “dunia ini aku punya”, lalu dengan langkah
berlenggang ia masuk ke rumah pelacuran “Hong-hong-wan” atau Villa burung Hong,
di mana Siau Cui sedang menanti kedatangannya.
Meski sudah jauh malam, namun pintu gerbang Hong-hong-wan masih terbuka lebar,
seorang pesuruh rumah pelacuran itu menyambut kedatangan Ho Leng-hong dengan
senyuman dikulum.
“Ho-ya (tuan Ho), kau datang!” sapanya.
“Kenapa? Aku dilarang datang?” Ho Leng-hong menengadah dengan gaya
menantang.
“Ai Ho-ya ini, masa aku bermaksud begitu? Sengaja mengundang Ho-ya saja belum
tentu bisa....”

“Ya, lantaran undak-undakan pintu Hong-hong-wan terlalu tinggi, jadi orang yang
tak punya fulus tak dapat masuk.”
Merasakan gelagat tak enak, cepat pesuruh berteriak, “Ho-ya datang, nona Siau Cui
siap menerima tamu!”
Teriakan itu secara beruntun disampaikan ke ruang dalam, sepanjang jalan pegawai
itu menyingkapkan tirai dan mempersilakan Ho Leng-hong masuk ke dalam.
Sebenarnya Ho Leng-hong ingin “mendamprat” lagi orang-orang itu, tapi lantas
terpikir olehnya bahwa “tuan besar” yang banyak uang biasanya enggan ribut dengan
orang bawahan, sebab hal ini hanya akan menurunkan derajat sendiri, maka ia lantas
masuk saja dengan tertawa tak acuh.
“Cepat benar berita yang diterima orang-orang ini,” demikian pikirnya sambil
melangkah masuk, “mereka tentu sudah tahu aku berhasil menang besar di rumah
perjudian keluarga Him, maka sikap mereka jadi lain daripada biasanya.”
Baru masuk ke kamar, kontan Siau Cui menggerutu, “Kenapa sekarang baru muncul?
Kau sudah berjanji mau datang sebelum tengah malam, bisa gila orang menunggu
dirimu.”
“Sejak tadi aku mau kemari,” sahut Ho Leng-hong dengan tertawa, “tapi apa mau
dikatakan kalau dewa rejeki menahanku terus. Maka aku datang terlambat.”
Sebuah bungkusan kecil yang berat dikeluarkan dan dijejalkan ke tangan Siau-Cui,
lalu bisiknya dengan lembut. “Nih, ambillah!”
“Apa ini?”
“Buka saja, segera tahu.”
“Uang?” tanya Siau Cui sambil menimang-nimang bobot bungkusan itu.
“Benar, itulah yang kita butuhkan, lima puluh tahil, persis!”Ho Leng-hong tertawa
bangga.
Ia mengira Siau Cui pasti akan terkejut bercampur gembira dan tentu akan buru-buru
membuka serta menghitungnya, atau mungkin saking girangnya dirinya akan dipeluk
dan diberi hadiah kecupan hangat . . . .
Siapa tahu, Siau Cui tidak kaget, atau melonjak kegirangan, iapun tidak membuka
bungkusan itu serta menghitung jumlahnya, bungkusan kecil itu malah dibuang begitu
saja ke meja.
“tidak tahukah kau bahwa aku ada urusan penting hendak berunding denganmu?”
katanya sedih, “ai, mengapa kau hanya tahu minum arah dan berjudi? Selain
pekerjaan itu tak pernahkah kau memikirkan soal lain?”

“Siau Cui, aku berbuat demikian demi kau, bukankah ibumu sakit dan membutuhkan
uang?”
“Sekalipun membutuhkan uang, bukan berarti harus mendapatkannya lewat berjudi,
kukira uang demikian bisa dijagakan?”
“Tentu saja, coba lihat! Aku berhasil menangkan uang itu seperti makan kacang
goreng saja, coba kalau tidak kangen padamu, sampai fajar nanti dua-tiga ratus tahil
perak pasti bisa kukeruk. Siau Cui, tahukah kau betapa anehnya kartu-kartu itu . . . .”
“Ah, enggan kudengarkan soal kartu, aku ada urusan penting hendak kurundingkan
denganmu.”
“Soal penyakit ibumu?”
Siau Cui menggeleng, “Penyakit ibu sudah agak baikan, yang hendak kurundingkan
adalah urusan mengenai dirimu sendiri.”
“Urusanku?” Ho Leng-hong melengak, “urusan apa?”
Siau Cui tidak menjawab, ia menuju keluar dan celingukan ke sekeliling situ, lalu
dengan hati-hati menutup pintu menguncinya dan menggandeng tangan Ho Lenghong
menuju ke pembaringan.
Ho Leng-hong merasa tangannya begitu dingin, basah, sedikit gemetar, ini semua
membuatnya tercengang.
“Ada urusan apa sebenarnya? Jangan terlalu panik,” ia berbisik.
“Leng-hong,” kata Siau Cui serius, “aku ingin menanyakan suatu persoalan, dan aku
harap kau suka menjawab sejujurnya, bersedia bukan?”
“Baik, katakanlah!”
“Ai, sudah cukup lama kita berkenalan,” Siau Cui menghela napas. “dan selama ini
tak pernah kauanggap diriku sebagai pelacur, akupun tidak menganggapmu sebagai
lelaki iseng, hal ini penting artinya bagimu maupun bagiku, anggaplah sebagai
permohonanku kepadamu jangan menganggap ucapku ini sebagai gurauan belaka . . .
.”
Terpaksa Ho Leng-hong menarik kembali senyumannya dan bersikap sungguhsungguh.
Ia tahu, semakin serius seorang perempuan berbicara, semakin besar pula
kemungkinan persoalannya yang akan dikemukakan Cuma urusan sepele, dalam
keadaan begitu, paling baik bagi seorang lelaki adalah banyak mendengar dan sedikit
bicara, walau dalam hati meremehkan, tapi di luar harus menunjukkan sikap serius.
Begitu lirih suara Siau Cui, bibirnya hampir menempel di tepi telinga Ho Leng-hong,
ucapnya, “Leng-hong, kau masih muda dan lagi memiliki ilmu silat yang bagus,

mengapa kau selalu bergaul dengan kaum penganggur? Tidak inginkah kau
menciptakan suatu pekerjaan besar di dunia persilatan?”
Ho Leng-hong membungkam meski diam-diam keheranan, “Aneh benar budak ini,
obat apa yang dia makan hari ini? Kenapa tiba-tiba saja menyinggung soal tetekbengek
ini?”
“Eh, dengar tidak apa yang kukatakan?” tiba-tiba Siau Cui menggoncangkan
tubuhnya.
“Sudah dengar!”
“Kenapa diam saja kalau sudah dengar?”
“Persoalan inikah yang kau maksudkan sebagai urusan serius?” tanya Ho Leng-hong
setelah berpikir sebentar.
“Benar, memangnya kauingin hidup luntang-lantung begini selamanya, tidak
pernahkah memikirkan soal masa depanmu?”
Ho Leng-hong tertawa “Lantas apa yang harus kulakukan? Mencuri? Merampok
dengan mengandalkan ilmu silatku? Atau membunuh orang untuk mempopulerkan
namaku di mata masyarakat?”
“Tidak, aku tidak berharap kau berbuat begitu, tapi kau kan bisa mengemban tugas
suci sebagai seorang pendekar untuk menolong yang lemah dan menumpas yang
jahat, menegakkan keadilan dan kebenaran bagi kaum kecil . . . .”
“O, itu bukan tugasku,” Ho Leng-hong mengangkat bahu, “hanya ada dua macam
manusia di dunia ini yang melakukan hal-hal begitu, pertama adalah keturunan orang
kaya yang ingin mencari nama, dan kedua adalah manusia miskin yang ingin
menggunakan kesempatan itu untuk mencari popularitas dan memperbaiki keadaan
sosial pribadinya. Hah, jelasnya yang dicari juga nama dan harta.”
“Kalau begitu, apakah mereka yang mengemban tugas suci sebagai seorang pendekar
juga manusia munafik?”
“Aku tidak memaki mereka sebagai munafik, juga tidak mengakui mereka sebagai
seorang Kuncu, sebab kalau mengemban tugas suci tanpa mencari nama, dari mana
pula datangnya nama-nama besar para pendekar itu? Kalau bukan lantaran harta,
semua Hiap-kek (pendekar) di dunia ini tentu sudah pada mampus kelaparan,
memangnya mereka hanya makan nasi sendiri dan harus mengurusi persoalan orang
lain?”
“Bukan maksudku untuk mengajak kau berdebat persoalan ini, aku hanya ingin
bertanya, sekalipun tidak kaupikirkan tentang dirimu, seharusnya kau berpikir
untukku, apakah kau senang melihat aku bercokol terus di tempat semacam ini?”
“Bukankah sudah kukatakan padamu, Siau Cui? Asal aku punya uang, pasti kau akan
kutebus.”

“Tapi aku harus menunggu sampai kapan?”
“Ehm, kalau kulihat suasana malam ini, rasanya kau tak perlu menunggu terlalu lama
. . . .” Ho Leng-hong tertawa.
“Tidak! Aku tak dapat menunggu, seharipun tak sudi aku menunggu lagi. Leng-hong,
kalau kau masih menginginkan diriku, bawalah aku pergi sekarang juga.”
“Sekarang? Detik ini juga?” seru Ho Leng-hong tercengang.
“Ya, detik ini juga kita harus pergi jauh dari sini, makin jauh makin baik, kita cari
suatu tempat yang tak seorang pun kenal kita, sekalipun kehidupan kita lebih susah
juga aku rela . . . .”
“Siau Cui, kau sedang mengigau? Kau mabuk?” kata Ho Leng-hong meraba jidat si
nona, “Sesungguhnya kau yang mabuk atau aku yang mabuk?”
Tiba-tiba Siau Cui memeluk pemuda itu erat-erat, lalu berbisik dengan suara gemetar,
“Kumohon kepadamu Leng-hong, semua perkataanku benar-benar timbul dari
sanubariku, cepatlah bawa aku pergi, kalau terlambat mungkin tak sempat lagi . . . .”
“Siau Cui, ada apa kau hari ini?” Ho Leng-hong berkerut kening, “hari kita masih
panjang, siapa bilang tak sempat lagi . . . .”
Sebelum perkataannya berlanjut, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Bagaikan seekor kelinci yang ketakutan, Siau Cui mendorong tubuh Ho Leng-hong,
lalu melompat bangun sambil menutupi mulutnya dengan rasa kaget dan takut luar
biasa.
“Siapa?” tegurnya kemudian.
“Aku enso Go!” jawab orang di luar. “Buka pintu nona, aku mengantar kuah
penghilang mabuk untuk Ho-ya.”
Tiba-tiba air muka Siau Cui berubah menjadi pucat, dengan sedih ia melirik Ho
Leng-hong sekejap, lalu sambil menarik napas panjang ia membuka palang pintu.
Tahun ini Go So atau enso (kakak ipar) Go berusia tiga puluhan, dia adalah babu
Hong-hong-wan yang khusus untuk pekerjaan kasar, tinggi besar seperti kuda teji,
badannya berotot seperti kerbau, meski mukanya berbedak tebal dan bergincu,
tampangnya dipandang dari sudut manapun tidak mirip seorang perempuan.
Dengan tangan sebelah membawa baki dan tangan yang lain mendorong pintu, lebih
dulu ia melongo ke dalam kamar, lalu katanya kepada Ho Leng-hong sambil tertawa,
“Ho-ya, kau memang orang yang paling sibuk, bila malam ini kau tidak datang,
sungguh nona Cui kita bisa terserang penyakit rindu.”
Ho Leng hong enggan melayani perempuan macam banci ini, ia tidak menjawab.

Go So melirik sekejap wajah Siau Cui, lalu tertawa lagi, “Mama kita mendengar Hoya
lagi-lagi minum sampai mabuk, maka beliau menyuruh orang membuatkan
semangkuk kuah penyadar mabuk untukmu, Ho-ya, minumlah cepat mumpung masih
panas.”
“Terima kasih, letakkan saja di meja!”
“Kuah penyadar mabuk makin panas semakin manjur,” desak Go So lagi sambil
mengangsurkan bakinya ke depan pemuda itu, “apalagi sudah larut malam, minum
saja dulu kemudian baru beristirahat, kalau masih ada urusan besok kan masih ada
waktu.”
“Baik, letakkan dulu di situ, nanti akan kuminum sendiri,” kata Leng-hong.
Tapi Go So mendesak terus, kepada Siau-Cui ia berkata, “Nona, jangan kauanggap
aku cerewet, biasanya orang mabuk itu cepat lelah, kau harus mengajak Ho-ya
beristirahat lebih dulu, jangan bicara yang bukan-bukan, berilah kesempatan kepada
Ho-ya untuk menenangkan diri.”
“Aku tahu,” bisik Siau-Cui.
“Bagus kalau sudah tahu, nona muda memang harus lebih banyak belajar menghibur
tuan sekalian, apalagi hari esok kan masih panjang, sekalipun masih ada persoalan
segudang juga dapat diselesaikan . . . .”
Ho Leng-hong berharap orang ini lekas pergi, maka dia ambil kuah tadi dan sekali
tenggak menghabiskan isinya, lalu sambil mengulapkan tangan ia berkata, “Sudahlah
Go So, kau harus beristirahat pula, kalau kau tidak pergi mana kami bisa
beristirahat?”
“O, rupanya tuan mengusir aku? Kuatir waktumu yang berharga hilang? Baiklah, aku
akan pergi, aku segera pergi!”
Di mulut ia berkata akan pergi, tapi badannya tak bergeser, ia malah memandang Ho
Leng-hong sambil tertawa. Sikapnya seperti lagi menantikan sesuatu, tapi apa yang
ditunggu? Atau mungkin sedang menunggu tip atau persen?
Muak rasanya Ho Leng-hong menyaksikan tampang orang, dia ingin mengambil
uang supaya orang lekas pergi, tapi empat anggota badannya tiba-tiba menjadi lemas
tak bertenaga, kelopak matanya menjadi berat, rasa mengantuk yang sukar ditahan
tahu-tahu menyerangnya.
Ya, orang yang mabuk arak memang sangat lelah.
Ho Leng-hong betul-betul lelah, saking lelahnya sampai badan lemas tak bertenaga,
pikiranpun terasa kosong . . . .
Hanya satu keinginannya waktu itu, yakni memejamkan mata dan tidur sepuasnya.
Soal Go So sudah pergi atau tidak? Kuah penyadar mabuk kenapa tidak manjur? Ia

malas untuk memikirkannya lagi.
Dalam keadaan lamat-lamat ia pejamkan matanya, tidur lelap dan terbuai di alam
mimpi . . . .
-------------------------
Berapa lama ia tertidur? Ia tak tahu.
Bahkan sekarang ia masih tidurkah? Atau sadarkah? Ia sendiripun tak tahu.
Ia cuma tahu, sebelum matanya terbuka, terenduslah bau harum sayup-sayup.
Bau harum itu seperti datang dari bawah bantal, seperti juga timbul dari seprei,
sampai kelambu, pembaringan . . . . pokoknya seluruh kamar dipenuhi bau harum.
Bau harum itu amat sedap dan juga asing baginya, sudah jelas bukan bau harum yang
biasa terendus dari bada nona-nona penghuni Hong-hong-wan, bau harum itu jelas
bau harum tingkat tinggi.
Dia menggeliat lalu membuka matanya perlahan, pertama yang dilihatnya adalah
seorang genduk cilik berbaju hijau berusia antara 13-14 tahun berdiri di depan
pembaringan sambil mengulum senyum.
Ia mengkucak-kucak matanya serta memandang sekeliling ruangan itu, ternyata ia
sedang berbaring di sebuah villa yang dibangun di tengah kolam.
Empat sisi ruang ada daun jendela, air nan hijau mengelilingi villa tersebut, di tepi
kolam di depan sana kelihatan aneka warna bunga tumbuh dengan indahnya . . .
rupanya bau harum yang terendus tadi berasal dari bau bunga yang tumbuh di
sekeliling tempat itu.
Hanya di surgaloka terdapat pemandangan seindah ini, atau mungkin ia sudah
kesasar ke surgaloka seperti halnya dalam dongeng?
Sementara ia tercengang, genduk berbaju hijau itu telah menyapa sambil tertawa,
“Kau sudah sadar Tuanku?”
Ho Leng-hong melenggong “Aku . . .”
“Nyenyak benar tidur Tuanku ini, sudah dua kali nyonya menjenguk kemari tapi
Tuan belum bangun juga, bir hamba segera memberitahu kepada Hujin (Nyonya). . . .
.”
“Eh . . . eh . . . tunggu sebentar, bolehkah kutanya, tempat manakah ini? Kenapa aku
bisa tertidur di sini?” Seru Ho Leng-hong.
Mula-mula genduk cilik itu tertegun, lalu sambil menutup mulutnya ia tertawa geli,
dan berkata, “Toa-ya, tampaknya mabukmu belum hilang dan masih mengigau.”

“Tidak! Aku tidak mabuk, aku segar bugar, aku benar-benar tidak tahu tempat
manakah ini.”
“O, Tuanku, jangan-jangan engkau sakit?” dayang itu tertawa cekikikan. “Masa
rumah sendiri tidak kenal lagi?!”
“Rumah? Rumahku sendiri?”
“Tentu saja, siapa yang tidak tahu tempat ini adalah Thian-po-hu yang tersohor di
kolong langit ini. Dan villa ini adalah Kiok-hiang-sia di belakang taman yang paling
disukai Tuan?”
“Thian-po-hu . . . Kiok-hiang-sia . . . .” gumam Ho Leng-hong, tiba-tiba ia berseru
tertahan, “Hah, kaumaksudkan tempat ini adalah istana Thian-po-hu di Kiu-ci-shia
(benteng liku sembilan)?”
“Terima kasih kepada langit dan bumi, syukurlah Tuan sudah ingat kembali.”
“Lantas, siapakah aku?”
“Tuan, masa siapakah dirimu sendiri juga lupa?”
Ho Leng-hong menggeleng, “Bukannya lupa, kutahu benar siapakah diriku, pada
hakikatnya aku tak mempunyai hubungan apapun dengan Thian-po-hu, kenapa aku
bisa tidur di sini?”
Genduk cilik itu tak bisa tertawa lagi, matanya terbelalak lebar.
“Tuan, apa yang kaukatakan?” ia berteriak. “Masa kau mengatakan dirimu tak ada
hubungannya dengan Thian-po-hu?”
“Ya, aku memang tak ada hubungan apa-apa dengan kalian, aku she Ho dan tinggal
di Lok-yang, sekalipun sudah lama kudengar kebesaran nama Thian-po-hu, sayang
selama ini tidak ada berhubungan.”
“Apa? Kau she Ho?” kembali dayang cilik itu menjerit.
“Ya, betul!”
“Kau.... kau bilang tak pernah berhubungan Thian-po-hu...”
“Benar!”
“Kau.... kau..., siapakah dirimu sendiri juga tidak ingat lagi?”
“Tidak, aku ingat dengan sangat jelas, aku Ho......”
Dengan mata terbelalak dayang itu menyurut mundur beberapa langkah, tiba-tiba ia
menjerit kaget, lalu angkat langkah seribu, seakan-akan mendadak ia lihat di atas
kepala Ho Leng hong tumbuh sepasang tanduk.....

Baru beberapa langkah ia lari keluar villa itu, hampir saja ia bertumbukan dengan dua
orang yang muncul dari depan.
Kedua orang itu adalah majikan dan pelayan, yang satu memakai baju berwarna
kuning telur berdandan pelayan, sedang yang lain adalah seorang nyonya muda jelita,
mereka sedang menyeberangi jembatan dan masuk ke villa air tersebut.
Dengan suatu gerak cepat pelayan baju kuning itu menyambar lengan si genduk cilik
tadi dan menegurnya, “He, Siau Lan, apa-apaan kau? Kenapa lari seperti diuber
setan?”
“O, nyonya, enci Bwe, kebetulan sekali kedatangan kalian,” seru Siau Lan dengan
napas tersengal, “Cepat masuk dan tengoklah keadaan Tuan, dia . . . dia . . . .”
“Tuan kenapa?” tanya nyonya cantik itu dengan kuatir.
“Dia . . . entah sebab apa Tuan selalu mengatakan tidak kenal tempat ini . . . . dia
mengaku she Ho, katanya tak ada hubungannya dengan Thian-po-hu . . . . . .”
“Ah, masa begitu?” seru si nyonya terperanjat.
“Hujin jangan percaya obrolannya,” hibur Bwe-ji cepat, “tentu Tuan sengaja
menggodanya setelah sadar dari mabuknya, dan budak cilik ini menganggapnya
sebagai kejadian serius.”
“Tidak, Tuan tidak bergurau, semuanya adalah kejadian nyata, Tuan bicara dengan
serius, tidak seperti bergurau, kalau tidak percaya masuklah dan periksa sendiri.”
Nyonya cantik itu berkerut kening, ia tidak banyak bertanya lagi dan cepat-cepat
masuk ke dalam rumah.
Tatkala dilihatnya Ho Leng-hong duduk di atas pembaringan dengan tenang, ia
mengembus napas lega.
“Huh, Siau Lan si budak ini memang harus digebuk, coba lihat, Tuan kan baik-baik
saja, bikin kaget hatiku saja.”
“Betul, Siau Lan suka gila-gilaan, mulutnya suka ngaco-belo,” Bwe-ji menimpali.
“Tapi sungguh-sungguh aku tidak bohong, Tuan yang berkata begitu kepadaku,” kata
Siau Lan dengan penasaran.
“Huh, masih membantah? Coba lihat, Tuan segar bugar, masa ia mengucapkan katakata
gila begitu....” omel Bwe-ji.
“Eh nona, jangan kau salahkan dia, apa yang dikatakannya memang benar dan bukan
kata-kata gila,” seru Ho Leng-hong tiba-tiba. “Aku memang she Ho dan tak pernah
datang ke Thian-po-hu, mungkin terjadi kesalah-pahaman di antara kita.”

“Kesalah-pahaman? Kesalahan-pahaman apa?” tanya Bwe-ji dengan melengak.
“Kukira mungkin kalian telah salah menganggap diriku sebagai seorang lain.”
Dengan bingung Bwe-ji memandang nyonya muda itu, sungguh ia tidak percaya pada
apa yang didengarnya barusan.
Nyonya cantik itu kaget bercampur heran, sesudah tercengang sejenak barulah
katanya dengan serius. “Jit-long, jangan bergurau macam begitu dengan para dayang,
sekalipun mau bergurau, tahu diri sedikitlah. Gurauannya tidak apa-apa, kalau sampai
tersiar keluar, bagaimana dengan nama baik Thian-po-hu?”
“Aku tidak bergurau, aku bicara sesungguhnya!” kembali Ho Leng-hong menegas.
Sekilas perasaan bingung dan ragu menghias wajah nyonya muda itu, “Jadi
kauanggap dirimu she Ho?”
“Bukan menganggap, sesungguhnya aku memang she Ho”
“Kalau begitu, kenalkah kau siapa diriku?”
“Maaf, sebelum perjumpaan ini tak pernah kita bertemu, tapi dari panggilan kedua
nona cilik ini, agaknya nyonya inilah isteri Nyo-tayhiap dari Thian-po-hu yang
tersohor itu, betul bukan?”
Nyonya muda itu merasa geli dan juga mendongkol, ia menengok ke arah Bwe-ji dan
bertanya, “Coba dengar, perkataan manusiakah itu? Masa siapa diriku tidak
dikenalinya lagi.”
“Ya, mungkin semalam tuan mabuk keras, sampai sekarang mabuknya belum hilang .
. . . “ kata Bwe-ji.
“Tidak, aku tidak mabuk, aku merasa segar,” kata Leng-hong cepat, “Setiap kalimat,
setiap perkataanku semuanya kuucapkan dengan pikiran yang sehat.”
Mata nyonya itu mulai berkaca-kaca karena sedih, katanya dengan mendongkol,
“Semua ini gara-gara Lo-ya (tuan Lo) sekalian. Hmm, setiap kali mereka selalu
mengantarmu pulang dalam keadaan mabuk. Coba lihat, sampai nama sendiri tak tahu
lagi, sanak keluarga juga terlupakan semua.”
“Hujin, bagaimana kalau kita undang Lo-ya kemari?” bisik Bwe-ji.
Nyonya itu berpikir sebentar, lalu manggut-manggut. “Betul, aku haru minta
pertanggung-jawab mereka . . . .”
Ia berpaling sambil memberi pesan, “Siau Lan, kau saja yang ke sana dan sekalian
beri kabar kepadanya, semua orang yang semalam ikut minum harap datang kemari,
seorang pun tak boleh berkurang. Hm, Siapa berani tak datang, hati-hati kalau
kulabrak ke rumahnya.”

Siau Lan mengiakan dan buru-buru berlalu.
Tiba-tiba Ho Leng-hong bertanya, “Apakah Lo-ya yang hendak diundang Hujin itu
ialah Kwan-lok-kiam-kek (jago pedang dari Kwan-lok) Lo Bun-pin yang tinggal di
kota Lok-yang?”
“Betul, mendingan kau masih ingat nama satu orang ini,” jawab si nyonya jelita.
Ho Leng-hong menarik napas panjang, “Aku kenal orang ini, baik sekali kalau dia
diundang kemari.”
“Hm, semoga iapun kenal padamu, kuharap pula dia masih ingat siapakah dia.”
Perkataan itu bernada marah, tapi Ho Leng-hong Cuma tertawa dan tidak
membantah.
Ia percaya, kalau Kwan-lok-kiam-kek Lo Bun-pin kenal padanya dan kenal juga Nyo
Cu-wi, pemilik istana Thian-po-hu, jika ia sudah datang, maka duduknya perkara akan
menjadi jelas.
Tapi masih ada satu persoalan yang membuatnya tidak mengerti, ia masih ingat benar
semalam dirinya tertidur di kamar Siau Cui di rumah pelacuran Hong-hong-wan,
kenapa secara tiba-tiba bisa muncul di Thian-po-hu?
Apa yang terjadi memang sungguh-sungguh ataukah dalam mimpi?
Kalau dalam mimpi, tak bisa disangkal lagi impian ini adalah mimpi aneh yang tak
masuk di akal . . . .
-------------------------
Suara langkah kaki berkumandang di luar Kiok-hiang-sia, agaknya tak sedikit orang
yang datang.
Orang pertama yang masuk adalah Lo Bun-pin, sedang di belakangnya mengikut
empat lima orang laki-laki berbaju perlente, mereka semua adalah jago-jago kenaman
dari sekitar Kwan-liok, wajah mereka tampak kaget.
Rupanya Lo Bun-pin sudah diberitahu garis besar peristiwa yang terjadi oleh Siau
Lan, wajahnya tampak gelisah dan bingung. Begitu melangkah masuk ia lantas
berteriak, “Saudara Cu-wi, kenapa kau?”
Ho Leng-hong sedang duduk di kursi setelah berganti pakaian, ia melengak
mendengar panggilan itu . . . . .
Sebelum ia menjawab, Lo Bun-pin telah menjura kepada Nyo-hujin seraya bertanya,
“Enso, apa gerangan yang terjadi? Bukankah saudara Cu-wi duduk segar di sini?
Kenapa Siau Lan bilang ia gila?”
“Hm, aku sendiri juga tak tahu ia sudah gila atau waras,” sahut Nyo-hujin,

“pokoknya sebelum keluar rumah semalam ia masih segar bugar, tapi setelah sadar
pagi ini, ia telah berubah menjadi seorang yang lain, tak kenal lagi akan diri sendiri,
sanak keluarga sendiri juga tak dikenal, ia selalu mengatakan dirinya she Ho . . . . . “
“Ah, masa begitu?” Lo Bu-pin terkesiap, “tapi . . . . ketika pulang semalam, saudara
Cu-wi tidak menunjukkan gejala apa-apa, semua sobat yang ikut minum semalam kini
pun hadir di sini, semua orang menyaksikannya dengan mata kepala sendiri!”
“Ya, ya, aku tahu, kalian adalah sahabat karib, kenapa tidak kautanya sendiri
padanya?” kata Nyo-hujin.
Lo Bun-pin manggut-manggut sambil berpaling ke arah Ho Leng-hong, katanya,
“Saudara Cu-wi permainan apa yang kaulakukan? Jangan bergurau dengan sobat
lama, hah!”
Betapa kesal Ho Leng-hong karena berulang dipanggil “Saudara Cu-wi”, setelah
merenung sejenak lalu berkata, “Coba kau teliti lagi saudara Lo, benarkah aku ini Nyo
Cu-wi dari Thian-po-hu?”
“Kenapa?” Lo Bun-pin tertawa.“Masa Nyo-heng tidak mengakui?”
“Tak sedikit orang di dunia ini yang mirip wajahnya, mungkin mata Lo-heng kabur
dan salah melihat orang.”
“Hahaha . . . mana mungkin? Seandainya mataku sudah lamur, tak mungkin sobatsobat
lainnya juga lamur, kenapa Nyo-heng tidak tanya sendiri kepada mereka . . . .”
“Betul, betul!” sahut semua orang, “sudah bertahun-tahun kita bergaul dengan Thianpo-
hu, siapa yang tidak kenal Nyo-heng?”
“Tapi kalian telah salah melihat orang!”
“Ah, tak mungkin!” kembali semua orang menganggapi, “kita kan kenalan lama,
mana mungkin salah lihat?”
“Aku berani bertaruh kalian pasti salah lihat, sebab aku sendiri tahu siapakah diriku,
hakikatnya aku bukan Nyo Cu-wi.”
Semua orang sama melengak, siapapun bisa merasakan keseriusan Ho Leng-hong,
mereka tahu orang ini tidak bergurau, tapi bicara sungguh-sungguh.
“Aku ingin cari tahu kabar seseorang, entah saudara Lo masih ingat atau tidak?” kata
Ho Leng-hong lagi.
“Siapa?” tanya Lo Bun-pin.
“Suatu hari, ketika saudara Lo sedang berburu di luar kota, pernahkah kau berebut
seekor kelinci liar yang terluka dengan seorang laki-laki miskin? Akhirnya terjadi adu
kepandaian dan dilanjutkan dengan persahabatan, kalian bersama-sama
menyelenggarakan pesta daging kelinci panggang di bukit itu serta menamai santapan

lezat nomor satu di dunia. . . .”
“O, kaumaksudkan Ho Leng-hong yang hidup menganggur itu?”
“Benar, masih ingatkah Lo-heng padanya?”
“Tentu saja masih ingat, ilmu silatnya tidak berada di bawah kita, sayang ia lebih
suka hidup konyol bersama kaum penganggur.”
“Seandainya Ho Leng-hong duduk di sini sekarang, dapatkah Lo-heng
mengenalinya?”
“Pasti bisa, meski kami hanya berjumpa sekali saja, namun kesan yang diberikan
kepadaku terlalu dalam, sampai kini aku masih ingat pada wajahnya . . . . . Ai! Sayang
sepotong batu kemala yang tak pernah diasah harus terjerumus di pencomberan,
sungguh bikin orang menyesal.”
“Masih inginkah saudara Lo bertemu lagi dengannya?”
“Sekalipun ingin, mau apa lagi?” Lo Bun-pin menggeleng, “sayang selamanya tak
dapat bertemu lagi dengannya.”
“Kenapa?”
Kembali Lo Bun-pin menghela napas, “Sebab Ho Leng-hong itu sudah mati!”
Ho Leng-hong melengak, cepat ia duduk tegak dan berseru, “Siapa yang bilang?”
“Siau Thian yang membawa kabar ini barusan,” sahut Lo Bun-pin sambil menuding
seorang di belakang.
Siau Thian atau Thian cilik bukan lagi anak kecil, lengkapnya ia bernama Thian Pektat,
tahun ini usianya sudah mencapai empat puluh tahun lebih, Cuma bila kau
perhatikan kepalanya yang kecil dengan sepasang mata tikusnya dan kumisnya yang
serupa kumis tikus, tak sulit bagimu untuk menghubungkan orang ini dengan
kepandaian “kecil” yang pasti sudah mencapai puncak kesempurnaan.
Sejak dilahirkan orang ini mempunyai wajah yang selalu tersenyum, dia pandai
bicara dan pintar menyanjung, ia selalu bergaul dengan kalangan atas, matatelinganya
tajam, sebab itu orang menjulukinya sebagai Tiang-ni-siau-thian atau
Thian kecil si telinga panjang.
Kini Thian Pek-tat berdiri di belakang Lo Bun-pin, ia segera melangkah ke depan
demi mendengar perkataan itu.
“Benar!” demikian tukasnya, “baru pagi ini kudengar kabar tersebut.”
Sungguh Ho Leng-hong ingin persen beberapa tempelengan untuk orang ini, tapi
sedapatnya ia menahan emosinya.

“Bagaimana kabarnya?” ia bertanya.
“Konon Ho Leng-hong baru saja menang banyak di meja perjudian semalam, setelah
minum arak ia main perempuan di gang Waru, siapa tahu keesokan harinya ia
ditemukan tewas di kamar tidur Siau Cui, pelacur langganannya, ada orang bilang ia
mampus karena perampokan, ada pula yang mengatakan dia kehabisan . . . . “
Ia melirik sekejap wajah Nyo-hujin, kemudian sambil menampar muka sendiri,
katanya, “Aku memang pantas mampus dan harus digebuk, aku lupa Hujin berada di
sini hingga telanjur bicara yang bukan-bukan.”
Ho Leng-hong tertawa dingin, “Hm, jadi kau sendiri juga Cuma mendengar dari
orang lain dan bukan melihat dengan mata kepala sendiri.”
“Tapi berita ini dapat dipercaya, semua orang di Lok-yang telah mengetahui kejadian
ini, malah jenazahnya masih terbaring di rumah pelacuran Hong-hong-wan.”
“Ya, Siaute pun ikut menyesal atas musibah yang menimpa Ho Leng-hong itu, maka
telah kuutus orang untuk menyelidiki sebab kematiannya serta mengurusi juga
layonnya. Eh, omong-omong kenapa saudara Cu-wi menyinggung orang ini? Kau pun
kenal padanya?” tanya Lo Bun-pin.
Ho Leng-hong tertawa, “Bukan cuma kenal, malah aku tahu kalau dia sampai saat ini
masih hidup hakikatnya dia tidak mati.”
“Dari mana kau tahu?” tanya lagi Lo Bun-pin
“Sebab akulah Hong Leng-hong!” sahut pemuda itu sekata demi sekata.
Tentu saja semua orang terkejut dan saling pandang dengan air muka berubah.
Lo Bun-pin coba meraba jidat Ho Leng-hong kemudian mengamati wajahnya dengan
saksama, lalu dengan penuh perhatian ia bertanya. “Saudara Cu-wi, kau tidak sakit
bukan?”
“Apakah aku mirip orang sakit,” jawab Ho Leng-hong.
Lo Bun-pin menyengir, “Aku pernah melihat Ho Leng-hong, dia adalah dia dan kau
adalah kau, mana bisa kalian dipersamakan menjadi satu?”
“Akupun lagi keheranan, jelas-jelas aku ini Ho Leng-hong, kenapa kalian berkeras
menganggap aku adalah Nyo Cu-wi? Aku jelas masih hidup, tapi kalian ngotot
mengatakan aku sudah mati?”
Lo Bun-pin terbelalak dengan mulut melongo dan tak tahu bagaimana harus
menjawab.
Nyo-hujin lantas menangis, dengan tersengguk dia berkata, “Coba lihat, semua ini
gara-gara minum arak, kalianlah yang membuat dia menjadi begini, Ayo, apa yang
hendak kaukatakan sekarang....”

“Jangan panik dulu enso, tenanglah,” bujuk Lo Bun-pin, “Menurut pendapatku,
mungkin saudara Cu-wi kemasukan roh jahat, mungkin diganggu setan...”
“Roh dan setan jahat apa? Hm, justru kalian inilah setan-setan arak yang
membuatnya jadi begini,” teriak Nyo-hujin, “coba kalau kalian tidak mengajaknya
minum arak, masa dia jadi begini? Pokoknya kalian harus bertanggung-jawab kepada
ku hari ini, kalau tidak, siapapun jangan harap dapat meninggalkan Thian-po-hu.”
Malu sekali Lo Bun-pin menerima dampratan itu, ia menunduk dengan wajah merah,
setelah termenung sebentar ia bertanya kepada Thian Pek-tat, “Siau Thian, dapat
dipercaya tidak beritamu itu?”
“Tanggung bisa dipercaya, aku berani tanggung dengan batok kepalaku,” jawab
Thian Pek-tat.
“Kalau begitu kita harus berusaha memperlihatkan bukti kepadanya, sekarang juga
Siau Thian berangkat ke Lok-yang serta mengangkat jenazah Ho Leng-hong ke Kiucui-
shia sini, biar dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri untuk membuyarkan
khayalan dalam benaknya, otomatis sakitnya akan sembuh.”
“Benar!” Sungguh gagasan yang bagus” seru semua orang sambil manggut-manggut.
“Enso, terpaksa kita harus mengangkut jenazah itu kemari, tentunya kau tidak
keberatan bukan?” kata Lo Bun-pin kemudian.
“Manjur tidak?” tanya Nyo-hujin.
“Kukira hanya dengan cara inilah kita akan membuyarkan khayalan dalam benaknya,
supaya dia percaya bahwa dirinya bukan Ho Leng-hong.”
Nyo-hujin menghela napas panjang. “Ai, baiklah, asal Jit-long bisa disadarkan, tentu
saja aku setuju.”
“Akupun setuju,” sambung Ho Leng-hong sambil tertawa, “bahkan aku berani
bertaruh, batok kepala Thian kecil si telinga panjang perlu dicarikan cadangannya.”
Lo Bu-pin tidak menggubris ocehannya, buru-buru ia perintahkan orang mengantar
Thian Pek-tat ke Lok-yang.
Semua orang yang mengelilingi tempat tidur hanya memandang Ho Leng-hong
dengan perasaan kasihan, tidak ada yang mengajak bicara padanya.
Dalam anggapan mereka, Ho Leng-hong sudah gila, penyakitnya betul-betul sudah
gawat.
Maklum, kalau identitas sendiripun sampai keliru, kalau bukan orang gila lantas apa
namanya?
Sebaliknya menurut pandangan Ho Leng-hong Lo Bun-pin dan lain-lain itulah yang

goblok dan menggelikan sekali.
Bagaimana tidak? Seorang yang masih hidup segar bugar mereka anggap sudah mati,
Ho Leng-hong yang mereka hadapi dikatakan sebagai Nyo Cu-wi, terutama nyonya
rumah Thian-po-hu ini, orang asing dianggap sebagai suami sendiri . . . .
Kalau kejadian ini sampai tersiar ke luar bukankah akan bikin orang tertawa hingga
copot giginya?
Semakin dibayangkan Ho Leng-hong makin geli.
Melihat dia tertawa sendiri tanpa sebab, orang semakin yakin ia sudah gila.
Sebaliknya karena semua orang makin menganggapnya gila, Ho Leng-hong juga
tambah gila.
Maka suasana dalam Kiok-hiang-sia berubah menjadi kacau-balau, ada yang
menangis, ada yang tertawa, ada yang berbisik-bisik, ada pula yang menggeleng
kepala sambil menghela napas . . . .
-------------------------
Thian Pek-tat telah kembali.
Ia pulang bersama dua orang laki-laki yang menggotong sebuah pembaringan butut,
di atas pembaringan membujur sesosok mayat yang dibungkus kain kafan.
“Siau Thian, bikin repot dirimu!” kata Lo Bun-pin menyambut kedatangannya.
“Repot sih tidak,” jawab Thian Pek-tat sambil membesut keringat, “Cuma sepanjang
jalan kereta berjalan terlalu lambat, kalau bisa aku ingin membawanya terbang pulang
kemari.”
“Sudah kau selidiki sebab-sebab kematiannya? Apa yang dikatakan mak germo
Hong-hong-wan?”
“Sudah kutanyakan langsung kepada Siau-Cui. Konon waktu masuk ke sarang
pelacuran semalam, Ho Leng-hong sudah dalam keadaan mabuk, begitu masuk kamar
dia lantas tidur, semalaman tidurnya nyenyak sekali, pagi-pagi baru diketahui
badannya sudah membujur kaku dan dingin.....”
“Kalau begitu ia mati karena mabuk?”
“Keadaan yang sesungguhnya belum bisa kukatakan, tapi yang pasti lima puluh tahil
perak itu masih berada di kamar Siau Cui, setahilpun tidak berkurang, jadi tak
mungkin mati lantaran perampasan harta.”
Lo Bun-pin menghela napas panjang, “Ai, sayang benar! Seorang lelaki perkasa
harus mati tanpa diketahui sebab musababnya . . . . .”

Kepada Ho Leng-hong ia berkata, “Nyo-heng kau berkeras mengatakan dirimu
adalah Ho Leng-hong tapi kenyataan telah membuktikan Ho Leng-hong telah mati di
kota Lok-yang, bahkan jenazahnya sekarang sudah diangkut kemari, tidak inginkah
kau memeriksanya sendiri?”
“Tentu saja harus kuperiksa,” Ho Leng-hong tertawa, “aku tidak percaya di dunia ini
terdapat dua orang Ho Leng-hong yang mempunyai bentuk wajah yang sama.”
“Baik. Tapi kurasa mukanya tentu sudah tak sedap dipandang, harap enso menyingkir
dulu,” kata Lo Bun-pin.
Nyo-hujin dan sekalian dayangnya lantas memutar badan dan menghadap ke arah
lain, Lo Bun-pin segera menggapai kepada kedua laki-laki itu agar menggotong
masuk mayat tersebut.
Perlahan Thian Pek-tat membuka kain kafan yang menutupi wajah jenazah.
Tiba-tiba senyuman Ho Leng-hong menjadi beku . . . siapa lagi yang berbaring itu
kalau bukan Ho Leng-hong?
“Sekarang kau sudah percaya bukan, saudara Nyo?” tanya Lo Bun-pin kemudian.
Kecurigaan seketika menyelimuti benak Ho Leng-hong, tiba-tiba ia mencengkeram
urat nadi pada pergelangan tangan Thian Pek-tat, bentaknya “Dari mana kaudapat
mayat palsu itu? Hayo lekas jawab!”
“Tidak! Tidak ada mayat palsu . . . ini . . . ini jenazah Ho Leng-hong, jenazah asli
bukan palsu....” jawab Thian Pek-tat dengan tergagap.
“Tenang, tenang dulu saudara Nyo, jangan emosi . . . .” seru semua orang sambil
maju melerai.
“Ya, lepaskan dulu Siau Thian, kalau ada persoalan boleh kita bicarakan secara baikbaik.”
“Betul! Lepaskan dulu, semua kan sahabat sendiri . . . . “
Ho Leng-hong coba meraba muka sendiri, tiba-tiba timbul perasaan merinding dari
lubuk hatinya, sambil membentak ia menggentakkan Thian Pek-tat ke samping, lalu
disambarnya pembaringan butut itu dan dilemparkan ke luar . . . .
Kedua laki-laki itu tak dapat berdiri tegak dan terlempar keluar berikut pembaringan
tersebut.
Ho Leng-hong manfaatkan kesempatan itu untuk menerjang keluar villa itu, ia coba
melongok ke luar pagar jembatan . . . .
“Cepat alangi, dia mau melompat ke air bunuh diri.”
“Tutuk dulu jalan darahnya, tangkap!”

“Dia sudah gila, cepat cepat! . . .”
Padahal Leng-hong tidak gila, iapun tidak bermaksud terjun ke air untuk bunuh diri,
dia hanya ingin bersandar di tepi jembatan dan menggunakan air kolam untuk melihat
raut wajahnya sendiri.
Dan sekarang ia dapat melihat jelas, seketika ia melongo.
Bukan wajah Ho Leng-hong yang muncul di permukaan air, tapi seraut wajah tampan
seorang laki-laki setengah umur yang berkulit putih.
Tak bisa disangsikan lagi, laki-laki setengah umur yang ganteng ini bukan lain adalah
Nyo Cu-wi, pemilik istana Thian-po-hu.
Ho Leng-hong belum pernah berjumpa dengan Nyo Cu-wi, tapi ia merasa seperti
pernah kenal bayangan orang yang muncul di permukaan air itu.
Ia menjadi bingung dan ragu-ragu . . . jangan-jangan dia memang sudah mati?
Benarkah dirinya sudah berubah menjadi Nyo Cu-wi? Tak sempat ia berpikir lagi, tak
sempat ia memandang lebih teliti, sebab Lo Bun-pin dan lain-lain sudah keburu maju
merubungi, ada yang menarik tangannya, ada yang memegang kakinya, bahkan ada
pula yang menutuk jalan darahnya, kemudian beramai-ramai mereka menggotongnya
masuk kembali ke Kiok-hiang-sia . . . .
-------------------------
Pepatah kuno berkata: Sekali masuk rumah bangsawan, dalamnya melebihi samudra.
Artinya rumah kediaman orang besar tidak gampang dikunjungi atau ditinggalkan.
Meskipun Thian-po-hu di Kiu-ci-shia bukan istana kaum bangsawan atau tempat
orang berpangkat, tapi tempat ini merupakan tempat tinggal jago persilatan yang
ternama, baik luasnya bangunan, kemewahan, dan kemegahan perabot maupun
ketatnya penjagaan, tidak kalah dengan gedung orang berpangkat.
Bila Ho Leng-hong ingin kabur dari Thian-po-hu, hal ini jauh lebih sukar daripada
naik ke langit.
Sekalipun demikian, setiap saat ia selalu berusaha melarikan diri dari sana.
Hal ini tidak berarti ia meremehkan kenikmatan hidup yang di terimanya di Thianpo-
hu, juga tidak berarti ia enggan tinggal dalam gedung yang megah melebihi istana
ini, tapi dia harus mencari jawaban terlebih dahulu tentang siapakah dia yang
sebenarnya? Sebab ia sendiripun mulai bingung.
Semenjak melihat mayat “Ho Leng-hong”, sejak melihat tampang “Nyo Cu-wi” yang
muncul di permukaan air, ia mulai ragu, ia mulai sangsi dan bingung.

Jenazah itu tidak palsu, baik perawakan, panca indera, raut wajah, semuanya persis
Ho Leng-hong, sedikitpun tiada tanda-tanda yang mencurigakan.
Raut wajah Nyo Cu-wi juga tidak palsu, bukan saja semua orang menganggap
demikian, bahkan Nyo-hujin sendiripun tidak curiga, bagaimanapun ia menggosok
dan mencuci mukanya, semuanya membuktikan bahwa wajahnya bukan berubah
lantaran dirias dengan obat-obatan.
Tapi, ia masih ingat dengan jelas bahwa dia adalah Ho Leng-hong dari Lok-yang,
kenapa secara tiba-tiba bisa berubah menjadi Nyo Cu-wi dari Thian-po-hu di Kiu-cishia?
Daya ingat serta cara berpikirnya dimiliki orang ini, sebaliknya raut wajahnya,
bentuk lahiriah adalah milik orang yang lain, hal ini suatu kejadian yang cukup
menyiksa batin.
Maka dari itu, Ho Leng-hong ingin melarikan diri, bukan Cuma ingin menghindari
penderitaan saja, tapi yang penting adalah ingin menemukan dirinya sendiri.
Ia pikir, hanya seorang yang mungkin tahu duduk perkara yang sesungguhnya . . . . .
Siapakah dia? --- Siau Cui.
Karena ia telah kehilangan pribadinya di pembaringan Siau Cui, bahkan dia masih
ingat, ketika terjadi “musibah” tersebut, Siau Cui pernah mohon kepadanya agar
mengajaknya kabur sejauh-jauhnya, kabur ke suatu tempat yang tak seorangpun
mengenali diri mereka . . . .
Bila dibayangkan kembali sekarang, bukankah ucapan itu suatu pertanda bahwa
segera akan terjadi sesuatu?
Ho Leng-hong bertekad akan meninggalkan Thian-po-hu secara diam-diam dan satusatunya
jalan untuk mewujudkan cita-citanya adalah merebut kepercayaan Nyo-hujin
dan Lo Bun-pin sekalian, bila sudah dipercaya, otomatis ia dapat bergerak bebas lagi.
Dan untuk mendapatkan kepercayaan mereka, satu-satunya cara adalah mengakui
dirinya adalah Nyo Cu-wi untuk sementara waktu.
Padahal keadaan telah memaksanya mau-tak-mau harus mengakui kenyataan
tersebut.
Sudah tiga hari Ho Leng-hong dipaksa berbaring dalam Kit-hiang-sia, Lo Bun-pin
sekalian secara bergilir mendapat tugas untuk menjaga siang dan malam, sekalipun
alasan mereka untuk menemani, padahal yang benar adalah untuk mengawasinya,
kuatir penyakit gilanya angot lagi.
Enam-tujuh rombongan Hwesio dan Tosu siang malam secara bergilir membacakan
kitab di luar villa air, mereka berdoa untuk mengusir setan dan menundukkan roh
jahat, suara tetabuhan yang dibunyikan sangat berisik dan membuat orang tak bisa
beristirahat dengan tenang.

Suara gaduh dan ribut macam begini jangankan bisa mengusir setan atau roh jahat,
sekalipun orang yang tidak gila, lama kelamaan malah akan menjadi gila sungguhsungguh.
Tapi ada satu kesulitan bagi Ho Leng-hong untuk mengakui dirinya sebagai Nyo Cuwi,
sebab selama ini ia selalu berkeras mengatakan dirinya bukan Nyo Cu-wi.
Untuk ini, sedikitnya dia harus mencari suatu “alasan” yang tepat.
Tapi alasan apa yang dapat digunakannya? Ah, ada akal . . . . .
Saat itu suatu rombongan Tosu sedang membunyikan alat tetabuhan, berdoa sambil
mengelilingi villa itu.
Sebagai pemimpin rombongan adalah seorang Hoatsu (pendeta agama To) yang
bertubuh kurus kering dengan kumis tikus, tampangnya rada mirip Siau Thian.
Sejak semula Ho Leng-hong jemu melihat tampangnya, sebab Tosu kecil ini bukan
saja suaranya tinggi melengking, caranya berdoa pun seperti jeritan setan, bahkan
beberapa kali jeritannya menyadarkan dia dari tidurnya. Kini tiba kesempatan yang
baik untuk memberi “hajaran” kepadanya.
Begitulah, tatkala Hoatsu itu tiba di pintu villa dan siap menggoyangkan pedang
kayunya sambil membaca mentera pengusir setan, mendadak Ho Leng-hong
melompat bangun, lalu berteriak keras, “Ada setan! Hai, kalian cepat kemari, tangkap
setan itu! Tangkap!”
Kebetulan Lo Bun-pin yang mendapat giliran berjaga, buru-buru ia menghampirinya
seraya bertanya, “Saudara Cu-wi, apa yang kau lihat?”
“Setan! Setan bertubuh ceking, bertangan empat dan kaki tiga! Cepat! Cepat tangkap!
. . . . . “
“Di mana?” tanya Lo Bun-pin dengan melenggong.
Sambil menuding Hoatsu itu kembali Ho Leng-hong berteriak, “Itu dia! Di depan
pintu kamar, itu yang memakai jubah Pat-kwa sambil membawa pedang kayu . . . . .
dia itulah setan . . . . . dia setan! . . . . . .”
“Keliru besar saudara Cu-wi, orang itu bukan setan, dia Ku-gwat Hoatsu dari Gioksiu-
koan yang sengaja di undang untuk menangkap setan . . . . . “
“Tidak! Dialah setannya!” teriak Ho Leng-hong lagi, “dengan mata kepalaku sendiri
kulihat ada setan menyusup ke tubuhnya, kalian cepat menangkapnya, cepat
menangkapnya! . . . . . .
Sementara itu Nyo-hujin yang beristirahat di balik ruangan serta para Busu (pesilat)
yang berjaga di sekitar villa itu sama berdatangan karena mendengar suar ribut itu.
“Jit-long, benarkah kau melihat setan?” tanya Nyo-hujin dengan penuh perhatian.

“Siapa bilang tidak? Setan itulah yang selama tiga hari mencekik leherku,
mengganggu ketenanganku sehingga tak bisa beristirahat dengan baik, cepat kalian
tangkap setan itu!”
Nyo-hujin memandang Lo Bun-pin, lalu bisiknya, “Apa yang terjadi?”
“Kejadian ini memang agak aneh, sudah tiga hari ia membungkam, tapi begitu buka
suara ia menganggap Ku-gwat Hoatsu sebagai setan . . . . .”
“Hei, jangan biarkan dia kabur, cepat kalian tangkap setan itu,” terdengar Ho Lenghong
masih berteriak, “nyawaku telah tertelan ke perutnya, kalau dia kabur dari sini,
habislah riwayatku.”
“Kukira kejadian ini agak mencurigakan,” kata Nyo-hujin kemudian sambil berkerut
kening, “lebih baik kita turuti permintaan Jit-long, tangkap dulu Tosu tersebut.”
“Tapi . . . tapi . . . rasanya kurang baik . . . .”Lo Bun-pin ragu-ragu.
“Tidak menjadi soal, kita utamakan si sakit daripada Tosu tersebut, sekalipun harus
menyakitinya, paling-paling kita beri saja uang yang lebih banyak, dan urusan akan
beres dengan sendirinya.” Sambil berkata nyonya Nyo lantas memberi tanda kepada
para Busu.
Begitu mendapat perintah, serentak para Busu itu menyerbu maju dan menangkap
Ku-gwat Hoatsu.
Tentu saja para Tosu yang sedang membaca mantra pengusir setan tidak mengerti
apa yang terjadi, mereka menjadi panik saking kagetnya.
Lebih-lebih Ku-gwat Hoatsu, ia tidak habis mengerti dengan kejadian yang menimpa
dirinya, dengan gelagapan ia bertanya, “He, apa-apaan ini . . . aku datang untuk
menangkap setan . . . . kenapa kalian malah menangkap diriku! . . . .”
“Kaulah setannya, berani betul kau berpura-pura menangkap setan?” hardik Ho
Leng-hong.
“Aku . . . aku . . . .” Ku-gwat Hoatsu betul-betul jadi bingung, dan tak sanggup
berbicara.
“Mengaku sajalah, hayo cepat muntahkan keluar nyawaku, kalau tidak . . . jangan
menyesal bila kuberi ganjaran yang setimpal,” teriak Leng-hong.
Mulut Ku-gwat Hoatsu melongo lebar-lebar dan tak tahu apa yang mesti dikatakan.
“Pengawal, lolohkan kotoran manusia ke dalam mulutnya, perintahkan kepadanya
untuk memuntahkan nyawaku, cepat lakukan!” teriak Ho Leng-hong lagi.
Karena Nyo-hujin tidak menunjukkan rasa keberatan, serta-merta para Busu itu
mengerjakan apa yang diperintahkan, segentong kotoran manusia segera dipikul

datang, lalu Ku-gwat Hoatsu ditelentangkan di tanah dan dicekoki kotoran itu.
Kasihan Ku-gwat Hoatsu, mau menolak tak bisa, melawan juga tak kuat, tak menolak
perutnya tak tahan . . . Akhirnya ia tumpah-tumpah hebat, isi perutnya nyaris ikut
tertumpah keluar.
Sesudah Tosu itu tumpah-tumpah, Ho Leng-hong menarik napas lega, ia
memejamkan mata dan berbaring kembali di atas pembaringan . . . .
Lo Bun-pin menyuruh para Busu membawa pergi Ku-gwat Hoatsu yang “setengah
mati” sesudah diberi uang lebih banyak.
Setelah kawanan Tosu dienyahkan, Ho Leng-hong lantas sadar kembali, kata pertama
yang diucapkan setelah membuka matanya adalah, “Aku lapar, apakah ada makanan
enak?”
Kalau orang sakit sudah tahu lapar, itu berarti penyakitnya sudah sembuh.
Saking gembiranya hampir saja Nyo-hujin melelehkan air mata, buru-buru ia titahkan
orang untuk menyiapkan makanan, lalu tanyanya, “Jit-long, bagaimana perasaanmu
sekarang? Sudah mengerti bukan?”
“Aku baik sekali! Apakah yang tidak mengerti?”
“Sudah tahu siapa dirimu? Tempat apakah ini?”
“Lucu, tempat ini kan Kiok-hiang-sia, terletak di taman belakan istana Thian-po-hu
di Kiu-ci-sia, inilah rumahku sendiri, kenapa tidak tahu?”
“Lalu siapa namamu . . . .”
“Aku Nyo Cu-wi, memangnya kalian kira aku ini siapa?”
Nyo-hujin menarik napas lega, “Terima kasih kepada langit dan bumi, akhirnya kau
sadar kembali.”
“Eh, apakah terjadi sesuatu?” tanya Leng-hong.
“O, tidak . . . . tidak . . . . . .” buru-buru Lo Bun-pin menanggapi sambil tertawa,
“terlalu banyak arak yang diminum Nyo-heng sewaktu ada di rumahku tempo hari
hingga mabuk hebat, enso terus menerus mengomeli Siaute, untunglah sekarang
sudah beres, dapatlah kumohon diri . . . . “
“Eh jangan pergi dulu, jangan pergi dulu, apa salahnya kalau mabuk bila sobat lama
berkumpul. Kau kan tahu tabiat ensomu, masa masih marah padanya?”
“Ah, mana berani,” kata Lo Bun-pin.
“Nah, begitulah,” kata Ho Leng-hong sambil tertawa, “kita harus berkumpul
beberapa hari lagi, jangan pergi, kita boleh bercakap-cakap sepuasnya.”

“Bercakap-cakap boleh saja, tapi ingat, jangan minum sampai mabuk lagi,” Nyohujin
memperingatkan.
“Kalau Cuma mabuk sedikit kan tidak apa, asal tidak kelewat takaran,” ujar Ho
Leng-hong, “kenapa kau mesti menghilangkan kegembiraan orang banyak?”
“Betul!” Thian Pek-tat menanggapi sambil tertawa, “Nyo-hujin, bukannya aku Siau
Thian rakus dan ingin minum arak, tapi pada umumnya barang siapa baru sadar dari
mabuk hebat dia harus minum beberapa cawan arak lagi, dengan begitu baru badan
takkan terganggu, arak ini namanya Hoan-hun-ciu (arak pengembali sukma).”
“Betul, memang begitu,” kata semua orang, “kalau tidak minum Hoan-hun-ciu, orang
akan merasa pusing-pusing kepala selama beberapa hari, setiap peminum sama
mempunyai pengalaman seperti ini.”
“Hahaha! Siau Thian memang selalu menarik dalam soal-soal begini,” kata Ho Lenghong
sambil tertawa, “rupanya Hoan-hun-ciu mau-tak-mau harus kuselenggarakan.”
Di tengah gelak tertawa orang ramai, Nyo-hujin tak bisa menolak lagi, terpaksa ia
menyuruh orang menyiapkan arak.
Ho Leng-hong bukanlah seorang yang gemar minum arak, ia berbuat demikian hanya
untuk mencari kesempatan agar lebih memahami keadaan Thian-po-hu.
Terlampau sedikit yang diketahuinya tentang Thian-po-hu ini, bahkan siapa nama
kecil Nyo-hujin pun tidak diketahui, kalau kurang lancar dalam soal panggil
memanggil bisa mengakibatkan rahasianya ketahuan dan sulit lagi untuk
mendapatkan kepercayaan orang.
Betul juga, setelah “arak pengembali sukma” diselenggarakan, semua kesulitan yang
dikuatirkan berhasil diatasi dengan mudah.
Bukan saja ia mengetahui Nyo-hujin bernama Pang Wan-kun, bahkan mengetahui
juga dia adalah adik kandung It-kiam-keng-thian (pedang sakti menuding langit) Pang
Goan, pemilik istana Cian-sui-hu dari Liat-liu-shia yang ilmu silatnya tidak di bawah
Nyo Cu-wi.
Thian-po-hu dari Kiu-ci-shia, Cian-sui-hu dari Liat-liu-shia ditambah Hiang-in-hu
dari Hu-yong-shia di wilayah Leng-lam disebut orang sebagai Bu-lim-sam-hu (tiga
istana dunia persilatan) mereka semua merupakan keluarga persilatan yang tersohor di
dunia.
Sebab itulah selain menaruh “hormat dan sayang”, Nyo Cu-wi juga merasa “jeri”
terhadap istrinya yang cantik bak bidadari dari kahyangan ini.
-------------------------

Nyo Cu-wi terkenal sebagai laki-laki yang takut bini, terpaksa Ho Leng-hong tak
dapat terlampau menunjukkan kejantanannya.
Karenanya ketika malam itu Pang Wan-kun minta ia pindah dari Kiok-hiang-sia ke
kamar tidur mereka, ia tak berani membantah melainkan hanya menurut saja.
Tapi sekarang muncul masalah baru.
Apabila suami isteri tidur bersama dalam satu kamar, tentunya akan melakukan
“tugas dan kewajiban”, hal inilah yang menyulitkan Ho Leng-hong.
Sebenarnya soal “begituan” bukan hal baru bagi Ho Leng-hong, yang merisaukan dia
adalah dalam bermesraan antara suami-isteri tentu ada sesuatu “rahasia” yang
menyangkut diri pribadi, untuk ini jelas tak bisa “diwakilkan” kepada orang lain,
karena bila rahasianya ketahuan, akibatnya pasti akan runyam.
Sejak kakinya melangkah masuk ke dalam kamar tidur, Ho Leng-hong merasa
hatinya berdebar keras . . . .
Ia tak dapat menolak untuk tidur sekamar, maka satu-satunya jalan untuk
menghindari segala kemungkinan hanya main “mengulur waktu”, diambilnya sejilid
buku, lalu duduk di tepi jendela sambil membaca.
Apa isi buku itu tak sehuruf pun yang masuk dalam benaknya, ia hanya berharap
Pang Wan-kun cepat-cepat tertidur, itulah sebabnya meski mata memandang buku,
tapi telinganya memperhatikan suara gerak-gerik dalam kamar.
Bwe-ji telah membereskan pembaringan, menutup pintu dan mengundurkan diri, apa
mau dikata, Pang Wan-kun justru tidak mau tidur, seorang diri ia gemerasak dalam
kamar, entah apa yang dilakukannya.
Tak terlukiskan rasa gelisah Ho Leng-hong, terpaksa ia harus berpura-pura menaruh
perhatian, katanya, “Wan-kun, tidurlah dulu, beberapa hari ini kau tentu kepayahan.”
“Dan kau?” tanya Pang Wan-kun.
“Aku belum ngantuk, biar kuselesaikan dulu beberapa halaman buku ini, tak usah
tunggul lagi.”
Langkah kaki tiba-tiba berkumandang makin dekat, dan Pang Wan-kun malah
muncul dari dalam.
“Hei, buku apa yang kaubaca?” tegurnya sambil tertawa, “tampaknya asyik benar,
sampai lupa tidur?”
Ah, buku . . . . . . .” tiba-tiba muka Ho Leng-hong menjadi merah dan urung bicara,
buku itu cepat-cepat ditutup, kalau ada lubang ingin sekali buku itu segera
disembunyikan.
Sayang terlambat sebab Pang Wan-kun telah merampas buku itu.

“Buku baik biar akupun ikut baca, kenapa disembunyikan . . . . .” ia mengomel. Tapi
sebelum lanjut ucapannya, mendadak pipinya berubah merah jengak, sambil
membanting buku itu, serunya, “Sialan! Buku beginian yang kaubaca!”
Rupanya buku yang diambil Ho Leng-hong sekenanya dari rak buku itu bukan lain
adalah buku porno.
Adalah wajar bila di kamar tidur suami-isteri muda tersimpan buku macam begini,
celakanya Ho Leng-hong mengeluarkan buku demikian dalam suasana seperti ini, hal
ini ibaratnya api disiram minyak, tambah merangsang nafsu . . . . .
Tampaknya sulit bila malam ini hendak dilewatkan dengan “aman dan tenteram”.
Terpaksa Ho Leng-hong pura-pura bergelak untuk menutupi rasa jengahnya, ia
berbangkit, katanya, “Baiklah, tidak membaca lagi, bagaimana kalau jalan-jalan di
taman saja?”
Wan-kun tidak menyatakan setuju, juga tidak menolak, dia hanya menundukkan
kepala sambil memainkan ujung bajunya.
Ho Leng-hong membuka pintu yang menghubungkan villa itu dengan taman, lalu
menarik napas panjang, katanya, “Betapa indahnya bulan purnama, sayang bila
malam seindah ini dilewatkan begitu saja.”
Pang Wan-kun masih belum bersuara, dengan lembut ia merangkul bahu pemuda itu
dan bersandar mesra di dadanya yang bidang.
Bulan purnama bersinar terang di angkasa, bau harum bunga semerbak, membuat
orang terlena, kedua “suami isteri” berangkulan dengan mesra di tengah keheningan
malam yang jernih, sungguh suasana yang romantis.
Ho Leng-hong tak dapat meresapi keindahan alam dan suasana romantis itu, apa yang
dirasakan hanya keresahan, pikirannya tak tenang, ia hanya berdoa semoga malam ini
dapat dilewatkan dengan selamat.
Di bawah sinar bulan purnama, kedua “suami isteri” itu berjalan-jalan di tengah
taman yang sepi, rupanya Pang Wan-kun merasa dingin karena bajunya tipis, ia
bersandar dalam pelukan Ho Leng-hong dengan manja.
Ho Leng-hong bukan laki-laki yang alim, hampir saja ia tak sanggup mengendalikan
diri, terpaksa mereka duduk di sebuah bangku batu.
Begitu duduk, Pang Wan-kun lantas berbaring dalam pangkuan sang “suami” sambil
menghela napas panjang, bisiknya lirih, “Jit-long, masih ingatkah kau pada musibah
yang menimpamu tahun yang lalu?”
Ho Leng-hong melenggong dan tak dapat menjawab.
Untung Wan-kun tidak menanti jawabannya, ia bergumam sendiri, “Musim semi

tahun yang lalu, keadaannya seperti juga sekarang, malam sunyi dengan bulan
purnama yang indah sekali, waktu itu kitapun berdua, duduk di tepi telaga Siau-thianti
di puncak Lu-san sambil menikmati keindahan rembulan....”
Ah, kiranya begitulah kejadiannya!
Buru-buru Ho Leng-hong tertawa, “Siapa bilang aku lupa? Pemandangan alam Lusan
memang lain daripada yang lain, sebab itulah dalam syair kuno tercantum katakata
yang berbunyi: Sekalipun tidak kenal wajah Lu-san yang sebenarnya,
berjodohlah bila berada di gunung tersebut....”
“Bukan keindahan alam Lu-san yang kumaksudkan,” tukas Wan-kun cepat, “aku
berbicara tentang kau digigit ulat beracun itu.”
Sekali lagi Ho Leng-hong tertegun, ia tidak tahu Nyo Cu-wi pernah digigit ulat
beracun, terpaksa sahutnya secara samar-samar, “Ya.... Lu-san memang tempat yang
menarik sayang serangga beracunnya terlalu banyak, menjemukan....”
“Salah siapa?” Wan-kun menutup mulutnya sambil cekikikan, “siapa suruh kau
membayangkan hal yang bukan-bukan? Tanpa sebab tiba-tiba kau ingin menggaet
rembulan dalam kolam? Itulah akibatnya, rembulan tak berhasil kaudapat,
punggungmu malah disengat makhluk beracun, esoknya luka ini bengkak besar dan
akhirnya terpaksa harus dioperasi dan meninggalkan bekas luka. Masih ingatkah kau
akan kejadian itu?”
“Masih ingat, masih ingat,” Ho Leng-hong tertawa getir, “Ai, waktu itu aku hanya
ingin main-main, siapa tahu bisa jadi sial begitu.”
Dengan lembut Wan-kun meraba pipi sang “suami”, dengan penuh menyesal ia
berkata, “Padahal akulah yang menerbitkan gara-gara itu, akulah yang menyuruh kau
mengambilkan rembulan itu di telaga segala. Ya, ketika itu kita memang sedikit agak
mabuk.”
“Ya, memang begitulah,” sambung Ho Leng-hong cepat, “kalau tidak mabuk, siapa
yang akan melakukan perbuatan sebodoh itu.”
“Padahal waktu itu aku cuma bergurau, siapa tahu kau menganggapnya
sungguhkan?”
“Mana aku berani tidak anggap sungguhkan perkataanmu? Sekalipun kau
menginginkan bintang di langit juga akan kucarikan tangga untuk naik ke langit dan
memetiknya bagimu.”
“O, Jit-long, sungguhkah kau begitu menurut pada perkataanku?” bisik Wan-kun
lembut.
“Tentu saja,...” tapi begitu jawaban diucapkan, segera Leng-hong merasakan gelagat
tak baik.
Jelas apa yang diucapkan Pang Wan-kun ini hanya kata-kata “pengantar” belaka,

sebab tangannya sudah mulai merosot dari pipi ke tengkuk Ho Leng-hong, bahkan
terus turun ke bawah, meraba dadanya, pinggangnya . . . terus . . . .
Tangan yang halus itu bagaikan seekor ular kecil yang merayap masuk ke balik
bajunya.
Kini Ho Leng-hong bersetatus sebagi “suami” tentu saja ia tak dapat menolak belaian
cinta sang “isteri”, tapi ia sadar bila adegan panas yang merangsang ini berlangsung
terus, “akibatnya”nya sukarlah dilukiskan.
Terpaksa ia berpura-pura takut geli, sambil menggeliat ke sana kemari ia menangkap
tangan itu dari luar baju.
“Jangan begini Wan-kun,” bisiknya sambil tertawa, “kalau dilihat para pelayan, kita
bisa ditertawakan . . . .”
“Hm, semua pelayan sudah tidur, lepaskan bajumu Jit-long, biar kuraba bekas luka di
tubuhmu itu, mau?”
Sungguh gawat, sebab punggungnya hakikatnya tidak terdapat codet seperti apa yang
dimaksudkan, kalau sampai diraba, bukankah urusan bisa runyam?
“Ah, paling-paling Cuma sebuah codet belaka, apa enaknya diraba?” kata Leng-hong
cepat. “Marilah Wan-kun, kita bicara soal lain saja . . . .”
“Tidak, aku suka merabanya, selama ini kau selalu mengizinkan aku merabanya,
kenapa sekarang kautolak permintaanku?”
“Bukannya menolak, kukuati dilihat para pelayan yang kebetulan masuk kemari.”
“Kan sudah kukatakan, semua pelayan sudah tidur, tak nanti ada orang yang masuk
kemari.”
“Sekalipun tak ada orang, siapa tahu kalau di sini ada ulat beracunnya? Kalau sampai
kena disengat lagi, wah bisa celaka.”
“Jit-long,” kata Wan-kun seraya merayu, “selamanya kau menuruti kehendakku,
kenapa sekarang sikapmu berubah?”
“Aku . . . aku . . . . “ Leng-hong gelagapan.
“Pokoknya aku tak mau tahu, aku tetap akan merabanya.”
Apa yang diucapkan segera dilaksanakan, ia merangkul leher Ho Leng-hong dengan
tangan kiri, sedang tangan kanan dengan cepat merogoh ke balik bajunya, lewat di
bawah ketiak dan meraba punggungnya . . . .
Ho Leng-hong tak bisa menghindar lagi, peluh dingin sampai membasahi dahinya,
dalam hati ia mengeluh, “Habis, tamatlah lelakonku kini, semua rahasiaku bakal
terbongkar . . . .”

Tapi apa yang terjadi? Ketika tangan Pang Wan-kun berhenti di punggungnya, ia
tidak menunjukkan sesuatu reaksi yang “di luar dugaan”, malah dia merabanya
dengan penuh kasih sayang.
“O, codet yang menawan hati,” gumamnya dengan rasa puas, “Inilah kenangan yang
kauberikan kepadaku akibat ingin mengambil rembulan di kolam, sepanjang hidup
akan kubelai terus dengan kasih sayang, tak akan kubiarkan kenangan itu
meninggalkan jari-jari tanganku untuk selamanya. . . .”
Ho Leng-hong menjadi kaget tercampur bingung, seketika ia terkesima.
Mimpipun ia tak menyangka di punggungnya terdapat codet, sebuah codet yang
persis seperti codet yang dimiliki Nyo Cu-wi.
Ia tak pernah menggaet rembulan di telaga Siau-thian-ti di Lu-san, iapun tak pernah
disengat ulat beracun, tapi darimana datangnya codet? Apakah dirinya memang Nyo
Cu-wi yang sesungguhnya?
Jangan-jangan Ho Leng-hong benar-benar sudah mati?
Atau mungkin . . . . . .
Tidak! Tak mungkin, untuk membuktikan kejadian yang sesungguhnya, ia harus
mencari Siau Cui?
-------------------------
Siau Cui adalah pelacur yang terdaftar di rumah pelacuran Hong-hong-wan, pelacur
resmi, siapapun boleh mencarinya.
Tapi tidak berlaku bagi Ho Leng-hong.
Sebab statusnya kini adalah pemilik Thian-po-hu yang tersohor dan terhormat di Kiuci-
shia, tentu saja ia tak dapat sembarangan mengunjungi rumah pelacuran dan
menemui seorang pelacur.
Untuk menyembunyikan identitasnya, sengaja Ho Leng-hong mengenakan sebuah
mantel hitam serta sebuah topi lebar, sebagian besar wajahnya hampir tertutup oleh
tepian topi yang lebar itu.
Ketika kentungan pertama baru lewat, dengan kepala tertunduk ia melangkah masuk
ke dalam Hong-hong-wan.
Melihat ada tamu datang, pesuruh rumah pelacuran segera berteriak lantang, “Ada
tamu!”
Baru sepatah kata meluncur keluar, tiba-tiba mulutnya tersumbat oleh sepotong
benda keras. Sekeping uang perak yang berkilauan.

“Jangan berteriak, jangan berisik,” desis Ho Leng-hong sambil merangkul leher
pesuruh itu. “Beritahu kepadaku, Siau Cui ada atau tidak?”
Mula-mula pegawai itu kaget, tapi setelah memuntahkan benda itu dari mulutnya dan
mengetahui benda apakah itu, dengan kejut bercampur girang sahutnya cepat, “Ada!
Ada! Ada!”
“Dalam kamarnya ada tamu?”
“Ada! Ada! Ada . . . .” mendadak ia merasakan perkataannya tidak tepat, cepat
sambungnya lagi “Tuan, yang kautanyakan adalah . . . . .”
“Nona Siau Cui yang tinggal di kamar serambi barat.”
“O, rupanya engkau menanyakan Siau Cui?” pesuruh itu menyengir, “tidak ada, tidak
ada tamu, nona Siau Cui sudah tidak menerima tamu lagi, sekarang iapun tidak
tinggal di kamar sebelah barat.”
“Oya? Kenapa?”
“Tuan, besar kemungkinan engkau datang dari luar daerah, bukan? Masa engkau
tidak tahu Siau Cui tertimpa musibah?”
“Musibah apa?”
“Sebenarnya urusan semacam ini tidak pantas kukatakan kepada Tuan,” ujar pelayan
itu berlagak rahasia, “cuma lantaran hamba lihat Tuan adalah orang baik, hamba tidak
tega untuk mengelabuimu. Tuan, menurut pendapat hamba, Hong-hong-wan kami
masih banyak nona cantik yang lain, mau pilih yang macam apapun ada, yang lebih
hebat dari Siau Cui pun ada, tapi jangan sekali-kali kau mencarinya lagi.”
“Kalau mencarinya kenapa?”
“Terus terang kuberitahu kepadamu, Tuan, belakangan ini Siau Cui lagi sial, seorang
buaya she Ho yang mabuk kedapatan mati dalam kamar Siau Cui, sejak itulah
siapapun tak berani masuk ke kamarnya, sebab itulah Mama menyuruh dia berhenti
bekerja untuk sementara waktu, sekarang ia sudah pindah ke kamar bagian belakang .
. . .”
“Kenapa secara tiba-tiba orang she Ho itu mati?”
“Siapa yang tahu? Pokoknya setiap hari bocah itu kerjanya Cuma keluyuran, ya
minum arak, ya berjudi, jelas bukan manusia baik-baik. Menurut pendapatku, kalau
bukan mampus karena luka akibat berkelahi, tentu mampus keracunan arak lantaran
terlalu banyak minum, orang luar sih tidak peduli, mereka hanya tahu dia mampus di
sini, yang celaka adalah Siau Cui, gara-gara kejadian ini ia nyaris diseret ke
pengadilan.”
“Ah, orang yang mengatakan begitu sungguh keterlaluan, sekalipun dia mati secara
mendadak, itu kan bukan salah Siau Cui?”

“Betul juga perkataanmu, tapi dia kan seorang nona penghibur, kalau sampai
mengalami kejadian sial semacam ini, siapa lagi yang berani masuk ke kamarnya?”
“Kalau begitu, jadi gara-gara orang she Ho itulah Siau Cui ikut tertimpa sial?” jengek
Leng-hong.
“Bukan Siau Cui saja yang tertimpa malang, usaha kampiun ikut terpengaruh.Ai,
bocah she Ho itu sungguh bikin celaka orang saja.”
Kalau bisa Leng-hong ingin memberi beberapa kali tempelengan pada pesuruh yang
lancang mulut ini, tapi sedapatnya ia tahan perasaannya.
“Siau Cui tinggal di halaman belakang sebelah mana?” tanyanya kemudian, “jangan
kuatir, bawa saja diriku ke sana, dan uang perak itu untuk minum arak bagiku.”
“Tuan, kau tidak takut?” tanya orang itu dengan suara parau.
Ho Leng-hong menggeleng kepala sambil tertawa, “Jangan kuatir, jika akupun ikut
mampus di halaman belakang, anggap saja aku yang mencari kematian sendiri, tak
nanti kubikin susah kepadamu.”
Pesuruh tersebut ingin mendapatkan hadiah, cepat dia celingukan ke sekeliling
tempat itu, lalu bisiknya sambil memberi tanda, “Baik, ikutlah padaku.”
Mereka berdua masuk lewat pintu samping lalu mengitari ruang dan halaman tengah
terus masuk ke halaman belakang.
Sambil menuding sebuah rumah papan di sudut pekarangan sana, bisik pesuruh itu,
“Di sanalah nona Siau Cui berdiam, Tuan jangan berdiam terlalu lama di situ, kalau
ketahuan Mama, hamba bisa celaka.”
Ho Leng-hong menyuruh pergi orang itu, kemudian mengawasi rumah kayu itu
dengan saksama.
Rumah kayu itu jelek, sudah tua dan dekat dinding pekarangan, bagian sampingnya
adalah tempat menyimpan barang-barang tak terpakai, tentu saja bedanya bagaikan
langit dan bumi bila dibandingkan kamar Siau Cui di serambi barat sana.
Meskipun Siau Cui hanya seorang pelacur yang hina dina, tapi terhadap Leng-hong
dia memang jatuh cinta dengan tulus dan murni, Leng-hong menyesal karena tak
dapat memenuhi harapan kekasihnya, apalagi setelah menyaksikan penderitaan yang
dialaminya sekarang, ia menjadi malu hati.
Tapi, sesungguhnya salah siapakah itu?
Siapa yang telah “mencelakai” Ho Leng-hong?
Siapa yang membuat Ho Leng-hong “berubah” menjadi Nyo Cu-wi?

Apakah kejadian inilah yang disebut “roh masuk pada raga orang lain”?
-------------------------
Ho Leng-hong jelas tidak mengakui dirinya telah “mati”, iapun tidak percaya setan
iblis segala, apalagi tentang roh masuk ke tubuh orang lain.
Oleh sebab itu ia harus tanya langsung persoalan ini kepada Siau Cui.
Cahaya redup tampak bersinar di balik jendela rumah kayu itu, di dalam terdengar
suara batuk seorang yang berat.
Itulah suara batuk Siau Cui, paru-parunya memang lemah, sering kali dia terbatukbatuk
sebelum tidur, terutama bila ada persoalan yang mengganjal dalam hatinya, ia
akan mengalami kesulitan untuk tidur.
Tiba-tiba Ho Leng-hong merasa terharu, ia menghela napas perlahan lalu mengetuk
pintu.
“Siapa?” suara Siau Cui berkumandang dari dalam.
“Aku! Buka pintu, Siau Cui!”
“Siapa kau?”
“Ho Leng-hong......”
Celaka! Ketika nama itu disebutkan, Ho Leng-hong segera tahu urusan bakal runyam,
tapi mau ditarik kembali sudah tak keburu lagi.
Benarlah, dari balik ruangan berkumandang jeritan kaget, disusul suara pembaringan
kayu yang bergetar keras....
Mungkin Siau Cui sedang berbaring ketika mendengar jawabannya, sebab itu saking
kagetnya, ia melompat turun dari pembaringan.
“Aku datang untuk persoalan yang menyangkut Ho Leng-hong,” cepat Leng-hong
memberi penjelasan, “Bukalah pintu, Siau Cui, mau bukan?”
“Krek!” pintu terbuka sedikit.
Dengan suatu gerakan cepat Ho Leng-hong menyelinap masuk ke dalam, lalu
menutup kembali pintu kamar.
Suasana dalam rumah remang-remang, hanya sebuah lentera menerangi tempat itu,
keadaannya sangat sederhana, hanya terdapat sebuah pembaringan dan sebuah meja
kecil.
Siau Cui meringkuk di pojok ruangan dengan muka pucat dan badan gemetar,
wajahnya memancarkan perasaan takut.

“Siapa.... siapa kau?” tegurnya dengan tergagap.
Perlahan Ho Leng-hong menanggalkan topi lebarnya, lalu berkata, “Siau Cui, aku
adalah Leng-hong, Sungguh! Meskipun mukaku telah berubah, tapi aku betul-betul
adalah Ho Leng-hong, kau harus percaya kepadaku...”
Mata Siau-Cui terbelalak, lalu menggeleng berulang, “Tidak! Tidak! Kumohon
kepadamu, jangan menakuti diriku! Ho Leng-hong telah mati, siapa kau sebenarnya?”
“Siau-Cui, tak perlu omong kosong, kau tahu jelas bahwa aku tidak mati.”
Tidak, Ho Leng-hong benar-benar sudah mati, ia mati di kamar sebelah barat sana,
dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan ia digotong keluar ....”
“Aku tak peduli, siapa yang mereka gotong keluar, pokoknya aku benar-benar adalah
Ho Leng-hong, sekarang aku masih hidup segar-bugar, Siau Cui, kau harus percaya
kepadaku.”
“Tidak, akut tidak percaya! Aku tidak percaya!” Siau Cui menggeleng kepala, “aku
tidak kenal dirimu, aku hanya tahu Ho Leng-hong sudah mati.”
Leng-hong sadar bila keadaan begini berlangsung terus, persoalan akan sukar selesai,
maka ia berubah taktik, katanya, “Baiklah, kalau kau berkeras tak mau percaya
kepadaku, akupun tak akan memaksa. Sekarang perhatikan diriku baik-baik,
pernahkah kau melihat diriku sebelum ini?”
Dengan seksama Siau Cui mengamati wajahnya, lalu menggeleng, “Belum pernah!”
“Coba pikir lagi, pernahkah kenal denganku di suatu tempat?” desak Leng-hong pula.
“Tidak pernah!”
“Jadi kita baru pertama kali bertemu sekarang?”
“Benar!”
“Tapi aku tahu di sebelah kiri perutmu, di bawah pusar, terdapat setitik tahi lalat, di
sebelah kanan belakang pinggangmu juga terdapat sebuah toh hitam, benar tidak?”
kata Leng-hong sambil tertawa.
Siau Cui melengak, sampai sekian lama ia melongo, lama sekali baru bertanya
dengan tergegap, “Kau dengar dari siapa?”
“Kulihat dengan mata kepalaku sendiri,” Leng-hong tertawa, “Seandainya kita tak
pernah kenal sebelum ini dan baru bertemu untuk pertama kalinya, darimana kutahu
akan tanda rahasia di atas tubuhmu?”
Perlahan Siau Cui menghela napas panjang, “Kenapa heran? Kami orang-orang yang
melakukan pekerjaan semacam ini sudah biasa buka pakaian di depan setiap pria yang

berkunjung kemari, soal itu sudah bukan rahasia lagi.”
“Baiklah, bila kau anggap tanda rahasia di tubuhmu sudah bukan rahasia lagi, katakata
pribadimu dengan Ho Leng-hong tentu tak diketahui orang lain bukan? Sebagai
contoh kata-kata yang kau bicarakan malam menjelang kejadian itu, bukankah kau
minta kepada Ho Leng-hong untuk membawamu kabur sejauh-jauhnya dari sini . . . .
“
Belum habis perkataan itu, air muka Siau Cui sudah berubah hebat, tukasnya, “Apa
yang kau katakan? Sungguh aku tidak paham, aku tak pernah kenal padamu, akupun
tak ada waktu untuk mengobrol denganmu, kuminta sekarang juga kau keluar dari
sini, keluar! . . . .”
Dengan tajam Ho Leng-hong mengawasinya tanpa berkedip, katanya perlahan, “Siau
Cui, kau takut bukan? Waktu itu kau sudah tahu bakar terjadi sesuatu maka kau
mohon kepadaku untuk membawamu pergi, kaupun tahu dalam kuah penyadar mabuk
itu . . . .”
Air muka Siau Cui semakin pucat, sebelum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya
ia sudah membentak, “Aku tidak mengerti akan perkataanmu, kuminta segera kau
tinggalkan tempat ini, kalau tidak, segera aku akan memanggil orang.”
“Kau tidak akan memanggil orang, Siau Cui, kutahu kau tak akan berbuat demikian
karena kau tahu siapa diriku, kaupun tahu apa yang telah terjadi, hanya kau tak berani
mengatakannya.”
“Tidak tahu, aku tidak tahu . . . . apapun aku tidak tahu, sungguh aku tidak tahu apaapa,”
Seru Siau Cui sambil menggeleng kepala berulang kali dan menutup telinganya
dengan tangan.
“Siau Cui, apa yang kau takuti? Kau diancam siapa? Kenapa tidak berani bercerita?”
Dengan suara yang hampir menangis Siau Cui berkata, “Kumohon padamu,
janganlah mendesakku terus menerus, sungguh aku tidak tahu, kalian telah
mencelakaiku hingga seperti ini, apakah masih belum cukup?”
“Siapa yang mencelakaimu?” seru Leng-hong sambil menarik lengannya, “Siau Cui,
beri tahukan padaku, siapa yang mencelakai . . . . “
Siau Cui tak bisa menjawab, dia hanya menangis tersedu-sedu.
“Bicaralah Siau Cui, cepat katakan kepadaku,” pinta Leng-hong sambil
mengguncang-guncangkan tubuh si nona, “aku adalah Leng-hong . . . .”
“Blang!” tiba-tiba pintu kamar didobrak orang secara paksa.
Dua sosok bayangan tubuh yang tinggi besar berdiri tegak di depan pintu, seorang
pria berbaju serba hitam, bertubuh kekar dan berdandang sebagai tukang pukul,
sedang yang lain adalah perempuan, dia lebih tegap daripada pria tersebut, ia bukan
lain adalah Go So.

Entah sejak kapan kedua orang itu tiba di luar kamar, ternyata Ho Leng-hong tidak
mengetahui kehadiran mereka.
Agaknya Go So tidak kenal lagi pada Ho Leng-hong, sambil menuding pemuda itu,
bentaknya, “Keparat, apa yang kau lakukan? Berani betul menerbitkan keonaran
dalam Hong-hong-wan? Hm. Tampaknya tulang-tulang badanmu sudah gatal dan
minta digebuk!”
“Hm, kalian membuka rumah pelacuran ini untuk mencari uang, asal Toaya punya
uang, siapa yang berani melarang kedatanganku?”
“Kalau bermain perempuan sepantasnya di ruang depan, apa maksudmu tarik
menarik dengan nona yang beristirahat di ruang belakang? Mengapa kau datang
kemari secara diam-diam? Keparat, tidak lekas lepas tangan, memangnya kau ingin
digebuk?”
Sambil berkata ia menggulung lengan bajunya dan siap berkelahi.
“Tunggu sebentar!” tiba-tiba si baju hitam di sampingnya mencegah, “rasanya
kukenal wajah tamu kita ini, seperti pernah bertemu di suatu tempat?”
“Hm, kau kenal aku?” jengek Ho Leng-hong ketus.
Laki-laki berbaju hitam itu tidak menjawab, ia mengamati lawannya dengan cermat,
mendadak ia memberi hormat, “Ah, kukira siapa, rupanya Nyo-tayhiap dari Thian-pohu
yang berkunjung kemari. Maaf! Maaf!”
“Kau ini . . . . .” melengak juga Leng-hong.
“Hamba she Tan, anak buah Thian-toaya, orang menjuluki diriku sebagai Thi-tausiau
Tan (Tan kecil kepala baja).”
“O, jadi Hong-hong-wan ini termasuk wilayah kekuasaan?”
“Ah, tidak berani, tidak berani,” Thi-tau Tan menyengir, “hamba hanya menjalankan
perintah Thian-ya, lantaran Ho Leng-hong kedapatan mati di sini, maka aku
diperbantukan selama beberapa hari di sini, sungguh tak nyana Nyo-tayhiap bisa
berkunjung kemari.Bila kami berbuat kesalahan karena tidak mengenal Nyo-tayhiap,
harap suka dimaafkan . . . .”
Kepada Go So segera ia membentak, “Kenapa tidak cepat-cepat berlutut dan minta
ampun! Beliau inilah Nyo-tayhiap, pemilik Thian-po-hu yang tersohor, biar sengaja
diundang juga belum tentu tamu agung kita ini mau datang kemari, kau si goblok ini
benar-benar anjing betina yang buta . . . . .
Dengan cepat Go So berubah sikap, dengan lemas ia bertekuk lutut.
“Nyo-tayhiap,” demikian ujarnya, “maafkanlah aku si tua bangka yang punya mata
tapi buta, engkau adalah orang besar, tentu tak akan ingat kesalahan orang kecil,

anggap saja mulutku si tua bangka tadi hanya kentut busuk dan janganlah marah
kepadaku”
Tiba-tiba Ho Leng-hong teringat kembali pada kuah penyadar mabuk malam itu. Go
So inilah yang mengatar kuah itu baginya, seandainya dalam kuah terdapat sesuatu
yang mencurigakan berarti Go So juga mengetahui persoalan ini sebelumnya . . . . . .
Sementara ia masih melamun, Go So merangkak bangun sambil berkata, “Tidak
sepantasnya menyambut kedatangan tamu agung di tempat sejelek ini, nona Siau Cui,
baik-baiklah melayani Nyo-tayhiap, segera akan kuberi tahukan hal ini kepada Mama
. . . .”
“Tidak usah,” seru Leng-hong, “sebentar saja aku akan pergi.”
“Mana boleh jadi?” kata Go So, “Nyo-tayhiap tertarik oleh Siau Cui kami, hal ini
merupakan rejeki besar baginya, sekalipun tidak menginap, paling sedikit harus
minum arak lebih dulu agar ia menemani Nyo-tayhiap bercakap-cakap.”
“Betul, biar hamba undang juga Thian-ya,” sambung Thi-tau Tan, “Lo-ya sekalian
juga akan kuundang kemari, Wah suasana nanti pasti akan bertambah meriah . . . . .”
Ho Leng-hong melirik Siau Cui sekejap, ia tahu tiada harapan baginya untuk mencari
keterangan pada malam ini, ia menghela napas dan melepaskan tangannya.
Diambilnya sekeping uang perak dan diserahkan kepada Thi-tau Tan, lalu pesannya,
“Aku masih ada urusan dan harus segera berangkat. Nih, terimalah sebagai ongkos
minum arak, tapi jangan sekali-kali kausiarkan kedatanganku ini di luaran, mengerti?”
“Apakah terhadap Thian-ya sekalian juga . . . “
“Ya, terhadap mereka juga harus dirahasiakan, sebab aku tak ingin seorang pun
mengetahui kejadian malam ini.”
Berputar biji mata Thi-tau Tan, katanya dengan tertawa, “Ah, pahamlah hamba
sekarang. Padahal Nyo-tayhiap tak usah kuatir, Thian-ya kan sahabat karib Nyotayhiap,
tentang soal ini tak mungkin mereka akan . . . .”
Ho Leng-hong tidak banyak bicara lagi, sambil mengulap tangan ia meninggalkan
rumah kayu itu.
Siau Cui hanya menunduk sambil menangis, ia membungkam seribu bahasa, tidak
mendongak juga tidak mengantar.
Tapi Go So mengantar sampai di luar pintu, katanya dengan nada minta maaf, “Nyotayhiap,
tentunya kau tidak marah padaku bukan? Kalau malam ini tak ada waktu,
kapan-kapan silakan datang lagi? Nyo-tayhiap . . . .”
Ho Leng-hong berlalu dengan langkah lebar hakikatnya seperti orang lari, dia
mengambil langkah seribu meninggalkan rumah hiburan itu . . . .

Jilid 2
Kejadian baik tak nanti keluar pintu, kejadian “busuk” justru tersiar sampai ke manamana,
pepatah ini memang terbukti.
Sekeping uang perak yang dikorbankan Ho Leng-hong semalam tidak berhasil
menutup mulut Thi-tau Tan, sebab keesokan harinya, pagi-pagi sekali, si telinga
panjang Siau Thian sudah mendapat kabar dan muncul di Thian-po-hu.
Bagaimanapun Thian Pek-tat bersumpah bahwa ia tidak akan membocorkan rahasia
itu kepada orang lain, akhirnya toh peristiwa ini diketahui juga oleh Pang Wan-kun.
Kalau menuruti adat Ho Leng-hong, bila ketahuan ya sudahlah, mau apa lagi.
Yang sulit justru pada saat ini ia berstatus sebagai Nyo Cu-wi.
Dan justru pula Nyo Cu-wi terkenal sebagai laki-laki takut bini.
Jika Ho Leng-hong sudah mengakui dirinya ialah Nyo Cu-wi, mau-tak-mau dia harus
mewarisi tabiat Nyo Cu-wi itu. Apa boleh buat, terpaksa ia harus tabahkan hati untuk
menerima dampratan .......
------------------
Air muka Pang Wan-kun tampak sedingin es, Cuma bagaimanapun juga dia adalah
wanita yang berasal dari keluarga terhormat, jadi tak sampai terjadi pertengkaran
sengit yang mengakibatkan piring terbang dan bakiak naik kepala.
Ia hanya bertanya dengan suara dingin, “Kudengar semalam kau mencari kesenangan
di luar hem, mau jadi pemuda romantis lagi?”
Ho Leng-hong tak dapat mengatakan apa-apa ia hanya menyengir saja.
Kembali Wan-kun berkata, “Kukira nona-nona di sana pasti pandai, menyenangkan
hati kaum pria, kenapa tidak sekalian menginap saja? Nikmatilah surga dunia
sepuasnya, buat apa pulang ke rumah?”
“Wan-kun, dengarkan dulu penjelasanku . . . . .” pinta Hong Leng-hong sambil
tertawa getir.
“Apa lagi yang hendak kau jelaskan?” suara Pang Wan-kun lebih dingin daripada air
mukanya, tapi nada bicaranya penuh rasa sedih seperti minta dikasihani.
Ia berkata lagi, “Jangan kau artikan aku cemburu, kutahu setiap lelaki sekali tempo
suka iseng, kejadian semacam itu sudah lumrah, tapi tidak sepantasnya kau pergi
seorang diri, lebih-lebih tak pantas pergi secara sembunyi-sembunyi, bukankah

caramu itu justru menunjukkan kau berbuat karena mempunyai maksud tertentu?
Kalau sampai tersiar di dunia persilatan, tidaklah nama baik Thian-po-hu akan
tercemar?”
Leng-hong manggut-manggut, “Ya, aku tahu perkataanmu memang benar, tapi
tahukah kau apa yang hendak kulakukan di sana?”
“Huh, memangnya perbuatan apa yang kau lakukan di tempat rendah dan kotor
semacam itu?”
“Wan-kun, kau salah menuduhku, kudatang ke Hong-hong-wan bukan untuk mencari
kepuasan, aku ke situ untuk mengenang seseorang, atau anggaplah sebagai suatu
tanda simpatiku terhadap seseorang.”
“Siapa orang itu?” tanya Wan-kun dengan melengak.
“Kau masih ingat ketika sedang sakit tempo hari, bukankah aku mengaku she Ho?”
“Ya, betul, kau terus menerus mengaku dirimu bukan she Nyo, tapi she Ho . . . Ho
apa begitu!...”
“Tepat sekali...Nah, kedatanganku ke Hong-hong-wan semalam justru demi orang
she Ho itu.”
“Bukankah orang she Ho itu sudah mati?”
“Justru karena dia sudah mati, maka secara diam-diam aku datang ke sana untuk
menyatakan belasungkawa atas kematiannya. Wan-kun, tahukah kau sewaktu aku
tidak sadar tempo hari, aku telah mendapat impian yang aneh sekali . . . . .”
“Impian aneh apa?” tanya Pang Wan-kun keheranan.
“Belum pernah aku berkunjung ke tempat semacam Hong-hong-wan, tapi dalam
impian tersebut seakan-akan aku telah berubah menjadi orang she Ho, bukan saja
sering berkunjung ke sana, bahkan apal benar keadaan tempat itu, malah beberapa
nama dari orang-orang yang ada di situ dapat kupanggil secara tepat, semua perabot,
letak pintu dan sebagainya dapat kuingat semua dengan jelas. Maka setelah sadar,
makin kupikir makin heran, akhirnya kuputuskan untuk secara diam-diam menyelidiki
tempat itu.”
“Dan bagaimana hasilnya?”
“Setelah kusaksikan sendiri semalam, dan kubuktikan bahwa apa yang kulihat dalam
impian itu persis kenyataannya, di mana ada pintu, di mana ada undak-undakan,
semuanya tepat dan persis. Coba bayangkan aneh tidak?”
“Ah, masa begitu?” saking terperanjatnya mata Pang Wan-kun sampai terbelalak
lebar.
“Tidak aneh kalau Cuma ingat saja pada keadaan dalam Hong-hong-wan, yang lebih

mengherankan lagi adalah aku ternyata kenal semua orang di sana, aku dapat pula
menyebutkan nama mereka satu persatu, Cuma tak seorang pun di antara mereka
kenal pada diriku....”
“Cukup, cukup, jangan bicara lagi, jangan bicara lagi, bikin bulu kudukku berdiri
saja,” teriak Wan-kun sambil menutup telinganya.
Sesungguhnya aku Cuma ingin membuktikan impianku saja,” Leng-hong berusaha
menakuti lagi, “siapa tahu setelah berada di Hong-hong-wan, mendadak kurasakan
suasana yang mengerikan, seakan-akan di situ tersembunyi bahaya besar.”
“Maksudmu di sana ada setannya?”
“Bukan, kucurigai tempat itu dipakai sebagai tempat persembunyian orang-orang
golongan hitam, akupun curiga mereka sedang menyusun suatu rencana jahat yang
tidak menguntungkan Thian-po-hu.”
“Hei, mengapa kau mempunyai jalan pikiran seaneh ini?” seru Pang Wan-kun
terkejut.
“Aku sendiri juga tak bisa mengatakan alasannya, yang pasti timbul firasat tak enak
dalam hatiku, misalnya saja, dalam keadaan baik-baik kenapa aku bisa mendapat
impian seaneh itu? Orang she Ho itu mati dalam keadaan tak jelas duduk
persoalannya, mungkinkah lantaran dia penasaran, maka sukmanya menciptakan
suatu impian kepadaku dengan maksud memberi peringatan....”
Makin didengar Pang Wan-kun makin terperanjat, hawa amarahnya terbang entah ke
mana, sebagai gantinya adalah rasa kaget dan ngeri.
“Jit-long,” dia mengeluh, “kaupun percaya sukma bisa memberi impian segala?”
“Kenapa tidak percaya? Manusia terdiri dari raga dan sukma, orang mati wajar
sukmanya akan buyar mengikuti badan kasarnya yang musnah, sebaliknya bila orang
mati itu penasaran, walaupun badan kasarnya membusuk, tapi sukmanya tidak akan
buyar, dia akan gentayangan ke sana kemari mengikuti embusan angin, terkadang
berkumpul dan membentuk menjadi roh jahat, bila penasarannya sudah hilang dan
dendam terbalas, dia baru membuyar dan lenyap....”
“Sudah, sudahlah, jangan kaulanjutkan ceritamu,” tukas Pang Wan-kun, “sekalipun
roh jahat benar-benar ada, asal kita tak pernah melakukan perbuatan jahat, buat apa
kita mempedulikannya?”
“Jika urusannya menyangkut diri kita, mana boleh kita berdiam diri saja?”
“Apa sangkut pautnya dengan kita?”
“Sukma orang she Ho itu tidak mendatangi orang lain tapi justru memberi impian
kepadaku, itu berarti urusan kemungkinan besar ada sangkut pautnya dengan kita.”
“Jit-long, maksudmu . . . . .”

“Aku tetap mencurigai kematian yang menimpa orang she Ho itu, sudah pasti di
dalam rumah pelacuran Hong-hong-wan tersembunyi marabahaya besar, kita tak bisa
berpeluk tangan menghadapi kejadian ini, kita harus menyelidikinya hingga duduk
perkaranya menjadi jelas.”
“Bukankah Thian Pek-tat sedang melakukan penyelidikan atas kematian orang she
Ho itu!”
“Siau Thian secara terang-terangan menaruh orangnya di Hong-hong-wan, mana
mungkin bisa menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya? Kukira kita harus
mengadakan penyelidikan secara diam-diam dengan begitu baru akan mendatangkan
hasil.”
“Kalau begitu, beri tahu saja kepadanya, agar Siau Thian ganti taktik dan melakukan
penyelidikan secara diam-diam.”
“Tidak, Wan-kun kita harus bekerja sendiri dan tak dapat minta bantuan orang lain,
sebab kemungkinan besar persoalan ini ada pengaruhnya bagi Thian-po-hu kita.”
“Apa yang hendak kaulakukan?”
“Malam ini kita bersama-sama mengunjungi Hong-hong-wan serta melakukan
penyelidikan.”
“Apa? Kausuruh aku mengunjungi tempat kotor itu?” seru Wan-kun tidak senang.
Ho Leng-hong tahu sang “istri” tak bakalan mau mengunjungi tempat semacam itu,
maka ia berkata pula dengan sungguh-sungguh, “Wan-kun, kau harus pergi, bila
kaukuati menjumpai sesuatu yang tak pantas, tunggu saja aku di luar, kita adalah
suami-isteri yang saling mencintai, aku tak mau menimbulkan salah-pahammu
terhadapku.”
Tiba-tiba Wan-kun tertawa, katanya dengan gembira, “Rupanya kau mengajak aku ke
situ hanya untuk menghindari tuduhan.”
“Ya, daripada dicurigai orang kan lebih baik aku bersiap-siap lebih dulu, seperti
kejadian semalam, seharusnya lebih dulu kuberitahukan rencanaku ini kepadamu,
dengan demikian kan takkan terjadi kesalahpahaman seperti ini.”
Wan-kun tersenyum, “Padahal, masakah aku benar-benar berprasangka padamu?
Aku hanya ingin mengetahui apakah kau jujur atau tidak kepadaku, malam ini kau
boleh pergi dengan hati tenang, dengan izinku ini kau bisa bekerja lebih leluasa....”
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Tetapi, sekembalinya dari sana harus
kauceritakan kejadian yang sebenarnya kepadaku, sepatah katapun tak boleh
ketinggalan, kalau berani merahasiakan sebagian saja dari kisahmu, hmm, jangan
salahkan aku bila kutindak menurut hukum rumah tangga.”
“Terima perintah!” sahut Ho Leng-hong sambil tertawa.

“Jangan keburu senang dulu,” kata Wan-kun lagi, “bisa jadi kau di depan dan aku
akan mengintil secara diam-diam dari belakang, sedikit kau menyeleweng, rasakan
nanti!”
Walaupun di mulut Ho Leng-hong mengatakan “tidak berani”, tapi secara diam-diam
ia sangat gembira.
Setelah mendapatkan “izin” tersebut, ia dapat mengunjungi Hong-hong-wan secara
terang-terangan dan menanyai Siau Cui hingga jelas.
Cuma, ia tetap memutuskan untuk pergi ke sana secara diam-diam, sebab dari cara
serta sikap Siau Cui waktu bicara, tampaknya ia mempunyai kesulitan untuk bercerita,
bila ditanyai secara langsung jelas dia tak akan bicara sejujurnya.
Selain itu masih ada lagi Go So, orang itu harus dihindari, sebab gerak-geriknya
sangat mencurigakan, setiap kali bila keadaan genting, ia selalu muncul secara
mendadak, tampaknya ia bertugas untuk mengawasi gerak-gerik Siau Cui.
Begitulah, setelah mengambil keputusan, malam itu ia berkunjung lagi ke Honghong-
wan....
----------------------
Tampaknya peristiwa “kematian” orang she Ho dalam Hong-hong-wan tidak
mempengaruhi keramaian tempat itu, suasana masih diliputi kegembiraan, irama
musik, suara nyanyian dan gelak tertawa masih bergema seperti biasa.
Setelah pengalaman semalam, Ho Leng-hong tak berani masuk secara gegabah, ia
minum arak lebih dulu di sebuah kedai arak dekat sarang pelacuran itu, lewat tengah
malam, menurut perkiraannya tamu yang masih ada tentu sudah masuk kamar, yang
tidak bermalam tentu sudah pulang, ia membayar rekening minum dan perlahan
memasuki gang Waru.
Mula-mula ia mengitari dulu lorong tersebut, ketika dilihatnya pintu sudah tertutup
dan lampu telah padam, barulah ia mempercepat langkahnya menuju ke dinding
perkarangan sebelah belakang.
Untuk menghindari kepergok orang hingga statusnya sebagi pemilik Thian-po-hu
diketahui orang, ia mengenakan sehelai kain yang menutupi sebagian besar wajahnya,
kemudian tarik napas dan melompati tembok pekarangan itu.
Di mana ia melayang turun hanya beberapa tombak jauhnya dari rumah kayu
tersebut.
Suasana dalam halaman itu sunyi senyap, rumah kayu itupun gelap gulita tak
bercahaya, tampaknya Siau Cui sudah tidur.
Dengan langkah hati-hati Ho Leng-hong mendekati pintu, mencoba dulu pintu
tersebut, ternyata baik pintu maupun daun jendela dipalang dari dalam.

Perlahan ia mengetuk pintu, namun tiada jawaban yang terdengar, suasana tetap
hening.
Ho Leng-hong tak mau bersuara hingga mengejutkan orang lain, ia mencari sepotong
kayu tipis, lalu dimasukkan lewat celah-celah pintu dan perlahan membuka pantekan
palang pintu....
“Krek” pintu terbuka....
Ho Leng-hong menyusup ke dalam kamar sambil memanggil dengan suara tertahan,
“Siau Cui, Siau.....”
Tiba-tiba suaranya seperti tersumbat dalam tenggorokkan, hawa dingin ngeri
membuat bulu romanya sama berdiri.
Sesosok tubuh manusia tergantung mengapung di belandar, itulah Siau Cui.
Menurut perkiraan, paling sedikit ia sudah putus nyawa pada satu jam berselang.
Atau dengan perkataan lain, tatkala suasana di halaman depan sedang ramairamainya
dikunjungi tamu, secara diam-diam Siau Cui telah menggantung diri di
kamar belakang.
Mengapa ia bunuh diri? Kenapa kejadian ini tidak dilakukan dulu-dulu atau nanti,
tapi justru dilakukan setelah Ho Leng-hong mengunjunginya semalam? Untuk
menghindari kesulitan? Atau dibunuh untuk menghilangkan saksi hidup.....?
Saking kagetnya Ho Leng-hong sampai lupa bersedih, buru-buru ia menurunkan
jenazah Siau Cui, lalu dibaringkan di atas dipan. Ia periksa dulu keadaan mayat,
kemudian memeriksa pula keadaan dalam ruangan itu....
Tapi ia tidak berhasil menemukan apa-apa.
Kecuali bekas jeratan pada leher jenazah, tidak ditemukan luka lain.
Kamar itupun berada dalam keadaan teratur dan bersih, sama sekali tidak terlihat
tanda-tanda kacau atau bekas pergulatan.
Tampaknya Siau Cui memang betul-betul membunuh diri, cukup tenang dan teguh
tekadnya untuk bunuh diri, sebab itulah sepatah kata pesanpun tidak ditinggalkannya.
Tapi, mengapa dia harus bunuh diri?
Hanya disebabkan seorang “Ho Leng-hong” yang lain kedapatan mati di atas
pembaringannya?
Atau karena isi hatinya di yang penuh rahasia tak dapat dilampiaskan keluar itu?
Baik kematian lantaran yang pertama maupun yang kedua, jelas ia mati karena Ho

Leng-hong, sayang cinta kasihnya ini hanya meninggalkan kebingungan, kecurigaan
serta kecemasan bagi Ho Leng-hong.
Bila ia mempunyai keberanian untuk mati, mengapa tidak memiliki keberanian untuk
mengungkapkan rahasia dalam hatinya . . . . . .
Kegelapan mencekam keadaan rumah kayu itu, tak ada lampu, tak ada suara, suasana
seram, sepi!
Ho Leng-hong berdiri kaku di depan pembaringan, dia mengawasi mayat yang
membujur di pembaringan itu dengan termangu, tidak bergerak dan tidak bicara,
seperti patung.
Yang terlihat olehnya seolah-olah bukan sesosok mayat yang dingin dan kaku,
melainkan kekasih yang mencintainya dan menyayanginya yang berada dalam
pelukannya.
Kenangan lama seperti terbayang kembali di depan mata. Tak mungkin lagi ia
merasakan kehangatan dan kemesraan seperti dulu.
Tiba-tiba pandangan Ho Leng-hong terasa kabur, pipi terasa gatal dan cairan hangat
perlahan meleleh masuk ke ujung mulutnya.
Selama ini belum pernah ia kenal kesedihan atau kemurungan, ia selalu hidup bebas
tak terbelenggu, tapi sekarang, untuk pertama kalinya ia merasakan getirnya
kehidupan . . . .
“Tok! Tok! Tok!”
Tiba-tiba berkumandang suara ketukan pintu.
Dengan terkejut Ho Leng-hong memutar badannya dan membentak dengan suara
tertahan, “Siapa?”
“Aku!” dengus seorang perempuan, “Apa belum cukup masuk? Hayo pulang!”
Ho Leng-hong kenal suara Pang Wan-kun, cepat ia membuka pintu seraya berkata,
“Wan-kun, kebetulan sekali kedatanganmu, lekas masuk kemari...”
Pang Wan-kun mengenakan baju ringkas warna hitam, dua pedang tersandang di
punggungnya, ia tampak gagah dan menawan, jauh berbeda dengan dandanannya
selama berada di Thian-po-hu.
Cuma air mukanya sekarang kurang sedap dipandang, mukanya cemberut dan alis
matanya berkernyit, dengan suara dingin ia berkata, “Leluasakah bagiku untuk masuk
ke situ?”
“Wan-kun, jangan salah paham di sini telah terjadi sesuatu.”
“Ah? Terjadi apa?”

“Masuk dulu kemari, kalau berdiri di depan pintu niscaya jejak kita akan ketahuan
orang.”
Baru sebelah kaki Wan-kun melangkah masuk ke dalam kamar, tiba-tiba ia raguragu,
cepat ia menarik kembali kakinya.
“Pasang lampu dulu, aku tak suka masuk ke tempat gelap dan kotor begini . . . . .”
Tapi sebelum selesai ucapannya, Ho Leng-hong telah menariknya masuk secara
paksa dan cepat-cepat menutup pintu.
“Nyonya besar,” demikian bisiknya, “turunkan sedikit gengsimu, dalam kamar ada
mayat, mana boleh memasang lampu?”
“Mayat? Siapa yang mati?” tanya Wan-kun terkesiap.
“Nona Siau Cui, Hong Leng-hong yang memberi impian kepadaku itu mati di
kamarnya.”
“Kenapa dia mati? Jangan-jangan seperti juga orang she Ho itu, barusan kalian . . . .”
“Jangan sembarangan menduga, mayat itu berada di pembaringan, periksalah
sendiri.”
Wan-kun mengawasi pembaringan tersebut, lalu dengan terkejut katanya, “He,
gejalanya seperti mati tercekik. Jit-long, kau yang melakukan perbuatan keji ini?”
Leng-hong tertawa getir, “Kenapa kau selalu menduga yang bukan-bukan, ia mati
menggantung diri, sewaktu aku tiba di sini ia sudah lama putus nyawa.”
“Kalau begitu, kita harus cepat-cepat tinggalkan tempat ini daripada nanti dicurigai
orang sebagai pembunuh, mau apa lagi kau bersembunyi di sini?”
“Hendak kuperiksa sebab-sebab kematiannya.”
“Apa lagi yang perlu diperiksa? Seorang nona rumah pelacuran bunuh diri kan bukan
suatu peristiwa besar, bila pemilik Thian-po-hu yang tersohor kedapatan berada di
kamar pelacur yang bunuh diri, inilah yang menggemparkan orang.”
“Tapi kurasakan kematiannya sangat mencurigakan, siapa tahu kalau di balik
peristiwa ini tersembunyi suatu rencana jahat yang berbahaya.....”
“Itu kan urusannya, apa sangkut-pautnya dengan kita?”
“Sebetulnya memang tiada sangkut-pautnya dengan kita, tapi berhubung orang she
Ho itu sudah memberi mimpi kepadaku, dan lagi secara kebetulan kita telah melihat
peristiwa ini, urusan yang menyangkut jiwa dua orang, apakah kita bisa berpeluk
tangan belaka?”

“Aduh Tuanku, kenapa kau sebodoh itu?” kata Wan-kun sambil menggentakkan kaki
ke atas tanah, “sekalipun persoalan ini hendak kita selidiki, paling tidak tempat yang
tidak menguntungkan kita ini harus ditinggalkan lebih dulu, besok kita bisa suruh
Thian-ya sekalian melakukan penyelidikan secara terbuka. Bayangkan saja, bila jejak
kita ketahuan orang sekarang, kalau mereka bertanya untuk apa di tengah malam buta
kau menyusup ke sarang pelacuran? Nah, coba, cara bagaimana akan kaujawab?”
“Soal ini.....”
“Jangan lupa, meski kau tidak takut ditertawakan orang, aku masih membutuhkan
muka untuk bertemu dengan sanak keluargaku. Hayo cepat pulang!”
Ho Leng-hong segera ditariknya keluar dari situ secara paksa.
Sebenarnya Ho Leng-hong enggan meninggalkan tempat itu, tapi sukar melawan
Pang Wan-kun, demi menjaga kebiasaan “takut bini”, terpaksa ia mengikuti keinginan
sang “isteri” dan kembali ke Thian-po-hu.
Sementara fajar telah menyingsing, Ho Leng-hong tidak sabar menunggu lagi, ia
segera menyuruh orang mengundang Thian Pek-tat.
Thian si telinga panjang memang seorang yang pandai melayani kehendak orang,
pada saat kau perlu bertemu dengan dia, ia selalu akan muncul di hadapanmu tepat
pada waktunya.
Sebelum orang yang disuruh mengundangnya berangkat, tahu-tahu Thian Pek-tat
sudah muncul lebih dulu di Thian-po-hu.
Begitu bertemu, tanpa menggunakan basa-basi lagi langsung mengemukakan maksud
kedatangannya.
“Saudara Nyo, sudah kaudengar berita di luar dugaan? Kembali ada orang kedapatan
mati di rumah pelacuran Hong-hong-wan,” demikian tuturnya.
Ho Leng-hong melengak, ia pura-pura bertanya dengan heran, “Apa? Siapa lagi yang
mati?”
Thian Pek-tat celingukan sekejap sekeliling tempat itu, lalu bisiknya. “Dia bukan lain
adalah Siau Cui yang pernah Nyo-heng temui dua malam yang lalu, entah kenapa
tiba-tiba ia menggantung diri semalam.”
“Hah? Tanpa sebab kenapa mendadak bunuh diri?” kembali Ho Leng-hong pura-pura
kaget.
“Ya, kalau dibicarakan, mungkin kejadian ini akan mempengaruhi pula nama baik
Nyo-heng, sebab itulah begitu mendapat kabar segera kuberangkat kemari.”
“Tapi apa sangkut-pautnya dengan diriku?”
“Nyo-heng, maaf bila Siaute bicara agak kasar, semestinya kau tidak boleh secara

diam-diam menemuinya di halaman belakang kemarin malam dengan jalan menyaru,
mau ketemu dengan di boleh saja, tapi tidak semestinya diketahui oleh Go So,
pelayan rumah pelacuran itu. Kini secara tiba-tiba Siau Cui diketahui mati
menggantung diri, sedang Go So adalah perempuan berlidah panjang yang tak bisa
menyimpan rahasia, bila ia menyiarkan kabar yang bukan-bukan di luaran, sedikit
banyak urusan ini akan menyangkut diri Nyo-heng.”
“Apa yang dia katakan?”
“Hmm, perempuan kasar macam dia, mana bisa mengucapkan kata-kata yang baik?
Tentu saja ngaco-belo ke sana sini dan dibumbu-bumbui, dia bilang antara Nyo-heng
dengan Siau Cui ada hubungan gelap, lantaran orang she Ho kedapatan mati di
kamarnya, Nyo-heng datang ke rumah pelacuran itu dan menanyai Siau Cui, karena
kaudesak, akhirnya ia menggantung diri.”
“Biarkan saja apa yang akan dikatakannya, masa orang akan percaya? Masa pemilik
Thian-po-hu yang tersohor bisa mencintai seorang pelacur dan memaksanya sampai
mati?”
“Nyo-heng persoalannya tidak sesederhana itu,” kata Thian Pek-tat dengan serius,
“Betapa kebesaran nama Thian-po-hu dalam dunia persilatan, masa kita biarkan
dinodai orang seenaknya? Bila perkataan semacam itu sampai tersiar keluar, bagi
nama baik Thian-po-hu hal ini tentu merupakan pukulan yang cukup berat.”
“Siapa bersih dia selalu bersih, siapa kotor dia akan kelihatan kotor. Bila ia berani
menyiarkan kabar bohong, memangnya aku tak bisa menjahit bibirnya dengan
benang?”
“Tak perlu Nyo-heng repot-repot, Siaute telah mengaturkan segala sesuatunya
bagimu.”
“Apa yang kau atur?”
“Bawa masuk!” seru Thian Pek-tat tiba-tiba sambil memberi tanda keluar pintu.
Bersama suatu sahutan dari luar, muncul Thi-tau Tan yang pernah dilihat Ho Lenghong
di rumah pelacuran kemarin dulu itu. Dia masuk sambil membawa sebuah kotak
kayu panjang persegi, setelah memberi hormat, kotak kayu itu ditaruh di depan Ho
Leng-hong.
“Barang apakah ini?” tanya Leng-hong.
“Silakan Nyo-heng periksa sendiri!” sambil berbisik Thian Pek-tat membuka tutup
kotak tersebut.
Dua buah batok kepala yang masih berpelepotan darah terletak berjajar dalam kotak
itu.
Yang sebuah adalah batok kepala Go So, sedang yang lain adalah batok kepala
pesuruh rumah pelacuran yang bertugas menjaga pintu itu.

Dengan perasaan bergetar dan wajah berubah Ho Leng-hong berkata, “Siau Thian,
mana boleh kau lakukan perbuatan sekejam ini?”
Thian Pek-tat tertawa licik, “Orang yang berjiwa kecil bukan seorang Kuncu, orang
yang tidak kejam bukan lelaki sejati. Demi mempertahankan nama baik serta martabat
Thian-po-hu di mata masyarakat, demi melenyapkan bibit bencana di kemudian hari,
terpaksa harus bertindak cepat dan tegas . . . .”
“Tapi sebelum bertindak seharusnya kaurundingkan dulu persoalan ini denganku.”
“Waktu sudah tidak mengizinkan lagi, begitu Siaute mendapat kabar, Go So telah
siap melaporkan Nyo-heng kepada mak germonya, untung dicegah Siau Tan,
berbareng ia mengirim kabar kepadaku, jika harus kuminta izin dulu pada Nyo-heng,
mungkin rahasia ini akan bocor, sebab itu segera kuperintahkan menyikat mereka.
Tapi Nyo-heng tak usah kuatir, kedua sosok mayat itu sudah kutelanjangi dan
diletakkan bersama di satu ranjang, orang tentu akan menduga mereka terbunuh
karena berzina.”
“Ai, Siau Thian, kau terlampau sembrono,” kata Ho Leng-hong sambil menghela
napas panjang, “caramu membunuh orang untuk melenyapkan saksi bukan perbuatan
yang terpuji bagi kaum kita.”
Thian Pek-tat tertawa, “Dalam keadaan terdesak tak mungkin bagiku untuk berpikir
panjang apa yang Siaute lakukan adalah demi kepentingan Nyo-heng, sebab kutahu
nama baik Thian-po-hu ditegakkan dengan susah payah, mana boleh kebesaran nama
ini dihancurkan oleh mulut seorang kecil?”
“Sekalipun demikian, caramu ini terlalu berlebihan, hanya bikin orang merasa tak
tenang saja,” kata Leng-hong sambil menggeleng kepala berulang kali.
“Bila Nyo-heng merasa tidak tenang, beri saja sedikit uang agar penguburan mereka
lebih meriah dan urusan kan beres.”
Ho Leng-hong benar-benar tak bisa berbuat apa-apa melainkan gelang kepala dan
menghela napas belaka.
Sebenarnya dia ingin mohon bantuan Thian Pek-tat untuk menyelidiki sebab
kematian Siau Cui, tapi dengan demikian terpaksa ia harus membatalkan maksudnya
semula.
Padahal, sekalipun ia tidak membatalkan maksudnya juga tak bakalan berhasil
usahanya itu.
Sebab setelah berturut-turut terjadi empat kali kematian dalam Hong-hong-wan,
semuanya mati dalam keadaan tidak jelas, semakin berkurang tamu yang berkunjung
ke situ, tak lama kemudian rumah “P” itupun terpaksa tutup pintu.
Burung terbang berpencar, manusia pergi gedungnya kosong, rumah pelacuran Honghong-
wan yang ramai itu berubah menjadi sebuah gedung kosong yang

menyeramkan, sekalipun di balik kesepian tersimpan pelbagai rahasia, dari mana pula
rahasia itu akan diselidiki?
Dengan demikian, satu-satunya harapan Ho Leng-hong untuk mencari tahu duduk
perkara yang sebenarnya pun putus di tengah jalan, satu-satunya yang bisa ia lakukan
sekarang hanya berdiam terus di Thian-po-hu, dan melanjutkan statusnya sebagai Nyo
Cu-wi yang tersohor karena “takut bini”.
Namun demikian tidak berarti ia sudah mengakui dirinya sebagai Nyo Cu-wi.
Ia mengerti, kemungkinan besar peristiwa ini hanya suatu rencana jahat, suatu intrik
yang mengerikan. Ada orang mempergunakan dirinya untuk menyaru sebagai Nyo
Cu-wi, dan orang itu pasti mempunyai maksud tujuan yang menakutkan.
Tapi, maksud tujuan apakah itu? Dia sendiri tak tahu.
Tapi dia percaya, pada suatu saat “tujuan”itu pasti akan terlihat, dan ia yakin hal ini
tak akan terlampau lama.
Maka dari itu di harus menanti, menanti dan menanti terus dengan sabar . . . . .
-----------------
Menanti adalah suatu pekerjaan yang menjemukan, apalagi Ho Leng-hong harus
mewakili seorang lain serta hidup di lingkungan yang sama sekali asing baginya.
Setiap saat ia harus waspada, harus selalu berhati-hati agar rahasianya tidak diketahui
orang, tapi iapun harus melakukan penyelidikan terus menerus, ia juga berusaha
mengetahui peraturan dalam Thian-po-hu, kebiasaan hidup Nyo Cu-wi, bahkan nama
serta panggilan para pelayannya.
Untung segala sesuatunya dapat berjalan lancar. Dalam waktu singkat sebulan sudah
lewat, Ho Leng-hong sudah apal terhadap segala sesuatu yang ada dalam Thian-pohu,
yang lebih hebat lagi, kehidupan “suami-isteri” antara dia dengan Pang Wan-kun
dapat pula berlangsung dengan “klop” tanpa kurang sesuatu.
Pengawasan Pang Wan-kun terhadapnya tidak ketat, asal ia tidak meninggalkan
gedung itu, tidak bergurau dengan pelayan muda, boleh dibilang kehidupannya dapat
berlangsung dengan “bebas”.
Lo Bun-pin serta Siau Thian sekalian sahabatnya boleh dibilang setiap hari selalu
berkumpul dan bersenang-senang, kalau bukan minum arak tentu berjudi.....
Hari demi hari dilewatkan dengan penuh kenikmatan, setiap hari kerjanya hanya
makan, minum serta berjudi, suatu pekerjaan seriuspun tak pernah dilakukan.
Selama satu bulan ini, Ho Leng-hong dapat meresapi benar kehidupan keluarga kaya
dan terhormat itu, kerja mereka hanya makan, minum, berjudi dan tentu saja bermain
perempuan, dalam anggapan mereka perbuatannya ini merupakan perbuatan romantis,
padahal sebenarnya perbuatan yang memalukan.

Yang disebut sebagai golongan “pendekar”tidak lebih hanya kulit manusia yang
menutupi wajah masing-masing, yang dilakukan belum tentu perbuatan “manusia”.
Sekalipun kadangkala melakukan perbuatan kebajikan, itupun demi nama baik
sendiri, kuatir orang lain tak tahu bahwa mereka yang melakukannya, kuati orang lain
tidak tahu namanya.
Berbuat kebajikan supaya diketahui orang lain bukanlah kebajikan yang murni.
Sekalipun Ho Leng-hong bukan seorang Kuncu, toh dia merasa muak menyaksikan
tingkah laku orang-orang kalangan atas ini. Coba kalau tidak ada urusan penting,
sungguh ia ingin mendepak pergi manusia-manusia munafik itu.
Tentu saja ia tak dapat berbuat demikian. Sebab ia sedang menantikan sesuatu yang
sukar diduga, lagi pula rumah ini juga bukan miliknya.
Hari berganti hari, lama kelamaan Ho Leng-hong mulai merasa tak tahan dan habis
sabarnya.
Tengah hari itu tiba-tiba ia merasa kesal, pada kesempatan semua orang sedang
berjudi di ruang depan, seorang diri ia kembali ke ruangan belakang.
Hari itu udara panas dan hawa lembab, seperti akan hujan.
Dari Bwe-ji diketahui bahwa Pang Wan-kun baru saja masuk tidur siang, untuk
sementara jelas tak dapat membangunkannya, suasana di ruang belakang amat hening,
para pelayan pada bersembunyi mencari tempat yang sejuk.
Selesai membersihkan badan dan berganti pakaian, Leng-hong enggan kembali ke
ruang depan, maka seorang diri ia berjalan-jalan di taman.
Entah berapa lama ia berjalan, akhirnya tiba di depan Kiok-hiang-sia.
Duduk di dalam villa air yang nyaman, apalagi menghadapi air nan hijau di bawah
embusan angin yang sepoi-sepoi, lama kelamaan orang akan mengantuk.
Ho Leng-hong mengantuk sekali, ia bersandar di atas kursi berbantal tangan.
Di tengah tidur tak tidur, mendadak ia mendengar seperti ada orang sedang berkasakkusuk.
Yang sedang berbicara adalah seorang lelaki dan seorang perempuan, suara mereka
terbawa angin ke dalam rumah, sekalipun tidak terlalu jelas, namun lamat-lamat
terdengar apa yang sedang dibicarakan.
Mula-mula Ho Leng-hong mengira kaum hamba yang sedang melakukan pertemuan
gelap, dia enggan memperhatikannya, tapi lama kelamaan ia merasa apa yang mereka
bicarakan semakin tak beres . . . .
Terdengar yang pria berkata, “ . . . menurut berita yang bisa dipercaya, kemarin Jibeng-
kaucu (si monyet dua kuda) sudah tiba di Hong-leng-toh, dalam satu-dua hari ini

pasti akan sampai di tempat tujuan, tiba waktunya nanti kau harus lebih berhati-hati,
jangan sampai jejak kita ketahuan.”
“Sungguh aku rada kuatir, konon si monyet dua kuda itu sangat cerdik, kalau sampai
. . . .”
“Jangan kau takut,” tukas si lelaki, “semuanya sudah kuatur dengan sempurna,
hadapi saja dengan tabah, tapi harus ingat, bila tidak perlu, kurangi berbicara, dengan
begitu tipis kemungkinan jejak kita akan ketahuan.”
“Begitu barangnya kita dapatkan, kenapa tidak cepat-cepat kabur? Apa yang harus
kita nantikan lagi?”
"Tidak bisa, monyet itu sangat cerdik, siapa tahu secara diam-diam iapun
mengadakan persiapan, kalau sampai ketahuan, pengejaran tentu segera dilakukan,
bukankah hal ini akan merepotkan kita.”
“Aku cuma kuatir malam yang terlampau panjang akan banyak menimbulkan impian
buruk, bisa-bisa orang she Ho itu ketahuan rahasianya.”
“Jangan kuatir, orang she Ho itu lebih teliti daripadamu, selama sebulan lebih ini
tampaknya ia sudah cukup lumayan, tiba waktunya nanti dia pasti dapat menghadapi
dengan prihatin, tak perlu kuatirkan dia...”
Ho Leng-hong merasakan jantungnya berdebar keras... Orang she Ho? Kalau bukan
aku Ho Leng-hong yang dimaksudkan, siapa lagi? Keparat, ternyata benar, ada suatu
perangkap besar, mereka hendak memperalat aku orang she Ho untuk mendapatkan
suatu “barang”.
Tapi barang apakah itu?
Siapa yang dimaksudkan sebagai Ji-be-kaucu (si monyet dua kuda)?
Ho Leng-hong merasa semangatnya berkobar, rasa lelah dan mengantuk seketika
lenyap, seketika itu juga dia ingin melompat bangun, memburu ke sana, serta mencari
tahu siapa gerangan kedua orang itu . . . . .
Tapi ia tidak berbuat demikian, ia tetap diam saja.
Karena jarak dari villa itu menuju seberang sana cukup jauh, lagi pula medan terlalu
terbuka, ditambah lagi laki-perempuan itu bersembunyi di balik pepohonan yang
rindang, sulit baginya untuk menentukan arah mereka yang sebenarnya.
Bila ia mengejar ke sana melalui jembatan penyeberangan, maka kemungkinan besar
lebih dulu jejaknya akan ketahuan lawan.
Jangan kira Ho Leng-hong sama sekali tak bergerak, kedua matanya seperti lampu
sorot celingukan ke sana kemari, selain memperhitungkan tempat persembunyian
kedua orang itu, diam-diam iapun mencari akal untuk menyeberangi kolam itu.

Dalam pada itu, suara kasak-kusuk masih berkumandang terbawa angin, kedengaran
si perempuan lagi berkata, “. . . . kulihat orang she Ho itu tidak goblok, sekalipun
selama sebulan lebih ia menetap di sini sebagai Nyo Cu-wi dan sedikitpun tidak
menyinggung soal-soal masa lampau, siapa tahu kalau secara diam-diam sedang
menyusun suatu rencana keji?”
“Keadaannya sekarang sudah tidak bebas, rencana busuk apa yang bisa ia lakukan?
Sekalipun dia mengatakan yang sesungguhnya, tak nanti ada orang mau percaya lagi
kepadanya.”
“Apakah atasan telah memberi pesan cara bagaimana kita harus menghadapinya
setelah benda itu kita dapatkan?”
“Tidak ada. Sekalipun ada, itu kan tugas orang lain, tak ada sangkut pautnya dengan
kita. Tugas kita hanya mendapatkan benda itu lain tidak.”
Sesaat lamanya perempuan itu termenung, kemudian berkata lagi, “Baiklah, cepatlah
kau keluar, jangan terlalu lama ngendon di sini, nanti mereka curiga.”
“Baik! Aku pergi dulu, ingat tugas kita harus berhasil dan tak boleh gagal, harus
berjuang dengan sepenuh tenaga....”
Mendengar sampai di sini, Ho Leng-hong tahu bahwa ia tak dapat menunggu lebih
lama, cepat ia melompat keluar.
Ia tidak mengejar lewat jembatan penyeberang, tapi ke atas atap villa itu.
Dari atas atap yang tinggi, pemandangan sekeliling taman dapat dilihatnya dengan
jelas.
Benar juga, di balik semak-semak sebelah barat daya sana menyusup keluar dua
sosok bayangan orang, bayangan laki-laki dan yang lain perempuan.
Yang lelaki mengenakan jubah panjang berwarna biru, yang perempuan memakai
gaun berwarna hijau pupus, sayang jaraknya terlampau jauh sehingga raut wajah
maupun potongan badan tak sempat terlihat jelas.
Betapa gelisahnya Ho Leng-hong, tak terpikir lagi harus sembunyi atau tidak, sambil
menarik napas panjang ia melayang lewat kolam dan langsung menubruk ke sana.
Kedua orang itu kabur terpisah, yang lelaki menuju ke ruang depan, sedang yang
perempuan menuju ke belakang, betapa terkejutnya mereka menyaksikan kemunculan
Ho Leng-hong, serentak mereka menyusup lagi ke balik semak-semak.......
“Sobat, kalian tak dapat bersembunyi lagi,” bentak Leng-hong. “Lebih baik
menyerahkan diri saja!”
Tiada jawaban, suasana di balik semak tetap hening tak terdengar suara apapun.
Pelahan Ho Leng-hong mendekati semak-semak tersebut, lalu katanya lagi,

“Membungkam juga percuma, sejak tadi sudah kuketahui siapakah kalian, tidak
cepat-cepat menggelinding keluar, apakah perlu kupersilakan kalian keluar?”
Tiada jawaban pula di balik semak-semak itu.
Leng-hong mendengus, dengan suatu gerakan gesit ia menerjang ke balik semak . . . .
. . . .
Aneh, ternyata di balik semak itu kosong melompong, sesosok bayangan pun tidak
kelihatan!
Ho Leng-hong tertegun, andaikata tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri,
hampir ia tak percaya kedua orang laki-perempuan itu memiliki gerakan secepat itu,
di bawah sinar matahari yang terang benderang, bagaikan setan saja tahu-tahu lenyap
tak berbekas!
Dengan penasaran ia melakukan pencarian, namun hasilnya nihil, cepat Ho Lenghong
lari menuju ke gedung belakang.
Ia tidak menuju ke ruang depan melainkan ke belakang, pertama ruang depan terlalu
banyak orang, di antaranya ada beberapa orang mengenakan jubah panjang berwarna
biru hingga sukar dibedakan, kedua gedung belakang lebih dekat letaknya, di sana
Cuma ada beberapa orang dayang, untuk menemukan yang perempuan tadi rasanya
tidak sulit.
Ketika menerjang masuk ke sana, kebetulan Pang Wan-kun didampingi Bwe-ji
sedang menuruni tangga loteng.
Pang Wan-kun mengenakan baju warna kuning telur, rambutnya kusut dan
tampaknya baru saja bangun tidur.
Bwe-ji mengenakan baju pendek warna merah dengan gaun berwarna putih, masih
dengan dandanan semula.
“Jit-long, kenapa kau?” tegur Wan-kun keheranan melihat tingkah laku suaminya,
“air mukamu kelihatan aneh, kenapa kau awasi kami seperti baru kenal?”
“Kalian baru turun dari atas loteng?” tanya Leng-hong.
“Benar,” sahut Bwe-ji, “nyonya baru saja bangun tidur siang. Ada sesuatu yang tidak
beres?”
Leng-hong tidak menjawab, kembali tanyanya, “Sewaktu kalian turun, apakah
melihat seseorang lari ke atas loteng?”
“Tidak! Kami tidak melihat apa-apa!” jawab Bwe-ji keheranan.
“Jit-long, siapa yang kau cari?” tanya Wan-kun.
“Seorang perempuan yang mengenakan gaun warna hijau pupus, dengan mata

kepalaku sendiri kulihat ia kabur ke arah sini.”
“Ada apa dengan perempuan itu? Kenapa kau kejar-kejar dia?” tanya Wan-kun pula.
“Ia mengadakan pertemuan dengan seorang pria di taman, pertemuan itu kupergoki
tanpa sengaja, dia lantas kabur kemari.”
“Wah, celaka, Jit-long, kau berhasil melihat wajahnya?” tanya Wan-kun terkejut.
“Sayang hanya sepintas lalu, tak sempat kulihat jelas.”
Wan-kun menarik muka, katanya kepada Bwe-ji, “Sampaikan perintahku, segenap
dayang yang ada di gedung belakang supaya berkumpul di sini, bagaimanapun juga
hari ini dia harus ditemukan. Hm, di tengah hari bolong berani mengadakan
pertemuan dengan kaum pria, betul-betul kurang ajar.”
“Tapi Hujin . . . . dayang di gedung belakang puluhan orang banyaknya, apakah . . .
.”
“Semuanya dikumpulkan di sini, seorangpun tak boleh absen, perintahkan juga
kepada mereka tak boleh berganti pakaian, semuanya segera kemari.”
“Jangan, Wan-kun! Tindakan semacam ini hanya akan menggelisahkan semua
orang,” cegah Leng-hong, “cukup kita titahkan orang untuk menutup jalan tembus ke
ruang depan, jangan ribut untuk sementara, asal kita adakan pemeriksaan secara diamdiam,
tak sulit untuk menemukan orang itu.”
“Perkataan Toaya memang benar” cepat Bwe-ji menanggapi, “dayang yang bekerja
di gedung belakang ada tiga-empat puluh orang, hampir semuanya mengenakan gaun
berwarna hijau pupus, bila kita menyimak rambut mengejutkan ular hingga ia berganti
pakaian lain, ke mana kita akan mencari biang keladinya?”
Kemarahan Pang Wan-kun belum mereda, ia menggentakkan kakinya ke tanah
seraya berkata, “Baiklah, perintahkan untuk menutup semua jalan tembus, siapapun
dilarang masuk keluar, akan kuadakan pemeriksaan sendiri.”
Bwe-ji segera melaksanakan perintah itu dengan menutup semua jalan tembus,
pemeriksaan pun dilakukan.
Pang Wan-kun memimpin sendiri pemeriksaan tersebut, setiap dayang yang
mengenakan gaun hijau pupus segera digiring ke dalam taman untuk diperiksa oleh
Ho Leng-hong.
Tak lama kemudian sudah tujuh belas orang dayang yang digiring ke taman, mereka
mengenakan warna baju yang sama, suara juga sama, namun dari hasil pemeriksaan
menunjukkan bahwa tak seorangpun di antara mereka pernah masuk ke taman
belakang.
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Ho Leng-hong mengulapkan tangan untuk
membubarkan sekalian dayang-dayang tersebut.

Akhirnya setelah bekerja keras setengah hari, bukan saja orang yang dicurigai tak
ditemukan, sebaliknya ia malah menerima gerutuan Pang Wan-kun dan ejekan para
dayang secara diam-diam . . . .
Walaupun Leng-hong merasa kecewa, namun tidak putus asa, paling sedikit ia sudah
tahu bahwa dirinya berada di tengah suatu intrik keji mengerikan, dan dalam satu-dua
hari mendatang tentu akan terjadi peristiwa penting.
Tapi peristiwa apa yang bakal terjadi?
Jawabannya akan segera ditemukan bila “si monyet dua kuda” telah tiba di situ.
Peristiwa ini bukan Cuma suatu perangkap, bahakan juga suatu rencana besar yang
mengerikan, suatu peristiwa aneh yang jarang dialami dalam kehidupan orang.
Kini Ho Leng-hong sudah ikut terlibat dalam perangkap itu, mau-tak-mau dia harus
menghadapinya dengan hati yang sabar, apabila dalam kejadian ini secara beruntun
sudah empat nyawa melayang, andaikan tidak terlibat langsung juga ia tak mau
berpeluk tangan belaka.
Manusia hidup seratus tahun akhirnya mati juga.
Daripada hidup tanpa suatu kegiatan, lebih baik hidup sehari secara gegap gempita,
jika mati pun tidak gentar, apalagi yang ditakuti seorang?
Sesudah mengambil keputusan nekat, hati Ho Leng-hong jadi lebih tenang.
Ia tidak berminat untuk menyelidiki siapa lelaki berjubah biru dan perempuan
berbaju hijau lagi, setiap hari kerjanya hanya makan minum, kalau bukan berjudi
tentu minum sampai mabuk, seakan-akan hidupnya hanya untuk berfoya-foya saja.
Ia percaya, bagaimanapun juga orang lain tak akan mengubahnya menjadi Nyo Cuwi
secara Cuma-Cuma, bila “si monyet dua kuda” telah muncul duduknya persoalan
tentu akan ketahuan.
Sehari, dua hari lewat dengan cepatnya, tak ada kejadian apapun, “si monyet dua
kuda” yang ditunggu-tunggu juga belum muncul.
Tengah hari ketiga, sewaktu Ho Leng-hong sedang berjudi dengan Lo Bun-pin
sekalian di ruang depan, tiba-tiba muncul seorang Busu memberi laporan, “Kuloya
(tuan ipar) datang!”
“Kuloya?” Ho Leng-hong tertegun, “Kuloya siapa?”
“Nyo-heng,” Thian kecil si telinga panjang berbisik, “jangan-jangan Pang-loko dari
Cian-sui-hu yang datang.”
“Kau maksudkan Pang Goan? Jangan bergurau ia jauh berada di Liat-liu-shia, mas
bisa datang ke Lok-yang?”

“Tak salah, pasti dia yang datang, dia adalah kakak lenso, kalau bukan dia lantas
siapa lagi?”
Air muka Lo Bun-pin tiba-tiba saja berubah hebat, cepat katanya, “Kalau begitu kita
harus cepat-cepat membereskan keadaan di sini, kutahu Pang-loko paling benci pada
segala bentuk perjudian, kalau sampai ketahuan kita bakal dimaki habis-habisan.”
“Apa yang mesti ditakuti? Kalian bermain saja dengan permainan kalian, aku akan
keluar untuk menengoknya sebentar, kalau memang dia, langsung akan kubawa dia ke
belakang . . . .”
“Tidak usah,” tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara dingin, “aku sudah masuk
sendiri.”
Ho Leng-hong segera menengadah, tanpa rasa ia melengak.
Seorang kakek udik telah berdiri di ambang pintu, usianya lima puluhan, badannya
kurus dan pendek, bibirnya lancip dengan kening yang sempit, sepasang lengannya
luar biasa panjangnya, bajunya berwarna hijau dan hampir putih karena terlalu sering
dicuci, sepatu rumputnya penuh debu kotoran.
Yang paling aneh ia menggendong sebuah bungkusan panjang, bungkusan itu diikat
dengan rantai sebesar ibu jari, dan ujung rantai yang lain melilit pada lehernya.
Beginikah tampang It-kiam-keng-thian (pedang sakti penunjang langit) Pang Goan
yang tersohor dari Cian-sui-hu di Liat-liu-shia?
Hakikatnya tidak lebih gagah daripada seorang petani desa.
Meski begitu, tak seorangpun di antar hadirin dalam ruangan berani memandang hina
orang ini.
Jangan dikira bajunya kasar dan mukanya lucu, ia mempunyai mata yang lebih tajam
daripada sembilu, sinar mata yang kemerah-merahan membuat jeri orang sehingga
semua orang sama diam, bahkan bernapas saja tak berani keras.
Dari sorot matanya semua orang tahu tenaga dalamnya sudah mencapai puncak
kesempurnaan, bahkan yang dilatihnya adalah Tay-yang-sin-kang dari Khong-tongpay
yang paling sukar dilatih.
Ho Leng-hong pernah mendengar nama besar Pang Goan, tapi belum pernah
berjumpa dengan “kakak ipar” ini, terperanjat juga hatinya setelah berhadapan
sekarang.
Ia bukan kaget lantaran mata Pang Goan yang membetot sukma, ia terkesiap karena
potongan badannya serta raut wajahnya yang luar biasa itu.
Tubuhnya kurus kecil, kedua tangannya justru luar biasa panjangnya, bibir yang
lancip dengan kening sempit, ditambah sepasang Kim-cing-hwe-gan (mata emas

merah berapi) yang tajam....
Bentuknya tiada ubahnya seperti seekor monyet?
Sekarang ia baru mengerti yang dimaksudkan “dua kuda” adalah tulisan “Pang”, atau
dengan perkataan lain “monyet dua kuda” bukan lain adalah Pang Goan.
Begitu menyadari persoalan tersebut Ho Leng-hong merasa bergidik, cepat ia bangun
berdiri dan memberi hormat.
“Sungguh tak kusangka kakak akan berkunjung kemari....” katanya.
Pang Goan mendengus, “Hm, akupun tak menyangka Thian-po-hu yang tersohor
telah menjadi rumah judi yang ramai.”
“Lotoako jangan marah,” buru-buru Leng-hong berkata sambil tertawa, “mereka ini
adalah sahabat-sahabat Siaute, lantaran iseng, tak ada pekerjaan, maka kami bermain
judi untuk membuang waktu.....”
“Hm, jadi kedatanganku tentunya mengganggu.....”
“Ah, kenapa Lotoako berkata demikian? Sekalipun diundang saja belum tentu engkau
mau datang.....”
“Kalau begitu, kenapa tidak lekas enyahkan mereka dari sini!”
“Baik, baik, mereka memang sudah mau bubaran, silakan duduk dulu Lotoako!”
“Tak usah sungkan-sungkan,” dengan tajam Pan Goan menyapu pandang semua
orang itu, lalu berkata pula, “kalian tidak tahu diri, apakah perlu aku orang she Pang
melemparkan kalian satu persatu?”
Mendengar ancaman tersebut, semua orang berseru, “Baik, kami segera pergi! Harap
Pang-toako jangan marah!”
Sungguh menggelikan, kawanan jago ternama dari Lok-yang ini ternyata diusir
mentah-mentah oleh Pang Goan, bukan saja tak berani membantah, berdiam sedetik
lebih lama pun tidak berani.
Ho Leng-hong merasa geli, tapi wajahnya pura-pura mengunjuk sikap serba salah.
“Jit-long,” kata Pang Goan sambil menggeleng kepala, “bukan maksudku ingin
menasihatimu, tapi perbuatanmu memang kelewat batas, seorang muda kenapa tidak
berusaha untuk maju, sebaliknya tiap hari kerjanya hanya minum dan berjudi
melulu?”
“Harap Toako jangan marah, “kata Leng-hong dengan tersipu-sipu, “kebetulan saja
hari ini Siaute menyelenggarakan pertemuan semacam ini, padahal hari-hari biasa
juga tidak demikian.”

“Kebetulan saja? Tak kusangka kau masih berani berkata demikian, manusia hidup di
dunia ini paling-paling Cuma puluhan tahun, waktu yang lewat tak mungkin
ditemukan kembali, enak saja kau menerima warisan orang tua dan saudarasaudaramu,
sekalipun tak pernah mengalami susah payahnya mendirikan keluarga
jaya ini, sedikitnya kau memikirkan untuk mempertahankan nama baik keluarga, tapi
kerjamu selama ini bukan saja malu terhadap leluhur dan kakak-kakakmu, malu juga
terhadap anak isteri, bukan berjuang untuk kemajuan, kau masih iseng berbuat hal-hal
yang kurang baik ini.”
Ho Leng-hong tidak menyangka “kakak iparnya” adalah seorang yang alim dalam
tata kehidupan, terpaksa ia tundukkan kepala rendah-rendah.
“Terima kasih untuk nasihat Toako, selanjutnya Siaute tentu akan memperbaiki
kelakuanku,” kata Leng-hong.
“Memperbaiki diri? Hm, gampang saja kaubicara, tapi sudah sekian lama kau bergaul
dengan teman-teman semacam itu, matamu sudah ternoda dan telingamu sudah kotor,
kebiasaan jelek sudah meresap dalam tubuhmu, memangnya kau anggap mudah untuk
memperbaikinya?”
“Lain kali Siaute tak akan berhubungan lagi dengan mereka!” Leng-hong
memberikan janjinya.
“Soal ini memang bicara gampang tapi sukar untuk melaksanakannya, hubungan
antara sesama Siaujin manis bagaikan madu, siapa dekat dengan gincu akan menjadi
merah, siapa dekat tinta bak akan menjadi hitam, aku tidak percaya kaudapat putuskan
hubungan dengan mereka.”
Ho Leng-hong didamperat hingga tak bisa mendongakkan kepalanya, diapun tak bisa
marah, terpaksa menjawab sambil tertawa getir, “Menurut perkataan Toako, bukankah
Siaute tak bisa ditolong lagi?”
Pang Goan menggeleng kepala berulang kali, “Dari penghemat menjadi pemboros
lebih gampang, dari pemboros menjadi penghemat justru sukar, begitulah kebiasaan
manusia. Ai, jika kau tak mau berjuang untuk kemajuan, aku tak ingin menyalahkan
dirimu, aku hanya benci pada kebodohanku sendiri.”
“Kau benci pada kebodohanmu sendiri?”
“Kenapa tidak? Bila sejak semula kutahu kau ini manusia tak becus seperti ini, masa
aku mau menjodohkan adikku kepadamu?”
“Sudahlah, Lotoako, nasihat sudah kau berikan, makian juga sudah cukup, sekarang
duduklah lebih dulu, akan kupanggilkan Wan-kun untuk menemani kau bercakapcakap.”
Begitulah, setelah minta maaf, mengaku salah, setengah membujuk dan memberi
hormat, dengan susah payah akhirnya Pang Goan berhasil juga dibujuk untuk duduk,
cepat Leng-hong menyuruh orang mengundang Pang Wan-kun di belakang.

“Tak usah tergesa-gesa” cepat Pang Goan mencegah, “soal rumah tangga kapan saja
bisa dibicarakan, sekarang justru aku ada urusan penting yang hendak kubicarakan
empat mata denganmu.”
“Ah, soal apa yang hendak Lotoako bicarakan? Silakan memberi petunjuk.”
Pang Goan melirik sekejap sekeliling tempat itu, lalu katanya, “Tempat ini terlampau
ramai, bukan tempat ideal untuk berbicara, adakah suatu tempat yang sepi?”
“Kiok-hiang-sia di taman belakang adalah tempat yang baik.”
“Baik! Mari kita ke sana.”
Sambil membawa Pang Goan ke belakang, sepanjang jalan Ho Leng-hong berpikir,
“Ya, akhirnya datang juga, yang mau dibicarakan pasti menyangkut buntalan di
punggungnya itu, kalau ditinjau dari sikapnya yang serius, benda itu tentu amat
berharga sekali . . . . . .”
Dugaannya memang tidak keliru, baru saja duduk dalam villa itu, Pang Goan telah
mengeluarkan sebuah anak kunci dari sakunya, lalu membuka rantai di tubuhnya dan
melepaskan buntalan kain itu.
Ho Leng-hong tak tahu benda apakah dalam bungkusan itu, tapi bila dilihat dari
bentuk serta bobotnya yang berat, kemungkinan besar adalah sebangsa kotak logam.
Pang Goan meletakkan bungkusan itu di meja, lalu katanya dengan wajah
bersungguh-sungguh, “Jit-long, kita masih saudara, aku yang menjadi kakakmu
inipun suka berterus terang, ada sepatah kata hendak kutanyakan kepadamu, dan
kuharap kau bersedia menjawab dengan sejujurnya pula.”
“Silakan bertanya Lotoako, Siaute pasti akan menjawab dengan sejujurnya, aku tak
akan membohongimu.”
“Bagus! Terus terang akuilah berapa banyak yang berhasil kaukuasai dalam
permainan golok sakti keluarga Nyo kalian?”
“Tentang ini . . . .”
“Tak usah mengibul, aku ingin mengetahui keadaan yang sesungguhnya.”
Ho Leng-hong berpikir sebentar, lalu menjawab, “Bakat maupun kecerdasan Siaute
sangat terbatas, mungkin hanya empat bagian yang berhasil kukuasai.”
Ia agak jeri terhadap sinar mata Pang Goan yang lebih tajam dari sembilu itu,
karenanya ia tak berani bicara terlalu banyak.
“Aku sendiri kebetulan juga berlatih ilmu golok,” demikian ia berpikir, “sekalipun
bukan golok sakti keluarga Nyo yang kupelajari, pada hakikatnya ilmu silat di dunia
ini bersatu sumber, kalau kukatakan empat bagian mungkin bolehlah.”

Siapa tahu Pang Goan segera menggeleng kepala berulang kali, “Bila menurut
pengamatanku, mungkin empat bagian pun belum berhasil kaucapai.”
“Oya!”
“Bakat maupun kecerdasanmu tidak jelek, mestinya tak mungkin hanya mencapai
empat bagian saja, tapi bila kulihat caramu bersenang-senang setiap hari dengan
begundalmu itu, sudah pasti ilmu silatmu terbengkalai sama sekali, oleh sebab itulah
aku hanya berani menilai bahwa kepandaianmu Cuma mencapai tiga bagian saja.”
Ho Leng-hong tertunduk malu.
“Jit-long, kita adalah famili dekat, bukannya aku yang menjadi kakak ingin
mengomeli kau, tapi kalau keadaan ini dibiarkan berlangsung terus, cepat atau lambat
nama Thian-po-hu pasti akan rontok ditanganmu, sementara jangan kita singgung
dulu makna yang sebenarnya dari ikatan perkawinan antara Thian-po-hu dengan Ciansui-
hu, coba kautanya kepada hati nuranimu sendiri, apakah kau dapat
mempertanggung-jawabkan dirimu terhadap ayahmu yang membangun kejayaan
keluarga ini dengan susah payah?Masih punya mukakah kau untuk bertemu dengan
kakak-kakakmu yang telah mati secara perkasa dan ikhlas?”
“Membangun kejayaan keluarga dengan susah payah” tak sulit diserap maknanya,
tapi apa pula yang dimaksud “mati secara perkasa dan ikhlas?”
Nama kecil Nyo Cu-wi adalah “Jit-long” atau si ketujuh, jadi di atasnya masih ada
enam orang kakak, apakah keenam saudaranya telah mati semua secara perkasa dan
ikhlas.
Mengapa mereka mati secara perkasa dan ikhlas.
Apa pula makna yang seberanya di balik ikatan perkawinan antara Thian-po-hu
dengan Cian-sui-hu?
Dengan sorot mata tajam Pang Goan mengawasi Ho Leng-hong sekian lama, tibatiba
ia menghela napas dan membuka bungkusan kain di meja.
Betul juga, isinya adalah sebuah kotak besi yang berwarna hitam mengkilap.
Kotak besi itu digembok pula.
Pang Goan tidak membuka kotak itu lagi, tapi berikut sebuah anak kunci bendabenda
itu di dorong ke hadapan Ho Leng-hong.
“Benda ini adalah milik keluarga Nyo kalian.” Demikian katanya, “batas janji selama
dua tahun sudah penuh, dan sekarang aku membawanya sendiri kemari serta
diserahkan kembali kepadamu, Cuma ada satu persoalan harus kuberitahukan
kepadamu.”
Ho Leng-hong ingin sekali mengetahui benda apa yang ada di dalam kotak besi itu,
terpaksa ia bersabar untuk menunggu kelanjutan ucapannya..

Terdengar Pang Goan berkata pula, “Sepanjang perjalanan menuju ke timur sini,
sudah empat kali kurasakan jejakku dibuntui orang, rupanya mereka hendak mencuri
benda ini. Malah dua diantaranya sudah menyusup ke dalam kamarku, setelah
beruntun kulukai dua orang diantaranya, benda ini berhasil kuantar sampai di sini
dengan selamat.”
“Siapakah orang-orang itu?” tanya Leng-hong sambil mendongak.
“Masa perlu kautanyakan? Dua tahun belakangan ini, meski dunia persilatan
tampaknya tenang dan tak pernah terjadi sesuatu apapun, bukan berarti orang lain
telah mengendurkan pengawasannya terhadap kita.”
“Hm . . .” Leng-hong mendengus.
Ia tak tahu siapakah “orang” yang dimaksudkan itu, iapun tak tahu kenapa ada orang
mengawasi Thian-po-hu dan Cian-sui-hu.
Tapi dengusan tersebut menunjukkan bahwa ia marah sekali atas kejadian tersebut.
Tapi ada juga satu hal yang diketahuinya, yakni ada orang mengincar barang dalam
kotak besi ini dan berusaha mencurinya, bahkan orang-orang itu sudah menyelundup
ke dalam Thian-po-hu.
Cuma sayang ia tak dapat memberitahukan urusan ini kepada Pang Goan.
Pang Goan memandangnya sambil tertawa hambar, lalu berkata, “Marah tak akan
menolong dalam urusan ini, selama dua tahun benda ini berada di tanganku, sedikit
banyak pihak lawan masih agak jeri padaku, tapi sekarang sesudah kuserahkan
kembali kepadamu, yakinkah kau dapat melindunginya serta tidak akan jatuh ke
tangan orang lain?”
“Siaute akan berusaha dengan sepenuh tenaga.”
“Dalam hal ini bukan soal berusaha dengan sepenuh tenaga atau tidak,” kata Pang
Goan sambil menggeleng, “tapi yakinkah kau dapat melindunginya?”
Ho Leng-hong termenung sejenak, lalu sahutnya, “Aku tak berani mengatakan punya
keyakinan, tapi aku mempunyai akal bagus untuk menjamin keselamatannya.”
“Oya?!” Pang Goan berkerut kening, jelas ia tak percaya.
Ho Leng-hong menempelkan jari tangannya pada bibir, lalu menulis beberapa huruf
di atas meja, begitu selesai dibaca tulisan itu cepat-cepat dihapus.
“Bagaimana pendapat Lotoako akan siasat ini?” ia bertanya lirih.
Pang Goan mengernyit alis, sekali ini jelas sebagai tanda memperingatkan agar
waspada.
Menyusul dengan suara rendah ia berbisik, “Menurut anggapanmu, mereka akan

turun tangan di gedung ini?”
“Dalam hal ini bukan soal mungkin atau tidak melainkan mereka pasti akan turun
tangan dalam gedung ini,” jawab Ho Leng-hong menirukan nada orang.
Pang Goan tertawa, ia tepuk bahu Ho Leng-hong seraya berkata, “Jit-long sungguh
tak kusangka kau dapat berpikir secerdik ini, baik kita lakukan begitu saja.”
Anak kunci segera diambil dan kotak besi pun dibuka.
Dalam kotak besi terdapat pula sebuah kota yang terbuat dari kayu, di tengah kotak
kayu dengan alas kain merah tersimpanlah sebilah golok dan sejilid kitab pusaka ilmu
golok.
Golok itu pakai sarung terbuat dari kulit ular, gagangnya disepuh emas dengan empat
huruf yang terbuat dari batu permata, “Yan-ci-po-to” atau golok pusaka gincu merah.
Kitab pelajaran ilmu golok hanya terdiri dari beberapa halaman, pada kulit buku itu
tertera huruf yang berbunyi: Tay-sin-pat-to (delapan jurus golok malaikat sakti),
itulah ilmu golok keluarga Nyo.
Perlahan Ho Leng-hong mencabut golok itu, seluruh tubuh golok berkilat bagaikan
cermin, lamat-lamat tampak pancaran sinar merah jambon.
“Golok bagus!” pujinya dalam hati.
Sebenarnya di ingin memeriksa juga kitab pusaka itu, tapi niatnya dapat ditahan.
Sebab baik golok maupun kitab pusaka itu kan miliknya sendiri, adalah lucu kalau
dia tertarik pada benda miliknya sendiri.
Dari atas dinding ia menanggalkan sebilah golok biasa, lalu dimasukkan ke dalam
kotak besi dan kemudian kotak itu dikunci kembali.
Setelah itu ia membungkus golok dan kitab pusaka itu dengan secarik kain kumal,
bungkusan itu dimasukkan ke dalam laci di bawah almari.
“Aman tidak kalau disimpan di sini?” tanya Pang Goan dengan suara agak parau.
“Semakin terbuka tempat seperti almari ini semakin aman, bila mereka hendak
mencari golok pusaka, tak mungkin akan mereka perhatikan laci tempat barang
rongsokkan semacam ini, sekalipun laci dibuka, merekapun tak akan menyangka
golok pusaka dibungkus dalam secarik kain kumal.”
Pelahan Pang Goan mengangguk, “Aku hanya ada waktu tiga atau lima hari, aku
masih harus pergi ke Sengtoh, mudah-mudahan aku tidak tertahan terlalu lama di
sini.”
“Tiga sampai lima hari sudah lebih dari cukup, selama beberapa hari ini silakan
Lotoako berdiam di sini, aku percaya mereka pasti akan lebih gelisah daripada kita.”

Tengah bicara tiba-tiba terdengar suara gemerencing perhiasan orang perempuan,
tampak Bwe-ji sedang menyeberangi jembatan.
Cepat Ho Leng-hong memberi tanda kepada Pang Goan dengan kerlingan mata, lalu
kotak besi itu buru-buru dibungkus dengan kain, dirantai dan dikunci kembali.
Bwe-ji telah masuk ke dalam ruangan, ia memberi hormat lebih dulu kepada Pang
Goan seraya berkata, “Ketika Hujin mendengar tentang kedatangan Kuloya, ia merasa
gembira sekali. Perjamuan telah disiapkan, hamba perintahkan datang untuk minta
petunjuk Loya, perjamuan akan diselenggarakan di ruang belakang ataukah diantar ke
Kiok-hiang-sia sini?”
Pang Goan masih mengusirkan golok pusaka, jawabnya setelah berpikir sebentar,
“Tempat ini bagus sekali, mana nyaman dan tenang lagi.”
“Begitupun boleh,” sambung Ho Leng-hong segera, “sesudah melakukan perjalanan
jauh, Lotoako memang harus membersihkan badan dan beristirahat lebih dulu, biar
Siaute mengantar benda ini ke dalam kamar, kemudian baru datang kemari lagi
bersama Wan-kun.”
Pang Goan tidak menghalangi, sambil mengulapkan tangan ia berkata, “Kita adalah
orang sendiri, asal bisa bertemu dan bercakap-cakap, itu sudah cukup, kenapa musti
sungkan-sungkan?”
Sambil mengempit kotak besi itu Ho Leng-hong pun mohon diri dan berlalu, sedang
Bwe-ji tetap tinggal di situ melayani Pang Goan membersihkan badan.
Sekembali Leng-hong di belakang, Pang Wan-kun telah selesai berdandan dan
sedang menantikannya, begitu berjumpa ia lantas bertanya, “Kudengar Koko begitu
masuk pintu lantas marah-marah, apa gerangan yang terjadi? Dari tadi sampai
sekarang kalian bercakap-cakap terus di Kiok-hiang-sia sampai pelayanpun tak boleh
masuk, sebetulnya apa yang sedang kalian bicarakan?”
Ho Leng-hong tertawa, katanya sambil menunjuk kotak besi itu, “Apa lagi kalau
bukan lantaran benda ini, kakakmu sengaja mengantarnya pulang, begitu masuk pintu
ia lihat mereka sedang bermain dadu, langsung saja aku di damperatnya habishabisan.”
“Ya, memang begitulah watak Koko, dia berangasan dan pemarah, seolah-olah hanya
dia sendiri yang suci di dunia ini, Jit-long, kau tidak marah kepadanya bukan?”
“Tentu saja tidak,” Ho Leng-hong tertawa, “kendatipun perkataannya kurang sedap
didengar, tapi semuanya demi kebaikanku, apalagi kau hanya punya seorang kakak,
kecuali menerima nasihatnya, apalagi yang dapat kita katakan?”
Wan-kun menghela napas panjang, “Ai, tak kusangka kaudapat menyelami
perasaannya, bicara sejujurnya, meski kami adalah saudara, tapi umur kami selisih
separo lebih, jangankan kau, aku pun agak takut untuk bertemu dengannya.”

“Mau menghindari juga percuma sekarang, lebih baik simpan dulu benda itu,
perjamuan diselenggarakan di Kiok-hiang-sia, sebentar kita ke sana bersama.”
Ketika menerima kotak besit itu, tiba-tiba air muka Wan-kun berubah serius,
bisiknya, “Apa isi kotak ini....”
“Kitab pusaka dan golok pusaka Yan-ci-po-to!”
“Ah, jadi kita menikah sudah dua tahun lamanya?” kejut dan girang Wan-kun.
“Siapa bilang tidak, kedatangan kakakmu ini justru khusus untuk mengantarkan
golok mestika dan kitab pusaka ini.”
Kotak besi itu dipeluk Wan-kun erat-erat, lalu setelah tarik napas panjang ia
bergumam, “Waktu sungguh cepat berlalu, dua tahun telah lewat dalam sekejap mata,
bila terkenang kembali ketika kaudatang ke Cian-sui-hu untuk melamarku dua tahun
yang lalu, rasanya seperti kejadian kemarin saja.”
“Padahal tidak terhitung lama, paling-paling cuma tujuh ratus hari saja,” sambung Ho
Leng-hong sambil tertawa.
“Jit-long, tak heran kalau Koko marah-marah, dua tahun belakangan ini kita benarbenar
telah menelantarkan pelajaran silat kita, bukan saja kerjamu setiap hari hanya
bersenang-senang main judi dan minum arak, akupun tak pernah memikul tanggung
jawab dengan sesungguhnya, mulai hari ini . . . . . “
“Mulai hari ini aku pasti akan mawas diri baik-baik, berlatih ilmu golok secara tekun
untuk mencapai kemajuan yang pesat, nah puas? O, isteriku yang bijaksana, jangan
lupa kakakmu masih menunggu di Kiok-hiang-sia untuk bersantap malam, kalau kita
sebagai tuan rumah tidak lekas ke sana, masa menyuruh sang tetamu menunggu
dengan perut lapar?”
“Hm, orang lagi bicara serius denganmu, kau malah cengar-cengir belaka,” omel
Pang Wan-kun melotot sekejap ke arahnya.
“Melayani kakak ipar juga terhitung urusan serius, Hujin, kita harus berangkat
sekarang.”
Pang Wan-kun segera berbangkit, mengambil kunci dan membuka almari
pakaiannya.
“Jangan kau simpan dalam lemari,” Leng-hong mencegah, “golok dan kitab itu
adalah pusaka keluarga Nyo kita, sekali-kali tidak boleh hilang.”
“Tempat ini kamar tidur kita, siapa yang berani melakukan pencurian dalam Thianpo-
hu kita?”
“Kukira lebih baik berhati-hati, sebab menurut penuturan kakakmu, sepanjang
perjalanan katanya banyak orang yang menguntitnya dan berusaha mencuri golok
pusaka ini.”

“Ah, masa betul begitu?” Wan-kun tercengang.
“Tentu saja betul, justru demi keamanannya, kakak telah menggunakan rantai dan
menggembok kotak ini di lehernya.”
“Lantas benda ini harus di simpan di mana baru aman?” tanya Wan-kun sambil
celingukan ke sana kemari.
“Lemari besi yang kau pakai untuk menyimpan perhiasan itu kuat sekali, akan lebih
aman kalau kita simpan di sana saja. Nah, masukkan ke lemari besi itu untuk
sementara waktu.”
Wan-kun manggut-manggut, dia lantas membuka lemari besi di sudut kamar sana.
Dinding lemari besi itu tebalnya empat-lima senti dengan berat ratusan kati, bukan
saja ditanam di dinding sehingga hanya pintu lemari saja yang menongol di luar, dari
dalam sampai luar pun ada tiga lapis kunci yang sangat kuat.
Tempat sekuat ini hanya ada satu kekurangan, yakni ruang lemari tersebut terlampau
sempit, apalagi di situ sudah tersimpan beberapa kotak perhiasan, boleh dibilang
sudah tiada tempat lagi untuk menyimpan golok tersebut.
Ho Leng-hong turun tangan sendiri untuk memindahkan kotak perhiasan ke lemari
pakaian, kemudian setelah memasukan golok tersebut ke dalam lemari besi, lalu
dikunci dan anak kunci itu dimasukkan ke dalam saku sendiri.
“Jit-long, masa akupun tidak kaupercayai?” keluh Wan-kun setelah menyaksikan
perbuatan suaminya.
“Bukan begitu maksudku, bukankah perhiasanmu sudah dipindah semua ke almari
pakaian? Kau kan sudah tidak membutuhkan anak kunci lagi. Lagipula kuperlukan
melatih ilmu golok itu secara tekun, bila kuncinya kubawa, maka setiap saat bisa
kulakukan latihan dengan lebih leluasa.”
“Begitupun bolehlah,” Wan-kun tertawa, “golok pusaka itu telah kausimpan sendiri,
anak kuncinya berada pula di sakumu, jadi seandainya hilang kan tak ada sangkut
pautnya lagi denganku.”
Leng-hong hanya tertawa dan tidak menanggapi. Begitulah bersama Pang Wan-kun
berangkat mereka menuju ke Kiok-hiang-sia.
------------------------
Perjamuan diatur dengan sangat mentereng, hidangan pun amat banyak dan aneka
ragam, sayang suasananya agak kaku.
Mungkin hal ini disebabkan selisih umur yang terlampau banyak antara kedua
bersaudara Pang, mungkin juga lantaran Wan-kun agak jeri terhadap kakaknya,
kecuali dalam sopan santun, hampir boleh dibilang perempuan itu tundukkan kepala

belaka.
Pang Goan sendiri mungkin memang berwatak kurang suka bicara, mungkin juga
lantaran kuatir golok Yan-ci-po-to, sikapnya amat kaku dan jarang berbicara.
Lebih-lebih Ho Leng-hong, ia kuatir banyak berbicara hanya akan membongkar
rahasia sendiri, maka ia makin jarang bersuara.
Pokoknya perjamuan ini berlangsung dalam keadaan kaku dan tidak meriah, setelah
minum beberapa cawan arak dan paksakan diri bersantap sedikit, perjamuan pun
diakhiri.
Selesai bersantap, minuman teh dihidangkan. Inilah saat yang biasa dipakai untuk
membicarakan soal-soal kecil tapi lantaran tiada soal “kecil” yang dibicarakan, maka
sesudah duduk kaku sejenak, Ho Leng-hong dan Pang Wan-kun lantas mohon diri.
Pang Goan tidak mengalangi mereka, katanya dengan hambar, “Aku akan berdiam
beberapa hari lagi di Lok-yang, pada kesempatan ini kita harus berlatih sebaikbaiknya
To-kiam-hap-ping-tin (perpaduan golok dan pedang), Siaumoay (adik) juga
harus bersiap-siap.”
“Toako suruh aku ikut pula dalam latihan To-kiam-hap-ping-tin?” tanya Wan-kun.
“Tentu saja, selama dua tahun ini hakikatnya kau tidak melaksanakan kewajiban
untuk melakukan pengawasan, sekarang waktunya tidak banyak lagi, kau harus ikut
serta dalam barisan ini untuk menutupi kekurangannya.”
Wan-kun hanya mengangguk tanpa membantah.
Setiba kembali di kamarnya, dengan sedih ia mengomel kepada Ho Leng-hong, “Jitlong,
coba pikirlah, selama beberapa tahun ini demi mendorong kemajuanmu, aku tak
segan-segan menerima tuduhan orang sebagai perempuan judas dari Thian-po-hu, hari
ini aku ditegur oleh kakak, bayangkan sendiri apakah aku tak pernah menasihatimu?
Mulai hari ini kauharus menuruti perkataanku!”
“Wan-kun, tak usah bersedih hati,” hibur Leng-hong sambil membelai sang isteri,
“Toako tidak dapat memahami bagaimana kesenangan seseorang yang baru kawin,
sebab itulah kau kena teguran.”
“Kakak ibaratnya pengganti orang tua, aku tak akan murung lantaran didamprat
olehnya, aku hanya benci pada diriku sendiri, benci akan nasibku yang jelek hingga
suami sendiripun tidak percaya kepadaku . . . . .”
“Eh, kapan aku tidak percaya kepadamu?”
“Ai, tak usah disinggung lagi,” Wan-kun menggelengkan kepala berulang kali.
“Tidak, kau harus mengatakan kepadaku, sebagai suami-isteri yang bahagia tak boleh
ada rahasia yang disembunyikan dalam hati masing-masing, sebab hal ini sangat

mempengaruhi saling percaya antara suami isteri.”
“Ah, aku hanya berbicara seadanya saja, coba lihat, kau lantas menganggapnya
serius.” Wan-kun tertawa.
“Wan-kun, jangan bohongi aku, kupercaya ucapanmu muncul cari sanubarimu yang
sesungguhnya, tak mungkin hanya bicara main-main belaka.”
“Sungguh, aku tidak apa-apa, kau tak boleh menebak secara ngawur!”
“Supaya aku tidak menebak secara ngawur, harus kaukatakan yang sesungguhnya
kepadaku.”
“Jit-long, kenapa kau hari ini? Hanya sepatah kataku yang tidak sengaja kenapa
kaudesak terus untuk mengetahui sejelas-jelasnya?”
“Sebab belum pernah kauucapkan kata-kata semacam ini, tentu ada suatu urusan
yang tidak berkenan di hatimu sehingga tanpa terasa kau mengucapkan kata-kata
seperti itu.”
“Ah, itu hanya sentuhan hati kecil belaka, bukan urusan yang membuat aku tak
senang, sudahlah, jangan kautanyakan lagi.”
“Tidak, aku harus tahu, kalau tidak aku tak bisa tidur nyenyak malam nanti.”
“Kau sungguh-sungguh ingin tahu?”
“Tentu saja!”
“Harus mengetahuinya?”
“Ya, harus mengetahuinya.”
Tiba-tiba Pang Wan-kun tertawa cekikikan, sambil mencolek jidat Leng-hong dengan
jari ia berkata, “Tolol, coba lihat betapa kau cemas. Baiklah akan kuberitahukan
kepadamu, aku hanya tak enak hati lantaran persoalan sore tadi, maka sengaja kugoda
dirimu.”
“Urusan sore tadi? Urusan apa?”
Wan-kun mengerling sekejap dan berkata, “Apa lagi? Tentu saja soal menyimpan
golok pusaka tadi, bukan saja lemari perhiasanku kaukangkangi, bahkan anak
kuncinya ikut dibawa, bukankah ini sama artinya dengan tidak percaya lagi
kepadaku?”
“O, jadi bicara pulang pergi, rupanya kau tak senang hati lantaran persoalan itu.”
“Kenapa?” Wan-kun mencibir, “kau tidak tahu sikapmu pada waktu itu, seolah-olah
aku kauanggap sebagai pencuri yang setiap saat bisa melarikan golok rongsokanmu
itu, tentu saja aku merasa tak senang hati.”

Sambil berkata dengan muka masam dia bangkit dan duduk di ujung pembaringan
sana.
Cepat Leng-hong mendekatinya dan berkata, “Sudahlah, jangan marah, tak ada
harganya untuk marah lantaran urusan sekecil itu, jangan menaruh curiga apa-apa.
Aku mengambil anak kunci itu hanya supaya leluasa saja.”
“Aku adalah isterimu, apakah kurang leluasa bila anak kunci itu aku yang
menyimpan? Toako suruh aku ikut serta dalam latihan To-kiam-hap-ping-tin, apakah
aku tidak boleh ikut membaca isi kitab pusaka Nyo-keh-sin-to tersebut.”
“Boleh, tentu saja boleh,” Leng-hong tertawa, “Nah, kuncinya ada di sini, sekarang
kuminta maaf dan mengembalikan kunci ini kepadamu, tentunya amarahmu bisa
mereda buka?”
“Huh, sekarang baru dikembalikan kepadaku, siapa yang sudi?” omel Wan-kun
seraya melengos.
Leng-hong sisipkan anak kunci ke balik baju bagian dadanya, lalu tertawa lirih, “Kau
tak sudi anak kunci ini, justru anak kunci ini sudi kepadamu, lantas bagaimana
baiknya?”
“He, kau cari mampus,” jerit Pang Wan-kun sambil melompat bangun.
Tentu saja Leng-hong tak membiarkan dia kabur sebab anak kunci masih berada
dalam baju dadanya, ia harus mengambilkan pula....
Gara-gara ingin mengambil anak kunci, kedua orang lantas bergumul di atas
pembaringan.
Maka terdengarlah suara tertawa cekakak dan cekikik, lalu suara napas yang
tersengal-sengal, menyusul lampu lantas padam dan.....
Malam begitu indah, begitu hangat, sekalipun hujan badai mungkin akan turun
keesokan harinya, yang jelas malam ini hanya ada kemesraan dan kehangatan yang
memabukkan.
Jilid 3
Malam akan terasa pendek dalam kegembiraan, tapi terasa lewat lebih cepat pada
saat-saat yang penuh kehangatan.
Malam lewat dan fajarpun menyingsing pula.
Waktu Ho Leng-hong bangun dari tidurnya, Wan-kun masih tertidur nyenyak.

Tubuhnya yang putih halus bagaikan kemala hanya tertutup oleh selapis selimut tipis,
rambutnya terurai indah, tubuhnya meringkuk di ranjang dengan senyuman puas
masih menghiasi ujung bibirnya.
Anak kunci itu tergeletak di sisi bantal yang berbau harum.
Dengan kasih sayang Leng-hong membelai rambutnya yang halus, lalu anak kunci itu
diambil dan perlahan turun dari pembaringan.
Agaknya Wan-kun merasakan gerak-geriknya itu, dengan mata yang masih sepat ia
memandangnya sekejap, lalu sambil menggeliat bisiknya, “Jit-long . . . jangan . . .
jangan pergi . . . . “
Tak tahan Leng-hong, ia membungkukkan badan dan mencium pipinya, Wan-kun
tidak bergerak, kembali ia terlelap.
Udara pagi terasa agak dingin, Leng-hong bantu menyelimuti tubuh Wan-kun,
kemudian ia sendiri mengenakan pakaian dan berjalan menghampiri almari perhiasan,
berjongkok dan memeriksa tanda rahasia yang sengaja ia tinggalkan di pintu almari
besi.
Tapi apa yang kemudian terlihat membuat hatinya terkesiap.
Ketika menutup almari besi semalam, secara diam-diam ia telah meninggalkan seutas
rambut di celah pintu, tapi sekarang rambut itu sudah rontok dan ada di atas lantai.
Hal ini menandakan semalam setelah ia tertidur ada orang telah membuka lemari besi
itu.
Leng-hong segera bangun dan memeriksa semua jendela dan pintu yang ada di
ruangan itu, tapi nyatanya baik daun jendela maupun daun pintu semuanya terkunci
rapat, tidak berubah sedikitpun.
Tapi kalau tak ada yang masuk ke kamar, siapa yang membuka almari besi?
Cepat Leng-hong membuka semua gembok pada pintu almari besi itu, apa yang
ditemukan? Kotak besi berisi golok pusaka yang berada dalam almari itu telah lenyap
tak berbekas.
Macam-macam pikiran timbul dalam benaknya, tapi ia pura-pura tidak tahu apa-apa,
semua gembok kembali dikunci, almari besi itupun dikunci seperti semula, setelah
mengembalikan anak kuncinya ke sisi bantal, ia mengenakan pakaian, membuka
pintu, turun dari loteng dan buru-buru menuju ke Kiok-hiang-sia.
Baru sampai pintu taman ia berpapasan dengan Bwe-ji.
Waktu itu Bwe-ji sedang keluar dengan rambut kusut, wajah lesu seakan-akan kurang
tidur atau baru bangun tidur.

Ia tampak gugup dan kelabakan ketika berjumpa dengan Ho Leng-hong, sambil
berdiri dengan kepala tertunduk, bisiknya, “Tuan, kau sudah bangun!”
“Hei, sepagi ini ada apa kau ke taman?” tegur Leng-hong sambil menatapnya tajamtajam.
Merah jengah wajah Bwe-ji, “Aku.... aku melayani Kuloya di.... di Kiok-hiang-sia....”
sahutnya tergegap.
“Apakah semalam kau....”
“Kuloya mabuk arak, ia minta hamba tetap tinggal di sana.”
“Ngawur!” omel Leng-hong di dalam hati, dia memberi tanda dan berkata, “Cepat
kembali ke kamarmu, bagaimana jadinya kalau ketahuan orang?”
Bwe-ji mengiakan dengan takut-takut, baru saja akan pergi, Leng-hong kembali
berkata, “Tunggu sebentar, apakah Kuloya telah bangun?”
“Belum!”
“Apakah terjadi sesuatu di Kiok-hiang-sia semalam?”
“Tidak!”
“Bagus sekali!” kata Leng-hong, setelah termenung sejenak sambungnya,
“Beristirahatlah dulu, Hujin belum bangun. Urusanmu ini jangan kauberitahukan
kepadanya untuk sementara waktu.”
Bwe-ji mengiakan dengan lirih, lalu berlalu.
Sepergi dayang itu, Leng-hong, mendongakkan kepalanya dan mengembus napas
panjang, ia pikir, “Di luar saja Pang Goan bicara seperti orang alim, tak tahunya iapun
seorang laki-laki bangor, bila aku masuk sekarang, mungkin dia akan kehilangan
muka, lebih baik kutunggu sejenak lagi baru ke sana.”
Begitulah, setelah mengambil keputusan ia lantas berganti arah dan berjalan-jalan
lebih dulu ke dalam taman.
Sambil berjalan otaknya merenungkan kembali peristiwa semalam, ia menaruh
kecurigaan besar atas tercurinya golok mestika, untuk sebelumnya ia sudah
melakukan persiapan, coba kalau tidak, tentu penjahat-penjahat itu sudah berhasil.
Ketika terbayang kembali keangkeran Pang Goan sewaktu memberi nasihat, lalu
membayangkan pula keadaan Bwe-ji yang mengenaskan, diam-diam ia merasa geli
sekali. Anak keturunan keluarga ternama umumnya memang lebih binal, yang benarbenar
suci bersih rasanya sangat sedikit.
Sambil berjalan sambil berpikir, tanpa terasa sampailah di sisi batu gunung yang
pernah digunakannya untuk duduk bersama Pang Wan-kun.

Ho Leng-hong berdiri termenung, ketika teringat kembali adegan waktu itu, diamdiam
ia merasa malu.
Terbayang sudah sekian lama ia masuk ke Thian-po-hu secara ajaib, meskipun
peristiwa ini terjadi bukan atas kehendak sendiri, tapi kenyataan menunjukkan ia telah
menggunakan nama orang lain, mengangkangi isteri orang dan harta kekayaan orang.
Tapi hingga kini ia masih belum berhasil menyelidiki asal-usul para penjahat dibalik
persoalan ini, bahkan mati-hidup Nyo Cu-wi, pemilik Thian-po-hu yang
sesungguhnya pun tidak diketahui, betapa hatinya tidak merasa malu . . . .
Sementara ia termenung dengan perasaan malu dan menyesal, tiba-tiba dari balik
pepohonan sana terdengar suara deru angin yang santar.
Deru angin yang mirip dengan suara sambaran senjata tajam, seperti pula suara
tenaga dalam yang dipancarkan.
Dengan langkah yang sangat hati-hati Leng-hong mengitari pepohonan dan
mengintip ke sana, maka terlihatlah seorang sedang berlatih jurus silat dengan telapak
tangan sebagai golok.
Ilmu yang sedang dilatih orang itu jelas serangkaian ilmu golok yang bersifat keras,
di mana telapak tangannya menyambar, angin menderu-deru, daun dan ranting pohon
di sekitar sepuluh tombak sekeliling tempat itu sama rontok dan hampir menutupi raut
wajah orang itu.
Makin diperhatikan Ho Leng-hong merasa semakin terperanjat, ia tak mengerti siapa
gerangan jago lihai yang sedang berlatih kungfu di dalam istana Thian-po-hu ini?
“Siapa yang sedang mencuri lihat di sana?” tiba-tiba orang itu menghentikan
latihannya sambil membentak.
Karena ia berhenti berlatih, daun yang berguguran pun ikut berhenti, tapi hal ini
justru makin mengejutkan Ho Leng-hong, sebab sekarang ia dapat melihat jelas siapa
orangnya.
Ternyata tokoh sakti ini tak lain adalah Pang Goan.
Dengan langkah cepat Leng-hong mendekat ke sana, lalu sapanya dengan nada kaget
bercampur heran, “Lotoako, sejak kapan kau bangun?”
“Sebelum fajar menyingsing aku telah bangun dan berlatih ilmu golok di sini, adakah
sesuatu yang tidak beres?” Pang Goan balas bertanya dengan heran.
“Kalau begitu semalam Lotoako tidak suruh dayang Bwe-ji menemani tidur di Kiokhiang-
sia?”
“Menemani tidur?!” terbelalak mata Pang Goan, sinar matanya penuh rasa marah,
“kau menganggap diriku sebagai manusia macam apa? Sudah belasan tahun aku tak

pernah mendekati perempuan, mana mungkin kupaksa dayang adikku untuk
menemani aku tidur? Kau anggap aku secabul dirimu?”
“Wah, celaka kalau begitu,” seru Leng-hong tiba-tiba, tanpa menunggu lama ia lantas
putar badan dan lari pergi.
“Berhenti!” bentak Pang Goan sambil menghalangi jalan perginya, “sebelum
kauterangkan duduknya perkara, jangan tinggalkan tempat ini.”
Terpaksa Leng-hong berkata sambil menghela napas, “Lotoako, kita harus cepatcepat
kembali ke Kiok-hiang-sia, kemungkinan besar golok mestika dan kitab pusaka
telah dicuri orang.”
“Mana mungkin?” Pang Goan ikut terperanjat, “sebelum meninggalkan tempat itu
sudah kuperiksa sendiri . . . . . .”
“Wah, kalau begitu lebih celaka lagi, kita harus cepat ke sana,” belum selesai berkata,
secepat terbang ia terjang keluar hutan.
Pang Goan melengak, buru-buru ia menyusul ke sana . . . . .
-------------------
Apa yang mereka duga ternyata benar, laci lemari buku itu sudah kosong, baik golok
mestika maupun kitab pusaka itu sudah lenyap tak berbekas.
Dengan gemas Leng-hong berkata, “Tak kusangka kalau Bwe-ji si dayang itu adalah
seorang pengkhianat, lebih-lebih tak kusangka ketika kepergok tadi, kulepaskan dia
begitu saja . . . . . . .”
Sambil berkata sebenarnya dia hendak memerintahkan para Busu untuk melakukan
pengejaran.
Pang Goan meski juga terperanjat, sikapnya tetap tenang, sambil menggoyangkan
tangannya ia berkata, “Tak perlu dikejar lagi, sekalipun dayang itu berhasil disusul
juga tak ada gunanya, sebab kalau pihak lawan sudah mengatur rencana untuk
mendapatkan golok mestika dan kitab pusaka itu, masakah mereka tidak menyiapkan
orang lain untuk menerima barangnya. Bila benda tersebut telah mereka dapatkan,
sudah pasti barang itu segera dikirim keluar.”
“Tapi barang sudah dicuri, apakah kita hanya diam saja?”
“Tentu saja tidak, bila kita berkaok-kaok dan mengerahkan orang banyak untuk
mengusut, bukan saja tidak ada manfaatnya malah merepotkan saja. Kau duduklah
lebih dulu dan mari kita pelajari apa yang terjadi, asal apa yang diatur musuh sudah
kita pahami, tak sulit untuk berusaha merampasnya kembali barang yang telah hilang.
Harus diketahui, semakin kita tidak bereaksi, semakin sulit bagi lawan untuk
menduga apa yang akan kita lakukan, dan juga semakin mudah menemukan titik-titik
kelemahan mereka.”

Ho Leng-hong tak berdaya, ia menarik napas panjang dan duduk kembali.
Pang Goan duduk pula, katanya, “Sekarang ceritakan dulu kejadian ketika
kaupergoki Bwe-ji, ceritakan setelitinya.”
Leng-hong manggut-manggut, ia mengisahkan apa yang dialami pagi tadi, iapun
menceritakan perundingan rahasia yang sempat disadap olehnya ketika seorang pria
dan seorang perempuan sedang berunding di dalam taman baru-baru ini, iapun
mengisahkan kejadian sekembalinya ke kamar semalam dan hasil pemeriksaan
terhadap lemari besi tadi . . . . .
Pang Goan hanya mendengarkan dengan saksama tanpa memberi komentar apa-apa,
setelah Leng-hong menyelesaikan ceritanya, ia baru berkata, “Bila kita tinjau dari
kisahmu barusan, bukan saja pihak lawan telah mengetahui gerak-gerik kita, di dalam
sini ada pengkhianat, di luar masih ada yang menunggu, itu berarti kecuali kau dan
aku, dalam gedung Thian-po-hu ini sudah tidak ada orang ketiga yang dapat dipercaya
lagi.”
“Siaute sendiripun mempunyai perasaan demikian, terutama sekembalinya ke kamar
semalam, kunci lemari besi itu belum pernah meninggalkan pembaringan, pintu dan
jendela pun tak berubah, tampaknya Wan-kun pun tak lepas dari kecurigaan.”
“Wan-kun adalah isterimu dan merupakan adikku pula, mana mungkin dia akan
membantu orang luar? Kupikir, orang yang membuka lemari besi itu pastilah Bwe-ji,
dia adalah dayang kepercayaan kalian, untuk masuk-keluar kamar bukan pekerjaan
yang sukar, tentu dia yang telah membuka lemari besi itu. Setelah mengetahui isi
kotak golok adalah benda palsu, maka ia lantas mengintip di luar Kiok-hiang-sia. Ya,
tidak seharusnya kuperiksa lagi laci tersebut sebelum pergi sehingga rahasia ini
diketahui olehnya.”
“Tapi seandainya ia masuk ke kamarku di tengah malam, tak mungkin aku tidak
mengetahui sama sekali.”
Pelahan Pang Goan menggeleng kepala, “Bila sebelum itu ia mencampurkan sesuatu
dalam air tehmu, bahkan mencampuri obat dalam arak perjamuan semalam, darimana
kau bisa merasakannya?”
Leng-hong tertegun, ia benar-benar tak sanggup menjawab.
Pang Goan kembali berkata, “Oleh sebab itulah barusan kukatakan setiap orang
dalam Thian-po-hu ini mungkin tak dapat dipercaya lagi, aku lebih-lebih berani
memastikan bahwa orang yang ditugaskan lawan untuk menerima benda itu besar
kemungkinan adalah salah seorang di antara kawan berfoya-foyamu, kau mengakui
tidak?”
Leng-hong menundukkan kepalanya, bagaimanapun juga dia harus mengakui
kebenaran ucapan tersebut.
Pang Goan berkata lebih jauh, “Kalau kitab pusaka itu hilang, untuk sementara waktu
kehilangan tersebut tak akan menimbulkan pengaruh apa-apa terhadap kita, karena

Po-in-pat-tay-sik (delapan jurus sakti ilmu pemecah awan) adalah ilmu golok keluarga
Nyo kalian dan sama sekali tidak mencakup ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoat (ilmu
pedang kejutan pelangi) Cian-sui-hu kami, kalau melulu Nyo-keh-sin-to atau Kenghong-
kiam-hoat masih belum dapat menandingi kelihayan Hiang-in-hu, untunglah
rumus barisan To-kiam-hap-ping yang hendak kita latih bersama belum sampai tercuri
lawan.”
Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Ho Leng-hong, pikirnya, “Kalau
didengar dari nada perkataannya ini, jangan-jangan pihak yang memusuhi Thian-pohu
adalah istana Hiang-in-hu di Hu-yong-shia daerah Leng-lam . . . .?”
Baru saja ingatan tersebut terlintas, Pang Goan telah berkata lebih jauh, “Masalah
terpenting yang kita hadapi sekarang adalah berusaha mendapatkan kembali golok
Yan-ci-po-to yang tercuri, sebab golok ini sudah mempunyai sifat hidup, tajamnya
luar biasa, bila sampai diperoleh orang she Hui itu, keadaannya akan mirip harimau
tumbuh sayap, untuk mengalahkan dia mungkin kita akan mengalami kesulitan.”
“Bila golok mestika itu sudah mereka dapatkan niscaya orang-orang itu sudah kabur
jauh, ke mana kita akan menyusulnya?”
Pang Goan berpikir sebentar, lalu berkata, “Untuk mengatasi persoalan ini, kita harus
bekerja secara terpencar, kau selidiki pengkhianat dalam Thian-po-hu, sedang aku
menyelidiki pihak luar yang menjadi penadahnya. Sebentar aku akan tinggalkan
tempat ini, andaikata Wan-kun menanyakan, katakan saja aku ada urusan penting dan
pulang ke Sengtoh.”
“Lotoako bermaksud akan pergi ke mana?”
“Aku pikir, kalau pihak musuh telah menggunakan pelbagai akal dan cara untuk
mendapatkan golok mestika dan kitab pusaka itu, maka di sekitar tempat ini tentu
telah disiapkan tempat lain untuk mengadakan kontak, begitu barang berhasil
didapatkan, dengan melalui saluran penghubung barang itu akan diantar keluar, lalu
oleh pihak utusan benda itu akan diteliti, jika terbukti asli mereka akan mencari orang
yang sesuai untuk membawa golok itu dan melanjutkan perjalanan, atau paling tidak
hingga dewasa ini benda tersebut belum lagi meninggalkan wilayah Kwan-lok.”
Ho Leng-hong manggut-manggut sependapat.
Kembali Pang Goan berpesan, “Sepeninggalku nanti, jangan sekali-sekali kau
menunjukkan sesuatu reaksi, segala sesuatu lakukan saja sewajarnya, berpura-puralah
seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun, bahkan harus berpura-pura rileks dan
gembira, kumpulkan semua temanmu berfoya-foya, mau minum arak boleh, mau
berjudi juga boleh, pokoknya seorang pun jangan sampai bolos, semuanya harus
datang dan berusahalah sedapat mungkin untuk menahan mereka di sini, jangan
biarkan mereka tinggalkan tempat ini.”
“O, aku mengertilah akan maksudmu, kausuruh aku menahan mereka agar dapat
diselidiki siapa di antara mereka yang paling mencurigakan?”
Pang Goan menggeleng, “Mencari tahu siapa yang paling mencurigakan adalah

tugasmu, sedang kepergianku dari Thian-po-hu secara tiba-tiba hanya ingin membuat
pihak lawan merasa curiga dan tak berani mengantar pergi golok mestika secara
gegabah.”
“Toako, menyuruh aku menyelidikinya dengan cara bagaimana?”
“Sederhana sekali, cukup kauperhatikan dua hal.”
“Dua hal bagaimana?”
“Pertama, perhatikan siapa yang datang paling dulu dan siapa yang paling menaruh
perhatian pada kepergianku? Kedua, perhatikan sewaktu berjudi, siapa yang
pikirannya tak terpusatkan dan siapa yang kalah paling banyak?”
Mula-mula Leng-hong agak melengak, tapi segera ia paham, katanya sambil tertawa,
“Toako tak pernah berjudi, tak kusangka pengetahuanmu tentang jiwa penjudi
sedemikian dalamnya.”
Pang Goan tertawa, “Orang yang tidak makan kan tidak berarti dia berpuasa bukan?”
“Seandainya orang yang berada di belakang layar adalah orang lain lagi dan susah
payah kita melakukan penyelidikan di sini, sedangkan dia telah kabur jauh-jauh
dengan membawa golok mestika itu.....”
Pang Goan menggoyang tangan.
“Peduli siapapun dia, sebelum arah tujuanku diketahui dengan jelas, tak nanti mereka
berani bergerak secara sembarangan,” demikian katanya “ketika datang dari Cian-suihu,
kotak golok itu kurantai pada leherku, sekarang benda itu sudah di tangan mereka,
mana ia berani bertindak secara gegabah.”
Bicara sampai di sini ia lantas berdiri.
“Bagaimana caraku untuk mengadakan kontak dengan Lotoako?” tanya Leng-hong.
Pang Goan termenung sejenak, kemudian jawabnya, “Setiap pagi dan malam
berusahalah mencari kesempatan untuk masuk ke taman sini, aku akan muncul
dengan sendirinya untuk bertemu denganmu.”
Leng-hong masih ingin mengetahui hal-hal yang menyangkut musuh pihak Thian-pohu,
tapi Pang Goan telah melompat keluar dan berlalu dengan tergesa-gesa.
Taman di pagi itu masih sunyi, kabut tipis menyelimuti permukaan tanah.
Sepintas lalu Thian-po-hu masih tenang seperti hari-hari biasa, seakan-akan tidak
pernah terjadi sesuatu.
Tapi lamat-lamat Leng-hong seperti telah mencium bau amisnya darah di tengah
udara pagi yang segar itu, suatu intrik jahat, suatu perangkap besar seakan-akan mulai
tersingkap seperti kabut tipis yang mulai buyar itu.

Secara aneh dan tanpa disadari ia ikut terlibat ke dalam intrik jahat ini, urusan ini
sebenarnya tidak ada sangkut-paut dengan dirinya, kini bagaikan pusaran air telah
menyeretnya ke dalam, membuat ia tak bisa menghindarkan diri dan terpaksa harus
mengikuti pusaran arus.
Ia tak tahu haruskah dirinya melanjutkan peranan tersebut, tapi perkembangan
kejadian di luar serta perasaan ingin tahu di dalam hatinya memaksa pemuda ini mautak-
mau harus melanjutkan peranannya, sudah terlanjur begini, ia tak dapat
melepaskan diri lagi.
--------------------
Sekembalinya dari Kiok-hiang-sia, baru masuk ke kamarnya, tiba-tiba Ho Leng-hong
melenggong.
Pang Wan-kun telah bangun tidur, ia sedang menyisir rambutnya di depan toilet.
Orang yang membantunya menyisir rambut bukan lain adalah Bwe-ji.
Besar amat nyali dayang ini, bukan saja golok mestika dan kitab pusaka telah
dicurinya, dia juga berani bohong dan memfitnah nama baik Pang Goan, dan ternyata
tidak melarikan diri?
Bukan saja tidak melarikan diri, sewaktu melihat Ho Leng-hong, sikapnya tetap
wajar seolah-olah tak pernah terjadi suatu peristiwa apapun.
“Selamat pagi Tuan!” demikian sapanya sambil tertawa.
Api amarah segera berkobar, Leng-hong mendengus. Sebenarnya dia hendak
mengumbar marahnya, tapi bila teringat pesan Pang Goan tadi, mau-tak-mau dia
menahan kata-kata dampratannya.
Pang Wan-kun sedang mengawasi gerak-geriknya dari balik cermin, dengan melongo
ia berpaling dan menegur, “Hei, kenapa kau? Sepagi ini kau telah marah kepada
siapa?”
Ho Leng-hong duduk di tepi pembaringan tanpa menjawab.
“Hei, apa yang terjadi? Kenapa diam saja?” Wan-kun kembali menegur dengan
heran.
Leng-hong melirik Bwe-ji sekejap, tiba-tiba ia menghela napas panjang, dan berkata,
“Ai, Toakomu telah pergi!”
“Apa?” seperti tertusuk jarum, Wan-kun melompat bangun, jeritnya melengking,
“Toako pergi? Kapan?”
“Baru setengah jam yang lalu.”

“Kenapa ia pergi secara tiba-tiba?”
Sekali lagi Leng-hong memandang Bwe-ji sekejap lalu menghela napas pula,
“Entahlah, aku juga tak tahu apa sebabnya.”
“Kau tidak bertanya padanya?”
“Sudah kutanyakan, ia hanya bilang ada urusan penting harus diselesaikan di
Sengtoh, tapi tidak dijelaskan urusan penting apakah itu.”
“Hei, apa-apaan ini? Susah payah dari Cian-sui-hu yang ribuan li jauhnya datang
kemari, ada persoalan penting apa yang lebih penting dari To-kiam-hap-ping-tin?
Lagi pula kami baru berjumpa sekali, kendatipun ada urusan penting seharusnya
dilaporkan dulu kepadaku....”
Leng-hong tidak bersuara, ia hanya melirik sekejap ke arah Bwe-ji, dilihatnya air
muka Bwe-ji tetap tenang dan sama sekali tidak menunjukkan sesuatu tanda.
Agaknya Pang Wan-kun mengetahui Ho Leng-hong sedang memperhatikan Bwe-ji,
ia lantas bertanya, “Bwe-ji, waktu kaulayani Kuloya semalam, apa kaulakukan
sesuatu yang membuatnya kurang senang? Kalau tidak, kenapa pagi-pagi benar ia
sudah pergi tanpa pamit?”
“Tidak, Hujin, kemarin Kuloya malah mengeluarkan pakaian dari bungkusannya dan
menyuruhku untuk mencucinya, ia bilang mungkin akan berdiam cukup lama di sini.”
Sewaktu bicara, air mukanya tidak merah, suaranya tidak gemetar, sikapnya wajar
dan biasa, sulit bagi orang lain untuk mengetahui apakah dia sedang berbohong atau
tidak.
Tanpa terasa Leng-hong berpikir, “Dugaan Pang Goan tampaknya tidak salah, jelas
Wan-kun tidak tahu kalau dayangnya sudah dibeli orang luar untuk mengkhianatinya,
sekarang ada baiknya jangan kubongkar dulu kebohongannya, tapi dia mengira aku
orang she Ho gampang ditipu, keliru besarlah dugaanmu.”
Maka dia sengaja mengembus napas panjang seraya bangkit berdiri, katanya,
“Bagaimanapun jua orangnya sudah pergi, apa gunanya kita menebak alasan di balik
kepergiannya. Ai, baru saja kemarin kita berkumpul dan sekarang Toako telah pergi
dengan marah. Bwe-ji, perintahkan orang untuk mengundang semua sobat karibku,
suruh mereka datang secepatnya, pertemuan kemarin harus dilanjutkan hari ini,
jangan lupa, seorangpun tak boleh ketinggalan!”
“Siapa tahu kalau kepergian Toako lantaran marah pada perbuatanmu kemarin, tidak
dapatkah kau lewatkan sehari ini dengan tenang?” pinta Wan-kun.
“Ah, beberapa hari ini kehidupanku terasa hambar tak menyenangkan, isteriku
sayang, jangan kau siram kepalaku dengan air dingin, izinkan aku bermain sepuasnya
hari ini, boleh bukan?” kata Leng-hong sambil tertawa.
“Baik! Baik! Aku tak akan mengurus dirimu lagi, tapi kau harus tahu diri, main sih

boleh, tapi jangan lupa, berlatih adalah pekerjaan yang utama,” kata Wan-kun sambil
menghela napas dan menggeleng kepala berulang.
“Aku tahu, setelah permainan hari ini, lain waktu aku pasti akan menjaga diri baikbaik
dan berlatih kungfu dengan tekun. Bwe-ji, kenapa tidak cepat laksanakan
perintahku?”
Bwe-ji mengiakan dan cepat turun dari loteng.
Sepergi Bwe-ji, sambil tertawa cengar-cengir kembali Ho Leng-hong mencumbu
Pang Wan-kun, setelah puas baru ia pergi.
Tak lama kemudian, Bwe-ji telah muncul untuk memberi laporan.
Merasa di sekeliling situ tak ada orang, sambil menarik muka Leng-hong segera
menegur, “Bwe-ji, kini Hujin tak ada di sini, aku ingin bertanya kepadamu, dalam hal
apakah kau telah menyalahi Kuloya sehingga ia pergi dengan marah?”
Dengan mata terbelalak Bwe-ji menggeleng kepala dan menjawab, “Aku . . . . .aku
tidak . . . . . . . benar-benar tidak . . . . . .”
“Kenapa pagi-pagi baru kaukembali dari Kiok-hiang-sia? Kenapa secara tiba-tiba
Kuloya memutuskan untuk pergi?”
“Tuan, apa yang kau maksudkan?” keluh Bwe-ji dengan bingung, “siapa yang pagipagi
baru pulang dari Kiok-hiang-sia . . . . . aku tidak mengerti.”
Leng-hong tertawa dingin, “Aku pergoki sendiri dirimu, kenapa?Mau coba
mungkir?”
Mata Bwe-ji terbelalak, rasa kejut dan heran menghiasi wajahnya, ia berkata dengan
tergagap, “Kapan Tuan bertemu dengan hamba? Sungguh hamba tidak paham apa
yang Tuan katakan?”
“Baik, jika kau menyangkal terus, akan kukatakan terus terang kepada Hujin, ingin
kulihat di manakah akan kautaruh mukamu?”
Air mata membasahi wajah Bwe-ji, tiba-tiba ia berlutut, ratapnya, “Perbuatan apakah
yang hamba lakukan? Mohon Tuan sudi menjelaskan, hamba sungguh tak tahu.”
“Aku ingin bertanya kepadamu, semalam kau tidur di mana?”
“Tentu saja di kamar!” jawab Bwe-ji tanpa pikir.
“Ya, kutahu kau tidur di kamar, yang kutanyakan tidur di kamarmu sendiri ataukah di
kamar baca Kiok-hiang-sia?”
Warna merah tiba-tiba menghiasi wajah Bwe-ji, katanya dengan terkejut, “Tuan,
kenapa kau berkata begitu? Hamba . . . . .”

“Kenapa berkata begitu?” tukas Leng-hong, “Hm, justru aku mengetahuinya dari
mulutmu sendiri, bukankah kausendiri yang mengatakan padaku ketika kupergoki
dirimu di depan pintu taman pagi tadi?”
“Tuan, pagi-pagi tadi kau pergoki diriku di pintu taman? Sungguhkah itu?”
“Hm, sungguh atau tidak hanya kau yang tahu, waktu itu rambutmu kusut,
pakaianmu tidak teratur, ketika kutanya padamu datang dari mana, kaubilang Kuloya
menyuruhmu menemaninya tidur di Kiok-hiang-sia, benar tidak kejadian ini?”
Bwe-ji tidak menjawab, tapi sambil menutup mukanya meledaklah isak tangisnya.
“Menangis sekarang apa gunanya? Mungkin saja lantaran terlalu banyak minum arak
Kuloya telah melakukan hal itu, dan sebagai orang bawahan kau tak berani
menolaknya, inipun bisa dimaafkan. Dengan maksud baik kurahasiakan kejadian ini
pada Hujin, tapi sekarang kau menyangkal terus, tindakanmu inilah yang tidak
pantas.”
Air mata membasahi wajah Bwe-ji, ia menggeleng kepala berulang kali, “Tuan, aku
tidak, Tuan pasti salah lihat, aku benar-benar tidak . . . . .”
“Sampai sekarang kau masih coba menyangkal?”
“Hamba adalah pelayan Hujin, sekalipun tolol juga tak nanti melakukan perbuatan
semacam itu,” kata Bwe-ji sambil menangis, “bila Tuan tidak percaya, tanyalah Siau
Lan, semalam hamba berada terus bersamanya, mohon Tuan sudi memeriksa
sejelasnya . . . . .”
Tampaknya Pang Wan-kun dibuat kaget oleh isak tangis tersebut, ia lari turun dari
loteng sambil membentak, “Ada apa? Siapa yang menangis macam setan menjerit?”
“O, Hujin, berilah keadilan bagi hamba,” seru Bwe-ji sambil memeluk kaki Pang
Wan-kun. Secara ringkas ia lantas menceritakan apa yang dituduhkan kepadanya.
“Jit-long, apa maksudmu?” kata Pang Wan-kun sambil menarik muka, “Sebagai
seorang gadis, yang paling penting adalah kehormatan, kenapa tanpa sebab kau
mengarang kejadian yang membingungkan semacam ini?”
“Apa yang kuucapkan adalah sesungguhnya, semua ini kudengar dari mulutnya,
justru persoalan inilah Pang-toako pergi dengan marah. Aku hanya ingin mengetahui
duduk persoalan yang sebenarnya, aku tidak menyalahkannya, tapi ia menyangkal
terus.”
“Tapi setahuku Toako selalu mengutamakan ilmu silat, tak pernah ia bermain
perempuan, mana mungkin melakukan perbuatan hal demikian.”
“Tapi hal ini Bwe-ji sendiri yang mengatakan padaku, aku dengan dia tak ada
dendam atau sakit hati, buat apa kufitnahnya dengan menciptakan cerita bohong?”
Wan-kun termenung sebentar, kemudian berkata, “Soal ini tidak sukar untuk

diselidiki, panggil Siau Lan sebagai saksi.”
Tak lama kemudian Siau Lan muncul di situ.
Ketika didengarnya apa yang terjadi, dengan tegas katanya, “Semalam, enci Bwe-ji
memang selalu berada bersamaku, ketika tengah malam aku ke kakus masih kulihat ia
berada di kamar, pagi tadi akulah yang membangunkan dia untuk membantu Hujin
menyisir rambut.”
“Sudah kaudengar sekarang” kata Pang Wan-kun sambil melirik Leng-hong. “Apa
lagi yang hendak kau katakan?”
Ho Leng-hong tidak dapat bersuara lagi, dia hanya memandang Bwe-ji dengan rasa
bingung.
Ia percaya tak mungkin salah melihat orang, tapi iapun tak bisa menyangkal
keterangan mereka, kecuali di Thian-po-hu terdapat dua orang Bwe-ji.
Kalau bukan begitu, tentunya ada orang yang menyaru sebagai Bwe-ji dan membuat
kekacauan.
Tapi, bukankah dayang yang bekerja di gedung belakang ada puluhan orang
banyaknya, untuk menyaru yang lain jauh lebih mudah daripada menyaru sebagai
Bwe-ji, mengapa menyaru sebagai Bwe-ji?
Meskipun tujuannya menyaru sebagai Bwe-ji hanya untuk mempermudah gerakgeriknya,
kenapa ia menggunakan “menemani tidur” sebagai dalihnya? Ho Leng-hong
benar-benar dibuat bingung oleh teka-teki ini.
Cuma ada satu hal yang diketahuinya dengan jelas, yakni di antara Bwe-ji dan Siau
Lan paling sedikit ada seorang sedang berbohong, bahkan mungkin juga keduaduanya
memang berkomplot dan sengaja berbohong . . . . . .
Kebetulan datang laporan dari ruang depan waktu itu bahwa tamu sudah berdatangan.
Cepat Leng-hong menggunakan kesempatan itu untuk meloloskan diri, persoalan
mengenai Bwe-ji pun tertunda untuk sementara waktu.
-----------------
Thian si telinga panjang memang orang yang pandai menyelami perasaan orang.
Maka ia datang paling pagi, begitu mendapat berita, dengan gerakan tercepat ia
berangkat ke Thian-po-hu.
Begitu berjumpa, Thian Pek-tat tertawa lebar sampai bibirpun tak bisa merapat,
dengan berseri ia berkata, “Kabar ini sungguh merupakan berita yang paling baik,
saudara Cu-wi, bicara terus terang, semalam Siaute benar-benar mengusirkan dirimu,
bagaimanakah watak kakak iparmu kita sama tahu, permainan kemarin yang
dibubarkan itu memang bukan soal bagi kami, tapi sedikit banyak Nyo-heng tentu

diomeli. Bagaimana, kalian tidak sampai ribut, bukan?”
“Ah, tidak apa-apa,” Leng-hong tertawa, “paling-paling cuma dinasihati dan
didamprat, masa ia akan membunuhku?”
“Syukurlah kalau begitu, siapa suruh dia adalah kakaknya lenso, usianya lebih tua
lagi dari kita. Ya, mendengarkan beberapa patah kata nasihatnya juga pantas, nanti
kan bosan sendiri.”
“Untuk dia masih ada urusan penting, sejak pagi tadi sudah pamit pergi, mumpung
ada kesempatan baik, kita harus lanjutkan permainan kemarin, kita kumpul beramairamai
selama beberapa hari.”
“Mungkin Thian kasihan kepadaku, kemarin nasibku kurang baik dan kalah tak
sedikit, siapa tahu kalau kekalahanku bersama rentenya akan kutarik kembali
sekarang?!”
Tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraan ke soal lain, lanjutnya, “Eh, jauh-jauh datang
dari Cian-sui-hu, tentunya kakak iparmu itu ada urusan penting bukan?”
“Urusan penting sih tidak ada, hanya lantaran sudah beberapa tahun tak bertemu
dengan isteriku, maka sengaja datang untuk menengoknya sekedar melepas rindu.”
“Kalau begitu, seharusnya ia berdiam lagi beberapa hari, kenapa ia berangkat lagi
secara tergesa-gesa?”
“Siapa tahu?” Leng-hong mengangkat bahu, “pokoknya ia mau datang lantas datang,
mau pergi lantas pergi, bergantung pada kemauan hatinya.”
“Siaute ada sepatah kata, mungkin aku berkuatir tanpa alasan, tapi tidak mustahil
terjadi, bila kukatakan nanti harap saudara Cu-wi jangan marah.”
“Silakan bicara!”
“Menurut pendapat Siaute, bila kita mau berkumpul dan bersenang-senang,
sebaiknya kita ganti tempat lain.”
“Kenapa?”
“Terus terang Siaute agak curiga tentang maksud kakak iparmu pulang ke Sengtoh,
seandainya dia Cuma bermaksud mencoba dirimu, pura-pura pamit pulang, tapi tahutahu
muncul lagi, kami sih tidak apa-apa, tapi Nyo-heng yang akan kena dampratan
lagi.”
“Tidak mungkin,” Leng-hong tertawa, “sekali dia berkata akan pergi, tak mungkin
kembali lagi, kau tak usah kuatir.”
“Dengan dasar apa Nyo-heng merasa yakin dia tak bakal kembali lagi?”
Leng-hong sengaja berpikir sebentar, lalu bisiknya, “Sebetulnya masalah ini adalah

urusan pribadi rumah tanggaku, bila kuberitahukan padamu harap kau jangan
menyampaikannya lagi kepada orang lain.”
“Ah, saudara Cu-wi, bagaimanakah hubungan kita selama ini? Masakah kau masih
tidak mempercayai aku orang she Thian?”
“Tentu saja aku percaya padamu,” Ho Leng-hong manggut-manggut, “cuma
persoalan ini menyangkut kejelekan rumah tanggaku, mestinya tak pantas dikatakan
kepada orang luar, aku cuma dapat memberi sedikit berita saja padamu, terus terang
saja kakak iparku pergi lantaran malu dengan suatu perbuatan brutalnya.”
“Oya?!” Thian Pek-tat berseru heran.
Leng-hong tertawa, katanya, “Terus terang kuberitahukan kepadamu, ia tertarik oleh
seorang pelayanku, tanpa sengaja perbuatannya kupergoki, lantaran malu maka iapun
mohon diri secara tergesa-gesa.”
“Ah, sungguh tak kusangka,” kata Thian Pek-tat dengan tercengang, “kelihatannya
saja dia begitu serius dan terpelajar, rupanya iapun seorang yang suka begituan.”
“Oleh karena itulah tak usah kuatir, sekalipun dijemput dengan tandu besar yang
digotong delapan orang, tak nanti ia punya muka untuk kembali lagi ke sini.”
Sampai di sini, kedua orang itu tak dapat menahan rasa gelinya lagi, mereka
mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
Dari depan pintu masuk seseorang, dan langsung menanggapi, “Siapa yang bilang
aku tak berani kemari, bukankah aku telah datang lagi?”
Yang muncul adalah Kwan-lok-kiam-kek Lo Bun-pin, ia mengenakan pakaian
ringkas, tangannya menenteng hasil buruan berupa ayam hutan, kelinci liar, dan lainlain.
Begitu melangkah masuk segera katanya sambil tertawa, “Pang-lotoa sudah pergi?
Inilah yang dinamakan Thian masih memenuhi harapan orang. Siaute lagi berburu,
begitu mendengar berita baik ini, tidak sempat bertukar pakaian lagi segera kulari
kemari, hasil buruanku ini anggap saja sebagai oleh-olehku, kita harus minum arak
dan pesta pora sepuas-puasnya.”
“Saudara Lo, jangan keburu senang dulu,” kata Thian Pek-tat sambil menyongsong
kedatangan rekannya, “siapa tahu kalau nasib orang akan berubah pada hari ini,
kemarin Lo-heng menang banyak lantaran lagi mujur, siapa tahu kemenanganmu
kemarin akan ludes hari ini.”
“Menang atau kalah apa artinya, “Lo Bun-pin tertawa, “asal dapat main, kalah sedikit
uang tidak mengapa, daripada kesal di rumah memeluk bini.”
Sementara mereka bercakap-cakap, teman-teman lainnya telah berdatangan, bagaikan
setan kelaparan dan setan judi yang baru dibebaskan dari neraka, serentak mereka
menarik kursi dan mengatur meja untuk minum arak sambil berjudi.

Diam-diam Ho Leng-hong menghitung jumlah anggota yang datar, ternyata yang
hadir kemari sekarang juga lengkap, mala ditambah pula dengan beberapa orang yang
tak kelihatan kemarin, tentu saja suasana bertambah ramai.
Begitu semuanya sudah duduk, dengan suara lantang Leng-hong berkata, “Adapun
maksud Siaute mengundang kehadiran saudara sekalian karena ada dua alasan.
Pertama, tentu saja untuk mohon maaf kepada saudara sekalian atas sikap kasar kakak
iparku kemarin. . . . . .”
“Kita adalah saudara sendiri, buat apa membicarakan urusan semacam itu?” seru
semua orang, “Hei, saudara Cu-wi, kenapa hari ini kau menjadi sungkan-sungkan
dengan kami?”
“Meskipun kita adalah sahabat, adat kesopanan tak boleh ditinggalkan. Terutama
setelah kukemukakan alasan yang kedua, kumohon kawan-kawan sekalian bersedia
memenuhi harapanku ini.”
“Katakan saja terus terang, asal dapat kita laksanakan, siapa yang tidak mau
anggaplah dia anak kura-kura,” sahut semua orang lagi.
Ho Leng-hong tertawa, katanya, “Maksud baik saudara sekalian Siaute ucapkan
banyak terima kasih lebih dulu, padahal persoalan ini hanya menyangkut persoalan
pribadiku, seperti diketahui, jauh-jauh dari Cian-sui-hu kakak iparku telah berkunjung
kemari, ia ada pesan dan minta kepadaku untuk mulai berlatih sejenis ilmu silat
keluarga, mungkin setelah hari ini kita akan semakin jarang bertemu lagi.”
Karena keterangan ini, gemparlah para hadirin.
Ada di antaranya yang segera berkata, “Yang berlatih biarlah berlatih, yang
bersenang-senang boleh bersenang-senang, buat apa Nyo-heng mesti mengurung diri
dan menjauhi kawan lama?”
“Antar teman bisa berkumpul dan bersenang-senang bersama, betapa gembiranya
suasana seperti ini, sekalipun mau berlatih silat juga tidak harus pantang minum arak
dan berjudi?” sambung yang lain.
Bahkan ada pula yang berkata begini, “Saudara Nyo, ilmu silat macam apakah yang
hendak kaulatih hingga hubungan dengan para sahabatmu pun harus diputus?”
Begitulah, seketika macam-macam bisikan dan pertanyaan berkumandang memenuhi
ruangan, mereka sama menujukan perasaan heran dan ragu.
Ho Leng-hong menjura, lalu katanya, “Maksud Siaute bukan hendak memutuskan
hubungan dengan para kawan, perpisahan ini hanya bersifat sementara, karena harus
menutup diri untuk berlatih, kita akan lebih jarang bertemu. Cuma untuk perpisahan
tersebut, maka mulai sekarang kita boleh berkumpul dan bergembira sepuas-puasnya,
siapapun di antara kalian tak boleh mengundurkan diri di tengah perjamuan, kita
harus bermain sampai puas baru bubar, Siaute telah berpesan kepada para Busu,
sebelum perjamuan bubar, tak seorangpun di antara kalian boleh meninggalkan

gedung ini. Di samping itu pihak dapur telah menyiapkan hidangan yang takkan
berhenti, kita akan pesta pora sepanjang hari, paling sedikit tiga hari, tiga malam pesta
ini akan terus berlangsung.”
Mereka yang hadir ini sebagian besar adalah anak orang kaya, mereka lupa diri setlah
mendengar perkataan itu, serentak mereka berteriak menyatakan akur.
Maka pesta segera diselenggarakan, meja judi pun disiapkan, dengan riang gembira
para tamu mengambil tempat duduk dan mulai berpesta pora.
Selama pesta gila-gilaan berlangsung, Leng-hong sangat memperhatikan gerak-gerik
Thian Pek-tat, ia lihat meski orang ini ikut minum arak dan berjudi seperti lainlainnya,
namun sering kali keningnya berkerut, seakan-akan ada sesuatu hal yang
membuat perasaannya tidak tenang.
Thian Pek-tat datang paling cepat, dia pula yang amat menaruh perhatian terhadap
kepergian Pang Goan, mungkinkah dia yang diam-diam bersekongkol dengan pihak
lawan?
Tanpa terasa Leng-hong teringat kembali pada kematian Siau Cui, lalu kematian
pesuruh Hong-hong-wan dan Go So yang dibunuh untuk melenyapkan saksi hidup . . .
. .
Semua itu hakikatnya berhubungan dengan Thian Pek-tat, hal ini membuat Lenghong
semakin curiga.
Bila ditinjau dari pelbagai gejalanya, meski Thian Pek-tat bukan otak dari pencurian
golok mestika itu, paling sedikit ia sudah dibeli oleh pihak lawan, bahkan mungkin
dia pula orangnya yang mengadakan perundingan rahasia dengan gadis baju hijau di
luar Kiok-hiang-sia itu.
------------------
Tak lama setelah perjudian dimulai, benar juga, Thian Pek-tat mengalami kekalahan
total.
Sambil berpura-pura menaruh perhatian Leng-hong menepuk bahunya, lalu berkata
seraya tertawa, “Siau Thian, tampaknya hari ini nasibmu kurang mujur, beristirahatlah
dahulu.”
Thian Pek-tat menggeleng kepala berulang kali, ia berikan tempatnya untuk Lo Bunpin,
lalu berdiri.
Pada kesempatan itu sengaja Leng-hong mengajak Thian Pek-tat ke luar rumah, lalu
bisiknya, “Kalah berapa kau?”
“Tidak banyak, tiga laksa lebih, entah kenapa, hari ini aku memang lagi sial,” Thian
Pek-tat tertawa getir.
“Tidak menjadi soal,” kata Leng-hong dengan tertawa, “tiga laksa tahil perak bisa

direbut kembali dengan sekali permainan, kalau modalnya kurang katakan saja
kepadaku.”
“O, uang sejumlah itu masih bisa kutanggung, Cuma kartu itu yang sialan, bikin
orang menjadi penasaran saja.”
“Aku lihat sikapmu tidak tenang, seakan-akan ada rahasia dalam hatimu, apa
gerangan yang kau pikirkan?”
Thian Pek-tat seperti agak terkejut, cepat katanya, “Ah, tidak! Atau mungkin Nyoheng
melihat sesuatu yang tidak beres atas diriku?”
“O, tidak, aku hanya merasa konsentrasimu buyar, hatimu tak tenang dan
perhatianmu tak dapat terpusat di meja judi.”
Tiba-tiba Thian Pek-tat berseru dengan suara tertahan sambil tertawa, “Ah, benar,
setelah disinggung saudara Nyo, Siaute menjadi ingat kembali. Padahal juga tidak
terhitung rahasia besar, selama ini Siaute hanya teringat dengan ucapan yang Nyoheng
katakan tadi, dan hatiku terasa agak sedih.”
“Oo? Perkataan apa yang kaumaksudkan?”
“Aku ini meski luas pergaulan, tapi paling tidak suka menyanjung dan menjilat,
bicara terus terang, di antara sekian banyak teman, Siaute merasa paling cocok dan
paling menaruh hormat terhadap Nyo-heng.”
Leng-hong cuma tertawa saja dan tidak memberi tanggapan apa-apa.
“Oleh sebab itu,” demikian Thian Pek-tat melanjutkan, “ketika kudengar
pengumuman Nyo-heng yang bermaksud menutup diri sementara waktu untuk
melatih sejenis ilmu silat, tiba-tiba saja Siaute merasa berat hati dan amat sedih.”
“Ya, apa boleh buat? Hal ini terpaksa harus kulakukan, untung yang harus kulatih
adalah ilmu silat keluargaku sendiri, percayalah masa tirakat diriku tak akan
berlangsung terlalu lama.”
“Saudara Cu-wi,” kata Thian Pek-tat pula dengan wajah serius, “maafkan bila ada
kata-kataku yang sembrono, terhadap musibah yang menimpa Thian-po-hu, meski
Siaute adalah orang luar, sedikit banyak cukup tahu keadaan yang sebenarnya.
Bersahabat memang penting, tapi berlatih untuk membangun kembali nama baik
keluarga jauh lebih penting daripada segalanya, terhadap hal ini memang Nyo-heng
tak boleh teledor.”
Ketika mendengar kata “membangun kembali nama baik keluarga”, satu ingatan tibatiba
terlintas dalam benak Ho Leng-hong, segera ia bertanya, “Siau Thian, berapa
banyak yang kauketahui tentang persoalan keluarga kami?”
“Dulu ketika kakakmu yang menjadi ketua gedung ini, Siaute kurang begitu rapat
hubungannya dengan Thian-po-hu, apa yang kudengar pun hanya berita selentingan di
luar, jadi apa yang kuketahui hanya sedikit sekali.”

“Oya?! Apa yang dibilang orang luar?”
“Ah, tidak lebih Cuma berkisar pada kekalahan kakakmu dalam pertemuan Lo-hu-tohwe
serta usaha Thian-po-hu untuk meminang puteri Cian-sui-hu dengan
menyerahkan golok mestika kalian kepada pihak perempuan.”
“Oo!” Leng-hong bersuara tertahan, pikirnya, “Dugaanku ternyata benar, Lo-hu-tohwe
di selenggarakan di Leng-lam, tentu masalah ini ada hubungan dengan pihak Huyong-
shia.”
Dalam hati ia berpikir demikian, di luar sengaja menghela napas sambil tunduk
kepala dan membungkam.
Padahal yang benar ia sedang menunggu komentar Thian Pek-tat lebih lanjut.
Benar juga, dengan penuh perhatian Thian Pek-tat berkata lagi, “Saudara Cu-wi, kita
boleh dibilang ada jodoh, syukur engkau menganggapku sebagai sobat karibmu, maka
aku ingin memberi nasihat padamu. Dengan ilmu golok warisan Thian-po-hu
ditambah dengan golok mestika Yan-ci-po-to sepantasnya kalian tak sampai kalah
dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe, tahukah kau apa sebabnya kakakmu sampai
menderita kekalahan total?”
Darimana Ho Leng-hong bisa tahu, terpaksa ia menggeleng kepala belaka.
“Kekalahan yang diderita kakakmu bukan lantaran ilmu silatnya tak dapat
menandingi orang, sebetulnya ia dikalahkan oleh satu huruf.”
“Huruf apa?” tanya Leng-hong sambil melengak.
“Perempuan!” air muka Thian Pek-tat berubah menjadi serius, “ketika itu kakakmu
masih muda dan berdarah panas, tapi ia telah terjebak oleh Bi-jin-keh (siasat
perempuan cantik), bukan saja rahasia ilmu golok Po-in-pat-tay-sik telah dibocorkan,
sebelum bertanding iapun kena dicelakai lebih dulu sebab itulah gelar Thian-he-te-itto
(golok nomor satu di dunia) terpaksa diserahkan kepada pihak Hiang-in-hu.”
Hiang-in-hu?! ternyata benar Hiang-in-hu dari Hu-yong-shia di wilayah Leng-lam.
Tak dapat dilukiskan perasaan Leng-hong ketika itu, entak kejut atau bergirang
ataukah terbangkit semangatnya?
“Siau Thian, darimana kautahu tentang persoalan ini?” buru-buru ia tanya.
Thian Pek-tat tertawa, ia menjawab, “Meski hal ini merupakan suatu rahasia besar,
tapi mana bisa lolos dari pendengaranku si telinga panjang. Terus terang kukatakan
padamu, ada seorang Bu-lim-cianpwe yang telah membocorkan rahasia ini, waktu itu
Cianpwe tersebut ikut dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe, dengan mata kepala sendiri ia
saksikan kakakmu menderita kekalahan total, rupanya peristiwa itu menimbulkan
kecurigaannya, kemudian setelah dilakukan penyelidikan secara diam-diam,
terbuktilah bahwa apa yang dicurigainya memang betul.”

“Tapi belum pernah kakakku menceritakan kejadian itu padaku.”
“Setelah terkena siasat Bi-jin-keh lawan, tentu saja ia merasa malu untuk
menceritakan kejadian ini kepadamu. Cuma bila kita tinjau apa yang diatur dan
dipersiapkannya sebelum meninggalkan tempat ini, dapat kita simpulkan
bagaimanakah perasaan hatinya waktu itu.”
“Oya?” Leng-hong berseru heran.
“Dengan Yan-ci-po-to sebagai alasan, kakakmu berangkat ke Cian-sui-hu, jelas dia
ingin menggunakan ilmu pedang Cian-sui-hu untuk menutupi kelemahan Po-in-tohoat
keluargamu, di samping itu, iapun berharap dengan kecantikan serta
kebijaksanaan nona Wan-kun kehidupanmu bisa dikendalikan sehingga tak sampai
terperosok lagi seperti apa yang dialaminya.”
Diam-diam Leng-hong mengenang kembali perkataan Pang Goan, mau-tak-mau dia
harus mengakui ucapan Thian Pek-tat ini memang masuk di akal.
Hanya ada satu hal yang tidak dipahami, yaitu kenapa Thian Pek-tat memberitahukan
hal ini kepadanya?
Jika Thian Pek-tat adalah orang pihak Hiang-in-hu, lebih-lebih tidak seharusnya
membongkar rahasia ini.
Ketika melihat rekannya hanya diam saja, Thian Pek-tat berkata pula, “Saudara Cuwi,
selama ini kita hanya berpesta pora dan berfoya-foya, urusan yang penting
memang telah kita abaikan sekian lama, untuk menambal kekurangan kita di masa
lalu, rasanya belum terlalu terlambat, sebagai sahabat aku berkewajiban memberi
nasihat, selanjutnya hendaknya kaubangkit menjunjung kembali nama baik Thian-pohu,
sebab cita-cita luhur kakakmu terletak dia atas pundakmu.”
Leng-hong mengangguk.
Tiba-tiba Thian Pek-tat berbisik, “Seperti tindakanmu menyelidiki Hong-hong-wan
tempo hari, sejak kini mesti diperhatikan sebaik-baiknya, siapa tahu kalau tempat itu
adalah perangkap yang telah diatur oleh pihak Hiang-in-hu.”
Mendengar perkataan ini, Leng-hong merasa terkejut, baru saja dia hendak bersuara,
saat itu kebetulan Lo Bun-pin muncul.
Begitu bertemu, orang she Lo itu lantas berseru dengan suara lantang, “Hai, apa yang
kalian rundingkan di sini? Cepat masuk ruangan, kini Lo Cin lagi mujur besar, semua
orang tak mampu menahan kehebatannya.”
Dengan cepat Thian Pek-tat berganti sikap lain, katanya sambil tertawa, “O, ya?! Lo
Cin lagi jagoan sekarang? Itulah yang dinamakan: bila di gunung tak ada harimau,
monyet pun menjadi raja. Hayo berangkat, biar aku orang she Thian ringkus monyet
itu!”

Begitulah mereka bertiga lantas masuk kembali ke arena judi.
Leng-hong sudah tidak berhasrat untuk berjudi lagi, setelah melayani sekian lama,
ketika senja hampir tiba, ia mengundurkan diri, dan kembali ke taman belakang.
Pang Goan hanya berjanji akan mengadakan dua kali pertemuan dalam sehari, pagi
sekali dan malam sekali, tapi ia tidak menetapkan waktu yang tepat.
Dengan tergesa-gesa Leng-hong melakukan pencarian di sekitar taman, tapi tak
sesosok bayangan manusia pun ditemukan, selagi gelisah, mendadak di antara
embusan angin ia merasa ada suara pembicaraan orang.
Di mana Ho Leng-hong berada sekarang adalah tepi hutan buatan yang tadi pagi
digunakan Pang Goan untuk berlatih silat, suara pembicaraan itu berasal dari balik
hutan sana, seperti ada dua orang sedang berbisik-bisik di sana, tapi apa yang sedang
mereka bicarakan tidak kedengaran jelas.
Setelah diperhatikan sekian lama, Leng-hong hanya dapat membedakan bahwa suara
itu berasal dari dua orang perempuan.
Sesungguhnya Leng-hong ingin menghardik kedua orang itu, tapi ingatan lain
mencegahnya untuk berbuat begitu, agar tidak “mengusik rumput mengejutkan ular”,
ia tidak masuk ke hutan, tapi ia melayang ke atas pohon dan bersembunyi di antara
daun yang rimbun.
Tak lama kemudian, suara pembicaraan itu berhenti, menyusul lantas kedengaran
suara langkah orang yang perlahan.
Dua orang gadis berjalan keluar dari balik hutan sambil bergandengan tangan.
Leng-hong bersembunyi di atas pohon dengan menahan napas, dilihatnya kedua
gadis itu lewat di bawah pohon, dan terlihat jelas bahwa kedua orang itu tak lain
adalah Bwe-ji dan Siau Lan.
Bwe-ji menenteng sebuah keranjang bunga, di dalamnya terdapat beberapa tangkai
bunga sedap malam.
Siau Lan membawa cangkul kecil, di ujung cangkul masih tersisa sedikit tanah
lumpur.
Sepintas lalu kedua orang itu seperti baru saja menanam bunga, tapi mengapa
menanam bunga di waktu malam?
Lebih tak mungkin lagi kalau menanam bunga di dalam hutan yang penuh
pepohonan.
Gerak-gerik kedua orang itu sangat rahasia dan mencurigakan, setelah keluar dari
hutan, mereka celingukan dulu ke sana kemari, sesudah yakin di sekitar situ tak ada
orang, segera mereka melompat keluar dengan cepat, sesudah jauh dari pepohonan,

langkah mereka baru diperlambat.
Kedengaran Bwe-ji sedang berbisik lirih, “Lebih baik kita berpisah di sini saja, ingat,
suruh dia datang tengah malam nanti, dan jangan lupa harus berhati-hati.”
“Aku tahu, kau sendiri juga mesti berhati-hati, jangan sampai dilihat orang lain,”
jawab Siau Lan.
Kedua orang itu berpisah di tepi hutan, Bwe-ji menuju ke timur dan kembali ke
loteng, sedang Siau Lan ke barat dan menuju ke pintu taman belakang.
Leng-hong segera memutuskan untuk menguntit Siau Lan, dia ingin tahu manusia
macam apakah yang hendak ditemuinya, tapi baru saja dia hendak melompat turun,
tiba-tiba dari atas kepalanya menyambar turun sebuah tangan dan mencengkeram
kuduk bajunya.
Saking terkejutnya hampir saja Leng-hong berseru, cepat ia mendongak ke atas,
ternyata Pang Goan yang nongkrong di antara rimbunnya dedaunan.
Ketika melompat ke atas pohon tadi, pemuda itu tidak mengetahui di atas pohon
sudah hadir seorang yang lain, diam-diam ia merasa malu, dengan suara serak
katanya, “Lotoako, sudah kau lihat kedua orang dayang itu?”
Pang Goan mengangguk, “Aku datang lebih dulu dari mereka berdua, tentu saja
dapat kulihat dengan jelas.”
“Apakah kautahu perbuatan apa yang mereka lakukan di dalam hutan ini?” tanya
Leng-hong.
“Rupanya sedang menanam suatu benda.”
“Menanam sesuatu benda? Benda apa yang mereka tanam?”
“Aku tidak jelas benda apa yang mereka tanam, Cuma . . . “ tiba-tiba ia tertawa lebar,
“bila nasib kita tidak jelek, kemungkinan besar itulah benda yang sedang kita cari.”
“Golok mestika Yan-ci-po-to?”Leng-hong berseru tertahan.
Sambil tertawa Pang Goan manggut-manggut, katanya, “Padahal mestinya kita dapat
berpikir ke situ. Ketika fajar tadi dayang tersebut kaupergoki tanpa sengaja, ia berada
dalam keadaan tangan hampa tanpa membawa sesuatu, bila kita pikirkan, bisa
disimpulkan tentunya karena hari sudah terang tanah, mereka tak sempat
menyelundupkan benda curian itu keluar.”
“Benar,” seru Leng-hong sambil bertepuk tangan, “Jika golok mestika itu berhasil
diselundupkan keluar gedung, sudah pasti mereka akan kabur meninggalkan tempat
ini, dan tak mungkin tetap tinggal di sini menempuh bahaya.”
“Sesudah mengetahui isi kotak itu ternyata golok palsu, mestinya mereka menyadari
golok asli tak dapat dicuri semudah itu, kemudian karena aku kurang berhati-hati

sehingga tempat menyimpan golok pusaka itu diketahui mereka dan benda itu berhasil
mereka dapatkan, tapi karena tak sempat lagi menyelundupkannya keluar, terpaksa
mereka menanamnya lebih dulu di sini.”
“Tapi seandainya pada saat terakhir mereka putuskan untuk menanam golok pusaka
itu, sepantasnya benda itu di tanam di sekitar Kiok-hiang-sia, kenapa tidak
disembunyikan di tempat yang dekat, sebaliknya malah menanamnya di hutan yang
jauh letaknya sini.”
“Apa yang perlu diherankan lagi?” Pang Goan tertawa, “mula-mula tentunya mereka
akan menyembunyikannya di sekitar Kiok-hiang-sia, tapi lantaran tempat tersebut
luas dan dekat air, mungkin sulit untuk digali, maka terpaksa malam-malam begini
mereka menanamnya di sini.”
Begitulah, hasil analisa kedua orang ini menunjukkan golok mestika Yan-ci-po-to
bukan saja belum meninggalkan gedung Thian-po-hu, benda tersebut pasti ditanam di
dalam hutan ini oleh Bwe-ji dan Siau Lan.
Ho Leng-hong merasa semangatnya berkorbar, katanya, “Sungguh atas berkah Thian,
Lotoako, mari kita gali golok pusaka itu, kemudian baru kita menunggu sang kelinci
keluar dari liangnya, bila tengah malam nanti mereka datang untuk mengambil golok,
kita ringkus mereka semua.”
Pang Goan menyatakan akur, bahkan pesannya, “Sebentar bila sudah mendapatkan
kembali golok mestika tersebut, lebih baik kau kembali ke ruang depan dan jangan
menunjukkan tanda apa-apa, kita bukan saja mendapatkan kembali golok mestika itu,
yang lebih penting adalah menyelidiki siapakah yang berdiri di belakang layar dalam
peristiwa ini.”
“Siaute sudah melakukan pengamatan secara diam-diam, aku rasa Thian Pek-tat
merupakan orang yang mencurigakan.”
Secara ringkas iapun menceritakan apa yang dialaminya selama berada di ruangan
depan tadi.
Selesai mendengarkan penjelasan tersebut, Pang Goan tidak memberi komentar apaapa,
dengan suatu gerakan lincah dia merosot turun ke bawah pohon dan masuk ke
hutan untuk mencari tempat penanaman golok.
Orang lain memberi poyokan padanya sebagai “Monyet Pang”, kenyataannya bukan
saja tampangnya mirip monyet, ternyata kepandaiannya memanjat pohon juga lebih
lincah daripada monyet, caranya menerobos hutan, bukan saja gesit, juga cepat luar
biasa.
Tak berapa lama kemudian, dengan mudah mereka berhasil menemukan sebuah
gundukan daun busuk di engah hutan, tampak jelas daun-daun busuk itu pernah
disentuh orang.
Dengan kedua tangannya, Pang Goan membongkar daun-daun busuk itu, benar juga
di bawah tumpukan daun tadi ditemukan tanah lumpur yang barusan digali, bahkan

diberi pula sebuah tanda sebagai tanda.
“Nah, pasti di sini tempatnya,” kata Leng-hong “harap Lotoako tunggu sebentar,
akan kucarikan sebuah cangkul.”
“Hanya tanah lumpur saja, buat apa pakai cangkul?”
“Sambil berkata, dengan kesepuluh jari tangannya yang dipentangkan bagaikan cakar
ia menggali tanah tersebut, sekali mencengkeram segumpal tanah lantas diangkatnya.
Orang ini memang tangguh, kedua tangannya ternyata lebih berguna daripada
cangkul, tak lama kemudian tergali sebuah liang besar.
Benar juga, di dalam liang tertanam satu pak panjang yang dibungkus dengan kain
minyak.
Pang Goan menengadah dan menarik napas panjang, katanya dengan perasaan lega,
“Ai, akhirnya benda mestika ini berhasil ditemukan kembali, mungkin arwah
kakakmu melindungi kita, juga takdir telah menetapkan bahwa Thian-po-hu harus
mengembangkan kembali nama baiknya.”
Dengan tatapan tajam Leng-hong memperhatikan bungkusan kain minyak itu sekian
lama, tiba-tiba katanya, “Lotoako jangan keburu gembira lebih dulu, kulihat isi
bungkusan ini rada mencurigakan.”
“Oya?” desis Pang Goan kaget.
“Seandainya bila bungkusan ini sudah ditanam selama sehari di sini, bila digali
keluar lagi tentu akan memperlihatkan tanda kelembaban, tapi kain minyak ini tampak
kering dan masih baru, jelas belum lama ditanam di sini . . . .”
Belum habis kata-katanya, buru-buru Pang Goan membuka bungkusan kain minyak
itu, isi bungkusan itu memang sebilah golok besar.
Cuma golok tersebut bukan golok mestika Yan-ci-po-to yang sedang mereka cari,
golok ini hanya sebilah golok biasa yang umum.
Kontan saja Pang Goan mendengus marah, katanya, “Kurang ajar benar kedua
perempuan anjing itu, berani betul mereka melakukan siasat licik ini untuk menipu
kita.”
Leng-hong berpikir sebentar, lalu katanya, “Namun ada satu hal yang mencurigakan,
darimana mereka tahu kita bakal datang dan menyiapkan lebih dulu sebatang golok
palsu ini?”
“Mungkin kedua orang perempuan hina itu sengaja bermaksud mengambil golok
mestika pada waktu malam, tapi tiba-tiba melihat kaupun berada di taman sini, maka
pada saat terakhir mereka ganti siasat dan sengaja menanam golok biasa di sini, lalu
pada kesempatan kita sedang menggali di sini, mereka gunakan peluang tersebut
untuk menyelundupkan golok mestika itu keluar, untuk mendapatkan sebilah golok

biasa dalam Thian-po-hu kan tidak sukar?”
“Seandainya . . . .”
“Jangan pakai seandainya, untung belum terlambat, golok mestika Yan-ci-po-to itu
pasti masih berada di sekitar Kiok-hiang-sia, kalau kita lakukan pengejaran sekarang,
mungkin masih belum terlambat.”
Rasa gusar, gemas dan cemas membuat tokoh Cian-sui-hu ini ingin sekali melompat
mencapai Kiok-hiang-sia, ketika kata terakhir diucapkan, bagaikan angin ia sudah
melayang keluar dari hutan sana.
Cepat Leng-hong mengikut di belakangnya.
Tapi tak lama setelah keluar hutan, tiba-tiba Leng-hong menarik ujung baju Pang
Goan sambil berbisik, “Lotoako, harap tunggu sebentar.”
“Tunggu apa?” tanya Pang Goan sambil berhenti.
Leng-hong tidak menjawab, ia celingukan sejenak memandang sekeliling tempat itu,
lalu menariknya masuk kembali ke dalam hutan.
“Hei, apa yang kau lakukan?” tegur Pang Goan keheranan, “Kau tahu, waktu sudah
mendesak, jangan sampai kehilangan waktu yang berharga.”
Ho Leng-hong menggoyangkan tangannya berulang, katanya dengan suara parau,
“Bagaimana juga Siaute merasa di balik kejadian ini masih ada hal lain yang
mencurigakan, Lotoako boleh melakukan pemeriksaan di sekitar Kiok-hiang-sia, tapi
jangan sampai jejakmu ketahuan orang, sedang Siaute akan tetap menunggu saja di
sini.”
“Apa yang hendak aku tunggu di sini?”
“Siaute mempunyai suatu firasat, bila golok mestika Yan-ci-po-to tiada di Thian-pohu,
maka kemungkinan besar benda tersebut masih berada dalam hutan ini.”
Pang Goan berpikir sebentar, kemudian katanya, “Baiklah, kau boleh tinggal di sini,
sedang aku akan melakukan pemeriksaan di sekitar Kiok-hiang-sia, bila di sana tidak
berhasil kutemukan sesuatu, aku akan segera kembali ke sini.”
Leng-hong membiarkan Pang Goan berlalu, ia tunggu bayangan orang sudah tak
tampak baru kembali ke tepi liang penyimpan golok tadi.
Mula-mula ia masukkan dulu golok tersebut ke tempatnya semula, lalu ditimbun
dengan tanah dan akhirnya diberi saputangan dan ditutup pula dengan daun busuk.
Ketika segala sesuatunya sudah beres, Leng-hong baru melayang kembali ke atas
dahan pohon, menutupi badannya dengan dedaunan dan menunggu di sana dengan
tenang.

Apa yang dinantikan? Ia sendiripun tak dapat menerangkan, tapi bagaikan seorang
pemburu yang berpengalaman ia menunggu dengan penuh kesabaran dan penuh rasa
percaya pada diri sendiri.
Sekian lama sudah, tapi suasana tetap hening, Pang Goan juga belum kembali.
Leng-hong tetap duduk diam di atas pohon, ia perhatikan suasana di sekeliling tempat
itu dengan seksama.
Lewat sekian lama pula, suasana di sekeliling situ tetap hening, sama sekali tiada
suatu yang mencurigakan.
Leng-hong mulai gelisah..... bukan karena dugaannya keliru, tapi merasa kuatir atas
keselamatan Pang Goan yang pergi dan tak kembali lagi itu.
“Sret!” mendadak terdengar suara enteng, tahu-tahu di bawah pohon telah bertambah
dengan sesosok bayangan manusia.
Sungguh cepat kemunculan orang ini, suara gemersik dan kelebatan bayangan hampir
terjadi pada saat yang sama, baru saja desir angin terdengar tahu-tahu orang itu sudah
berada di bawah pohon.
Betapa kejut Leng-hong, ia nyaris terjatuh dari atas pohon. Apalagi setelah melihat
jelas raut wajah serta dandanan orang itu, hampir ia menjerit kaget.
Orang ini mengenakan gaun berwarna kuning telur, ternyata tak lain adalah Pang
Wan-kun.
Gerak-gerik Pang Wan-kun kelihatan agak gugup, tampaknya ia tak menyangka di
atas pohon bersembunyi seseorang, dengan sorot mata tajam ia awasi tempat
penyimpanan golok itu, lalu mencabut sebilah pisau belati dan mulai menggali tanah
dengan tergesa-gesa.
Sesungguhnya Leng-hong hendak menegurnya, tapi setelah menyaksikan keadaan itu
ia urungkan niatnya.
Pang Wan-kun bukan Cuma gugup, baju dan rambutnya juga kusut tak teratur, pula
bahu kirinya kelihatan berdarah, jelas ia terluka.
Sebab apa ia terluka? Darimana ia tahu golok mestika itu disembunyikan di sini?
Mengapa ia gugup? Apa yang hendak digalinya....
Semua pertanyaan itu dengan cepat telah memperoleh jawabannya. Pang Wan-kun
bekerja dengan cepat, tak seberapa lama golok berbungkus kain minyak itu sudah
tergali keluar.
Tapi ia tidak memperhatikan golok tersebut dan dibuang begitu saja ke samping, lalu
melanjutkan pekerjaannya menggali liang.
Tak lama kemudian, dari dalam liang ia mengeluarkan pula suatu bungkusan yang

lain.
Mencorong sinar mata Ho Leng-hong, cukup sekilas pandang saja ia lantas
mengenali benda itu sebagai bungkusan yang digunakannya untuk menyimpan golok
Yan-ci-po-to semalam.
Kiranya benda yang disembunyikan Bwe-ji dan Siau Lan memang benar-benar
adalah golok mestika Yan-ci-po-to, Cuma pada lapisan yang atas mereka taruh pula
sebilah golok biasa.
Kecuali menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa yang akan menduga di dalam
liang telah ditanam dua bilah golok yang berbeda?
Ho Leng-hong tak menyangka, Pang Goan yang cerdik dan teliti pun tak mengira.
Tapi, dari mana Pang Wan-kun bisa tahu?
Melihat gelagatnya, bukan saja ia tahu tentang penyimpanan golok mestika itu,
bahkan bisa jadi Bwe-ji dan Siau Lan melakukan pekerjaan itu atas perintahnya . . . .
Pelbagai pikiran berkecamuk dalam benak Ho Leng-hong, meskipun ia merasa
terkejut, macam-macam tanda tanya selama beberapa hari akhirnya tersingkap juga,
dengan enteng ia lantas melayang turun ke bawah.
Waktu itu Pang Wan-kun sedang membuka kain yang membungkus golok tersebut,
betapa terperanjatnya demi melihat kemunculan Ho Leng-hong, air mukanya berubah
hebat, sambil mundur dua-tiga langkah ia sembunyikan golok mestika itu di belakang
punggungnya.
Leng-hong tertawa lebar, katanya, “Hah, tak kausangka bukan bahwa aku akan
muncul di sini?”
Dengan tangan kiri masih disembunyikan di belakang punggung, Pang Wan-kun
menepuk dadanya dan mengembuskan napas, katanya sambil tertawa, “Ai benarbenar
tak kusangka, Jit-long kaubikin kaget padaku saja.”
“Nona, kupikir sebutan di antara kita kini perlu diganti,” kata Leng-hong sambil
tertawa.
“Kenapa?”
“Sebab kau bukan Pang Wan-kun, dan kaupun tahu aku bukan Nyo Cu-wi, sandiwara
suami-isteri sudah berlangsung hingga kini, apakah tidak perlu diakhiri saja?”
“Aku tidak paham akan maksudmu!”
Ho Leng-hong mendesak maju selangkah, lalu katanya lagi dengan suara tertahan,
“Apa susahnya untuk memahami? Tujuan kalian adalah mencuri golok mestika Yanci-
po-to, sebenarnya urusan ini tak ada sangkut pautnya denganku, tapi dengan
pelbagai akal muslihat kalian telah menyeretku terjerumus ke dalam pusaran air ini.”

Bergetar badan Pang Wan-kun, ditatapnya wajah Ho Leng-hong dengan tajam, ia
tidak membenarkan pun tidak menyangkal ucapannya.
Leng-hong menjadi semakin bangga, katanya lebih lanjut, “Kalau dipikir kembali,
sungguh aku amat bodoh. Selama ini, hampir saja kuanggap diriku benar-benar adalah
Nyo Cu-wi, tak lama berselang akupun masih menganggap kau sebagai Pang Wankun
yang sesungguhnya, tapi sekarang aku telah paham. Cuma, nona, dengan berani
kau menyamar sebagai majikan perempuannya gedung Thian-po-hu, begini persis
samaranmu sehingga Pang-toako pun terkelabui, hal ini membuktikan bahwa
kecerdikan maupun keberanianmu sungguh sangat mengagumkan.”
Pang Wan-kun berkedip-kedip seperti orang bingung, katanya dengan ragu, “Jit-long,
kau omong apa? Jangan-jangan menyakitmu kumat lagi?”
“Ya, mungkin saja menyakitku kumat lagi,” kata Leng-hong sambil tertawa, “tapi
sekali ini untung hadir seorang tabib sakti di sini. Nona, asal kauserahkan golok Yanci-
po-to itu kepadaku, lalu kita bersama-sama menghadap Pang-lotoa, siapa yang sakit
dan siapa yang tidak dengan cepat pasti akan diketahui.”
“Hei, apa yang kau maksudkan dengan golok Yan-ci-po-to?Di mana ada Yan-ci-poto?”
“Itu dia, di belakang punggungmu! Bagaimanapun kita sudah menjadi suami-isteri,
lebih baik serahkan sendiri kepadaku, sebab kalau terpaksa harus kugunakan
kekerasan, tentu akan lenyaplah semua hubungan kasih mesra suami-isteri antara kita
berdua.”
Pang Wan-kun mengulurkan tangan kirinya dan memperlihatkan sarung golok ke
depan, katanya, “Apakah golok ini yang kaumaksudkan sebagai Yan-ci-po-to?”
“Masa bukan? Kukenal dengan jelas kain pembungkus golok itu, dan lagi pada
gagang golok terdapat huruf yang gemerlapan . . . . “
Pang Wan-kun menghela napas panjang, ia sodorkan sarung golok itu ke depan
Leng-hong, katanya, “Ai, kalau kau ngotot mengatakan golok ini adalah golok
mestika Yan-ci-po-to segala, nah ambil dan lihatlah sendiri.”
“Ya, aku memang ingin memeriksanya dengan seksama, mana mungkin kusalah lihat
. . . .”
Baru saja tangannya memegang ujung sarung golok, baru disadarinya bukan salah
melihat terhadap goloknya melainkan orangnya.
Waktu Pang Wan-kun menyodorkan golok itu kepadanya, ekor sarung golok itu
tertuju ke arah Ho Leng-hong dengan gagang golok menghadap ke arahnya sendiri,
dan tatkala anak muda itu memegang sarung golok, tiba-tiba ia membalik telapak
tangannya dan tahu-tahu gagang golok telah tergenggam.
“Creng!” cahaya tajam gemerlapan, golok itu secepat kilat sudah dilolos dari

sarungnya.
Ho Leng-hong hanya merasa ketiaknya tersambar angin dingin, cepat ia lepaskan
pegangan sambil melompat mundur, tapi antara pinggang dan perut telah tersayat
suatu luka sepanjang tujuh delapan inci, dara segera mengucur keluar.
Pang Wan-kun membalik lagi tangan kanannya dan meraih sarung golok dari tangan
Leng-hong, katanya sambil tertawa dingin kepada Leng-hong, “Mengingat hubungan
suami-isteri, kuampuni jiwamu dari tebasan golok tadi, maka lebih baik jangan
kauterangkan asal-usulmu kepada si monyet Pang, sebab jika ia sampai mencari tahu
jejak Nyo Cu-wi dan isterinya, maka kau pun akan mengalami kesulitan sendiri.”
Selesai berkata ia masukkan goloknya ke dalam sarung, lalu memutar badan dan
berlalu dari situ.
Dengan sempoyongan Leng-hong memburu maju tapi darah segar mengucur lebih
deras dari lukanya, tenggorokkan terasa kering seperti terbakar, kepala pusing dan
hampir roboh.
Ia sadar musuh tak mungkin terkejar, terpaksa ia himpun tenaga dan berteriak keraskeras,
“Pang-toako . . . Pang-toako . . . .”
Tapi sebelum mendengar suara jawaban Pang Goan, robohlah dia tak sadarkan diri.
-----------------------
Entah sudah lewat beberapa lama, entah apa pula yang terjadi kemudian.
Ketika Ho Leng-hong mengendus bau harum bunga dan membuka matanya, baru
diketahuinya dirinya berbaring dalam Kiok-hiang-sia.
Duduk di kursi di tepi pembaringan seorang nyonya muda berwajah cantik sedang
menundukkan kepala sambil menyulam kain sarung bantal.
Dipandang dari samping, jelas nyonya cantik ini bukan lain adalah Pang Wan-kun.
Sungguh tidak kepalang kaget Ho Leng-hong, hampir saja ia melompat bangun dari
pembaringan.
Tapi baru saja setengah badannya terangkat, lambungnya terasa sakit sekali, ia
mengeluh dan roboh kembali ke atas bantal.
Rintihannya mengejutkan Pang Wan-kun yang duduk di sampingnya, buru-buru ia
menaruh sulamannya dan berpaling, lalu sapanya dengan tersenyum, “Jit-long, kau
telah sadar? Tidur saja dengan tenang, jangan sampai pecah lagi lukamu.”
Dengan sorot mata kaget, gusar, mendongkol dan cemas Leng-hong melototi nyonya
itu, seakan-akan sedang berhadapan dengan setan iblis yang menyeramkan.
Pang Wan-kun tertawa manis, pelahan ia membetulkan ujung selimut, katanya,

“Kenapa kau melotot padaku? Seperti tidak kenal aku lagi?”
“Hm, kau perempuan siluman, tak kusangka kau masih berani tinggal di sini!”
“Kenapa aku tak boleh tinggal di sini? Tempat ini adalah Thian-po-hu, rumah kita . . .
.”
“Cis!” sungguh Leng-hong ingin meludahi nyonya muda tersebut, katanya sambil
menggigit bibir, “apa yang kauinginkan sudah didapatkan, kenapa tidak lekas angkat
kaki? Kauanggap aku tak berani membongkar rahasiamu ini kepada Pang-toako?”
Wan-kun sama sekali tidak marah, dengan tenang katanya, “Jit-long, agaknya
penyakit gilamu kambuh lagi!”
“Kausendiri yang gila,” teriak Leng-hong dengan marah, “terus terang kukatakan
padamu, aku hendak . . . .”
“Kauhendak bilang apa? Terhadap siapa? Jit-long, kuanjurkan lebih baik tenanglah
dulu, sekarang semua orang tahu kau mengidap penyakit gila, apapun yang
kaukatakan tak akan dipercaya oleh siapapun.”
“Semua kejadian akan kusingkap, kau yang mencuri Yan-ci-po-to, kau juga yang
melukai diriku.”
Wan-kun tertawa tak acuh, “Terserah apa katamu, pokoknya Toako sudah tahu Bweji
dan Siau Lan yang mencuri golok itu, dan kau terluka di tangan seorang
berkerudung, untung aku datang tepat pada waktunya hingga jiwamu selamat, malah
akupun terluka karena berusaha menolongmu, sedang orang berkerudung itu berhasil
meloloskan diri.”
“Tapi kutahu Bwe-ji dan Siau Lan mendapat perintahmu, atau paling sedikit mereka
adalah dayang-dayang kepercayaanmu, bagaimanapun jua tak mungkin kau tak tahu
menahu akan perbuatan mereka.”
“Ya, memang, mereka adalah dayang-dayang kepercayaanku, tapi bukan aku yang
membawa mereka dari Cian-sui-hu, jika mereka sampai bersekongkol dengan orang
luar, apa aku yang bertanggung jawab?”
“Hm, cepat atau lambat merekapun takkan lolos dari cengkeraman Pang-lotoa, asal
satu saja di antara mereka tertangkap, tak sulit untuk memaksanya mengaku.”
“Sayang selamanya mereka takkan tertangkap lagi,” kata Wan-kun sambil
mengangkat bahu.
“Berdasar apa kauberani berkata demikian?”
“Sebab mereka telah dibunuh orang di dekat Kiok-hiang-sia semalam!”
“Kau yang membunuh mereka?”

“Tentu saja bukan aku, pembunuh itu datang dari ruang depan, lagipula seorang pria,
justru lantaran Toako harus mengejar pembunuh itu, maka ia tak bisa kembali ke
hutan tepat pada saatnya.”
“Ia pasti akan berhasil menyelidiki siapa pembunuh itu?”
“Seharusnya ia akan berhasil, sayang tindakannya terlampau buru-buru, dan lagi
sahabat-sahabat anjingmu terlalu jeri kepadanya, maka akhirnya kecuali
membubarkan mereka, hasil apapun tidak ditemukan.”
“Di mana orangnya sekarang?”
“Itu!” Pang Wan-kun memondongkan mulutnya keluar jendela, “ia tak pernah putus
harapannya untuk menemukan golok mestika itu, dianggapnya benda tersebut masih
ada di dalam taman, sejak tengah malam kemarin ia pimpin sendiri orang-orang untuk
menggali taman dan hingga sekarang belum juga istirahat, sayang sekali tanaman
bunga-bunga dalam taman di sekitar Kiok-hiang-sia semuanya porak poranda.”
Ho Leng-hong coba melongok keluar lewat jendela, kemudian dengan sedih ia
menghela napas panjang.
Bayangan manusia tampak bergerak di sekitar Kiok-hiang-sia, suara cangkul dan
sekop kedengaran nyaring, dipimpin sendiri oleh Pang Goan, puluhan orang Busu itu
bekerja keras menggali hampir seluruh pelosok taman untuk mencari golok mestika
Yan-ci-po-to.
“Selama Pang-lotoa masih berada di Thian-po-hu, pati akan berakhir riwayatmu,”
kata Leng-hong dengan gemas, “akan kubongkar semua rahasiamu kepadanya.”
Pang Wan-kun kembali tertawa, “Kau tak akan berbuat demikian, sebab hal ini tak
ada manfaatnya bagimu, malah sebaliknya akan mendatangkan banyak kesulitan,
apalagi kau pernah mengidap penyakit gila, siapa yang akan percaya pada
keteranganmu?”
“Tapi paling sedikit aku sudah tahu kau bukan majikan perempuan dari Thian-po-hu,
Pang Wan-kun adalah saudara kandung Pang Goan, ia pasti dapat membuktikan
bahwa kau adalah Pang Wan-kun gadungan.”
Wan-kun tertawa senang, katanya pula, “Dengan cara apa hendak ia buktikan aku ini
gadungan? Saudara seayah lain ibu, lagi pula usianya selisih sekian puluh tahun,
hidup terpisah sekian lama, sewaktu di rumah pun sehari belum tentu bertemu satu
kali, apalagi setelah kawin, sekalipun di tubuhku mempunyai tanda khusus juga
belum tentu ia akan mengetahuinya, sekalipun tahu, masa dia akan mencopot bajuku
untuk melakukan pemeriksaan?”
Setelah berhenti sebentar, katanya lebih lanjut, “Apalagi aku bukan Pang Wan-kun
dan kaupun bukan Nyo Cu-wi, bila urusannya terbongkar, apakah kau tidak kuatir
akan kugigit dirimu bahwa kita bersekongkol?”
Ho Leng-hong terbelalak dan melongo, untuk sesaat ia tak sanggup membantah.

“Benar juga kata-katanya,” demikian ia berpikir, “bukan saja aku tak punya bukti,
asal usulku juga tak jelas, mana mungkin perkataanku akan dipercaya oleh Pang
Goan?”
Sambil tertawa Pang Wan-kun duduk di tepi pembaringan, dipegangnya bahu
pemuda itu dengan tangannya yang halus, lalu katanya dengan lembut, “Jit-long, kau
adalah orang yang pintar, tak nanti melakukan perbuatan sebodoh itu.”
Harta kekayaan, kedudukan dan isteri cantik belum tentu bisa didapatkan orang lain
meski dalam mimpi, tapi kau telah memperolehnya secara gampang, apalagi yang
masih kurang?”
Ho Leng-hong tak bisa bersuara lagi, ia merasa timbul hawa dingin dalam lubuk
hatinya, rasanya seperti terjerumus ke gudang es.
Perempuan itu sungguh terlalu lihay, segala sesuatunya telah diatur secara cermat dan
rapi, apa lagi yang dapat dikatakannya?
Agaknya Pang Wan-kun dapat menebak isi hatinya, kembali ia berkata, “Pepatah
kuno mengatakan: menjadi suami isteri dalam semalam, selamanya terkenang tak
terlupakan. Kita adalah suami isteri, tak mungkin kucelakai dirimu.”
Ho Leng-hong termenung agak lama, kemudian menghela napas panjang, katanya,
“Beri tahukan padaku, sesungguhnya siapa kau? Golok Yan-ci-po-to telah
kaudapatkan, apa lagi yang kauinginkan?”
Sambil tersenyum Wan-kun mentowel pipinya lalu berbisik lirih, “Aku bernama
Pang Wan-kun, kau bernama Nyo Cu-wi, aku adalah isterimu dan kau adalah
suamiku, sekarang demikian, besokpun begitu. Sebagai seorang isteri, kecuali
memikirkan suami sendiri, apa lagi yang perlu dipikirkan?”
Ucapan ini penuh nada kasih sayang, tapi bagi pendengaran Ho Leng-hong cukup
mendirikan bulu kuduknya.
“Kita suami isteri sudah bicara cukup lama,” kata Wan-kun kemudian, “sedang
Toako masih sibuk menggali pusaka di luar sana, sepantasnya diundang masuk untuk
beristirahat.”
jilid 4
Tidak menunggu jawaban Leng-hong dia lantas berteriak dengan nyaring, “Peng-ji!”
Seorang genduk cilik bermuka bulat lari masuk ke kamar, “Hujin memanggil
hamba?” tanyanya.

“Beri tahukan kepada Kuloya, katakan Tuan sudah sadar dan mengundang beliau
kemari, jangan menggali terus menerus!”
Ho Leng-hong kenal genduk yang bernama Peng-ji itu adalah babu pekerja kasar di
situ, orangnya rada bodoh dan cara bekerjanya agak lambat, mungkin lantaran Bwe-ji
dan Siau Lan mati secara beruntun, maka ia ditaruh di sana untuk melayani segala
keperluan.
Kini Leng-hong tak berani memandang rendah seorang babu bodoh lagi, sebab kalau
Pang Wan-kun memilihnya sebagai orang kepercayaan, sudah tentu orang itu
merupakan pembantu yang telah dipersiapkan.
Siapapun tak tahu ada berapa banyak orang yang telah ia siapkan dalam Thian-pohu?
kalau ditinjau dari keadaannya, jelas jumlahnya tidak sedikit, sebab kalau tidak
demikian tak mungkin ia bisa membinasakan Bwe-ji dan Siau Lan sementara ia
sendiri masih berani tinggal di situ.
Tiba-tiba Leng-hong merasa kekuatannya terlalu kecil dan menyendiri, kecuali Pang
Goan rasanya tak seorangpun yang bisa dipercaya lagi, sebaliknya Pang Goan baru
dikenalnya belum lama, mungkinkah ia akan percaya pada perkataannya?
Makin dipikir, rasa percaya pada diri sendiri makin hilang, akhirnya ia berbaring
dengan lemas.
Tak lama kemudian, Pang Goan masuk dengan langkah lebar, begitu bertemu ia
lantar berkata dengan menyesal, “Akulah yang salah dan akulah yang teledor, yang
kuperhatikan waktu itu Cuma mengejar si pembunuh, mimpipun tak kuduga di dalam
taman telah bersembunyi pula seorang musuh. Jit-long, cepat beri tahukan padaku,
macam apakah tampang orang itu?”
Baru saja Leng-hong hendak menjawab, Wan-kun yang berada di sampingnya segera
mendahului, “Waktu itu dia terluka, mana bisa memperhatikan tampang lawannya?
Tapi beruntung aku dapat melihatnya, Cuma orang itu mengenakan kerudung hitam,
jadi sukar untuk mengenalinya.”
“Walaupun tampangnya sukar dikenali, paling sedikit kan bisa membedakan
lelakikah dia atau perempuan? Bagaimana pula dandanannya?”
“Toako, bukankah sudah kukatakan padamu, seorang laki-laki, berperawakan tinggi
besar dan memakai pakaian malam berwarna hitam . . . . .”
“Bisa jadi kau tidak jelas melihatnya, aku perlu tanya sendiri kepada Jit-long.
Sudahlah, kau jangan menimbrung saja,” kata Pang Goan.
Wan-kun tidak menghiraukan, katanya pula sambil tersenyum, “Baiklah, tanyalah
sendiri kepadanya, Cuma jangan lupa, lukanya tidak enteng, banyak bicara bisa
mengganggu kesehatannya.”
“Aku mengerti, bila laki-laki sedang membicarakan soal yang serius, lebih baik kaum
wanita jangan banyak menimbrung!”

Senang hati Leng-hong demi mendengar perkataan itu, meski ucapan itu hanya
merupakan omelan seorang kakak terhadap adiknya, tapi bagi pendengaran Lenghong
pada saat ini justru terasa cocok.
Akan tetapi, waktu sinar matanya berbentur dengan senyum yang menghiasi ujung
bibir Pang Wan-kun, hatinya kembali menjadi dingin.
Sepintas lalu senyuman itu kelihatan seperti lembut dan penurut, padahal justru
melambangkan kebanggaan serta keyakinan pada diri sendiri.
Ya, jika ia tidak penuh keyakinan, mungkinkah Pang Goan diizinkan bertemu
dengannya?
Ho Leng-hong merasa dirinya ibarat binatang buas dalam rombongan sirkus,
meskipun punya taring dan cakar yang tajam, tapi harus tunduk pada cambuk sang
pawang, ia harus bermain di depan penonton menurut kehendak pawang.
Dan perempuan yang menyaru sebagai Pang Wan-kun ini tak lain adalah seorang
pawang yang lihai.
Jelas Pang Goan bukan seorang penonton yang cermat, dengan tak sabar ia lantas
bertanya, “Jit-long, coba bayangkan kembali kejadian waktu itu, kemudian beritahu
padaku dengan saksama, manusia macam apakah dia itu? Apa yang kalian alami? Dan
cara bagaimana ia melukai dirimu?”
Leng-hong tarik napas panjang-panjang, lalu tertawa getir, “Apa yang dikatakan
Wan-kun memang benar, orang itu memakai baju warna hitam, berperawakan tinggi
besar dan mengenakan cadar hitam, jadi tampangnya tidak kelihatan.”
“Cara bagaimana kaupergoki dia?”
“Setelah berpisah di tepi hutan tadi, aku merasa gerak-gerik Bwe-ji dan Siau Lan
sangat mencurigakan, agaknya mereka seperti sudah tahu ada yang mengintip
perbuatannya, maka sengaja ditanamnya sebilah golok biasa di situ, padahal
kedatangan Lotoako lebih awal dari mereka, tak mungkin jejakmu bakal ketahuan,
maka aku lantas mencurigai mereka bukan memakai benda itu untuk menipu musuh
melainkan sebagai tanda bagi komplotannya dengan tujuan tertentu.”
“Ehm, benar juga dugaanmu,” Pang Goan manggut-manggut.
“Maka sekembalinya ke dalam hutan, aku berjaga-jaga di dekat liang, betul juga, tak
lama kemudian kulihat ada orang menyusup ke dalam hutan dan menggali liang itu.”
“Bukankah isi liang itu Cuma sebilah golok biasa?”
Leng-hong menghela napas, “Ai, Lotoako! Kita sudah tertipu, di bawah golok itu
justru tersimpan golok mestika Yan-ci-po-to yang kita cari itu.”
“Ah!” mencorong sinar mata Pang Goan, tubuhnya tergentar karena emosi, “sungguh

siasat mengelabuhi lawan yang amat sempurna!”
Diam-diam Leng-hong melirik Pang Wan-kun, perempuan itu kelihatan sedang
mendengarkan pembicaraan mereka dengan tersenyum.
“Jit-long, bukannya aku ingin menegurmu,” kata Pang Goan kemudian, “jika golok
mestika Yan-ci-po-to sudah kau temukan, semestinya kau melihat gelagat pada waktu
itu, bila tidak yakin dapat mengatasinya, kenapa tidak berteriak saja agar orang itu
dikepung.”
Leng-hong tertawa getir, “Waktu itu musuh berada di pihak yang terang dan aku di
pihak yang gelap, sebenarnya sudah kucegat dia, tak kusangka bangsat itu sangat
licin, dengan berpura-pura hendak mengembalikan golok itu kepadaku, tiba-tiba saja
suatu serangan dilancarkan, aku hendak berteriak, tapi sudah terlambat.”
“Benar,” sambung Wan-kun cepat, “ketika mendengar teriakan Jit-long, buru-buru
kususul ke situ, siapa tahu bukan saja licik dan cerdik orang itu ilmu silatnya juga
lihay, akupun gagal untuk mengalangi larinya.”
“Kalau begitu Yan-ci-po-to telah dicuri dari Thian-po-hu, sedang kita tak tahu siapa
musuhnya,” keluh Pang Goan sambil menghela napas.
“Tak bisa diragukan lagi, orang itu pasti utusan Hu-yong-sia dari Leng-lam,” kata
Wan-kun.
“Darimana kautahu perbuatan ini dilakukan pihak Hiang-in-hu dari Hu-yong-sia?”
“Hanya Hiang-in-hu yang mempunyai alasan untuk melakukan pencurian, dan hanya
pihak mereka yang mempunyai kemampuan berbuat demikian, untuk menjaga nama
baik Thian-he-te-it-to (golok nomor satu di dunia) jangan sampai terjatuh ke tangan
orang lain, dengan segala tipu daya mereka berusaha mendapatkan golok mestika kita
ini.”
“Tidak mungkin! Hiang-in-hu dari Leng-lam bukan manusia semacam itu, sekalipun
mereka ingin menjaga agar nama baik Thian-he-te-it-to jangan sampai terjatuh ke
tangan orang lain, tak nanti mereka lakukan tindak pencurian ini,” kata Pang Goan
sambil menggeleng.
“Kenapa?” tanya Leng-hong tercengang.
Ia selalu beranggapan Hiang-in-hu adalah satu-satunya musuh tangguh dari Thianpo-
hu, bahkan memastikan perempuan yang menyaru sebagai Pang Wan-kun ini
adalah mata-mata yang dikirim dari Hiang-in-hu, maka setelah mendengar perkataan
Pang Goan sekarang, ia menjadi heran.
Kalau bukan Hiang-in-hu yang menjadi dalangnya, lantas siapa yang berdiri di
belakang layar peristiwa pencurian ini?
Dengan wajah serius Pang Goan berkata lagi, “Thay-yang-to (si golok matahari) Hui
Pek-ling dari Hiang-in-hu meski berwatak agak berangasan, tapi jujur dan lurus, dulu

ketika Thian-po-hu berhasil merebut gelar itu dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe, belum
pernah timbul maksud Hui Pek-ling untuk mencuri golok mestika itu, buat apa ia
mesti menunggu sampai sekarang? Selain itu, kalian jangan lupa, ketika gelar Thianhe-
te-it-to didapatkan oleh Hiang-in-hu, merekapun tidak memiliki senjata mestika,
kalau tanpa golok mestika saja Hui Pek-ling berhasil mendapatkan kemenangan, buat
apa ia lakukan perbuatan rendah itu sekarang?”
“Tapi, bukankah Lotoako pernah berkata seandainya golok Yan-ci-po-to sampai
didapatkan orang she Hui itu, akan lebih sulit bagi kita untuk mengalahkan dia?”
“Aku hanya kuatirkan bila golok mestika itu didapatkan olehnya, bukan mengatakan
ia bakal mencuri golok mestika tersebut!”
“Tapi, apa pula bedanya?”
“Tentu saja ada bedanya. Dengan kepandaian silat Hui Pek-ling, Nyo-keh-sin-to dan
Keng-hong-kiam-hoat dari Cian-sui-hu masih belum sanggup menandinginya, yang
menjadi tumpuan harapan kita, selain ilmu To-kiam-hap-ping-tin, dengan golok Yanci-
po-to di tangan sedikit banyak juga ada manfaatnya, tapi jika golok mestika itu
sampai terjatuh ke tangan Hui Pek-ling, hal ini sama artinya dengan merugikan kita
dan menambah keuntungan bagi lawan.”
“O, jadi maksud Lotoako, tak mungkin Hui Pek-ling yang menjadi otak dari
pencurian ini, tapi bila si pencuri mempersembahkan golok mestika itu kepadanya,
Hiang-in-hu tentunya tak akan menolak pemberian tersebut?”
“Demikian halnya, bila seorang menjadi terkenal karena ilmu goloknya, siapakah
yang tidak berharap akan bisa mendapatkan golok mestika?”
Ho Leng-hong tak bicara lagi, karena pengetahuannya tentang Hiang-in-hu amat
terbatas.
Pang Wan-kun yang sejak tadi hanya diam saja, tiba-tiba malah bertanya, “Tapi,
kecuali Hiang-in-hu, siapa lagi yang mempunyai ingatan untuk mencuri golok
tersebut? Dan lagi, siapakah yang mempunyai keberanian untuk berbuat demikian?”
Pang Goan menggeleng kepala, “Justru soal inilah yang harus kita selidiki, bila
ditimbang atas dasar keterangan yang kalian berikan, ilmu silat pencuri itu pasti lihay
sekali, sepantasnya mereka bukan manusia tak bernama. Siapa tahu kalau tujuannya
mencuri golok mestika itu bukan ingin diberikan kepada Hiang-in-hu melainkan
hendak dipergunakan sendiri untuk merebut gelar Thian-he-te-it-to dalam pertemuan
Lo-hu-to-hwe yang akan datang?”
“Wah, jadi kalau begitu setiap orang yang belajar ilmu golok di dunia ini harus
dicurigai?” kata Wan-kun.
“Jumlah orang yang belajar ilmu golok di dunia ini memang banyak, tapi yang pantas
muncul dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe Cuma beberapa orang saja, kita pasti berhasil
menyelidikinya.”

“Toako jangan terlalu percaya kepada orang,” kata Wan-kun sambil angkat bahu,
“menurut dugaanku, si pencuri golok itu tak mungkin orang lain, seratus persen pasti
perbuatan pihak Hiang-in-hu.”
Tapi Pang Goan masih tetap menggeleng tidak percaya, tapi ia tidak melanjutkan
perdebatannya.
Dengan tercengang Ho Leng-hong mengawasi perempuan itu beberapa saat, pikirnya,
“Heran, mengapa ia berkeras menuduh Hiang-in-hu sebagai pencuri golok? Untuk
menghilangkan jejak bila diselidiki Pang Goan? Atau karena ada tujuan lain?”
Rupanya Pang Wan-kun merasakan juga perkataannya terlampau menyolok, sambil
tertawa katanya lagi, “Bagaimanapun juga golok mestika itu sudah hilang, terjatuh di
tangan siapa pun pasti tidak menguntungkan kita, kukira yang harus kita lakukan
sekarang adalah bagaimana caranya melacaki pencuri itu, apakah Toako sudah
mempunyai perhitungan?”
Pang Goan termenung sebentar, lalu jawabnya, “Jika benda itu sudah keluar dari
Thian-po-hu, penyelidikan agak sukar dilakukan, apalagi mata-mata yang ada di sini
sudah terbunuh, sedang musuh di luar sukar diselidiki, hal ini memang sulit untuk
dilakukan.”
“Lotoako, sewaktu kau mengejar pembunuh itu, apakah tiada titik terang yang
kautemukan?” Leng-hong coba bertanya.
“Sungguh memalukan sekali, waktu itu cuaca gelap dan lagi orang itu sangat apal
dengan jalan dalam gedung ini, mungkin bahu kirinya berhasil kulukai, tapi ia masih
dapat kabur dengan membawa luka.”
Ho Leng-hong lantas teringat pada luka di bahu kiri Pang Wan-kun ketika hendak
menggali golok mestika dalam hutan malam itu, jelas dia pembunuh Bwe-ji dan Siau
Lan.
Tentu saja ia lebih apal jalan-jalan dalam gedung ini daripada Pang Goan, setelah
membunuh Bwe-ji dan Siau Lan, ia sengaja memancing Pang Goan ke ruang depan,
sementara ia sendiri putar balik ke belakang untuk menggali golok mestika itu.
Waktu itu dia pasti menyaru sebagai seorang pria, dengan begitu Pang Goan dapat
dikelabuhi. Dan tak salah lagi, tentu dia otak pencurian golok mestika . . . . .
Berpikir demikian, Ho Leng-hong merasa darahnya mendidih, kalau bisa semua
rahasia itu hendak dibongkarnya pada saat itu juga. Tapi segera ia berpikir lebih
lanjut, perempuan ini licik sekali, kalau tak dapat menemukan buktinya lebih dulu,
hanya bicara saja tak ada gunanya, malah bila usaha ini gagal, kemungkinan besar
Pang Goan akan ikut dicelakai olehnya, maka ia memutuskan untuk membungkam
lebih dulu, nanti kalau luka di bahunya sudah terlihat jelas barulah semua kejadian
akan diungkap.
Berpikir sampai di sini, ia lantas pura-pura menghela napas, katanya, “Sayang ia

berhasil kabur dari sini, bila salah seorang bisa tertangkap hidup-hidup, tak sulit
rasanya untuk menyelidiki keadaan yang sebenarnya.”
“Aku mempunyai akal bagus, entah bisa digunakan atau tidak?” tiba-tiba Pang Wankun
mengusulkan.
“Coba katakan!” ucap Pang Goan.
“Kupikir, jika pembunuh Bwe-ji dan Siau Lan itu sedemikian apal dengan jalanan
dalam Thian-po-hu, kemungkinan besar dia adalah anggota Thian-po-hu sini, atau
mungkin juga salah seorang di antara sahabat Jit-long.”
“Em, mungkin juga!” Pang Goan manggut-manggut.
“Sekalipun dalam kegelapan Toako tak sempat melihat jelas raut wajahnya, tapi
serangan yang kau lancarkan pasti akan meninggalkan bekas di atas tubuhnya, kenapa
tidak kita kumpulkan segenap penghuni di sini untuk diadakan pemeriksaan. Barang
siapa yang bahu kirinya kedapatan terluka, dia itulah yang pantas dicurigai.”
Pang Goan berpikir sebentar, lalu katanya, “Meskipun cara ini adalah cara yang
bodoh, tapi tak ada salahnya untuk dicoba, Cuma . . . penghuni gedung ini dapat kita
periksa, bagaimana pula dengan sahabat-sahabat Jit-long?”
“Ah, itu kan soal gampang,” kata Wan-kun sambil tertawa, “terhadap penghuni
gedung kita lakukan pemeriksaan terang-terangan, sedangkan terhadap kawan Jit-long
kita lakukan pemeriksaan secara diam-diam, asal Toako tampil sendiri dan
mengunjungi rumah mereka satu persatu, lalu memaksa mereka membuka pakaian
untuk membuktikan kebersihan dirinya, siapa yang berani menolak?”
“Tidak bisa, kita tak boleh berbuat demikian,” Pang Goan menggeleng kepala,
“meskipun mereka bukan ksatria sejati, jelek-jelek mereka itu adalah teman Jit-long,
di wilayah Kwan-lok ini juga ada nama dan kedudukan, kupikir cara demikian agak
kelewat batas.”
“Kalau begitu, gunakanlah waktu di tengah malam buta, pada waktu semua orang
sudah tidur penyelidikan ini dilakukan, dalam keadaan begini, barang siapa terluka
tentu tak bisa menutupi dirinya lagi.”
“Bagaimanapun kukira cara ini kurang baik, kita tak boleh kehilangan golok mestika,
lebih-lebih tak boleh sampai ditertawakan orang, sekarang akan kuperiksa dulu semua
orang dalam gedung ini, jika tidak menghasilkan sesuatu baru kita adakan
pembicaraan lebih lanjut.”
Selesai berkat, ia lantas bangkit dan berlalu.
Setelah bayangan tubuh Pang Goan sudah pergi jauh, tiba-tiba Wan-kun tertawa
dingin, lalu gumamnya, “Sungguh tak kusangka si monyet Pang yang biasanya
sombong, sekali ini juga agak tahu aturan.”
“Kau tahu cara ini tak akan menghasilkan apa-apa, kenapa kau suruh dia berbuat

demikian?” tanya Leng-hong.
“Siapa bilang tak akan berhasil?” sahut Wan-kun dengan kening berkerut, “asal ia
bersedia melakukan penyelidikan, pasti akan diperoleh hasil yang diinginkan.”
“Jangan-jangan kau tahu siapa yang terluka bahu kirinya?”
Wan-kun tertawa, “Bukan cuma aku yang tahu, mestinya kaupun dapat menduga
sampai ke situ.”
“Oya?! Siapakah dia?”
“Kecuali Thian Pek-tat, siapa lagi?”
Ho Leng-hong jadi melenggong.
Benar juga perkataan ini, sejak peristiwa di rumah pelacuran Hong-hong-wan sampai
tercurinya golok Yan-ci-po-to, dalam setiap peristiwa yang terjadi, Thian Pek-tat
adalah orang yang paling mencurigakan, tapi sekalipun Thian Pek-tat benar-benar
seorang mata-mata musuh, seharusnya ia segolongan dengan Pang Wan-kun,
mengapa perempuan ini malah membongkar rahasianya?
Jangan-jangan mereka bukan sekomplotan?
Mungkin mereka hanya mempunyai tujuan yang sama?
Atau karena mereka sudah menemui jalan buntu maka Pang Wan-kun menggunakan
siasat “pinjam golok membunuh orang” untuk melenyapkan Thian Pek-tat dan
menghilangkan saksi?
Ho Leng-hong merasa persoalan ini makin lama makin bertambah ruwet, hakikatnya
membuat orang bingung dan tidak habis mengerti . . . .
Cuma, berhubung Pang Wan-kun ada niat untuk mencelakai Thian Pek-tat, hal ini
menimbulkan setitik harapan bagi Ho Leng-hong.
Harapan itu adalah . . . , kemungkinan besar golok Yan-ci-po-to belum meninggalkan
gedung Thian-po-hu.
Usaha Pang Goan untuk mencari orang yang terluka bahu kirinya tentu saja tidak
mendatangkan hasil apa-apa.
Tapi, lantaran ia harus memeriksa semua Busu yang ada di dalam gedung, Pang Goan
berhasil menemukan sesuatu hasil di luar dugaan.
Menurut laporan para Busu yang melakukan penjagaan pada malam itu, jumlah
peronda yang berjaga di sekitar gedung malam tersebut lebih banyak satu kali lipat
daripada biasanya, semua orang menyatakan tidak ditemukan seorang manusiapun
yang keluar-masuk dari Thian-po-hu.

Hari itu Ho Leng-hong telah berpesan kepada anak buahnya agar tidak mengizinkan
siapapun keluar, maka para Busu yang melakukan perondaan dilipatkan jumlahnya,
jadi seandainya ada orang meninggalkan gedung, hal ini tak mungkin bisa
mengelabuhi para Busu.
Penemuan tak terduga ini justru cocok dengan analisa Ho Leng-hong, terbukti bahwa
Yan-ci-po-to meski sudah dibawa keluar oleh Pang Wan-kun dari dalam hutan, tapi
berhubung tergesa-gesa, dan lagi tak ada pembantu, golok tersebut belum sempat
diselundupkan keluar gedung.
Asal Yan-ci-po-to masih berada dalam Thian-po-hu, berarti setiap saat bisa
mengalami perubahan.
Sayang luka di lambung Leng-hong belum sembuh dan harus berbaring di atas
pembaringan, jadi ia tak ada kesempatan untuk mengadakan pertemuan empat mata
dengan Pang Goan.
Selama tiga hari beruntun Pang Wan-kun tak pernah meninggalkan sisi Leng-hong,
meskipun dengan alasan menemani, yang jelas adalah mengawasi gerak-geriknya.
Untuk menyelidiki jejak golok mestika, keadaan Pang Goan ibaratnya semut dalam
kuali panas, sejak pagi hari ia sudah keluar rumah, bila malam tiba baru kembali,
daerah sekitar Kwan-lok hampir telah dijelajahinya, bahkan para Busu dalam jumlah
yang besar pun dikirim keluar untuk mencari berita.
Tiga hari sudah lewat, namun tiada sesuatu yang berhasil didapatkan.
Pagi itu, dengan wajah yang lelah dan kusut Pang Goan pulang dari bepergian,
sekilas pandang saja dapat diketahui bahwa semalam suntuk ia tak tidur.
Lama kelamaan Ho Leng-hong menjadi tak tega sendiri, segera hiburnya, “Lotoako,
tak usah terlampau bersusah payah, sekalipun tanpa golok mestika Yan-ci-po-to kita
tetap mempunyai harapan untuk mengalahkan Hiang-in-hu, bukankah Hui Pek-ling
juga berbuat yang sama ketika itu?”
Pang Goan geleng kepala berulang kali, katanya, “Walaupun begitu, dengan
hilangnya golok mestika, aku merasa bersalah kepada kakakmu, dan lagi aku tidak
rela menyerah sampai di sini saja.”
“Apa yang kaumaksudkan dengan tidak rela?” tanya Wan-kun.
“Selama beberapa hari ini, bukan saja ratusan li di sekitar Kwan-lok telah kujelajahi,
akupun telah minta bantuan orang Kay-pang untuk membantu usahaku, tapi kabar
berita tentang golok Yan-ci-po-to itu seolah-olah tenggelam di dasar samudra, berita
sedikitpun tak ada. Masakah golok itu punya sayap dan bisa terbang sendiri?”
“Padahal masalah itu bukan masalah yang harus diselesaikan dengan segera, siapa
tahu kalau golok itu masih . . . .”
Rupanya Pang Wan-kun sudah menduga apa yang hendak dikatakan olehnya, buruKoleksi
Kang Zusi
buru ia menambahkan, “Benar, siapa tahu golok itu tidak terbang melainkan
disembunyikan orang, semakin cemas kaulakukan penyelidikan, semakin tak berani
berkutik pencuri golok itu. Wah, kalau begitu, jejaknya makin susah dicari lagi.”
Pang Goan manggut-manggut, “Aku telah memikirkan juga kemungkinan ini,
ditinjau menurut keadaan sekarang, rasanya golok itu memang belum meninggalkan
wilayah Kwan-lok, bahkan belum meninggalkan gedung Thian-po-hu.”
“Ada seorang yang paling cepat memperoleh berita tentang kejadian di sekitar Kwanlok,
kenapa Toako tidak mencarinya?”
“Siapa?”
“Thian Pek-tat! Dia adalah kawan Jit-long yang bergelar Tiang-ni-siau-thian (Thian
kecil si telinga panjang).”
“O, dia kiranya!”
“Toako jangan pandang rendah orang itu, di adalah orang yang paling luas
pergaulannya di wilayah Kwan-lok, baik urusan kecil maupun urusan besar, ia selalu
mengetahui dengan cepat, siapa tahu dari mulutnya Toako akan mendapat petunjuk?”
“Aku sudah ke sana, sayang ia tak ada di rumah.”
“Tak ada di rumah? Ke mana ia pergi?”
“Konon sekembalinya dari sini, Thian Pek-tat telah diundang seorang temannya pergi
ke Lan-hong, dan hingga kini belum pulang.”
“Oya?! Masa ada kejadian yang begitu kebetulan? Toko, jangan-jangan kau
dibohongi orang!”
“Tidak mungkin, telah kuselidiki sendiri ke rumahnya, Thian Pek-tat memang tidak
berada di rumah.”
“Wah, ini baru mengherankan, kenapa ia tidak pergi sejak dulu atau pergi beberapa
hari lagi, tapi justru setelah Yan-ci-po-to dicuri orang baru dia pergi meninggalkan
rumah”
“Wan-kun, jangan berkata demikian,” kata Leng-hong, “Siapa tahu kalau secara
kebetulan dia ada urusan . . . .”
“Ah, kau ini suka membela teman-temanmu,” omel Wan-kun.
Setelah berhenti sejenak, katanya kepada Pang Goan, “Toako, jelas kejadian ini
sangat mencurigakan, siapa tahu kalau golok mestika Yan-ci-po-to sudah dibawa
kabur oleh orang she Thian itu?”
Pang Goan tertegun, katanya kemudian sambil tertawa, “Hal ini tak mungkin terjadi,
dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan mereka meninggalkan Thian-po-hu,

jangankan golok mestika, sebilah pisau pun ia tidak membawanya.”
“Apakah ia tak bisa menerima golok itu setelah berada di luar gedung, lalu
membawanya kabur dari wilayah Kwan-lok?”
“Waktu keluar ia tidak membawa golok, orang dalam gedung juga tak ada yang
keluar pintu, bagaimana caranya golok itu dioperkan kepadanya?”
“Misalnya saja malam itu ia sembunyikan golok mestika tersebut di sekitar dinding
pekarangan, sedang ia sendiri tidak keluar, lalu keesokan harinya meninggalkan
gedung dengan tangan hampa, setelah penjagaan agak kendor ia balik lagi untuk
mengambil golok, dengan demikian siapa yang akan menduga bahwa golok itu dicuri
olehnya?”
Air muka Pang Goan berubah hebat, “Ya, mungkin juga . . . .”
“Tidak mungkin!” tukas Leng-hong mendadak.
Pang Goan berpaling dan memandangnya dengan tercengang. Sebaliknya air muka
Pang Wan-kun tampak dingin, terlihat jelas betapa gemas perempuan itu.
Tapi Leng-hong pura-pura tidak melihat, pelahan katanya, “Kita jangan lupa,
pembunuhan yang terjadi atas Bwe-ji dan Siau Lan serta penggalian golok mestika
dalam hutan hakikatnya adalah dua orang yang berbeda, setelah kejadian itu, seorang
kabur ke ruang depan sedang yang lain kabur dari taman, lagipula orang yang
menggali golok dalam hutan adalah seorang berkerudung yang berperawakan tinggi
besar, Thian Pek-tat tidak terhitung tinggi besar.”
Padahal jelas diketahui Ho Leng-hong bahwa pembunuh Bwe-ji dan Siau Lan serta
orang yang menggali itu adalah perbuatan Pang Wan-kun seorang, kendatipun ia tidak
berkesan baik terhadap Thian Pek-tat, namun entah apa sebabnya ia lebih suka
membela orang itu.
Mungkin juga hal ini dikarenakan dia ingin membalas dendam kepada Pang Wankun!
Tiba-tiba saja ia merasa muak dan sebal terhadap perempuan yang pernah
mempunyai hubungan mesra dengannya itu, betapa gembiranya apabila dia dapat
memancing kegusaran dan kebencian perempuan itu.
Pang Wan-kun benar-benar telah dibikin gusar oleh perkataan itu, tapi ia masih
berusaha untuk menekan hawa amarahnya agar jangan meledak, ia tertawa, katanya
kemudian, “Sebagai kawan sekomplot, masa tak mungkin yang satu
menyembunyikan golok, sedang yang lain membawa pergi?”
“Kalau demikian, itu berarti manusia berkerudung yang menyembunyikan golok itu
masih ada dalam Thian-po-hu, kita harus mengadakan pemeriksaan terhadapnya,”
kata Leng-hong.
Dengan gemas Pang Wan-kun mendengus, “Hm, kaukira Thian-po-hu adalah

benteng yang dilapisi dinding baja yang kuat, kauanggap keterangan para Busu itu
bisa dipercaya? Masa tidak mungkin mereka sengaja berkata begitu untuk mengelak
tanggung jawab?”
“Andaikata manusia berkerudung itu mampu masuk keluar gedung Thian-po-hu
dengan sekehendak hatinya, buat apa ia sembunyikan golok itu lebih dulu dan
kemudian baru mengoperkannya kepada Thian Pek-tat? Bukankah tindakannya ini
sama sekali tak ada gunanya?”
“Aku tidak mengatakan Thian Pek-tat telah berhasil membawa lari golok mestika itu,
aku hanya mengemukakan kemungkinan yang bisa terjadi?”
“Akupun hanya berbicara menurut apa yang terjadi, kurasakan hal ini tidak mungkin
. . . .”
“Cukup, cukup!” seru Pang Goan sambil mengulapkan tangan, “kita lagi
merundingkan masalah penting, tidak perlu saling ngotot. Bagaimanapun hilangnya
Thian Pek-tat cukup mencurigakan dan perlu diselidiki, aku dapat membereskan hal
ini.”
“Kalau ingin bekerja harus dilaksanakan secepatnya, sebab kalau semakin berlarut
dan lukanya telah sembuh, sulitlah untuk mencari buktinya.”
“Aku tahu, tapi kaisar tak akan mengirim tentara yang kelaparan, Siaumoay, tolong
sediakan sayur dan arak untuk Toako, setelah kenyang baru Toako bisa bekerja
dengan baik.”
“Baik, akan kusuruh Peng-ji menyiapkan hidangan . . . .”
“Siaumoay,” kembali Pang Goan tertawa, “tolong siapkan sendiri bagiku, sudah lama
aku tidak merasakan kuah lobakmu, mau bukan bikinkan buat Toako?”
Pang Wan-kun agak ragu, tapi Leng-hong segera menyela, “Betul, kuah lobak Wankun
memang sangat nikmat, tak mungkin koki bisa menyiapkan hidangan selezat itu.”
Rupanya pemuda itu sengaja membonceng, dengan berkata demikian maka Wan-kun
tak bisa menolak lagi, bila hidangnya nanti kurang enak hal ini sama membongkar
rahasia sendiri.
Tentu saja, yang lebih penting adalah menyingkirkan perempuan itu dari hadapannya
agar ia bisa berbicara empat mata dengan Pang Goan.
Wan-kun bukan orang bodoh, tentu saja ia dapat menduga tujuannya, tapi ia tidak
menolak sambil tertawa iapun beranjak.
“Sudah lama aku tak pernah turun ke dapur, biarlah kucoba, bila masakanku nanti
kurang sedap harap jangan ditertawakan.”
Lalu sambil melirik sekejap ke arah Ho Leng-hong, katanya lagi, “Jit-long, terlalu
banyak bicara bisa mengganggu kesehatan, bila ingin cepat sembuh lebih baik

beristirahatlah dengan tenang dan jangan banyak bicara.”
“Jangan kuatir, aku bisa menjaga diriku sendiri,” kata Leng-hong sambil tertawa.
Pang Goan tidak buka suara, diawasinya Wan-kun sampai keluar villa, tiba-tiba
keningnya berkerut dan mukanya menunjukkan suatu perubahan yang sangat aneh.
Leng-hong menarik pula senyumnya, lalu tanyanya lirih, “Lotoako, ada sesuatu yang
tak beres?”
“O, tidak apa-apa,” sahut Pang Goan sambil menggeleng, “aku hanya heran, berapa
tahun tidak berjumpa ternyata kalian telah berubah semua.”
Terkesiap hati Leng-hong, “Kami? Maksud Lotoako aku ataukah Wan-kun?”
“Keduanya!” sahut Pang Goan, ditatapnya wajah Leng-hong lekat-lekat, lalu
terusnya, “kau berubah menjadi gesit, lebih cerdik, dan lebih jantan daripada dulu,
sekarang kau lebih mirip sebagai seorang laki-laki, sedang Siaumoay juga berubah
menjadi lebih cekatan.”
“Maksud Lotoako....”
“Dulu ia tak pernah turun ke dapur, iapun tidak pernah membuat kuak lobak atau
hidangan lain.”
Ho Leng-hong menarik napas, dan mulut melongo.
Sedetik itu tak dapat diketahui bagaimanakah perasaannya, entah kaget atau girang?
Harus mengaku ataukah harus menyangkal?
Si monyet Pang memang cerdik, jelas ia sudah menemukan titik kelemahan
perempuan yang menyaru sebagai Pang Wan-kun itu, maka sengaja dipakainya “kuah
lobak” sebagai pancingan.
Tapi, apakah iapun sudah tahu Nyo Cu-wi juga seorang gadungan pula? Kalau sudah
tahu, kenapa belum juga turun tangan? Kenapa nada ucapannya masih tetap tenang?
Seandainya dirinya bongkar semua ini, dapatkah orang mempercayainya? Apakah
orang takkan mencurigai dirinya sebagai komplotan perempuan yang menyaru
sebagai Pang Wan-kun . . . . . . ?
Perasaan Leng-hong waktu itu bagaikan benang kusut, kalut sekali pikirannya, dia
Cuma bisa mengawasi Pang Goan dengan termangu. Untuk sesaat ia tidak tahu apa
yang mesti dilakukannya.
Waktu itu, dengan sinar mata yang tajam Pang Goan sedang mengawasinya tanpa
berkedip, seakan-akan hendak menembus lubuk hatinya.
Lama dan lama sekali Pang Goan baru menghela napas panjang, bisiknya, “Jit-long,
kau adalah suaminya, masa sedikitpun tidak kaurasakan sesuatu yang mencurigakan?”

“Merasakan apa?”
“Dia adalah Wan-kun gadungan!” jawab Pang Goan sekata demi sekata.
“Oo?!” Leng-hong bersuara singkat.
“Sejak hari pertama kudatang kemari sudah kurasakan suaranya agak kurang beres,”
Pang Goan menerangkan, cuma waktu itu tidak terlampau kupikirkan, tapi selama
beberapa hari ini, makin kulihat tingkah laku dan cara bicaranya, aku semakin curiga,
barusan . . . . .
“Hati-hati, Lotoako!” Leng-hong memperingatkan dengan memondongkan mulut
keluar pintu.
Peng-ji, si dayang berdiri di luar dan sedang celingukan ke dalam ruangan.
Mencorong sinar mata Pang Goan, katanya dengan suara tertahan, “Apakah kau
berada di bawah ancamannya?”
Leng-hong menggoyangkan tangan berulang kali, “Persoalan ini sukar untuk
dibicarakan dengan sepatah dua kata, kalau Lotoako sudah mulai waspada, lebih baik
jangan tunjukkan dulu sesuat gerakan yang mencurigakan daripada memukul rumput
mengejutkan ular. Tengah malam nanti, harap kautunggu di kamar tamu, kita
bicarakan persoalan ini dengan lebih terperinci lagi . . . .”
Tiba-tiba Peng-ji mendorong pintu dan masuk ke dalam, menyusul kemudian Pang
Wan-kun diikuti dua orang pelayan masuk juga ke situ.
Kedua orang pelayan itu, yang satu membawa kotak bersisi makanan sedang yang
lain membawa guci arak dan cawan.
“Toako, maaf,” kata Wan-kun sambil tertawa, “kebetulan hari ini tak ada lobak di
dapur, terpaksa kusuruh mereka menghidangkan dulu daging dan kacang goreng
sebagai teman minum arak, tidak keberatan bukan?”
Pang Goan manggut-manggut, “Anggap saja aku memang tidak beruntung, kalau ada
arak dan makanan sekedarnya,mari sembari makan kita bercakap-cakap lagi.”
Ia berusaha bersikap sewajarnya, padahal dia memang merasa lapar sekali, harum
arak juga memancing nafsu makannya.
Pang Wan-kun turun tangan sendiri mengatur peralatan makan, bahkan menemani
pula di samping meja, sepanjang perjamuan berlangsung dia juga menuangkan arak,
mengambilkan sayur buat Pang Goan. Sikapnya bagaikan seorang adik yang sedang
melayani kakaknya.
Semua arak dan sayur diberikan kepada Pang Goan dicicipi dulu olehnya sebelum
diberikan.

Pang Goan menenggak dua cawan arak, kemudian katanya sambil tertawa,
“Siaumoay, mengapa kau tidak minum secawan?”
“Aku tidak biasa minum arak sepagi ini, lebih baik Toako minum sendiri.”
“Minum arak sendirian rasanya kurang berarti, Jit-long, bagaimana kalau temani
Lotoako minum dua guci arak?”
“Siaute menerima perintah!” sahut Leng-hong sambil bangun berduduk di
pembaringan.
Pang Wan-kun tidak mengalanginya, cuma pesannya dengan hambar, “Jangan
minum terlalu banyak, hati-hati lukamu belum sembuh!”
Kemudian ia turun tangan sendiri dan penuhi cawan Leng-hong dengan arak.
“Lotoako, kuhormati secawan arak kepadamu, mari minum!” kata Leng-hong sambil
mengangkat cawan.
“Jangan terburu nafsu,” cegah Pang Goan sambil menggoyang tangan, “lukamu
belum sembuh, jangan minum secara terburu nafsu, cicipi dulu.”
Ho Leng-hong menurut, sambil tertawa ia cicipi arak itu satu cegukan.
“Bagaimana rasanya arak ini?” tiba-tiba Pang Goan bertanya.
“Sedaap!”
“Bukankah sedikit kecut?”
“Arak ini adalah arak Li-ji-ang, biasanya memang terasa rada asam!”
“Kau keliru,” kata Pang Goan sambil menggeleng kepala, “arak ini rasanya tidak
kecut, tapi ada orang telah mencampuri arak ini dengan sesuatu, maka rasanya
menjadi begini.”
“Sungguh?” teriak Leng-hong dengan kaget.
“Kalau tidak percaya, kenapa tidak kautanyakan kepada Siaumoay?”
Sebelum Leng-hong mengajukan pertanyaannya dengan ketus Pang Wan-kun telah
berkata, “Benar, akulah yang mencampurkan San-kang-sah (pasir pembuyar tenaga ke
dalam arak ini).”
Suaranya dingin, kaku dan tenang, mukanya tidak merah, sikapnya tidak gugup,
seakan-akan mengakui bahwa dalam kuah telah ditambah beberapa minyak dan
kejadian itu bukan sesuatu yang diherankan.
Hampir saja Leng-hong melompat bangun dari tempat duduknya, dengan suara keras
ia berteriak, “Hei, apa maksudmu?”

“Tidak ada maksud apa-apa,” jawab Wan-kun dengan suara berat, “berhubung tenaga
dalam Toako sangat lihay, dan aku kuatir bukan tandingannya terpaksa aku mesti
mengadakan persiapan lebih dulu.”
“O, kau masih memanggil Toako padaku?” ejek Pang Goan sambil tertawa.
“Mengapa tidak? Aku adalah bininya Jit-long, sedang kau adalah kakak iparnya,
kalau kau tidak kupanggil sebagai Toako lantas mesti memanggil apa?”
Pang Goan sedikitpun tidak marah, dia mengangguk berulang kali, “Benar, panggilan
itu memang benar, sebagai saudara, ada persoalan apa boleh dibicarakan secara baikbaik,
kenapa mesti gunakan kekerasan?”
Sekali tenggak, kembali dia menghabiskan secawan arak.
“Lotoako, kau tak boleh minum terlampau banyak . . . . .” cegah Leng-hong dengan
cemas.
Pang Goan terbahak-bahak, “Hahaha . . . . pasir pembuyar tenaga akan segera bekerja
begitu masuk tenggorokkan, minum secawan atau sepuluh cawan tidak berbeda jauh,
apa salahnya kalau minum sampai mabuk lebih dulu?”
Ho Leng-hong melongo, tiba-tiba air mukanya berubah.
Meskipun hanya secegukan ia cicipi arak tersebut, tapi saat ini perutnya mulai terasa
aneh sekali, perutnya seolah-olah ditembusi oleh suatu benda sehingga timbul banyak
lubang, hawa murninya kontan menjadi buyar dan tak sanggup dihimpun kembali.
Pang Wan-kun tertawa dingin, dia penuhi kembali cawan Pang Goan dengan arak,
lalu katanya, “Meskipun apa yang Toako katakan memang benar, tapi ada baiknya Jitlong
jangan minum terlalu banyak, sebab minum arak terlalu banyak bisa
mendatangkan keburukan buat lukamu.”
“Hm, kau masih berpura-pura baik hati macam kucing menangisi tikus?” teriak
Leng-hong dengan marah, “Jika aku sampai mampus karena terluak parah, bukankah
hal ini akan memenuhi harapanmu?”
“Jit-long, jangan kau bicara tanpa berperasaan seperti itu,” tegur Pang Goan,
“bagaimanapun kalian adalah suami isteri, masa dia berharap kau lekas mati?
Seandainya kau benar-benar mati, kan ilmu To-kiam-hap-ping-tin tak bisa dilatih
lagi?”
“Betul!” puji Pang Wan-kun sambil tertawa, “Toako memang cerdas sekali, perasaan
orang lainpun dapat kaupahami.”
“Tapi sayang, To-kiam-hap-ping-tin berada dalam perutku, sekalipun kau dapat
membuyarkan hawa murniku, belum tentu bisa kaukorek keluar ilmu To-kiam-happing-
tin-hoat tersebut dari perutku.”

“Ah, apa susahnya? Aku mempunyai cukup waktu dan kesabaran, asal luka yang
diderita Jit-long telah sembuh, pelahan kita masih bisa merundingkannya lagi.”
Kemudian ia bertepuk tangan dua kali sambil berseru, “Pengawal!”
Dua orang pelayan yang mengantarkan santapan tadi segera muncul, Cuma kali ini
mereka tidak membawa arak melainkan menghunus golok panjang yang bersinar
gemerlapan.
“Kuloya telah mabuk, bawalah ke kamar tamu untuk beristirahat, layani dengan hatihati
dan sebaik-baiknya, jangan ayal.”
Kedua pelayan itu mengiakan, satu di kiri yang lain di kanan, segera mereka gusur
Pang Goan keluar.
Pang Goan sama sekali tidak melawan, malah sambil tertawa terkekeh ejeknya,
“Hehehe . . . Siaumoay, kenapa tidak dibicarakan sekarang juga? Kalau kaukatakan
jejak Wan-kun kepadaku, mungkin akupun akan mengungkapkan rahasia To-kiamhap-
ping-tin-hoat kepadamu.”
“Aku tidak terlalu terburu nafsu untuk mengetahui rahasia barisan itu,” jawab Pang
Wan-kun ketus, “lagipula waktu masih cukup banyak buat kami, kau masih mabuk,
lebih baik pulang kamar dulu dan beristirahat.”
“Betul juga,” Pang Goan manggut-manggut, “minum arak dengan perut kosong
memang gampang mabuk, Jit-long, lain kali kau musti ingat.”
Dua orang pelayan itu rata-rata bertubuh kekar dan bertenaga besar, sebaliknya Pang
Goan kurus lagi kecil, belum habis perkataannya, seperti burung elang mencengkeram
anak ayam, ia terus digusur keluar.
Benarkah It-kiam-keng-thian (pedang sakti penyanggah langit) dari Cian-sui-hu itu
harus keok di tangan seorang perempuan?
--------------------
Betapa sedih Leng-hong waktu itu, ia merasa segala sesuatu itu gara-gara
tindakannya, andaikata ia bongkar semua rahasia ini kepada Pang Goan semenjak
orang tiba di Thian-po-hu, tak mungkin akan timbul akibat seperti apa yang
dialaminya sekarang.
Ia dapat merasakan hingga detik itu Pang Goan masih menganggapnya sebagai Nyo
Cu-wi, sebab itu orang pun masih curiga kepadanya, kalau tidak, tak mungkin orang
menyuruh dia ikut minum arak yang telah dicampuri racun pembuyar tenaga itu.
Jelas Pang Goan berbuat demikian dengan maksud untuk menyelidiki apakah dia
berkomplot dengan musuh atau tidak, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa orang
menaruh curiga kepadanya. Kalau sudah demikian, dapatkah ia mengaku terus terang
siapa sebenarnya dirinya sendiri?

Sesungguhnya Ho Leng-hong adalah seorang luar yang dipaksa untuk melibatkan diri
dalam pertikaian ini, kini secara tiba-tiba ia merasa dirinya berhak pula untuk
membongkar duduknya persoalan ini hingga jelas, sebab hanya dengan demikianlah
bisa membuktikan kebersihannya.
Ia telah diubah oleh komplotan Pang Wan-kun gadungan menjadi Nyo Cu-wi, Pang
Goan sendiripun menganggap dia sebagai Nyo Cu-wi, maka sudah menjadi kewajiban
baginya untuk berjuang sampai titik darah penghabisan menghadapi kawanan
penjahat tersebut, kemudian baru berusaha mencari tahu jejak Nyo Cu-wi suami-isteri
yang sebenarnya serta menyelamatkan Pang Goan . . . .
Setelah mengambil keputusan, ia berlagak mengomel, “Wan-kun, bagaimana kau ini?
Kauminta aku merahasiakan urusan ini, sebaliknya kau sendiri malah menyiarkan
rahasia ini.”
Dengan dingin Wan-kun melotot ke arahnya, ejeknya, “Benarkah kau dapat
merahasiakan soal ini?”
“Tentu saja, aku telah menyanggupi permintaanmu, tak kusangka kau malah
mencampur sesuatu di dalam arak.”
Wan-kun tertawa, “Sebetulnya aku tak ingin turun tangan, tapi apa yang hendak
kauberitahukan kepadanya tengah malam nanti? Daripada kau yang mengungkapkan
persoalan ini, lebih baik aku membongkarnya sendiri.”
“O, jadi kau telah mendengar semua pembicaraan kami?” seru Leng-hong terkejut.
“Kalau tak ingin diketahui orang, kecuali tidak berbuat. Jangan kauanggap aku ke
dapur, lalu semua kejadian di sini bisa mengelabuhi diriku.”
Leng-hong tertawa jengah, “Padahal kau salah paham, justru lantaran ia mulai curiga
kepadamu, maka aku harus membaiki dia, aku malah sudah bersiap hendak mengajak
kau membicarakan soal ini secara pribadi serta mencari akal cara menghadapinya
malam nanti.”
“Benarkah itu? Bagaimana rencanamu untuk memberi penjelasan kepadanya?”
“Tentu saja aku tak akan mengakui kau ini gadungan, tentang kepandaian di dapur,
aku bisa mengatakan kepandaian itu dipelajari setelah kawin, lantaran aku suka
makan kuah lobak, maka . . . .”
“Cukup! Cukup!” sela Wan-kun sambil mengulapkan tangannya dengan tidak sabar,
“Jadi maksudmu kau bersedia bekerja sama denganku serta menurut semua
perintahku?”
“Benar! Aku sudah terlanjut basah, kecuali begitu tiada pilihan lain lagi.”
“Bagus sekali,” Wan-kun manggut-manggut, “sekarang akan kuserahi suatu tugas
kepadamu dan kau harus menyelesaikannya dengan baik.”

“Aku akan berusaha sebaik-baiknya.”
“Nasihatilah Pang-lotoa, suruh dia cepat-cepat membeberkan rahasia ilmu To-kiamhap-
ping-tin-hoat tersebut kepada kami.”
“Aku tentu akan menasihatinya, Cuma iapun mulai curiga kepadaku, mungkin ia
enggan membertahukan rahasia tersebut kepadaku.”
“Paling sedikit ia masih mengakui dirimu sebagai Nyo Cu-wi, tak ada salahnya kau
katakan bahwa Pang Wan-kun yang asli sudah berada di tanganku, seluruh gedung
Thian-po-hu juga berada dalam cengkeramanku, bila ia enggan memberitahukan
rahasia To-kiam-hap-ping-tin-hoat, maka Thian-po-hu dan Cian-sui-hu bakal lenyap
dari percaturan dunia persilatan.”
“Kalau begitu, nona ini dari Hiang-in-hu?” Leng-hong coba menyelidik.
Wan-kun tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya, “Kau kira kecuali Thian-po-hu
dan Cian-sui-hu, di dunia persilatan hanya tertinggal Hiang-in-hu saja yang paling
hebat?”
Leng-hong tertawa, “Habis nona datang dari nama? Siapa namamu? Paling sedikit
kau harus mengungkapkan hal itu kepadaku, agar aku ada alasan untuk menasihati
Pang-lotoa.”
Wan-kun termenung sebentar, katanya kemudian, “Jika kau ingin tahu, hanya empat
baik syair yang dapat kukatakan kepadamu, soal lain boleh kautebak sendiri.”
“Coba katakan!”
“Badan ramping tubuh lemah semangat tinggi, tinggalkan jarum belajar golok,
gemuruh guntur membangunkan orang tidur, baru tahu si perempuan adalah seorang
ksatria.”
----------------------
Pang Goan rebah di pembaringan dengan siku sebagai bantal, matanya terpejam dan
sikapnya adem ayem.
Habis mendengar keempat baik syair yang dibacakan oleh Ho Leng-hong, kontan
saja ia mendengus.
“Hmm, syair kentut anjing,” serunya mendongkol, “artinya tak lebih adalah orang
perempuan ingin berebut kedudukan dengan kaum pria, mengenai nama dan asalusulnya
hampir tidak disinggung satu kata pun.”
“Tapi paling tidak kan sudah diketahui bahwa dia bukan dari Hiang-in-hu.”
“Sejak pertama kali sudah kuketahui akan hal ini, sekarang akupun enggan mencari
tahu asal usulnya, aku hanya ingin tahu bagaimana nasib Siaumoay.”

Ho Leng-hong menghela napas panjang, “Dia hanya mengaku Wan-kun berada di
tangan mereka, sedang soal lain sama sekali tak disinggung.”
“Sebelum ia memberi pertanggungan jawab nasib Siaumoay, jangan harap akan
memaksa aku mengungkapkan rahasia To-kiam-hap-ping-tin.”
Tiba-tiba ia membuka matanya dan menatap Leng-hong lekat-lekat, “Kalian adalah
suami-isteri, masa isteri yang tiap hari tidur bersama ditukar orang juga tidak tahu?
Aku benar-benar tak habis mengerti, sesungguhnya kau ini terdiri dari darah daging
atau balok kayu?”
“Tepat sekali teguran Lotoako,” Ho Leng-hong menunduk kepala, “tapi
penyaruannya terlalu persis, bukan saja perawakan dan suaranya sama, bahkan tanda
khusus ditubuhpun tak ada yang berbeda, ditambah lagi Bwe-ji dan Siau Lan, kedua
dayang itu sudah disuap mereka, siapakah yang akan menyangka?”
“Sebelum dan sesudah kejadian, apakah dalam rumah tidak terlihat sesuatu tanda
yang mencurigakan?”
“Benar-benar tak ada, bukan saja semua penghuni gedung tak tahu, teman-teman juga
tak tahu, malah sewaktu Lotoako datang, bukankah engkaupun dikelabuhi?”
Pang Goan manggut-manggut, “Perempuan ini memang tidak sederhana, kecuali
penyaruan yang sempurna, pemikiran yang tajam, persiapan yang cermat serta
rencana yang tepat, boleh dibilang tiada titik kelemahan sedikitpun, cuma ia toh tetap
melupakan satu hal.”
“Dalam hal apa?” tanya Leng-hong lirih.
Pang Goan cuma tertawa dan tidak menjawab, diambilnya sebuah cangkir teh dari
meja kecil, pelahan ditempelkan telapak tangan kanan di mulut cangkir tersebut.
Dalam waktu singkat seluruh telapak tangan kanannya berubah menjadi merah darah,
uap panas mengepul, asap mengepul tiada hentinya.
Tak lama kemudian warna merah itu hilang, ketika ia menggeser telapak tangannya,
tahu-tahu cawan itu sudah penuh arak.
Kejut dan gembira Leng-hong, bisiknya dengan suara gemetar, “Lotoako, kau . . . .”
Pang Goan menunjuk ke pintu dengan mulutnya sambil menukas, “Pulang dan
beritahukan kepada mereka, katakan aku sanggup membeberkan To-kiam-hap-pingtin
kepadanya asal ia membertahukan lebih dulu jejak serta keselamatan Wan-kun,
kalau tidak, tiada perundingan lebih lanjut.”
“Baik, segera akan kusampaikan kepadanya, semoga Toako baik-baik menjaga diri . .
. . “ bisik Leng-hong.
Ia masih ingin mengucapkan sesuatu tapi Pang Goan telah membuang arak itu ke

bawah pembaringan sambil memberi tanda agar ia tinggalan tempat itu.
Setibanya di luar kamar tamu, Leng-hong merasa langkah kakinya bertambah ringan.
Itulah yang dikatakan orang pintar sejaman, bodoh sesaat. Kalau perempuan itu tahu
ilmu silat Pang Goan sangat lihay, tidaklah terpikir olehnya bahwa “pasir pembuyar
tenaga” belum tentu efektif terhadapnya?
Tak heran Pang Goan berkata begini, “Minum arak waktu perut kosong paling
gampang mabuk.”
Rupanya hal ini menunjukkan ia sudah waspada terhadap arak dan sayur yang
dihidangkan, dengan kecermatan Pang Goan, tentu saja dia tak akan dikerjai begitu
saja oleh orang.
Atau dengan perkataan lain, ia pura-pura keracunan tak lebih hanya siasat belaka.
Pertama karena kuatirkan keselamatan Pang Wan-kun, kedua, dengan cara itu dia
hendak menyelidiki asal-usul musuhnya.
Tentu saja masih ada alasan lain, yakni lantaran luka yang diderita Ho Leng-hong
belum sembuh, dia harus bersabar untuk menghindari segala kemungkinan yang tak
diinginkan.
Dengan masih utuhnya tenaga dalam Pang Goan berarti setiap saat ia bisa membekuk
perempuan yang menyaru sebagai Pang Wan-kun itu, asal perempuan itu tertangkap,
mustahil asal-usul mereka tak terungkapkan?
Sungguh gembira perasaan Ho Leng-hong ketika itu, tapi ia harus berusaha
mengendalikan pergolakan emosi tersebut dengan berpura-pura murung dan kesal,
apa yang dikatakan Pang Goan segera disampaikan kepada “Pang Wan-kun”.
Rupanya Pang Wan-kun gadungan ini sudah menduga sampai ke situ, sambil tertawa
dingin katanya, “Aku Cuma bisa mengatakan bahwa dia berada di tangan kami dan
sehat saja, soal bukti tak bisa kami perlihatkan, jadi mau percaya atau tidak terserah
padanya.”
“Tapi, tanpa suatu bukti tak mau ia ungkapkan rahasia To-kiam-hap-ping-tin dan lagi
bukankah orang itu berada di tangan kalian? Kenapa tidak digusur sebentar ke sini
agar mereka bisa berjumpa muka?”
“Tak mungkin,” sahut Pang Wan-kun gadungan sambil menggeleng, “sekalipun bisa
dipenuhi, paling banter ia Cuma bertemu dengan seseorang Pang Wan-kun yang
berwajah mirip denganku, tetap tak bisa dibedakan asli atau palsu.”
“Ya, apa boleh buat?” Leng-hong angkat bahu, “kalau kalian tetap ngotot, akupun tak
bisa berbuat lain. Pokoknya Pang-lotoa juga kukuh dengan pendiriannya, sebelum
bertemu dengan adiknya, jangan harap bisa memperoleh To-kiam-hap-ping-tin
darinya.”
“Pang Wan-kun” tertawa dingin, “Hmm, aku punya cara untuk memaksanya

berbicara, tunggu saja nanti!”
Ketika Ho Leng-hong bertanya lagi cara apa yang hendak dipergunakan, “Pang Wankun”
tidak menjawab melainkan hanya tertawa dingin saja.
Sejak itu sampai tiga-empat hari kemudian, ternyata tiada sesuatu tindakan yang
dilakukan, hari demi hari lewat dengan tenang.
Pang Goan tinggal di kamar tamu sebelah depan, kecuali dua orang pelayan yang
melayani keperluannya siang-malam, ia tidak mendapat pengawalan yang ketat, asal
tidak meninggalkan gedung Thian-po-hu, hampir boleh dibilang tak ada orang yang
mengurusi gerak-geriknya.
Ia boleh keluar masuk taman belakang, bermain catur dengan Ho Leng-hong atau
jalan-jalan dalam taman, bila dia mau bahkan makan bersama dengan “Pang Wankun”
dan bergurau pula bersama, bagaikan kakak yang bercanda dengan adiknya.
Mereka seakan-akan sudah mempunyai persetujuan bersama, bukan saja tidak
menyinggung soal Pang Wan-kun, merekapun tidak menyinggung soal To-kiam-happing-
tin, kedua orang itu tetap rukun seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun.
Ho Leng-hong jadi bingung sendiri setelah menyaksikan keadaan tersebut.
Beberapa kali ia coba menyelidiki hal ini, tapi kedua pihak tidak memberi jawaban
yang memuaskan, meski demikian ia dapat merasakan ketenangan di luar tak bisa
mengendalikan kekalutan di dalam, suatu badai hebat setiap saat bisa terjadi, hanya
tidak diketahui kapan meledaknya.
Selama beberapa hari belakangan ini ia telah menemukan pula suatu kejadian yang
mengerikan, ternyata semua pelayan yang berada di taman belakang adalah
komplotan “Pang Wan-kun”, lagipula ilmu silat mereka rata-rata cukup tinggi.
Jelas perempuan-perempuan itu berasal dari suatu perkumpulan yang sama dan telah
mendapat pendidikan yang keras, jelas komplotan itu bukan dibentuk secara terburuburu.
Maka dari itu, meski di luar tampaknya Pang Goan bisa bergerak bebas,
sesungguhnya setiap saat dan setiap detik ia berada di bawah pengawasan yang ketat.
Rupanya Pang Goan juga mengetahui akan hal ini, maka iapun bersikap tenang dan
tak pernah melewati daerah terlarang, setiap kali bertemu dengan Ho Leng-hong,
yang dibicarakan hanya masalah umum.
Tampaknya mereka seperti sedang menantikan sesuatu.
Selama perang dingin berlangsung, luka di lambung Ho Leng-hong secara berangsur
telah sembuh kembali.
Hari ini, Ho Leng-hong merasakan situasi agak tak beres.

Sejak sore hari, tiba-tiba di taman belakang Thian-po-hu muncul beberapa orang
perempuan asing.
Leng-hong berani bertaruh perempuan-perempuan itu bukan pelayan Thian-po-hu,
tapi mereka mengenakan seragam pelayan Thian-po-hu, jumlahnya kurang lebih
enam-tujuh, dipimpin seorang perempuan setengah umur, mereka melakukan
perondaan yang saksama di setiap sudut taman, termasuk juga ruang tidur di atas
loteng.
Rupanya mereka sedang memeriksa setiap tempat yang mungkin dibuat tempat
bersembunyi, terutama terhadap ruang atas boleh dibilang pemeriksaan dilakukan
amat teliti, kemudian empat orang di antaranya menyebarkan diri di dalam taman,
sedang perempuan setengah umur itu beserta dua orang lainnya tetap tinggal di ruang
atas dan menjaga jalan masuk-keluar tempat itu.
“Pang Wan-kun” tidak memberi penjelasan apa-apa terhadap kemunculan beberapa
perempuan asing itu, tapi Ho Leng-hong dapat menyaksikan betapa hormatnya
terhadap perempuan setengah umur yang baru datang itu, bahkan memanggilnya
dengan sebutan “Liu A-ih” atau bibi Liu.
Sikap bibi Liu sangat angkuh dan tinggi hati, mukanya selalu dingin bagaikan es dan
tak pernah kelihatan bersenyum.
Jika pernah senyum atau tertawa, maka hal ini terjadi ketika pertama kali berjumpa
dengan Ho Leng-hong, setelah memperhatikan sekujur badan pemuda itu dengan
sorot mata menghina, tiba-tiba ia tertawa.
Ketika tertawa tertampaklah dua baris giginya yang hitam seperti buah delima yang
telah busuk, begitu seramnya tertawa perempuan itu membuat Leng-hong bergidik.
Suka atau tidak suka adalah urusan lain, yang pasti dengan tertawa tersebut Ho Lenghong
berhasil memperoleh sedikit hasil yang di luar dugaan.
Ditinjau dari gigi Liu A-ih yang hitam itu bisa diduga delapan puluh persen ia suka
mengunyah sirih, ketika diperhatikan lagi dialek bicaranya, maka terdengarlah ia
bicara dengan logat wilayah Leng-lam.
Hal ini segera menghubungkan pikiran Ho Leng-hong dengan letak Hiang-in-hu yang
berada di Hu-yong-shia wilayah Leng-lam, bukankah hal ini menunjukkan
rombongan Liu A-ih umpama bukan anak buah Hiang-in-hu, tapi sedikit banyak tentu
ada hubungannya? Kalau tidak, maka kemungkinan besar mereka adalah gundik atau
pelayan Hui Pek-ling yang berkhianat dan beraksi di luar tahu Hui Pek-ling.
Ingin sekali Ho Leng-hong melaporkan hasil penemuannya ini kepada Pang Goan di
ruang depan, sayang ia tidak memperoleh kesempatan, terpaksa secara diam-diam saja
diperhatikannya setiap gerak-gerik di bawah loteng.
Senja itu, ketika Peng-ji mengantar makan malam ke loteng, ia membisikkan sesuatu
ke sisi telinga “Pang Wan-kun”.

“Aku tahu,” Wan-kun manggut-manggut, “aku dapat menyelesaikannya, suruh
mereka berhati-hati terutama bagian depan.”
Setelah meletakkan hidangan di meja, Peng-ji mengundurkan diri.
Leng-hong tertawa dan menegur, “Wan-kun, urusan apa yang hendak kalian
selesaikan?”
“Lebih baik jangan banyak bertanya,” sahut Wan-kun dengan ketus, “setelah makan
kenyang tidurlah baik-baik, apapun yang terjadi, janganlah kautinggalkan kamar tidur
ini.”
“Aku bisa menebaknya, bukankah kalian hendak menghadapi Pang-lotoa?
Kedatangan Liu A-ih pasti khusus untuk menyelesaikan persoalan ini.”
Pang Wan-kun cuma tertawa dingin, ia tidak membenarkan pun tidak menyangkal,
rupanya ia tak peduli apakah Ho Leng-hong mengetahui rahasia ini atau tidak, selain
itu iapun sudah menduga pemuda itu pasti bisa berpikir sampai ke situ, maka ia tidak
heran.
Andaikata Leng-hong pura-pura tidak mengetahui soal apapun, mungkin tindakan ini
malah akan memancing kecurigaan mereka.
Kembali Leng-hong menghela napas panjang, “Aku adalah orang di luar garis,
dengan kedua belah pihak tak ada hubungan apa-apa, hakikatnya apa yang hendak
kalian lakukan terhadap Pang-lotoa sama sekali tak ada hubungannya denganku, cuma
sebagai penonton kuharap agar kalian jangan mencelakai jiwanya, ia sudah
kehilangan ilmu silatnya, jelas tak bisa menandingi kalian......”
“Hei, kusuruh kau jangan mencampuri urusan ini, mengerti tidak kau?” hardik Wankun.
“Baik, aku takkan bertanya lagi, setelah makan aku akan tidur senyenyaknya,
tentunya boleh bukan?”
Habis berkata ia lanjutkan santapannya dengan lahap, betul juga, ia tidak buka suara
lagi.
Pang Wan-kun bersantap dengan tergesa-gesa, setelah menyuruh Peng-ji
membersihkan meja, merekapun turun dari loteng. Sebelum pergi, pintu kamar
dikunci dari luar, Leng-hong dikurung dalam loteng.
Mungkin mereka mengira tenaga Ho Leng-hong telah buyar, lukanya belum sembuh,
maka jalan darahnya tidak perlu ditutuk.
Ho Leng-hong sudah mempunyai rencana sendiri, buru-buru ia membuka baju
luarnya dan membuat orang-orangan di balik selimut, setelah memadamkan lampu, ia
membuka daun jendela.
Dari jendela tertampaklah suasana dalam taman gelap gulita, sebaliknya ruang tengah

di bawah loteng terang benderang dan bermandikan cahaya lampu.
Pang Wan-kun dan Liu A-ih rupanya berada dalam ruangan semua, di dalam taman
pun terdapat penjaga, tapi suasana di luar loteng amat hening, tak nampak sesosok
bayangan manusia pun.
Ditinjau dari keadaan tersebut, bisa diduga malam itu mungkin ada seorang penting
akan berkunjung ke situ, maka semua orang menantikan kedatangannya dengan
tenang.
Tentu saja orang yang akan datang itu mempunyai kedudukan di atas A-ih, atau
bahkan mungkin juga otak yang mendalangi operasi pencurian golok mestika.
Pelahan Ho Leng-hong membuka jendela dan menyelinap keluar, lalu merosot ke
sebuah balkon di bawah jendela, dengan tangkas sebelah tangan memegang kosen
jendela, tangan yang lain digunakan memegang emper rumah, dari situ ia ambil
tangga tali yang berada di tepi emper.
Tangga tali tersebut sudah disiapkan dua hari yang lalu, dan disembunyikan di talang
emper rumah, semula dipersiapkan untuk kabur bila keadaan terdesak.
Sekarang ia tahu tak mungkin turun lewat tangga tali itu sebab tindakan ini tentu
akan mengejutkan para peronda dalam taman, sebaliknya naik ke atas, bukan saja
lebih leluasa, dan lagi aman.
Setiba di atas atap rumah, orang bisa memperhatikan keadaan sekitarnya dengan
saksama, andaikata bisa melintasi rak bunga di sebelah sana, di balik semak bunga
akan lebih mudah baginya untuk menyembunyikan diri.
Begitulah, meski Ho Leng-hong tak dapat mengerahkan tenaga dalamnya, tapi ia bisa
bergerak lincah, sekali berjumpalitan ke atas, tahu-tahu ia sudah berada di atas atap
rumah.
Kemudian ia menarik tangga tali itu, dia atur napas, dan menelusuri atap, pelahan ia
merayap ke arah rak bunga.
Baru saja melewati tiga kali lukukan genteng, tiba-tiba ia mendengar suara
pembicaraan orang di sebelah bawah.
Leng-hong mengintai ke sana, dilihatnya dua buah lentera mengiringi serombongan
orang sedang naik ke ruang atas dari arah barat.
Dua orang dayang cilik yang membawa lampu lentera adalah anggota Thian-po-hu,
di belakang mengikut empat orang perempuan berbaju hitam, dua di muka dan dua di
belakang, mengiringi seorang gadis berbaju merah.
Empat orang perempuan berbaju hitam itu mempunyai perawakan yang cebol tapi
kekar, bajunya juga istimewa, bagian bawah mengenakan celana panjang yang ketat
sedang bagian atas mengenakan baju pendek yang longgar dengan bagian leher sangat
lebar, baju itu tidak berkancing tapi diikat dengan ikat pinggang lebar berwarna hitam,

andaikata mereka tidak bersanggul tinggi, orang akan mengira mereka sebagai lelaki.
Yang lebih istimewa lagi adalah pinggang masing-masing terselip dua bilah golok,
yang satu panjang dan yang lain pendek.
Yang pendek cuma dua kaki, gagang golok itu malah mencapai tujuh-delapan inci,
sedangkan golok panjang berukuran empat-lima kaki, gagangnya sendiri juga
mencapai satu kaki lebih.
Lebar mata golok hanya sebesar tiga jari, bentuknya ramping tapi panjang, sedikit
mirip pedang, Cuma ujungnya melengkung ke atas dan jelas hanya mata golok
sebelah saja yang tajam.
Jelek-jelek begitu, Ho Leng-hong terhitung seorang ahli golok, tapi selama hidup
belum pernah ia lihat golok panjang (samurai) seaneh ini.
Nona berbaju merah itu tak bersenjata api gayanya lembut dan terpelajar, sekalipun
dalam kegelapan tak dapat melihat wajahnya, api umurnya mungkin belum
melampaui dua puluhan, dan mungkin sangat cantik.
Baru saja rombongan itu tiba di luar pintu, Pang Wan-kun serta Liu A-ih dengan
langkah cepat menyambut kedatangan mereka.
“Menyambut kedatangan Samkongcu!” seru mereka sambil memberi hormat.
“Tak usah banyak adat,” nona berbaju merah itu mengulapkan tangannya, “mari kita
bicara di dalam saja.”
Pang Wan-kun dan Liu A-ih segera memberi jalan, didahului keempat orang
perempuan berbaju hitam tadi mereka lantas masuk ke dalam.
Ho Leng-hong diam-diam merasa heran, pikirnya, “Hebat benar perempuan ini,
bukan saja bergelar Tuan Puteri, punya pengawal pribadi pula, tampaknya kehebatan
mereka jauh melebihi Thian-po-hu. wah, jika ditilik dari sikap Pang Wan-kun berdua,
rupanya perempuan yang menyaru Pang Wan-kun ini hanya seorang keroco, sedang
Liu A-ih tak lebih Cuma seorang pelayang . . . . .”
Berpikir sampai di sini, dengan cepat ia ubah rencananya semula, diputuskan
penyampaian berita kepada Pang Goan sementara waktu ditunda, dia akan mengikuti
dulu pembicaraan apa yang sedang berlangsung di bawah loteng.
Tapi penjagaan di sekitar ruangan itu sangat ketat, bagaimana caranya mengikuti
pembicaraan mereka?
Ah, ada akal! Pelahan Leng-hong melintasi wuwungan rumah, ia manjat ke atas rak
bunga, dengan tangkai bunga sebagai aling-aling pelahan ia melayang turun ke
bawah, kemudian dengan sikut menggantikan kaki ia merangkak, dari rak bunga
merangkak sampai ke bawah dinding kamar, dari mana ditemukan sebuah lubang
hawa yang ditutupi dengan terali besi.

Di dalam lubang hawa adalah ruangan bawah tanah.
Leng-hong masih ingat, dalam ruangan itu terdapat sebuah perapian yang terbuat dari
batu, perapian itu dipersiapkan sebagai penghangat udara di musim dingin, cerobong
perapian tadi justru menembus ke dinding rangkap di ruang tengah.
Seandainya ia merangkak masuk ke dalam cerobong asap, tempat itu sungguh tempat
persembunyian yang paing bagus untuk mencuri dengar pembicaraan yang sedang
berlangsung.
Dengan sangat hati-hati ia melepaskan terali besi lubang hawa itu, kemudian tanpa
mempedulikan kotornya debu dan hangus, bagaikan seekor ular pelahan ia merayap
ke dalam cerobong.
Ternyata segala sesuatunya persis seperti apa yang diharapkan, letak perapian itupun
sangat menguntungkan, ditambah lagi cerobong asap tersebut cukup lebar, sehingga
seorang yang berdiri di dalamnya masih terasa longgar.
Yang lebih menguntungkan lagi adalah baik pada cerobong asap maupun dinding
rangkap terdapat pintu kecil guna keperluan pembersihan, dengan dibukanya pintu
kecil tersebut, bukan saja pembicaraan dalam ruangan dapat terdengar, bahkan
pemandangan dalam ruangan juga dapat terlihat jelas.
Satu-satunya hal yang patut disesalkan adalah ketika Ho Leng-hong tiba di cerobong
tersebut, Samkongcu itu sudah berduduk, kebetulan ia duduk membelakangi pintu
kecil sehingga raut wajah sama sekali tak terlihat olehnya.
Tapi bila ditinjau dari bayangan punggungnya terbuktilah apa yang dibayangkan Ho
Leng-hong memang tepat . . . . Dia adalah seorang gadis muda yang lemah lembut
dan berperawakan menarik.
Liu A-ih duduk di sebuah bangku di sampingnya, sementara keempat orang
perempuan bersamurai itu berdiri di kiri kanan, Pang Wan-kun tampak berdiri dan
sedang menuturkan kepada Samkongcu semua kejadian yang berlangsung belakangan
ini.
Waktu itu laporan baru berlangsung satu bagian, rupanya Samkongcu merasa kurang
puas atas laporan tersebut, pelahan katanya, “Selama ini, penampilanmu memang tak
jelek, tapi kalau dibilang dengan begitu lantas Thian-po-hu dan Cian-sui-hu telah
berhasil kaukendalikan, hal ini terlalu berlebihan. Kautahu, tujuan kita bukan
menguasai Thian-po-hu dan Cian-sui-hu, yang kita butuhkan adalah golok mestika
Yan-ci-po-to serta intisari ilmu To-kiam-hap-ping-tin-hoat tersebut, kemudian dalam
pertemuan Lo-hu-to-hwe yang akan datang kita hajar mereka sampai kalah, agar
setiap pria di dunia tunduk di bawah kekuasaan Ci-moay-hwe kita.”
“Hamba mengerti!” kata Pang Wan-kun.
“Kalau sudah tahu, tidak seharusnya kaugunakan kekerasan, terutama terhadap Pang
Goan, tidak seharusnya kaubocorkan rahasiamu, dengan demikian intisari To-kiamhap-
ping-tin baru akan diuraikan kepada kalian.”

“Tapi ia sudah mulai menaruh curiga kepada hamba.”
“Hal ini membuktikan pekerjaanmu masih kurang sempurna, dalam menghadapi
pelbagai persoalan pun kurang sabar, daripada rahasiamu ketahuan kan lebih baik
berusaha menghilangkan kecurigaan itu dengan cara yang lain.”
Pang Wan-kun menunduk kepala dan bungkam.
Samkongcu berkata lebih lanjut, “Yang paling tak bisa dimaafkan adalah tindakanmu
yang tergesa-gesa untuk mencuri golok mestika tersebut, semua persiapan kurang
sempurna sehingga akhirnya kita berkorban nyawa dua orang anggota kita, lalu
apakah tindakan ini bisa menutupi titik kelemahanmu? Toh akhirnya jejakmu
ketahuan juga, bayangkan sendiri, berhargakah tindakanmu itu?”
“Hamba mengaku salah,” Pang Wan-kun menundukkan kepalanya lebih rendah.”
Samkongcu menghela napas panjang, katanya lagi, “Ketika Kongcu mengetahui
kejadian ini, ia marah sekali. Tapi mengingat golok mestika Yan-ci-po-to berhasil
kaudapatkan, maka dosamu tak sampai dituntut, sebab itulah aku dan Liu A-ih
sengaja dikirim kemari untuk membereskan langkah yang berantakan ini.”
“Terima kasih atas kebijaksanaan Hwe-cu, terima kasih pula kepada Samkongcu
yang telah membantu diriku,” kata Pang Wan-kun sambil memberi hormat.
“Sekarang serahkan Yan-ci-po-to itu kepadaku dan serahkan Pang Goan kepada Liu
A-ih untuk digusur pergi, dan kau sudah tak ada urusan lagi. Cuma kau harus tetap
tinggal di Thian-po-hu untuk melanjutkan kedudukanmu sebagai nyonya Nyo Cu-wi,
berusahalah menyelidiki asal-usul Thian Pek-tat, yang penting ia menjalankan
perintah siapa? Apa pula tujuannya? Bila berhasil mendapatkan keterangan, laporkan
kepada kantor cabang, jangan mengambil tindakan secara gegabah.”
Pang Wan-kun mengiakan pula.
“Selain itu, tak perlu kauberi pasir pembuyar tenaga kepada orang she Ho itu, dia
adalah hasil karya kita yang telah banyak makan tenaga dan pikirkan, ilmu silatnya
tidak tinggi, asal diawasi secara ketat sudah lebih dari cukup. Harus kauberi obat
penawar kepadanya, rayu dia dengan segala kelembutan dan kemesraan agar ia mau
kita gunakan secara sukarela.”
Pang Wan-kun hanya mengiakan berulang kali.
Dari nada pembicaraan mereka, Ho Leng-hong dapat merasakan bahwa ilmu silatnya
dianggap rendah bahkan bernada menghina, hal ini amat menggusarkan hatinya.
Diam-diam ia tertawa dingin, pikirnya, “Budak sialan, kauanggap orang she Ho ini
laki-laki bangor yang bernyali tikus? Hmm, kau telah salah melihat orang! Walaupun
ilmu silatku rendah, tapi bukan laki-laki yang gampang dikendalikan . . . .”
Sementara itu Liu A-ih berbangkit sambil bertanya, “Kongcu bermaksud akan

berangkat kapan?”
“Berangkatlah dulu bersama tawananmu, setelah mendapatkan golok mestika itu aku
segera menyusul,” kata Samkongcu.
“Sekarang juga hamba akan ke taman untuk mengambil golok,” kata Pang Wan-kun
cepat, “biar Peng-ji yang mengantar Liu A-ih ke ruang depan.”
“Kausembunyikan golok mestika itu di taman?” tegur Samkongcu dengan kening
berkerut.
“Benar, sebetulnya hamba akan mengambilnya dari sana, tapi perbuatanku diketahui
Ho Leng-hong sehingga terpaksa harus kulukai dia, waktu itu hamba tak sempat
membawanya pergi, maka golok itu kusembunyikan kembali dalam liang semula,
untung Pang Goan tidak menyangka golok mestika itu masih berada di tempat
semula.”
“Perbuatanmu itu terlalu berbahaya,” kata Samkongcu sambil menggeleng, “cepat
ambil, semoga tidak terjadi hal-hal di luar dugaan lagi.”
Pang Wan-kun mengiakan dan keluar dari ruangan, Ho Leng-hong buru-buru
menerobos keluar dari lubang hawa itu.
Ia tidak kuatir Pang Goan akan digusur pergi Liu A-ih, maka diputuskan untuk
mendahului Pang Wan-kun dan merebut kembali Yan-ci-po-to itu.
Atau paling sedikit dia akan mengacau agar Yan-ci-po-to tidak sampai dibawa kabur
oleh Samkongcu.
Ho Leng-hong sadar di sekitar loteng pasti dijaga ketat oleh anggota “Ci-moay-hwe”
(perkumpulan kaum perempuan), tapi ia tidak mempedulikan soal itu, ia menelusuri
rak bunga yang gelap dan menerobos ke belakang loteng menuju ke hutan.
Suatu keanehan kembali terjadi, sekalipun ia kabur dengan cara sekasar itu, namun
jejaknya ternyata tidak diketahui oleh para penjaga.
Dalam waktu singkat pemuda itu sudah berada di tepi hutan, menurut perhitungannya
Pang Wan-kun tentu masuk ke hutan lewat arah lain. Ia tak berani ayal, dengan
langkah cepat ia masuk ke tengah hutan.
Ketika dia tiba di tempat penyimpanan golok tersebut, tiba-tiba dari depan terdengar
suara langkah kaki orang.
Diam-diam Leng-hong gelisah, sebab menurut keadaan tersebut tak mungkin baginya
untuk mengambil golok mestika itu mendahului Pang Wan-kun, sekalipun mereka
tiba berbareng, dengan kepandaian silatnya jelas ia bukan tandingan perempuan itu.
Terpaksa ia berhenti dan menutup mulutnya dengan tangan, maksudnya mengurangi
napasnya yang tersengal, kemudian ia pasang telinga dan memperhatikan gerak-gerik
lawan.

Tapi, sungguh aneh, ketika ia berhenti, suara langkah kaki itupun ikut berhenti.
Ia coba maju dua langkah, ternyata di depan tidak ada reaksi apapun.
Sesungguhnya apa yang terjadi? Mungkinkah lantaran terlalu tegang maka ia salah
dengar?
Keadaan sudah mendesak, Ho Leng-hong tak sempat berpikir panjang lagi, dengan
langkah cepat ia memburu ke depan.
Tapi setibanya di tanah lapang dalam hutan, ia tertegun.
Di sekitar liang telah bertumpuk tanah baru, jelas liang tersebut baru digali orang.
Tapi bukan Pang Wan-kun yang menggali liang tersebut, sebab perempuan itu masih
berdiri di tepi liang, tangannya kosong dan tubuhnya kaku, jelas jalan darahnya
ditutuk orang.
Ho Leng-hong coba memeriksa keadaan di sekitar situ, namun tiada sesosok
bayangan pun, dengan cepat ia bertanya, “Mana golok mestika itu? Apakah golok
mestika itu telah dibawa kabur orang?”
Pang Wan-kun tidak menjawab, kecuali biji matanya masih dapat bergerak-gerak,
sekujur badanya kaku seperti patung.
Bila jalan darah seorang tertutuk, mana bisa ia menjawab?
Leng-hong ingin cepat-cepat mengetahui Yan-ci-po-to, ia mengitari liang itu dan
menepuk beberapa kali punggung perempuan itu.
Tapi hawa murninya tak bisa dihimpun, otomatis pukulannya juga tak bertenaga,
bagaimanapun juga ia menepuk, jalan darah Pang Wan-kun sukar dilancarkan.
Dengan gemas Leng-hong menggentak kaki ke tanah, bentaknya, “Obat penawar
kaubawa tidak? Kalau ada, kerdipkan matamu dua kali!”
Pang Wan-kun segera mengerdipkan matanya dua kali.
Cepat Leng-hong menggeledah sakunya, betul juga dekat belahan baju dalamnya ia
temukan sebuah botol porselen bulat pipih.
“Apakah botol ini berisi obat penawar?” tanyanya pula.
Sekali lagi Wan-kun mengerdipkan matanya.
Leng-hong membuka tutup botol dan mengeluarkan sebutir obat penawar terus
dimasukkan ke dalam mulut.
Setelah obat itu ditelan, tak lama kemudian muncul aliran panas dari bagian dada,
bagaikan minum arak panas aliran itu terus turun ke perut.

Segera Leng-hong menarik napas panjang, pelahan hawa murninya dihimpun
kembali lalu disalurkan ke telapak tangan kanannya....
Tapi sebelum bertindak sesuatu, tiba-tiba terlintas satu ingatan dalam benaknya,
“Tidak, perempuan ini tak boleh dibebaskan dulu jalan darahnya, ilmu silatnya
mungkin lebih tinggi daripadaku, setelah dibebaskan, bisa jadi aku akan dijegal
malah, kan bisa runyam?”
Berpikir demikian, maka tepukan tangannya dialihkan ke tempat lain, yakni pada
jalan darah bisu di kuduk perempuan itu.
Pang Wan-kun terbatuk-batuk, setelah tumpah segumpal riak kental, ia dapat
bersuara kembali.
“Cepat katakan, Yan-ci-po-to itu digali siapa?” tanya Leng-hong.
Bukan menjawab, Wan-kun malah berkata, “Jit-long, bebaskan dulu jalan darahku,
bagaimanapun juga kita pernah menjadi suami isteri, lagipula obat penawar pasir
pembuyar tenaga telah kuberikan padamu, masa kau tak mau menolong aku yang
sedang tertimpa kesusahan?”
“Katakan dulu padaku, siapa yang telah membawa kabur golok mestika itu, asal kau
megaku terus terang, tentu saja akan kutolong dirimu.”
“Aku pasti akan memberitahukan kepadamu, tapi bebaskan dulu jalan darahku.”
“Hmm, sampai sekarang pun kau masih ingin bertukar syarat denganku?”
“Aku tidak minta tukar syarat, aku hanya mohon kepadamu, sebab bila golok mestika
itu sampai hilang, aku bakal dihukum mati.”
“Huh, kau tak boleh kehilangan golok mestika, apakah aku boleh kehilangan? Jangan
lupa, Yan-ci-po-to bukan milikmu.”
Wan-kun tertawa getir, “Jit-long, apa gunanya membicarakan persoalan itu dalam
keadaan seperti ini? Baik golok itu milik siapa, kita sama-sama tak ingin kehilangan,
bukan?”
Tentu saja Leng-hong tak dapat menyangkal, iapun tahu, seandainya Yan-ci-po-to
sampai terjatuh ke tangan orang lain, hal ini tak ada manfaat baginya.
Wan-kun kembali berkata, “Lepaskan aku, Jit-long! Kita harus bekerja sama untuk
mengejar kembali golok mestika itu, kita tak boleh saling mencurigai, bila golok itu
berhasil kita dapatkan kembali, aku pasti akan menceritakan segala sesuatunya
kepadamu.”
“Kalau begitu beritahu dulu kepadaku, siapa yang telah melarikan golok mestika
tersebut?”

Pang Wan-kun menghela napas panjang, “Bila kuberitahukan dulu hal ini kepadamu,
apakah kau dapat pegang janji dan melepaskan diriku?”
“Tentu saja, orang she Ho bukan seorang laki-laki yang suka mengingkar janji.”
Wan-kun tertawa, katanya lagi, “Bersediakah kau bersikap seperti dulu,
menganggapku sebagai isterimu?”
“Kau sesungguhnya mau bicara atau tidak?” seru Leng-hong dengan marah, “aku tak
ada waktu untuk mengobrol dengan kau.”
“Ai, bagi kaum pria mungkin dianggap mengobrol, tapi bagi kaum wanita justru
lebih penting daripada nyawa sendiri,” kata Pang Wan-kun dengan menyesal, “Jitlong,
meskipun kita bukan suami isteri sungguhkan, tapi selama beberapa bulan kita
telah menikmati penghidupan sebagai suami-isteri, peduli kau percaya atau tidak,
yang pasti dalam hidupku ini hanya kau kuanggap sebagai suamiku, nama dan she
boleh palsu, tapi perasaan kita tak mungkin palsu, Jit-long, kau . . . . .”
“Cukup,” tukas Leng-hong sambil menggoyang tangan, “sekalipun kau amat
mencintaiku, sekarang bukan waktunya untuk membicarakan soal tersebut, kita harus
menyelesaikan dulu masalah penting, soal cinta kasih ini boleh dibicarakan lain waktu
saja, setuju bukan?”
Hampir meledak gelak tertawanya, perempuan ini memang lucu, baru saja
Samkongcu menitahkan dia merayu dengan segala kemesraan, kontan ia laksanakan
tugas, sayang waktunya tidak sesuai sehingga siapa yang bernafsu untuk
meresapinya?
Agaknya Pang Wan-kun merasakan juga suasananya tidak cocok, dengan tersipusipu
ia alihkan pembicaraan ke soal lain, katanya, “Baiklah kalau kau ingin
mengetahui dulu siapa yang melarikan golok mestika itu aku dapat memberitahukan
padamu, besar kemungkinan orang itu adalah Thian Pek-tat!”
“Kenapa kaukatakan besar kemungkinan?” tanya Leng-hong tercengang.
“Ia menggunakan kain kerudung pada wajahnya, pakaian yang dikenakan juga
ringkas, tanpa melihat raut wajah yang sesungguhnya darimana aku bisa tahu pasti dia
atau bukan, tapi menurut perkiraanku, kecuali Thian Pek-tat tak mungkin orang lain.”
Leng-hong memang mencurigai Thian Pek-tat, maka setelah termenung sejenak lalu
katanya, “Ilmu silatnya tidak terlalu tinggi, kenapa jalan darahmu bisa tertutuk
olehnya?”
“Ia menyergap diriku secara mendadak dan di luar dugaan, lagipula dalam hutan
tersembunyi pula beberapa orang komplotannya.”
“Semua beberapa orang? Setelah berhasil mereka kabur ke arah mana? Sudah berapa
lama?”
“Jumlah yang pasti aku tidak tahu, mungkin dua-tiga orang, setelah mendapatkan

golok mestika itu mereka kabur ke arah Kiok-hiang-sia.”
Kiok-hiang-sia terletak dekat kamar loteng, bila maju lagi akan tiba di ruang depan,
ditinjau dari keadaan pada umumnya, Thian Pek-tat mestinya kabur lewat taman
belakang, tapi mengapa ia malah lari ke ruang depan?”
Tercengang juga Ho Leng-hong menghadapi hal ini, tapi lantaran waktu amat
mendesak, tak mungkin lagi baginya untuk bertanya lebih jauh, sesudah termenung
sebentar iapun putar badan dan berlalu.
“He, Jit-long, bukankah kau telah menyanggupi akan membebaskan jalan darahku?”
seru Wan-kun cemas.
“Sebenarnya hendak kubebaskan jalan darahmu, tapi setelah kau kehilangan Yan-cipo-
to, Samkongcu tak nanti akan percaya begitu saja, maka lebih baik kau diam
beberapa saat lagi di sini, hal ini akan lebih menguntungkan kau.”
“Hei, Jit-long, kaut tak boleh ingkar janji!” teriak Wan-kun, “Jit-long.... Jit-long....”
Leng-hong menutuk lagi jalan darah bisunya, kemudian sambil menepuk pelahan
pipinya ia berbisik, “Aku berbuat demikian demi kebaikanmu, kalau kita bukan suami
isteri, tentu kulepaskan dirimu agar didamprat dan dihukum oleh Samkongcu itu, bila
kau dalam keadaan begini, kan terlepaslah tanggung jawabmu.”
Habis berkata dia lantas meninggalkan hutan.
Menurut perhitungannya, Liu A-ih dan anak buahnya pasti sudah tiba di ruang depan,
bila Pang Goan tak mau menyerah, pertarungan mungkin sudah berkobar, maka
begitu keluar dari hutan ia langsung menuju ke ruang depan.
Tapi baru saja ia melewati pintu taman, suara bentakan nyaring sudah terdengar di
depan sana. Suara itu berasal dari ruang loteng, malah kedengaran juga suara Pang
Goan.
Cepat Leng-hong putar arah dan menelusuri taman dan balik lagi ke ruang loteng.
Dari kejauhan ia dapat menyaksikan lampu menerangi sekitar tempat itu, dua sosok
bayangan sedang terlibat dalam pertarungan yang seru.
Sambil berdekap tangan Samkongcu berdiri di undak-undakan batu, sementara
keempat perempuan pendek berbaju hitam itu berdiri berjajar di depannya.
Di bawah cahaya lentera, untuk pertama kalinya Leng-hong melihat jelas wajah
Samkongcu. Ia lembut dan cantik, paling banter usianya baru delapan atau sembilan
belas tahunan, matanya besar, bibirnya tipis dan sekilas pandang dapat diketahui
bahwa dia adalah seorang gadis yang cerdik, cuma sorot matanya setajam sembilu dan
lagi rada menyeramkan.

Sementara kedua orang yang terlibat dalam pertempuran itu adalah Liu A-ih
melawan Pang Goan.
Kedua orang itu sama-sama bertarung dengan tangan kosong, bila ditinjau dari situasi
pertarungan, pukulan Pang Goan yang kuat membawa desing angin tajam, jelas ia
menduduki posisi di atas angin, tapi gerakan tubuh Liu A-ih amat gesit dan lincah,
meskipun harus menerobos ke sana kemari di antara pukulan Pang Goan yang
bertubi-tubi, sedikitpun tidak terlihat tanda-tanda akan kalah.
Agaknya pertarungan antara mereka sudah berlangsung cukup lama.
Dengan sorot mata tajam, Samkongcu mengikuti jalannya pertarungan dengan
saksama, sekeliling gelanggang hampir dipenuhi oleh anggota Ci-moay-hwe, tapi tak
seorangpun di antara mereka yang turun kalangan dan memberi bantuan.
Jago-jago itu hanya menonton jalannya pertarungan dengan tenang, seakan-akan
mereka tidak terburu nafsu untuk mengalahkan Pang Goan.
Diam-diam Leng-hong gelisah, pikirnya, “Betapa baiknya jika saat ini dia memegang
Yan-ci-po-to....”
Sementara ia masih bingung apakah mesti membantu Pang Goan atau tidak, tiba-tiba
Samkongcu membentak, “Liu A-ih, mundur!”
Liu A-ih segera tarik serangan dan melompat keluar dari gelanggang, keningnya
sudah basah keringat.
Samkongcu memberi tanda, tiba-tiba keempat perempuan pendek berbaju hitam itu
melolos samurainya, kemudian menyerbu ke tengah gelanggang dan mengepung Pang
Goan rapat-rapat.
“Perempuan busuk, rupanya kalian hendak bertarung secara bergantian?” dengus
Pang Goan, “hayo majulah, aku orang she Pang tak jeri melayani barisanmu itu.”
Samkongcu tidak menjawab, katanya kepada anak buahnya, “Berikan sebilah pedang
kepadanya.”
Liu A-ih melolos sebilah pedang seorang gadis pembawa lentera, lalu
melemparkannya kepada Pang Goan.
Setelah menerima pedang itu, Pang Goan merasa tercengang juga, katanya kemudian
sambil tertawa, “Hei, kenapa? Kalian ingin bunuh diri? . . . barangkali sudah bosan
hidup?”
“Kami tak ingin mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah lebih banyak,”
kata Samkongcu tenang, “tapi keempat orang ini selalu bertempur dengan ilmu golok
gabungan, maka untuk adilnya kuberikan pula sebilah senjata padamu.”
Mendengar ucapan ini, Pang Goan tertawa terbahak-bahak, “Hahaha, tapi kalian
jangan lupa, ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoat dari Cian-sui-hu sudah tersohor

selama puluhan tahun dalam dunia persilatan, begitu orang she Pang turun tangan,
mereka tak ada harapan untuk hidup lagi.”
“Coba saja bagaimana akhirnya nanti!” kata Samkongcu, ia lantas bertepuk tangan
tiga kali.
Mendengar tepukan tangan itu, keempat orang perempuan cebol berbaju hitam itu
segera membentak dan menyerbu ke depan.
Mereka sama membawa sebilah samurai panjang dan sebilah pisau pendek, tapi
selama pertarungan berlangsung, pisau pendek tetap terselip di pinggang, sementara
samurai itu digenggam dengan kedua tangannya.
Di antara bentakan nyaring, empat bilah samurai menabas bersamaan dari kiri dan
kanan, dalam waktu singkat keempat perempuan cebol itu sudah melancarkan dua
belas kali tabasan.
Cahaya samurai berkilauan memenuhi angkasa, dalam waktu singkat sekeliling
gelanggang seolah-olah diliputi kabut samurai yang menyeramkan.
Ho Leng-hong juga seorang ahli golok, tapi belum pernah ia lihat ilmu golok secepat
dan seganas itu, tak urung peluh dingin membasahi juga tubuhnya karena
mengusirkan keselamatan Pang Goan.
Di tengah bayangan golok yang berlapis-lapis, Pang Goan tertawa nyaring, serentak
ilmu pedangnya dikembangkan.
Belum sempat Leng-hong menyaksikan bagaimana caranya orang itu menyerang,
mendadak ia merasakan pandangannya menjadi kabur, tahu-tahu suara beradunya
senjata berkumandang memekak telinga, disusul percikan bunga api di udara . . . .
Waktu maju tadi keempat perempuan cebol itu dapat bergerak cepat, sewaktu
mundurpun tak kurang cepatnya, masing-masing menyurut mundur tiga-empat
langkah, tapi masih dalam posisi mengepung Pang Goan.
“Boleh juga ilmu silatmu!” puji Samkongcu sambil tersenyum.
Pang Goan mendengus, “Hm, budak busuk, berapa banyak anak buahmu, suruh
mereka maju semua!”
Samkongcu Cuma tertawa dan tidak menjawab, kembali ia bertepuk tangan empat
kali.
Dua orang perempuan cebol diantaranya segera menyimpan kembali samurainya
sambil mundur, sebaliknya dua orang lain sekali lagi melancarkan serangan.
Sekali ini kedua samurai itu menyerang secara teratur, yang satu menyerang tubuh
bagian atas, sedang yang lain menyerang perut dan kaki, semuanya dengan gerakan
cepat dan kerja sama yang ketat. Sekalipun dalam hal senjata telah berkurang dua
bilah, tapi justru serangan ini terasa lebih dahsyat.

Rupanya Pang Goan belum lagi memperhatikan serangan kedua samurai itu,
pedangnya berputar menciptakan selapis cahaya yang menyilaukan mata.
“Ting! Ting!” dua kali benturan nyaring, hampir bersamaan waktunya kedua samurai
lawan tertangkis balik.
Akhirnya Leng-hong dapat melihat jelas, meski Pang Goan hanya memainkan satu
jurus, tapi sekaligus dapat menangkis dua serangan lawan.
Sebetulnya serangan itu digunakan menyongsong ancaman yang datang dari atas, tapi
ketika terjadi benturan senjata, tiba-tiba pedang itu memerosot ke bawah, bagaikan
besi semberani yang mengisap jarum, samurai yang mengancam tubuh bagian atas itu
dipaksa ke bawah sehingga tepat menangkis samurai yang mengancam tubuh bagian
bawah itu.
Atau dengan kata lain, gerakan tersebut adalah satu gerakan dengan dua guna,
meminjam golok untuk menangkis golok, baik ketepatan waktu, jurus serangan dan
tenaga, semuanya digunakan dengan tepat.
“Ilmu pedang bagus!” puji Samkongcu tanpa terasa, beruntun ia tepuk tangan lagi
dua kali.
Tiba-tiba barisan serangan keempat perempuan cebol itu berubah lagi, bayangan
manusia berkelebat, empat orang itu segera berdiri dalam satu garis lurus, sementara
samurai pendek yang terselip di pinggang pun dicabut keluar.
Perempuan cebol yang pertama bergerak lebih dulu, samurai panjang dan pendek
digunakan bersama untuk menyerang Pang Goan, tapi baru terjadi kontak senjata,
tiba-tiba ia tarik serangan sambil mundur ke belakang, sementara perempuan cebol
kedua segera maju menggantikan posisinya, seperti yang pertama tadi, begitu terjadi
kontak senjata ia terus mundur untuk digantikan orang ketiga....
Begitulah, secara bergilir keempat orang perempuan cebol itu melancarkan serangan
secara bergantian, delapan samurai panjang dan pendek bagaikan bunga salju yang
berhamburan di sekitar Pang Goan.
Setiap kali mereka menyerang, arah sasarannya selalu berbeda, jurus serangan yang
digunakan pun aneh dan berlainan, yakni sekali menyerang segera berganti orang lagi.
Dengan tangguh dan gagahnya Pang Goan melayani kerubutan keempat orang itu,
setiap serangan dipatahkan dengan serangan, setiap bacokan dihadapi dengan
bacokan, dalam sekejap mata dua puluh gerakan sudah lewat . . . .
Ho Leng-hong merasa matanya sampai berkunang-kunang, ia merasa kagum dan juga
gembira, terasa olehnya permainan pedang Pang Goan begitu luwes dan leluasa,
setiap serangannya selalu dilancarkan dengan enteng, lincah tapi kuat, memang tak
malu sebagai seorang jago kenaman.
Diam-diam semua jurus ampuh itu diingatnya di dalam hati, sebisanya Leng-hong

memperhatikan setiap gerakan dengan saksama.
Sementara ia memusatkan perhatiannya untuk mengikuti jalannya pertarungan itu,
tiba-tiba terdengar seseorang tertawa dingin, dari kegelapan seseorang berseru,
“Wahai orang she Pang, jangan kaukeluarkan semua ilmu silatmu, selanjutnya kau tak
bisa tancap kaki lagi dalam dunia persilatan!”
Meskipun suara itu sangat pelahan, tapi setiap patah katanya dapat didengar semua
orang yang hadir ini dengan jelas.
Pang Goan segera menarik serangannya sambil melompat mundur, bentaknya,
“Sahabat dari manakah itu? Silakan tampil ke depan!”
Tiada jawaban yang terdengar, suasana tetap hening dan gelap.
Samkongcu pun menitahkan keempat perempuan cebol itu menghentikan
serangannya, kepada Liu A-ih katanya sambil mengangguk, “Lumayan juga hasil
yang kita peroleh malam ini, mari kita pergi!”
“Tapi golok itu . . . “ bisik Liu A-ih.
“Benda itu sudah tidak terlampau penting lagi artinya. Hayo berangkat!” tangan
Samkongcu lantas memberi tanda, serentak lampu di empat penjuru menjadi padam.
“Perempuan busuk, mau lari ke mana kalian?” bentak Pang Goan cepat.
Pedang bergerak dan langsung membabat ke pinggang seorang perempuan cebol
berbaju hitam yang kebetulan berada di dekatnya.
Perempuan cebol itu tidak menangkis melainkan melompat ke samping dan
menghindarkan diri, sebelah tangannya lantas menyebarkan seenggan kabut berbau
harum.
Kebanyakan kabut asap yang berbau harum adalah kabut yang mengandung obat
pemabuk.
Cepat Pang Goan menutup pernapasannya sambil melompat ke belakang dan buruburu
mengambil geretan api.
Tapi ketika cahaya api menerangi sekeliling tempat itu, hanya kabut tebal berbau
harum yang menyelimuti taman bunga itu, sementara Samkongcu dan rombongannya
telah lenyap tak berbekas.
Buru-buru Leng-hong melompat keluar dari tempat sembunyinya sambil berseru,
“Lotoako, musuh yang kalah tak perlu dikejar lagi, biarkan mereka pergi!”
Pang Goan mengangkat tinggi-tinggi obornya, lalu serunya dengan tercengang, “Jadi
kau yang bersuara tadi?”
Leng-hong menggeleng kepala, “Siaute juga Cuma mendengar suaranya dan tidak

melihat orangnya, tapi kukira ia memang tidak bermaksud jelek.”
“Darimana kautahu ia tidak bermaksud jelek?”
“Soal itu kita bicarakan nanti saja, sekarang kita harus menangkap seseorang lebih
dulu, jangan sampai ia sempat meloloskan diri.”
“Siapa?”
“Perempuan yang menyaru sebagai Wan-kun!”
Betapa girangnya Pang Goan, “Jadi ia sudah kautangkap? Di mana sekarang?”
Leng-hong memberi tanda dan segera berangkat lebih dulu.
Tapi ketika mereka sampai di hutan tempat golok itu disimpan, di sana tak mereka
jumpai seorang pun, Pang Wan-kun ternyata sudah lenyap tak berbekas.
“Heran!” keluh Leng-hong, “padahal Cuma sebentar kutinggalkan tempat ini, dan
lagi jalan darahnya sudah kututuk, masa ia bisa terbang sendiri?”
Pang Goan mengomel, “Kau sudah tahu perempuan itu penting sekali artinya buat
kita, kalau sudah dibekuk kenapa tidak dibawa serta? Besar kemungkinan ia pasti
telah ditolong oleh kawanan perempuan busuk komplotannya.”
“Tidak mungkin, Samkongcu tidak tahu kalau anak buahnya sudah kubekuk, lagipula
mereka baru saja pergi, hakikatnya tak ada waktu bagi mereka untuk menolongnya.”
“Jangan-jangan ia diselamatkan oleh orang yang memberi peringatan tadi?”
Kembali Leng-hong menggeleng-geleng kepala, “Itupun tak mungkin, sebab
peringatan tadi justru mengingatkan kita agar jangan tertipu, atau dengan perkataan
lain iapun bermusuhan dengan Ci-moay-hwe, tidak mungkin ia menyelamatkan
perempuan itu.”
“Apa yang diperingatkan kepada kita? Siapa pula Ci-moay-hwe itu?” tanya Pang
Goan keheranan.
Secara ringkas Leng-hong menceritakan apa yang didengarnya tadi . . . .
Selesai mendengar cerita itu, dengan wajah kurang percaya Pang Goan berkata,
“Kalau begitu, Ci-moay-hwe adalah suatu organisasi yang sangat besar?”
“Bukan saja organisasi besar, bahkan ambisinya juga besar, tujuan mereka bukan
hanya menghadapi tiga istana persilatan saja, bahkan kalau bisa semua pria di dunia
ini hendak dikuasai dan ditaklukkannya.”
“Tapi yang pasti perempuan busuk itu tak mungkin jatuh dari langit, mereka pasti
mempunyai asal-usul tertentu, kenapa dalam dunia persilatan belum pernah kudengar
nama organisasi itu?”

“Menurut dugaanku, mungkin mereka beranggapan bahwa kini belum saatnya untuk
meresmikan organisasinya secara terbuka, maka nama perkumpulan masih
dirahasiakan, bila mereka sudah yakin dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe nanti pasti
akan berhasil mengalahkan semua jago di dunia, otomatis nama perkumpulan mereka
akan diumumkan secara terbuka.”
Pang Goan tertawa dingin, “Huh, aku tidak percaya hanya beberapa perempuan
busuk yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, seluruh dunia persilatan
dapat mereka kuasai?”
“Ya, sebab itulah mereka ingin mencuri belajar ilmu pedangmu,” kata Leng-hong.
“Mencuri belajar ilmu pedangku?” Pang Goan tertegun, “maksudmu . . . .”
“Sengaja Samkongcu menitahkan keempat orang perempuan cebol itu menyerangmu
secara bergilir, tujuannya tak lain adalah untuk menyadap ilmu pedang Keng-hongkiam-
hoatmu, sayang pada waktu itu kita tidak menyadari hal ini.”
Pang Goan termenung dan berpikir sebentar, tiba-tiba air mukanya berubah hebat,
lalu serunya, “Betul juga, seandainya orang itu tidak memperingatkan, aku benarbenar
tak mengira sampai ke situ, tak aneh kalau secara beruntun perempuanperempuan
busuk berubah serangan sampai tiga kali, rupanya mereka tidak sungguh
bertempur . . . . . “
Sesudah berhenti sebentar, lalu katanya pula, “Jit-long, menurut anggapanmu,
mungkinkah ia bisa mengingat setiap jurus pedangku cukup hanya menyaksikan
jalannya pertarungan tadi?”
Leng-hong mengangguk, “Bila dia mempunyai daya ingat yang bagus, kukira semua
jurus pedangmu dapat diingat seluruhnya.”
“Tapi masa dia mempunyai bakat tinggi semacam itu?”
Leng-hong kembali mengangguk, “Aku percaya bisa, kalau tidak, tak mungkin ia
atur keempat perempuan cebol itu untuk menyadap ilmu pedangmu. Lagipula . . . . .”
“Lagipula apa?”
Setelah tertawa getir, kata Leng-hong, “Terus terang kuakui Lotoako, ketika Siaute
menyaksikan jalannya pertarunganmu melawan keempat perempuan cebol tersebut,
lantaran terpesona pada kehebatan ilmu pedang Lotoako maka secara diam-diam
akupun telah menyadap beberapa jurus diantaranya.”
“Oya? Berapa jurus kauingat?”
“Kurang lebih dua puluhan jurus!”
Tentu saja Pang Goan tidak percaya, katanya sambil tertawa, “Baik, sekarang coba
kaumainkan di hadapanku.”

Setelah memberi hormat Leng-hong berkata, “Siaute hanya berbuat seperti apa yang
kuingat, jika salah harap Lotoako jangan menertawakan.”
Pang Goan tidak berkata apa-apa, sambil tertawa dia angsurkan pedangnya kepada
Leng-hong.
Setelah menerima pedang, Leng-hong mundur ke belakang, lalu mulai mainkan jurus
pedang yang berhasil disadapnya tadi, benar juga, semua jurus pedang yang telah
digunakan Pang Goan untuk bertarung melawan keempat perempuan wol tadi dapat
dimainkan satu persatu dengan tepat.
Dengan saksama Pang Goan awasi setiap gerakan itu, mula-mula ia cuma tercengang,
kemudian terkejut, dan akhirnya senyuman yang semula menghiasi bibirnya berubah
menjadi rasa kaget.
Sedikitpun tidak salah, itulah ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoat dari Cian-sui-hu di
Liat-liu-shia.
Ho Leng-hong mainkan ilmu pedang itu sampai jurus yang kedua puluh satu,
kemudian memberi hormat, katanya dengan tertawa, “Malam ini Lotoako telah
memainkan dua puluh empat jurus, sayang Siaute terlalu bodoh sehingga hanya ingat
dua puluh satu jurus saja, mungkin di antaranya ada bagian-bagian yang salah.”
Pang Goan tidak menjawab, ia geleng-geleng kepala berulang kali sambil bergumam,
“Tidak! Tidak! Tak mungkin, hakikatnya tak mungkin . . . .”
“Lotoako, hal ini mungkin saja terjadi, kalau Siaute saja bisa mengingat sampai dua
puluh satu jurus, mungkin sekali Samkongcu dapat mengingat dua puluh empat jurus
itu sekaligus, kalau tidak, tak mungkin dia mengatakan bahwa hasil yang
diperolehnya malam ini cukup lumayan.”
Pang Goan hanya berdiri termangu di situ, lama kemudian baru ia menghela napas
panjang.
“Tak kusangka di dunia ini benar-benar terdapat orang yang bisa mengingat segala
apa hanya sekali lihat saja, hal ini benar-benar sukar dipercayai.”
“Mereka telah berhasil mendapatkan kitab pusaka Po-in-pat-toa-sik dari Nyo-kehsin-
to, tapi tidak tahu cara berlatih To-kiam-hap-ping-tin-hoat, maka sengaja
diaturnya keempat perempuan cebol yang lihai dalam ilmu golok itu untuk menyerang
Lotoako dengan berbagai jurus serangan yang berbeda, pada kesempatan tersebut
diam-diam ia sadap ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoat, sudah pasti tujuannya adalah
untuk mencari intisari kepandaian tersebut untuk menciptakan semacam To-kiamhap-
ping-tin, bila kepandaian tersebut berhasil dipahaminya, jelas, dalam pertemuan
Lo-hu-to-hwe yang akan datang ia dapat mengalahkan tiga gedung besar dunia
persilatan.”
Pang Goan tertawa getir, “Seandainya benar begitu, kita masih terhitung untung di
tengah ketiak keberuntungan, paling tidak karena lukamu belum sembuh, kita masih

belum lagi mulai mempelajari ilmu To-kiam-hap-ping-tin yang diincar mereka.”
“Hal ini disebabkan perempuan yang menyaru sebagai Wan-kun itu bertindak
terlampau tergesa-gesa, coba kalau Yan-ci-po-to tidak dicuri dengan terburu nafsu,
kemungkinan besar kita sudah terperangkap.”
Pang Goan mengangguk tanda membenarkan, “Diapun mempunyai alasan yang
terpaksa, kalau golok mestika Yan-ci-po-to tidak dicuri lebih dulu, sulit bagi keempat
orang perempuan cebol itu untuk menyerangku, dan merekapun tak akan berhasil
menyadap ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoat.”
Setelah berhenti sebentar, katanya lagi, “Ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoat
mengandung unsur gabungan Thian-kang, semuanya terdiri dari tiga puluh enam
jurus, untungnya masih ada dua belas jurus inti yang tidak berhasil mereka sadap,
mulai sekarang kita harus lebih waspada.”
“Kini situasinya berkembang makin kacau dan tak keruan. Ci-moay-hwe mempunyai
ambisi yang amat besar, tapi ada orang yang rupa-rupanya memusuhi mereka secara
diam-diam, misalnya saja dicurinya golok mestika Yan-ci-po-to serta orang yang
memberi peringatan kepada kita tadi, cuma tidak diketahui mereka berasal dari aliran
mana?”
“Tercurinya Yan-ci-po-to untuk sementara waktu bukan suatu perintang besar,
siapakah orang yang memperingati kita secara diam-diam juga tak usah terburu-buru
diselidiki, yang perlu kita pahami sekarang adalah rahasia sekitar perkumpulan Cimoay-
hwe, organisasi ini selain misterius juga luas pengaruhnya, di kemudian hari
pasti akan merupakan bibit bencana bagi umat persilatan.”
“Lantas kita bagaimana menurut pendapat Lotoako? Bagaimana kita mesti turun
tangan?”
Setelah berpikir sebentar, kata Pang Goan, “Kukira, jika tujuan Ci-moay-hwe adalah
untuk berebut gelar juara dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe, berarti mereka tak akan
melepaskan pula Hiang-in-hu di Leng-lam, maka aku bermaksud berangkat sendiri ke
Hu-yong-shia dan menemui Hui Pek-ling, cuma sebelum keberangkatanku ini kita
masih harus menyelesaikan dulu satu persoalan.”
“Persoalan apa?”
“Mumpung hari masih malam, aku ingin mewariskan dulu To-kiam-hap-ping-tin
kepadamu, kupercaya dengan daya ingatanmu yang baik, semua jurus serangan bisa
kauingat baik-baik, kemudian pelahan kaupelajari dan resapi, sebelum pertemuan Lohu-
to-hwe nanti kita boleh melatihnya beberapa kali, kemudian dapat digunakan
setiap waktu.”
“Lotoako bermaksud begitu, sesungguhnya aku harus menurut, cuma ada satu hal
yang harus kuterangkan juga sebelum Lotoako wariskan ilmu To-kiam-hap-ping-tinhoat
tersebut kepadaku....”
“Tidak usah kaukatakan lagi,” tukas Pang Goan sambil menggoyang tangan, “apa

yang hendak kau katakan sudah kuketahui, lagipula sudah kupertimbangkannya,
pokoknya kau telah menjadi majikan Thian-po-hu dan mulai sekarang boleh
melanjutkan kedudukanmu dengan hati tenang, mengenai soal lain tak perlu
kaupikirkan.”
“Lotoako, benarkah kau sudah mengetahui apa yang ingin kukatakan?” tanya Lenghong
terkesiap.
“Mataku belum buta, telingaku tidak tuli, Wan-kun saja dapat kuketahui sebagai
gadungan, masakah tidak kupikirkan pula dirimu?” kata Pang Goan dengan wajah
serius, “terutama setelah kejadian malam ini, lebih terbukti lagi bahwa dugaanku tidak
salah, terus terang kukatakan kepadamu, manusia macam apakah Nyo Cu-wi itu masa
aku tak tahu? Andaikata dia memiliki separoh dari bakatmu, tak mungkin Thian-pohu
akan berada dalam posisi sulit semacam ini.”
Leng-hong terkejut dan melongo, sepatah katapun tak mampu menjawab.
Pang Goan tertawa getir, sambil menepuk bahunya ia berkata lagi, “Lote, peduli
siapakah kau, dalam pikiranku kau tetap Nyo Cu-wi, seandainya adikku suami-isteri
sudah tertimpa musibah, maka kau adalah majikan Thian-po-hu untuk selamanya,
dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang akan datang, sepantasnya pula Thian-po-hu
diwakili olehmu, sebaliknya bila adikku suami-isteri masih hidup, maka kau adalah
tuan penolong dari Thian-po-hu dan Cian-sui-hu, selamanya aku akan menganggapmu
sebagai saudara kandung sendiri, suatu hari jika aku mati, maka Cian-sui-hu adalah
rumahmu.”
“Lotoako . . . . . . .” saking terharunya Ho Leng-hong tak sanggup melanjutkan katakatanya.
“Cukup, soal lain tak usah dibicarakan lagi, aku hanya ingin jawabanmu sekecap
saja, yakni siapa namamu?”
“Aku she Ho bernama Leng-hong!”
“O, Ho Leng-hong!” dengan suara rendah Pang Goan mengulang nama itu beberapa
kali, lalu sambil mengangguk terusnya, “nama hanya tanda pengenal seseorang, untuk
menghindari segala kesulitan lebih baik kusebut Jit-long saja padamu. Hayo
berangkat Jit-long! Kita harus mulai berlatih To-kiam-hap-ping-tin-hoat . . . .”
“Lotoako, bolehkah kuucapkan sepatah kata lagi?”
“Katakanlah!”
“Siaute merasa menyelidiki asal usul Ci-moay-hwe adalah suatu hal yang penting,
mencari jejak Nyo-tayhiap suami-isteri juga tidak kurang pentingnya, mana boleh kita
pergi ke Leng-lam malah.”
“Meskipun persoalan itu tampaknya dua, hakikatnya hanya satu masalah, bisa kita
tebak kalau Cu-wi dan Wan-kun telah terjatuh ke tangan pihak Ci-moay-hwe, kalau
tidak, tak mungkin mereka berani datang kemari serta berbuat sewenang-wenang, jadi

asal rahasia Ci-moay-hwe berhasil kita ketahui, hal ini sama pula berhasil mengetahui
jejak Wan-kun suami-isteri.”
“Tapi perjalanan menuju ke Leng-lam jauh sekali, untuk pulang-pergi membutuhkan
waktu cukup lama, padahal Samkongcu dari Ci-moay-hwe berada di dekat sini,
kenapa kita menolak yang dekat dan meraih yang jauh? Kenapa kita tidak turun
tangan mulai dari Samkongcu ini?”
Pang Goan termenung sebentar, ia tanya kemudian, “Apakah kau ada akal untuk
menyelidiki tempat pondokan budak itu?”
“Tidak sulit untuk hal itu, kita boleh pancing mereka datang lagi ke Thian-po-hu,
atau dari musuh-musuh mereka kita berusaha mencari tahu tempat mereka.”
Kemudian dengan suara lirih ia jelaskan rencananya.
“Apakah kau yakin?” tanya Pang Goan kemudian dengan dahi berkerut.
“Tujuan mereka adalah To-kiam-hap-ping-tin-hoat, sehari Lotoako sebelum
meninggalkan Thian-po-hu, tak mungkin mereka akan berlalu dengan begitu saja.”
“Baiklah,” kata Pang Goan sambil mengangguk, “kita tunggu tiga hari lagi, dalam
tiga hari bila tak ada berita apa-apa, kita baru berangkat menuju ke Leng-lam.”
------------------------------
Sejak hari kedua, penjagaan di Thian-po-hu tiba-tiba diperketat, di samping itu
diumumkan pula “Pit-hu-sia-khek” (tutup pintu dan tidak terima tamu).
Mendapat perintah tersebut, seluruh Busu dalam gedung bergerak melakukan
penjagaan yang ketat, terutama dinding taman bunga bagian belakang, hampir boleh
dibilang setiap tiga langkah terdapat penjaga, tiap lima langkah sebuah pos, siang
maupun malam Busu berseragam lengkap melakukan perondaan, tak seorang pun
diizinkan mendekati dinding taman belakang.
Pihak Thian-po-hu tak pernah mengumumkan alasannya Pit-hu-sia-khek, tapi
penduduk di sekitarnya sama-sama menyiarkan berita yang menyatakan bahwa Nyo
Cu-wi, majikan Thian-po-hu sedang tirakat untuk melatih sejenis ilmu silat yang
istimewa dan bersiap-siap akan mengikuti pertemuan Lo-hu-to-hwe yang akan datang.
Tentu saja sumber berita itu berasal dari mulut para Busu, tapi hakikatnya Ho Lenghong
dan Pang Goan memang benar-benar sedang berlatih To-kiam-hap-ping-tin,
sekalipun untuk melatih ilmu barisan itu tidak perlu mengurung diri, mereka berharap
dengan To-kiam-hap-ping-tin sebagai umpan dapat memancing kedatangan
Samkongcu ke Thian-po-hu.
Oleh sebab itulah, meski penjagaan di luar gedung tampaknya sangat ketat,
sesungguhnya penjagaan di dalam gedung sendiri amat kendur, kalau siang hari
perondaan dilakukan berulang-ulang, maka bila malam tiba, penjagaan berubah
menjadi penjagaan secara diam-diam, kecuali para Busu di luar tembok yang berjaga

dengan obor di mana-mana suasana dalam taman bagian dalam amat sepi, kecuali
petugas peronda dan penyampai berita, tiada pengadaan atau pemeriksaan yang teliti.
Hari pertama bisa dilalui dengan tenang, apa pun tidak terjadi.
Hari kedua kembali lewat, tapi belum juga ada sesuatu yang mencurigakan.
Pada hari ketiga, Pang Goan sudah mulai tak sabar, sudah lewat tengah hari, tapi
kabar tentang Ci-moay-hwe belum juga didapatkan, ia mulai bersiap-siap melakukan
penjagaan.
Menjelang senja itulah, tiba-tiba di luar gedung kedatangan seorang tamu.
Orang itu masih muda sekali, sekitar dua puluh tahunan, raut mukanya bulat,
matanya besar dan giginya rata, cuma hidungnya agak pesek. Ia mengenakan baju dari
kain kasar, membawa buntalan dan mukanya kotor penuh debu.
Kalau dilihat wajahnya yang kusut dan letih bisa diketahui dia baru saja menempuh
perjalanan jauh dan khusus datang untuk menyambangi Thian-po-hu.
Ia mengaku she Oh, datang ke sini ingin bertemu dengan Nyo Cu-wi, majikan Thianpo-
hu.
Ketika para Busu mengatakan bahwa majikannya sedang “Pit-hu-sia-khek”, orang itu
berkeras ingin menjumpainya, katanya ada urusan penting yang hendak dibicarakan
secara langsung tapi ia enggan memberi penjelasan yang terperinci tentang nama dan
maksud tujuannya.
Ia hanya berkata seandainya Nyo Cu-wi sedang tutup pintu tidak menerima tamu,
maka ia rela menunggu terus di luar gedung.
Ketika Leng-hong menerima laporan dari para Busu, ia lantas mencari Pang Goan
untuk berunding, “Kemungkinan besar orang ini adalah utusan dari Ci-moay-hwe
yang ditugaskan untuk mencari berita. Lotoako, mari kita temui bersama.”
Pang Goan berpikir sebentar, lalu sahutnya, “Kukira cara ini kurang baik, lebih baik
salah seorang di antara kita menjumpainya dan yang lain bersembunyi. Begini saja,
kau yang temui orang itu dan aku akan mengintip secara diam-diam, apapun maksud
kedatangannya lebih baik kita tahan dia agar menginap di kamar tamu ruang depan,
kita harus menggunakan ketenangan untuk menghadapi segala perubahan yang
penting, selidiki dulu asal-usulnya.”
Selesai berunding, Leng-hong muncul sendiri ke ruang depan dan Pang Goan
sembunyi lebih dulu di belakang ruang tamu.
Ketika orang itu berjumpa dengan Ho Leng-hong, sambil memberi hormat ia
bertanya, “Tolong tanya, apakah saudara ini Nyo Cu-wi, Nyo-tayhiap dari Thian-pohu?”
“Benar,” sahut Leng-hong sambil tersenyum, “Sebetulnya, karena ada urusan, Siaute

sedang mengurung diri dan tidak menerima tamu, tapi berhubung kudengar Oh-heng
datang dari jauh, terpaksa kusambut kedatanganmu, bolehkah kutahu ada urusan apa
Oh-heng mencari Siaute?”
Dengan sorot mata tajam orang itu memperhatikan Ho Leng-hong dari atas sampai ke
bawah, lalu katanya, “Maaf, aku belum pernah berjumpa dengan Nyo-heng, karena itu
maaf jika sekiranya ucapanku kurang pantas, dapatkah Nyo-heng menjelaskan apakah
kau benar-benar majikan dari Thian-po-hu?”
“Aku tidak mengerti maksud Oh-heng.....” kata Leng-hong dengan melengak.
“Maksudku, berhubung urusan ini penting dan sangat rahasia, maka sebelum
kuutarakan lebih baik Nyo-heng membuktikan diri sendiri sebagai majikan Thian-pohu.”
“Tempat ini adalah Thian-po-hu dan akulah Nyo Cu-wi, memangnya Oh-heng minta
aku membuktikan dengan cara bagaimana?”
“Gampang sekali, bila Nyo-heng dapat mengundang keluar enso, maka akupun akan
percaya.”
“Apakah Oh-heng kenal dengan Wan-kun?” tanya Leng-hong dengan agak
tercengang.
“Ya, tiga tahun yang lalu pernah kuberjumpa dengan Pang-toaci, atas kebaikannya
kami telah mengikat menjadi.....”
Menjadi apa? Tiba-tiba ia tutup mulut dan tidak melanjutkan, agaknya tidak leluasa
dijelaskannya.
Leng-hong tambah terkejut, katanya dengan suara tertahan, “Oh-heng, sesungguhnya
siapa kau? Ada urusan apa datang ke Thian-po-hu?”
“Maaf,” sahut orang itu sambil memberi hormat, “sebelum bertemu dengan Pangtoaci
dan terbukti kau betul-betul adalah Nyo-heng, aku tak dapat menjawab
pertanyaanmu.”
“Kau . . . . “
Pang Goan yang bersembunyi di belakang pintu angin tiba-tiba tertawa dan berseru,
“Jit-long, tak usah kau tanya dia lagi, aku tahu siapakah dia.”
Sambil melangkah keluar dari tempat sembunyiannya, Pang Goan berkata seraya
menuding orang itu, “Kau adalah Siau-cu-cu (si cu kecil), betul tidak?”
Agaknya orang itu tidak kenal dengan Pang Goan, dengan bingung sahutnya, “Benar,
dan siapakah kau . . . .”
“Kau hanya ingat pada Pang-toaci seorang, masakah tidak tahu akan Pang-toako?”

“O!” orang itu cepat-cepat memberi hormat, “maaf, kiranya Pang-toako juga berada
di sini.”
Pang Goan memberi tanda agar semua Busu dan pelayan keluar ruangan, kemudian
dengan wajah serius katanya kepada Ho Leng-hong, “Jit-long, dia ini Hui Beng-cu,
putri tunggal Hui Pek-ling dari Hu-yong-shia, di Leng-lam.”
Leng-hong melonjak kaget buru-buru ia memberi hormat sekali lagi, “Nona Hui,
kenapa jauh-jauh kau datang kemari? Lagi pula perempuan menyaru sebagai lakilaki?”
Sebelum menjawab, mata Hui Beng-cu sudah merah lebih dulu, sambil menahan isak
tangisnya ia berkata, “Terus terang kuberitahukan kepada Toako berdua,
kedatanganku kemari adalah khusus untuk minta bantuan.”
“Apa? Jadi Hiang-in-hu juga tertimpa musibah?” seru Pang Goan kaget.
“Pang-toako, kenapa kau mengatakan ‘juga tertimpa musibah’?” tanya Hui Beng-cu,
“jangan-jangan di Cian-sui-hu juga terjadi sesuatu peristiwa besar?”
Sambil menghela napas Pang Goan geleng-geleng kepala berulang kali, “Cian-sui-hu
sih tak terjadi apa-apa, tapi Thian-po-hu telah mengalami kesulitan, Siaucu, coba
terangkan dulu kejadian yang telah menimpa Hiang-in-hu kalian.”
“Dapatkah kujumpai Pang-toaci lebih dulu?” pinta Hui Beng-cu, ia masih agak
sangsi.
“Tak usah kau singgung dia lagi, persoalan ini justru terjadi atas dirinya, terus terang
kuberitahukan padamu, ia sudah ditawan orang dan tak ada di sini, kemungkinan
besar telah dicelakai musuh dan tiada di dunia lagi.”
Ketika dilihatnya wajah Hui Beng-cu diliputi rasa kaget dan curiga, ia berkata lebih
jauh, “Cuma kau jangan kuatir. Aku Pang-toako bukan gadungan, kalau tidak, mana
mungkin nama kecilmu bisa kusebut, meskipun kita belum pernah bertemu, tapi
pernah kudengar Wan-kun menceritakan perkenalannya denganmu, konon kalian
bertemu dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang lalu, mula-mula bertarung dan akhirnya
mengikat tali persaudaraan, bahkan berjanji akan main bersama-sama ke pulau Bu-tosan
di Lam-hay, betul tidak?”
Dengan air mata bercucuran Hui Beng-cu mengangguk, “Benar, sebenarnya Pangtoaci
ajak aku pesiar ke laut selatan, tapi karena pertemuan To-hwe berakhir sebelum
saatnya, niat tersebut tidak terlaksana, kemudian kudengar Taci kawin dengan
majikan Thian-po-hu, sebetulnya aku mau datang menyampaikan selamat, tapi ayah
tidak mengizinkan..., sungguh tak nyana perpisahan itu adalah perpisahan untuk
selamanya.”
Ketika mengucapkan kata-kata terakhir, meledaklah isak tangisnya.
“Nona jangan bersedih hati dulu,” hibur Leng-hong, “bagaimanakah keadaan Wankun
hingga kini belum diketahui dengan pasti, coba beritahukan dulu kepada kami,

apa yang terjadi di Hiang-in-hu?”
“Panjang sekali ceritanya,” tutur Hui Beng-cu dengan air mata bercucuran, “ini harus
dimulai ketika pertemuan Lo-hu-to-hwe yang lalu.”
“Tidak menjadi soal, tahan dulu rasa sedih nona, kemudian baru bercerita.”
Hui Beng-cu mengusap air matanya, setelah menenangkan hati lalu ia berkata dengan
sedih, “Pertemuan Lo-hu-to-hwe yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali itu
selalu dijuarai oleh Thian-po-hu, tapi semenjak gelar Thian-he-te-it-to berhasil
diperoleh ayahku dalam pertemuan yang lampau, dalam dunia persilatan lantas tersiar
berita yang mengatakan bahwa Hiang-in-hu telah mempergunakan siasat Bi-jin-ke
(siasat perempuan cantik) yang mengakibatkan pemilik Thian-po-hu kehilangan
tenaga dalamnya sebelum bertanding sehingga kedudukan terhormat itu dirampas
orang. Ayahku marah dan mendongkol sekali setelah mengetahui kabar ini, dia
bersumpah akan mempertahankan gelar tersebut selama hidup, maka mulailah dengan
usaha ayahku untuk mencari golok mestika . . . . “
Ho Leng-hong dan Pang Goan saling pandang sekejap, namun keduanya tetap
bungkam.
“Kemudian datang seorang perempuan asing yang menawarkan sebilah golok
(samurai), perempuan asing itu berdandan genit dan menyolok, ia pandai pula
berbicara, setelah melakukan tawar menawar, akhirnya bukan saja ayahku membeli
samurai tersebut, perempuan asing penjual samurai itupun diminta pula tinggal di
rumah.”
“Apakah perempuan asing itu adalah orang Ainu dari negeri Timur?” tiba-tiba Lenghong
menyela.
“Nyo-toako, darimana kautahu?” tanya Hui Beng-cu tercengang.
Ho Leng-hong tertawa getir, “Kejadian selanjutnya tidak nona katakanpun aku sudah
tahu, tentunya perempuan asing itu merayu ayahmu dan merengek kepada ayahmu
agar diajari ilmu golok Hiang-in-hu bukan?”
“Memang demikianlah. Ilmu golok keluarga Hui kami bernama Liat-yam-cap-sacam,
biasanya tidak diwariskan kepada anak perempuan, tapi berhubung ayah Cuma
mempunyai seorang puteri, maka terpaksa ilmu itu diwariskan kepadaku, tak nyana
ayah juga telah mewariskan kepandaian saktinya itu kepada seorang perempuan asing
yang tidak diketahui asal-usulnya.”
“Lama kelamaan perempuan asing itu tentunya mendatangkan banyak koncokonconya
untuk mengurusi semua pekerjaan rumah, selain itu memperuncing pula
hubungan kalian ayah dan anak, betul tidak?” tanya Leng-hong pula.
“Tepat sekali, sejak ayah memelihara perempuan asing itu, wataknya sama sekali
berubah, ia melarang aku berhubungan dengan Pang-toaci, kemudian ketika Cian-suihu
berbesanan Thian-po-hu, akupun dilarang kondangan, satu persatu anggota lama
dalam gedung dipecat dan diganti oleh konco-konco perempuan asing itu, bahkan

belakang ini keadaannya bertambah hebat, ia hendak memaksaku untuk kawin dengan
Congkoan (kepala rumah tangga) baru bernama Kim Pang, kumohon agar perkawinan
ini dibatalkan, tapi ayah tak mau ubah pendiriannya, terpaksa aku minggat dari
rumah.”
Leng-hong hanya mendengarkan tanpa berbicara, ia seakan-akan sedang memikirkan
sesuatu persoalan.
Sebaliknya dengan marah Pang Goan berkata, “Sungguh tak nyana nama besar Tayyang-
to Hui Pek-ling harus kandas di tangan orang perempuan asing pada usia
tuanya.”
“Aku sendiripun tidak menyangka,” kata Beng-cu pula dengan gegetun, “kecuali
agak berangasan, sesungguhnya ayahku adalah seorang yang jujur dan berhati lurus,
tapi sekarang ia seperti telah kena guna-guna dan berubah menjadi seorang yang
lain....”
“Nona Hui, apakah ibumu masih hidup?” tiba-tiba Leng-hong bertanya.
“Tidak, ibuku sudah lama meninggal dunia, waktu itu aku baru berusia empat tahun.”
“Selama ini pernahkah ayahmu bermaksud kawin lagi?”
“Tidak pernah, ayahku selalu kangen dan memikirkan ibu, hakikatnya sama sekali
tak berniat mencari isteri baru, belasan tahun belakangan ini kami berdua ayah dan
anak selalu hidup berdampingan.”
“Kalau begitu, kenapa setelah bertemu dengan seorang perempuan asing dia lantas
menjadi bodoh dan mau dirayu? Betul-betul tua bangka pikun dan keblingar!” omel
Pang Goan dengan gemas.
“Lotoako tak boleh menyalahkan Hui-locianpwe,” kata Leng-hong sambil geleng
kepala, “menurut dugaanku kejadian ini lagi-lagi adalah hasil karya Ci-moay-hwe.”
“Maksudmu, Hui Pek-ling yang asli telah ditukar dengan Hui Pek-ling gadungan?”
“Ya, kalau mereka bisa melatih seorang Pang Wan-kun gadungan, kenapa tak bisa
melatih pula seorang Hui Pek-ling gadungan?”
“He, apa yang kalian bicarakan?” seru Hui Beng-cu kebingungan, “Ci-moay-hwe apa
maksud kalian? Dan apapula yang asli dan gadungan?”
Secara ringkas Leng-hong lantas menceritakan kejadian yang telah menimpa Thianpo-
hu, tentu saja merahasiakan tentang dirinya yang dijadikan Nyo Cu-wi gadungan
ini.
Ketika mendengar cerita tersebut, Hui Beng-cu melongo kaget, sampai lama ia tak
sanggup mengucapkan sepatah katapun, kemudian ia menggeleng kepala sambil
mengeluh, “Tak kusangka di kolong langit ada kejadian seperti ini, masa seorang bisa
diubah menjadi orang lain, hal ini . . . hal ini benar-benar terlalu mengerikan.”

“Untuk berhasil merajai dunia persilatan dan memusuhi kaum pria, pertama-tama Cimoay-
hwe harus berhadapan dulu dengan Bu-lim-sam-hu (tiga gedung dalam dunia
persilatan), asal mereka membuang pikiran dan tenaga dengan mencari seorang yang
berwajah mirip, kemudian diberi pula latihan yang ketat, untuk menyamar sebagai
seseorang memang bukan sesuatu pekerjaan yang sukar.”
Tiba-tiba ia tertawa, lalu katanya lagi, “Setelah mereka sanggup merias wajah
seseorang, lalu diselundupkan ke suatu tempat untuk menyelidiki suatu rahasia, kukira
hal ini suatu pekerjaan yang sangat mudah.”
Hui Beng-cu tertegun, serunya, “Nyo-toako, apakah kaupun mencurigai diriku
sebagai seorang yang menyamar orang lain?”
“Bukannya aku suka curiga,” kata Ho Leng-hong sambil tertawa, “tapi justru karena
pihak Ci-moay-hwe sedang berusaha dengan segala akal untuk menyusupkan
orangnya ke Thian-po-hu, dan kebetulan nona seorang gadis pula yang belum pernah
kami lihat, maka bila nona dapat membuktikan kebenaran asal-usulmu, tentu saja hal
ini akan jauh lebih baik.”
“Cara yang paling baik adalah mempersilakan nona memainkan Liat-yam-cap-sahcam
dari perguruanmu.”
Hui Beng-cu berpikir sebentar, lalu katanya, “Padahal cara inipun belum dapat
membuktikan kebenaran asal usulku, sebab ayahku telah mengajarkan pula Liat-yamcap-
sah-cam tersebut perempuan siluman itu.”
“Tidak menjadi soal, meskipun perempuan siluman itu juga bisa memainkan ilmu
golok Liat-yam-cap-sah-cam, kesempurnaannya tentu masih jauh daripada yang
diharapkan, bagaimanapun tentu berbeda dengan nona yang telah mempelajarinya
sejak kecil.”
Kembali Hui Beng-cu termenung sebentar, katanya kemudian, “Baiklah, aku akan
mempertunjukkan, Cuma akupun mempunyai satu permintaan.”
“Katakan saja nona!”
“Ayahku telah dikuasai mereka, apakah dipalsui atau tidak, yang pasti keadaannya
sangat berbahaya, bila sudah kubuktikan kebenaran asal-usulku, Toako berdua harus
menyanggupi akan menemaniku berangkat ke Leng-lam dan menyelamatkan
ayahku.”
“Soal ini tak perlu nona katakan lagi,” sahut Leng-hong tanpa ragu-ragu, “Bu-limsam-
hu sama-sama tertimpa musibah, sudah sepantasnya kita saling membantu untuk
menghadapi musuh yang sama.”
Hui Beng-cu tidak banyak bicara lagi, ia membuka bungkusannya dan meloloskan
sebilah golok melengkung yang amat tajam.
Golok itu bentuknya seperti sabit, lebar golok hanya tiga jari dengan gagang dari

emas serta rantai perak pengikat tangan, pada kedua sisi sarung golok masing-masing
terdapat sebuah mutiara besar yang dijadikan sebagai lukisan matahari, sekilas
pandang dapat diketahui bahwa senjata tersebut adalah golok mestika yang tak ternilai
harganya.
Hui Beng-cu melolos goloknya, lalu melangkah ke luar ruangan, setelah memberi
hormat, katanya, “Mohon petunjuk Toako berdua.”
“Tidak berani!” Leng-hong dan Pang Goan segera membalas menghormat.
Hui Beng-cu menarik kaki kanannya ke belakang lalu tubuhnya berputar setengah
lingkaran, tangan kiri direntangkan, pelahan hawa murninya dikerahkan.
Dalam waktu singkat, air mukanya dari merah, berubah menjadi pucat, sebaliknya
goloknya yang bening tajam pelahan memancarkan selapis hawa berwarna merah.
Melihat ini, entah mengapa tiba-tiba Leng-hong teringat pada golok mestika Yan-cipo-
to.
Baik Tay-yang-sin-to dari keluarga Hui maupun Nyo-keh-sin-to dari Thian-po-hu,
keduanya adalah ilmu golok terkenal di dunia persilatan, Cuma bedanya Po-in-pattoa-
sik dari Nyo-keh-sin-to lebih mengutamakan keganasan, keanehan dan
kelincahan, sehingga dibandingkan dengan Liat-yam-cap-sah-cam dari Tay-yang-sinto
lebih tinggi setengah tingkat.
Sebab itulah kemenangan yang beruntun dalam pertempuran Lo-hu-to-hwe sebagian
besar disebabkan keanehan serta kelincahan ilmu golok terebut, ditambah lagi dengan
Yan-ci-po-to yang amat tajam, jadi mustahil kalau sampai kalah di tangan Hui Pekling.
Kalau memang begini, lantas apa yang menjadi sebab utama kekalahan Thian-po-hu
dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang lampau? Kecuali berita yang mengatakan
lantaran terkena siasat Bi-jin-ke, mungkinkah masih terselip sebab-sebab lain?
Andaikata memang benar terjebak oleh siasat Bi-jin-ke, siapakah yang secara diamdiam
mengatur segala sesuatunya itu?
Seandainya siasat Bi-jin-ke datangnya dari pihak Ci-moay-hwe, mengapa pula
keuntungan besar ini mereka berikan kepada Hui Pek-ling dengan begitu saja?
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Ho Leng-hong, dari hawa golok yang
dipancarkan Tay-yang-sin-to, ia membayangkan kembali Yan-ci-po-to yang dicuri
orang, lalu terbayang lenyapnya Thian Pek-tat dan manusia misterius yang
memperingatkan Pang Goan secara diam-diam, serta mati hidup Nyo Cu-wi suami
isteri..... dan sebagainya.
Di antara sekian banyak kejadian ia merasa satu sama lainnya mempunyai kaitan
yang erat, dan satu hal ia yakin benar, yakni selain Ci-moay-hwe pasti ada pula
organisasi rahasia lainnya yang turut dalam pertikaian ini.

Pada mulanya Ho Leng-hong mencurigai pihak Hiang-in-hu dari Hu-yong-shia yang
diam-diam berperan, tapi setelah terbukti bahwa Hui Pek-ling sendiripun dikuasai
orang, ia semakin yakin ada sekelompok manusia misterius lagi yang diam-diam
sedang beradu kekuatan dengan Ci-moay-hwe, sedang golok Yan-ci-po-to itu justru
telah terjatuh ke tangan manusia tersebut....
Sementara ia masih melamun, Hui Beng-cu telah berseru nyaring, lalu mulai mainkan
ilmu golok Liat-yam-cap-sa-cam, tiga belas jurus bacokan bara api.
Cepat-cepat Leng-hong membuang jauh semua pikiran dan pusatkan perhatiannya
mengikuti permainan tersebut.
Tertampaklah golok Hui Beng-cu telah memancarkan selapis cahaya merah, tatkala
golok mulai bergerak, maka terasalah seperti segulung kobaran api seolah-olah
sedang menyambar ke sana kemari, semua jurus serangannya merupakan jurus aliran
keras, demikian hebatnya gerakan itu, tak malulah ilmu golok tersebut disebut ilmu
golok jempolan.
Selesai ilmu golok itu diperlihatkan, tampak jidat Hui Beng-cu sedikit berkeringat,
bagaimanapun kekuatan kaum wanita memang ada batasnya, tentu saja ia merasa
agak lelah memainkan ilmu golok aliran keras semacam ini.
Leng-hong mengerling sekejap ke arah Pang Goan sambil bertanya, “Bagaimana?”
“Memang betul ilmu golok Tay-yang-sin-to asli, tak mungkin salah lagi,” kata Pang
Goan sambil manggut-manggut.
Tersenyum Ho Leng-hong dan segera memberi hormat, katanya, “Nona Hui,
maafkanlah bila kurang hormat tadi, silakan masuk ke dalam untuk bicara.”
“Sekarang tentunya kalian sudah percaya bahwa aku bukan samaran orang lain?”
“Setelah menyaksikan sendiri kelihaian ilmu golok Leng-lam, tentu saja kami
percaya.”
Hui Beng-cu mengembus napas lega, “Kalau begitu menurut rencana Toako kapan
kita berangkat ke Leng-lam?”
“Hari ini jelas tak sempat, lagipula nona baru datang dari tempat jauh, silakan cuci
badan, ganti pakaian dan beristirahat dulu, malam nanti akan kusiapkan perjamuan
untuk menyambut kedatangan nona, sekalian kita rundingkan lagi rencana
selanjutnya, setuju?”
“Ah, akupun bukan orang yang tak tahu diri, setibanya di sini, sedikitnya harus
mengganggu beberapa hari lebih dulu sebelum berangkat,” kata Hui Beng-cu sambil
tertawa.
Maka Leng-hong lantas menyuruh pelayan menemani Hui Beng-cu membersihkan
badan mengganti pakaian, lalu memerintahkan koki menyiapkan perjamuan.

Begitu Hui Beng-cu berlalu, buru-buru Pang Goan bertanya, “Jit-long, apakah ketiga
belas jurus ilmu golok tadi sudah kau ingat semua?”
“Jangan kuatir, sudah ada di sini semua,” jawab Leng-hong sambil mengetuk batok
kepala sendiri.
“Bagus sekali,” sorak Pang Goan dengan gembira, “meskipun kita sudah kecurian
ilmu Po-in-pat-toa-sik dan dua puluh empat jurus ilmu pedang, setelah kita berhasil
menyadap Liat-yam-cap-sa-cam dari Hiang-in-hu, rasanya tidak rugi terlalu besar kita
ini.”
“Cuma, Siaute merasa Tay-yang-sin-to terlalu banyak kerasnya daripada kelincahan,
bila ketemu dengan golok mestika yang tajam maka sulit untuk mengembangkan
kelihaian ilmu golok tersebut.”
“Sebab itulah Hui Pek-ling berusaha dengan segala daya upaya untuk mendapatkan
sebilah golok mestika.”
Tapi Leng-hong geleng kepala berulang kali, “Siaute bukan maksudkan hal ini, aku
merasa untuk menandingi Po-in-pat-toa-sik dan Yan-ci-po-to dari Thian-po-hu
dengan Tay-yang-sin-to, sesungguhnya tidak besar kesempatan untuk merebut
kemenangan, kalau begini, maka aku menjadi berpikir kembali berdasar apakah Hui
Pek-ling berhasil mengalahkan Thian-po-hu dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang
lalu?”
“Kenapa secara tiba-tiba kau berpikir sampai ke situ?” tanya Pang Goan tertegun.
“Sesungguhnya persoalan ini sudah lama terpikir olehku, setelah nona Hui
menyinggung soal ‘Bi-jin-ke’ tadi, lalu kuputuskan untuk menanyakan soal ini kepada
Lotoako.”
“Apa yang ingin kau ketahui?”
“Teringat sewaktu kita berjumpa untuk pertama kalinya dulu Lotoako pernah
menyinggung soal ‘rela menghadapi kematian’, bolehkah kutahu apa sebabnya para
kakak Nyo Cu-wi rela mati? Apa pula maksud tujuannya yang sesungguhnya di balik
perkawinan antara Thian-po-hu dengan Cian-sui-hu?”
“O, rupanya persoalan ini yang kautanyakan, waktu itu aku mengira kau adalah Nyo
Cu-wi, maka tidak kuberi penjelasan lebih lanjut, kemudian setelah dikacau oleh Cimoay-
hwe, akupun lupa membertahukan hal ini kepadamu, bila dibicarakan,
sebenarnya hingga kini peristiwa tersebut masih merupakan teka-teki besar.”
“Apakah menyangkut keluarga Nyo dari Thian-po-hu?”
“Benar. Tapi mungkin juga ada hubungannya dengan Ci-moay-hwe atau keluarga
Hui di Hu-yong-shia.”
“Dapatkah Lotoako menjelaskan lebih terperinci?”

Pang Goan manggut-manggut, “Aku ingin menjelaskan semua yang kuketahui,
sayangnya apa yang kuketahui tidak terlalu banyak . . . “
-----------------------
“Cerita ini dimulai pada empat ratus tahun yang lalu,” demikian Pang Goan mulai
menuturkan suatu cerita yang aneh dan misterius, “konon pada jaman itu hidup
sepasang suami-isteri, yang pria she Oh, asalnya adalah seorang panglima perang di
bawah pimpinan Gak Hui, ilmu goloknya sangat lihay dan pernah menghancurkan
pasukan kuda berantai dari tentara Kim, kemudian setelah Gak Hui tewas di tangan
menteri dorna, dalam keputus-asaannya ia meletakkan jabatan dan hidup berkelana
sebagai seorang pendekar, dengan sebilah goloknya secara beruntun ia mengalahkan
delapan puluh sembilan orang jago lihay ahli golok sehingga namanya termasyhur
dalam dunia persilatan sebagai To-seng (nabi golok), maka iapun memberi nama pada
dirinya sendiri sebagai Oh It-to atau Oh si golok.”
“Bagus juga nama ini,” kata Leng-hong sambil tertawa.
Bukan cuma namanya saja yang bagus, ilmu golok Oh It-to terhitung juga sakti luar
biasa, sukar diraba kehebatannya, orang persilatan pada jaman itu jarang ada yang
sanggup menangkis sekali bacokannya. Sayang saking keranjingannya dengan ilmu
goloknya, Oh It-to sampai melupakan isterinya, dan lebih celaka lagi isterinya
ternyata seorang ahli golok pula.”
“Oo? siapakah nama isterinya?”
“Siapa namanya kurang begitu jelas, orang hanya tahu dia bernama Hui-nio, lantaran
sehari-hari ia gemar berpakaian gaun merah, orang menyebutnya sebagai Ang-ih Huinio
(Hui-nio si baju merah).”
“Apakah ilmu goloknya sangat lihay?”
Pang Goan manggut-manggut, “Konon Ang-ih Hui-nio berasal dari keluarga kaya,
lagipula dia memiliki bakat alam dan otak cerdas, ketika kawin dengan Oh It-to, usia
mereka selisih tiga puluh tahunan, sebetulnya orang tua Hui-nio tidak setuju dengan
perkawinan ini, tapi berhubung Hui-nio begitu terpesona pada ilmu silat Oh It-to, ia
rela retak hubungan dengan orang tua dan kawin dengan pujaan hatinya, pada
akhirnya kedua orang itu kawin juga, sayang belum sampai setahun suami isteri itu
lantas mulai cekcok dan tidak akur, pada akhirnya harus berpisah.”
“Ai, sungguh drama yang menyedihkan,” bisik Leng-hong sambil menghela napas.
“Memang tragedi yang mengharukan. Setelah putus hubungan dengan orang tua, dan
disia-siakan pula oleh suaminya, setelah perpisahan tersebut Hui-nio merasa malu
bercampur marah, sejak itu ia bertekad menciptakan sejenis ilmu golok dan
bersumpah hendak mengalahkan Oh It-to. Setelah berlatih sepuluh tahunan, akhirnya
berhasil juga ia ciptakan serangkaian ilmu golok yang lihay, maka secara resmi ia
tantang Oh It-to untuk menentukan siapa yang lebih hebat!”
“Bagaimana akhirnya?” tanya Leng-hong dengan cepat.

Pang Goan tersenyum getir, katanya, “Suami-isteri itu secara beruntun telah
melangsungkan delapan kali pertandingan, setiap kali pertempuran berlangsung tak
pernah lebih dari satu gebrakan, sebab setiap kali Oh It-to melancarkan serangan,
jurus serangannya selalu terbendung, delapan kali pertarungan delapan kali pula ia
menderita kekalahan, satu kalipun tak pernah menang.”
“Oh, masa sampai begitu?”
“Sebetulnya kejadian ini tidak aneh, sebab pada dasarnya Ang-ih Hui-nio adalah
orang yang cerdas dan berbakat bagus, usianya masih muda, selama menjadi suamiisteri
dia sudah apal dengan rahasia ilmu golok Oh It-to, selain itu iapun memeras
otak selama sepuluh tahun untuk menciptakan ilmu golok saktinya, tentu saja ia dapat
merebut posisi menguntungkan dan mengatasi semua serangan Oh It-to, tapi dengan
terjadinya peristiwa ini, meskipun Ang-ih Hui-nio berhasil melampiaskan rasa
dendamnya, tapi nama besar Oh It-to pun hancur berantakan, hitung-hitung kedua
pihak sama-sama menderita kerugian besar.”
“Bagaimana kemudian?”
“Delapan kali pertarungan yang mereka lakukan hampir berlangsung sepuluh tahunan
lamanya, semenjak itu Oh It-to tak pernah muncul lagi di dunia persilatan, sedang
usia Ang-ih Hui-nio pun sudah empat puluh tahunan, kedua suami isteri itu tak pernah
terjun lagi ke dalam dunia persilatan.”
“Dapatkah mereka rukun kembali?”
Pang Goan menggeleng kepala, “Sekali suami isteri sudah bertengkar, sukar bagi
mereka untuk rujuk kembali.”
“Tapi apa hubungannya antara peristiwa itu dengan Thian-po-hu?” tanya Ho Lenghong
sesudah termenung sebentar.
“Besar sekali hubungannya. Sebab dalam delapan kali pertarungan antara Oh It-to
melawan Ang-ih Hui-nio, setiap jurus serangan yang ia gunakan merupakan intisari
dari ilmu golok Oh It-to yang kemudian disebut sebagai Po-in-pat-toa-sik (delapan
jurus sakti pembelah awan).”
“O!” Ho Leng-hong bersuara kaget, “ternyata Nyo-keh-sin-to (golok sakti keluarga
Nyo) berasal dari Oh It-to? Cuma . . . . . . .”
Setelah berhenti sejenak, seperti memahami akan sesuatu, katanya pula, “Kalau Poin-
pat-toa-sik pernah dipatahkan oleh Ang-ih Hui-nio, jangan-jangan Hui Pek-ling
telah berhasil mendapatkan ilmu golok dari Ang-ih Hui-nio?”
“Itu sih tidak. Cuma konon ilmu golok sakti Ang-ih Hui-nio telah diwariskan pula
dalam bentuk sejilid kitab pusaka, justru untuk menemukan kitab pusaka ilmu golok
itulah Nyo-si-hengte dari Thian-po-hu telah mengorbankan jiwanya di lembah Bi-kok
(lembah sesat).”

“Bi-kok?” Leng-hong menegas.
“Benar. Lembah itu adalah lembah misterius yang amat berbahaya dan buas, konon
di situlah bersembunyi anak murid Ang-ih Hui-nio, semua murid-muridnya rata-rata
memiliki ilmu golok yang lihai, tapi tak seorang pun yang pernah meninggalkan
lembak tersebut, orang luar pun tak boleh masuk ke situ, barang siapa berani
memasuki Bi-kok, jangan harap bisa muncul lagi dalam keadaan hidup, entah
bagaimana kejadiannya, berita itu akhirnya diketahui oleh Nyo Ciau-thong, majikan
tua dari gedung Thian-po-hu, sebelum wafat rahasia ini ia beritahukan pula kepada
putera sulungnya, Nyo Han-wi.”
“Maksud Nyo Ciau-thong waktu itu mungkin hanya ingin menjelaskan kepada anak
cucunya bahwa ilmu Poh-in-pat-toa-sik bukan kepandaian yang tiada tandingannya di
dunia ini, cerita tersebut diturun terurunkan dengan maksud sebagai peringatan saja.
Siapa tahu Nyo Han-wi yang masih muda dan berjiwa panas menganggap hal ini
sebagai suatu bibit bencana terbesar bagi Thian-po-hu, maka begitu ayahnya
meninggal, segera ia serahkan semua urusan rumah tangga Thian-po-hu kepada Jilong
(saudara kedua), ia sendiri lantas berangkat ke Bi-kok, semenjak itu tiada kabar
beritanya lagi dan mungkin jiwanya telah melayang....”
Ho Leng-hong menghela napas panjang.
Setelah berhenti sebentar, Pang Goan bercerita lebih lanjut, tujuh bersaudara keluarga
Nyo rata-rata adalah pemuda berwatak tinggi hati, ketika Lotoa pergi tak kembali, Jilong
melakukan tindakan yang sama dan menyerahkan tanggung jawab Thian-po-hu
kepada Sam-long, tapi iapun pergi tak kembali lagi, maka menyusul kemudian Sulong,
Ngo-long.... satu persatu pergi meninggalkan rumah untuk tidak kembali lagi,
dalam beberapa tahun saja secara beruntun Nyo-keh-hengte telah tewas semua,
selama beberapa tahun belakangan itu seluruh perhatian dan pikiran mereka hanya
terpusatkan untuk melakukan misi terebut, merekapun tak ingin diketahui orang luar,
sehingga tidak memperdalam ilmu silatnya lagi, sebab itulah Lak-long Nyo Ci-kong
harus menelan kekalahan getir di tangan Hui Pek-ling dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe
tahun lalu.”
“Ya, maklumlah! Jika seorang yang belajar silat sudah mengalihkan perhatiannya ke
masalah lain, otomatis ilmu silatnya akan terbengkalai,” kata Ho Leng-hong sambil
menghela napas, “tapi persoalan ini merupakan rahasia keluarga Nyo, darimana
Lotoako mengetahuinya?”
“Lak-long Nyo Ci-kong yang memberitahukan sendiri kepadaku. Sebelum berangkat
ke pertemuan Lo-hu-to-hwe, ia menyadari bahwa ilmu silatnya terbengkalai dan
kemungkinan besar bakal kalah, tapi ia bertekad tidak menyampaikan rahasia ini
kepada Jit-long Nyo Cu-wi agar keturunan keluarga Nyo tidak putus di tengah jalan,
pada waktu itu dengan perasaan tertekan ia berangkat untuk ikut serta dalam
pertemuan, betul juga akhirnya ia dikalahkan oleh Hui Pek-ling.
“Setelah kejadian itu, dengan membawa kitab pusaka ilmu golok dan golok mestika
Yan-ci-po-to warisan leluhurnya ia datang sendiri ke Cian-sui-hu untuk melakukan
lamaran, pada kesempatan itu ia memberitahukan rahasia tersebut kepadaku di
samping memohon agar adikku dikawinkan dengan adiknya, selain itu iapun ingin

menggunakan To-kiam-hap-ping-tin untuk membantu Thian-po-hu serta mendorong
Jit-long agar berjuang untuk kemajuan. Iapun bertekat merahasiakan soal Bi-kok agar
jangan sampai membuat pikiran Jit-long bercabang, bersamaan dengan itu juga minta
kepada adiknya agar memusatkan pikiran untuk berlatih silat dan menjunjung kembali
nama baik keluarga setelah ia menderita kekalahan di tangan orang. Dengan dasar
tujuannya yang baik dan mulia itu, hatiku menjadi terharu sehingga lamarannya pun
kuterima.”
“Setelah mengatur perkawinan adiknya, apakah Lak-long Nyo Ci-kong juga
berangkat ke lembah Bi-kiok?” tanya Leng-hong.
“Benar!” Pang Goan mengangguk.
“Seharusnya Lotoako nasihati dia agar jangan menempuh jalan yang salah lagi!”
“Tentu saja kunasihati, tapi ia menyatakan hanya ingin mencari jejak kelima orang
saudaranya dan bukan lantaran ingin mencari ilmu silat peninggalan Ang-ih Hui-nio,
kupikir niat tersebut dapat dimengerti, tentunya tak bisa kualangi dia.”
“Lalu, apakah ia pernah memberitahukan kepada Lotoako di manakah letak Bi-kok
tersebut?”
“Tidak!”
“Kenapa Lotoako tidak bertanya kepadanya?”
“Kenapa aku mesti bertanya? Apakah keenam nyawa keluarga Nyo masih belum
cukup?”
Leng-hong berpikir sebentar, kemudian tanyanya, “Apakah adikmu Wan-kun juga
mengetahui akan rahasia ini?”
“Hanya tahu garis besarnya saja.”
“Wah, celakalah kalau begitu!” tutur Leng-hong sambil geleng kepala dan menghela
napas.
“Kenapa celaka?”
“Kemungkinan besar nona Wan-kun telah memberitahukan soal lembah Bi-kok
kepada Nyo Cu-wi, jadi lenyapnya suami-isteri mereka kemungkinan besar karena
berangkat ke Bi-kok.”
“Tapi mereka tidak tahu di mana letak Bi-kok, ke mana mereka akan mencarinya?”
“Meskipun Nyo Ciau-thong merahasiakan peristiwa lembah Bi-kok, tapi setelah
keenam orang saudaranya dalam waktu singkat beruntun pergi dan tak kembali lagi,
tak mungkin Cu-wi sama sekali tidak mengetahui akan kejadian ini, mungkin saja ia
hanya mendengar sekadarnya, dan kemudian soal tersebut hanya disimpan dalam hati
saja, kemudian setelah dibuktikan dengan cerita dari adikmu, mana bisa dia tidak

tergerak hatinya untuk menyelidiki mati hidup saudara-saudaranya? Hal ini ditambah
pula mereka sebagai suami-isteri muda, rasa ingin tahunya masih sangat tebal, besar
kemungkinan mereka meneruskan perbuatan keenam saudaranya yang lain.”
Setelah mendengar uraian ini, air muka Pang Goan makin lama makin bertambah
serius, lewat sesaat kemudian baru berkata, “Kalau memang demikian jadinya, akulah
yang paling berdosa.”
“Satu-satunya kekeliruan yang dilakukan Lotoako adalah tidak seharusnya
memberitahukan kejadian yang sesungguhnya kepada adikmu Wan-kun.”
Pang Goan manggut-manggut lalu geleng kepala, sambil menghela napas ia berkata
lagi, “Sesungguhnya aku pun tahu, tetapi aku dan adikku bukan dilahirkan oleh ibu
yang sama, usia kampiun terpaut separuh lebih, sekalipun bersaudara, sedikit banyak
hubungan batin kami agak jauh, hal ini menyangkut kehidupan selanjutnya, mana
boleh kurahasiakan persoalan ini padanya? Hanya aku tak mengira kejadian ini akan
disampaikannya pula kepada Nyo Cu-wi.”
“Mereka adalah suami-isteri, sudah barang tentu persoalan ini akan dibicarakan,
hanya saja . . . .” tiba-tiba Leng-hong alihkan pembicaraan ke soal lain, katanya lagi,
“Lotoako, percayakah kau bahwa Ang-ih Hui-nio dan lembah Bi-kok adalah kejadian
yang sesungguhnya?”
“Sebetulnya aku tidak percaya, tapi hal ini diceritakan sendiri oleh Nyo Ciau-thong,
majikan tua Thian-po-hu, lagipula lenyapnya tujuh bersaudara keluarga Nyo
merupakan kenyataan, hal ini membuat aku mau-tak-mau harus percaya..”
“Tidak mungkinkah kenyataan ini adalah sebagian dari perangkap yang sengaja
diatur oleh perkumpulan Ci-moay-hwe?”
“Tentu saja kemungkinannya selalu ada. Tapi munculnya Ci-moay-hwe baru terjadi
beberapa tahun belakangan ini, sebaliknya rahasia tentang Bi-kok sudah ada sejak
belasan tahun sebelum meninggalnya Nyo Ciau-thong, Cuma saja Nyo Ciau-thong
tidak pernah mengungkapnya.”
Leng-hong tertawa, “Siaute malah berharap lembah Bi-kok memang benar-benar ada,
bila ada kesempatan nanti ingin sekali kusaksikan sendiri kehebatan ilmu golok
warisan Ang-ih Hui-nio itu.”
Sementara pembicaraan berlangsung sampai di situ, Hui Beng-cu telah keluar setelah
membersihkan badan dan berganti pakaian perempuan, sambil tertawa ia bertanya,
“Ilmu golok apakah yang maha hebat? Bolehkah kuikut Nyo-toako untuk
menyaksikannya bersama?”
Meskipun hidung Hui Beng-cu agak pesek, tapi kekurangannya itu telah tertutup oleh
matanya yang besar dan jeli, dengan tubuh yang padat sebagai gadis-gadis wilayah
selatan umumnya, ia tampak montok dan memesona, malahan hidungnya yang agak
pesek justru menambah daya pikatnya.
Ho Leng-hong pernah bertemu dengan Pang Wan-kun gadungan, ia tahu Pang WanKoleksi
Kang Zusi
kun cantik sekali, tapi bila dibandingkan dengan Hui Beng-cu, maka yang pertama
kalah daya pesonanya.
Kalau kecantikan Wan-kun termasuk perempuan yang lembut dan agung, maka Hui
Beng-cu mempunyai tipe yang lebih menggiurkan, di antara kegenitannya rada-rada
bersifat “berandalan”, hal ini membuat siapa pun ingin memandang beberapa kejap
lebih banyak kepadanya.
Bukan cuma Ho Leng-hong yang mempunyai perasaan demikian, bahkan hati Pang
Goan juga agak goyah, ia memandang beberapa kejap lebih banyak sebelum
melengos ke arah lain.
Pada saat itu muncul seorang pelayan yang melaporkan, “Perjamuan telah siap!”
------------------------
Perjamuan untuk menyambut kedatangan Hui Beng-cu berlangsung hingga
menjelang tengah malam dan dengan hati puas.
Setelah kembali ke taman belakang, Leng-hong bertanya, “Lotoako, benarkah kita
akan mengiringi nona Hui pulang ke Leng-lam?”
“Tentu saja, sekarang Hui Pek-ling sedang tertimpa musibah, perempuan asing itu
jelas pula anggota Ci-moay-hwe, asal perempuan itu berhasil kita bekuk,
kemungkinan besar latar belakang perkumpulan Ci-moay-hwe bisa kita singkap,
kenapa tidak pergi?”
“Tapi Siaute masih merasa keheranan, Samkongcu berada di sekitar sini, kenapa ia
tidak tertarik oleh To-kiam-hap-ping-tin dan sampai sekarang belum lagi melakukan
gerakan apa-apa?”
“Kupikir, mungkin juga mereka sudah meninggalkan wilayah Kwan-lok,” kata Pang
Goan dengan kening berkerut.
“Tidak mungkin, untuk mendapatkan Yan-ci-po-to dan To-kiam-hap-ping-tin-hoat
entah sudah berapa banyak pikiran dan tenaga yang telah dicurahkan, tidak mungkin
mereka lepaskan dengan begitu saja.”
“Mungkin karena penjagaan dalam gedung terlalu ketat sehingga mereka tak berani
bergerak secara gegabah.”
“Itupun tak mungkin, semakin ketat penjagaan kita semakin menunjukkan betapa
pentingnya To-kiam-hap-ping-tin-hoat tersebut, hanya beberapa orang Busu kita masa
berada dalam pandangan mereka?”
“Wah, kalau begitu aku jadi tidak mengerti, jangan-jangan mereka mempunyai
rencana lain?”
“Tepat. Ketidak bergerak mereka membuktikan mereka mempunyai rencana lain.”

Tiba-tiba hati Pang Goan tergerak, bisiknya, “Apakah kau mencurigai asal-usul Hui
Beng-cu?”
Ho Leng-hong tidak menjawab, tapi berdiri, katanya kemudian, “Lotoako, lebih baik
kita berlatih dalam taman!”
“Baik!” Pang Goan setuju.
Dengan membawa senjata kedua orang itu menuju ke tanah lapang dalam taman,
pertama-tama Leng-hong mengontrol dulu penjagaan di sekitar taman, setelah terbukti
keadaan aman tenang, ia baru mulai berlatih.
Yang dimaksud sebagai To-kiam-hap-ping-tin-hoat, sesuai namanya yaitu permainan
kombinasi ilmu golok dan pedang, tapi berhubung dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe
hanya diizinkan menggunakan golok dan tak boleh memakai pedang, lebih-lebih tak
diizinkan dua orang maju bersama, maka oleh Nyo Ci-kong, kitab pusaka Nyo-kehsin-
to tersebut diserahkan kepada Pang Goan agar setelah memahami kunci ilmu
golok terebut, kemudian ditambah dengan Keng-hong-kiam-hoat dari Cian-sui-hu,
kedua ilmu dilebur menjadi satu dan menciptakan serangkaian jurus serangan baru
yang bisa menggunakan golok dan pedang sekaligus.
Dia berharap dengan bekal ilmu gabungan golok dan pedang ini, gelar Thian-he-te-itto
dapat direbut kembali oleh Thian-po-hu.
Tampaknya golok dan pedang itu hampir sama bentuknya, tapi penggunaannya jauh
berbeda. Pedang mengutamakan kelincahan, sedang golok mengutamakan
kemantapan, terutama Po-in-pat-toa-sik dari Thian-po-hu terlebih keras dan mantap,
ganasnya juga cukup ganas, Cuma kurang lincah dan gesit.
Setelah bersusah payah selama dua tahun baru Pang Goan berhasil melebur
kedelapan jurus ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoatnya yang lincah dan gesit ke
dalam gerakan Po-in-pat-toa-sik sehingga dapat mengurangi kekerasan dan
keganasannya, juga menambah kegesitan dan kelincahannya.
Atau dengan perkataan lain, diambil kelebihan yang terdapat pada ilmu andalan
Cian-sui-hu dan Thian-po-hu, ia membuat permainan golok mengandung gerakan
pedang, hal ini akan sangat bermanfaat untuk menghadapi Tay-yang-sin-to dari Hui
Pek-ling.
Oleh karena itulah selama berlatih Pang Goan selalu menjadi lawan umpan latihan,
mereka sama-sama memegang pedang di tangan kiri dan golok di tangan kanan.
Setiap jurus selesai dilatih, golok dan pedang segera bertukar, dengan begitu
penggunaan golok sebagai pedang dapat dilakukan setiap saat dan tidak canggung lagi
antara golok dan pedang.
Ho Leng-hong belum pernah mempelajari Po-in-pat-toa-sik, tapi dia masih ingat
setiap gerak jurus Keng-hong-kiam-hoat, maka Pang Goan harus mengajarkan dulu
Nyo-keh-sin-to kepadanya sebelum mengajar To-kiam-hap-ping-tin tersebut.

Untung Ho Leng-hong berbakat bagus dan otak yang encer, setiap jurus serangan
yang pernah dilihatnya segera apal di luar kepala, maka cukup bagi Pang Goan untuk
bermain satu kali, setiap jurus serangan segera diingatnya, tinggal soal latihan dan
kesempurnaan belaka.
Cuma latihan mereka malam ini tentu saja bukan To-kiam-hap-ping-tin
sesungguhnya, mereka memang bergebrak ke sana kemari dengan gesitnya, hal ini
hanya sengaja supaya dilihat orang dan menunggu sang ikan menyambar umpan.
Suasana dalam taman amat sepi, kecuali Pang Goan dan Leng-hong hampir tidak
terlihat orang ketiga.
Tapi, tiba-tiba Leng-hong merasa ada sepasang mata yang jeli sedang mengawasinya
di balik kegelapan sana.
Letak tanah rumput di mana mereka berlatih di depan semak bunga sebelah utara
Kiok-hiang-sia.
Tempat itulah untuk pertama kalinya diketahui oleh Ho Leng-hong sebagai tempat
pertemuan rahasia kedua orang laki-perempuan itu.
Sembari melancarkan serangan, Ho Leng-hong memberi tanda kedipan mata kepada
Pang Goan sambil berbisik, “Perhatikan sebelah utara Kiok-hiang-sia, agaknya sang
ikan sudah mencium harum umpan!”
Sambil putar badan dan melancarkan suatu tusukan, bisik Pang Goan, “Betul,
dugaanmu memang benar . . . . Hei . . . . rupanya dia . . . . .”
“Jangan bersuara, pelahan kita bergeser ke sana, kita cegat jalan larinya dari kanankiri.”
Pang Goan mempergencar serangannya, maka cahaya tajam segera berhamburan
mengurung tubuh Ho Leng-hong dengan rapat.
Sambil bertarung pelahan mereka bergeser sedikit demi sedikit, akhirnya mereka
semakin dekat Kiok-hiang-sia.
“Lotoako, perhatikan seruanku, kau ke barat dan aku ke timur, kita adang jalan
larinya . . . .” bisik Leng-hong, kemudian bentaknya mendadak, “Siapa di situ?
Berhenti!”
Berbareng dengan suara bentakannya, cahaya pedang dan sinar golok segera
berpencar, kedua orang sama melayang ke arah yang berbeda, mengitari pepohonan
sana.
Mata jeli itu tidak bergerak, malah pemiliknya pelahan berjalan keluar dari balik
pepohonan sambil tertawa.
“Akulah yang berada di sini!” katanya, “hebat betul semangat Toako berdua, sudah
jauh malam, bukannya pergi beristirahat, sebaliknya malah berlatih kungfu di bawah

sinar bulan.
“Nona Hui, bukannya beristirahat di kamar tamu, untuk apa datang ke taman sini?”
tegur Leng-hong.
“Aku mempunyai penyakit yang aneh, yakni bila baru pertama kali tiba di suatu
tempat asing, aku menjadi tak dapat tidur,” jawab Hui Beng-cu sambil tertawa,
“sewaktu jalan-jalan tadi, tanpa kusadari telah tiba di taman ini.”
“Lalu kenapa kau sembunyi di balik pepohonan dan mengintip kami berlatih?” tanya
Pang Goan.
“Tidak, aku tidak bersembunyi, lantaran kalian sedang berlatih dengan sungguhsungguh,
maka aku tidak menyapa kalian karena kuatir akan mengganggu konsentrasi
Toako berdua.”
“Tapi nona kan tahu, mencuri lihat ilmu silat orang lain adalah pantangan besar bagi
umat persilatan,” kata Leng-hong.
Hui Beng-cu tersenyum, “Aku tidak bermaksud mencuri lihat ilmu silat orang, hanya
secara kebetulan saja kulewat di sini. Lagipula sore tadi kan Toako berdua juga telah
menguji Tay-yang-sin-to keluarga ku? Apa salahnya kalau akupun menyaksikan ilmu
silat Toako berdua?”
Leng-hong dan Pang Goan hanya saling pandang belaka, mereka tak sanggup
membantah lagi.
Sambil tertawa kembali Hui Beng-cu berkata, “Setelah menyaksikan ilmu golok dan
pedang Toako berdua, aku benar-benar merasa kagum sekali! Kepandaian Toako
berdua memang sangat hebat, tampaknya Hiang-in-hu kami pasti akan menderita
kalah dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang akan datang!”
“Aku kuatir bukan Cuma Hiang-in-hu saja yang bakal kalah, melainkan Bu-lim-samhu
akan menderita nasib yang sama.”
“Hei, kalau begitu siapa yang bakal menang?”
“Tentu saja Ci-moay-hwe!” kata Leng-hong.
“Sungguhkah mereka selihay itu?” tanya Beng-cu tercengang.
“Sebenarnya mereka tidak terlalu lihay, tapi setelah mereka mendapatkan ilmu sakti
dari Leng-lam, dan sekarang berhasil pula menyadap ilmu silat Cian-sui-hu dan
Thian-po-hu, sudah barang tentu lebih mudah bagi mereka untuk mencari cara
mematahkannya.”
Ia sengaja menandaskan kata “sekarang” dengan nada berat dengan maksud untuk
memancing reaksi Hui Beng-cu.
Ternyata Hui Beng-cu tidak menunjukkan rasa kikuk atau gugup, malah sambil

mengangguk katanya, “Perkataan Nyo-toako memang benar, setelah ilmu silat Bulim-
sam-hu disadap semua oleh mereka, peristiwa ini memang akan menyulitkan
posisi kita, cuma, asal kita mau bekerja sama dan menciptakan jurus serangan baru,
rasanya masih bisa kita hadapi kelihayan mereka, entah bagaimana pendapat Toako
berdua?”
Sekali lagi Leng-hong dan Pang Goan tak sanggup memberi jawaban.
“Padahal kita sama-sama umat persilatan,” kata Hui Beng-cu lebih lanjut, “sudah
sewajarnya kalau saling tolong menolong, saling bantu-membantu agar ilmu silat
lebih maju dan cemerlang, bila masing-masing orang menyimpan ilmunya sendiri
seperti menyimpan azimat dan enggan menurunkan kepandaian leluhurnya kepada
masyarakat, lama kelamaan dunia persilatan pasti akan bertambah lemah, pada
akhirnya ilmu silat yang sakti itu akan terus menyusut turun temurun dan akan
menjadi ilmu ‘terakhir’ pula.”
Perkataan itu cukup keras dan tegas, hal ini membuat perasaan Ho Leng-hong dan
Pang Goan tergetar juga.
Pang Goan mendongakkan kepalanya sambil menarik napas panjang, kemudian
gumamnya, “Tak kusangka, nona yang masih muda ternyata mempunyai jiwa yang
besar, sungguh sukar dicari bandingannya.”
“Sayang kebanyakan orang persilatan adalah manusia rakus yang terlalu
mementingkan diri sendiri tidak seperti nona yang berjiwa besar dan dapat
berpandangan jauh,” sambung Leng-hong.
Hui Beng-cu hanya tersenyum, lalu berkata lagi, “Kata-kata semacam itu memang
sulit diterima orang lain, tapi setelah Toako berdua pergi ke Leng-lam dan
menyaksikan keadaan di rumahku, kalian akan percaya bahwa perkataanku bukan
cuma khayalan belaka, tapi timbul dari fakta yang sudah ada.”
“Baik, persoalan ini tak bisa ditunda lagi, kita putuskan berangkat besok pagi,” kata
Pang Goan.
Leng-hong tidak menyatakan setuju, juga tidak menolak, dilihat dari perubahan
wajahnya, agaknya iapun kehilangan rasa percaya pada diri sendiri setelah gagalnya
rencana “menunggu kelinci masuk perangkap”.
Dari wilayah Kwan-lok ke Leng-lam ada ribuan li jauhnya, untuk menempuh
perjalanan sejauh ini sebetulnya mereka harus berjalan secepatnya, tapi ketiga laki
perempuan ini justru berjalan dengan sangat lambat.
Sepanjang jalan Ho Leng-hong dan Pang Goan makan minum dan berpesiar dengan
santainya, seakan-akan sedang menunggu sesuatu.
Hui Beng-cu tidak nampak gelisah, malah sebaliknya kelihatan gembira, ia selalu
menemani kedua Toako itu berpesiar dan menikmati keindahan alam, gelak tertawa

yang riang selalu menyemarakkan suasana, seakan-akan iapun sudah lupa pada
keadaan di Hiang-in-hu, di rumahnya sendiri.
Setengah bulan setelah meninggalkan Kiu-ci-shia, mereka baru tiba di sekitar Sianghoan.
“Sepanjang perjalanan ini kita selalu menunggang kuda dan naik kereta, lama-lama
menjadi bosan juga, bagaimana kalau perjalanan kita selanjutnya kita ganti naik kapal
saja? Lebih cepat dan lebih nyaman rasanya,” usul Leng-hong.
Sebelum Pang Goan menjawab, Hui Beng-cu segera berseru lebih dulu, “Bagus
sekali, kita boleh menyewa kapal sampai Liang-han, sekalian pesiar di telaga Tongteng,
dari situ dengan menunggang kuda kita melintasi Ngo-leng-san, perjalanan ini
tentu lebih cepat.”
“Orang bilang: ‘Kapal di selatan dan kuda di utara’. Nona Hui sebagai gadis yang
dibesarkan di wilayah selatan, apakah tidak merasa bosan naik kapal?” tanya Lenghong.
“Mana bisa bosan!” sahut Beng-cu dengan tertawa, “aku paling suka naik kapal, tapi
dulu aku hanya naik kapal laut, kapal sungai belum pernah kurasakan.”
Pang Goan manggut-manggut, “Kalau begitu kita putuskan untuk menyewa kapal
setibanya di Huan-shia nanti.”
Hari itu juga mereka tiba di Huan-shia. Setelah menginap semalam, tengah hari
keesokannya dengan meninggalkan Pang Goan yang beristirahat seorang diri di hotel,
Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu berangkat ke dermaga untuk menyewa kapal.
Sebetulnya soal menyewa kapal bisa diselesaikan oleh pelayan penginapan, tapi Hui
Beng-cu ingin memilih kapal yang nyaman sekalian menikmati pemandangan di
dermaga, maka Leng-hong terpaksa harus menemaninya ke dermaga.
Setibanya di dermaga, tampaklah layar kapal berjajar di sana sini, tapi sebagian besar
adalah kapal layar yang memuat bahan obat-obatan dan sekalian membawa
penumpang, jarang sekali ada kapal yang khusus hanya mengangkut penumpang.
Terpaksa mereka menelusuri sungai tepi untuk mencari kapal, tapi beberapa buah
kapal yang dikunjunginya semua memberi jawaban yang sama, “Kebanyakan perahu
di kota Huan-shia adalah perahu pengangkut barang, untuk menyewa perahu
penumpang harus menyeberang ke kota Siang-yang!”
“Baiklah,” kata Leng-hong kemudian, “apa salahnya kita mengunjungi kota Siangyang!”
“Nyo-toako, coba lihat! Bukankah di sana terdapat sebuah kapal penumpang?” tibatiba
Hui Beng-cu menuding ke arah sungai.
Mengikuti arah yang ditunjuk, betul juga Leng-hong lihat ada sebuah perahu
penumpang dengan layar rangkap yang indah membuang sauh di tengah sungai,

perahu itu bercat masih baru, ruang duduknya bersih dan luas, ketika itu sedang
membuang sauh kurang lebih sepuluh tombak di tengah sungai.
Leng-hong segera menggapai seorang tukang sampan, sambil menuding ke arah
kapal layar itu ia bertanya, “Lotoa, tahukah kau siapa pemilik perahu itu?”
Tukang perahu itu mengamati perahu itu sejenak, kemudian menggeleng kepala,
jawabnya, “Entahlah, dulu rasanya belum pernah melihat perahu ini, di atas perahu
juga tidak terdapat bendera perkumpulan atau organisasi tertentu, mungkin saja
perahu pribadi orang kaya.”
“Peduli perahu pembesar atau perahu orang kaya, apa salahnya kalau kita tanya dia,
siapa tahu perahunya kebetulan kosong, dan dia bersedia memuat kita?”
Ho Leng-hong tertawa dan tidak omong lagi, dengan membimbing Hui Beng-cu
mereka naik ke sampan kecil itu.
Tiba di dekat perahu penumpang itu terasa suasana amat hening, sesosok bayangan
pun tak kelihatan.
Sambil melompat ke atas geladak, Hui Beng-cu berteriak, “Hei, ada orangkah di
sini?”
Setelah berteriak beberapa kali, dari buritan menongol keluar sebuah kepala gundul,
sahutnya, “Mau apa kalian? Cari siapa?”
Orang itu adalah seorang kakek kurus berusia enam-tujuh puluh tahunan, mukanya
penuh berkeriput, kepalanya botak dan tak berambut, mungkin ia lagi tidur di buritan,
maka sikapnya agak uring-uringan.
“Maaf jika kami telah mengganggu,” cepat Leng-hong memberi hormat, “kami ingin
menyewa perahu, ingin kami tanya apakah perahu ini boleh disewa atau tidak?”
“Kau bilang apa?” tanya si kakek sambil miringkan kepalanya.
Terpaksa Leng-hong mengulangi lagi kata-katanya.
Kali ini kakek itu dapat mendengar dengan jelas, ia mengulapkan tangan berulang
kali, “Pergi! Pergi! Perahu ini bukan perahu penumpang yang disewakan, perahu ini
adalah perahu pribadi, lebih baik menyewa perahu di tempat lain!”
“Apa salahnya dengan perahu pribadi? Kami bersedia membayar tinggi, satu jalan
pula, kenapa tidak bisa?” kata Hui Beng-cu.
Sambil memicingkan matanya kakek itu memperhatikan mereka sekejap, lalu
bertanya, “Apakah kalian suami-isteri?”
Merah wajah Hui Beng-cu, cepat-cepat sangkalnya, “O, bukan! Aku she Hui dan dia
adalah Nyo-toako, Nyo-tayhiap pemilik Thian-po-hu di Kiu-ki-shia.”

“Aku tidak kenal Nyo atau Nya, aku cuma ingin tahu kalian mau ke mana? Dan
berapa berani bayar?”
“Kami ingin pesiar ke Tong-ting-ou, kemudian berganti kuda ke Leng-lam, jadi
hanya satu jalan, terserah berapa besar ongkos yang kau minta.”
Kakek itu segera menghitung sambil bergumam, “Sejalan ke Tong-ting berarti tidak
akan kembali ke sini . . . dari sini menuju Ji-han mengikuti arah arus, waktu berbelok
ke Tong-ting harus berlayar melawan arus . . . waktu berangkat membutuhkan lima
hari, waktu pulang tujuh sampai delapan hari . . . ”
Tiba-tiba ia tanya lagi, “Apakah hanya kalian berdua? Boleh tambah penumpang
tidak? Sepanjang jalan akan mendarat atau tidak?”
“Kita berjumlah tiga orang dan langsung menuju ke Tong-ting, dalam perjalanan pun
tak akan mendarat. Tentu saja kami sewa seluruh perahu ini jadi tak boleh menambah
penumpang lagi.”
Kembali kakek itu bergumam, “Kalau begitu, kuhitung seratus tahil perak saja.”
“Ha, masa begitu mahal?” teriak Hui Beng-cu.
“Kalau merasa mahal lebih baik jangan menyewa,” kata kakek itu dengan wajah
cemberut, “terus terang kuberitahu kepada kalian, perahu ini adalah perahu pribadi
Paduka wali kota Keng-ciu, sebetulnya aku tak boleh menerima permintaan kalian,
tapi berhubung majikan kami sedang menemani nyonya berziarah ke Siong-san dan
setengah bulan kemudian baru pulang, daripada waktu senggang terbuang begitu saja,
kuputuskan untuk mengantar kalian dan mencari sedikit tambahan penghasilan.”
“Sekalipun begitu jangan seratus tahil perak, ah!” kata Beng-cu.
“Masa seratus tahil perak kauanggap mahal? Mari kuperinci untukmu, kelasi berikut
aku ada empat orang, untuk melakukan dagang gelap yang menyerempet bahaya ini
kan pantas kalau setiap orang mencari untung dua puluh tahil perak? Nah, dua kali
empat adalah delapan berarti sudah termakan delapan puluh tahil perak, sisanya yang
dua puluh tahil perak adalah makanan dan minuman untuk kalian bertiga, begini masa
kaubilang mahal?”
“Ya, tidak mahal, kami akan sewa perahu ini,” kata Leng-hong cepat. Diambilnya
selembar daun emas dan diperlihatkan kepada kakek itu, lalu katanya lagi, “Benda ini
adalah daun emas, seberat sepuluh tahil, nilainya sama seratus tahil perak. Nah, orang
tua, kapan kita akan berangkat?”
Kakek itu memandang daun emas itu sekejap, lalu memandang pula wajah Lenghong,
tiba-tiba ia tertawa, “Sekaligus kau bayar sewa perahu ini, apakah tidak takut
kabur setelah menerima uang?”
“O, tidak menjadi soal, kupercaya penuh kepadamu.”
“Bagus sekali,” kata kakek itu sambil menerima daun emas tersebut, “kita putuskan

begini saja, setelah menambah bahan makanan dan air tawa tengah hari nanti, kita
segera berangkat. Jadi tengah hari nanti kalian boleh naik perahu.”
“Bolehkah kutahu kau orang tua she apa? Dan siapa namamu?”
“Aku she Kim, panggil saja Kim-lotoa kepadaku!”
Ho Leng-hong segera memberi hormat dan bersama Hui Beng-cu turun ke sampan.
Di tengah jalan, Hui Beng-cu tiada hentinya berpaling ke arah perahu itu katanya,
“Kulihat kakek she Kim itu bukan orang baik-baik!”
“Oya?! Kenapa?”
“Sikapnya tidak sopan, waktu bicara mau menangnya sendiri, sedikitpun tidak mirip
seorang pembantu orang kaya yang mendapat pendidikan.”
Leng-hong tertawa, “Justru lantaran dia bekerja pada orang kaya, maka sikapnya
kurang ajar dan tak tahu sopan, sewaktu berbicara pun hanya mau menangnya
sendiri.”
“Nyo-toako, bagaimanapun juga aku tetap merasa tidak seharusnya kau bayar dulu
ongkos perahu itu, andaikata dia benar-benar seorang penipu, setelah terima uang
lantas kabur, bukankah kita akan membuang uang percuma?”
“Jangan kuatir, aku bertaruh ia tak akan kabur, sekalipun diusir dengan pecut pun dia
takkan pergi!” jawab Leng-hong sambil tertawa.
-----------------------------
Tengah hari itu, mereka bertiga pun naik perahu. Benar juga, Kim-lotoa tidak kabur,
bahan makanan dan air tawar di atas perahu pun telah ditambah, maka begitu Lenghong
bertiga sudah naik, mereka segera berangkat.
Tiga orang kelasi di atas perahu itu rata-rata adalah pemuda berusia dua puluh
tahunan, semuanya bertubuh kekar, berotot dan cekatan.
Leng-hong mempersilakan Hui Beng-cu berdiam seorang diri di ruang tengah,
sedang ia dan Pang Goan berdiam di ruang lain.
Kim-lotoa adalah juru mudi, ia tinggal di ruang kemudi, sedang tiga orang kelasinya
tinggal di ruang depan, seorang mengurusi dapur, sedang dua lagi bertugas di bagian
layar.
Begitulah, dari kota Huan-shia menuju ke selatan perahu berlayar dengan lancar
karena mengikuti arus, hari itu juga mereka telah melewati kota Cwan-shia dan
malamnya berlabuh di teluk, keesokan harinya mereka tiba di kota Tin-kang, jaraknya
dengan kota Ji-han tinggal sehari perjalanan air.
Selama dua hari ini suasana di atas perahu tetap tenang, tapi Leng-hong telah

menemukan ada sebuah perahu yang selalu mengikuti di belakang perahu mereka.
Perahu itu adalah sebuah perahu barang yang penuh dengan muatan bahan obat serta
bahan lainnya, mulai dari kota Huan-shia, perahu itu membuntuti terus dengan
ketatnya, meskipun kadang-kadang kala melewati perahu mereka, tapi mereka lantas
menunggu lagi di depan sana, setelah perahu penumpang itu lewat mereka baru
berlayar lagi.
Di atas perahu berang itu hanya ada lima-enam orang kelasi, tidak tampak
penumpang lain dan tidak dijumpai pula orang-orang yang menyolok.
Diam-diam Ho Leng-hong memberitahukan hal ini kepada Pang Goan.
Mendengar laporan itu, Pang Goan tertawa dingin, katanya, “Sejak pertama kali tadi
sudah kuperhatikan, selain itu Kim-lotoa dan ketiga orang kelasinya juga adalah jagojago
silat, tampaknya kungfu mereka tidak lemah.”
“Lantas mengapa mereka belum juga turun tangan?” ujar Leng-hong.
“Siapa yang tahu?” Pang Goan angkat bahu, “mungkin mereka sedang menunggu
bala bantuan, pokoknya cepat atau lambat mereka pasti akan bergerak.”
“Menurut dugaanku mereka pasti lantaran takut pada seseorang, jadi sampai sekarang
belum juga turun tangan,” kata Leng-hong sambil tertawa.
“Takut kepada siapa?”
“Kau, Lotoako!”
“Kenapa mereka takut padaku?” tanya Pang Goan tertegun.
“Tujuan mereka yang terutama adalah ingin mengetahui ilmu To-kiam-hap-ping-tin,
sekarang kau telah mengajarkan padaku, maka asal aku berhasil ditangkap dan
dipaksa untuk bicara, urusan tetap akan beres, untuk menghadapiku adalah urusan
gampang, tapi berhubung ada Lotoako, maka tak berani turun tangan.”
“Kalau begitu aku mesti menyingkir dulu?”
“Benar!” Leng-hong mengangguk, “lebih baik Lotoako bermain-main di darat,
sementara Siaute tinggal di perahu . . . . . ini namanya memberi kebebasan kepada
orang.”
Pang Goan tertawa terbahak-bahak, ia lantas beranjak dan menuju ke geladak.
Suasana di luar gelap gulita, hanya kerlipan api di balik pintu ruangan, itulah lelatu
api dari pada Huncwe (pipa tembakau) yang sedang dihisap Kim-lotoa.
Pelahan Pang Goan menghampirinya sambil menyapa, “Lotoa, apakah di atas perahu
tersedia arak?”

“Tidak ada!” jawab Kim-lotoa dengan ketus dan tanpa mendongakkan kepalanya.
“Bolehkah aku meminjam seorang anak buahmu untuk membelinya sebentar di
daratan?”
“Maaf, para kelasi sudah bekerja keras seharian penuh, besok pagi-pagi harus bekerja
lagi, kini sudah tidur semua.”
“Kalau begitu . . . . . .” Pang Goan berpikir sebentar, lalu katanya, “Terpaksa aku
harus pergi membeli sendiri, tolong sewakan sampan tentunya boleh bukan, Lotoa?”
“Tempat ini bukan dermaga besar, mana ada sampan yang bisa disewa?” kata Kimlotoa,
lalu sambil menuding ke belakang buritan, katanya lagi, “Tuh, di sana ada
sampan yang tersedia di perahu kami, kalau kau bisa mendayung sendiri, aku sih
dengan senang hati akan membantumu untuk menurunkannya ke air.”
“Mendayung perahu sih aku bisa, tak perlu bantuan Lotoa lagi, aku bisa turun tangan
sendiri.”
Agaknya ia memang sengaja hendak pamer kekuatan, setelah menghampiri sampan
itu dengan langkah lebar, dicekalnya pinggiran sampan dengan kedua tangan, begitu
hawa murninya dikerahkan, sampan kecil yang cuma muat tiga-empat orang ini
segera terangkat dengan enteng.
Kim-lotoa tidak menunjukkan wajah kaget atau ketakutan, malah sambil tertawa
katanya, “Wah, hebat juga tenagamu.”
Pang Goan mendengus, “Hei, Kim-lotoa, sanggupkah kau lakukan cara yang sama?”
Kim-lotoa menggeleng kepala, “Aku tak lebih cuma seorang juru mudi, bukan kuli
panggul di dermaga yang biasa mengangkuti karung berat, apa gunanya memiliki
tenaga sebesar itu?”
Mendongkol Pang Goan karena dipersamakan dengan kuli, segera dilemparkan
sampan itu ke permukaan air.
“Plung!” sampan itu terjatuh di air kurang lebih sepuluh tombak dari perahu tersebut.
Sekali lompat Pang Goan melayang ke sana dan turun di atas sampan itu, tanpa
menggunakan dayung maupun gala, ia menggerakkan kedua lengan bajunya secara
bergantian, di antara deru angin yang keras, bagaikan anak panah terlepas dari
busurnya sampan itu meluncur ke arah daratan.
Kim-lotoa masih saja berjongkok di geladak sambil mengisap Huncwe, tampaknya ia
sama sekali tidak tertarik oleh demonstrasi kekuatan Pang Goan itu.
Lelatu api pada pipa tembakaunya kembali berkedip tiga kali panjang dan tiga kali
pendek.
Perahu barang yang buang sauh pada setengah li di depan perahu penumpang, di

buritan perahu itu juga ada seorang sedang mengisap Huncwe sehingga kerlipan
apinya juga tiga kali panjang dan tiga kali pendek.
Tak lama kemudian, sebuah sampan kecil tanpa menimbulkan suara mendekati
perahu penumpang itu.
Di atas sampan berdiri lima orang perempuan, mereka adalah Liu A-ih beserta empat
orang perempuan cebol yang menyandang sepasang samurai panjang dan pendek.
Dengan langkah cepat Kim-lotoa menyambut kedatangan mereka, kemudian
bisiknya, “Si monyet dua kuda sedang naik ke darat, Hui Beng-cu ada di ruang
tengah, sedang ‘sasaran’ ada di ruang nomor dua sebelah kiri.”
“Ehm, tahu,” Liu A-ih manggut-manggut, “kau tetap berjaga di luar perahu, kami
bisa bereskan sendiri persoalan ini.”
Sambil memberi tanda, ia membawa keempat orang perempuan cebol berbaju hitam
itu menyerbu ke dalam kabin.
Agaknya ia apal sekali letak ruang di atas perahu tersebut, tanpa membuang banyak
waktu ruang kedua di sebelah kiri telah ditemukan, ia lantas mengetuk pintu.
“Pintu tidak dikunci, silakan masuk sendiri!” sahut Leng-hong dari dalam
Sambil mendorong pintu Liu A-ih mendadak menyerbu ke dalam, menyusul keempat
orang cebol berbaju hitam itupun ikut menyerbu ke dalam ruangan.
Suasana dalam ruangan terang benderang, Ho Leng-hong sedang duduk menghadap
ke pintu, ia duduk di atas sebuah kursi, di atas lututnya tergeletak sebilah golok dan
sebilah pedang.
Golok dan pedang diletakkan menjadi satu hanya gagangnya menghadap ke arah
yang berlawanan, gagang golok menghadap ke kanan dan gagang pedang menghadap
ke kiri.
Dengan mengulum senyum, Ho Leng-hong manggut-manggut sambil berkata,
“Sungguh tak kusangka begini cepat Liu A-ih akan sampai di sini. Maaf kalau aku tak
menyambut kedatangan kalian, silakan duduk!”
“Jadi kau sudah tahu kami akan datang?” tanya A-ih.
“Benar!” Leng-hong tertawa, “Bukan cuma tahu kalian akan datang, bahkan telah
kuduga pula kalian enggan berjumpa dengan Pang-toako, maka kuminta dia naik ke
daratan. Sekarang di sini sudah tak ada orang lain lagi, kita boleh bercakap-cakap
dengan tenang dan santai.”
“Apa yang ingin kaubicarakan?” tanya A-ih.
“Apa yang kalian inginkan, itu pula yang kita bicarakan!”

Biji mata Liu A-ih berputar-putar, setelah memeriksa sekejap sekeliling ruangan, ia
baru berkata, “Baiklah! Setelah kau berlapang dada, kami pun tak akan berkecil hati,
mari kita bicarakan persoalan ini dengan sebaik-baiknya.”
“Silakan duduk!” kata Leng-hong.
Liu A-ih maju dua langkah dan duduk di sebuah bangku panjang dekat pintu,
sedangkan keempat orang perempuan cebol berbaju hitam itu berdiri berjajar di depan
pintu.
“Bila keempat Taci itu tak mau duduk juga tak menjadi soal, tapi lebih baik pintunya
ditutup saja agar orang lain tidak mengganggu,” kata Leng-hong dengan tertawa.
Keempat perempuan cebol berbaju hitam itu melirik sekejap ke arah Liu A-ih, ketika
dilihatnya orang mengangguk kepala, pintu kamar segera ditutup rapat.
Setelah pintu tertutup, Ho Leng-hong baru mengembus napas lega, katanya,
“Baiklah, sekarang kita boleh mulai bicara secara resmi, tapi sebelum pembicaraan
berlangsung, kuharap kedua pihak harus mempunyai niat yang bersungguh-sungguh,
siapa pun jangan coba main kotor dan siapa pun tak boleh memanasi hati lawan,
dengan demikian kita baru dapat menyelesaikan urusan secara adil, entah bagaimana
menurut pendata Liu A-ih?”
“Aku setuju!”
“Baiklah, kalau setuju, maka kitapun tak usah membicarakan soal-soal lain lagi,
langsung saja menyinggung ke masalah pokok. Liu A-ih yang akan bicara dulu atau
aku lebih dulu?”
“Kau saja yang berbicara lebih dulu?”
Leng-hong manggut-manggut, setelah berdehem iapun mulai berkata, “Pertama-tama
hendak kuterangkan dulu kedudukanku sekarang, aku bukan anggota dari Bu-limsam-
hu, juga tak ingin mencari nama dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang akan
datang, lebih-lebih lagi tak ingin terlibat dalam pertikaian ataupun perselisihan antar
aliran atau golongan, terjunku ke dalam air keruh ini adalah karena terpaksa, boleh
juga dibilang pihak Ci-moay-hwe yang memaksa aku terjun ke liang api ini, kurasa
dalam hal ini Liu A-ih tak akan menyangkal bukan?”
Liu A-ih tidak menyangkal pun tidak mengakui, hanya katanya dengan ketus,
“Katakan saja apa yang ingin kaukatakan, jangan bertanya melulu kepadaku.”
“Baiklah setelah Ci-moay-hwe mengubah diriku menjadi Nyo Cu-wi, terpaksa aku
harus menyesuaikan keadaan dan menganggap diriku sebagai Nyo Cu-wi dan berdiri
di pihak Thian-po-hu, maka saat ini akupun harus tampil dalam kedudukan sebagai
majikan Thian-po-hu untuk berunding dengan kalian, tentang soal ini akupun minta
Liu A-ih suka memperhatikan.”
Liu A-ih kembali mendengus, rasa memandang hina terlintas pada wajahnya, tapi ia
tidak berkata apa-apa.

Maka Leng-hong berkata lebih lanjut, “Sesungguhnya pertemuan Lo-hu-to-hwe yang
diselenggarakan empat tahun sekali adalah tempat untuk memperebutkan nama dan
kedudukan, dalam pertemuan tersebut tidak dibatasi jumlah golongan yang ingin ikut,
setiap jago silat di dunia berhak naik ke panggung untuk memperlihatkan
kebolehannya, jadi bila Ci-moay-hwe ingin beradu kekuatan dengan kaum pria di
dunia ini, takkan ada orang yang melarang atau mengalanginya, sebab kalian berhak
untuk berbuat begini, cuma seharusnya kalian mempergunakan cara yang wajar,
jangan menggunakan cara licik dan rendah semacam ini untuk mencelakai orang di
sana sini, karena hal ini tidaklah pantas . . . .”
“Cukup,” sela Liu A-ih tiba-tiba, “kami bukan datang untuk mendengar ceramahmu,
lebih baik simpan saja kata-katamu yang tak sedap ini, mari bicarakan dulu masalah
pokok.”
“Jangan terburu-buru,” kata Leng-hong dengan tertawa, “sekarang juga akan
kubicarakan masalah pokok.”
“Kuharap kaubicara ringkas saja dan jangan mencoba mengulur waktu, sebab kalau
sampai si monyet dua kuda datang, hal itu sama sekali tak ada manfaatnya bagimu.”
“Hei, jangan kaunilai orang lain dengan pikiran picikmu, kalau aku ingin menunggu
sampai kembalinya Pang-toako, tak nanti kudesak kepadanya agar menyingkir dulu
ke daratan.”
Setelah berhenti sejenak, lalu Leng-hong berkata pula, “Sekarang marilah kita bicara
blak-blakan, bukanlah kerja keras dan usaha Ci-moay-hwe selama ini dengan melatih
manusia-manusia gadungan, tujuannya tak lain adalah untuk mendapatkan golok
mestika Yan-ci-po-to serta ilmu To-kiam-hap-ping-tin-hoat?”
Liu A-ih tidak menjawab, dan diam berarti telah mengakuinya.
“Kalau memang begitu, soal ini lebih gampang lagi untuk dibicarakan,” kata Lenghong,
“kini Yan-ci-po-to sudah dicuri orang dan entah ke mana perginya, jadi maaf
kalau aku tak dapat memenuhi harapan kalian, lain halnya dengan ilmu To-kiam-happing-
tin-hoat, kepandaian tersebut telah berada dalam benakku semua, asal syaratnya
cocok setiap saat dapat kupersembahkan dengan begitu saja kepada kalian, mau
diajarkan secara lisan atau tulisan, boleh terserah kemauan kalian.”
Mencorong sinar mata Liu A-ih, ia lantas tanya, “Syarat apa yang kaukehendaki?”
“Sederhana sekali, dengan ilmu To-kiam-hap-ping-tin-hoat ditukar dengan
keterangan jejak Nyo Cu-wi suami isteri.”
Tiba-tiba Liu A-ih mengerutkan dahinya, “He, syarat ini atas niatmu atau maksud
Pang Goan?”
“Maksudku tentu Pang-toako juga setuju!”
Liu A-ih tertawa dingin, “Heran, aku betul-betul tak habis mengerti, Pang Goan

bersaudara kandung dengan Pang Wan-kun, tidak aneh jika ia menguatirkan
keselamatan saudaranya, sebaliknya kau bukan sanak bukan keluarga mereka, mau
apa kau mencampuri urusan ini?”
“Sesungguhnya urusan ini memang tiada sangkut pautnya denganku, tapi kalian yang
telah memaksaku untuk menyaru sebagai Nyo Cu-wi? maka mau-tak-mau aku harus
memperhatikan juga nasib mereka.”
“Apa jeleknya kami mengubah kau menjadi Nyo Cu-wi? seandainya mereka tak
pulang lagi ke Thian-po-hu, maka selamanya kau dapat menikmati segala
kehormatan, kedudukan serta harta kekayaan yang melimpah, mengapa tidak kau
nikmati rejeki nomplok itu, malah sebaliknya mengharapkan kembalinya Nyo Cuwi?”
Ho Leng-hong tertawa, “Seandainya aku bisa menyaru menjadi dia selama hidup,
tentu saja aku tidak berharap ia pulang kembali, sayang semua rahasia kini telah
terbongkar, bukan kalian saja yang tahu bahwa aku ini Nyo Cu-wi gadungan, bahkan
Pang-toako juga tahu, pikirlah sendiri, mana mungkin aku tinggal diam terus
menerus?”
“Sekalipun tak bisa melanjutkan penyaruanmu, kau boleh berdiri di luar garis, apa
gunanya kaubantu mereka mencari kembali Nyo Cu-wi?”
“Sayang selama beberapa waktu belakangan ini aku sudah terbiasa dengan kehidupan
mewah, agak keberatan juga bagiku untuk melepaskan semua itu dengan begitu saja.”
“Kalau memang begini, lebih-lebih tidak pantas bagimu untuk menemukan kembali
Nyo Cu-wi suami-isteri.”
“Tentu saja di samping ini masih ada masalah lain,” kata Leng-hong lebih lanjut
sambil tertawa, “aku ingin kehidupan yang mewah, tapi tak perlu menyaru sebagai
Nyo Cu-wi, dan kebetulan Pang-toako telah menyanggupi permintaanku, asal Nyo
Cu-wi kembali ke Thian-po-hu, dia akan mengajakku pulang ke Cian-sui-hu di Liatliu-
shia serta mengangkat diriku menjadi saudaranya, keluarga Pang tak punya
keturunan, bila Lotoako berpulang ke alam baka, secara resmi aku akan menjadi
majikan Cian-sui-hu, bukankah cara ini jauh lebih menguntungkan diriku daripada
melanjutkan penyaruan sebagai Nyo Cu-wi?”
“O, jadi berbicara pulang pergi rupanya kau sedang mengincar harta kekayaan Ciansui-
hu dan kau sudah kena disuap oleh Pang Goan?” kata Liu A-ih.
“Ah, betapa tak sedapnya kata suap itu,” seru Leng-hong sambil menggoyangkan
tangannya, “bila manusia tidak mementingkan diri sendiri, matilah dia, bagaimanapun
juga aku harus memikirkan kehidupanku seterusnya, apalagi kami suka sama suka,
siapapun tak memaksa yang lain.”
“Hehehe, manusia tak mementingkan diri sendiri matilah dia, sungguh kata yang
bagus,” ejek Liu A-ih, “Bila kutawarkan harta kekayaan dua kali lipat lebih besar
daripada Cian-sui-hu, apakah kau bersedia menukarnya dengan ilmu To-kiam-happing-
tin-hoat?”

“O, hal itu tak mungkin terjadi, sebab meskipun kau bisa memberikan harta kekayaan
dua kali lebih besar, kan sekaligus tak dapat kauberi nama Cian-sui-hu kepadaku.”
“Dapat! Bukan cuma nama besar seperti Cian-sui-hu, kampiun sekaligus dapat pula
memberikan nama seharum Thian-po-hu kepadamu, agar kecuali Ci-moay-hwe, kau
merupakan manusia yang paling berkuasa, laki-laki paling kaya dan terhormat di
dunia ini, percaya tidak?”
“Aku tak berani mempercayainya,” kata pemuda itu sambil mengangkat bahu.
“Kalau begitu dengarkan baik-baik,” sengaja Liu A-ih mempertinggi nada
pembicaraannya, “asal ilmu To-kiam-hap-ping-tin-hoat kau berikan kepada kami, dan
mulai sekarang kau bersedia mendengarkan perintah Ci-moay-hwe, maka selama
hidup ini tak akan terbongkar rahasia penyaruanmu sebagai Nyo Cu-wi, bahkan akan
kami bantu dirimu untuk melenyapkan Pang Goan agar sekaligus kau menjadi
majikan Thian-po-hu maupun Cian-sui-hu serta menikmati segala kehormatan dan
kejayaannya.”
“Apakah kalian mempunyai keyakinan dapat melenyapkan Pang-toako?”
“Apa susahnya untuk berbuat demikian?” ejek Liu A-ih dengan sombongnya, “kami
telah berhasil memahami inti sari ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoatnya, jika dapat
memperoleh rahasia To-kiam-hap-ping-tin lagi, bukan masalah sulit untuk
menyingkirkan dia.”
Ho Leng-hong berpikir sebentar, lalu berkata lagi, “Sekalipun Pang-toako dapat
disingkirkan, andaikata secara tiba-tiba Nyo Cu-wi suami-isteri muncul kembali di
Thian-po-hu, bukankah rahasia tersebut akhirnya terbongkar juga?”
“Jangan kuatir, mereka tak mungkin bisa kembali lagi . . . “ tiba-tiba Liu A-ih merasa
salah omong, buru-buru katanya lagi, “andaikata ia pulang juga, asal kau berkeras
menuduh mereka sebagai gadungan, siapakah yang berani tidak percaya pada
perkataanmu?”
“Liu A-ih!” kata anak muda itu kemudian dengan serius, “tolong beritahu kepadaku
dengan sejujurnya, apakah kalian telah membunuh Nyo Cu-wi suami-isteri?”
“Tidak!”
“Lalu berdasarkan apa kau berani mengatakan bahwa mereka tak mungkin kembali
lagi?”
“Aku tidak mengatakan demikian, hal itu cuma dugaan dan perumpamaan saja.”
Leng-hong mendengus, “Kalau cuma dugaan saja, kenapa kalian berani
mengangkangi Thian-po-hu dengan sewenang-wenang? Paling sedikit, kalian pasti
tahu jejak mereka berdua.”

“Wahai orang she Ho, jangan lupa kita sedang merundingkan pertukaran syarat,”
teriak Liu A-ih dengan suara keras, “sekalipun kami mengetahui jejaknya, tidak
menjadi keharusan bagiku untuk memberitahukan padamu . . . . .”
“Beritahu atau tidak, mungkin kau tak bisa lagi berbuat sesuka hatimu!”
Ucapan ini bukan berasal dari mulut Ho Leng-hong melainkan datang dari luar pintu
ruangan.
Bersamaan itu, “blang,” pintu ruangan terpentang dan melayang masuklah sesosok
tubuh manusia . . . .
Ketika keempat perempuan cebol berbaju hitam yang berdiri berjajar membelakangi
pintu itu mendengar sambaran angin dari belakang, tanpa berpaling empat bilah
samurai segera dilolos bersama.
Di antara berkelebatnya cahaya golok, seketika itu juga tubuh manusia itu tercincang
menjadi beberapa bagian dan rontok ke lantai, ternyata orang itu bukan lain adalah
Kim-lotoa yang gundul.
Liu A-ih menjerit kaget, serentak ia mendorong bangku dan melompat bangun.
Ia cepat, ternyata Leng-hong jauh lebih cepat daripadanya, golok dan pedang yang
berada di lututnya serentak dicabut, sambil bangkit berdiri dan tertawa, katanya, “Liu
A-ih, jika kau ingin menyaksikan ilmu To-kiam-hap-ping-tin, bagaimana kalau
sekarang juga kumainkan di hadapanmu?”
“Betul!” sambung orang di luar ruangan itu, “sudah sering kita tekun berlatih, tapi
belum ada kesempatan untuk dipraktekkan dengan musuh, hari ini kita harus mencoba
dengan sebaik-baiknya.”
Yang berbicara adalah Pang Goan, ia berdiri di depan pintu dengan golok dan pedang
terhunus.
Sementara itu meski keempat perempuan cebol berbaju hitam itu telah meloloskan
samurainya, berhubung ruangan dalam perahu amat sempit dan lagi mereka harus
berdiri saling berdesakan, hakikatnya sulit bagi mereka untuk mengembangkan
serangan goloknya.
Air muka Liu A-ih agak berubah, tapi ia masih diam saja tanpa mengucapkan sepatah
katapun.
“Sekarang kalian sudah tiada jalan keluar untuk mundur lagi,” kata Leng-hong, lebih
baik simpan saja senjata kalian dan katakan secara jujur di manakah Nyo Cu-wi
suami-isteri berada, asal kalian mau mengaku, kampiun tak akan menyusahkan
kalian.”
Liu A-ih hanya mendengus, ia tetap belum membuka suara.
Pang Goan habis sabarnya, dengan gusar ia membentak, “Perempuan busuk, rupanya

kau minta diperlakukan keras. Hmm, kau anggap kami tak berani membunuh
dirimu?”
Seraya berkata ia lantas melangkah masuk ke dalam dan siap turun tangan.
Pada saat itulah tiba-tiba dari luar muncul seorang yang segera menjerit, “Pangtoako,
apa yang terjadi? Siapakah orang-orang ini....”
Waktu itu Pang Goan baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan, mendengar
teguran tersebut, ia berpaling, tertampaklah Hui Beng-cu dengan golok lengkungnya
terhunus berdiri di belakangnya.
Tiba-tiba timbul kewaspadaannya, cepat ia putar badan dan menyingkir ke samping.
Liu A-ih tidak membuang kesempatan baik itu, ia segera mencabut senjata sambil
membentak, “Serbu!”
Serentak keempat orang perempuan cebol berbaju hitam itu melancarkan serangan,
dengan menciptakan selapis cahaya tajam samurai mereka terayun ke depan dan
menerjang ke arah pintu.
Pang Goan membentak, dengan pedang di kiri dan golok di kanan, ia melancarkan
serangan berbareng.
Di tengah bentrokan senjata yang ramai, dua orang perempuan cebol berbaju hitam
terdepan segera termakan oleh serangan tersebut, yang seorang tertebas lambungnya
dan tewas seketika, sedang yang lain kena dikutungin lengan kanannya, samurai dan
kutungan lengannya terjatuh ke lantai.
Untuk pertama kalinya To-kiam-hap-ping-tin dipergunakan untuk menghadapi
musuh tangguh, nyata ilmu gabungan antara golok dan pedang ini memang maha
sakti.
Namun perempuan cebol berbaju hitam itu betul-betul pasukan berani mati,
meskipun orang yang terbacok kutung lengah kanannya sudah terluka parah, bahkan
darah mengucur dengan derasnya, namun ia pantang menyerah, sambil meloloskan
samurai kecil dengan tangan kiri ia menerjang lagi ke arah pintu dengan garang.
Kedua perempuan cebol berbaju hitam yang berada di belakangnya ikut menyerbu
maju, mereka malah mempergunakan mayat rekannya sebagai tameng untuk
disodorkan ke arah Pang Goan.
Semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata, tahu-tahu Pang Goan sudah
terdesak meninggalkan pintu ruangan, ketika dia hendak mengalangi lagi, namun
sudah terlambat.
Jarak Ho Leng-hong lebih jauh lagi, ia tahu dikejarpun tak ada gunanya, namun
pemuda itu tidak tinggal diam, cepat ia menerobos jendela dan dari geladak berputar
menuju ke depan perahu.

Hui Beng-cu berdiri di depan pintu, entah lantaran kaget atau diterjang oleh
perempuan-perempuan cebol berbaju hitam yang dahsyat, beruntun ia mundur dua
langkah ke belakang sebelum golok dicabut keluar.
Tapi keadaan sudah terlambat, dengan kekuatan seorang dan sebilah golok, mana
mungkin terjangan keempat orang itu dapat dibendung? Baru bergebrak satu jurus, ia
terdesak mundur oleh samurai panjang dan pendek dari ketiga perempuan cebol itu.
Bagaikan air bah yang menjebolkan tanggul Liu A-ih dan ketiga orang perempuan
cebol itu menerjang keluar pintu dan langsung melarikan diri.
Tapi baru tiba di luar, Leng-hong telah menghadangnya lagi.
Sementara itu Pang Goan juga menyusul tiba pada saatnya.
Melihat gelagat tidak menguntungkan, Liu A-ih buru-buru melancarkan dua kali
bacokan, kemudian kabur ke tepi perahu dan terjun ke dalam sungai.
Sedangkan ketiga perempuan cebol berbaju hitam itu di bawah kerubutan Leng-hong
dari belakang dalam waktu singkat salah seorang di antaranya kembali terluka.
Leng-hong kuatir Pang Goan menyerang terlampau berat, buru-buru teriaknya,
“Lotoako, bekuk mereka hidup-hidup.”
Waktu itu golok di tangan kanan Pang Goan sedang menangkis bacokan samurai
pendek dari perempuan yang kutung tangannya, sementara pedang di tangan kirinya
siap melancarkan tusukan, ketika mendengar teriakan tersebut,jurus serangan segera
berubah, dengan gagang pedang ia sodok jalan darah di pinggang perempuan itu.
Kedua orang lainnya tak berani bertarung lebih lanjut, sambil menjerit aneh merek
sambitkan samurai itu sebagai senjata rahasia ke arah Ho Leng-hong dan Pang Goan.
Pada waktu Leng-hong dan Pang Goan memukul rontok samurai tersebut, kedua
orang perempuan cebol itu melepaskan kabut pemabuk dan melompat ke dalam
sungai.
Baik Leng-hong maupun Pang Goan sama-sama tak pandai berenang, terpaksa
mereka membentang mata lebar-lebar dan sambil menyaksikan kedua orang musuh
melarikan diri.
“Jangan kuatir, mereka tak bakal lolos!” teriak Hui Beng-cu tiba-tiba, ia pun terjun ke
dalam sungai.
“Perempuan busuk, anggap saja nasib kalian masih baik,” maki Pang Goan dengan
mendongkol, “jika sampai ketemu lagi lain kali, jangan harap kalian bisa kabur.”
Leng-hong memandang ke depan, ia lihat perahu barang tadi sedang menaikkan
jangkar dan kabur dengan tergesa-gesa.
Dengan saksama kedua orang itu menggeledah seluruh perahu, tapi ketiga orang

kelasi yang berada di ruang depan tadi telah lenyap pula tak berbekas.
“Untung kau segera memberi peringatan sehingga berhasil kita tangkap seorang
musuh, bagaimana kalau kita mendarat dulu kemudian baru memeriksa dia?” kata
Pang Goan.
“Lotoako, kau terlalu cepat pulang kembali ke perahu, coba sedikit lebih lambat,
mungkin dari mulut perempuan busuk she Liu itu dapat kupancing keterangan yang
lebih terperinci lagi.”
“Sesungguhnya akupun tak ingin cepat-cepat menampakkan diri, tapi berhubung
kakek she Kim itu sangat lihai, sewaktu menundukkannya mungkin akan terlihat oleh
orang yang berada di atas perahu barang, maka daripada rahasianya bocor, kupercepat
tindakanku.”
“Hahaha, kali ini Ci-moay-hwe betul-betul rugi besar, menurut perhitungan mereka
pasti akan berhasil membekuk kita, siapa tahu justru kitalah yang berhasil menangkap
salah seorang di antara mereka.”
Pang Goan ikut tertawa, “Sekalipun perempuan busuk she Liu itu berhasil
meloloskan diri, sepulangnya dari sini pasti akan dicaci maki oleh pemimpinnya,
betapapun ia telah merasakan kelihaian To-kiam-hap-ping-tin kita, sayangnya jurusjurus
serangan itu tak dapat diingatnya.”
Tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, katanya pula, “Saudaraku, menurut
pendapatmu apa pula yang akan terjadi pada budak Hui itu? Mungkinkah dia akan
kembali lagi kemari?”
“Kukira dia tak akan kembali lagi ke sini,” jawab Ho Leng-hong dengan dahi
berkerut.
“Kenapa? Apakah dia betul-betul anggota Ci-moay-hwe?”
Leng-hong menggeleng kepala berulang kali, “Soal ini sulit untuk dipastikan Cuma
penampilannya malam ini mau-tak-mau menimbulkan juga kecurigaan kita.”
Pang Goan termenung sejenak, kemudian menarik napas panjang, “Andaikata ia
benar-benar tidak kembali lagi ke sini, apakah kita akan melanjutkan perjalanan ke
Leng-lam?”
“Pergi ke Leng-lam atau tidak adalah urusan nomor dua, kurasa masalah paling
penting yang kita hadapi sekarang adalah mencari tahu mati-hidup Nyo Cu-wi suamiisteri,
menurut apa yang dikatakan perempuan busuk she Liu itu, kemungkinan besar
Nyo Cu-wi suami isteri tidak berada di tangan Ci-moay-hwe, sekali pun dulu pernah
terjatuh ke tangan mereka, sekarang sudah tidak berada di sana lagi.”
“Apa yang dia katakan?” tanya Pang Goan.
“Ia tidak bicara terus terang, tapi jelas mereka ketahui bahwa Nyo Cu-wi suami-isteri
tak mungkin kembali ke Thian-po-hu lagi, bahkan selamanya tak mungkin pulang

lagi, dari sini terbuktilah bahwa mereka mengetahui jejak Nyo Cu-wi suami-isteri.”
“Bukankah hal ini sama artinya dengan menyatakan bahwa mereka sudah terbunuh?”
kata Pang Goan dengan kuatir.
“Tapi kukira tujuan mereka adalah menguasai dunia persilatan, jadi tiada alasan bagi
mereka untuk mencelakai jiwa Nyo Cu-wi suami-isteri.”
“Perempuan sialan!” maki Pang Goan, “jika mereka berani mengganggu seujung
rambut Wan-kun, aku bersumpah akan membantai setiap anggota Ci-moay-hwe yang
kujumpai.”
Setelah berhenti sejenak, katanya lagi, “Mari, kita periksa dulu perempuan busuk
itu.”
Dengan langkah lebar ia menuju ke lorong sana, dicengkeramnya perempuan cebol
berbaju hitam yang sudah buntung itu.
Dengan bentakan pelahan jari tangannya bekerja, beruntun menutuk empat jalan
darah penting di tubuh perempuan cebol itu.
Buru-buru Leng-hong memburu ke situ, tapi ia segera terperanjat, sebab air muka
perempuan cebol itu telah berubah menjadi hitam pekat, cairan darah berwarna hitam
kental meleleh dari ujung bibirnya, keadaan sangat gawat, jelas ia telah menelan racun
sebelum sempat diperiksa.
Dengan paksa Pang Goan memencet rahangnya dan membuka mulut yang terkatup,
kemudian digabloknya punggung perempuan itu keras-keras, sebiji gigi palsu yang
telah tergigit pecah terjatuh ke geladak.
Melihat itu, Leng-hong menggeleng kepala berulang kali, “Sungguh tak kusangka
mereka telah menyiapkan racun dalam mulutnya, ai . . . sayang . . . sayang . . . .”
Tak terlukiskan kemarahan Pang Goan, ia menampar wajah perempuan cebol itu
sekeras-kerasnya dan membentak, “Perempuan busuk, ayo bicara! Kalian apakan
Wan-kun? Ayo bicara!”
Tapi kepala perempuan cebol berlengan kutung itu lantas menjuntai dengan lemas,
seluruh tubuhnya berpelepotan darah, napasnya telah berhenti.
Leng-hong menghela napas, “Ai, tampaknya kita tetap harus berkunjung ke Lenglam....”
Tengah bicara, tiba-tiba terdengar suara percikan air disusul munculnya seseorang....
Di luar dugaan, orang ini ternyata adalah Hui Beng-cu!
Lebih-lebih di luar dugaan lagi, di bawah ketiak Hui Beng-cu ternyata mengempit
seorang perempuan cebol berbaju hitam.

Leng-hong dan Pang Goan saling pandang dengan melenggong, mereka tak
menyangka Hui Beng-cu akan muncul kembali, lebih-lebih tak menyangka ia kembali
dengan membawa seorang tawanan hidup.
Dengan tangan sebelah mengepit tawanan, tangan yang lain memegang pinggiran
perahu, Hui Beng-cu berteriak, “Toako berdua, cepat bantu aku menyeret tawanan ini
ke atas!”
“Matai atau masih hidup?” tanya Pang Goan.
“Tentu saja masih hidup, Cuma ia sudah kutenggelamkan ke sungai hingga banyak
minum air, sekarang ia tak sadarkan diri!”
“Dalam mulutnya terdapat gigi palsu yang berisi racun, apakah kau tahu?” kembali
Pang Goan bertanya.
“Jangan kuatir, gigi racunnya telah kucabut, jangan harap permainan busuk orang
Ainu ini akan mengelabuhi diriku!”
Pang Goan sangat gembira, ia segera mencengkeram rambut perempuan Ainu itu dan
menyeretnya ke atas perahu.
Hui Beng-cu melompat ke atas, sambil membesut air yang membasahi wajahnya ia
berkata, “Pompa dulu perutnya agar air tertumpah keluar, kemudian baru bertanya
kepadanya, hati-hati pada bahu kirinya terdapat luka tusukan pedang, jangan biarkan
darah mengalir terlalu banyak . . . ada seorang lagi yang kulukai, sayang ia berhasil
melarikan diri.
Sementara itu Pang Goan telah memompa keluar air dalam perut perempuan cebol
itu, kemudian menghentikan pula cucuran darah pada bahunya.
Kali ini ia turun tangan dengan sangat hati-hati, ia takut tawanannya mati lagi
sehingga sukar mencari jejak Pang Wan-kun.
Kali ini Leng-hong tidak membantu ataupun membuka suara, dia hanya memandang
wajah Hui Beng-cu dengan termangu, ia rada bingung.
Tak lama perempuan itu sudah sadar kembali dari pingsannya, begitu membuka
matanya dan menyaksikan keadaan di sekeliling situ, cepat ia menggertak gigi rapatrapat
. . . .
“Apa yang kau lakukan?” ejek Pang Goan sambil tertawa dingin, “gula-gula dalam
mulutmu itu tak perlu dicari lagi, sudah terlepas dan dimakan ikan!”
Air muka perempuan itu berubah hebat, tiba-tiba ia angkat telapak tangannya untuk
menghantam kepala sendiri.
Tapi baru sampai di tengah jalan, tangannya sudah keburu dicengkeram oleh Pang
Goan, “Jangan buru-buru mampus,” katanya, “nanti saja kalau mau mati, sesudah
menjawab pertanyaan kami.”

Beruntun ia tutuk enam jalan darah penting pada badannya, kemudian baru lepas
tangan.
Setelah seluruh tubuh tak bisa berkutik perempuan cebol itu memejamkan matanya,
dua titik air mata meleleh membasahi pipinya.
“Beginilah tabiat perempuan bangsa Ainu,” kata Hui Beng-cu, “mereka suka
kekerasan dan menolak cara halus, kalau tidak diberi sedikit kelihaian, mereka tak
akan bicara terus terang.”
“O, itu sih gampang,” kata Pang Goan.
Jari tangannya segera bekerja cepat, menutuk empat-lima tempat jalan darah
perempuan Ainu itu, akhirnya ia tabok belakang tengkuknya.
Seperti terkena listrik tegangan tinggi tiba-tiba sekujur tubuh perempuan itu gemetar
keras, butiran keringat sebesar kacang membasahi jidatnya, kulit wajahnya berkejang,
giginya gemertakan, rintihan kesakitan berkumandang tiada hentinya.
“Mulai sekarang setiap pertanyaanku harus kaujawab dengan sejujurnya,” bentak
Pang Goan, “kalau tidak, akan kusuruh kau rasakan bagaimana nikmatnya beribu
semut menerobosi hatimu, kubikin kau tak sempat bernapas selama tiga hari tiga
malam.”
Dengan air mata bercucuran, terpaksa perempuan Ainu itu mengangguk kepala.
Pang Goan segera membebaskan jalan darahnya yang tertutuk, kemudian sambil
tertawa dingin katanya, “Beritahu dulu kepadaku, siapa pemimpin Ci-moay-hwe? Di
mana letak markas besarnya?”
Perempuan itu menjawab dengan logat yang kaku dan sukar dimengerti.
“Hei, apa yang kau katakan?” bentak Pang Goan.
Hui Beng-cu tertawa geli, katanya, “Dia perempuan asing yang kurang fasih
berbicara dengan logat kita, dia menjawab tidak tahu.”
“Omong kosong, kau adalah anggota Ci-moay-hwe, masa tidak tahu tentang urusan
Ci-moay-hwe?” teriak Pang Goan.
Kembali perempuan Ainu itu mengoceh dengan kata-kata yang kurang jelas.
Terpaksa Hui Beng-cu bertindak sebagai juru bahasa, “Ia bilang benar-benar tidak
tahu, sebab orang itu tidak ia kenal, tempat pun tak diketahui.”
“Baik, sekalipun tak dapat kau sebutkan nama orang dan tempatnya, tentunya kau
tahu bagaimana jalan menuju ke sana?”
Perempuan Ainu itu mengangguk kepala berulang kali, “Ya, ya . . . aku tahu.”

“Kalau begitu, bawalah kami ke sana.”
Perempuan itu berkerut dahi sambil menunjukkan tanda-tanda keberatan.
“Kenapa? Apakah siksaan yang kau rasakan tadi belum cukup?” hardik Pang Goan.
Perempuan itu mengucapkan dua-tiga kata.
Kali ini Pang Goan dapat menangkap maksudnya, ia mendengus, “Hmm, mereka
dapat membunuhmu, apakah aku tak bisa membunuhmu pula? Ketahuilah, aku bisa
membunuhmu dengan cara yang lebih keji, apakah kau ingin mencobanya?”
Buru-buru perempuan berbaju hitam itu geleng kepala.
“Kalau tidak ingin mampus, bawalah kami ke sana. Sekarang aku hendak bertanya
satu hal, Nyo....”
Mendadak ia teringat bahwa Hui Beng-cu masih belum mengetahui asal-usul Ho
Leng-hong yang sebenarnya, maka ia ganti perkataan, “Apakah Nyo-hujin dari Thianpo-
hu yang bernama Pang Wan-kun terjatuh ke tangan Ci-moay-hwe?”
Kembali perempuan itu menjawab dengan logat yang sukar dimengerti.
Pang Goan tahu, kalau begini caranya tak mungkin akan didapatkan apa yang
diharapkan, maka ia putuskan untuk mencari dulu markas Ci-moay-hwe, sebab
dengan sendirinya jejak Nyo Cu-wi suami-isteri akan diketahui bila markas musuh
telah diketemukan.
Maka katanya kepada Hui Beng-cu, “Dengan perempuan asing ini sebagai penunjuk
jalan, lebih baik kita langsung menuju ke markas besar Ci-moay-hwe, kalau mau
membekuk bajingan lebih dulu harus bekuk pemimpinnya, asal sarang mereka sudah
kita aduk, otomatis urusan di rumahmu akan beres juga dengan sendirinya, entah
bagaimana pendapat nona?”
Hui Beng-cu berpikir sebentar, lalu jawabnya, “Baiklah, kalau mau pergi harus
segera berangkat, daripada rahasia ini bocor dan mereka keburu kabur.”
Ho Leng-hong hanya mengikuti pembicaraan itu dari samping, ia tidak buka suara
juga tidak memberi komentar apa-apa.
Begitulah, dengan menggusur perempuan Ainu itu berangkatlah mereka bertiga
meninggalkan perahu, di kota Tin-kang mereka menyewa sebuah kereta dan dua ekor
kuda, sebelum fajar menyingsing mereka meneruskan perjalanan.
Ho Leng-hong dan Pang Goan menunggang kuda, sedang Hui Beng-cu dan
perempuan baju hitam itu numpang di dalam kereta, atas petunjuk perempuan itu
mereka telusuri jalan lama, balik ke kota Siang-yang.
Di tengah jalan, Pang Goan sengaja memperlambat lari kudanya, kepada Ho LengKoleksi
Kang Zusi
hong bisiknya, “Lote, apakah kau masih mencurigai asal-usul budak she Hui itu?”
Leng-hong menarik napas panjang, “Aku tak dapat mengemukakan alasan apa-apa,
tapi bagaimanapun aku tetap merasa di balik soal ini ada sesuatu yang kurang beres.”
“Andaikata dia adalah anggota Ci-moay-hwe, kenapa ia membantu kita membekuk
seorang tawanan hidup?”
“Aku tidak mengatakan dia adalah musuh,” ujar Leng-hong sambil tertawa getir,
“pokoknya lebih baik kita berhati-hati sepanjang perjalanan, sebab aku mendapat
firasat bahwa di tengah jalan nanti mungkin akan terjadi sesuatu.”
“Dalam hal apakah yang kau maksudkan?”
“Segala hal bisa terjadi, tapi yang paling penting adalah perempuan Ainu itu, kita
harus mengawasinya secara khusus.”
“Kenapa dengan perempuan itu?”
“Kalau bukan dia yang akan mencelakai kita, tentu pula Ci-moay-hwe akan
membinasakannya.”
“Oo!?” Pang Goan seperti memahami akan sesuatu.
Ternyata dugaan mereka memang benar, malam itu juga peristiwa tersebut telah
terjadi.
-------------------------
Berangkat dari Tin-kang menuju ke barat, malam itu sampailah mereka di sebuah
kota kecil di sebelah utara Keng-ciu, kota kecil ini bernama Kian-yang-gi.
Kota ini merupakan persimpangan jalan raya yang menghubungkan Keng-ciu dan
Siang-yang, menuju ke arah timur akan sampai di Ji-han, ke barat akan sampai Samshia,
ke utara bukan saja sampai Siang-hua, malah ada jalan raya menuju ke Kamsiok,
sebab itulah suasana di kota kecil ini ramai sekali.
Mereka menginap di rumah penginapan “Hong-an”, Pang Goan dan Ho Leng-hong
memakai satu kamar, sedang Hui Beng-cu dan perempuan Ainu itu tinggal di kamar
yang lain.
Selesai bersantap malam, sebelum tidur, Pang Goan memperingatkan Hui Beng-cu
secara khusus, katanya, “Jangan terlalu nyenyak tidurmu malam nanti, jangan kau
bebaskan pula jalan darah perempuan asing itu, jika ada sesuatu yang mencurigakan,
segera panggil kami.”
“Jangan kuatir Pang-toako,” sahut Hui Beng-cu sambil tertawa, “tanggung tak akan
terjadi apa-apa, aku akan mengawasinya sepanjang malam, sekalipun punya sayap
jangan harap akan terbang dari hadapanku.”

Sekembalinya ke kamar, Pang Goan kembali berunding dengan Ho Leng-hong,
mereka putuskan untuk jaga malam secara bergilir, Ho Leng-hong menjaga setengah
malam pertama dan Pang Goan setengah malam berikutnya.
Setengah malam yang pertama berlangsung tenang tanpa terjadi apapun.
Ketika giliran Pang Goan menjaga setengah malam berikutnya, kurang lebih dua jam
menjelang fajar, Pang Goan mengambil sebuah bangku dan duduk bersila di tepi
jendela sambil mengatur napas diam-diam ia perhatikan gerak-gerik kamar sebelah.
Satu jam sudah lewat, tapi suasana tetap tenang.
Ketika fajar menjelang tiba, pada cuaca paling gelap, waktu itu Pang Goan masih
duduk bersila sambil terkantuk-kantuk, mendadak ia mendengar suara aneh di kamar
Hui Beng-cu.
Suara rintihan yang lemah dan lirih, seakan-akan ada seseorang sedang dicekik
lehernya hingga ingin berteriak pun tak mampu bersuara.
Dengan sigap Pang Goan melompat bangun lalu teriaknya dari jendela, “Beng-cu!
Beng-cu! . . .”
Panggilannya yang berulang kali itu tidak memperoleh jawaban apa-apa, malah
rintihan tadi mendadak berhenti.
Pang Goan tidak membuang waktu lagi, ia hantam daun jendela hingga terpentang
lebar, kemudian menyerbu ke dalam ruangan.
Ia cepat masuk, waktu keluarpun tak kalah cepatnya, sambil melompat mundur dari
ruangan itu serunya dengan cemas, “Jit-long, cepat bangun, terjadi peristiwa . . . . ”
“Apa yang terjadi?” buru-buru Leng-hong lari keluar dari kamarnya.
Sambil menuding ke arah kamar tidur Hui Beng-cu, kata Pang Goan dengan napas
terengah, “Entah bagaimana caranya, perempuan asing itu berhasil meloloskan diri, ia
sedang mencekik Beng-cu . . . .”
“Sungguh? Kita harus menolongnya!” seru Leng-hong dengan terkejut.
Tapi Pang Goan segera mengalanginya sambil menggoyang tangan berulang, “Tidak
mungkin, kita kurang leluasa untuk masuk ke sana, kita harus cari akal.”
“Kenapa?” tanya Leng-hong.
Dengan wajah merah kata Pang Goan, “Perempuan asing itu dalam . . . dalam
keadaan telanjang . . . pan . . . pantatnya kelihatan jelas . . . .”
Mendengar ucapan tersebut, Leng-hong merasa geli dan dongkol, katanya, “Lotoako,
dalam keadaan apakah ini? Kenapa kau urus soal semacam itu?”

Sekali melompat ia melewati Pang Goan dan langsung menerjang masuk ke dalam
ruangan.
Apa yang dikatakan Pang Goan memang tak salah, perempuan Ainu itu betul-betul
dalam keadaan telanjang bulat, waktu itu ia sedang menunggangi tubuh Hui Beng-cu
sementara tangannya mencekik leher gadis itu dengan keras-keras.
“Lepaskan!” bentak Leng-hong.
Perempuan itu benar-benar lepaskan tangannya, cuma bagaikan angin puyuh ia
memutar ke arah pemuda tersebut.
Seandainya Pang Goan yang menghadapi kejadian ini, jangankan melawan, melihat
gayanya yang “mengerikan” itu saja mungkin sudah kabur terbirit-birit.
Sayang dijumpainya kali ini adalah Ho Leng-hong.
Ho Leng-hong tidak menganggapnya sebagai manusia, apalagi sebagai seorang
perempuan, adegan semacam ini sudah biasa baginya, sedikitpun tidak heran dan
terangsang.
Ia menganggapnya seperti gumpalan daging atau seekor babi betina, tanpa pikir
tangan kiri menyodok ke depan.
Sodokan ini telak bersarang di perut perempuan cebol itu.
“Aduh!” karena kesakitan perempuan itu membungkukkan badannya, seakan-akan
mendadak merasa malu.
Sedikitpun tidak terlintas dalam benak Ho Leng-hong rasa kasihan, bagaikan sebilah
golok telapak tangan kanannya membacok kuduk perempuan itu dengan keras.
“Ouh . . .” perempuan itu mengerang kesakitan dan jatuh berlutut di lantai.
Dengan cekatan Leng-hong menjambak rambutnya, menutuk jalan darahnya dan
membungkus tubuhnya yang telanjang itu dengan selimut, kemudian dilemparkan ke
atas pembaringan.
Sesudah bertepuk tangan, ia baru mengalihkan sinar matanya ke wajah Hui Beng-cu.
Ketika itu Hui Beng-cu sudah hampir jatuh semaput, ia sedang mengurut leher
sendiri, napasnya tersengal dan tak sekatapun sanggup diucapkan.
“Bagaimana Jit-long?” kedengaran Pang Goan bertanya di luar jendela.
Sambil memberi secawan teh pada Hui Beng-cu agar tenggorokannya basah, jawab
Leng-hong, “Sudah beres, silakan masuk!”
Tapi rupanya Pang Goan belum percaya, dia melongok dari luar jendela, setelah
Leng-hong memasang lampu, dengan hati lega baru ia berani masuk ke dalam.

“Siapa yang membebaskan jalan darahnya?” tegur Leng-hong kemudian.
“Aku . . .” jawab gadis itu dengan napas terengah.
“Bukankah kau bilang akan mengawasinya sepanjang malam dan tak akan terjadi
apa-apa? Kenapa kau bebaskan jalan darahnya?”
“Aku tertipu oleh siasat perempuan busuk ini, mula-mula dia bilang mau kencing,
maka kubebaskan jalan darah kakinya, kemudian ia bilang bahwa perempuan Ainu
biasa tidur dalam keadaan telanjang, kupikir bila ia berada dalam keadaan telanjang,
tentu dia tak mungkin akan kabur, maka...”
“Maka kaubebaskan jalan darah tangannya? Maka lehermu dicekik perempuan itu?”
Hui Beng-cu tundukkan kepalanya rendah-rendah, katanya dengan menyesal, “Tidak
kupikir sampai sejauh itu. Akulah yang salah, akulah yang terlalu gegabah.”
“Andaikata ia bilang perempuan Ainu kalau tidur tentu memeluk sebilah golok,
apakah kau juga akan memberikan golok padanya?”
Hui Beng-cu tak dapat menjawab, hanya tunduk kepala dan bungkam.
Pang Goan kuatir gadis itu merasa jengah, buru-buru selanya, “Kejadian yang lewat
biarlah lalu, untung kita cukup waspada dan tak sampai perempuan itu kabur, lain kali
sedikitlah lebih berhati-hati, Jit-long, mari kita kembali ke kamar.”
Leng-hong tidak berkata apa-apa, ia putar badan dan melangkah keluar.
Sambil memandang bayangan punggung orang yang berlalu, kata Hui Beng-cu
dengan suara takut, “Agaknya Nyo-toako sangat marah dan menyalahkan aku,
padahal aku sungguh-sungguh teledor, aku tidak sengaja melepaskan dia . . . .”
“Aku mengerti,” kata Pang Goan sambil tertawa, “Jit-long juga tidak benar-benar
menyalahkan dirimu, tujuannya agar kau jangan tertipu lagi di kemudian hari, sekali
tertipu lain kali harus hati-hati. Sudahlah, beristirahatlah, akupun akan pergi.”
Ketika kembali ke kamar sebelah, Leng-hong sedang berbaring sambil menopang
tengkuknya dengan tangan, pemuda itu sedang memandang langit-langit dengan
termangu, wajahnya tampak amat serius.
Tak tahan lagi Pang Goan menggerutu, “Kau juga kelewatan, kenapa tidak memberi
muka pada budak keluarga Hui itu? Apa yang kaukatakan tadi terlalu berat bagi
pendengarannya.”
“Lotoako, kau anggap apa yang diucapkan tadi adalah kata-kata yang sejujurnya?”
“Masa bukan?”
Leng-hong tertawa dingin, “Paling sedikit ada satu hal yang tidak kupercayai, dengan

ilmu silat Hui Beng-cu, tak mungkin segampang itu ia dapat dibekuk oleh perempuan
Ainu itu sekalipun dibekuk, paling sedikit juga akan bersuara, lebih-lebih orang tak
perlu mencekik lehernya dalam keadaan telanjang . . . .”
“Jadi maksudmu . . . . .” kata Pang Goan setelah termenung sejenak.
“Sedang bermain sandiwara, sandiwara yang sengaja diperlihatkan kepada kita.”
“Sekalipun bermain sandiwara, kan tidak perlu bersandiwara dalam keadaan bugil.”
“Ya, tapi sandiwara ini hanya khusus dipertunjukkan buatku seorang.”
“Aku tidak paham maksudmu.”
“Sederhana sekali, mereka tahu aku mencurigai asal-usul Hui Beng-cu, maka sengaja
dimainkan sandiwara tersebut dengan tujuan untuk melenyapkan rasa curigaku
terhadap Hui Beng-cu, agar kelihatan lebih seram dia sungguhkan, mereka atur waktu
kau bertugas meronda, tapi takut aku tak sempat ikut menyaksikan, maka mereka
putuskan untuk berperan dalam keadaan bugil. Mereka menduga kalau Lotoako tak
akan tega menyaksikan adegan semacam itu dan akulah yang pasti disuruh masuk,
tercapailah tujuan mereka, asal adegan itu kusaksikan sendiri, mereka yakin aku pasti
akan percaya asal-usul Hui Beng-cu.”
Pang Goan manggut-manggut, “Kalau begitu, kau yakin budak keluarga Hui ini
adalah gadungan?”
“Aku tidak berani mengatakan apakah dia Hui Beng-cu asli atau tidak, aku Cuma
tahu dia sekomplotan dengan Ci-moay-hwe, dulu cuma curiga saja, tapi sekarang
hakikatnya sudah pasti.”
Pang Goan termenung, katanya kemudian, “Jika dugaanmu benar, itu berarti
kepergian kita ke markas besar Ci-moay-hwe akan terjebak, cuma sebelum mendapat
bukti nyata lebih baik kita jangan menuduh orang dengan begitu saja, persoalan ini
kita simpan saja dalam hati dan jangan disiarkan untuk sementara, coba kita lihat dulu
bagaimanakah perkembangan selanjutnya.”
“Setelah kita tahu kejadian ini adalah suatu jebakan, kenapa kita masih menuruti
perintah mereka?”
“Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan To-kiam-hap-ping-tin-hoat, setelah dapat
kita pahami duduknya persoalan, kini merekalah yang berada dalam perhitungan kita,
kenapa kita tidak menggunakan siasat untuk melawan siasat?”
Leng-hong tidak bertanya lebih jauh, sebab ia mengerti Pang Goan “si monyet dua
kuda” bukanlah orang bodoh, ia pasti sudah mempunyai rencana yang matang untuk
menghadapi persoalan ini.
---------------------------------
Ketika melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya, keadaan aman tenteram

seperti tak pernah terjadi apa-apa.
Cuma setiap kali Hui Beng-cu bertemu dengan Ho Leng-hong, wajahnya selalu
tampak kikuk, seperti malu dan rada takut.
Kereta bergerak menuju ke utara menurut petunjuk perempuan cebol ini, selewatnya
Siang-huan, tiba-tiba mereka berbelok ke barat, melewati Bu-tong-san terus menuju
ke Tay-pa-san di daerah Siamsay.
Tak lama setelah melewati tembok besar, mereka sudah berada di lereng
pegunungan, perjalanan tak dapat dilakukan lagi dengan menunggang kereta.
Terpaksa Pang Goan harus meninggalkan kuda dan keretanya, setelah membebaskan
jalan darah kaki perempuan pendek itu, berempat mereka mendaki gunung dengan
berjalan kaki.
Agaknya perempuan itu apal sekali dengan jalanan bukit itu, sepanjang perjalanan ia
selalu memilih jalan setapak yang sepi, dalam sehari mereka dapat menempuh dua
sampai tiga puluh li jalan gunung yang tak ada manusianya.
Ho Leng-hong jadi curiga, bisiknya kepada Pang Goan, “Lotoako, tampaknya agak
kurang beres, tujuan Ci-moay-hwe adalah menguasai dunia persilatan, tak mungkin
markas besarnya didirikan di tengah gunung yang jauh dari keramaian.”
“Aku tahu,” jawab Pang Goan sambil tertawa, “perempuan asing ini sengaja
mengajak kita berputar kayun di atas gunung untuk membuang waktu, tujuannya agar
perempuan-perempuan busuk itu melakukan persiapan.”
“Menurut pendapat Lotoako, apa yang sedang mereka persiapkan?”
“Jangan pedulikan cara apa yang akan mereka gunakan, pokoknya ingat saja, bila
sampai terjadi sesuatu, aku yang menghadapi serangan luar dan kauhadapi musuh dari
dalam.”
Leng-hong mengangguk dan tertawa.
Tentu saja ia mengerti apa yang dimaksudkan “musuh dari dalam”, tanpa terasa ia
berjalan menghampiri Hui Beng-cu.
Waktu itu Hui Beng-cu sedang membuat api unggun di tepi sebuah batu karang,
karena hari mulai gelap dan terpaksa harus menginap di udara terbuka, mereka harus
membuat api untuk mengusir ular dan sebangsanya.
Perempuan Ainu itu duduk bersila di depan mulut gua dan memejamkan mata,
menundukkan kepala seperti mengantuk.
Api unggun baru saja dibuat, Hui Beng-cu sedang mengebaskan lengan bajunya
untuk membuyarkan asap tebal.
Ho Leng-hong menghampirinya, sambil tertawa ia menyapa, “Nona Hui, merepotkan

dirimu saja, nona keluarga kenaman harus melakukan pekerjaan kasar seperti ini.”
“Mengapa kau berkata begitu? Membuat api dan memasak air adalah pekerjaan kaum
wanita. Silakan duduk, Nyo-toako.”
Setelah duduk di tepi api unggun, kembali Leng-hong berkata, “Selama di Hiang-inhu,
apakah kau juga melakukan pekerjaan rumah tangga?”
“Meskipun tak pernah kulakukan secara resmi, tapi belajar sih pernah, ayahku selalu
menaruh perhatian khusus terhadap kepandaian puteri.”
“Pantas kepandaian nona membuat api unggun dan memotong kayu bakar sudah
berpengalaman, bukan seperti orang yang melakukan untuk pertama kali.”
Tiba-tiba Hui Beng-cu berkerut dahi, lalu berkata dengan lirih, “Nyo-toako, ada
beberapa persoalan sebetulnya ingin kubicarakan denganmu, sayang selama ini tak
ada kesempatan, cuma setelah kuucapkan nanti harap kau jangan marah.”
“Ah, masa marah? Bila ada persoalan katakan saja terus terang,” jawab Leng-hong
sambil tertawa.
“Aku merasa, sejak kedatanganku di Thian-po-hu, agaknya Nyo-toako tidak
menyukai diriku, benar tidak?”
“Hei, kenapa kau mempunyai pikiran seaneh itu?!”
Hui Beng-cu tertawa getir, katanya lagi, “Misalkan saja pada hari pertama aku tiba di
Thian-po-hu, kau telah mencurigai diriku gadungan.”
“Jangan berpikir yang bukan-bukan nona, maklumlah, terpaksa aku harus hati-hati,
sebab belum lama berselang Ci-moay-hwe baru saja mengacau di Thian-po-hu, jadi
mau-tak-mau aku harus waspada.”
“Nyo-toako, aku tidak berpikir yang bukan-bukan, lebih-lebih tidak menyalahkanmu,
aku dapat memakluminya, bahkan enso pun telah dipalsukan oleh Ci-moay-hwe
sehingga Nyo-toako tertipu sekian lama, tak heran rasa bencimu terhadap Ci-moayhwe
telah merasuk tulang, tapi akupun sama-sama menderita akibat ulah mereka,
Nyo-toako, tak boleh lantaran perbuatan Ci-moay-hwe maka seluruh perempuan yang
ada di dunia kaubenci semua!”
“Soal ini . . . “ Leng-hong jadi gelagapan.
Hui Beng-cu kembali berkata, “Nyo-toako, kau mencurigaiku sebagai mata-mata dari
Ci-moay-hwe, hal ini adalah urusanmu sendiri dan aku tidak menyalahkanmu, tapi
aku harap sebelum ada faktanya jangan kauambil kesimpulan sendiri, apalagi dalam
peristiwa di rumah penginapan Hong-an, tidak semestinya kau menuduh aku
bersandiwara untuk menipumu, atau paling sedikit kau harus menunggu setibanya di
markas besar Ci-moay-hwe atau setelah tiba di Hiang-in-hu dan menyelidiki duduk
perkara yang sebenarnya baru menarik kesimpulan-kesimpulan, terus terang
kukatakan bahwa sikapmu itu sangat menyedihkan hatiku, membuatku penasaran.”

Makin bicara makin emosi, akhirnya sambil mendekap wajahnya ia menangis
tersedu-sedu.
Leng-hong tidak menyangka semua pembicaraannya dengan Pang Goan telah
didengar olehnya, lebih-lebih tidak menyangka bakal ditegur secara terus terang,
untuk sesaat pemuda itu menjadi gelagapan dan tak tahu bagaimana mesti menjawab.
Setelah tertegun sekian lama, akhirnya ia berkata, “Nona Hui, ucapanmu memang
benar, mungkin rasa benciku terhadap Ci-moay-hwe sudah terlampau mendalam
sehingga prasangkaku lebih besar dan mengakibatkan terjadinya kesalahpahaman ini,
kuharap kau memahami bahwa aku tidak bermaksud jahat, seandainya aku pernah
melakukan kesalahan atau menyinggung perasaanmu, kuharap kau bersedia
memaafkan.”
Hui Beng-cu menggeleng kepala berulang kali, sambil terisak katanya, “Tidak, Nyotoako,
aku tidak bermaksud menyalahkan dirimu! Aku hanya... hanya merasa sangat
sedih, aku tak menyangka maksudku mohon bantuan pada Thian-po-hu akan
berakibat begini . . . .”
“Sudahlah, jangan bersedih hati, apa yang terjadi hanya suatu kesalah-pahaman kecil,
peristiwa ini tak akan mempengaruhi hubungan persahabatan antar Bu-lim-sam-hu,
kita masih tetap sesama saudara sendiri, nanti kalau markas besar Ci-moay-hwe telah
ditemukan dan siapa pemimpinnya berhasil kita ketahui, aku pasti akan menemanimu
pergi ke Hiang-in-hu, aku pasti akan membantumu untuk menghadapi komplotan
penjahat yang telah menguasai ayahmu itu.”
“Sungguh?” Hui Beng-cu mendongakkan kepalanya, “Nyo-toako, kau benar-benar
mau menemaniku pergi ke Leng-lam? Kau masih bersedia menganggapku sebagai
adikmu?”
“Tentu saja sungguh, kita mempunyai musuh yang sama dan penderitaan yang sama
pula, bukankah begitu?”
Hui Beng-cu tertawa, katanya, “Nyo-toako, kau tidak membohongiku bukan?”
“Persoalan ini adalah masalah serius, buat apa aku membohongimu?” Leng-hong ikut
tertawa.
“Kalau begitu legalah hatiku, terus terang kukatakan, semenjak bertemu denganmu
untuk pertama kalinya, aku telah menyukaimu, aku tak punya kakak atau adik,
selanjutnya aku akan menganggapmu sebagai kakakku sendiri, Nyo-toako kau
bersedia bukan?”
“Ya, bersedia,” Leng-hong segera mengalihkan pembicaraan ke soal lain, “Sekarang
tanyakan kepada perempuan asing itu, kapan kita baru akan sampai di markas besar
Ci-moay-hwe?”
“Sudah kutanyakan kepadanya, bila sepanjang jalan tiada rintangan, besok malam
kita akan tiba di tempat tujuan.”

“Apakah kau tidak berusaha mencari kabar tentang keadaan markas besar Ci-moayhwe?”
“Sudah kutanyakan, tapi ia tak mau menjawab, ia hanya bilang keadaan di sekitar
tempat itu sangat curam dan berbahaya, di situlah berdiri istana Ci-moay-kiong,
sebuah istana yang megah dan mewah, katanya penghuni istana itu seluruhnya adalah
perempuan, lagipula ilmu silat mereka rata-rata sangat tinggi.”
Sambil mendengarkan keterangan itu Leng-hong mengangguk-angguk seakan-akan
mendengarkan secara serius, tapi seperti juga sangat kecewa, gumamnya, “Kalau
begitu, besok kita akan berhasil membongkar rahasia yang menyelimuti Ci-moayhwe?
Kenapa sampai saat ini keadaan masih tetap tenang-tenang saja?”
“Betul, akupun merasa heran,” kata Beng-cu, “semestinya semakin mendekati sarang
Ci-moay-hwe, semakin banyak gangguan atau pengadangan akan terjadi.”
Leng-hong tertawa, bisiknya, “Siapa tahu kalau malam nanti bakal ada gerakan? Kau
harus hati-hati.”
Setelah melirik sekejap ke arah perempuan negeri seberang itu, dia lantas bangkit dan
meninggalkan api unggun.
Perempuan Ainu itu masih duduk bersila tanpa bergerak, seolah-olah sudah tertidur,
ketika Leng-hong berlalu, tiba-tiba ia bangkit dan putar badan masuk ke dalam gua di
belakangnya.
Tempat itu merupakan sebuah tebing yang menonjol keluar di kaki gunung, di
sekeliling sana terdapat enam-tujuh buah gua yang tidak sama dalamnya, sedangkan
yang cetek hanya muat satu badan, di depan sana ada sebuah sungai, pemandangan
indah, suatu tempat berkemah yang baik.
Setelah kenyang mengisi perut, keempat orang itu masing-masing lantas mencari
sebuah gua untuk beristirahat.
Agar lebih leluasa mengontrol perempuan Ainu itu, Hui Beng-cu mencari sebuah gua
yang agak dalam dan tinggal bersamanya, ia menyuruh perempuan itu tidur di dalam
gua, sementara ia sendiri di mulut gua.
Pang Goan dan Leng-hong berjaga secara bergilir, mereka mendiami dua buah gua
yang agak cetek di kiri kanannya.
Api unggun terletak persis di muka gua yang ditempati Hui Beng-cu, seandainya ada
orang mendekati tebing tersebut, kebanyakan mereka akan memperhatikan gua di
bagian tengah daripada kedua gua yang terletak di sisinya.
Secara kebetulan sekali, baru saja mereka beristirahat, tiba-tiba kedengaran suara
langkah kaki manusia ramai.
Pang Goan paling dulu mendengar suara langkah manusia itu, tapi ia hanya

membetulkan letak senjatanya tanpa bergerak dari tempatnya.
Leng-hong coba melongok dan melirik sekejap ke arah gua sebelah tengah, ia tidak
tampak Hui Beng-cu, mungkin gadis itu pun mendengar suar tersebut dan
mengundurkan diri ke dalam gua.
Maka Leng-hong pun diam saja.
Yang datang berjumlah empat orang, seorang pendeta dan tiga orang preman,
pakaian mereka compang-camping, kepala tertunduk rendah dengan langkah
sempoyongan, agaknya mereka sama terluka.
Leng-hong duduk di dalam gua dan tak sempat melihat jelas raut wajah keempat
orang itu, tapi ia merasa di antara keempat orang itu paling sedikit ada seorang yang
sudah dikenalinya.
Orang pertama adalah seorang Hwesio berusia lima puluhan, jubahnya terkoyakkoyak
dan berpelepotan darah, di belakangnya mengikut tiga orang laki-laki preman
setengah umur, tubuh merekapun babak-belur.
Dengan terhuyung-huyung keempat orang itu mendekati api unggun, rupanya mereka
sudah kehabisan tenaga, mendadak mereka roboh terkapar di tanah dan tidak berkutik
lagi.
Tergetar perasaan Leng-hong, baru saja dia hendak berdiri . . . . .
“Tunggu sebentar!” seru Pang Goan dengan suara tertahan, “kendalikan emosimu,
keempat orang itu sudah tewas, jangan pedulikan mereka, hati-hati dengan musuh
tangguh yang bersembunyi di tempat gelap!”
Terpaksa Leng-hong tarik napas panjang dan menekan gejolak emosinya.
Tapi setelah ditunggu sekian lama, belum kedengaran juga suara yang lain, bahkan
tidak nampak sesosok bayangan pun yang muncul di situ.
Sementara itu keempat sosok mayat tadi terkapar di dekat api unggun, jelas mereka
sudah putus nyawa karena tubuh kaku dan tak berkutik lagi.
“Lotoako, kaulihat benda di atas dada mereka?...” bisik Ho Leng-hong dengan suara
parau.
“Sudah! Jangan bergerak dulu, biar kuperiksa daerah sekeliling tempat ini!”
Begitu selesai berkata, bagaikan seekor monyet, dengan gesit Pang Goan melayang
keluar gua.
Tidak lama kemudian ia muncul kembali dengan wajah serius, sambil menggapai
katanya, “Keluarlah Beng-cu! Tutuk dulu jalan darah perempuan asing itu, jangan
sampai dia sempat melarikan diri.”

Leng-hong dan Beng-cu sama muncul dari gua, setelah memeriksa keempat sosok
mayat di tepi api unggun itu, perasaan semua orang sama tertekan.
Sebelum tiba di dekat api unggun jelas keempat orang itu, seorang pendeta dan tiga
orang preman, telah terluka parah, bahkan kedatangan mereka ke sana menjelang
ajalnya pun bukan atas keinginan mereka sendiri.
Sebab tangan mereka berempat sama diikat oleh seutas tali panjang, lagi pula dada
masing-masing tergantung sebuah lencana kayu yang berukirkan sebuah huruf besar
berwarna merah darah.
Dibaca menurut urutannya dari pendeta itu, maka tersusunlah empat kata yang
berbunyi, “Jip”, “Kok”, “Cia” dan “Si” yang artinya, “Barang siapa masuk ke dalam
lembah, mati!”
Meskipun sekujur badan keempat orang itu penuh dengan luka, tapi luka yang
mengakibatkan kematian mereka adalah sama, yakni dada kiri ditembus ujung golok
hingga tembus ke hulu hati, sekalipun malaikat dewata juga tak bisa menyelamatkan
jiwa mereka.
Tusukan menembus hati itu bukan saja dilakukan dengan sangat jitu, besar-kecilnya
luka dan dalam cetaknya luka ternyata persis sama satu dengan lainnya.
Pang Goan geleng kepala berulang kali dan berkata, “Sungguh ilmu golok yang amat
keji!”
“Betul!” Leng-hong menanggapi, “kesempurnaan ilmu golok pembunuh itu
tampaknya tidak berada di bawah ilmu golok Thian-po-hu maupun Hiang-in-hu.”
“Jit-long, kenalkah kau pada keempat orang ini?” tanya Pang Goan kemudian.
“Aku hanya kenal lelaki nomor dua yang mengenakan baju hijau itu, sedang sang
pendeta ini kemungkinan besar adalah Hwesio dari Siau-lim-si.”
“Oya? Lantas siapakah laki-laki itu?”
“Thian Pek-tat!”
“Thian si telinga panjang?” ulang Pang Goan dengan air muka berubah hebat.
“Memang dia inilah orangnya, bukankah Lotoako pernah bilang secara tiba-tiba dia
diajak temannya meninggalkan rumah dan menuju ke Lan-hong? Bisa jadi kedua
orang ini adalah sahabatnya yang mengajaknya pergi, kemungkinan besar kepergian
mereka ke Lan-hong adalah untuk mengunjungi Siau-lim-si . . . cuma, kenapa mereka
bisa mati di sini?”
“Kalau begitu, kecurigaanmu padanya sebagai mata-mata Ci-moay-hwe jelas keliru
besar,” kata Pang Goan dengan kening berkerut.
“Baik dalam tindak tanduknya maupun dalam pembicaraannya, Thian Pek-tat

merupakan seorang yang patut dicurigai, maka menurut dugaanku jika ia bukan matamata
Ci-moay-hwe, jelas dia orang suruhan dari kelompok organisasi misterius
lainnya, kalau tidak, tak mungkin tanpa sebab musabab ia mendatangi pegunungan
Tay-pa-san ini.”
“Lantas siapa pula kelompok manusia yang misterius itu?”
“Tentang ini tak berani kukatakan secara gegabah, Cuma selalu kurasakan sejak
tercurinya Yan-ci-po-to seakan-akan terdapat sekelompok manusia yang diam-diam
memusuhi pihak Ci-moay-hwe, mungkin saja merekapun mengincar golok mestika
tersebut, dan mungkin juga mempunyai tujuan tertentu, tapi kawankah atau
musuhkan? Sukar untuk dikatakan dengan begitu saja, sayang Thian Pek-tat telah
mati, kalau tidak, mungkin dari mulutnya akan diperoleh sedikit titik terang.”
Pang Goan termenung sebentar, lalu berkata, “Kalau demikian, suasananya makin
lama berkembang makin kacau, kecuali Ci-moay-hwe, siapa lagi yang berhasrat
mendapatkan golok mestika Yan-ci-po-to?”
“Lotoako, masih ingatkah kau Yan-ci-po-to telah dirampas oleh seorang berkerudung
yang tinggi besar? Hakikatnya Samkongcu dari Ci-moay-hwe tidak berhasil
mendapatkan golok mestika tersebut.”
Tergerak juga hati Pang Goan, katanya, “Benar, waktu itu aku mengira pihak Cimoay-
hwe berbohong, bila kita bayangkan kembali sekarang rasanya memang ada
beberapa bagian yang bisa dipercaya . . . . .”
Sementara mereka membicarakan kejadian yang berlangsung di Thian-po-hu tempo
hari, Hui Beng-cu menjadi tidak sabar, selanya, “Hei, apa yang kalian bicarakan?
Sepatah katapun tidak kupahami. Sekarang lebih baik kita rundingkan dulu apa yang
mesti dilakukan dengan keempat sosok mayat ini.”
“Gali saja sebuah liang dan kita kubur mereka.....” usul Pang Goan.
“Tidak, tak boleh dikubur!” mendadak seseorang menganggapi, bersamaan itu dari
atas tebing melayang turun sesosok manusia.
Baik Pang Goan maupun Ho Leng-hong, kedua-duanya tidak menyangka di atas
tebing telah bersembunyi seseorang, serentak mereka lolos golok dan pedang.
“Jangan menggerakkan senjata,” kembali orang itu berkata, “kedatanganku orang tua
ini hanya bermaksud menasihati kalian saja, mau turut atau tidak terserah kepada
kalian sendiri, dan tak perlu bersitegang macam begini.”
Orang yang mengaku sebagai orang tua itu memang telah lanjut usia, wajahnya
penuh keriput, rambut dan jenggotnya telah memutih, badannya agak membungkuk,
meskipun belum mencapai sembilan puluh, paling sedikit juga melampaui delapan
puluh.
Meski begitu, tongkat baja sebesar telur itik yang berada dalam genggamannya itu
memiliki bobot yang hampir sebanding dengan usianya, kalau tidak mencapai

sembilan puluh kati, delapan puluh pasti ada.
Dengan usianya yang tua namun sanggup membawa tongkat seberat itu, dari sini saja
dapat diketahui bahwa orang tua ini memang bukan orang sembarangan.
Pang Goan bukan orang bodoh, golok dan pedangnya tidak digunakan untuk
menyerang, tapi disilangkan untuk melindungi badan, lalu tegurnya dengan suara
berat, “Siapa kau?”
“Aku adalah orang di luar garis, bila kalian suka panggil saja aku orang di luar garis.”
“Kalau begitu, kau tak ada hubungan apa-apa dengan Ci-moay-hwe?” sela Ho Lenghong.
Kakek itu tertawa, “Dengan sebutan orang di luar garis, berarti aku tak ada hubungan
apa-apa dengan pihak manapun.”
“Lantas dengan maksud apa kau bersembunyi di puncak tebing itu?” tegur Pang
Goan.
“Pang-lote, jangan berkata begitu!” ujar kakek itu sambil menarik senyumnya,
“tebing ini bukan milik Cian-sui-hu, kalian boleh datang kemari kenapa aku tak boleh
datang? Lagipula aku datang lebih awal daripada kalian, semenjak tadi aku sudah
berdiam di atas tebing itu, adalah kalian yang tidak melihat jejakku, masa kini
menyalahkan aku si kakek mengintip kalian?”
“Kalau begitu, anggap saja ketajaman pendengaran kamilah yang kurang . . . .” kata
Leng-hong kemudian, “tapi, bolehkah kutahu mengapa kau melarang kami mengubur
mayat-mayat ini?”
“Untuk mengetahui alasannya, maka lebih dulu ingin kutanya, jauh-jauh kalian
datang ke tempat sepi semacam ini, sesungguhnya apa tujuan kalian?”
“Kami sedang mencari suatu tempat!”
“Apakah alamat markas besar Ci-moay-hwe yang sedang kalian cari?”
“Benar!”
“Aku ingin bertanya lagi, tahukah kalian siapakah yang membunuh keempat orang
ini?”
“Tentu saja orang-orang Ci-moay-hwe!”
“Mengapa pihak Ci-moay-hwe membunuh mereka?”
“Jelas sekali, mereka sengaja pamerkan kekuatan agar kami tak berani melanjutkan
perjalanan.”
“Apakah kau kira markas besar Ci-moay-hwe terletak di atas bukit di sebelah depan

sana?” tanya kakek itu lagi.
“Betul,” jawab Leng-hong.
Ditatapnya pemuda itu dengan tersenyum, lalu kata si kakek, “Tak kunyana, kau
benar-benar pintar!”
“Tak berani kuterima pujianmu . . . . .” Leng-hong memberi hormat.
Tiba-tiba kakek itu menarik muka sambil meludah ke tanah, “Pintar?” ejeknya, “Cis!
Pintar kentut, Hei, anak muda, kau anggap dirimu sangat pintar? Padahal gobloknya
melebihi kerbau.”
Leng-hong melenggong, “Orang tua, kau . . . . .”
“Hmm, aku sudah cukup sungkan padamu, coba kalau tidak sungkan, ingin sekali
kuhadiahi beberapa tempelengan untukmu. Apakah tidak kau bayangkan, setelah Cimoay-
hwe dapat masuk keluar dengan seenaknya sendiri di Bu-lim-sam-hu bagaikan
di rumah sendiri, apakah mereka mau mendirikan markas besarnya di tengah bukit
liar semacam ini?”
Sekalipun sedang didamprat, namun Leng-hong cuma diam saja, sebab ia merasa
perkataan itu memang benar.
Terdengar kakek itu berkata lebih jauh, “Lagipula, seandainya mereka tak ingin
kedatangan kalian, banyak kesempatan bagi mereka untuk turun tangan di sepanjang
jalan, kenapa harus pamer kekuatan pada saat seperti ini? Jikalau keempat orang
itupun bisa mereka bunuh, mengapa mereka tidak dapat membunuh kalian pula? Apa
gunanya membuka celana untuk kentut, melakukan tindakan berlebihan? Memangnya
kalian bertiga lebih hebat daripada mereka berempat?”
“Jadi maksud orang tua, kedatangan kami memang telah diatur oleh Ci-moay-hwe
secara diam-diam?”
“Kalau tidak, apakah kalian bisa sampai di sini dengan lancar?”
“Kalau begitu, mereka sengaja mengatur jebakan agar kami masuk perangkap?”
Tersungging juga senyuman pada wajah kakek itu, “O, rupanya kau memang tidak
terlalu goblok, akhirnya keluar juga sepatah kata cerdik.”
“Lalu, siapakah yang membunuh keempat orang itu? Jebakan apakah yang mereka
siapkan di atas bukit?” tanya Leng-hong lagi.
Kakek itu menggeleng kepala berulang kali, “Baru saja kukatakan kaupintar, kenapa
menjadi bodoh lagi? Terus terang kuberitahukan padamu, inilah siasat Cioh-to-sat-jin
(pinjam golok membunuh orang) dari Ci-moay-hwe, mengerti?”
“Aku belum mengerti!”

“Sialan, terpaksa harus kuterangkan lebih terperinci padamu,” keluh kakek itu sambil
menghela napas, “ketahuilah, pihak Ci-moay-hwe sengaja mengirim anak domba ke
mulut harimau, kalian di pancing ke sebuah lembah yang mengerikan, meskipun
tempat itu tiada jebakan yang berbahaya, tapi hanya bisa datang dan jangan harap
akan keluar lagi, sebab barang siapa telah masuk ke dalam lembah itu, selamanya tak
mungkin keluar lagi dalam keadaan hidup . . . .”
“Apakah kau maksudkan lembah Mi-kok?”
Tiba-tiba air muka kakek itu berubah, “Sudah terlalu jelas keteranganku tadi, apapun
nama tempat itu, pokoknya lebih baik jangan di datangi, aku hanya orang di luar
garis, sampai di sini saja apa yang bisa kukatakan, mau percaya atau tidak terserah
kepada kalian sendiri.”
Dia lantas mengangkat tongkatnya dan siap meninggalkan tempat itu.
“Tunggu sebentar!” seru Pang Goan tiba-tiba sambil mengadang jalan perginya.
Sambil tertawa dingin kakek itu menghentikan langkahnya, “Pang-lote, apakah masih
ada urusan lain?”
“Aku ingin tanya satu hal, sebagai orang di luar garis, kenapa begitu banyak
persoalan tentang Ci-moay-hwe yang kauketahui? Darimana pula kau tahu bahwa
setiap orang yang masuk ke lembah Mi-kok tiada harapan lagi untuk keluar dalam
keadaan hidup?”
“Pang-lote,” kata kakek itu sambil menarik napas panjang, “aku bermaksud baik,
jangan kau anggap aku bermaksud jahat.”
“Kalau betul bermaksud baik, kenapa tidak berani sebutkan namamu?”
“Apa gunanya memaksa orang melakukan hal yang tidak diinginkannya?” kata kakek
itu lagi sambil tertawa.
“Oleh karena kau orang di luar garis yang terlalu banyak mencampuri urusan ini.”
“Jika aku tak bersedia menyebutkan namaku?”
“Terpaksa akan kuselidiki asal-usulnya dari ilmu silatmu?”
“Hahaha . . . kau hendak bertarung denganku?” seru si kakek sambil tertawa
terbahak-bahak.
“Betul, silakan!”
Dengan golok di tangan kiri dan pedang di tangan kanan, Pang Goan segera
menunjukkan gaya pembukaan ilmu To-kiam-hap-ping-tin.
Ho Leng-hong kuatir mereka benar-benar berkelahi, segera teriaknya, “Pang-toako,
bolehkah aku mengajukan beberapa pertanyaan dulu kepada orang tua ini?”

“Baik, tanyalah lebih dulu!”
Leng-hong memberi hormat kepada kakek itu, lalu katanya, “Aku percaya kau orang
tua benar-benar bermaksud baik, tapi ucapanmu baru sampai di tengah jalan, kenapa
lantas buru-buru mau pergi?”
“Apa yang bisa kukatakan telah kuutarakan, urusan apa yang kaumaksudkan cuma
setengah jalan?”
“Tadi kami hendak mengubur keempat sosok jenazah ini, tapi dialangi olehmu,
sampai sekarang belum kaujelaskan kepada kami kenapa jenazah mereka tak boleh
dikubur.”
“O, rupanya persoalan ini yang kau tanyakan,” kata si kakek sambil tertawa,
“Baiklah! Akan kuterangkan padamu, keempat sosok mayat dan lencana kayu di
tubuh mayat tersebut merupakan sebagian dari siasat Ciok-to-sat-jin dari Ci-moayhwe.
Jika kalian mau menurut anjuranku, maka cepatlah bakar mayat itu dengan api,
kemudian tinggalkan Tay-pa-san, kalau tidak, maka tak lama bakal ada bencana besar
yang akan menimpa kalian.”
“Kenapa mayat-mayat itu mesti dibakar dengan api . . . .” tanya Leng-hong dengan
tercengang.
“Ah, terlalu banyak yang kautanya!” tukas kakek itu marah, tongkatnya segera
diketukkan ke tanah dan tubuhnya melayang pergi meninggalkan tempat itu.
“Jangan pergi dulu! Sambut seranganku ini.” Bentak Pang Goan.
Tampak cahaya tajam berkilau, golok di tangan kiri dan pedang di tangan kanannya
segera menyerang bersama.
Waktu itu kedua kaki si kakek sudah meninggalkan permukaan tanah, tiba-tiba ia
tertawa dingin, “Jurus serangan bagus!”
Bayangan tongkat berkelebat membelah angkasa, di antara getaran ujung tongkat
terciptalah selapis cahaya hitam.
Ketika serangan golok dan pedang Pang Goan membentur cahaya hitam tersebut . . . .
. “Trang!” golok dan pedang terpental kembali.
Untung Pang Goan tidak menggunakan segenap tenaganya dalam serangan tersebut,
ia tergetar mundur dua langkah dengan sempoyongan, tangannya terasa panas dan
sakit, hampir saja senjatanya terlepas dari genggaman.
Kakek itu sama sekali tidak menghentikan gerak tubuhnya, sekali berjumpalitan ia
sudah melayang ke atas tebing dan lenyap dibalik batu itu.
“Toako terluka tidak?” tanya Leng-hong cepat.

Pang Goan menggeleng kepala dengan wajah terkejut katanya, “Betapa sempurnanya
tenaga dalam kakek itu, hidup sampai setua ini baru sekali ini aku benar-benar
menjumpai seorang jago tangguh.”
“Sudah Toako tahu asal-usulnya?”
Kembali Pang Goan menggeleng, “Tidak berhasil kuketahui, tenaga dalam orang ini
jauh di atasku, belum pernah kudengar dalam dunia persilatan terdapat seorang jago
setangguh ini.”
Padahal Pang Goan adalah seorang tinggi hati dan tak pernah tunduk kepada orang
lain, tapi sekarang ia mengucapkan kata-kata semacam itu, dapat diketahui bahwa
perasaannya betul-betul tergetar keras.
“Untung ia menyebut dirinya sebagai orang di luar garis, jadi tidak bermusuhan
dengan kita, kalau tidak, sungguh seorang musuh tangguh.”
Hui Beng-cu yang membungkam terus sejak tadi tiba-tiba berkata sambil tertawa,
“Menurut pendapatku, usianya sudah terlalu lanjut, senjatanya juga kelewat berat,
andaikata benar-benar terjadi pertarungan, belum tentu dia bisa menandingi kelihayan
Pang-toako.”
“Kau tak perlu bantu menutupi maluku,” kata Pang Goan sambil tertawa getir, “di
atas langit masih ada langit, di atas manusia pintar masih ada yang lebih pintar, dunia
persilatan penuh dengan orang kosen yang tak terhitung banyaknya, tenaga dalam tak
dapat menandingi bukanlah sesuatu yang memalukan, tak berani mengaku kalah
barulah suatu kejadian yang memalukan.”
Merah wajah Hui Beng-cu karena jengah, katanya sambil tertawa, “Maksudku jurus
pedang Pang-toako belum tentu kalah dengannya, misalnya saja kalau ia tidak cepatcepat
pergi, bila Pang-toako telah mengembangkan ilmu To-kiam-hap-ping-tin, siapa
yang bakal menang atau kalah masih sukar diramalkan.”
“Sekarang tak usah membicarakan soal semacam itu,” kata Leng-hong, “yang mesti
kita rundingkan sekarang adalah apakah kita harus mengikuti anjurannya atau tidak?”
Pang Goan berkerut kening, untuk sesaat ia tak berkata apa-apa.
“Aku pikir anjurannya tak perlu digubris,” kata Beng-cu, “bahkan siapakah dia saja
tidak kita ketahui, dengan dasar apa kita harus menuruti perkataannya?”
“Tapi, apa yang dikatakannya ada benarnya juga, andaikata hal ini benar-benar
merupakan rencana busuk Ci-moay-hwe, mau-tak-mau kita harus waspada dan
mencegahnya.”
“Bagaimanapun besok kita akan tiba di tempat tujuan, sampai waktunya bukankah
semua persoalan akan tersingkap dengan sendirinya? Jangan lantaran Cuma sepatah
katanya lantas melepaskan semua usaha kita yang telah kita capai dengan susahpayah.”

Leng-hong berpikir sejenak, kemudian berpaling, “Bagaimana pendapatmu,
Lotoako?”
Pang Goan menarik napas panjang, “Kukira ucapan kakek itu tak mungkin tanpa
alasan, mungkin saja ia bermaksud baik, Cuma kita tak boleh melepaskan usaha kita
sampai setengah jalan saja ....”
“Benar!” Beng-cu menyambung, “asal kita lebih berhati-hati, sekalipun di depan sana
ada marabahaya juga tak perlu takut.”
Pang Goan tidak menanggapinya, katanya, “Menurut perkataan orang tua itu,
kemungkinan besar lembah tersebut adalah Mi-kok seperti apa yang tersiar dalam
dunia persilatan selama ini, andaikata betul, sekalipun harus menyerempet bahaya
tetap akan kita datangi tempat itu, sedang mengenai keempat sosok mayat ini, kupikir
memang ada baiknya dibakar saja seperti usulnya tadi.”
Tiba-tiba Leng-hong tertawa, katanya, “Siaute telah mendapatkan suatu akal bagus,
entah Toako menyetujui atau tidak?”
“Coba katakan.”
“Kukira ucapan kakek itu dapat dipercaya, cuma keterangannya tidak terperinci
sehingga bikin orang bingung, bagaimana kalau kita lakukan percobaan?”
“Percobaan bagaimana?”
“Ia sarankan agar mayat ini dibakar, dikatakan pula keempat sosok mayat dan
lencana kayu ini merupakan sebagian dari siasat Cioh-to-sat-jin (pinjam golok
membunuh orang) dari Ci-moay-hwe, aku rasa dibalik ucapan tersebut tentu ada
sebab-sebabnya, maka menurut pendapatku untuk sementara waktu kita jangan
melanjutkan perjalanan dulu, mayat-mayat inipun tak usah kita bakar, biarkan saja
mayat dan lencana kayu berada di tempat semula, kemudian kita sembunyi dan
menunggu satu hari, coba kita lihat peristiwa apa yang akan terjadi?”
“Bagus sekali!” sorak Beng-cu, “aku sangat setuju dengan percobaan ini, toh
terlambat satu-dua hari juga tidak apa-apa.”
Pang Goan termenung sejenak sebelum menjawab, “Mungkin juga bencana yang
dimaksudkan tak akan terjadi di sini, kalau begitu, bukankah kita akan menunggu
dengan sia-sia di sini?”
“Meski demikian, hal tersebut sama sekali tidak mempengaruhi rencana kita semula,
selewatnya besok kita masih bisa membakar mayat-mayat ini dan melanjutkan
perjalanan, apa artinya tertunda sehari?”
“Baiklah,” kata Pang Goan kemudian sambil mengangguk, “kita coba saja kalau
begitu.”
“Aku akan coba mencari apakah di sekitar sini ada tempat persembunyian yang
baik?” kata Beng-cu cepat.

“Tak usah dicari lagi, bukanlah di atas sana merupakan tempat persembunyian yang
baik?” kata Leng-hong sambil menuding tonjolan tebing sebelah atas.
Tiga orang itu segera melompat ke puncak tebing itu, betul juga, mereka temukan
sebuah gua di sana, mulut gua ciut, dan pendek, tapi perut gua itu lebar dan dalam
sekali, pada ujung lain terdapat jalan tembus dan melingkar sampai sejauh puluhan
tombak lebih.
Gua itu benar-benar aman dan rahasia letaknya, tak aneh kakek yang menyebut
dirinya, “orang luar garis” itu begitu mencapai puncak tebing ini lantas lenyap.
Hui Beng-cu membawa juga perempuan Ainu itu ke atas tebing dan meletakkannya
di dalam gua, sementara api unggun dan mayat dibiarkan tetap berada di tempat
semula.
Setelah segala sesuatunya selesai diatur, ketiga orang itu lantas bertiarap di depan gua
sambil menantikan perubahan selanjutnya.
Malam itu lewat dengan aman tenteram, tiada peristiwa apapun yang terjadi. Tak
lama setelah fajar menyingsing, ketiga orang itu mulai merasa letih.
“Secara bergilir kita mesti beristirahat dulu,” kata Pang Goan, “kita harus simpan
tenaga, sebab kita akan menunggu sehari semalam lagi.”
Hui Beng-cu tampak menguap, katanya sambil tertawa, “Aku memang merasa lelah,
baiklah aku tidur sebentar lebih dulu, bila ada apa-apa panggillah aku!”
“Mumpung sekarang hari baru terang, bebaskan dulu jalan darah perempuan asing itu
agar membuang hajat di belakang gua sana, sebab jalan darah yang terlalu lama
ditutuk bisa mengakibatkan beku peredaran darahnya.”
Beng-cu mengiakan dan berbangkit, tapi tiba-tiba matanya terbelalak lebar, sambil
menuding ke bawah tebing sana katanya, “Coba lihat, mayat itu....”
“Mengapa dengan mayat-mayat itu?” tanpa terasa Pang Goan dan Leng-hong tanya
bersama.
Waktu itu api unggun telah padam, tapi keempat sosok mayat itu masih tergeletak di
tepi api unggun, sama sekali tiada suatu yang aneh.
Dengan suara kaget Hui Beng-cu berkata lebih jauh, “Ke . . . . ke mana larinya
lencana kayu pada mayat itu? Ke . . . kenapa bisa lenyap semua . . .”
Pang Goan dan Leng-hong cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke bawah, segera
merekapun terperanjat.
Betul juga, keempat buah lencana kayu di tubuh mayat itu betul-betul telah lenyap

tak berbekas.
“Lotoako, lindungi aku dari atas, bias aku turun ke bawah untuk melakukan
pemeriksaan!” kata Leng-hong dengan suara tertahan.
“Jangan sembarangan bergerak,” cegah Pang Goan cemas, “kejadian ini sangat
mencurigakan, mungkin sekali inilah yang dimaksudkan si kakek sebagai rencana
busuk itu!”
“Semalam jelas benda-benda itu masih ada,” kata Beng-cu, “semalam suntuk kitapun
tak pernah memejamkan mata, mengapa lencana-lencana kayu itu bisa lenyap dengan
sendirinya?”
Kenyataannya memang demikian, semalam suntuk mereka bertiga mengawasi terus
sekitar tempat itu, “tiada embusan angin rumput tentu tak kan bergoyang”, kenapa
keempat buah lencana kayu itu bisa lenyap secara tiba-tiba?”
Untuk sesaat mereka bertiga hanya saling pandang dengan tercengang.
“Masa ada setan di sini?” gumam Hui Beng-cu, “kalian turun saja ke bawah
melakukan pemeriksaan, aku akan melindungi kalian dari sini.”
Tentu saja Ho Leng-hong dan Pang Goan tidak percaya setan, namun merekapun tak
bisa memecahkan teka-teki di sekitar lenyaplah keempat lencana kayu itu, saking
ingin tahunya, serentak mereka melayang turun ke bawah.
Setelah mendekati tumpukan api unggun itu, Pang Goan berdua jadi tertegun.
Empat sosok mayat itu masih tetap seperti semula, cuma lencana kayu dan tali temali
yang meringkus tubuh telah lenyap tak berbekas, di bawah bekas tali dan lencana
kayu itu ditemukan bubuk kayu yang amat tipis, abu itu sedang menyebar ke manamana
terembus angin.
Ini menunjukkan bahwa lencana kayu itu bukan terbuat dari kayu, tali juga bukan
buatan bahan rami melainkan terbuat dari sejenis bahan khusus yang secara otomatis
akan lenyap dengan sendirinya setelah diembus angin semalam suntuk.
Tapi terbuat dari bahan apakah itu? Siapapun tak tahu.
Mengapa diatur siasat seperti ini. Sungguh memusingkan kepala orang.
Tapi lenyapnya tali dan lencana kayu itu memang fakta.
Tiba-tiba Ho Leng-hong mendesis, “Ah, mengertilah aku sekarang . . .”
“Kau mengerti apa?”
“Tak heran itu melarang kita mengubur jenazah ini, rupanya inilah siasat Cioh-to-satjin
dari Ci-moay-hwe.”

“Siasat pinjam golok membunuh orang bagaimana maksudmu?”
“Bayangkan saja, andaikata pihak penghuni lembah sedang mengadakan pencarian
terhadap keempat orang ini, dan semalam kita mengubur jenazah mereka, bila hal ini
sampai diketahui mereka, bagaimanakah penjelasan kita terhadap peristiwa itu?”
“Orang-orang itu bukan mati di tangan kita, tentu saja kita menceritakan hal yang
sesungguhnya.”
“Dengan demikian, pihak lawat pasti akan menggali kubur untuk memeriksa mayatmayat
tersebut, dengan bukti di depan mata, maka keterangan kita yang jujur akan
berubah menjadi kata-kata bohong, siapa yang percaya orang-orang ini bukan mati di
tangan kita?”
Pang Goan menarik napas dingin, gumamnya, “Benar juga, tatkala mana kita benarbenar
tak akan mampu menyangkal, sungguh siasat mereka ini . . . .”
Belum habis ia berkata, tiba-tiba dari atas tebing terdengar jeritan kaget, “Pangtoako,
Nyo-toako, lekas kemari!”
Serentak Pang Goan dan Ho Leng-hong melompat ke atas tebing, tapi Hui Beng-cu
yang berada di dalam gua kini tidak nampak lagi.
“Celaka, perempuan asing itu berhasil kabur,” seru Leng-hong dengan gemas.
Buru-buru mereka mengejar ke dalam gua, ketika menyusul sampai di ujung gua sana
mereka melihat Hui Beng-cu sedang berdiri termangu di depan gua sambil memegang
golok yang memancarkan sinar kemilau.
“Di mana orangnya?” bentak Leng-hong.
“Aku . . . aku tidak tahu . . . .”
“Orang itu kan berada dalam gua, mengapa kau tidak tahu?”
“Aku betul-betul tidak tahu,” jawab Beng-cu dengan wajah merah padam, “ketika
aku berdiri di atas tebing sambil mengawasi sekeliling tempat ini, kudengar di dalam
gua seperti ada langkah manusia, waktu aku memburu kemari, perempuan asing itu
sudah lenyap, tapi di sini aku menemukan sebilah golok.”
Pang Goan menerima golok itu, mendadak dengan air muka berubah teriaknya
tertahan, “Hah, golok mestika Yan-ci-po-to?!”
Tak salah lagi, sarung golok terbuat dari kulit ular, gagang pelindung terbuat dari
emas dan empat huruf mutiara tertata pada gagangnya, memang itulah golok mestika
Yan-ci-po-to.
Golok tersebut lenyap tercuri sewaktu berada di Thian-po-hu, tapi kini di temukan
kembali di luar gua di atas bukit yang jauh dari keramaian manusia.

Jelas orang-orang Ci-moay-hwe yang telah menyelamatkan perempuan Ainu tadi
serta meninggalkan Yan-ci-po-to di sini.
Kejadian ini membuat Pang Goan menjadi bingung dan tak habis mengerti.
Ditatapnya Ho Leng-hong, tanyanya, “Sesungguhnya apa yang telah terjadi?”
Dengan serius jawab Ho Leng-hong sepatah demi sepatah, “Inilah senjata yang
mendatangkan bencana.”
“Apakah Thian Pek-tat berempat mati dibunuh dengan Yan-ci-po-to?” tanya Pang
Goan terkejut.
“Benar. Sekarang persoalannya sudah jelas. Rupanya Thian Pek-tat ada hubungan
dengan orang-orang dari lembah maut itu, setelah berhasil memperoleh Yan-ci-po-to
di Thian-po-hu, bersama tiga orang lainnya mereka mengantar senjata ini ke Tay-pasan,
siapa tahu mereka dicegat oleh orang-orang Ci-moay-hwe, bukan saja golok
dirampas, Thian Pek-tat berempatpun dibunuh, kemudian golok mestika dan mayatmayat
mereka digunakan sebagai alat untuk melimpahkan bencana buat orang
lain.....”
Pang Goan segera paham, dengan gelisah katanya, “Kalau begitu kita harus segera
tinggalkan tempat ini!”
“Terlambat,” kata Leng-hong sambil menggeleng, sorot matanya beralih keluar gua.
Ketika Pang Goan mengikuti arah pandangannya, seketika hatinya ikut tercekat.
Entah sejak kapan, di luar gua telah muncul tiga orang perempuan dengan golok
terhunus.
Ketiga orang perempuan itu semuanya mengenakan baju merah dengan golok
panjang yang berbentuk sama, air muka mereka amat dingin, tanpa emosi.
Di antara ketiga orang itu, ada seorang yang berusia paling tua, yaitu sekitar tiga
puluh tahunan, pada tepi gaun merahnya kelihatan sulaman benang biru.
Dua orang yang lain berusia tujuh-delapan belas tahunan, pada tepi gaun mereka
bersulamkan benang hitam.
Dari warna pakaian dan dandanan ketiga orang itu, tiba-tiba Pang Goan teringat
kembali pada cerita mengenai lembah “Mi-kok” dan “Ang-ih Hui-nio”, tanpa terasa
hatinya bergolak keras . . . .
“Lotoako, setelah tertipu, kita harus menghadapi segala persoalan dengan tenang,”
kata Leng-hong setengah berbisik, “lebih baik kita selidiki dulu apakah mereka benarbenar
orang Mi-kok atau bukan.”
“Jangan kuatir, aku tahu,” jawab Pang Goan dengan tertawa.

Sementara berdua sedang bercakap-cakap, mendadak dari belakang gua terdengar
lagi suara orang, tahu-tahu dua orang gadis berbaju merah yang bergolok muncul di
belakang mereka.
Dengan cepat Beng-cu lolos golok lengkungnya lalu bertanya, “Kita sudah
terkepung, apa daya sekarang?”
Pang Goan memandang sekejap ke muka dan ke belakang, lalu hiburnya, “Jangan
takut, tampaknya perempuan baju merah bersulam benang biru itu adalah komandan
mereka, mari kita turun untuk berbicara dengannya.”
Ketika mereka bertiga melompat ke bawah, dua gadis bergaun merah dengan
sulaman benang hitam yang ada di luar gua itu serentak mengangkat goloknya,
sedang dua orang yang berada dalam gua juga melolos senjata sambil ikut melompat
ke bawah, dengan cepat mereka membentuk posisi mengepung terhadap ketiga
lawannya.
Hanya perempuan setengah umur bersulam benang biru yang tetap tak bergerak,
ditatapnya ketiga orang itu dengan sorot mata dingin, kemudian bertanya, “Siapakah
kalian? Datang darimana? Dan mau ke mana?”
Sambil tertawa Pang Goan segera memberi hormat, “Enso, bolehkah aku bertanya
lebih dulu, apakah kalian adalah murid Ang-ih Hui-nio?”
“Kalian juga tahu tentang Ang-ih Hui-nio?” seru nyonya muda itu dengan air muka
berubah.
“Dulu kami cuma mendengar ceritanya saja dan tidak tahu benarkah lembah Mi-kok
itu ada atau tidak, tapi setelah melihat keadaan sekarang ini, kami baru percaya bahwa
cerita tersebut memang benar.”
Nyonya muda itu mengerdip mata beberapa kali, tiba-tiba memberi tanda sambil
memerintahkan, “Gusur mereka pulang!”
Keempat anak dara tadi segera mengiakan, serentak mereka maju mengepung.
“Tunggu sebentar!” seru Pang Goan, “antara kami dengan kalian hakikatnya ‘air
sungai tidak menggenangi air sumur’, bertemu pun baru pertama kali, dengan alasan
apa kalian hendak membawa kami pergi?”
“Tak usah banyak bicara,” bentak nyonya muda itu, “katakan saja, kalian mau
lepaskan senjata dan ikut kami pergi ataukah hendak menunggu kami bertindak
dengan kekerasan?”
“Wah, kalau begitu, tak mau pergi pun tak bisa?” kata Pang Goan sambil tertawa.
“Boleh saja, kecuali kalian bisa menangkan permainan golokku ini.”
“Sudah lama kudengar kehebatan ilmu golok aliran Mi-kok,” kata Pang Goan sambil

tertawa, “betapa senangku jika diberi kesempatan untuk mencobanya!”
Nyonya muda itu maju dua langkah sambil meraba gagang goloknya, “Silakan turun
tangan!”
Tiba-tiba Ho Leng-hong maju ke depan dan mengadang di hadapannya, lalu berbisik
lirih, “Lotoako, biarlah Siaute coba dulu kelihayannya.”
Pedang di tangan kirinya disimpan kembali, kemudian golok Yan-ci-po-to pelahan
diangkat ke udara.
Rupanya nyonya muda itu cukup mengetahui nilai barang, dengan dahi berkerut
katanya, “Apa kedudukanmu di Thian-po-hu di kota Kiu-ki-shia?”
“Nama tidak terlalu penting, silakan nona memberi petunjuk!” sahut Leng-hong.
“Baik!” kata nyonya muda itu sambil tertawa dingin, “Kalau kau memang tak tahu
diri, akan kusuruh kau rasakan betapa lihaynya Ang-sui-to-hoat (rahasia golok baju
merah).”
Segera dia lolos golok panjang dari sarungnya.
“Mengapa nona tidak turun tangan lebih dulu?” tanya Leng-hong.
“Antara tamu dan tuan rumah ada bedanya, kupersilakan kau turun tangan dulu!”
Meskipun Leng-hong tahu ilmu golok dari lembah Mi-kok justru merupakan
tandingan dari Nyo-keh-sin-to, namun sambil tersenyum katanya pula, “Tamu yang
sopan harus menghormati tuan rumah, lagipula golokku ini adalah golok mestika,
hendaklah nona tak usah sungkan-sungkan lagi!”
“Hmm, kau anggap dengan golok mestika lantas bisa menarik keuntungan? Kalau
demikian anggapanmu, maka perhitunganmu itu keliru besar. Sambutlah seranganku
ini.”
Begitu golok dilolos, cahaya tajam segera berkilauan dan mata golok lantas
menyambar tiba.
Sungguh cepat tak terlukiskan gerakan melolos goloknya, bahkan Pang Goan dan
Hui Beng-cu yang memperhatikan dengan saksama pun tak sempat mengikuti
bagaimana caranya perempuan itu menggerakkan tubuhnya.
Lebih-lebih Ho Leng-hong, ia Cuma merasakan pandangannya kabur, buru-buru ia
mundur dua langkah, kemudian goloknya diputar dan menciptakan selapis cahaya
tajam untuk melindungi badan.
Sewaktu mulai menyerang saja gerakan nyonya muda itu amat cepat, ketika berganti
jurus pun jauh lebih cepat lagi, dari gerak membacok golok panjang itu berubah
menjadi gerakan menabas.

Sambil putar senjata untuk melindungi badan Ho Leng-hong main mundur terus ke
belakang, ia merasa golok panjang nyonya muda berbaju merah itu seakan-akan telah
menempel dengan golok mestika Yan-ci-po-to, bukan saja sukar dibendung, dihindari
pun sulit.
Terpaksa ia putar golok dengan kencang sambil mundur terus, hakikatnya tiada
kesempatan baginya untuk berganti jurus serangan.
Dalam keadaan demikian, asal ia menghentikan gerakannya, maka setiap saat golok
panjang si nyonya berbaju merah itu akan menembus sinar senjatanya dan
melukainya.
Gerakan Ho Leng-hong rada gugup dan kacau, dalam waktu singkat ia sudah
terdesak mundur dua lingkaran, sementara nyonya berbaju merah itu masih terus
menyerang dengan gencar.
Melihat gelagat yang tidak menguntungkan itu, Pang Goan segera membentak,
“Tahan!”
Bersama dengan suara bentakan itu, Hui Beng-cu melolos senjatanya untuk
menyerang nyonya merah itu dari belakang.
Bayangan manusia berkelebat diikuti bunyi bentakan nyaring, di tengah gulungan
cahaya golok, sesosok bayangan merah melompat ke udara dan berjumpalitan
beberapa kali, kemudian melayang turun di belakang sana.
Dengan melompat perginya nyonya berbaju merah itu, secara mengherankan Ho
Leng-hong dan Hui Beng-cu saling bertumbukan sendiri, tanpa terasa mereka saling
bacok membacok sebanyak tiga empat gebrakan sebelum mengetahui bahwa lawan
adalah orang sendiri, cepat-cepat mereka tarik kembali serangannya sambil melompat
mundur.
Kemudian kedua orang itu saling pandang dengan tertegun.
Nyonya muda berbaju merah itu tertawa sombong, lalu katanya, “Jika kalian bertiga
mau maju bersama, akupun tidak menolok, tapi lebih baik katakan terus terang,
jangan gunakan siasat ‘suara di timur menyerang dari barat’, yang seorang bicara
tiada hentinya, sedang yang lain menyergap dengan cara yang rendah dan keji.”
“Sekalipun harus bertarung satu lawan satu juga aku tidak takut,” kata Hui Beng-cu
dengan marah.
“Benarkah demikian? Bagaimana kalau dicoba?”
“Coba juga boleh, memangnya aku takut?”
Dengan geramnya Beng-cu memutar golok lengkungnya, langsung menerjang
perempuan berbaju merah itu.
“Tunggu sebentar!” cegah Pang Goan sambil merentangkan tangannya.

Dengan napas terengah-engah kata Hui Beng-cu, “Pang-toako, perempuan ini terlalu
sombong, biar kuberi pelajaran kepadanya.”
“Memberi pelajaran kepada kaum wanita adalah urusan kami orang lelaki, mundurlah
dulu, lihat saja kehebatan Pang-toakomu.”
“Manusia yang tahu diri,” teriak perempuan berbaju merah itu dengan gusar, “kalau
kau berani sembarangan bicara, hati-hati kalau nyonya besar potong lidahmu.”
“Marilah,” kata Pang Goan sambil tertawa, “lidah itu berada di mulutku, yang
dikuatirkan justru kau tak punya kemampuan untuk berbuat begitu.”
Perempuan berbaju merah itu mendengus, sambil mengerahkan goloknya ia segera
menerjang ke depan.
Tujuan Pang Goan memang ingin memancing marahnya, sebelum terjangan orang
tiba, dengan cepat ia menyongsong, golok di tangan kiri dan pedang di tangan kanan
melancarkan serangan sekaligus.
Begitu bertemu, kedua belah pihak saling menyerang dengan cepat, tampaklah
cahaya golok berkilauan, bayangan pedang saling menyambar ke sana kemari, dalam
waktu singkat telah berlangsung lima-enam gebrakan.
Kelima-enam jurus serangan itu seluruhnya merupakan serangan mematikan.
Tapi anehnya, sekalipun cahaya golok dan bayangan pedang menyelimuti udara,
tidak terdengar sama sekali suara bentrokan senjata, juga tidak kelihatan ada yang
terluka.
Ternyata setiap jurus serangan yang mereka lancarkan, semuanya merupakan
ancaman yang harus dihindari, siapapun tak ingin adu jiwa, maka begitu merasa
terancam bahaya, cepat mereka tarik serangan di tengah jalan untuk melindungi diri
sendiri.
Oleh sebab itulah, meskipun kedua orang itu melancarkan serangan dengan gerakan
cepat, jurus serangan mereka tak berani digunakan sampai tuntas, semua serangan
golok dan pedang begitu dilancarkan segera ditarik kembali, jadi tak sejurus pun
terjadi keras melawan keras.
Atau dengan perkataan lain, kedua orang itu mempunyai pikiran yang sama, yakni
sama-sama berharap bisa menggetar hati lawan dengan tenaga serangan, dengan
menggunakan titik kelemahan musuh untuk mematahkan ancamannya, menghindari
adu kekerasan yang tak berguna.
Akhirnya, siapapun tidak berhasil memperoleh keuntungan apa-apa.
Pang Goan menggunakan pedang sebagai senjata utama dan golok sebagai pembantu,
yang dikembangkan adalah To-kiam-hap-ping-tin yang maha dahsyat itu, namun
lima-enam jurus kemudian ternyata belum sanggup juga mematahkan serangan

nyonya berbaju merah itu, terpaksa ia tarik serangannya dan melompat mundur.
Rupanya perempuan berbaju merah itupun menyadari bertemu dengan musuh
tangguh, cepat ia menarik kembali serangannya dan tak berani mendesak lebih jauh.
Kedua orang itu saling bertatap sekian lama, sejenak kemudian Pang Goan baru
menarik napas panjang, lalu menyimpan kembali golok dan pedangnya.
Perempuan berbaju merah itupun ikut simpan goloknya ke dalam sarung.
“Ilmu golokmu terhitung sangat hebat juga, tapi sayang tenaga dalammu kurang
sempurna, andaikata kita harus bertarung dengan tenaga sejati maka akhirnya yang
rugi tetap kau,” kata Pang Goan.
Nyonya berbaju merah itu tidak menyangkal, katanya sambil tertawa, “Kau
sendiripun tak akan mendapat hasil apa-apa, paling banter kita sama-sama menderita
kerugian.”
“Apa kedudukanmu di dalam lembah?”
“Perguruan kami membagi tingkatan dalam sulaman benang emas, perak, biru, putih,
dan hitam, aku tak lebih Cuma seorang peronda gunung berbenang biru dari tingkatan
tiga, sekalipun tenaga dalammu lebih hebat daripadaku juga bukan suatu yang luar
biasa.”
Pang Goan tarik napas panjang, sambil tertawa getir ia berpaling ke arah Ho Lenghong
sembari berkata, “Tampaknya, urusan ini sudah pasti kita ikut terseret.”
“Asal kita tak bersalah, ke manapun kita berani menghadap.”
“Tapi, Pang-toako . . . .” bisik Beng-cu.
Pang Goan memberi tanda dan tidak membiarkan gadis itu berkata lebih jauh, kepada
perempuan berbaju merah itu ia berkata, “Bawalah kami! Akan kami temui majikan
lembah kalian.”
Ternyata sikap perempuan itupun menjadi lebih sungkan, katanya seraya menjura,
“Silakan!”
Keempat orang gadis lainnya ikut menarik kembali senjatanya, kemudian dua di
kanan dan dua di kiri, seperti menggusur tawanan, mereka membawa Pang Goan
bertiga meninggalkan mulut gua.
Sesudah mengitari tonjolan batu padas di depan sana, Pang Goan baru tahu bahwa
pilihannya memang tepat.
Di tepi api unggun di bawah tebing sana telah muncul kembali seorang petugas
peronda gunung “bersulam benang biru” dengan diiringi empat gadis bersulam hitam,
mereka sudah meletakkan mayat Thian Pek-tat berempat di atas usungan yang terbuat
dari kayu dan sedang menunggu di sana.

------------------------------
Mi-kok, nama yang misterius dan menggetarkan sukma.
Tentu orang akan membayangkan lembah tersebut sebagai suatu tempat yang rahasia
sekali letaknya dengan sekelilingnya diliputi oleh tebing tinggi menyulang ke
angkasa, burung dan monyet sulit melewatinya dan sepanjang tahun diliputi kabut
yang tebal, atau mungkin jalan masuknya merupakan sebuah terowongan gua, atau
jalan setapak yang penuh kemisteriusan . . . .
Bila bayangannya demikian, maka kelirulah semua itu.
Benar memang, tempat itu merupakan sebuah yang dikelilingi oleh tebing tinggi,
namun bukan tempat yang curam berbahaya atau sepanjang tahun dikelilingi kabut
tebal.
Lembah tersebut merupakan sebuah lembah yang indah dan hangat, sama sekali tidak
nampak misterius, di belakang lembah terdapat jurang, di mulut lembah ada jalan dan
di tengah lembah terdapat tanah datar yang luar, di situ ada rerumputan, ada sawah,
ada bebuahan dan kerbau serta ternak unggas lainnya.
Anggota lembah tersebut terdiri dari lelaki dan perempuan, yang lelaki hidup bertani
dan yang perempuan menenun, mereka melewatkan penghidupan yang sederhana tapi
bahagia, suatu kehidupan surga yang penuh dengan kedamaian . . . . terkecuali
bangunan megah, kompleks perumahan yang berada dalam hutan bebuahan sana.
Anggota perkampungan itu semuanya perempuan yang bergolok panjang dan
mengenakan baju serba merah.
Sekalipun mereka termasuk juga sebagian dari anggota lembah, namun pekerjaan
mereka tidak bertani atau bertenun, kehidupan mereka jauh berbeda dengan orangorang
lainnya.
Perempuan dalam perkampungan itu merupakan pilihan dari anggota penduduk
lembah, mereka harus cerdik dan berbakat bagus, semenjak kecil sudah masuk
perkampungan dan belajar silat, setelah dewasa bertugas melindungi keselamatan
penduduk sesuai dengan tingkat tenaga dalam yang dimiliki, mereka tergabung dalam
pasukan Ang-ih-bok-lan-tui (pasukan Bok-lan berbaju merah)
Perkampungan itu sendiri bernama perkampungan Bok-lan-ceng.
Cengcu (kepala kampung) dari marga Ui dan sudah turun temurun menjadi Kokcu
(kepala lembah) dalam lembah tersebut, hingga kini entah sudah keturunan yang
keberapa?
--------------------------------
Dikawal oleh dua orang peronda gunung dan delapan anak dara berbaju merah,
dengan lancar Pang Goan bertiga memasuki lembah itu dan tiba di depan pintu

perkampungan.
Di luar lembah tidak terlihat penjagaan yang ketat, setelah masuk ke dalam lembah
juga tidak ada pemeriksaan atau pengadangan, ketika rakyat dalam lembah itu
berjumpa dengan mereka, kecuali tersenyum sambil menganggukkan kepala, sama
sekali tidak menunjukkan sikap permusuhan.
Inikah lembah Mi-kok yang diberitakan sebagai tempat yang misterius dan penuh
rahasia?
Di sinikah tempat pengasingan Ang-ih Hui-nio yang lihay itu?
Di sinikah tempat kubur dari tujuh bersaudara Nyo dari Thian-po-hu?
Tidak! Tak akan ada yang percaya, sekalipun mereka dibunuh orang juga tak ada
yang percaya.
Tapi perempuan-perempuan itu semuanya berbaju merah, ilmu golok mereka pun
sangat lihay, hal ini adalah kenyataan, seandainya mereka bukan keturunan dari Angih
Hui-nio mana mungkin mereka dapat mendidik sekian banyak murid yang berilmu
tinggi.
Sepanjang perjalanan, kernyitan alis Pang Goan tak pernah mengendur, berbeda
dengan Ho Leng-hong, wajahnya selalu kaku tanpa emosi.
Dalam hati kecil mereka sama-sama diliputi teka-teki yang mendebarkan hati dan
ingin tahu.
Hui Beng-cu sendiri dengan perasaan waswas tiada hentinya menengok ke sana
kemari, seakan-akan tertarik dan senang dengan keadaan yang asing baginya ini.
Dua orang gadis baju merah yang bergolok berdiri menanti di depan pintu
perkampungan, gaun mereka bersulamkan benang putih.
Ketika mereka melihat mayat yang berada di atas usungan, wajah mereka
menunjukkan perasaan kaget.
Salah seorang di antaranya segera maju menyongsong sambil bertanya dengan suara
lirih, “Apa yang telah terjadi? Apakah mereka berempat terbunuh semua?”
Nyonya muda berusia tiga puluhan itu manggut-manggut, lalu balik bertanya,
“Kokcu berada di mana?”
“Barusan beliau menanyakan kabar kalian, mungkin masih berada dalam taman
bunga sebelah timur, akan kulaporkan untuk kalian.”
“Tidak usah, aku dan Lim Ci akan melaporkan sendiri kepada Kokcu, kalian jaga
baik-baik ketiga orang ini.”
Berbicara sampai di sini, dia bersama peronda gunung lainnya masuk ke dalam

kampung.
Seperginya kedua orang itu, gadis penjaga pintu itu mengamati sekejap Pang Goan
bertiga, lalu dengan keheranan ia bertanya, “Apakah kalian bertiga pembunuhnya?”
“Mungkin!” jawab Pang Goan sambil mengangkat bahu.
“Kenapa kau katakan mungkin?” gadis penjaga pintu itu melengak.
“Sebab kami tidak pernah membunuh orang,” jawab Pang Goan sambil tertawa,
“akan tetapi keempat orang itu mati di tempat kami bermalam, bila kami katakan
bukan pembunuhnya, kalian pasti tidak percaya, sebaliknya kalau bilang benar,
kamilah yang tidak percaya.”
Gadis penjaga pintu itu tertawa geli, “O, aku dapat memahami perkataanmu itu, jadi
tuduhan tersebut membuat kalian penasaran?”
“Mungkin!” sekali lagi Pang Goan mengangkat bahu sambil tertawa.
Dengan wajah serius gadis penjaga pintu berkata, “Tampaknya kalian memang tidak
mirip pembunuh, Cuma dengan maksud baik ingin kunasihati padamu . . . .”
“Menasihati apa?”
“Jika kalian betul-betul bukan pembunuh, janganlah sekali-kali kalian mengaku
sebagai pembunuh, sebab Kokcu kami paling benci pada mereka yang gemar
membunuh, terutama mereka yang mengandalkan kungfunya untuk menindas kaum
yang lemah serta membunuh orang, andaikata kalian betul-betul pembunuh kejam,
jangan harap jiwa kalian akan diampuni.”
“Kalau begitu, Kokcu kalian tentu berhati welas asih,” kata Pang Goan.
“Siapa bilang bukan? Kokcu kami bukan cuma welas asih saja, tabiatnya juga amat
baik, terhadap orang lain juga ramah-tamah . . . . .”
“Tapi dia tahu aturan tidak?” tiba-tiba Ho Leng-hong menukas.
“Apa maksudmu berkata begitu?” gadis penjaga pintu itu menegur dengan nada tak
senang.
“Misalnya saja, bila kedatangan kami ke bukit ini tanpa sengaja dan tidak
mengandung maksud jahat, dapatkah ia memberi kebebasan kepada kami untuk
meninggalkan tempat ini?”
“Kenapa kalian tak boleh meninggalkan tempat ini? Bila kalian tersesat di gunung
dan tiba di sini tanpa sengaja, berarti kalian adalah tamu kami, dengan segala
kehormatan kami akan melayani kalian, kemudian mengantar kalian pergi dari sini,
tentu saja kalian harus merahasiakan keadaan lembah ini kepada orang lain.”
Tanpa terasa Ho Leng-hong dan Pang Goan saling bertukar pandang sekejap dengan

penuh tanda tanya, sedang dalam hati timbul pula pertanyaan yang sama: “Kalau
begitu, kenapa ketujuh Nyo bersaudara tak pernah muncul kembali setelah berangkat
kemari?”
Ternyata gadis penjaga pintu itu cukup cerdik, melihat kedua tamunya masih belum
percaya, ia berkata lagi, “Kami tak ingin orang luar mengetahui keadaan di sini,
inipun karena terpaksa, sebab tempat kami hanya sebesar ini, tak mungkin muat
terlalu banyak orang, selain itu kamipun kuatir bila ada orang persilatan berniat buruk
ingin mencuri belajar ilmu kami sehingga menambah banyak kerepotan, peraturan ini
ditetapkan oleh leluhur kami dan bukan atas kemauan Kokcu sendiri, cuma bila kalian
sendiri tak bersedia tinggalkan tempat ini dan ingin tinggal di sini untuk selamanya,
tentu saja niat ini akan kami sambut dengan senang hati . . . .”
Ia seperti masih ingin bicara lagi, tapi nyonya berbaju merah tadi keburu datang,
nyonya itu memberi tanda kepada Pang Goan sekalian sambil berkata, “Kokcu
mengundang kalian untuk menghadap, mari ikut diriku!”
Sebelum pergi, Leng-hong tersenyum ke arah gadis penjaga pintu itu sambil berkata,
“Tolong tanya siapa nama nona?”
“Aku bernama Pui Hui-ji, anggota Bok-lan-pek-tul (barisan Bok-lan putih)!”
“Bila Kokcu tidak menyalahkan kami, mungkin aku akan memohon untuk tinggal di
sini, sampai waktunya harap nona bersedia memberi petunjuk,” kata Leng-hong
sambil tertawa.
Tanpa malu-malu gadis penjaga pintu itu menjawab dengan tertawa, “Baik, semoga
kau mempunyai rejeki itu!”
Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam pintu gerbang dan mengikut nyonya
berbaju merah tadi masuk ke dalam perkampungan.
Di tengah jalan Hui Beng-cu sengaja berjalan agak lambat, kemudian ia tanya dengan
setengah berbisik, “Nyo-toako, benarkah kau ingin tinggal di sini dan tidak kembali
ke Thian-po-hu lagi?”
Leng-hong tersenyum, “Tempat ini bagaikan surgaloka, jauh berbeda dengan gedung
Thian-po-hu, apa salahnya tinggal di sini?”
“Hm, kaum pria kalian semuanya memang tak punya perasaan, begitu bertemu
dengan gadis yang cantik, semua warisan dan jerih payah leluhur pun terlupakan sama
sekali.”
“Ah, kaum pria tak bisa disalahkan, siapa suruh kaum gadis rata-rata berwajah
cantik?” jawab Leng-hong sambil tertawa.
“Ciss!” dengan mangkel Beng-cu mempercepat langkahnya ke depan lebih dulu.
Sesudah mengitari taman bunga, di depan sana muncul sebuah serambi panjang,
setelah mengitari mereka tiba di ruang tengah sebelah timur.

Di depan ruangan berdiri empat orang gadis dengan baju merah bersulam benang
putih, pintu ruangan masih tertutup rapat.
Nyonya berbaju merah itu membawa mereka menuju ke depan ruangan, kemudian
katanya, “Kokcu hendak langsung menanyai kalian, harap semua senjata bawaan
ditinggal di luar.”
Ini selain peraturan juga merupakan sopan santun, apalagi nyonya berbaju merah itu
mengucapkannya dengan nada sungkan, membuat orang tak dapat menolak
permintaannya itu.
Pang Goan angguk kepala kepada kedua rekannya, kemudian melepaskan golok dan
pedang bawaannya, terpaksa Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu harus mengikuti
perbuatannya.
Keempat gadis itu menerima senjata mereka lalu mendorong pintu lebar-lebar.
Pang Goan melangkah masuk ke dalam, ternyata ruangan itu kosong tak nampak
seorang pun, di tengah ruangan terdapat sebuah meja panjang, di atas meja terletak
kertas, pit dan alat tulis lainnya, sementara di belakang meja tersedia empat buah
kursi yang semuanya kosong.
Sementara mereka masih tercengang, nyonya baju merah itu menyusul masuk, lalu
membunyikan sebuah alat kecil tiga kali.
“Tiga orang tertuduh telah dibawa menghadap, dipersilakan para petugas hukum naik
mimbar!” serunya.
Kain tirai di pintu samping segera terbuka dan muncul dua belas orang perempuan
baju merah dengan pinggiran warna biru, mereka masing-masing berdiri di kiri dan
kanan meja panjang, setiap orang bergolok panjang dan bersikap kereng.
“Wah, kalau dilihat caranya ini, kita seolah-olah berada dalam ruang pengadilan!”
omel Pang Goan sambil tertawa.
“Jangan sembarangan bicara!” bentak nyonya baju merah di belakangnya dengan
suara tertahan.
Menyusul kemudian dari balik pintu berjalan keluar lagi empat orang perempuan.
Keempat orang ini rata-rata sudah berusia lanjut, yang termuda pun sekitar enam
puluhan, sedang yang tua sudah delapan atau sembilan puluh tahunan, semuanya
berwajah keriput dengan rambut beruban, mukanya kurus jelek dan masing-masing
menempati empat kursi kosong itu.
Mereka juga memakai baju berwarna merah, Cuma sulaman tepi gaunnya dari
benang perak.
Pang Goan tahu bahwa kedudukan empat orang nenek ini tidak rendah, diam-diam ia

merasa geli sekali, pikirnya, “Wah, kalau melihat keadaannya seolah-olah kami telah
dituduh sebagai pembunuh yang sesungguhnya, semoga jangan diputuskan segera
penggal kepala, bisa mati penasaran.”
Pada ujung meja sebelah kiri dan kanan masing-masing berduduk seorang perempuan
berbenang biru, setelah duduk mereka lantas menyiapkan kertas dan alat tulis lainnya,
ternyata mereka bertindak sebagai “panitera”.
Di tengah keheningan, nenek berusia paling tua yang berada di dekat ujung kanan itu
segera berkata, “Atas kasih sayang Thian dan berkat leluhur, kehidupan kami di
tengah gunung yang terpencil sama sekali tidak berniat berebut rejeki dengan orang
lain, kami mengutamakan cinta damai dan hidup bahagia dengan tenang, karenanya
terhadap segala kejahatan itu, tapa ampun akan dijatuhi hukuman berat.”
Baru selesai perkataan itu, nenek di sebelah kiri telah memukul meja keras-keras
sambil membentak, “Siapa nama kalian bertiga? Datang dari mana? Mengapa
membunuh orang? Ayo mengaku satu persatu!”
Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu tetap bungkam.
Pang Goan juga tidak menghiraukan pertanyaan tersebut, dia hanya memperhatikan
pukulan si nenek pada meja panjang itu, meski suaranya nyaring namun meja itu
sendiri tidak tergetar, namun meja tersebut tahu-tahu melesak satu inci lebih ke dalam
tanah.
Tapi setelah diperhatikan lagi, ternyata bukan kaki meja yang masuk ke dalam tanah,
melainkan kaki meja itu sendiri yang tiba-tiba menyusut hingga lebih pendek.
Ini menunjukkan tenaga pukulan si nenek itu sudah mencapai tingkatan Keh-san-tagu
(dari balik gunung memukul kerbau).
Pang Goan menyadari dirinya sendiri tak mampu berbuat demikian, ini semua
membuatnya terperanjat sehingga lupa untuk menjawab pertanyaan si nenek tadi.
Nyonya berbaju merah yang berada di belakangnya segera menegur, “He, Tong-popo
lagi bertanya kepada kalian, mengapa tidak menjawab?”
“Tong-popo yang mana?” tanya Pang Goan setelah menenangkan hatinya.
“Itu dia, nomor dua dari sebelah kiri, barusan beliau menanyakan nama dan asal usul
kalian.”
Pang Goan tertawa, “Mereka berjumlah empat orang, jika semuanya mengajukan
pertanyaan, entah yang manakah harus dijawab lebih dulu, sedangkan kami bertiga,
kalau semuanya menjawab juga tentu akan bikin kalian bingung untuk
mendengarkannya, maka aku ada usul, entah kalian bersedia mengikutinya atau
tidak?”
“Coba katakan!” kata nenek she Tong itu.

“Gampang sekali, mari kalian berempat pilih seorang wakil untuk bertanya, sedang
dari pihak kami bertiga akan diwakili pula seorang untuk menjawab, bukankah hal ini
akan lebih enak?”
Mencorong sinar tajam dari mata nenek she Tong itu, ia memandang sekejap rekanrekan
di sekelilingnya, lalu berkata, “Ehm, ini memang suatu usul yang bagus.”
Keempat orang nenek lalu saling mengalah dan saling mempersilakan rekannya
sebagai wakil mereka.
Pada kesempatan itu, Pang Goan berkata kepada Ho Leng-hong, “Jit-long, kau saja
yang menjawab pertanyaan mereka, kalau perlu bersikap tegas, katakan segala
sesuatunya secara terus terang, tapi untuk sementara waktu jangan kausinggung dulu
masalah Thian-po-hu.”
“Mengapa bukan Lotoako yang tampil ke muka?” tanya Leng-hong.
“Rasanya setiap masalah dalam lembah ini bagaikan suatu teka-teki, bila kita ingin
hidup lebih lanjut, kita juga harus main sandiwara menurut gelagat, dengan begitu
baru tersedia jalan mundur jika keadaan kepepet.”
Ho Leng-hong mengangguk tanda mengerti, diam-diam ia berpikir, “Pang-toako
selalu tinggi hati dan tak mau tunduk kepada orang, sejak kapan ia belajar
menyesuaikan diri dengan keadaan?”
Sementara itu keempat orang nenek pun selesai berunding, tetap si nenek she Tong
itu sebagai juru bicaranya, ia bertanya, “Apakah kalian telah selesai berunding? Siapa
yang akan menjawab pertanyaan kami?”
“Aku!” jawab Leng-hong.
“Bagus sekali, Cuma akupun hendak memperingati satu hal padamu, setelah bersedia
menjawab pertanyaan kami, maka setiap ucapanmu harus dapat
dipertanggungjawabkan, sebab semua perkataanmu akan kami catat dan tak bisa
disesali kembali.”
“Tentu saja!” kata Leng-hong.
“Nah, sekarang laporkan dulu nama serta tempat tinggal kalian bertiga,” kata nenek
Tong sambil manggut-manggut.
Leng-hong mengakui dirinya sebagai Nyo Cu-wi dari Thian-po-hu, selain itu juga
melaporkan nama Pang Goan dan Hui Beng-cu.
Setelah mendengar nama-nama itu keempat orang nenek tersebut menunjukkan
wajah kaget, buru-buru mereka berunding dengan suara lirih.
Lewat sejenak kemudian, nenek Tong bertanya pula, “Kau mengaku sebagai Nyo Cuwi
dari Thian-po-hu, sedang mereka berdua dari Cian-sui-hu dan Hiang-in-hu,
benarkah pengakuan itu?”

“Benar!”
“Kalau begitu ingin kutanya sesungguhnya ada beberapa orang Nyo Cu-wi dari
Thian-po-hu?”
“Cuma ada seorang!”
Air muka nenek Tong berubah serius, katanya, “Kuharap kau menjawab dengan
sejujurnya, sebab barang siapa berani berbohong, dia akan mendapat ganjaran yang
setimpal.”
“Kenapa? Masa urusan Thian-po-hu kau lebih jelas daripadaku?” bantah Leng-hong,
“apakah di lembah ini terdapat juga Nyo Cu-wi yang lain?”
Air muka nenek Tong berubah pula, tapi ia tidak mendebat, ia mengalihkan
pertanyaan pada soal lain, katanya, “Atas alasan apa kalian datang ke Tay-pa-san
ini?”
Tanpa merahasiakan sedikit pun Leng-hong mengisahkan bagaimana Ci-moay-hwe
mengutus seorang Pang Wan-kun gadungan untuk mencari golok Yan-ci-po-to, lalu
bagaimana menggunakan siasat Cioh-to-sat-jin untuk memancing mereka bertiga
datang ke Tay-pa-san, dan apa yang terjadi dengan lencana kayu dan tali istimewa
untuk memfitnah mereka . . . . .
Sementara ia menuturkan pengalamannya, dua orang gadis petugas panitera mencatat
semua pengakuan itu.
Ketika pemuda itu selesai dengan penuturannya, nenek Tong bertanya pula, “Cimoay-
hwe yang barusan kau singgung itu sesungguhnya organisasi macam apa?
Siapakah pemimpinnya? Apakah kautahu?”
“Seandainya aku tahu, tak nanti bisa terkena siasat Cioh-to-sat-jin mereka. Cuma ada
satu hal yang kuyakini benar, yakni di kala Thian Pek-tat berempat terbunuh
semalam, mereka pasti berada di sekitar tempat ini, bahkan mungkin saja saat ini
masih berada di daerah pegunungan ini.”
“Tidak mungkin, siang malam petugas peronda kami melakukan patroli di sekeliling
pegunungan ini dan belum pernah kami temukan jejak mereka, selain itu, kalau benar
mereka berusaha dengan segala daya upaya untuk mendapatkan golok mestika Yanci-
po-to, setelah berhasil mendapatkannya, kenapa dikembalikan kepadamu dengan
begitu saja. Jadi ceritamu tentang melimpahkan bencana kepada orang lain itu sama
sekali tidak masuk di akal.”
“Mau percaya atau tidak adalah urusan kalian, tapi yang pasti semua perkataanku
adalah sejujurnya.”
“Kau berani diadu dengan petugas peronda kami?”
“Tentu saja berani.”

“Bagus, panggil petugas peronda bukit untuk menghadap ke depan pengadilan!”
Nyonya berbaju merah tadi mengiakan dan tampil ke muka, katanya, “Hamba
petugas peronda, komandan barisan ketujuh Bok-lan-la-tui Hoa Jin siap memberi
keterangan!”
“Hoa Jin, apakah kau adalah petugas ronda hari ini?” tanya nenek Tong.
“Benar!”
“Kaukah yang menemukan jenazah dari para korban?”
“Benar!”
“Apakah kau pula yang menangkap mereka?”
“Benar!”
“Bagus sekali, laporkan sekali lagi kejadian yang telah berlangsung.”
“Hamba sebagai petugas peronda mendapat perintah untuk menyambut . . . .”
“Secara ringkas saja,” tiba-tiba nenek Tong menukas, “laporkan saja sekitar
penemuan mayat-mayat tersebut.”
“Baik,” kata Hoa Jin, “Jejak Hui-goan Taysu berempat berhasil hamba temukan
lewat tengah malam kemarin, pagi tadi ketika kami tiba di bawah gua karang,
ditemukan keempat orang itu sudah tewas di samping api unggun, setelah dilakukan
pencarian yang saksama, akhirnya disebuah gua kami berhasil mengadang ketiga
orang pembunuh itu, mula-mula mereka melakukan perlawanan, tapi akhirnya mereka
menyerahkan diri.”
“Apakah diperiksa juga senjata yang dipergunakan lawan?”
“Menurut hasil pemeriksaan, keempat orang itu tewas oleh Yan-ci-po-to, mulut
lukanya sangat lebar, dan senjata pembunuh itu justru ditemukan berada pada orang
she Nyo ini.”
“Apakah pada jenazah juga ditemukan lencana kayu? Atau bekas tali yang dipakai
untuk membelenggu mereka?”
“Tidak!”
“Waktu itu apakah tertuduh menyangkal telah membunuh orang?”
“Tidak!”
“Apakah ditemukan orang yang mencurigakan di sekitar mereka?”

“Juga tidak.”
“Sudah mendengar? Apa lagi yang hendak kaukatakan?” kata nenek Tong kemudian
sambil menatap Ho Leng-hong dengan sorot mata tajam.
“Hal tersebut sudah kukatakan semua,” teriak Leng-hong dengan suara lantang,
“Waktu itu peronda she Hoa itu tidak menanyakan soal pembunuhan, mana kami bisa
menyangkalnya?”
Nenek Tong tertawa dingin, “Hehehe, sekalipun ia tidak menanyakan soal ini, kenapa
kalian tidak melakukan penyangkalan, padahal tahu di bawah bukit membujur empat
sosok mayat? Dan lagi senjata pembunuh merupakan bukti yang jelas, penyangkalan
kalian semakin membuktikan hati kalian amat kalut dan takut, ingin menyangkal pun
kini sudah terlambat.”
Ho Leng-hong seperti ingin mengucapkan sesuatu lagi, tapi nenek Tong lantas
berbangkit sambil berseru, “Pemeriksaan telah selesai, perhatikan baik-baik keputusan
kami!”
Serentak ketiga orang nenek yang lain bangkit berdiri, suasana dalam ruangan
berubah menjadi hening dan serius.
Nenek Tong berunding sebentar dengan ketiga orang rekannya, lalu dengan wajah
serius katanya, “Tertuduh Nyo Cu-wi, Pang Goan dan Hui Beng-cu terbukti bersalah
melakukan pembunuhan bersama yang mengakibatkan kehilangan jiwa orang lain,
kesalahan ini melanggar peraturan lembah ini, lagipula setelah bersalah tidak berobat,
bahkan berusaha mungkir, dosa ini amat besar, maka pengadilan memutuskan untuk
menjatuhkan hukuman ‘Khek-sin’ kepada mereka, untuk sementara para tertuduh
dimasukkan tahanan menanti pelaksanaan hukuman.”
Selesai berkata ia lantas mengundurkan diri.
“Apa yang disebut Khek-sin?” tanya Beng-cu.
“Artinya akan dihukum pancung di hadapan umum,” jawab Hoa Jin.
Betapa gusarnya Hui Beng-cu, teriaknya, “Hm, keterlaluan sekali! Pang-toako, mari
kita turun tangan . . . . .”
Baru saja ia berteriak, “Cring! Cring!” dua belas orang perempuan bersulam benang
biru telah melolos golok dan merubung maju.
Cahaya golok berkilauan, langsung mengancam perut dan punggung mereka bertiga,
padahal Pang Goan sekalian dalam keadaan tangan telanjang tanpa senjata apapun.
Sambil tertawa getir Ho Leng-hong segera memandang ke arah Pang Goan, lalu
katanya, “Lotoako, kali ini kita benar-benar terjebak.”
Pang Goan mendengus, “Orang she Hoa, kau bilang Kokcu kalian hendak berbicara
sendiri dengan kami, rupanya kau berbohong?”

“Kokcu harus mendengarkan dulu laporan keempat Popo sebelum memutuskan
apakah perlu menanyai kalian langsung, sebab untuk melaksanakan hukuman penggal
kepala mesti ada persetujuan lebih dulu dari Kokcu, jadi seandainya kalian bernasib
baik, mungkin saja masih ada kesempatan bertemu dengan Kokcu.”
“Umpama kami hendak titip pesan, apakah kau dapat menolong kami untuk
menyampaikan kepada Kokcu?”
“Tentu saja!”
Pang Goan menarik napas panjang, kemudian berkata, “Kalau begitu tolong
sampaikan kepada Kokcu kalian bahwa Yan-ci-po-to dan kitab pusaka Poh-in-pat-toasik
itu adalah palsu, jika ingin tahu berita tentang kitab dan golok yang asli, silakan
menanyai sendiri padaku.”
Kemudian sambil mendongakkan kepala ia menambahkan, “Di mana letaknya
penjara? Silakan membawa kami ke sana, sesudah lelah semalaman, kami ingin
beristirahat dulu dalam penjara.”
Hoa Jin memandangnya dengan melongo, rupanya ia sedang meresapi makna katakatanya
itu.
Bahkan Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu juga ingin bertanya padanya.
Akan tetapi Pang Goan tidak berkata apa-apa, sambil busungkan dada dan melangkah
dengan lebar, ia berlalu lebih dulu dari ruangan tersebut......
----------------------------
Rumah penjara terletak di kaki bukit bagian belakang perkampungan tersebut.
Dua baris rumah baru yang berderet bagaikan gua itu meski kecil dan sempit, tapi
sangat kering dan rajin, setiap ruangan terdapat meja, bangku dan pembaringan, selain
itu terdapat pula alat-alat untuk bersihkan badan serta membuang hajat, keadaannya
mirip dengan sebuah “rumah tamu”.
Ruang penjara itu bernomor, di sebelah kiri bernomor ganjil sedang di sebelah kanan
bernomor genap.
Pengurus rumah penjara adalah seorang perempuan setengah umur dari kelompok
benang biru, ia bernama Yu Ji-nio dan membawahi empat orang gadis dari barisan
Bok-lan-pek-tui.
Sikap Yu Ji-nio terhadap orang sangat ramah tamah, sedikitpun tidak mencerminkan
sikap seorang sipir penjara yang buas dan garang, atau mungkin lantaran suasana
penjara amat sepi, maka ketika mengetahui ada tiga orang “tamu terhormat” diantar
ke sana, tampaknya ia sangat senang.
Ia menjadi repot sekali masuk keluar tiada hentinya, menyiapkan air teh, menyiapkan

nasi dan sayur, pelayanannya betul-betul sangat bagus.
Pang Goan bertiga dimasukkan dalam ruang penjara di sebelah kiri, Pang Goan
menempati satu, Ho Leng-hong menempati ruang tiga dan Hui Beng-cu ruang lima.
Selesai bersantap dan mencuci muka, Yu Ji-nio secara khusus menghidangkan
secawan air teh panas untuk mereka, katanya sambil tertawa, “Kalian adalah tamu
yang datang dari jauh, berdosa atau tidak tak ada sangkut pautnya dengan diriku, aku
selalu menganggap kalian sebagai tamu-tamu kehormatan, jika butuh makanan atau
perlu sesuatu katakan saja kepadaku, Cuma janganlah melakukan perbuatan bodoh
yang bikin susah padaku, setelah berada di sini, jangan harap kalian bisa keluar lagi
dari lembah ini, sekalipun berhasil melarikan diri dari mulut lembah, tak mungkin
bisa kabur meninggalkan Tay-pa-san ini.”
“Yu Ji-nio, jangan kuatir,” jawab Pang Goan sambil tertawa, “untuk keluar kami
pasti akan keluar, tapi kami tak akan kabur dari penjara, kami masuk kemari secara
terang-terangan, pergi dari sini juga secara terang-terangan, kalau tidak, sekalipun
diantar dengan tandu besar yang digotong delapan orang, belum tentu kami sudi pergi
dengan begitu saja.”
“Bagus, bila kalian dapat pergi dari sini nanti, aku pasti akan memasang petasan
untuk mengantar keberangkatan kalian.”
“Mengantar sih tidak perlu, sekarang silakan kau keluar lebih dulu, berilah
kesempatan kepada kami untuk tidur siang sepuasnya, boleh bukan?”
“Tentu, tentu!” sambil tertawa Yu Ji-nio mengajak keempat orang gadis itu berlalu
dari situ.
Pang Goan segera menggeliat dan menguap lalu gumamnya, “Setelah bergadang
semalam suntuk, inilah kesempatan yang sangat baik untuk tidur, dengan demikian
kita ada kekuatan dan semangat untuk berunding dengan Kokcu.”
Selesai berkata, ia lantas menjatuhkan diri di pembaringan.
Ho Leng-hong yang berada di kamar sebelah tak dapat setenang itu, sambil mengetuk
dinding bisiknya, “Lotoako, jangan tidur dulu, kita harus merundingkan persoalan ini
. . . . .”
“Apa lagi yang mesti dirundingkan?” tanya Pang Goan.
“Tadi kau berkata kepada mereka bahwa golok mestika Yan-ci-po-to dan kitab
pusaka itu adalah palsu, pengakuan itu memang pengakuan yang betul ataukah cuma
bohong-bohongan saja?”
“Pada waktu perlu bohong boleh bohong, bila perlu sungguh harus sungguh. Hidup
manusia bagaikan impian, kenapa mesti begitu serius?”
Ucapan tersebut makin lama makin lirih, kemudian lantas terdengar suara dengkuran
yang keras, ternyata ia sudah tertidur pulas.

Meskipun pelbagai kecurigaan masih menghantui pikirannya, karena yang ditanya
tetap membungkam, terpaksa sambil menghela napas panjang diapun berbaring.
Pada saat pikirannya sedang kalut dan bingung itulah, tiba-tiba terdengar Hui Bengcu
yang berada di kamar sebelah memanggil dengan suara tertahan, “Nyo-toako,
cepat kemari, cepat kemari......”
“Ada apa?” tanya Leng-hong.
“Coba lebih mendekatlah denganku, akan kuberitahukan satu hal kepadamu . . . .”
bisik Beng-cu.
“Sudah, tak usah repot-repot, tiada yang perlu dibicarakan lagi, bagaimana kalau kita
beristirahat lebih dulu?”
“Tidak bisa, bagaimanapun persoalan ini harus kukatakan kepadamu sekarang juga,
kutemukan sebaris tulisan di dinding ruangan ini . . . .”
“Apa bunyi tulisan itu?” tanya Leng-hong.
“Agaknya tulisan ini ditinggalkan oleh enso ....”
“Apa kaubilang? Siapa yang meninggalkan tulisan itu?” cepat Leng-hong melompat
bangun sambil berseru.
“Kalau diperhatikan dari nada tulisannya, tampaknya seperti tulisan dari enci Wankun,
tapi jika ditinjau dari kata-katanya seperti juga bukan ....”
“Coba bacakan tulisan itu!”
Hui Beng-cu segera membaca dengan lirih, “Untuk mencuci bersih rasa malu akibat
kekalahan yang diterima, dengan mempertaruhkan jiwa raga kekasih telah masuk ke
istana Peng-kiong, keturunan Thian-po-hu berakhir sampai di sini . . . . di bawahnya
seperti masih ada tulisan, cuma sudah tidak jelas lagi, tapi yang menandatangani
tulisan ini adalah Wan-kun.”
“Wan-kun?” Ho Leng-hong menarik napas dingin, “Ternyata mereka benar-benar
telah datang ke lembah Mi-kok ini.”
“Tapi, bukankah kau masih hidup baik-baik di Thian-po-hu? kenapa dia mengatakan
bahwa ‘kekasih masuk ke istana Peng-kiong’? kenapa pula dia bilang keturunan
Thian-po-hu berakhir sampai di sini? Apa pula maksudnya mengucapkan kata-kata
tersebut?”
Ho Leng-hong tidak memberi keterangan, iapun tak dapat memberi keterangan,
terpaksa tukasnya, “Coba kauperiksa lagi dengan saksama, apakah masih ada tulisan
lagi yang ditinggalkan?”
Lewat sejenak kemudian, Hui Beng-cu berkata lagi, “Sudah tak ada lagi, hanya

tulisan ini yang terukir di dinding batu di ujung pembaringan.”
“Apakah di bawah tanda tangan itu tercantum hari dan tanggal?” kembali Ho Lenghong
bertanya.
“Tidak ada . . . Ah, tunggu sebentar . . . di sini terdapat sebuah huruf ‘Ka’ di
bawahnya ada sebuah huruf lagi, sayang cuma separuh, tapi agaknya mirip huruf
‘Gin’, sayang tulisannya tidak lengkap.”
“Tahun Ka-gin? Itu berarti setahu yang lalu,” gumam Ho Leng-hong, “ehm, betul
cocok memang dengan waktunya, ya, pasti dia . . . .”
“Kalau betul dia, lantas kenapa?” tiba-tiba Pang Goan menyela, “tidak dapatkah
kalian tenang sejenak, agar orang lain memperoleh kesempatan untuk beristirahat
sebentar?”
Cepat-cepat Ho Leng-hong mendekati dinding sebelah kanan, lalu bisiknya,
“Lotoako, Wan-kun dan Nyo . . . .”
“Sudah kudengar, semua hal ini sudah berada dalam dugaanku, tapi kita harus
berpura-pura tidak tahu, tak peduli siapa yang bertanya padamu, jangan kau mengaku
keadaanmu yang sebenarnya, kecuali kau bertemu sendiri dengan Wan-kun, maka
ceritakanlah seluruh kejadian yang sesungguhnya.”
“Menurut dugaanmu, mungkinkah Wan-kun masih berada di dalam Mi-kok?”
“Lebih baik kita tak usah menduka secara mengawur, asal telah bertemu dengan
Kokcu, otomatis semua duduknya perkara akan menjadi jelas.”
“Ai, benarkah Kokcu bersedia menjumpai kita?” bisik Leng-hong sambil menghela
napas.
“Kenapa tidak? Bukankah mereka telah datang?”
Betul juga, terdengar suara langkah manusia yang semakin mendekat, menyusul
kemudian terlihat Yu Ji-nio muncul bersama Hoa Jin.
“Pasti kau yang pertama-tama yang akan dijumpai,” bisik Pang Goan, “ingat, apa
yang boleh dan yang tidak boleh dibicarakan, soal kitab pusaka ilmu golok boleh kau
limpahkan pertanggungan-jawabnya kepadaku.”
Ternyata dugaannya memang tepat, Yu Ji-nio dan Hoa Jin langsung menuju ke kamar
tahanan nomor tiga dan berhenti di situ.
Setelah berada dalam kamar, dengan saksama Hoa Jin memperhatikan diri Ho Lenghong
dari ujung kepala sampai ujung kakinya, setelah itu tanyanya, “Sungguhkah kau
ini majikan Thian-po-hu yang bernama Nyo Cu-wi?”
“Kenapa?” Ho Leng-hong pura-pura bersikap ketus, “memang ada yang gadungan di
sini?”

Hoa Jin tertawa, “Kau betul-betul bernasib baik, Kokcu ingin berjumpa denganmu,
semoga kau bersedia bicara secara jujur.”
Waktu itu Yu Ji-nio telah membuka borgol pintu dengan kuncinya, lalu sambil
mendorong pintu terali besi ke samping, katanya dengan tertawa, “Nyo-tayhiap,
selamat jalan, semoga kau tidak kembali lagi kemari.”
Ho Leng-hong mengangkat bahu, kemudian berkata, “Pelayanan Ji-nio amat
menyenangkan hati, agaknya aku bakal mengganggu dirimu selama beberapa hari
lagi.”
Keluar dari ruang penjara, ia segera disambut oleh empat orang gadis berbenang biru
dengan senjata terhunus, ternyata ketat juga pengawalan di situ.
Dengan dipimpin oleh Hoa Jin, rombongan itu berjalan masuk ke sebuah halaman
yang amat sepi, setelah melewati serambi akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan
besar.
Selain luas dan hening, suasana dalam ruangan itu amat bersih dan rapi, pintu
ruangan terbuka lebar, keadaan ruangan persis seperti keadaan dalam ruangan
“pengadilan”, cuma di sini tiada pengawalan yang ketat.
Empat gadis pengawal tadi berhenti di ruang depan, hanya diantar oleh Hoa Jin saja
Ho Leng-hong masuk ke dalam ruangan.
Hening sekali ruangan itu, bukan saja tanpa pengawalan, di situpun tiada senjata
yang berkilauan, seorang gadis baju merah sedang berduduk di belakang meja sambil
memeriksa setumpuk surat.
Agak jauh di belakang gadis itu terdapat pula sebuah kursi, seorang perempuan
bercadar hitam duduk di situ.
Mula-mula Ho Leng-hong mengira perempuan bercadar itulah Kokcunya, akan tetapi
setelah diperiksa lebih saksama, ia terperanjat.
Ternyata meskipun perempuan bercadar itu mengenakan pakaian warna merah juga,
namun pada gaunnya tidak terdapat sulaman apa-apa, sebaliknya gadis yang sedang
memeriksa setumpuk dokumen itu justru mempunyai sulaman benang emas pada
gaunnya.
Gadis itu sedang menundukkan kepalanya, maka tak terlihat raut wajahnya, tapi baik
diperhatikan dari sudut manapun, bisa diduga usianya tak akan melampaui dua puluh
tahun.
Gadis semuda inikah Kokcu dari Mi-kok?
Ho Leng-hong tercengang, baru saja melangkah ke dalam ruangan ia segera berhenti.
Gadis itu masih juga menundukkan kepalanya dan memeriksa dokumen, cuma

sekarang di memberi tanda sambil berkata, “Ambilkan kursi untuk Nyo-tayhiap!”
Hoa Jin mengambilkan sebuah kursi dan Leng-hong duduk di kejauhan, saking
tegangnya untuk mengembus napas keraspun tak berani.
Ia merasa setiap ucapan gadis tersebut seakan-akan memiliki kewibawaan yang sukar
dibantah, membuat orang lain merasa rendah diri dan berada di bawah pengaruhnya.
Suasana dalam ruangan amat hening, sedemikian heningnya sampai suara jarum jatuh
ke lantai pun kedengaran jelas, siapapun tidak membuka suara, cuma perempuan
bercadar itu yang terus mengawasi Ho Leng-hong.
Diam-diam Leng-hong memperhatikan pula perempuan itu, hanya saja ia tak dapat
menebak asal-usulnya?
Lewat sesaat kemudian, pelahan gadis benang emas baru mendongakkan kepalanya,
lalu sambil tertawa kepada Ho Leng-hong katanya, “Benarkah Nyo-tayhiap ini
majikan Thian-po-hu?”
Ketika gadis itu mendongakkan kepalanya, semakin terbuktilah bahwa dugaan Lenghong
tidak keliru, usia gadis itu paling banter Cuma delapan-sembilan belas tahunan,
mukanya masih ke kanak-kanakan, wajahnya cantik jelita, sinar matanya jernih
tenang, tapi juga menggidikkan hati.
Tanpa terasa Ho Leng-hong mengalihkan pandangannya ke arah lain, kemudian
jawabnya lirih, “Betul!”
“Ada berapa banyak Thian-po-hu di dunia ini?”
“Hanya ada satu Thian-po-hu di kota Kiu-ki-shia.”
“Kalau begitu, Nyo-tayhiap adalah majikan keturunan berapa dari Thian-po-hu?”
Ho Leng-hong tertegun sejenak, kemudian jawabnya, “Thian-po-hu didirikan oleh
mendiang ayahku dan mempunyai tujuh anak semenjak ayahku wafat, kakak
sulungku Han-wi beserta kelima saudara lainnya secara beruntun pergi meninggalkan
rumah dan tidak kembali lagi, kini akulah yang mewarisi kedudukan itu.”
Sambil mendengar gadis itu manggut-manggut berulang kali, katanya lagi sambil
tersenyum, “kalau begitu, Nyo-tayhiap adalah majikan terakhir Thian-po-hu?”
“Betul!”
“Tadi Nyo-tayhiap berkata bahwa enam saudaramu secara beruntun pergi
meninggalkan rumah untuk tidak kembali lagi, tahukah kau ke mana mereka telah
pergi?”
“Kokcu, kalau sudah tahu apa gunanya bertanya lagi? Keenam saudaraku telah pergi
meninggalkan rumah lantaran hendak mencari ilmu golok sakti peninggalan Ang-ih
Hui-nio dan secara beruntun pergi ke Mi-kok ini, masakah Kokcu tidak tahu?”

Gadis itu tertawa, ia tidak mengaku juga tidak menyangkal, ia ingin mengalihkan
pembicaraan ke soal lain, katanya, “Ilmu golok Nyo-keh-sin-to telah merajai dunia,
apa gunanya kalian mencari ilmu golok lain yang lebih dahsyat?”
“Sebab gelar kehormatan Thian-he-te-it-to tersebut telah dirampas oleh pihak Hiangin-
hu dari Leng-lam pada pertemuan Lo-hu-to-hwe yang lalu, maka kami bersaudara
berhasrat untuk menjunjung kembali nama baik keluarga, oleh karena kami dengar
ilmu golok Ang-ih Hui-nio merupakan ilmu golok tandingan Nyo-keh-sin-to, maka
kami harus menemukannya.”
Gadis itu menggeleng kepala berulang kali, “Hakikatnya ilmu silat di dunia ini tiada
batasnya, betapa hebat sesuatu ilmu silat tak lebih hanya gerakan lincah yang
memanfaatkan kelemahan pihak lawan, kepandaian semacam ini mana pantas disebut
ilmu yang tiada tandingannya? Setelah menderita kekalahan, mengapa kalian tidak
mencoba untuk bertanya pada diri sendiri sudahkan kepandaian keluarga digunakan
semaksimalnya? Pernahkah terpikir hendak mempopulerkan kehebatan Nyo-keh-sinto?
Kalau yang dipikirkan hanya ingin belajar kepandaian orang lain, sungguh
tindakan ini adalah tindakan yang bodoh.”
Ho Leng-hong tidak menyangka gadis semuda ini ternyata sanggup memberi
keterangan panjang lebar seperti ini, tergerak juga perasaannya.
“Apa yang Kokcu terangkan memang tepat dan masuk diakal,” demikian katanya,
“sayang sekali hanya sejumlah kecil manusia di dunia ini yang dapat mawas diri serta
mengintropeksi diri sendiri, sementara sebagian besar lainnya tetap dungu dan tak
berguna.”
“Tolong tanya Nyo-tayhiap adalah manusia dari jenis yang mana?”
“Aku . . . tentu saja dari golongan yang bodoh.”
“Kalau begitu, maksud kedatangan Nyo-tayhiap ke lembah ini juga untuk mencari
ilmu golok yang maha sakti itu?” tanya gadis itu.
“O, tidak, pada hakikatnya aku tidak tahu di manakah letak Mi-kok ini,
sesungguhnya kedatangan kami ke sini hanya ingin mencari sarang Ci-moay-hwe, tak
tahunya malah terpancing sampai di Tay-pa-san ini.”
“Apa yang terjadi dengan perkumpulan Ci-moay-hwe?”
“Keadaan yang sebetulnya masih kurang jelas, aku cuma tahu tentang munculnya
sebuah organisasi rahasia dalam dunia persilatan, semua anggota mereka adalah kaum
wanita dan cita-citanya adalah beradu kekuatan dengan kaum pria di dunia.”
Gadis itu tertawa, “Ambisi orang-orang itu terlalu besar, Thian menciptakan makhluk
laki dan perempuan, Im dan Yang, dengan maksud agar ada perbedaan di antara
umatnya dengan tugas dan tanggung jawab yang berbeda, kaum pria bertugas keluar
dan kaum wanita bertugas ke dalam, sebetulnya tiada sesuatu yang pantas
diperebutkan, apalagi adu kekuatan. Ambil contoh saja lembah kita ini, meskipun

kaum wanita diwajibkan belajar silat, hal ini disebabkan ilmu silat leluhur kami lebih
cocok untuk kaum wanita, ini tidak berati kaum wanita lebih tangguh daripada kaum
prianya. Lagi pula, kecuali urusan ilmu silat, kaum lelaki tetap merupakan kepala
rumah tangga, mereka saling hormat menghormati, sayang menyayangi, bukankah hal
ini bagus sekali?”
Sampai di sini, tiba-tiba ia menarik kembali senyumnya, kemudian berkata dengan
nada sungguh-sungguh, “Nyo-tayhiap, aku ingin bertanya lagi padamu dan kuharap
kau bersedia bicara terus terang.”
“Silakan bertanya, Kokcu!”
Ditatapnya wajah Ho Leng-hong dengan sinar mata tajam, kemudian sepatah demi
sepatah katanya, “Benarkah kau Nyo Cu-wi, majikan Thian-po-hu?”
Hati Leng-hong tergerak, bukannya menjawab ia malah bertanya, “Apakah Kokcu
mencurigai diriku sebagai gadungan?”
“Betul, aku memang merasa curiga terhadap asal-usulmu.”
“Kenapa?”
“Sebab tahun yang lalu ada seorang Nyo Cu-wi yang mendatangi lembah ini, dia
menyebut dirinya sebagai pemilik Thian-po-hu.”
“Oya? Tak nyana di dunia ini terdapat kejadian yang begini kebetulan? Kini Nyo Cuwi
tersebut berada di mana?”
“Dia sudah mati!”
“O, sayang sekali,” kata Leng-hong pura-pura menyesal, “kalau tidak, ingin sekali
kujumpai sahabat yang mempunyai nama dan she yang sama dengan diriku itu.”
“Maksudmu dia telah menyaru sebagai dirimu?”
Ho Leng-hong tersenyum, “Dia dan aku bukan hanya bernama dan she sama,
keduanya juga sama mengaku majikan dari Thian-po-hu, salah seorang di antara kami
sudah pasti adalah gadungan, tapi sekarang ia sudah mati, siapa yang asli dan siapa
gadungan rasanya tidak penting lagi artinya.”
“Tidak, justru penting sekali artinya, seyogyanya kau mengaku secara terus terang,
sebab kalau tidak akan berakibat fatal bagimu.”
Leng-hong berpikir sebentar, lalu katanya, “Orang yang sudah mati tak mungkin bisa
dijadikan sebagai saksi, sekalipun aku gadungan, seandainya aku berkeras menatakan
diriku adalah yang asli, bagaimana pula cara Kokcu akan membedakannya?”
“Tentu saja aku ada akal untuk membedakannya, cuma kuharap kau bersedia
mengaku terus terang, sebab jika aku sampai membuktikannya, kau tak ada
kesempatan untuk melakukan pemilihan lagi.”

“Bagaimana kalau ada kesempatan untuk memilih, dan bagaimana kalau tak ada
kesempatan?” tanya Leng-hong sambil tertawa.
“Berbicara terus terang berarti ada kesempatan hidup, berbohong berarti kematian.”
Leng-hong termenung sebentar, kemudian katanya, “Kurasa semua perkataanku
adalah sejujurnya, soal Kokcu mau percaya atau tidak jelas tidak berani kupaksa,
lebih baik Kokcu segera membuktikannya sendiri.”
“Kau tidak menyesal?”
“Tentu saja tidak.”
“Bagus!” gadis itu lantas berpaling ke arah perempuan bercadar itu sambil
mengangguk, “Coba periksalah dia, sebetulnya dia ini asli atau palsu?”
Perempuan itu mengiakan, pelahan ia melepaskan kain cadar yang menutupi
wajahnya.
Tiba-tiba mata Leng-hong terbeliak lebar, jeritnya, “Wan . . . kun . . . .”
Tak salah lagi, dia memang Pang Wan-kun.
Ditinjau dari raut wajahnya, ia tak berbeda dengan Pang Wan-kun gadungan dari Cimoay-
hwe, Cuma sikap maupun gerak-geriknya jauh lebih anggun daripada
perempuan gadungan itu.
Bagaimana pun juga, seorang mungkin dapat menyaru raut wajah orang lain,
mungkin juga dapat meniru suara bahkan gerak-geriknya, tapi sikap dan gaya
seseorang sukar untuk ditiru.
Sikap dan gaya melambangkan kepribadian seseorang, melambangkan tingkat
pendidikan serta pengetahuannya, melambangkan pula semua pengaruh lingkungan
serta pengalaman yang pernah dialaminya semenjak kecil.
Di dunia yang luas ini tak mungkin ada dua manusia yang memiliki pengalaman yang
sama, sebab itu tak ada pula dua orang yang memiliki sikap serta gaya yang sama.
Oleh sebab itu, meski baru bertemu sekali, Ho Leng-hong merasa yakin bahwa Pang
Wan-kun yang berada di hadapannya itulah Pang Wan-kun yang asli, ia tak mungkin
Pang Wan-kun jadi-jadian dari Ci-moay-hwe.
Lantaran itulah Ho Leng-hong bersuara kaget . . . dengan masih hidupnya Pang Wankun
di lembah Mi-kok ini berarti penyamaran si gadungan segera akan terbongkar.
Ho Leng-hong mengawasi Pang Wan-kun dengan mata melotot, hampir saja
jantungnya mau melompat keluar dari rongga dadanya, sementara Pang Wan-kun
sendiri pun mengawasi pemuda itu tanpa berkedip, wajahnya tetap dingin dan tawar
tanpa emosi.

Walaupun sudah lewat sekian lama, akan tetapi ia tetap tidak bicara ataupun
bergerak, ditatapnya Ho Leng-hong tanpa berkedip.
“Pang Wan-kun, sudah kaulihat jelas?” tanya gadis itu tiba-tiba.
Pelahan Pang Wan-kun mengangguk.
“Apa yang dikatakan tadi juga sudah kaudengar semua?” kembali gadis itu bertanya.
Sekali lagi Pang Wan-kun mengangguk.
“Nah, sekarang beritahukan kepadaku, orang ini benar-benar suamimu Nyo Cu-wi?”
desak gadis itu.
Pang Wan-kun tidak menjawab, tetap kepalanya tertunduk rendah.
Sedemikian gelisahnya Ho Leng-hong waktu itu, hampir saja ia merengek, memohon
kepadanya agar jangan memberi jawaban negatif, sebab jawabannya itu berarti maut
baginya.
“Mengapa kau tidak menjawab?” tanya gadis itu lagi, “sebenarnya dia benar-benar
Nyo Cu-wi atau bukan?”
Sekali lagi Pang Wan-kun mendongakkan kepalanya menatap Ho Leng-hong,
akhirnya ia menarik napas panjang, “Dia....dia memang benar....”
Baru empat patah kata itu diucapkan, matanya lantas berkaca-kaca, mendadak ia
menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu.
Pengakuan ini sungguh di luar dugaan Ho Leng-hong, ia tak dapat mengatakan
terkejut ataukah bergirang? Untuk sesaat pemuda itu hanya berdiri mematung.
Ia tahu tak mungkin Pang Wan-kun salah mengenali suaminya, apalagi dalam
dinding penjara tercantum pula kata-kata “kekasih masuk istana es, aku masuk
penjara”, jelas Pang Wan-kun sudah mengetahui akan jejak Nyo Cu-wi, tapi mengapa
mengakui seorang asing sebagai suaminya.
Cuma tak ada waktu lagi bagi Ho Leng-hong untuk memikirkan sebab musababnya,
cepat-cepat ia berlagak sedih dan terharu, katanya dengan suara gemetar, “Wan-kun,
terima kasih pada langit dan bumi, ternyata kau masih hidup, sudah lama amat
menderita kucari dirimu.”
Si gadis memandang sekejap ke arah Ho Leng-hong, lalu memandang pula Pang
Wan-kun, setelah itu sambil tertawa katanya, “Di dunia ini memang terlalu banyak
kejadian aneh, tahun yang lalu seorang Nyo Cu-wi telah mati dan tahun ini muncul
lagi seorang Nyo Cu-wi, ternyata kedua orang Nyo Cu-wi itu semuanya adalah asli!”

Pang Wan-kun menundukkan kepalanya rendah-rendah, “Tahun yang lalu aku hanya
mendengar beritanya saja dan tidak kusaksikan dengan mata kepala sendiri, setelah
aku melihat sendiri sekarang, kuyakini dia inilah yang asli.”
“Mau yang asli juga boleh, yang palsu juga tak mengapa, asal kau bersedia
mengakuinya, itu sudah cukup. Cuma setelah kau akui keasliannya, maka segala
sesuatunya harus dilaksanakan menurut peraturan lembah ini, tentunya kau tak akan
menyesal bukan?”
“Aku tak akan menyesal!”
“Baik,” kata nona itu kemudian sambil mengangguk, “kuberi waktu semalam untuk
kalian, sebelum fajar menyingsing besok harus sudah ada keputusan.”
Diberinya tanda di atas selembar dokumen, lalu katanya lagi, “Oleh karena Nyo Cuwi
adalah suami Pang Wan-kun, untuk sementara waktu pelaksanaan hukuman Kheksin
ditangguhkan, pengawasan sementara waktu diserahkan kepada Pang Wan-kun
dan harus memberi laporan sebelum fajar menyingsing besok. Sekarang bawa
menghadap Pang Goan.....”
“Lapor Kokcu,” cepat Pang Wan-kun berkata, “Pang Goan adalah saudara
kandungku, tolong Kokcu bersedia menyerahkan tanggung jawab pengawasan atas
dirinya kepadaku.”
Tapi gadis itu menggeleng, “Dia adalah orang yang telah divonis bersalah, menurut
peraturan lembah, meski saudara juga tidak ada ampun sesuai peraturan kita.....”
“Kokcu, mengingat jasaku yang melayani Kokcu selama setahun ini, sudilah kiranya
meluluskan permintaanku ini?”
Dengan dahi berkerut gadis itu termenung sebentar, akhirnya ia berkata, “Baiklah,
akan kuberi waktu sehari kepadamu, termasuk Hui Beng-cu kuserahkan semua
pertanggungan jawabnya padamu, semoga kalian berunding baik dan memberi
laporan kepadaku sebelum fajar besok.”
“Terima kasih Kokcu,” cepat Pang Wan-kun memberi hormat.
Gadis itu menutup dokumen-dokumennya dan menarik napas panjang seperti ada
maksud tapi seperti tak sengaja melirik sekejap ke arah Ho Leng-hong lalu tersenyum,
kemudian bangkit dan mengundurkan diri.
“Jit-long, mari ikut aku,” bisik Pang Wan-kun kemudian.
“Perlukah kita menunggu Toako sekalian?”
“Tidak perlu, sebentar mereka akan datang sendiri ke tempatku.”
Sesudah mengundurkan diri dari ruang tengah mereka berbelok ke barat dan
melewati beberapa halaman, akhirnya sampai di depan sebuah rumah tembok kecil
yang indah.

Pang Wan-kun membuka pintu dan mempersilakan Ho Leng-hong masuk ke dalam,
dalam ruang tengah tampak sebuah patung dewi Kwan-im, asap dupa memenuhi
seluruh ruangan tapi tempatnya bersih dan teratur rapi.
Banyak persoalan yang mencurigakan memenuhi benak Leng-hong, tak tahan lagi ia
tanya, “Wan-kun, di sinikah tempat kediamanmu? Leluasakah kita bercakap-cakap di
sini?”
“Jangan gelisah dulu, duduklah, setelah memasang hio di depan Budha baru kita
bicara lagi.”
Terpaksa Leng-hong harus menahan sabar dan mempersilakan Pang Wan-kun
mencuci tangan, memasang hio menyembah Budha, semua gerak-geriknya sangat
lamban tapi penuh sujud, untuk memasang hio dan berdoa di depan patung suci saja
membutuhkan waktu sekian lama.
Leng-hong berusaha menenangkan hatinya, menurut pendapatnya selama setahun
hidup di lembah Mi-kok, Pang Wan-kun tentu banyak mengalami suka-duka,
pengakuannya kepada dirinya yang Nyo Cu-wi gadungan pun pasti ada alasan
tertentu.
Betul juga, ketika selesai berdoa, ucapan pertama dari Pang Wan-kun adalah, “Aku
tahu kau bukan Cu-wi, bahkan Kokcu juga tahu, maka sekarang kita tak perlu
berbohong lagi.”
Sedikit banyak malu juga Ho Leng-hong, katanya sambil tertawa, “Leluasakah kita
berbicara di sini nona?”
“Sangat leluasa, kecuali beberapa orang kepercayaan Kokcu, orang lain tak berani
sembarangan masuk ke sini, jangan kuatir.”
Leng-hong manggut-manggut, katanya, “Nona Pang, pertama-tama hendak
kuterangkan dulu kepadamu, meski aku bukan Nyo Cu-wi yang sesungguhnya, akan
tetapi kakakmu betul-betul adalah majikan Cian-sui-hu.”
“Aku tahu!”
Maka secara ringkas Leng-hong menceritakan asal-usulnya dan bagaimana caranya ia
dipergunakan untuk menyaru sebagai Nyo Cu-wi dan tinggal di Thian-po-hu.
Pang Wan-kun mendengarkan semua keterangan itu dengan tenang, seakan-akan
kejadian tersebut telah berada dalam dugaannya.
Setelah Leng-hong selesai bercerita, Wan-kun berkata sambil menghela napas
panjang, “Semua ini adalah permainan busuk Ci-moay-hwe, kita selangkah demi
selangkah telah masuk ke dalam perangkap mereka.”
“Apakah kalian suami isteri juga tertipu oleh Ci-moay-hwe?” tanya Leng-hong

tercengang.
Wan-kun tertawa getir, “Siapa bilang bukan, justru mereka yang memberitahukan
alamat Mi-kok ini kepada Jit-long . . . .”
Bicara sampai di sini, Pang Goan dan Hui Beng-cu secara beruntun telah di antar
pula ke tempat Pang Wan-kun, ternyata yang mengantar mereka adalah Pui Hui-ji,
gadis Bok-lan-pek-tui yang bertugas menjaga pintu itu.
Perjumpaan antara kakak beradik ini sedikit banyak menimbulkan kesedihan bagi
kedua pihak, dalam penuturan pengalaman kemudian diketahuilah cara bagaimana
Pang Wan-kun suami istri meninggalkan Thian-po-hu . . . .
Ternyata ketika Pang Wan-kun menikah dengan Nyo Cu-wi, meski ia tahu kejadian
yang menimpa Nyo-keh-hengte dalam Mi-kok, namun ia sendiri tak tahu di manakah
letak lembah tersebut, setelah menikah iapun tak pernah menceritakan hal ini kepada
Nyo Cu-wi.
Waktu ia mengetahui dirinya sedang mengandung dan hendak memberitahukan kabar
gembira ini kepada suaminya, tiba-tiba Nyo Cu-wi meninggalkan surat dan pergi dari
rumah.
Yang lebih mengherankan lagi, ternyata dalam surat Nyo Cu-wi mengetahui bahwa
isterinya telah mengandung, bahkan memberi pesan baik lelaki atau perempuan yang
bakal dilahirkan, pokoknya Thian-po-hu sudah mempunyai keturunan, sedang ia akan
meneruskan perjuangan saudara-saudaranya untuk mencari ilmu golok peninggalan
Ang-ih Hui-nio agar nama baik Thian-po-hu bisa dibangun kembali, seandainya
dalam setahu ia tidak pulang, maka Pang Wan-kun dipersilakan menjadi majikan
Thian-po-hu.
Pang Wan-kun segera putar otak memikirkan persoalan itu, ia merasa hanya pelawan
Bwe-ji yang mengetahui dia sedang mengandung, ketika Bwe-ji ditanya baru
diketahuinya bahwa pelayan itu mempunyai hubungan cinta gelap dengan Nyo Cu-wi,
bahkan diketahui juga sebelum meninggalkan rumah, Nyo Cu-wi pernah berunding
secara rahasia dengan Thian Pek-tat, sedang Thian Pek-tat juga sangat banyak
mengetahui kejadian di Thian-po-hu, kemungkinan besar dia yang telah
membocorkan alamat Mi-kok itu kepada Nyo Cu-wi.
Ketika Thian Pek-tat didesak kemudian, akhirnya diketahui lembah Mi-kok teretak di
tengah pegunungan Tay-pa-san.
Tapi menurut pengakuan Thian Pek-tat, katanya Nyo Cu-wi sudah mengetahui
tentang peristiwa Ang-ih Hui-nio, iapun tahu keenam saudaranya pergi tak kembali
lantaran persoalan itu, cuma keluarga Nyo belum ada keturunan dan lagi ia merasa
mempunyai tanggung jawab besar, maka rahasia tersebut selalu dipendam dalam hati
saja.
Waktu itu Pang Wan-kun sendiri tak sempat menganalisa benar atau tidaknya
persoalan itu, waktu itu juga ia berangkat ke Tay-pa-san.

Sepanjang jalan ia tidak berhasil menemukan jejak Nyo Cu-wi, tapi merasa seolaholah
ada orang yang secara diam-diam memberi petunjuk kepadanya, sehingga tanpa
susah payah ia berhasil menemukan Mi-kok.
Setelah di lembah ini ia baru tahu Nyo Cu-wi telah tiba di situ sehari sebelumnya,
bahkan telah memilih jalan “menerobos istana es” dan “menembus liang api” . . .
karena itulah kedua suami isteri tak pernah berjumpa muka lagi.
Pang Wan-kun disekap dalam penjara, ia berpikir dengan cermat, demi janin dalam
kandungannya sambil menahan rasa sedih terpaksa ia memilih untuk menetap dalam
lembah sambil menunggu kesempatan . . . .
Setelah mendengar kisah tersebut, Ho Leng-hong bertiga menghela napas terharu, di
antaranya Hui Beng-cu yang sebenarnya tidak mengetahui tentang diri Ho Leng-hong,
sekarang baru tahu bahwa dia bukan Nyo Cu-wi, sebab itu dalam kesedihan terselip
juga beberapa bagian rasa kaget dan tercengang.
Dengan air mata bercucuran Pang Goan berkata, “Adikku, kau terlampau bodoh,
setelah mengetahui kepergian Cu-wi waktu itu, sepantasnya kalau kaupulang dulu ke
rumah untuk berunding denganku.”
“Sesungguhnya akupun berhasrat pulang ke rumah untuk minta petunjuk Toako, tapi
berhubung waktu sangat mendesak dan tidak memungkinkan diriku pulang dulu ke
Cian-sui-hu, dan lagi setibanya di Tay-pa-san akupun merasa mulai terikat oleh
sesuatu, maka seperti sadar-tak-sadar akupun menerobos masuk ke dalam lembah
ini.”
“Kalau demikian, kemungkinan besar Thian Pek-tat adalah orangnya Ci-moay-hwe,”
kata Leng-hong, “Tapi mengapa ia menyerobot Yan-ci-po-to itu dan diantar ke Mikok
sini?”
“Bajingan itu banyak tipu muslihatnya, delapan bagian dia adalah mata-mata
bermuka dua, mulut untuk Ci-moay-hwe dan kemudian berpihak kepada lembah Mikok
. . . . .”
Tiba-tiba hatinya tergerak, katanya lagi, “Ah, benar! Bukankah Mi-kok melarang
anggotanya keluar dari tempat ini dan tak pernah berhubungan dengan dunia luar?
Kenapa Thian Pek-tat beserta Hui-goan Taysu dari Siau-lim-pay dapat mengadakan
kontak dengan pihak Mi-kok?”
Pang Wan-kun menghela napas, katanya, “Sungguhpun masalah ini merupakan suatu
rahasia besar, kalau aku tidak berdiam selama setahun di sini, mungkin rahasia ini tak
akan kita ketahui untuk selamanya.”
Tiga orang lainnya hanya diam saja dan mendengarkan kisah itu selanjutnya.
Dengan sedih Pang Wan-kun berkata pula, “Sejak Ang-ih Hui-nio mengasingkan diri
dalam lembah Mi-kok, ia tak pernah berhubungan dengan dunia luar, iapun berharap
lembah tersebut dapat menjadi surgaloka di luar keramaian manusia, sebab itu
dibuatlah suatu peraturan yang melarang ahli warisnya meninggalkan Tay-pa-san, tapi

orang lain juga dilarang memasuki lembah ini, barang siapa masuk ke lembah ini, bila
orang itu tidak berdosa, hanya ada dua pilihan baginya, yakni menetap dalam lembah
atau memasuki istana es dan menembusi liang api untuk mencari hidup . . . . . .”
Ia tidak memberi penjelasan tentang apa yang dimaksudkan sebagai “memasuki
istana es” dan “menembusi liang api” tersebut, sambungnya pula, “Tapi belakangan
ini, berhubung tujuh bersaudara keluarga Nyo dari Thian-po-hu berturut-turut
mendatangi lembah Mi-kok, rupanya kejadian ini menimbulkan perhatian Ci-moayhwe,
merekapun mengutus jago-jago lihaynya untuk menyeludup ke lembah Mi-kok,
mereka kebanyakan berpura-pura ingin menetap di situ, padahal sesungguhnya ingin
menarik perhatian anggota Mi-kok agar bersedia bekerja sama dengan pihak mereka,
lalu dengan ilmu golok yang tiada tandingannya dari Ang-ih Hui-nio mereka juga
akan merajai dunia persilatan. Untunglah Kokcu lembah ini Tong Siau-sian, meski
masih kecil namun kecerdasannya melebihi orang lain dan lagi sifatnya tawar
terhadap segala macam keramaian. Maka begitu orang-orang Ci-moay-hwe
mengetahui tak mungkin menarik perhatiannya, diam-diam merekapun membeli
beberapa orang Popo dan tokoh berbenang biru untuk membantu mereka mendesak
kepada Tong Siau-sian agar terjun kembali ke dunia persilatan, tapi Kokcu tak mau,
secara diam-diam mereka lantas melakukan segala persiapan dan mengadakan kontak
dengan dunia luar, kupikir dengan cara inilah Thian Pek-tat serta Hui-goan Taysu
berhasil mengadakan kontak dengan pihak Mi-kok.”
“Apakah Kokcu Tong Siau-sian tidak mengetahui persoalan ini?” tanya Leng-hong.
“Ia telah mendapat kabar selentingan tentang itu, Cuma lantaran tak ada bukti, dan
lagi tidak tahu berapa banyak orangnya yang telah berkomplot dengan orang luar, ia
tidak mengambil tindakan untuk sementara waktu, dan lagi sekalipun kedudukannya
sebagai Kokcu amat terhormat, hakikatnya ia berada dalam posisi terjepit, ia sangat
membutuhkan bantuan orang lain, kalau tidak, tak mungkin dia mau menuruti
permintaanku setelah diketahui bahwa kau adalah Nyo Cu-wi gadungan.”
“Adikku, bagaimana hubunganmu dengan Tong Siau-sian?” tanya Pang Goan.
“Dia sangat baik kepadaku, selama setahun ini ia selalu melindungi dan
memperhatikan diriku, sekalipun sepintas lalu tampak bagaikan majikan dan
bawahan, namun kenyataannya kami adalah sahabat karib.”
“Kalau begitu bagus sekali,” kata Pang Goan dengan gembira, “kita bersedia
membantunya untuk menyelidiki siapa-siapa yang telah dibeli orang luar, bahkan
membantunya juga untuk menangkap agen Ci-moay-hwe, tentu saja bila diapun
bersedia menukar ilmu golok sakti Ang-ih Hui-nio kepada kita.”
Tapi Pang Wan-kun menggeleng kepala berulang kali, “Urusan ini tak segampang
apa yang kaubayangkan, sebagai seorang Kokcu, mana mungkin dia meminjam
kekuatan luar untuk menindak anggota perguruannya sendiri? Lagipula, jumlah
anggota lembah yang berkomplot dengan Ci-moay-hwe tentu tidak sedikit jumlahnya,
bila kita melakukan suatu tindakan, bukannya membantu, malah kemungkinan besar
akan mencelakainya.”
“Kalau begitu, apa maksudnya menyerahkan kami kepadamu?” tanya Pang Goan.

“Oleh karena aku bersedia menetap di lembah ini, maka menurut peraturan lembah,
kalian sebagai sanak keluargaku mendapat kesempatan juga untuk tinggal di sini,
maksudnya tentu saja agar aku bisa mengajak kalian menetap di sini dan membantu
dia.”
“Ah, mana mungkin?” kata Pang Goan, “kalau kami tinggal di sini, bukankah selama
hidup tak mungkin keluar lagi? Bagaimanapun juga, tidak seharusnya kita
meninggalkan hasil karya leluhur untuk hidup dalam lembah ini. Aku orang pertama
yang tidak setuju dengan usul tersebut.”
“Bagaimana pula jika kami tidak bersedia menetap di sini?” tanya Leng-hong
kemudian.
Pang Wan-kun tertawa getir, “Waktu itu karena memikirkan anakku, maka kupilih
untuk tetap tinggal di sini, sungguhpun aku tak ingin menetap sampai tua di lembah
ini, akan tetapi jika tidak bersedia menetap, kita hanya ada satu jalan, yakni
menembus istana es dan menerobos liang api, padahal jelas jalan ini adalah jalan
kematian.”
“Apa yang dimaksudkan dengan memasuki istana es dan menerobos liang api?”
“Lembah ini letaknya sangat istimewa, tempatnya persis di atas sumber air dan liang
api yang berdekatan letaknya, di belakang lembah situ ada sebuah jalan tembus,
separuh di antaranya berhawa sangat dingin dan sepanjang tahun diliputi oleh salju
beku yang tebal dan tak pernah cair, tempat itu dinamakan ‘Peng-kiong’ (istana es),
sukar bagi orang untuk hidup selama satu jam di sana, kemudian separuh jalan
berikutnya orang akan melewati sebuah jalan yang panasnya bagaikan dalam neraka,
dari bawah lembah tiada hentinya menyembur api dahsyat, jangankan tubuh manusia,
besipun akan meleleh bila berada di situ, tempat itu disebut ‘liang api’, bila orang tak
mau menetap di sini, kecuali menembusi istana es dan liang api, jangan harap bisa
keluar dari Mi-kok ini!”
“Apakah tujuh bersaudara keluarga Nyo dari Thian-po-hu memilih jalan ini semua?”
tanya Leng-hong.
“Benar!” Wan-kun mengangguk, “mereka semua tewas dalam istana es, tak
seorangpun berbasil lolos dalam keadaan selamat.”
“Belum pernah ada orang bisa melewati jalan itu dengan selamat?”
“Belum pernah, semenjak Mi-kok ini ada, belum pernah ada seorang pun yang bisa
melewati istana es dan liang api dengan selamat, sebab itu dalam lembah ini tersiar
sebuah syair yang sangat populer, katanya, ‘Berlatih golok dalam istana es, melatih
sukma dalam liang api’!”
“Apa pula arti dari ucapan tersebut?” tanya Leng-hong tercengang.
“Maksudnya semua jurus ilmu golok maha sakti peninggalan Ang-ih Hui-nio yang
bernama Ang-siu-to-hoat (rahasia ilmu golok baju merah) berada dalam gua salju

tersebut, barang siapa masuk ke istana itu maka dia pasti akan tertarik perhatiannya
oleh kelihaian ilmu golok yang terdapat di situ, tapi bila ingin menguasai seluruh
jurus serangan ilmu golok tersebut, paling sedikit seorang membutuhkan waktu
selama satu jam, bila ilmu golok itu berhasil diingat semua, tentu orangnya akan mati
kedinginan lebih dulu. Mengenai kata yang terakhir, tentu saja berarti kalau orang
tidak mati kedinginan dia akan mati terbakar dalam liang api, sebab itu barang siapa
memasuki istana es dan liang api, belum pernah ada yang berhasil keluar dalam
keadaan selamat.”
Sesudah mendengar keterangan tersebut, perasaan mereka bertiga mulai menjadi
murung dan berat.
Lama sekali Ho Leng-hong termenung, kemudian sambil menghela napas katanya,
“Wah, dingin dan panas merupakan siksaan yang tak dapat ditahan oleh tubuh
manusia, agaknya terpaksa kita harus memilih jalan menetap di lembah ini.”
Hui Beng-cu yang sejak tadi terus membungkam tiba-tiba menutupi wajahnya sambil
menangis terisak, “Kalian tentu saja tak mengapa karena tak ada yang dipikirkan, tapi
bagaimana dengan diriku? Ayahku berada dalam cengkeraman Ci-moay-hwe, kalau
aku tak pulang, betapa akan gelisahnya beliau?”
Leng-hong mengangkat bahu, “Ya, urusan sudah menjadi begini, gelisahpun tak ada
gunanya, lebih baik kita mengirim surat kepada ayahmu dan mengundang beliau agar
menetap pula di Mi-kok ini, dengan demikian semua orang bisa hidup senang di
tempat yang indah bagaikan surgaloka ini.”
“Hei, saat macam apakah sekarang ini? Tak nyana kau masih ada pikiran untuk
bergurau?” tegur Pang Goan.
Ho Leng-hong tertawa, “Sekalipun sedih, apa pula manfaatnya? Lebih baik sebelum
hujan sedia payung, kita membuat dulu perhitungan yang paling jelek.”
Tiba-tiba ia mengalihkan pokok pembicaraan sambil berpaling tanyanya, “Nyo-hujin,
tadi kaubilang demi anakmu maka kau memilih tetap tinggal di sini, entah anakmu itu
lelaki ataukah perempuan?”
“Laki-laki, baru berusia setengah tahun!”
“Mengapa tidak kau gendong keluar untuk menjumpai pamannya?”
“Tentang ini . . . .” Pang Wan-kun ragu-ragu sejenak, lalu menambahkan, “bocah itu
tak ada di rumah, ia dibawa Kokcu pergi bermain.”
Wan-kun menundukkan kepalanya rendah-rendah, “Ya, Kokcu amat sayang kepada
bocah itu, setiap hari ia pasti mengajak bocah itu bermain.”
“O, baikkah Kokcu itu kepadamu?” kembali Leng-hong bertanya.
“Sudah kukatakan tadi, meskipun kami tampak sebagai majikan dan bawahan,
hakikatnya hubungan kami akrab seperti sahabat.”

Leng-hong manggut-manggut, “Ya, begitu sayangnya dia kepada anakmu, tentu saja
kaupun tidak dianggapnya sebagai orang luar, buktinya kau diperbolehkan berdiam
dalam gedung belakang, malahan tanpa sangsi dia serahkan kami kepadamu.”
“Memang begitulah keadaannya!”
“Menurut penglihatanku, Kokcu yang sekarang ini Tong Siau-sian seorang gadis
yang amat cerdik, bukannya ia tak ingin membasmi mata-mata dari Ci-moay-hwe,
soalnya kekuatannya sangat minim, maka terpaksa ia berlagak tuli dan pura-pura tidak
tahu orang-orangnya telah mengadakan kontak rahasia dengan Ci-moay-hwe.”
“Ya, memang begitulah.”
“Ia begitu baik kepada Hujin, dengan kamipun boleh dibilang mempunyai musuh
yang sama, berbicara menurut keadaan umumnya, sepantasnya kita bekerja sama
menghadapi Ci-moay-hwe, cuma tidak diketahui bantuan apakah yang ia perlukan?”
“Apakah kau bicara dengan sungguh-sungguh!”
“Tentu saja sungguh-sungguh!” sahut Leng-hong.
Dengan gembira Wan-kun berkata, “Jika kalian bersedia tinggal di sini, sekarang
juga kulaporkan soal ini kepada Kokcu, mengenai cara bagaimana kerja sama kita
untuk menghadapi mata-mata Ci-moay-hwe, kita rundingkan lagi dikemudikan hari,
setuju?”
“Tentu saja, kita sudah bertekad tetap tinggal di sini . . . . .” kata Leng-hong tanpa
ragu-ragu.
“Tidak! Aku tidak setuju!” tiba-tiba Pang Goan menyela.
“Akupun tidak setuju!” sambung Beng-cu.
“Toako, kenapa kau berkeras kepala,” ujar Leng-hong, “Selama gunung tetap hijau,
tak usah takut kekurangan kayu bakar, dalam istana es dan liang api kita hanya akan
menemukan jalan kematian, apa gunanya . . . .”
“Jangankan cuma istana es dan liang api, sekalipun gunung golok atau kuali minyak
mendidih akupun tidak takut, kalau mau tinggal di sini boleh kau saja tinggal di sini
sendirian, aku dan Siau-cu bertekad akan menerobos istana es dan liang api itu.”
“Toako, dengarkan dulu perkataanku . . . .” pinta Wan-kun.
“Tidak usah banyak bicara, pokoknya sebagai seorang lelaki sejati aku lebih rela mati
dalam istana es daripada hidup sampai tua di lembah terkurung ini.”
“Nyo-hujin, tak perlu kaubujuk dia lagi,” kata Leng-hong, “bila ia bertekad hendak
menjadi lelaki sejati dan lebih suka menjadi seorang yang tidak bisa dipercaya dan
tidak setia kawan, biarkanlah ia pergi.”

“Kau mengatakan siapa yang tak bisa dipercaya dan tidak setia kawan?” teriak Pang
Goan marah.
“Tentu saja kau. Aku ingin tanya, sewaktu kau menerima pesan dari keluarga Nyo
untuk bantu Thian-po-hu berdiri kembali dengan jaya, sudahkah tugas itu
terselesaikan bila jiwamu kau korbankan dalam istana es liang api, bukanlah
tindakanmu itu berati tidak memenuhi janjimu kepada keluarga Nyo?”
Pang Goan melenggong dan terdiam.
Leng-hong berkata pula, “Secara beruntun tujuh bersaudara keluarga Nyo dari Thianpo-
hu tewas dalam Mi-kok, satu-satunya keturunan yang masih ada sekarang masih
kecil, dengan menahan segala siksaan dan penderitaan adikmu menyambung hidup
demi mempertahankan keturunan keluarga Nyo, sebaliknya kau tidak mempedulikan
nasib adikmu dan anaknya, tapi demi kepuasan diri sendiri hendak memasuki istana
es dan liang api, Kematianmu tak akan menjadi soal, tapi meninggalkan adikmu dan
anaknya bukan suatu tindakan yang terpuji.”
Pang Goan terbelalak dan tak dapat mengucapkan sepatah katapun, akhirnya sambil
menghela napas ia menundukkan kepalanya.
Leng-hong mengerling sekejap ke arah Pang Wan-kun, kemudian katanya lagi,
“Silakan memberi laporan kepada Kokcu, katakanlah bahwa kami bersedia menetap
di lembah ini.”
Wan-kun sangat gembira, buru-buru ia mengundurkan diri.
Setelah Pang Wan-kun pergi, dengan suara rendah Leng-hong berbisik, “Lotoako,
mengapa kau pintar sepanjang waktu tapi bodoh sesaat? Apakah tidak kaulihat bahwa
adikmu tak bebas bergerak dan berada di bawah ancaman orang lain?”
“Sungguhkan perkataanmu?” tanya Pang Goan terperanjat.
Leng-hong segera berkata kepada Hui Beng-cu, “Duduklah dekat pintu sana,
perhatikan adakah orang mencuri dengar, kita harus berunding secepatnya untuk
menghadapi segala kemungkinan.”
Beng-cu manggut-manggut, ia lantas duduk di pinggir pintu dan bertugas mengawasi
keadaan di sekitar sana.”
“Ho-lote, darimana kautahu kalau Wan-kun telah dikuasai orang lain?” tanya Pang
Goan cemas.
“Dengan jelas ia tahu aku bukan Nyo Cu-wi, tapi ia mengakui diriku sebagai Nyo
Cu-wi, kejadian ini sudah amat mencurigakan, seandainya ia ingin bertemu dengan
kita karena ingin merundingkan cara meloloskan diri, semestinya hal itu sudah ia
sampaikan, tapi bukan rencana kabur yang dirundingkan, ia malah menganjurkan kita
untuk bergabung dengan pihak Mi-kok, di sinilah titik kelemahannya yang paling
besar.”

Pang Goan mengangguk berulang kali.
Leng-hong berkata lebih lanjut, “Kokcu Tong Siau-sian adalah seorang nona yang
cerdik, meski usianya masih muda namun tindak tanduknya cukup matang dan
berpengalaman, kalau dibilang hubungannya dengan adikmu sangat akrab, sudah
sepantasnya ia membiarkan anak Wan-kun menjumpai pamannya, anehlah kalau
dalam keadaan begini dia malah membawanya dan diajak bermain ke tempat lain?
Dari sini dapat diketahui bahwa mengajaknya bermain cuma alasan, yang benar
adalah menjadikan bocah itu sebagai sandera, agar adikmu tunduk dan bersungguhsungguh
melaksanakan perintahnya.”
“Tapi kita sudah tertangkap, mau dibunuh atau dibiarkan hidup bergantung pada
keputusannya, apa pula tujuannya berbuat begitu?” kata Pang Goan dengan terkesiap.
“Apa tujuannya? Tak berani kukatakan dengan pasti, mungkin saja tong Siau-sian
benar-benar ingin meminjam kekuatan kita untuk melawan para pengkhianat dalam
lembah, mungkin juga ingin mempergunakan kekuatan kita untuk melakukan suatu
pekerjaan yang berbahaya, atau bahkan mungkin Mi-kok adalah sarang Ci-moay-hwe,
sedan Tong Siau-sian adalah ketua Ci-moay-hwe tersebut.... setiap kemungkinan bisa
terjadi di sini.”
Baik Pang Goan maupun Hui Beng-cu merasa bulu romannya sama berdiri karena
ngeri.
“Cuma, ada satu hal yang dapat dipastikan,” kata Leng-hong lagi, “baik tempat ini
adalah Mi-kok atau sarang Ci-moay-hwe, yang pasti di antara mereka terdapat dua
golongan kekuatan yang saling berebut kekuasaan dan saling depak mendepak. Lebih
baik kita berlagak bodoh dan mendengarkan semua perintahnya, bila keadaan yang
sesungguhnya telah jelas baru kita ambil tindakan.”
“Aku cuma merasa keadaan di sini mengerikan sekali,” kata Hui Beng-cu dengan
suara gemetar, “kalau Pang toaci pun tidak bisa dipercaya, lalu kita harus percaya
kepada siapa?”
“Ia bukannya tak bisa dipercaya, melainkan dewasa ini ia mempunyai kesulitan yang
tak dapat diutarakan, maka pertama-tama kita harus turuti kehendaknya kemudian
baru menyelidiki latar belakang yang sebenarnya.”
Sementara mereka berbicara sampai di situ, Pang Wan-kun telah kembali.
Ia muncul bersama Pui Hui-ji serta dua orang perempuan lain yang berdandan seperti
pelayan, masing-masing membawa sebuah kotak makanan.”
Dengan senyum di kulum Pang Wan-kun segera berkata, “Ketika Kokcu mengetahui
kalian bersedia menetap di sini, betapa gembiranya hati beliau, arak dan makanan
harap kalian cicipi dulu, nona Pui dari Bok-lan-pek-tui ini ditugaskan untuk
menemani kalian.”
Kedua pelayan itu membuka kotak makanan yang dibawa, tertampaklah makanan

dan arak.
Leng-hong bertiga memang sudah lapar, tanpa sungkan-sungkan mereka duduk dan
mulai makan minum dengan lahapnya.
Ternyata takaran minum Pui Hui-ji amat besar, beruntun ia menenggak habis belasan
cawan arak tanpa berubah air mukanya, gelagatnya seakan hendak meloloh Pang
Goan sampai mabuk, sebab selama ini hanya dia saja yang diloloh terus dengan
minuman.
Ho Leng-hong mempunyai perhitungan sendiri dalam hati, tapi iapun tidak
membongkar rahasia tersebut, ketika arak sudah diminum hingga setengah mabuk,
sambil tertawa ia berkata, “Setelah kami mengambil keputusan untuk tinggal di
lembah ini berarti selanjutnya kita adalah orang sekeluarga, terhadap peraturan
lembah kami kurang mengerti, harap nona suka memberi petunjuk.”
“Peraturan sih tidak ada,” kata Pui Hui-ji sambil tertawa, “cuma, walaupun kalian
sudah memohon untuk menetap di sini, sekarang kalian masih belum terhitung
penduduk lembah, sebab bila kalian sudah menjadi penduduk di sini, maka kau dan
Pang-toako tidak dapat lagi minum arak.”
“Masa untuk mohon menetap pun ada syarat lainnya?”
“Tentu saja ada. Misalnya saja kalian adalah orang yang dijatuhi hukuman mati,
maka untuk bisa menetap di lembah ini pertama-tama harus membuat jasa dulu untuk
menebus kesalahan, kemudian izin menetap baru akan diberikan.”
Leng-hong pura-pura kaget, “Kami tak dapat meninggalkan lembah ini lagi, jasa apa
yang bisa kami lakukan?”
“O, kesempatan untuk membuat jasa banyak sekali, tidak harus melakukannya di luar
lembah,” kata Pui Hui-ji sambil tertawa.
“Apakah nona Pui bisa memberikan sebuah contoh?”
Pui Hui-ji menengok sekejap ke arah Pang Wan-kun, lalu katanya, “Misalnya saja di
depan mata sekarang pun ada kesempatan untuk membuat jasa, cuma kalian bersedia
untuk melakukannya atau tidak . . . .”
“Kalau bisa membuat jasa untuk Mi-kok, itulah yang kami harapkan, siapa bilang
kami tidak bersedia? Nona Pui, tolong beri tahukanlah kepada kami.”
Pui Hui-ji termenung dan berpikir sebentar, lalu jawabnya, “Kukira lebih baik Pangtoaci
saja yang menjelaskan.”
Seperti sudah tidak sabar lagi, buru-buru Leng-hong berseru, “Wan-kun, cepatlah
katakan!”
Wan-kun tidak buru-buru bicara, pelahan dia mengangkat cawan untuk minum
secegukan arak, rupanya ia sedang berpikir bagaimana caranya untuk mulai bicara.

“Sebetulnya kesempatan macam apakah yang dimaksudkan?” tanya Leng-hong lagi,
“katakan saja terus terang, asal kami sanggup melakukannya, pasti akan kami
laksanakan sedapatnya.”
Pang Wan-kun tertawa, dia memberi tanda kepada dua orang pelayan itu agar
mengundurkan diri, “Berdirilah di luar sana, jangan izinkan siapapun masuk kemari.”
Sesudah kedua pelayan itu mengundurkan diri, senyuman di bibir Wan-kun
mendadak lenyap, sebagai gantinya dengan wajah serius ia berbisik, “Nona Pui adalah
orang kepercayaan Kokcu, semua orang yang hadir di sini juga tiada orang luar, aku
akan bicara terus terang.”
Setelah berhenti sejenak, dengan wajah serius ia berkata lebih jauh, “Kokcu
memegang tampuk kekuasaan untuk mengatur semua kehidupan dalam lembah, tapi
berhubung usianya masih muda, maka tata pemerintahan dibantu oleh para Popo, dan
sekarang diketahui bahwa para Popo itu telah dibeli pihak luar, di mana setiap
perbuatannya selalu bermusuhan dengan Kokcu, bahwa tampaknya mereka berencana
hendak merebut tampuk pimpinan . . . . .
Berbicara sampai di sini, sengaja ia berhenti dan menyapu pandang sekejap wajah Ho
Leng-hong bertiga, rupanya ia sedang mengawasi reaksi mereka.
Leng-hong bertiga tetap tenang dan sama sekali tidak memberikan reaksi apa-apa.
Tampaknya Pang Wan-kun merasa agak kecewa, katanya pula, “Misalkan saja
maksud kalian bertiga hendak menetap di sini, tentu saja Kokcu menyambut niat
kalian dengan segala senang hati sebenarnya dia ingin mengabulkannya, tapi para
Popo berkeras menolak, sampai kini mereka masih ngotot, inilah contoh nyata yang
paling jelas . . . . .”
“Wan-kun!” tiba-tiba Leng-hong tertawa, “mengapa tidak kauterangkan saja secara
langsung, sesungguhnya apa yang dikehendaki Kokcu?”
“Baik, akan kuterangkan sesingkatnya dan jelas, Kokcu tidak tahan melihat sepak
terjang para Popo, ia bertekad membubarkan ‘Tian-lo-wan’ (lembaga para tertua) dan
membasmi mereka dengan alasan bersekongkol dengan orang luar, maka Kokcu ingin
minta bantuan kalian.”
“Cara bagaimana dia menghendaki kami membantunya?”
“Kokcu tidak berharap kalian ikut campur dalam persoalan ini secara langsung, dia
Cuma berharap kalian mengambilkan sebuah benda untuknya agar ia dapat menindas
sendiri para pengkhianat tersebut!”
“Beda apakah yang diharapkan?”
“Golok mestika Yan-ci-po-to!”
Leng-hong saling pandang sekejap dengan Pang Goan dan tersenyum penuh berarti .

. . agaknya ucapan tersebut sudah berada dalam dugaan mereka.
“Adikku, Kokcu belum pernah meninggalkan lembah Mi-kok, darimana ia tahu
tentang Yan-ci-po-to segala?” tanya Pang Goan.
“Akulah yang memberitahukan kepadanya.”
“Ang-siu-to-hoat merupakan ilmu golok yang tiada tandingannya di kolong langit,
apa pula gunanya golok mestika itu baginya?” sela Leng-hong.
“Bagi orang lain, Ang-siu-to-hoat memang ilmu golok yang tiada tandingannya, tapi
setiap anggota lembah Mi-kok mempelajari ilmu tersebut, maka kepandaian itu bukan
ilmu yang hebat lagi, sementara tenaga dalam Kokcu hanya seimbang dengan para
Popo, hanya dengan golok mestika ini ia bisa mengalahkan mereka.”
“Kalau begitu Kokcu yang menitahkan Thian Pek-tat serta Goan-hui Taysu dari Siaulim-
si untuk mencuri golok mestika itu?” tanya Pang Goan.
“Tidak, mereka mendapat petunjuk dari Tong-popo serta kelompok Tiang-lo-wan,
semula yang ditugaskan menyambut golok di luar lembah adalah Hoa Jin, tapi
lantaran kabar ini diketahui Kokcu dan malam itu juga mengirim pasukan peronda
yang berpuluh regu banyaknya untuk mengadang mereka, maka begitu Hoa Jin
merasa gelagat tidak menguntungkan, ia segera turun tangan membinasakan mereka,
perkara itu lantas dilimpahkan kepada kalian bertiga, oleh karena itulah begitu masuk
ke lembah, Tong-popo langsung memimpin sidang dan menjatuhkan hukuman mati
kepada kalian.”
“Tapi kedatangan kami ke Tay-pa-san ini adalah karena terpancing oleh siasat Cimoay-
hwe,” kata Leng-hong, “Tidak mungkin Hoa Jin mengetahui kami bakal datang
ke sini.”
“Justru Tong-popo dan Hoa Jin sekalian mengadakan persekongkolan dengan Cimoay-
hwe.”
“Ah, hal ini lebih tak mungkin lagi,” sela Pang Goan, “orang yang mengatur siasat
dalam Thian-po-hu untuk mencuri golok mestika itu adalah Ci-moay-hwe, Thian Pektat
menggunakan kesempatan sewaktu Ci-moay-hwe bentrok dengan kami untuk
merampas golok mestika itu, jika dia bersekongkol, kenapa ia malah menggigit rekan
sekomplotan sendiri?”
“Hal ini adalah urusannya dengan Ci-moay-hwe, aku kurang begitu jelas, Kokcu
cuma tahu bahwa golok mestika yang berhasil mereka dapatkan adalah benda bagus,
maka ia berpesan kepadaku agar menyampaikan kepada kalian bahwa ia sangat
berharap kalian suka menyerahkan Yan-ci-po-to yang asli kepadanya.”
“Jika Yan-ci-po-to berhasil kami peroleh, apa pula imbalannya untuk jasa tersebut?”
“Kokcu ada perintah, jika kalian bersedia membantu kami untuk menindas kaum
pengkhianat, maka setelah urusan selesai kalian dipersilakan meninggalkan lembah
ini dengan bebas, kitapun selamanya akan menjadi sahabat, janji ini pasti takkan

dipungkiri.”
“Kami masih ada suatu permintaan lagi, yakni kuharap Yan-ci-po-to dapat ditukar
dengan rahasia ilmu Ang-siu-to-hoat.”
Pui Hui-ji berpikir sebentar, lalu katanya, “Tentang ini maaf kalau aku tak berani
memutuskan, akan kusampaikan kepada Kokcu dan kupercaya Kokcu pasti akan
mengabulkannya.”
“Kalau begitu tolong laporkan kepada Kokcu bahwa Yan-ci-po-to tidak berada pada
kami, untuk mendapatkannya dia harus melepaskan kami dulu meninggalkan lembah
ini.”
“Tentang ini Kokcu sudah ada rencana,” kata Pui Hui-ji sambil tertawa, “kalian
cukup memberitahukan tempat golok itu saja, kami akan mengambilnya sendiri.”
“Tempat itu sangat rahasia letaknya, kecuali kupergi sendiri tak mungkin orang lain
bisa menemukannya.”
“Silakan Pang-toako katakan, di manakah letak tempat itu?”
Pang Goan berpikir sebentar, kemudian katanya, “Tak mungkin bisa diterangkan
dengan mulut, pokoknya tempat itu sulit dicari . . . . begini saja, akan kubuatkan peta
untuk kalian, bila pencarian dilakukan menurut keterangan dalam peta, tentu akan
lebih gampang pencariannya.”
Pui Hui-ji sangat gembira, serunya, “Cara ini paling baik, silakan Pang-toako
membuat peta itu, sementara kulaporkan dulu hal ini kepada Kokcu....”
“Tunggu sebentar,” cegah Ho Leng-hong, “kalian tak pernah meninggalkan Mi-kok,
sekalipun ada peta, siapa yang akan pergi mencarinya?”
Kembali Pui Hui-ji tertawa, “Untuk melawan kekuasaan Tiang-lo-wan selama
beberapa tahun ini kamipun sudah menyiapkan beberapa pos mata-mata di luar
lembah, asal peta penyimpanan golok sudah siap, kami bisa mengutus orang untuk
mencarinya sesuai dengan petunjuk peta.”
“Tapi ada satu hal tolong nona sampaikan juga kepada Kokcu, kami harap bisa
menukar peta penyimpanan golok dengan Ang-siu-to-hoat, harap nona suka
menyampaikan beberapa kata manis di depan Kokcu nanti.”
Pui Hui-ji manggut-manggut, “Aku pasti akan melakukannya, kalian jangan kuatir.”
Setelah mengantar kepergian Pui Hui-ji, Pang Wan-kun menarik napas panjang, ia
lantas menyiapkan alat tulis dan kertas untuk Pang Goan membuat peta penyimpanan
golok.
Pang Goan juga tidak menolak, dalam sekejap mata ia telah membuat dua buah
lukisan, yang selembar adalah letak Cian-sui-hu, sedangkan yang selembar lagi adalah
tempat golok itu disembunyikan.

Peta itu dilukis dengan terperinci dan sangat rahasia, terutama tempat golok itu
disimpan, betul-betul dilukis dengan amat berhati-hati sehingga baik Ho Leng-hong
maupun Pang Wan-kun juga tidak mengetahui.
Setelah peta selesai dibuat ia baru berkata kepada Wan-kun dengan serius, “Adikku,
mumpung peta ini belum kuserahkan kepada Tong Siau-sian, kuharap kau bersedia
memberitahukan suatu hal kepadaku, kita adalah saudara sekandung, bagaimanapun
kau harus berterus terang.”
“Aku tidak bermaksud membohongi Toako?” kata Pang Wan-kun dengan
tercengang.
“Yang sudah lewat aku tak ingin menyelidikinya, sekarang aku hanya ingin bertanya
padamu, jika golok mestika Yan-ci-po-to telah kami serahkan, benarkah Tong Siausian
akan membebaskan kami untuk meninggalkan Mi-kok ini.”
“Ia pasti akan memenuhi janji, dia adalah seorang yang bisa dipercaya,” jawab Wankun
tanpa ragu.
“Apakah kau dan anakmu juga akan dilepaskan semua?” desak Pang Goan lebih jauh.
“Tentang ini . . . . .” agaknya perasaan Wan-kun bergetar keras, “Toako, kenapa
secara tiba-tiba kau ajukan pertanyaan ini?”
“Sebab kami tahu Tong Siau-sian menggunakan anakmu sebagai sandera untuk
memaksa kau melakukan semua petunjuknya, antara kau dengan dia pada hakikatnya
bukan sahabat karib seperti yang kaulukiskan.”
Tiba-tiba sinar mata Pang Wan-kun memancarkan perasaan kuatir dan ngeri, dengan
mulut membungkam ia tunduk kepala rendah-rendah.
“Nyo-hujin,” kata Leng-hong dengan suara tertahan, “kalian adalah saudara
sekandung, sudah seharusnya semua rahasia hatimu diutarakan secara blak-blakan,
tak perlu dirahasiakan lagi.”
“Benar,” sambung Hui Beng-cu, “kita berempat harus bersatu dan berusaha dengan
segala kemampuan menghadapi apapun, Pang-toaci, cepatlah katakan secara terus
terang!”
Pelahan Wan-kun mendongakkan kepalanya, bibirnya bergetar dan memperlihatkan
senyuman getir, katanya, “Dari bagian yang manakah aku harus mulai dengan
keteranganku? Ia bersikap sangat baik padaku, bukan terbatas sampai persahabatan
saja, hakikatnya kami bagaikan kakak beradik, tetapi....”
“Tetapi ia telah menahan anakmu sebagai sandera, agar kau melaksanakan semua
perintahnya tanpa berani membangkang, bukankah begitu?” sambung Pang Goan.
Wan-kun tidak mengaku pun tidak menyangkal, ia mengembuskan napas panjang.

“Aku amat menyayangi puteraku, ini kenyataan . . . .” demikian katanya, “Kupikir,
tujuannya menahan puteraku adalah agar aku tidak kabur dari Mi-kok, iapun kuatir
aku menaruh dendam padanya karena kematian Jit-long dalam istana es . . . . .”
“Kalau begitu, mana mungkin ia mengizinkan kami meninggalkan Mi-kok?”
“Dewasa ini, untuk menghadapi pertentangannya dengan Tiang-lo-wan, ia betul
membutuhkan bantuan orang, jika kita berhasil membantunya, kuyakini dia pasti akan
mengizinkan kita untuk meninggalkan tempat ini.”
Tapi Ho Leng-hong segera menggeleng kepala, “Meski perempuan itu masih muda,
tapi otaknya cerdas dan akalnya banyak, kukuati sampai waktunya nanti . . . .”
Belum habis perkataannya, tiba-tiba terdengar suara langkah orang dari luar, cepat
semua orang mengakhiri pembicaraan dan kembali ke tempat duduknya masingmasing.
Sambil tersenyum simpul Pui Hui-ji masuk ke dalam ruangan, kemudian tegurnya,
“Pang-toako, sudah selesai petamu?”
Pang Goan tidak menjawab sebaliknya malah bertanya, “Bagaimana tanggapan
Kokcu atas permintaan kami?”
“Telah kusampaikan kepada Kokcu dan beliau sangat gembira, permintaan kalian
segera dikabulkan, bahkan suruh aku memberitahukan pula kepada kalian agar jangan
kuatir, asal golok mestika telah didapatkan, rahasia Ang-siu-to-hoat pasti akan
diajarkan kepada kalian, bahkan beliau akan berterima kasih pula kepada kalian
semua.”
“Berterima kasih sih tak usah, sampai waktunya aku cuma memohon agar kami bisa
membawa bocah itu meninggalkan lembah ini bersama-sama agar ada keturunan
keluarga Nyo yang bisa melanjutkan perjuangan leluhurnya.”
“O, pasti, pasti, Kokcu tak akan menyia-siakan harapan kalian,” sahut Pui Hui-ji.
Pang Goan mengeluarkan peta dan berkata lagi, “Dari sini menuju ke gedung Ciansui-
hu di kota Liat-liu-shia ada ratusan li lebih, entah kalian membutuhkan beberapa
lama untuk mengambil golok tersebut?”
“Tentu saja lebih cepat lebih baik, jika peta Pang-toako dibuat dengan cermat, maka
paling banter sepuluh hari kemudian semuanya sudah beres.”
“Baik,” kata Pang Goan sambil menyerahkan peta itu kepada Pui Hui-ji, “semoga
kalian cepat kembali, agar kami tak usah menunggu terlalu lama.”
Pui Hui-ji merentangkan peta itu dan memandang sekejap secara garis besarnya,
kemudian dengan sangat berhati-hati menyimpannya dalam saku, setelah itu ia baru
bertepuk tangan tiga kali.
Serombongan orang mengiakan sambil masuk ke dalam, ternyata mereka adalah Yu

Ji-nio dan dua orang gadis berbenang putih.
“Nona Pui, apa maksudmu?” teriak Pang Goan dengan marah.
“harap kalian jangan salah paham,” kata Pui Hui-ji sambil tertawa, “oleh karena ini
adalah tempat tinggal kaum wanita, Kokcu merasa kurang leluasa untuk kalian tinggal
di sini, selain itu demi keamanan kalian serta menghindari gangguan dari pihak
Tiang-lo-wan, untuk sementara waktu kalian dipersilakan kembali ke ruang belakang
untuk beristirahat, kalau golok mestika sudah ditemukan, kalian pasti akan
dilepaskan.”
“Hm, jadi kami harus disekap selama belasan hari lagi?” seru Pang Goan sambil
mendengus.
“Bukan, bukan disekap, berhubung pihak Tiang-lo-wan tetap tidak setuju dengan
maksud kalian untuk bermukim di sini, terpaksa Kokcu harus mengambil tindakan
begini.”
“Kalian jangan kuatir,” kata Yu Ji-nio sambil tertawa, “meskipun kurang bebas
selama tinggal di gedung belakang, dalam soal penghidupan tak nanti kami
telantarkan kalian.”
Pang Goan memandang sekejap ke arah Pang Wan-kun, kemudian mendengus, “Hm,
adikku, sekarang percaya tidak bahwa perkataanku bukan hanya dugaan belaka!”
Wan-kun menunduk kepala dan membungkam.
-------------------
Sekembalinya ke penjara, sikap Yu Ji-nio jadi lebih sungkan, “pelayanan” pun
tambah baik.
Tapi kemarahan Pang Goan tak terbendung, dalam penjara dia membanting semua ini
membuat beberapa gadis penjaga pintu tak berani mendekati pintu terali besi nomor
satu.
Karena kehabisan akal, terpaksa Yu Ji-nio memindahkan Pang Goan ke ruang
penjara nomor tiga, sedangkan Hui Beng-cu diberi kamar nomor satu.
Ternyata cara ini manjur juga, setelah pindah kamar sikap Pang Goan jauh lebih
tenang.
Bukan hanya tenang saja, malah tak lama kemudian ia tertidur dengan nyenyaknya.
Hanya Leng-hong yang tahu bahwa rekan itu tidak benar-benar tidur, tapi iapun tidak
bicara apa-apa, sesudah Yu Ji-nio pergi, pelahan ia mengetuk dinding.
Betul juga, Pang Goan hanya pura-pura tertidur, segera ia berbisik, “Jangan
mengetuk lagi, suruh Siau-cu jaga pintu, kalau ada orang suruh dia dehem.”

“Jangan kuatir, aku sudah memberitahukan kepadanya, sekarang marilah kita
berbicara dengan hati lega, tak mungkin ada orang mendengarkan pembicaraan kita.”
Pang Goan merangkak bangun dari pembaringan lalu mendekati ujung dinding dan
berkata, “mulai sekarang, kau harus memperhatikan dua hal.”
“Dua hal apa?” tanya Leng-hong.
“Pertama, berapa banyak pengawal dalam rumah penjara ini? Kedua, berapa lama
mereka berganti penjaga? Terutama keadaan pada waktu malam, perhatikan secara
khusus.”
“Lotoako, mau apa kau?”
“Kabur!”
“Kabur?” sekalipun Leng-hong telah menduga, terkejut juga demi mendengar
perkataan itu, “kau bermaksud kabur dari Mi-kok ini?”
“Benar, tempat setan ini penuh dengan kejadian yang bikin orang tidak habis
mengerti, Wan-kun dikuasai pula oleh mereka, maka kita harus mengandalkan
kekuatan kita sendiri untuk kabur dari sini.”
“Tapi kungfu orang-orang di lembah ini sangat lihay, tidaklah gampang untuk kabur
dari sini.”
“Tentu saja tidak gampang, tapi bagaimanapun kita harus berusaha kabur, sebab
paling banyak kita hanya tersedia waktu selama sepuluh hari, jika menunggu orangorang
yang mengambil golok telah kembali, kita tak ada kesempatan lagi untuk
berbuat demikian.”
“Apakah peta rahasia tersebut palsu?”
“Hahaha, kaukira akan kuberikan peta yang benar kepada mereka?” Pang Goan balik
bertanya sambil tertawa, “terus terang kuberitahukan kepadamu, letak tempat yang
kulukis dalam peta adalah kubang tinja dalam Cian-sui-hu, kecuali kotoran manusia
jangan harap bisa menemukan golok!”
Betapa bangga gelak tertawa itu, seakan-akan ia telah menyaksikan cara bagaimana
orang-orang Mi-kok yang mencari golok mestika itu tercebur ke dalam lubang tinja
dan kenyang minum air kotoran.
Ho Leng-hong juga ingin tertawa tapi tak mampu bersuara, sambil menggeleng
katanya, “Lotoako, jangan terlampau menuruti emosi, sebab perbuatanmu ini bisa
mencelakai Wan-kun, bila Tong Siau-sian merasa tertipu, ia pasti takkan melepaskan
Wan-kun.”
“Kita bisa mengajak Wan-kun kabur bersama.”
“Persoalannya tidak segampang itu, sekalipun Wan-kun berhasil kita bawa kabur,

anaknya belum tentu bisa sekaligus kita selamatkan, padahal anak itu adalah itu
adalah satu-satunya tumpuan harapan Wan-kun, selama bocah itu tak bisa ikut, Wankun
juga tidak akan ikut pergi.”
Pang Goan termenung sebentar, akhirnya dengan menyesal ia berseru, “Celaka,
waktu itu kenapa aku tidak memikirkan masalah bocah tersebut? Wah, kalau begitu
perbuatanku benar-benar amat sembrono.”
Leng-hong menghela napas panjang, “Ai, sekarang urusan telah berkembang jadi
begini, tak mungkin kita pasrah nasib kepada mereka, kita harus kabur bahkan bawa
serta Wan-kun dan anaknya, dan satu-satunya cara untuk kita adalah menempuh
bahaya . . . .”
“Menempuh bahaya bagaimana maksudmu?”
“Kita berusaha membekuk Tong Siau-sian dan menyanderanya, asal dia dipaksa
untuk mengantar kita keluar lembah, urusan kan beres.”
“Apakah kau ada akal bagus?”
“Sekarang belum, tapi kita bisa mendapatkannya dari seseorang.”
“Siapa?” cepat-cepat Pang Goan bertanya.
“Pui Hui-ji!”
-----------------------
Ketika Pui Hui-ji muncul lagi dalam penjara sikapnya sudah jauh berbeda daripada
sebelumnya.
Kalau dahulu ia selalu tersenyum simpul dan bersikap ramah tamah, maka kini meski
senyuman masih menghiasi bibirnya, namun senyuman itu sangat dingin, membuat
siapa pun yang melihatnya segera tahu bahwa senyuman itu diperlihatkan secara
terpaksa dalam keadaan yang tidak dikehendakinya.
Begitu masuk ke dalam penjara, keningnya segera berkerut, senyuman pun lenyap,
tegurnya dengan ketus, “Ada urusan apa kalian mencari aku?”
Buru-buru Leng-hong mendekati terali besi sambil berbisik, “Nona Pui, ada urusan
penting hendak kubicarakan secara pribadi denganmu, dapatkah kau mencari suatu
tempat yang agak rahasia. . . . .”
Kening Pui Hui-ji makin berkerut, dengan wajah tak sabar serunya, “Kalau ada
urusan katakan sekarang saja, aku repot dan tak punya waktu.....”
“Tempat ini terlalu banyak mata-matanya, kukuati pembicaraan kita akan terdengar
oleh pihak ketiga, tapi kalau nona Pui enggan mendengarkan juga tak apa-apa, cuma
andaikata Yan-ci-po-to sampai terjadi sesuatu di luar dugaan, jangan salahkan kami
sebelumnya tidak memberi kabar kepada nona.”

Pui Hui-ji terkejut, “Apa? Yan-ci-po-to akan mengalami kejadian apa?”
Leng-hong tidak menjawab, ia meninggalkan terali besi dan membaringkan diri.
Sikap Pui Hui-ji seketika berubah, dengan senyum manis cepat ia menitahkan Yu Jinio
membuka pintu penjara, bahkan menghampiri sendiri ke tepi pembaringan dan
berkata dengan lembut, “Ho-toako, akulah yang salah, aku memang sangat repot, aku
tidak sengaja hendak menyinggung perasaanmu . . . sesungguhnya ada apa dengan
golok mestika Yan-ci-po-to . . . . .”
“Sudah kukatakan, di sini terlalu banyak mata dan telinga, tidak leluasa untuk
bercakap-cakap di sini,” tukas Leng-hong ketus.
“Ah, itu gampang, akan kutemani Ho-toako untuk bercakap-cakap dalam kamar Yu
Ji-nio.”
“Kamarnya juga kurang leluasa.”
“Lantas menurut keinginan Ho-toako.....”
“Tempat manapun boleh, asal tak ada orang yang mencuri dengar, terlebih jangan
sampai diketahui oleh Hoa Jin.”
“Hoa Jin?” tiba-tiba air muka Pui Hui-ji berubah, setelah merenung sejenak, akhirnya
berkata, “Baiklah? Mari ikut aku.”
Ternyata ia benar-benar orang kepercayaan Kokcu, cukup mengucapkan sesuatu
kepada Yu Ji-nio, tanpa dikawal ia meninggalkan rumah penjara.
Setelah menelusuri kaki bukit dan belok ke kiri, sampailah mereka di muka sebuah
rumah batu, di depan pintu duduk seorang nenek sedang menambal baju.
Pui Hui-ji memberi kode tangan kepada nenek itu, kemudian mengajak Leng-hong
masuk ke dalam, katanya, “Nenek itu seorang tuli, dulu dia adalah inang pengasuh
Kokcu, asal kita bercakap-cakap dalam rumahnya, tak nanti ada orang yang mencuri
dengar.”
Leng-hong memperhatikan sekejap susunan perabot di dalam ruangan itu, setelah
duduk, katanya, “Yang paling penting, apa yang kita bicarakan sekarang jangan
sampai diketahui Hoa jin, kaupun harus berpesan secara khusus kepada Yu Ji-nio agar
ia tidak membacakan rahasia kita ini.”
“Sebenarnya ada apa dengan Hoa Jin?” tanya Pui Hui-ji tidak sabar.
“Semalam ia datang ke penjara mencari diriku.”
“O, benarkah itu?” seru Pui Hui-ji kaget, “mau apa dia mencarimu?”
“Sebenarnya dia hendak bicara dengan Pang-toako, tapi kucegat dan akhirnya kami

bicara hampir setengah jam lamanya . . . . .”
“Apa saja yang kalian bicarakan?” tanya gadis itu cemas.
“Setelah kukatakan, harap kau jangan kaget, ia datang ke penjara karena golok
mestika Yan-ci-po-to itu.”
“Oya? Apa yang dia katakan kepadamu? cepat katakan!”
Sengaja Leng-hong tertawa, katanya, “Entah darimana ia dengar kabar tentang golok
mestika Yan-ci-po-to yang disimpan dalam Cian-sui-hu, maka ia mencari kami untuk
membicarakan syarat penukaran, merekapun menginginkan selembar peta.”
“Sudah kau kabulkan permintaannya?”
“Belum,” jawab Leng-hong sambil menggeleng, “Cuma syarat yang ia ajukan
ternyata lebih menyenangkan dari pada syarat Kokcu.”
“Dia bilang apa?”
“Katanya, asal kami bersedia melukiskan pula selembar peta untuk mereka, maka
bukan saja kami akan segera dibebaskan menurut pilihan kami sendiri, bahkan ia
jamin Wan-kun dan anaknya akan diserahkan pula kepada kami, katanya juga bila
kami ingin tinggalkan tempat ini, pihak Tiang-lo-wan bersedia menghadiahkan Angsiu-
to-hoat kepada kami, serta membantu kami menumpas Ci-moay-hwe, kalau pilih
tinggal di sini, maka setelah Kokcu naik tahta, Wan-kun dan Beng-cu boleh masuk
Tiang-lo-wan, sedang aku dan Pang-toako akan diangkat sebagai pelindung Mi-kok
dengan hak istimewa untuk masuk keluar lembah ini sesuaka hati . . . .”
Ia masih ingin mengibul terus, tapi Pui Hui-ji sudah keburu jengkel sehingga
mukanya berubah menjadi hijau membesi, tukasnya, “Ho-toako, jangan sekali-kali
kau tertipu, Tiang-lo-wan hakikatnya tidak memiliki kekuasaan sebesar ini, mereka
tidak berhak mengubah peraturan Mi-kok, Kokcu kami adalah jabatan turun temurun,
kecuali melakukan pelanggaran besar, Tiang-lo-wan tidak berhak mengganti Kokcu
baru, lebih-lebih tak berhak untuk mengangkat orang luar sebagai pejabat dalam
lembah ini.”
“Tapi mereka menyatakan,” kata Leng-hong sambil tertawa, “bila Kokcu mencari
bantuan orang luar untuk menentang Tiang-lo-wan, maka perbuatan ini adalah suatu
pelanggaran besar.”
Dengan jengkel Pui Hui-ji mendengus, “Hm, jika Tiang-lo-wan mengandalkan
kekuatan luar untuk melawan Kokcu, perbuatan inipun suatu pelanggaran besar,
Tong-popo telah bersekongkol dengan Ci-moay-hwe untuk mengincar jabatan Kokcu,
dosa ini jelas terbukti, Kokcu berhak membubarkan Tiang-lo-wan serta menjatuhi
hukuman kepada mereka untuk memilih Tiang-lo baru . . . . .”
“Soal siapa berhak atau tidak merupakan urusan Mi-kok kalian sendiri, kami tak
ingin mencampurinya, terus terang saja harapan kami hanya bagaimana caranya
menukar golok mestika dengan rahasia Ang-siu-to-hoat dan meninggalkan lembah ini

dengan selamat. Semula kami ingin membantu Kokcu, tapi hasilnya kami harus
masuk penjara menjadi tawanan, bila dibandingkan satu sama lain tentu saja kami
merasa syarat mereka jauh lebih menarik daripada syarat dari pihak Kokcu.”
“Ho-toako, jangan kau percaya pada mereka,” seru Pui Hui-ji dengan gelisah, “pasti
Hoa Jin perempuan rendah itu sengaja membohongimu, jika kau menyerahkan peta
tersebut, jangan harap kalian bisa tinggalkan Mi-kok dengan selamat.”
“Tapi setelah kami serahkan peta rahasia itu kepada Kokcu, apa pula jaminan buat
kami untuk meninggalkan tempat ini dengan selamat?”
“Tak usah kuatir, sekarang juga akan kulaporkan soal ini kepada Kokcu, tempat
tinggal kalian pun harus diatur lagi dengan sebaiknya . . . . .”
Kemudian dengan penuh kebencian serunya lagi, “Yu Ji-nio juga kurang ajar sekali,
tujuan Kokcu mempersilakan kalian tinggal dalam penjara adalah untuk mencegah
agar pihak Tiang-lo-wan jangan mengacau, ternyata dia malah berani memasukkan
Hoa Jin dalam penjara!”
“Dalam peristiwa ini jangan kau tegur Yu Ji-nio, sebab Hoa Jin menyusup masuk
secara diam-diam di tengah malam buta, mungkin juga ia sudah atur orangnya dalam
penjara, Yu Ji-nio sama sekali tidak tahu akan perbuatannya.”
“Akan kuperiksa, hmm, lihat saja akibatnya nanti,” dengus Pui Hui-ji.
“Bila nona ingin melakukan pemeriksaan, aku mempunyai suatu akal bagus,” kata
Leng-hong sambil tertawa.
“Oya?! Akal apa?”
“Nona Pui, kejadian tanpa bukti ini sulit diperiksa, jika kauingin memeriksanya harus
mempunyai bukti yang jelas, kalau tidak, memukul rumput mengejutkan ular,
akibatnya mala kurang baik.”
“Maksudmu . . . . .”
“Sepulangnya dari sini nanti nona jangan bicara apa-apa, hari ini atau besok kukira
Hoa Jin pasti akan kembali lagi ke sini, jika diam-diam nona bersembunyi dalam
ruangan Hui Beng-cu, kan dapat memergokinya?”
“Ya, ini memang akal bagus!” seru Pui Hui-ji gembira.
“Cuma, nona mesti perhatikan dua hal, pertama harus datang secara diam-diam,
jangan sampai ketahuan penjaga penjara, bila perlu Yu Ji-nio juga harus dikelabui.”
“Soal ini gampang!” Pui Hui-ji manggut-manggut.
“Kedua, kau harus membawa kunci kamar penjara, setelah bersembunyi dalam kamar
Beng-cu pintu terali besi harus dalam keadaan terkunci, maka setelah Hoa Jin datang
ia akan langsung menuju ke kamar nomor tiga di mana aku berada. Nah, tiba

waktunya nanti nona boleh keluar dari kamar nomor satu secara tiba-tiba, adang dulu
jalan mundurnya kemudian baru memergokinya, bukankah kau segera akan
menangkap basah padanya?”
Pui Hui-ji manggut-manggut, “Baik, kita laksanakan menurut cara usulmu.”
“Menurut apa yang kuketahui,” kata Leng-hong lebih lanjut, “setiap petang para
penjaga bergilir makan malam, penjagaan waktu itu agak mengendur, maka
pergunakanlah kesempatan itu untuk menyusup ke sini, tengah malam nanti Hoa Jin
tentu masuk perangkap.”
Pui Hui-ji mengangguk tanda setuju.
“Nona Pui, dengan rencana kita ini berarti aku telah memutuskan hubungan dengan
Tiang-lo-wan, setelah urusan berhasil jangan kau ingkar janji, dan terus menerus
menganggap kami sebagai tawanan......”
“Jangan kuatir, pasti akan kusampaikan hal ini kepada Kokcu, tanggung tak akan
merugikan kalian.”
Selesai berunding, Pui Hui-ji mengantar Leng-hong pulang ke penjara, sementara ia
sendiri pergi melakukan persiapan.
Sekembalinya ke kamar, Leng-hong menceritakan semua kejadian itu kepada Pang
Goan dan Hui Beng-cu, diam-diam ketiga orang itupun melakukan persiapan.
------------------------------
Malam itu Pui Hui-ji benar-benar telah menyusup ke dalam penjara secara diamdiam.
Ia masih mengenakan baju merah bersulam benang putih, persis dandanan para gadis
penjaga penjara, tidak ketinggalan iapun membawa golok panjang.
Cahaya lampu dalam penjara amat suram, ketika ia membuka pintu terali kamar
nomor satu dan menyusup pintu, Hui Beng-cu sudah menanti di pinggir pintu sambil
menegur, “Apa nona Pui di situ?”
Pui Hui-ji mengiakan, baru saja dia akan menutup pintu, Hui Beng-cu telah menarik
tangannya sambil berseru, “Cepat bersembunyi di dalam!”
Pui Hui-ji merasa pergelangan tangannya mendadak menjadi kaku, menyusul
kemudian jalan darah Ki-bun-hiat di bawah iganya disodok oleh sikut keras-keras, tak
sempat mengeluh lagi ia roboh tak sadarkan diri.
Dengan tangan kiri Hui Beng-cu merampas anak kunci, tangan kanan menyambar
tubuh Pui Hui-ji, dengan setengah memondong setengah menyeret ia membawanya ke
tepi pembaringan, membungkusnya dengan selimut dan dimasukkan ke kolong
ranjang, setelah itu disodorkan anak kunci itu lewat terali besi kepada Ho Leng-hong .
. . . .

Dalam waktu singkat suasana dalam penjara pulih kembali dengan tenang, siapapun
tidak menyangka dalam penjara telah bertambah dengan seorang, siapapun tidak
mengetahui kalau kunci pintu penjara telah terbuka.
Selesai bersantap para penjaga masuk melakukan pemeriksaan, keadaannya tidak
berbeda dengan keadaan biasa.
Mendekati tengah malam, Ho Leng-hong mengetuk dinding kiri dan kanannya,
ketiga orang itu lantas bangun, membuka pintu terali besi dan tanpa membuang
banyak tenaga menutuk jalan darah kedua gadis penjaga malam yang tertidur,
kemudian menyeret mereka ke dalam kamar penjara.
Hui Beng-cu melucuti pakaian luar gadis-gadis itu, dua di antaranya diberikan
kepada Ho Leng-hong dan Pang Goan, sedang ia sendiri mengenakan baju merah
bersulam benang putih milik Pui Hui-ji, dengan memegang golok panjang
berangkatlah mereka meninggalkan penjara.
Pui Hui-ji dan kedua gadis penjaga tersekap dalam penjara.
Sepanjang perjalanan dari penjara mereka tidak menjumpai alangan apa-apa, ketiga
orang itu mempercepat langkahnya, tak lama kemudian sampailah di depan gedung
Yu-tim-cing-sih.
“Tempat tinggal Tong Siau-sian tentu dijaga ketat,” bisik Pang Goan kemudian, “kita
butuh Wan-kun sebagai penunjuk jalan. Tunggulah kalian di sini, akan kutemui Wankun
lebih dulu.”
“Berhati-hatilah Lotoako, mungkin saja demi keselamatan anaknya, Wan-kun tak
mau menempuh bahaya, bila perlu kita paksa dia untuk menyetujui pendapat kita!”
“Aku mengerti!” Pang Goan lantas maju mengetuk pintu.
Ketika ketukan diulangi sampai ketiga kalinya baru terdengar suara Pang Wan-kun
tanya dari dalam, “Siapa?”
Pang Goan memberi tanda agar kedua rekannya bersembunyi, kemudian sahutnya
lirih, “Wan-kun, cepat buka pintu, aku, Toako!”
Agaknya Wan-kun sangat terkejut, serunya, “Toako? Kenapa kau bisa . . . . . .”
“Jangan banyak bertanya dulu, cepat buka pintu dan membiarkan aku masuk!”
Dalam ruangan terjadi sedikit kegaduhan, menyusul pintupun lantas terbuka.
Dengan cepat Pang Goan menyusup masuk ke dalam ruangan, lalu menutup pintu,
bisiknya, “Wan-kun, benahi barangmu, mari ikut Toako pergi mencari Tong Siau-sian
untuk menolong anakmu!”
Rambut Wan-kun tampak kusut, agaknya baru bangun tidur, dengan melenggong ia

awasi Pang Goan, lalu tanyanya dengan terperanjat, “Toako, kenapa kau bisa sampai
di sini? Hanya kau seorang diri?”
“Kita tak dapat pasrah nasib, maka dengan menyerempet bahaya kami kabur dari
penjara, sengaja kujemput dirimu agar kita bisa kabur bersama, Leng-hong dan Siaucu
sudah menunggu di luar, ayo cepat berganti pakaian.”
“Kalian ingin kabur dari Mi-kok ini?”
“Benar, kamipun bermaksud menangkap Tong Siau-sian, menolong anakmu,
kemudian kita kabur bersama!”
“Tidak. Tidak mungkin!” Wan-kun menggeleng kepala berulang kali, “kalian tak
mungkin bisa lolos dari cengkeraman mereka, sekalipun berhasil kabur dari lembah
Mi-kok, tak mungkin bisa lolos dari Tay-pa-san. Toako, dengarkan baik-baik
perkataanku, jangan kaulakukan perbuatan bodoh ini . . . .”
“Asal Tong Siau-sian berhasil kita tangkap sebagai sandera, siapa yang berani
mengalangi kita?”
“Jangan bermimpi di siang bolong, penjagaan di tempat kediaman Kokcu sangat
ketat, ilmu silat Tong Siau-sian tiada tandingannya, jelas jalan yang kalian tempuh tak
mungkin bisa tertembus.”
“Sekalipun tidak tembus juga harus dicoba, sekarang kita sudah lolos dari penjara,
apakah mesti kembali lagi ke sana? Sekalipun kami bersedia kembali, tidak mungkin
Tong Siau-sian akan melepaskan kami lagi, bagaimanapun hanya ada jalan kematian
bagi kita, daripada pasrah nasib kenapa tidak menyerempet bahaya untuk mencari
hidup?”
“Kalau kaukembali ke penjara belum tentu mati, sebaliknya jika melarikan diri dari
lembah ini hanya kematian saja yang bakar kalian terima.”
“Kami lebih suka terbunuh waktu kabur daripada duduk menanti kematian, Wan-kun,
jangan banyak bicara lagi, cepat benahi barang-barangmu dan kita kabur bersama.”
“Tidak, aku tak dapat melarikan diri, sebab perbuatanku ini akan menyusahkan
anakku sendiri, bila aku bisa kabur sudah semenjak dulu-dulu aku kabur, kenapa
menunggu sampai sekarang? . . . .” kata Wan-kun sambil geleng kepala berulang kali.
“Tapi keadaannya sekarang bagaikan anak panah di atas busur, sekalipun harus
pertaruhkan jiwa raga akan kami selamatkan juga anakmu, apa lagi yang perlu
disangsikan?”
Sementara itu pintu diketuk orang, menyusul suara Hui Beng-cu menegur, “Pangtoako,
waktu sudah mendesak, cepat suruh Toaci berangkat.”
“Wan-kun, kau mau kabur tidak?” seru Pang Goan dengan suara tertahan.
“Aku bukannya tak mau kabur, oleh karena aku terlampau paham keadaan Mi-kok

ini, maka kutahu bahwa harapan untuk kabur tak ada, sebab kita tak mungkin bisa
lolos.”
“Baik!” kata Pang Goan sambil mencabut goloknya, “Thian-po-hu cuma mempunyai
seorang anak, Cian-sui-hu juga Cuma kita berdua, bila kau tak mau kabur mengikuti
aku, demi menyelamatkan putera dari keluarga Nyo, sekarang juga akan kugorok
leherku agar semua orang tak perlu kabur lagi.”
Cepat-cepat Wan-kun memeluk tangan sang kakak yang memegang golok itu,
kemudian berkata sambil menangis, “Toako, kenapa kau mengucapkan kata-kata
semacam itu? Aku bukannya tak mau kabur, aku kuatir jika kita gagal.”
“Siapa tahu di tengah kegagalan akan kita jumpai jalan hidup? Kita sudah bertekad
untuk berjuang mati-matian, darimana kautahu kita tak akan berhasil?”
“Soal ini bukan soal tekad, ilmu silat Tong Siau-sian sangat tinggi, kita semua bukan
tandingannya.”
“Kita hadapi mereka dengan akal dan hindari kekerasan, sekalipun ilmu silatnya
lebih tinggi juga tak perlu kuatir.”
Wan-kun termenung sejenak, akhirnya dengan perasaan apa boleh buat ia menarik
napas panjang, “Ai, baiklah, kalian tunggulah sebentar di luar.”
Pang Goan menyahut dengan gembira, ia segera mengundurkan diri ke luar ruangan.
“Apakah ia bersedia?” Leng-hong segera menyongsong kedatangan Pang Goan
sambil bertanya.
Pang Goan mengangguk, “Mula-mula ia tak mau, setelah kugunakan siasat menyiksa
diriku sendiri, akhirnya dia mau juga.”
“Dalam perjalanan kita dari sini menuju kediaman Tong Siau-sian mungkin akan kita
jumpai pengadangan, sebentar biar Beng-cu berjalan bersamanya, sedang kita
mengikutinya secara diam-diam.”
“Kalau begitu kita buka pakaian penjara ini, seorang laki-laki sejati harus
mengenakan pakaian perempuan, wah, betul-betul runyam.”
“Sekarang kita belum boleh melepaskannya, paling sedikit harus tunggu setelah
berhasil kabur dari lembah ini . . . . .”
Dalam pada itu Wan-kun telah selesai berdandan dan keluar dari ruangan.
Yang dimaksud berdandan masih tetap memakai baju merah tanpa sulaman itu,
bertangan kosong tanpa membawa apa-apa, bahkan senjata pun tidak membawa.
Ketika Ho Leng-hong menjelaskan siasatnya, Wan-kun menggeleng kepala, katanya,
“Tidak perlu, kalian semua ikuti saja diriku, bila ada pengadangan aku yang akan
menghadapinya, tapi semua orang tak boleh membawa senjata.”

“Andaikata terjadi hal-hal di luar dugaan dan pertarungan berkobar . . . . .”
Wan-kun tertawa getir, “Ilmu golok Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok adalah kepandaian
yang tiada tandingannya di dunia ini, seandainya benar-benar terjadi pertarungan, apa
pula gunanya membawa golok? Bukan saja mudah menimbulkan kecurigaan orang,
pun tak ada manfaat apa-apa, umpama memerlukan senjata, di manapun bisa kalian
dapatkan, kenapa mesti membawanya dari sini?”
Ketiga orang itu merasa ucapan tersebut ada benarnya juga, terpaksa mereka
lepaskan golok dan disembunyikan di Jut-tim-cing-sih.
Pang Wan-kun membawa ketiga orang itu menuju ke ruang tengah di mana Kokcu
berdiam, setelah melewati serambi, ia masuk ke gedung tengah tanpa sembunyisembunyi,
sekalipun di tengah jalan mereka bertemu dengan gadis-gadis peronda
malam, karena semuanya kenal pada Pang Wan-kun, maka setelah saling menyapa
dengan tertawa mereka berlalu dengan begitu saja, sama sekali tidak ada pemeriksaan
apa-apa.
Tapi Ho Leng-hong dan Pang Goan yang menyaru sebagai perempuan merasa
jantungnya berdebar karena tegang, sepanjang jalan mereka hanya menundukkan
kepala dengan peluh dingin membasahi telapak tangan.
Setelah masuk ke ruang tengah, mendadak penjagaan di situ tambah ketat dan rapat.
Di pintu masuk tampak berdiri seorang gadis bergaun merah dengan sulaman benang
putih memimpin empat orang gadis lainnya melakukan penjagaan, di bawah beranda
dan di balik semak bunga sana tampak juga ada penjaga, seluruh halaman tersebut
telah dijaga dengan ketatnya.
Setelah menyaksikan semua itu, Pang Goan baru percaya pada perkataan Wan-kun,
bila ingin menangkap Tong Siau-sian dengan kekuatan mereka bertiga, sungguh
perbuatan yang bodoh.
Tentu saja penjagaan semacam ini bukan khusus ditujukan untuk menghadapi
mereka, tapi penjagaan terhadap serangan mendadak dari pihak Tiang-lo-wan.
Entah apa yang dibisikkan Wan-kun kepada gadis bersulam benang putih penjaga
pintu itu, tiba-tiba anak dara itu memperhatikan Pang Goan bertiga, kemudian sambil
tertawa katanya, “Baiklah, suruh mereka masuk ke serambi dan menunggu di situ,
tapi tak boleh sembarangan lari.”
“Sudah kalian dengar?” kata Wan-kun, “istirahat dulu di serambi sana, jangan
sembarangan pergi, aku akan segera lapor kepada Kokcu.”
Ho Leng-hong bertiga tak berani buka suara, dengan kepala tertunduk mereka masuk
ke dalam.
Ketika melewati ruangan, beberapa orang gadis penjaga sama menutupi mulut dan
tertawa cekikak-cekikik, dan sekalipun mereka sudah tiba di bawah serambi, gadisKoleksi
Kang Zusi
gadis penjaga itu masih mengawasi dari kejauhan sambil berbisik-bisik dan tertawa
geli.
Berdiri bulu roma Leng-hong menyaksikan tertawa mereka, bisiknya, “Lotoako,
tampaknya keadaan kurang beres, agaknya dayang-dayang itu sudah mengetahui
rahasia kita.”
“Akupun merasa gelagat kurang beres, jangan-jangan Wan-kun telah membocorkan
rahasia kita,” kata Pang Goan.
“Ya, hal ini sukar untuk dikatakan,” sambung Hui Beng-cu, “dia memang tidak
setuju dengan rencana kita, sebelum datang iapun suruh kita jangan membawa
senjata, entah apa yang direncanakannya.”
“Tidak mungkin, hal ini tidak mungkin,” bisik Pang Goan segera, “dia adalah adikku,
tak mungkin mengkhianati kita.”
Tiba-tiba Ho Leng-hong menghela napas panjang, “Ai, jika ia berkeras hendak
mengkhianati kita, terpaksa kita harus menghadapi kenyataan....”
Pang Goan merasa ucapan tersebut aneh sekali nadanya, ketika mengikuti arah
tatapannya, kontan hatinya tercekat....
Entah sejak kapan, dua orang telah berdiri di pintu, ternyata mereka adalah Pui Hui-ji
dan Yu Ji-nio.
Suara langkah manusia berkumandang juga dari kiri-kanan serambi, menyusul
kemudian muncul dua baris pasukan anak perempuan bersenjata lengkap.
Tak lama kemudian, pintu ruang tengah terbuka lebar dan muncul Tong Siau-sian
diiringi oleh Pang Wan-kun.
Kontan Pang Goan naik darah, sambil melotot dengan penuh kebencian serunya,
“Beginikah hubungan erat seorang adik dengan kakak kandungnya?”
Dengan perasaan malu Wan-kun menunduk kepala rendah-rendah, katanya lirih,
“Toako, jangan salahkan aku, kalian tak akan berhasil melarikan diri dari sini . . . .”
Pang Goan membentak gusar dan menerjang ke sana.
Tapi sebelum sempat berbuat sesuatu, cahaya tajam berkilauan, menyusul dua bilah
golok panjang telah mengadang di depannya, serentak gadis lain di bawah serambi
pun melolos senjatanya.
Tong Siau-sian tersenyum, katanya, “Lebih baik kalian bertiga kembali saja, kami
anggap peristiwa malam ini sebagai tak pernah terjadi, janji yang tempo hari masih
tetap berlaku, aku tak akan bikin susah kalian bertiga.”
Tentu saja Pang Goan mengerti bahwa ucapan tersebut cuma basa-basi, justru
lantaran golok mestika Yan-ci-po-to belum berhasil didapatkan, maka Tong Siau-sian

harus bersikap sungkan, coba kalau tidak begitu, tak akan ramah begini sikapnya.
Tapi persoalan telah berkembang menjadi begini, dalam keadaan tanpa senjata jelas
tak mungkin bagi mereka untuk menerobos keluar lembah Mi-kok.
Gusar dan gemes Pang Goan, ditatapnya Wan-kun dengan mata melotot, kalau
mungkin dia hendak menelan adiknya bulat-bulat.
Ternyata Leng-hong jauh lebih berlapang dada, sambil angkat bahu dan tertawa
katanya, “Lebih baik Kokcu perkuat penjagaan dalam penjara, kalau perlu terali
basinya dipertebal beberapa kali lipat, sebab kalau tidak kami masih tetap akan
berusaha untuk kabur.”
“Kau anggap masih ada kesempatan untuk kabur?” ejek Tong Siau-sian.
“Setiap kesempatan yang ada adalah hasil usaha manusia, kami sudah jemu terhadap
pelayanan dalam penjara setiap saat mungkin kami akan mengubah suasananya.”
“Kalian tak akan melakukan perbuatan bodoh lagi, dan pihak kamipun tak akan
memperkenankan kalian melanggar kesalahan yang sama untuk kedua kalinya,” ucap
Tong Siau-sian sambil tertawa.
Leng-hong tidak berkata lagi, setelah menjura ia berjalan keluar lebih dahulu.
Pang Goan masih melotot dengan penuh kegusaran, ia masih penasaran, Hui Beng-cu
segera mendorongnya sambil berbisik, “Pang-toako, mari kita pergi! Mungkin Toaci
mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan.”
Pang Goan menggeleng sambil mendengus, kemudian putar badan dan berlalu.
Yu Ji-nio dan Pui Hui-ji mengiringi ketiga orang itu, selain mereka ada lagi delapan
orang gadis bersenjata yang mengiringi mereka dari kiri-kanan.
Rupanya amarah yang berkobar dalam dada Pang Goan belum reda, ia lupa Hui
Beng-cu mengikut di belakang, dengan gemas ia berseru, “Hmm, perempuan tetap
perempuan, tak bisa diajak berunding untuk urusan besar!”
Hui Beng-cu tahu orang sedang menjongkok, maka iapun cuma tertawa saja tanpa
memberi komentar.
“Aku tidak setuju dengan perkataanmu,” kata Leng-hong sambil tertawa, “Sebetulnya
perempuan adalah partner yang baik, bergantung berapa banyak kebaikan yang bisa
kauberikan kepadanya, dan berapa besar keuntungan yang dapat ia raih? Yu Ji-nio
betul tidak perkataanku ini?”
“Aku tidak tahu!” jawab Yu Ji-nio ketus tanpa berpaling.
“Tentu saja sekarang kaubilang tidak tahu, tapi kemarin mengapa kau kelihatan
gembira sewaktu kuberitahukan kepadamu bahwa kau hendak diangkat menjadi
Tianglo oleh pihak Tiang-lo-wan?”

Mendadak Yu Ji-nio berhenti, lalu menegur dengan suara dalam, “Hei, kau ngacobelo
apa?”
“Sekarang urusan sudah lewat,” kata Leng-hong sambil tertawa, “apa salahnya kalau
disinggung lagi? Tentu saja ucapanku itu hanya membohongi kau, tapi waktu itu kau
telah menganggapnya sebagai sungguh-sungguh.”
Yu Ji-nio marah sekali, katanya, “Selama kalian masih berada dalam penjara, aku
selalu melayani kalian secara baik-baik, kenapa kau memfitnah diriku dengan katakata
yang tak senonoh?”
“Baiklah, tidak kusinggung lagi, kenapa marah, kalau aku bermaksud memfitnahmu,
ketika berada di hadapan Kokcu tadi tentu kuungkapkan masalah ini, buat apa
menunggu sampai sekarang?”
Tak terlukiskan rasa gusar Yu Ji-nio, tapi pada dasarnya ia berlidah kaku dan tak
pandai bicara, sesaat ia tak tahu apa yang harus dikatakan, terpaksa sambil
menggertak gigi ia bungkam saja.
Pui Hui-ji yang berada di belakangnya segera berteriak, “Orang she Ho, kuharap kau
bersikap lebih jujur, Yu Ji-nio selalu setia kepada Kokcu, jangan mimpi kau akan
meretakkan hubungan kami.”
“Baik, anggap saja tanpa sengaja aku hendak meretakkan hubungan kalian!” kata
Leng-hong sambil merentangkan tangan, “untung kata-kata yang terucapkan dari
mulut bagaikan angin lalu, siapapun tak bisa membuktikannya. Cuma, sebagai orang
pintar seharusnya bisa berpikir, andaikata tak ada permainan, mana bisa kau
menyusup ke dalam penjara segampang itu . . . . .”
Belum habis kata-katanya, Yu Ji-nio tidak tahan lagi, segera ia mencabut goloknya.
“Hei, mau apa kau?” Leng-hong mundur beberapa langkah sambil menegur dengan
serius, “apakah kau hendak membunuh orang untuk melenyapkan saksi?”
“Kau..... kau binatang!” bentak Yu Ji-nio marah.
Pada dasarnya dia memang tidak pandai bicara, apalagi setelah gusar, ia semakin tak
tahu makian apa yang pantas dilontarkan, maka begitu membentak, golok panjang
secepat kilat menyambat tubuh bagian bawah Ho Leng-hong.
Tindakan tersebut mencerminkan bahwa ia masih jeri akan sesuatu kendatipun
kesadarannya hampir terpengaruh oleh emosi, meskipun ia sangat benci pada Ho
Leng-hong, namun tidak berani sungguh-sungguh membunuhnya, maka tabasan itu
dituju pada bagian tubuh yang tidak berbahaya sebagai pelampiasan rasa gemasnya.
Ho Leng-hong pun telah menduga orang tak akan berani membunuh, maka sambil
pura-pura takut ia menjerit lalu melarikan diri terbirit-birit . . . . .
Baru dia menyingkir, cahaya golok berkilauan dan . . . . . “trang!” tahu-tahu serangan

Yu Ji-nio tertangkis.
“Ji-nio!” Pui Hui-ji membentak dengan menarik muka, “ketiga orang ini adalah tamu
Kokcu kita, bila kaulukai mereka, siapa yang akan bertanggung jawab bila Kokcu
menegur nanti?”
“Tapi dia . . . dia terlalu menjengkelkan . . . .” seru Yu Ji-nio dengan marah
“Ia bicara sendiri. Asal kau tidak merasa berbuat, kenapa orang hendak kaubunuh
untuk membungkam mulutnya?”
“Benar!” cepat Leng-hong menyambung, “aku tak akan memberitahukan hal ini
kepada Kokcu, kenapa kau kuatir?”
Kata-kata tak sedap itu semakin mengobarkan amarah Yu Ji-nio, saking tidak tahan
tiba-tiba ia menjadi nekat, teriaknya, “Minggir kau! Akan kubunuh binatang ini lebih
dulu baru kemudian menerima hukuman dari Kokcu.”
Sambil menjerit, golok panjang segera bergetar, dalam waktu singkat ia sudah
melancarkan tiga-empat bacokan ke arah Pui Hui-ji.
Sambil menangkis ancaman itu, Pui Hui-ji membentak pula kepada delapan orang
gadis di sisinya, “Yu Ji-nio berani membangkang perintah dan mengkhianati kita,
tangkap dia!”
Kedelapan anak dara tersebut mengiakan dan serentak mengangkat senjatanya.
Yu Ji-nio semakin marah, bentaknya, “Kurang ajar, kalian berani turut perintah
seorang pengawal barisan Pek-tui dan mengerubungi seorang anggota pasukan
berbenang biru?”
Kedelapan orang itu saling pandang sekejap, betul juga, tak seorang pun berani maju.
Peraturan dalam Mi-kok amat ketat dan disiplin, sekalipun Pui Hui-ji adalah orang
kepercayaan Kokcu, namun ia cuma seorang pengawal bersulam benang putih,
sebaliknya Yu Ji-nio adalah komandan pasukan benang biru, kedudukannya jauh
lebih tinggi daripada Pui Hui-ji, apalagi kedelapan anak dara tersebut termasuk
pasukan “Benang putih”, tingkatan mereka justru jauh di bawah Yu Ji-nio.
Sementara kedelapan anak dara itu ragu-ragu, mendadak Ho Leng-hong membentak,
“Mau apa kalian berdiri tertegun di situ? Yu Ji-nio sudah gila, cepat laporkan kepada
Kokcu kalian.”
Setelah diingatkan barulah anak dara itu sadar, segera ada tiga-empat orang lari ke
ruang tengah untuk memberi laporan.
Tiga-empat orang lainnya hanya berdiri tertegun di tempat dengan bingung, tidak
tahu siapa yang harus dibantu?

Dalam pada itu antara Yu Ji-nio dengan Pui Hui-ji telah bertarung belasan gebrakan,
cahaya golok gemerdep menyilaukan mata.
Ho Leng-hong memberi tanda kedipan mata kepada Pang Goan dan Hui Beng-cu,
tiba-tiba ia mendekati seorang anak dara bergolok dan membentak, “Berikan
senjatamu kepada! Kaumundur ke samping sana!”
Waktu itu anak dara itu sedang berdiri dengan wajah cemas, ketika mendengar
bentakan tersebut, tanpa berpikir lagi dia segera mengangsurkan goloknya kepada Ho
Leng-hong.
Pang Goan dan Hui Beng-cu bersama-sama juga mendekati dua anak dara lainnya
dan mengambil golok mereka, namun kedua gadis tersebut kelihatan ragu-ragu.
Akan tetapi ketika mereka lihat rekannya sudah menyerahkan goloknya kepada Ho
Leng-hong, dan rupanya tindakan itu tidak keliru, akhirnya mereka pun serahkan
goloknya kepada kedua orang itu.
Setelah senjata dalam genggaman, Leng-hong bertiga merasa semangat kembali
berkobar.
Leng-hong yang bertindak lebih dulu, sambil memutar goloknya ia terjun ke tengah
gelanggang pertempuran.
Jurus ilmu golok yang digunakan persis seperti ilmu golok Ang-siu-to-hoat yang
dimainkan Yu Ji-nio, sedang sasarannya adalah Pui Hui-ji.
Tentu saja kejadian ini sangat mengejutkan Pui Hui-ji, cepat teriaknya, “Hei, Ho
Leng-hong, kau salah sasaran . . . . . .”
“Tidak, aku tidak salah sasaran,” jawab Leng-hong sambil tertawa, “setelah
membereskan dirimu, barulah kami bereskan dia!”
Sambil berkata, golok berputar terus menyerang gadis itu dengan dahsyatnya.
Untuk melawan Yu Ji-nio saja Pui Hui-ji sudah kewalahan apalagi sekarang
bertambah dengan seorang Ho Leng-hong, ia semakin kepayahan dan tak tahan,
karena gugup, permainan goloknya menjadi kacau, segera Leng-hong manfaatkan
kesempatan itu, sekali sabat goloknya tepat mengenai lutut kanan gadis itu.
Untung serangan tersebut dilancarkan dengan punggung golok, Pui Hui-ji mengeluh
tertahan, kemudian roboh terjungkal.
Setelah berhasil dengan serangannya, Ho Leng-hong berpaling ke arah Yu Ji-nio dan
berkata sambil tertawa, “Terima kasih banyak atas kesempatan yang kauberikan
kepada kami untuk merebut golok, sekarang dosa mengkhianati lembah sudah pasti
akan dituduhkan padamu, setelah kepergian kami, kaupun tak nanti bisa hidup aman,
lebih baik ikut kami dan pergi bersama, tempat di dunia luar sangat luas, asal kau mau
ikut kami, tanggung kau akan hidup senang bahagia . . . . .”

“Tutup mulut!” bentak Yu Ji-nio, “kau binatang, masih belum cukupkah penderitaan
yang kaulimpahkan padaku?”
“Walaupun aku pernah mencelakaimu, akupun telah menolongmu, jadi boleh
dibilang sudah impas dan masing-masing tidak berutang kepada yang lain, jika kau
tidak ikut kami pergi, bila Tong Siau-sian sampai di sini, semua dosa ini pasti akan
dilimpahkan oleh budak Pui ke atas pundakmu, waktu itu meski menyesal juga sudah
kasip.”
“Aku dapat menangkap kalian dan menjelaskan semua duduknya perkara di hadapan
Kokcu.”
Ho Leng-hong tertawa, katanya, “Kaukira tiba waktunya nanti aku akan bantu bicara
untukmu? Gadis-gadis pengawal itu semuanya menyaksikan cara bagaimana kubantu
kau membereskan Pui Hui-ji, sekalipun kau memiliki tiga mulut juga sukar
mengharap Tong Siau-sian akan percaya pada keteranganmu.”
Yu Ji-nio bungkam, sebab apa yang diucapkan Leng-hong memang benar, tapi ia
dilahirkan di Mi-kok, dibesarkan juga dalam lembah tersebut, sesungguhnya ia
merasa berat hati untuk mengkhianati lembah kesayangannya itu, tetapi kalau tidak
pergi berarti dia bakal menanggung dosa besar, semua ini membuat hatinya menjadi
bingung.
“Waktu sudah sangat mendesak sekali,” kembali Ho Leng-hong berkata, “jika kau
tak mau ikut, kami akan segera berangkat!”
Tiba-tiba Pui Hui-ji meronta bangun berduduk di tanah, bentaknya, “Yu Ji-nio, kalau
kauberani melepaskan ketiga orang itu, pasti perbuatanmu kulaporkan kepada Kokcu
agar kau merasakan siksaan hidup yang paling kejam di dunia.”
Sebenarnya Yu Ji-nio masih ragu-ragu untuk mengambil keputusan, tapi setelah
mendengar ancaman tersebut, kontan saja sekujur tubuhnya bergetar keras, bulu
kuduknya pada berdiri, segera iapun mengambil keputusan.
Tiba-tiba ia membalikkan mata goloknya yang tajam ke dada Pui Hui-ji dan
menusuknya hingga tembus ke punggung.
Di antara percikan darah yang berhamburan, terdengar ketiga gadis pengawal itu
menjerit kaget.
Dengan ujung golok yang masih berlumuran darah, Yu Ji-nio menuding mereka
sambil membentak, “Kalian budak sialan, biasanya kalian sok menggunakan
kekuasaan Kokcu untuk berbuat sewenang-wenang, sudah cukup penderitaan yang
kurasakan, tapi mengingat kalian adalah sesama saudara seperguruan, kuampuni jiwa
kalian, cepat enyah!”
Tanpa sepotong besipun di tangan, gadis-gadis pengawal itu tidak dapat berkutik,
terpaksa mereka turut perintah dan cepat kabur dari situ.

Rupanya Ho Leng-hong tidak mengira Yu Ji-nio bakal turun tangan kejam kepada
Pui Hui-ji, sambil tertawa katanya, “Ji-nio, sekarang kita adalah kawan senasib,
padahal jalan dalam Mi-kok tidak kami ketahui dengan jelas, cara bagaimana supaya
bisa lolos dengan selamat, harap Ji-nio suka memberi petunjuk.”
Yu Ji-nio mendongak kepala sambil menarik napas panjang, katanya kemudian,
“Kalian ikut diriku!”
Dengan mengikut di belakang Yu Ji-nio, dalam sekejap saja Ho Leng-hong bertiga
telah melewati beberapa halaman luas, ternyata arah perjalanan mereka bukan menuju
ke mulut lembah, sebaliknya malah kabur ke timur, menuju ke bangunan gedung
sebelah timur itu.
“Yu Ji-nio!” Pang Goan menegur dengan suara tertahan, “kami hendak ke luar
lembah kenapa kaubawa kami ke tempat tinggal mereka?”
“Tanda bahaya dengan cepat akan tersiar sampai di mana-mana, kini mulut lembah
sudah tertutup, hakikatnya tak mungkin buat kita untuk menerobos keluar lagi.”
“Lantas apa yang harus kita lakukan sehingga bisa lolos dari cengkeraman mereka?”
“Dewasa ini kita tidak mempunyai cara kabur yang terbaik, maka sengaja kubawa
kalian ke suatu tempat dan sementara bersembunyi di situ, dan menunggu
kesempatan.....”
“Tidak bisa,” cepat Pang Goan berhenti, “Malam ini kita harus menerjang keluar
lembah ini, jika bersembunyi terus dalam lembah, cepat atau lambat jejak kita pasti
akan ketahuan.”
“Ya, jika kau tidak bersedia menjadi penunjuk jalan, kami bisa berusaha sendiri,”
sambung Hui Beng-cu.
Yu Ji-nio tertawa dingin, “Hehe . . . jika kalian tidak mau menurut nasihatku,
akibatnya hanya satu, yakni pulang kembali ke dalam penjara.”
Ho Leng-hong segera menggoyang tangan mencegah Pang Goan dan Hui Beng-cu
berkata lebih jauh, sambil tertawa katanya, “Ji-nio, sekarang kita adalah kawan
senasib dan sependeritaan, tentu saja kami akan menuruti anjuranmu, tapi sepantasnya
kaupun membeberkan rencanamu kepada kami, agar kami ikut tahu juga duduk
persoalan yang sebenarnya.”
“Sudah kukatakan kepada kalian tadi, tak mungkin buat kabur pada saat ini,
sementara kita mesti bersembunyi dulu sambil menunggu kesempatan.”
“Kau hendak mengajak kami bersembunyi di mana? Beberapa lama kita harus
menyembunyikan diri?”
“Menurut apa yang kuketahui, di sudut timur gedung sana terdapat sebuah taman,
dalam taman, terdapat gunung-gunungan, mari kita bersembunyi dalam gua di balik
gunung-gunungan tersebut, tentang berapa lama, ini bergantung pada keadaan

selanjutnya.”
“Setiap gua dalam gunung-gunungan tentu tak luput dari pemeriksaan, amankah
tempat itu?”
“Tentu saja sangat aman.”
“Kenapa?” tanya Leng-hong.
“Sebab taman itu terletak di ruang sebelah timur, padahal gedung sebelah timur
adalah Tiang-lo-wan. Kokcu tidak akur dengan pihak Tiang-lo-wan, para Popo tak
akan mengizinkan mereka melakukan pencarian kemari.”
Leng-hong berpikir sejenak, kemudian katanya, “Tapi kau harus tahu, para Popo dari
Tiang-lo-wan pun tak akan melepaskan kami dengan begitu saja.”
“Oleh karena itulah sengaja kupilih gedung timur sebagai tempat sembunyi, jejak kita
pasti akan ditemukan oleh Kokcu, setelah dia tahu kita masuk ke gedung timur, tentu
dia akan menaruh curiga jangan-jangan Tiang-lo-wan sengaja melindungi kita, sudah
pasti mereka akan minta orang kepada para Popo, dengan demikian antara Kokcu dan
para Popo akan terjadi perselisihan, bahkan pertarungan. Nah, saat itulah penjagaan di
mulut lembah pasti kendur, lalu kita gunakan kesempatan baik itu untuk melarikan
diri.”
Ho Leng-hong termenung sejenak, kemudian sambil tertawa dia mengangguk,
“Baiklah, kalau begitu kita ikuti saja rencana Ji-nio!”
Karena Ho Leng-hong sudah menyatakan setuju, maka Pang Goan dan Hui Beng-cu
juga tidak banyak komentar.
Mereka lantas menyusup ke gedung sebelah timur dan bersembunyi dalam gua di
balik gunung-gunungan, sepanjang perjalanan, karena dipimpin oleh Yu Ji-nio, maka
jejak mereka tidak konangan.
Sesungguhnya gua dalam gunung-gunungan itu tidak termasuk tempat
persembunyian yang rahasia, tapi berhubung termasuk dalam lingkungan pengaruh
Tiang-lo-wan dan lagi tidak setiap orang boleh masuk ke sana, maka suasana amat
tenang.
Setelah beristirahat sebentar, haripun sudah terang, dalam taman mulai terdengar
suara langkah kaki para Popo yang sedang berjalan-jalan dan berlatih kungfu, tidak
ada yang menyangka di dalam gua, di balik gunung-gunungan bersembunyi
sekelompok pelarian.
Mendekati lohor, suara manusia di luar kedengaran makin bertambah ramai, tapi
suasana dalam taman justru sepi, tak kelihatan seorang pun, menurut dugaan mereka,
pastilah Kokcu Tong Siau-sian sedang memeriksa jejak kaki yang ditinggalkan
mereka berempat semalam dan sedang menuntut kepada pihak Tiang-lo-wan untuk
melakukan pemeriksaan, sudah barang tentu permintaan ini ditolak oleh para Popo.

Setengah hari kemudian sudah lewat, kini hari mulai gelap lagi, ternyata dalam taman
tidak dilakukan penggeledahan, sedang suasana di luar rasanya dapat diduga biarpun
tidak melihatnya sendiri. Setelah sehari penuh tidak mengisi perut, mereka berempat
mulai merasa lapar sekali.
“Tunggulah kalian di sini dengan tenang,” akhirnya Yu Ji-nio berkata, “aku akan
pergi mencari berita sambil berusaha mencari makanan.”
“Aku ikut!” Leng-hong berkata.
“Mana mungkin? Semua anggota dalam gedung ini adalah kaum perempuan, kalau
kauikut tentu tidak bebas bergerak. Percayalah, dengan cepat aku akan kembali lagi
ke sini.”
“Kalau kaupergi sendirian, bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, siapa yang akan
membawa kabar kemari? Lebih baik nona Hui menemani dirimu.”
Tentu saja Yu Ji-nio juga tahu pemuda itu merasa sangsi bila dirinya pergi seorang
diri, maka Hui Beng-cu disuruh ikut sekalian mengawasi gerak-geriknya. Iapun tidak
menolak, diajaknya Hui Beng-cu meninggalkan gua.
Begitu mereka berangkat, Pang Goan dan Ho Leng-hong mulai mengadakan
perundingan.
Sejak pengkhianatan Pang Wan-kun, tampaknya Pang Goan menaruh curiga terhadap
siapapun, dengan hati yang kusut katanya, “Kulihat perempuan she Yu itu tidak bisa
dipercaya, pada hakikatnya dia tidak ingin meninggalkan Mi-kok, sebaliknya
bermaksud menggabungkan dengan pihak Tiang-lo-wan, dengan kepergiannya ini, ia
pasti mengkhianati kita untuk membuat pahala bagi pihak Tiang-lo-wan.”
“Kemungkinan tersebut tentu saja bisa terjadi, tapi dewasa ini kita masih
membutuhkan bantuannya untuk kabur dari lembah ini, sebagai kawan senasib kita
harus percaya kepadanya, meskipun secara diam-diam kitapun harus waspada dan
siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak dinginkan.”
“Seandainya ia benar-benar mengkhianati kita, menurut kau apa yang harus kita
lakukan?”
Leng-hong tersenyum getir, “Kita cuma bisa berharap agar tidak terjadi apa-apa, tapi
kalau terjadi juga, hanya ada satu cara untuk kita, yakni bertarung mati-matian, kita
tak boleh tertangkap lagi, untung aku telah berhasil menyadap beberapa jurus ilmu
golok mereka, bila sampai terjadi pertarungan, mungkin jurus-jurus ilmu golok ini
akan banyak membantu.”
“Ah, betul, memang hendak kutanyakan masalah ini, semalam ketika kau melabrak
Pui Hui-ji, apakah Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok ini yang kaugunakan?”
“Beberapa jurus serangan itu berhasil kusadap tatkala Yu Ji-nio bertarung melawan
Pui Hui-ji, soal kesempurnaan tentu saja masih jauh, hanya bisa dikatakan dengan
modal beberapa jurus ini kita bisa mengungkap rahasia ilmu golok mereka,

bagaimana kalau kumainkan untuk Lotoako agar bilamana perlu jurus-jurus ilmu
golok ini bisa kita gunakan untuk menghadapi segala kemungkinan?”
“Tunggu sebentar,” cegah Pang Goan sambil menggoyang tangan, “untuk
menghindari segala kemungkinan, lebih baik kita berpindah tempat lebih dulu,
kemudian baru berlatih ilmu golok itu.”
“Berpindah tempat? Kita bisa pindah ke mana?”
“Tempat manapun boleh asal jangan di gua ini, aku selalu merasa bahwa perempuan
she Yu itu tidak bisa dipercaya, lebih baik kita sedia payung sebelum hujan.”
Kedua orang segera merangkak keluar gua, kemudian celingukan keempat penjuru,
namun di sekitar situ tiada tempat lain yang bisa digunakan untuk sembunyi, kecuali
di sudut pintu masuk taman terdapat sebuah gapura batu, belakang gapura dapat
dipakai untuk tempat sembunyi dua orang.
Gapura itu mungkin tugu peringatan ketika membangun taman ini, sebab penuh
berisikan tulisan, akan tetapi Pang Goan tidak berminat mengamatinya, ia menarik Ho
Leng-hong dan buru-buru sembunyi di belakang tempat itu.
Baru saja mereka sembunyi dan belum sempat Leng-hong menerangkan jurus ilmu
golok Ang-siu-to-hoat kepada Pang Goan, tiba-tiba dari luar taman ada suara langkah
orang.
Sebuah lentera muncul disusul dua orang, yang di depan adalah Yu Ji-nio, tapi yang
di belakang bukan Hui Beng-cu.
Yu Ji-nio berjalan dengan wajah murung dan lemas sambil membawa lentera, sedang
orang yang mengikut di belakangnya penuh dihiasi senyuman cerah, ternyata dia
adalah Hoa Jin!
Tidak kepalang murka Pang Goan, ia menggenggam gagang goloknya erat-erat dan
meloloskannya dari sarung.
Ia berusaha keras menenangkan hatinya, apa mau dikata kelima jari tangannya yang
menggenggam golok justru gemetar tiada hentinya, sulit rasanya untuk menenangkan
perasaannya yang bergolak.
Leng-hong juga menggenggam goloknya, Cuma tangan yang lain sekuat tenaga
menekan punggung tangan Pang Goan, itu berarti ia tidak mengharapkan rekannya
bertindak gegabah.
Mengikuti cahaya lentera akhirnya Yu Ji-nio membawa Hoa Jin berhenti di samping
gunung-gunungan.
Hoa Jin memandang sekejap ke arah perempuan itu. Lalu sambil tersenyum bertanya,
“Di sini?”
Yu Ji-nio mengangguk.

Hoa Jin segera berdehem, lalu teriaknya, “Pang-tayhiap, Ho-tayhiap, silakan keluar,
Popo telah menyiapkan meja perjamuan untuk menyambut kedatangan kalian.”
Pang Goan mendengus pelahan, lalu dengan suara tertahan ia mendamprat,
“Perempuan keparat, ternyata dugaanku tidak meleset!”
“Agaknya Beng-cu sudah terjatuh ke tangan mereka, Lotoako, kita harus bertindak
dengan kepala dingin!” bisik Ho Leng-hong.
“Urusan sudah menjadi begini, terpaksa kita harus bertarung sampai titik darah
penghabisan, mari kita jagal dulu kedua perempuan busuk ini.”
“Jangan terburu nafsu,” cegah Leng-hong, “sekalipun hendak beradu jiwa, kita harus
menyelamatkan dulu Beng-cu, mumpung mereka sedang menggeledah gua gununggunungan
itu, mengapa kita tidak masuk ke gedung sana untuk menolong Beng-cu?”
“Betul!” mencorong tajam sinar mata Pang Goan, “kenapa aku tidak berpikir sampai
ke situ?”
Begitulah, setelah mengambil keputusan kedua orang itu segera menyusup keluar
gapura dengan sangat hati-hati, lalu menerobos keluar pintu taman dan percepat
larinya menuju gedung sebelah timur.
Ketika diperiksa, mereka merasa sudah pernah masuk gedung sebelah timur itu,
mereka pun masih ingat arah ruang tengah. Sambil merayap dengan setengah
berjongkok, akhirnya sampai juga mereka di luar ruang tengah.
Sinar lampu menerangi ruangan itu, tapi tidak kedengaran sedikit suara pun, di depan
pintu ruangan juga tidak tertampak sesosok bayangan manusia pun.
Pang Goan coba mengintip melalui jendela, betul juga, sebuah meja perjamuan
dengan aneka hidangan lezat tersedia di sana.
Arak telah memenuhi cawan, sayur masih mengepulkan asap panas, tapi hanya dua
orang yang duduk berhadapan di meja perjamuan ini.
Si tuan rumah adalah Tong-popo, sebaliknya tamunya adalah Hui Beng-cu.
Suasana dalam ruangan amat hening, tidak tampak orang ketiga.
Setelah menyaksikan semua itu, Pang Goan jadi agak bingung, sebab tubuh Hui
Beng-cu tidak diringkus dengan tali, tidak kelihatan seperti tertutuk jalan darahnya,
sekalipun hanya duduk membungkam di situ, ternyata sikapnya sangat tenang, bahkan
sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya.
Tong-popo sendiri duduk dengan mata setengah terpejam, sikapnya tampak
bersungguh-sungguh sedang melayani tamunya, sikap ini jauh berbeda dengan sikap
kerengnya ketika di sidang pengadilan tempo hari, bahkan seperti dua orang yang
berlainan.

Ho Leng-hong mengernyitkan alis, jelas iapun bingung oleh apa yang dilihatnya ini.
Pang Goan segera menuding diri sendiri, lalu menuding ke ruang dalam dan
membuat kode tangan, maksudnya Ho Leng-hong diminta menunggu di luar ruangan,
sementara dia akan masuk untuk menolong orang.
Leng-hong menggeleng kepala sambil memberi tanda pula, artinya ia telah
memahami rahasia golok Ang-siu-to-hoat, jadi lebih baik dia yang masuk ke dalam
untuk menolong orang, sedangkan Pang Goan diminta menunggu di luar saja.
Kedua orang itu tahu bahwa tenaga dalam Tong-popo amat sempurna, sebab itu
mereka hanya bertukar pendapat dengan isyarat tangan, sama sekali tidak berani
menimbulkan suara, meski demikian, ternyata perbuatan mereka tak dapat
mengelabui ketajaman pendengaran Tong-popo.
Mendadak nenek itu membuka matanya sambil menengadah, kemudian tersenyum ke
arah luar jendela, katanya, “Silakan kalian masuk ke sini, sayur dan arak sudah
dingin!”
Pang Goan dan Leng-hong sama-sama terkejut, mereka saling pandang sekejap
dengan perasaan tergetar, akhirnya terpaksa mereka mendorong pintu dan masuk ke
dalam.
Buru-buru Beng-cu berdiri, katanya dengan tersenyum, “Pang-toako, Ho-toako, kita
benar-benar dungu, padahal Tong-popo sama sekali tidak bermusuhan dengan kita,
coba lihatlah, ketika mendengar kita kelaparan seharian, buru-buru dititahkan orang
menyiapkan makanan dan arak untuk kita, kemudian menyuruh pula Hoa-toanio
untuk menjemput kalian, apakah kalian tidak berjumpa?”
Setelah gadis itu selesai berkata baru Pang Goan mendapat kesempatan untuk buka
suara, katanya, “Aku suruh kau mencari berita, kenapa kau malah memperlihatkan
jejakmu?”
“Pang-toako, jangan kaumarah,” kata Hui Beng-cu sambil tertawa, sesungguhnya
jejak kita sudah diketahui oleh Tong-popo, bahkan ia mengirim orang-orangnya
menjaga pintu taman, oleh karena pada siang hari kurang bebas untuk mengadakan
pertemuan, maka begitu aku dan Yu Ji-nio keluar dari taman kami segera diundang
kemari.”
“Benar!” kata Tong-popo sambil tersenyum, “sesungguhnya gerak-gerik kalian
semalam telah kuketahui semua dengan jelas, lagipula akupun menduga kalian tak
akan sanggup menerobos keluar lewat mulut lembah, untuk itu hanya tempat inilah
yang bisa dibuat bersembunyi, karena itulah sengaja kutitahkan orang untuk
membuka pintu masuk sehingga dengan leluasa kalian bisa sampai di taman bunga di
timur gedung ini.”
“Hm, jadi semua perbuatan kami sudah dalam perhitungan Popo?” dengus Pang
Goan.

“Bukannya berada dalam perhitungan,” jawab Tong-popo sambil tertawa, “tapi
perkembangan situasilah yang memaksa kalian berbuat demikian, atau dengan
perkataan lain takdir telah mengatur segala sesuatu menjadi begini. Saudara berdua,
sayur dan arak sudah hampir dingin, mengapa tidak duduk dan makan, kemudian baru
bicara lagi.”
Pang Goan memandang sekejap ke arah Ho Leng-hong, akhirnya mereka duduk di
sebelah kiri dan kanan Tong-popo sambil menggenggam gagang golok.
Rupanya Tong-popo tidak menghiraukan sikap mereka itu, sambil mengangkat
cawan katanya dengan tersenyum, “Tentunya kalian sudah lapar bukan? Bila perut
dalam keadaan kosong, janganlah bicara masalah besar, bagaimana kalau
pembicaraan dilanjutkan setelah makan kenyang nanti?”
“Betul juga perkataanmu,” jawab Pang Goan, “bagaimanapun seorang manusia hanya
membunyi selembar nyawa, setelah kenyang baru ada kekuatan untuk beradu jiwa.
Mari, kita keringkan dulu secawan!”
Disambarnya cawan arak di hadapannya, lalu sekali tenggak dihabiskan isinya.
Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu memang sudah lapar, maka tanpa sungkan mereka
lantas bersantap dengan lahapnya.
Rupanya Tong-popo tidak lapar, namun ia mengiringi para tamunya minum arak dan
makan, sekalipun tiada gelak tertawa selama perjamuan berlangsung, suasananya
ternyata damai dan tenang.
Tak lama kemudian, Hoa Jin dan Yu Ji-nio telah kembali ke situ, cuma karena
kedudukan yang berbeda, mereka hanya melayani di samping, anehnya selama inipun
tidak nampak orang luar masuk ke ruangan tersebut.
Setelah perjamuan berlangsung sekian lama, baru Tong-popo angkat bicara lagi,
katanya, “Aku rasa kalian pasti kurang begitu paham dengan situasi dalam lembah
Mi-kok bukan? Kokcu yang sekarang, Tong Siau-sian, tentu menjelek-jelekkan pihak
Tiang-lo-wan kami, di hadapan kalian tentu dikatakan para Popo hendak merebut
kekuasaan dan mengincar Kokcu. Mengenai persoalan ini harus kuberikan penjelasan
lebih dulu secara ringkas, bagaimana kalau sambil bersantap kalian dengarkan
kisahku tentang persoalan yang mengakibatkan persengketaan kami dengan Kokcu?”
Waktu itu mulut Pang Goan sedang penuh dengan makanan, bersampur dengan suara
kunyahan katanya, “Katakan saja, akan kami dengarkan dengan saksama.”
Tong-popo lantas bercerita, “Menurut peraturan leluhur kami, Kokcu harus dijabat
oleh anggota keluarga turun temurun, dan lagi dia harus seorang gadis, maka sebelum
Kokcu itu menginjak dewasa ia harus menuruti petunjuk pihak Tiang-lo-wan, bila ia
sudah dewasa nanti baru diselenggarakan upacara cari jodoh, itupun pihak Tiang-lowan
yang menyelenggarakan. Tegasnya, meskipun kedudukan Kokcu berasal dari
keluarga yang turun-temurun, hakikatnya kekuasaan tetap dipegang oleh Tiang-lowan,
hanya setelah menikah atau sebelum Kokcu yang akan datang menginjak dewasa
dan menduduki jabatan tersebut, Kokcu baru memegang hak penuh terlepas dari

kekuasaan Tiang-lo-wan . . . .”
Selama ini Pang Goan hanya makan minum dengan kepala tertunduk, seakan-akan
sama sekali tidak memperhatikan keterangan tersebut, kini tiba-tiba ia menyela, “Apa
yang dinamakan upacara cari jodoh?”
“Cari jodoh adalah memilihkan suami untuk Kokcu, yang berarti pula sebagai
persiapan untuk kelahiran Kokcu generasi penerus, agar kedudukan yang turuntemurun
itu jangan sampai terputus di tengah jalan.”
“Siapa pula yang berhak dipilih menjadi suami Kokcu?”
“Setiap lelaki yang belum menikah yang menetap dalam lembah ini berhak ikut serta
dalam pemilihan ini, tentu saja pemilihan tersebut mencakup soal raut wajah,
perawakan, kecerdasan . . . dan lain sebagainya. Tiang-lo-wan berhak melakukan
penelitian sebelum pemilihan berlangsung, kemudian bila cocok baru orang itu boleh
ikut serta dalam kontes pemilihan tersebut.”
“Bagaimana pula kontes pemilihan itu dilangsungkan?”
“Sangat sederhana sekali, bila Kokcu menginjak dewasa, Tiang-lo-wan mulai
memperhatikan pemuda-pemuda tampan dan pintar yang berada dalam lembah ini
sebagai persiapan untuk turut serta dalam kontes yang akan diselenggarakan, bila
pemuda yang cukup memenuhi syarat sudah mencapai sepuluh orang ke atas, kami
baru menyelenggarakan upacara pemilihan untuk Kokcu, pada saat itu seluruh
penduduk lembah akan berkumpul, bernyanyi dan menari bersama, jika Kokcu
tertarik kepada salah seorang, dia akan mengalungkan karangan bunga yang telah
disiapkan pada leher orang itu, dan orang yang terpilih pun akan menjadi Mi-kok
Huma (menantu Mi-kok), malam itu juga pesta perkawinan diselenggarakan, tapi
Huma hanya diperkenankan berkumpul selama tiga hari dengan Kokcu, hari keempat
dia harus pindah dari gedung itu untuk menunggu perintah selanjutnya.”
“Mengapa begitu?” tanya Pang Goan.
“Sebab penghuni gedung hanya kaum wanita, sedang Huma Cuma bertugas memberi
keturunan, bila bulan kedua Kokcu masih belum mengandung, ia diperbolehkan
menginap tiga hari lagi dalam gedung, tapi jika setahun kemudian belum hamil juga,
maka pemilihan terpaksa diselenggarakan sekali lagi.”
Rupanya Pang Goan mulai tertarik oleh cerita tersebut, kembali ia bertanya,
“Seandainya mengandung, ternyata bukan bayi perempuan yang dilahirkan, lalu
bagaimana?”
“Jika dalam tiga kali kandungan bukan bayi perempuan yang dilahirkan, maka harus
diselenggarakan pemilihan lagi, anak laki-laki yang dilahirkan akan dipelihara oleh
pihak suami, bila bayi yang dilahirkan Kokcu adalah perempuan, maka Huma dan
Kokcu baru boleh meneruskan hubungan suami isteri selamanya.”
“Wah, aku jadi teringat kepada kehidupan semut dan lebah,” kata Pang Goan sambil
tertawa.

“Ya, apa boleh buat? Untuk melaksanakan peraturan nenek moyang kami, terpaksa
kami harus berbuat demikian, meski begitu, terhadap perempuan lain dalam lembah
ini tidak ada pembatasan apapun.”
“Apa maksudmu memberitahukan hal ini kepada kami?”
“Aku memberitahukan semua ini dengan harapan agar kalian memahami proses
terjadinya Kokcu dalam lembah kami, atau dengan perkataan lain ingin kubuktikan
bahwa pihak Tiang-lo-wan tidak bermaksud merebut kekuasaan Kokcu, sebab meski
Tong Siau-sian adalah Kokcu, sebelum kawin dia masih di bawah pengawasan Tianglo-
wan, ucapannya hanya bermaksud menghasut karena ia hendak mengelabui kalian
serta mempergunakan tenaga kalian untuk kepentingannya mencapai maksud
pengkhianatannya terhadap peraturan nenek moyang kami.”
“Dia seorang Kokcu? Masa mengkhianati lembah sendiri?” kata Pang Goan
tercengang.
“Seperti kuterangkan tadi, Kokcu hanya namanya saja, padahal tidak banyak
kekuasaan yang dimilikinya, jangan kaulihat usia Tong Siau-sian masih kecil, tapi
ambisinya besar sekali. Ia tidak puas dengan peraturan yang ditinggalkan nenek
moyang kami, ia menganggap kekuasaan Tiang-lo-wan melampaui kekuasaan
seorang Kokcu, maka Tiang-lo-wan hendak dibubarkan agar kekuasaan terpusat di
tangannya seorang, untuk mencapai tujuan ini tak segan-segannya bersekongkol
dengan kekuatan luar untuk menindas sesama anggota sendiri.”
“Kukira masalah ini tak ada sangkut pautnya dengan kami, persoalan itu hanya
urusan rumah tangga kalian sendiri,” kata Pang Goan sambil tertawa, “lagipula
kamipun tak mempunyai kekuatan cukup untuk membantu, lebih-lebih tak kami
kehendaki mencampuri urusan ini.”
“Bila Pang-tayhiap berdiri di luar garis, hal ini lebih baik lagi, tapi tidak seharusnya
kalian serahkan golok mestika Yan-ci-po-to tersebut kepada Tong Siau-sian, sebab
hal ini sama dengan membantu mereka untuk menentang Tiang-lo-wan.”
Pang Goan menggeleng kepala, “Kami hanya ingin menukar Yan-ci-po-to dengan
rahasia Ang-siu-to-hoat serta meninggalkan lembah ini dengan selamat, tidak terlintas
ingatan dalam benak kami untuk memusuhi pihak manapun.”
“Kalau begitu, seandainya Tiang-lo-wan dengan syarat yang sama ingin menukar
golok itu dengan kalian, tentu kalian setuju bukan?”
“Sayang golok mustikanya cuma satu,” kata Pang Goan sambil angkat bahu, “kami
telah memberikan selembar peta tempat menyimpan golok untuk Tong Siau-sian, tak
mungkin memintanya kembali.”
“Ah, kalau cuma begitu, apa susahnya? Pang-tayhiap kan bisa membuatkan selembar
peta lagi untuk kami, kujamin Ang-siu-to-hoat pasti akan kuberikan kepada kalian,
dan kalian pun akan kami antar keluar lembah ini dengan selamat.”

“Sungguhkah perkataanmu?”
“Memangnya cuma main-main?”
“Jadi kalau kubuatkan selembar peta lagi untukmu, kau akan mengantar kami
meninggalkan lembah ini?”
“Benar!”
Tampaknya perasaan Pang Goan agak “tertarik”, ia berpikir sebentar lalu berkata,
“Bisa saja kukabulkan permintaanmu, cuma kami harus tinggalkan lembah ini lebih
dahulu, setibanya di luar lembah peta tersebut baru kuserahkan kepadamu, setuju?”
“Tentu saja setuju, cuma kalau tanpa bukti, cara bagaimana kami bisa percaya kau
tak akan ingkar janji setibanya di luar lembah? Lagipula darimana kami bisa tahu peta
penyimpanan golok itu asli atau tidak?”
“Lantas bagaimana pendapatmu?”
“Kala menurut pendapatku, tentu saja aku berharap bisa mendapatkan golok mestika
Yan-ci-po-to lebih dahulu baru kemudian mengantar kalian keluar dari lembah, untuk
ini tentu juga kalian tak akan percaya kepadaku, maka lebih baik kita mencari suatu
cara yang sempurna agar kedua belah pihak sama-sama aman.”
“Betul, memang tepat sekali perkataan Popo, coba katakan!”
“Bicara terus terang, menurut peraturan lebah kami, tiada kesempatan sama sekali
buat kalian untuk meninggalkan Mi-kok, sekalipun aku ada maksud mengantar kalian
pergi, itupun tak bisa kulakukan secara terang-terangan, aku hanya bisa membantu
secara diam-diam.”
“Soal ini aku dapat memahaminya!”
“Aku pikir yang paling kalian takuti terhadap Mi-kok adalah Ang-siu-to-hoat kami,
seandainya kalian berhasil menguasai ilmu golok itu, sekalipun tak usah kami
lindungi juga dapat menerjang keluar sendiri, maka tak ada salahnya kalau kita tukar
peta tersebut dengan To-hoat lebih dahulu, bila golok mestika itu sudah kudapatkan
dan kalian pun sudah menguasai ilmu Ang-siu-to-hoat tersebut, waktu itu aku bisa
mengatur kesempatan baik untuk kalian pergi dari lembah ini, entah setujukah kalian
dengan usulku ini?”
Pang Goan termenung sebentar, lalu berkata, “Popo akan menyiapkan kesempatan
yang bagaimanakah untuk kami? Dapatkah kauungkapkan dulu kepada kami?”
“Setelah peta kudapatkan, kalian akan kuantar dulu ke suatu tempat yang aman,
rahasia dan tenang agar kalian bisa melatih Ang-siu-to-hoat dengan bersungguh hati,
bila golok mestika telah kami dapatkan, Tiang-lo-hwe akan mengundang penduduk
untuk menyelenggarakan pesta pemilihan suami buat Tong Siau-sian, nah, tatkala
semua rakyat lembah itu sedang berpesta pora, secara diam-diam kalian bisa

tinggalkan lembah ini dengan selamat.”
“Akal bagus!” sorak Pang Goan sambil bertepuk tangan, “kita tetapkan begini saja,
sekarang ambilkan kertas dan pit!”
Tak terlukiskan rasa girang Tong-popo, cepat ia siapkan sendiri kertas dan pit,
bahkan Hoa Jin dan Yu Ji-nio pun disuruh pergi agar rahasia tak sampai bocor.
Setelah sekeliling tak ada orang, Ho Leng-hong baru berbisik, “Lotoako, jangan
buru-buru kaubuatkan peta itu, jelas nenek ini mempunyai rencana keji . . . . .”
“Peduli amat, sahut Pang Goan dengan suara lirih, “bagaimanapun tempat itu cuma
sebuah liang tinja, biarkan saja mereka saling berebutan tahi.”
Tak lama kemudian peta telah selesai dibuat, Tong-popo memeriksanya sejenak,
kemudian menyatakan rasa puasnya, hari itu juga ia siapkan burung merpati untuk
mengantar peta itu keluar lembah.
Kemudian kepada Hoa Jin pesannya pula, “Cepat siapkan barang-barang kebutuhan
untuk Pang-tayhiap, akan kuantar sendiri mereka bertiga ke tempat berlatih ilmu
golok itu.”
Tak lama kemudian Hoa Jin datang melapor, “Semua barang keperluan telah siap!”
Dengan wajah berseri Tong-popo segera mengulapkan tangan seraya berkata,
“Saudara bertiga, mari ikut padaku!”
Keluar dari ruangan, ada empat orang perempuan dengan “benang biru” pada
gaunnya telah menanti, di tangan masing-masing membawa sebuah bungkusan besar.
Menyusuri kegelapan malam mereka berputar keluar dan menuju ke timur sana,
sepanjang perjalanan tak ada yang berbicara, mereka tidak membawa lampu, jelas
hendak menghindari pengintaian pihak Tong Siau-sian.
Tak lama kemudian mereka sudah keluar perkampungan bagian belakang, arah yang
dituju ternyata adalah dasar lembah, lagipula makin ke depan perjalanan makin sulit,
pemandangan di sekitar sana pun makin gersang, jangankan bangunan rumah,
pepohonan pun jarang.
Suatu perasaan waswas tiba-tiba muncul dalam hati Ho Leng-hong, segera bisiknya,
“Toako, tampaknya keadaan semakin tak beres, coba perhatikan tanah lumpur ini!”
Pang Goan menunduk, air mukanya kontan berubah.
“Kenapa dengan tanah lumpur itu?” tanya Hui Beng-cu tercengang, rupanya ia tidak
menemukan sesuatu yang aneh.
“Tanah di sini jauh berbeda dengan tanah di depan lembah sana,” Leng-hong
menerangkan, “makin ke dalam warna tanahnya makin gelap, coba lihat, bukankah
tanahnya sekarang berwarna hitam pekat? Lagi pula dasar lembah ini kecuali batu

karang hampir boleh dibilang tiada tumbuhan lain....”
“Lalu apa artinya semua itu?” tanya Hui Beng-cu belum juga mengerti.
“Itu berarti tempat yang akan kita tuju kemungkinan besar adalah istana es dan liang
api.”
Sekujur badan Hui Beng-cu bergetar keras, akhirnya ia mengerti,
Urusan telah jelas, dan merekapun sampai di tempat tujuan.
---------------------
Di bawah tebing terjal di dasar lembah berdiri sederetan rumah batu, dalam rumah itu
berdiri tiga orang perempuan.
Ketiga orang perempuan itu telah berusia lanjut, kedudukan mereka pun amat tinggi,
dua diantaranya berpangkat “benang biru”, sedang yang ketiga ternyata berpangkat
“benang perak”, berarti diapun seorang Tianglo.
Tianglo tersebut berusia delapan puluh tahun lebih, meski rambutnya telah beruban,
wajahnya wajah bocah, sayang matanya buta, kelopak matanya mencekung, kelihatan
dua lekukan yang dalam.
Kedua nenek lainnya yang berpangkat “benang biru” berusia sekitar lima puluhan,
ternyata mereka pun orang buta.
Ketika Tong-popo membawa rombongan itu sampai di depan rumah batu, ketiga
nenek buta itu lantas mendengar suara kedatangan mereka dan menyongsong di depan
pintu.
Hampir semua orang buta memiliki suatu keistimewaan yang sama, yakni
pendengaran yang tajam.
Sikap Tong-popo terhadap nenek buta yang paling tua menghormat sekali, dengan
hangat dan tertawa ia menyapa, “Enci Po, sudah lama aku tidak berkunjung kemari,
baik-baikkah kau selama ini?”
“Seperti biasa,” jawab nenek buta she Po itu ketus, “asal bisa makan dan minum,
rasanya juga sudah cukup puas.”
“Itulah baru dinamakan Hok-ki,” kata Tong-popo sambil tertawa, “tidak seperti
diriku ini, dari pagi sampai malam sibuk selalu, padahal juga tidak kuketahui sibuk
apa, sehingga ingin makan atau minum pun tak punya waktu......”
Tiba-tiba nenek she Po itu memotong, “Ada keperluan apa kaudatang ke lembah
belakang ini?”
“Aku mengantar tiga orang tamu kemari.”

“Tunjukkan lencana nomor kuncimu!” perintah nenek Po sambil ulurkan tangannya.
Dari sakunya Tong-popo mengeluarkan sebuah lencana tembaga kecil, lalu sambil
tersenyum diserahkan ke tangan salah seorang nenek “benang biru”, oleh perempuan
itu baru diserahkan kepada nenek Po.
Bentuk lencana tersebut tidak jauh berbeda dengan lencana biasa, cuma di atas
lencana ini terdapat lubang sehingga kelihatan agak istimewa.
Dengan teliti nenek Po meraba sekeliling lencana tersebut, kemudian miringkan
kepala sambil bertanya, “Berapa orang?”
“Tiga orang!”
“Berapa orang lelaki dan berapa orang perempuan?”
“Dua tamu lelaki dan seorang gadis remaja!”
“Perlu dibagi menjadi berkelompok?”
“Tidak usah, mereka berasal dari satu rombongan.”
“Baik!” kata nenek Po kemudian, “tinggalkan semua barang keperluan dan kau boleh
segera kembali!”
“Enci Po, ketiga orang tamu kita memiliki kungfu yang lumayan, kau kudu baik-baik
melayani mereka.”
“Hmm! Jangan kuatir,” sahut nenek Po sambil mendengus, “sekalipun sepasang
mataku sudah buta belum pernah ada seekor belut yang bisa lolos dari sela-sela jari
tanganku.”
Mendengar ucapan tersebut, Ho Leng-hong bertiga saling pandang dengan terkesiap.
Tong-popo segera menitahkan orang untuk menyerahkan bungkusan kepada mereka
bertiga, lalu katanya sambil tertawa, “Saudara bertiga, aku hanya mengantar kalian
sampai di sini saja, urusan selanjutnya akan diatur nenek Po, moga-moga kalian bisa
berlatih ilmu golok dengan tekun dan bersungguh hati, barang-barang ini pasti kalian
butuhkan nanti, silakan kalian menerimanya.”
“Tapi tempat apakah ini,” seru Hui Beng-cu, “apa yang hendak kaulakukan terhadap
kami?”
“Sambil angkat bahu Tong-popo tertawa, “Bukankah kalian bertiga ingin mencari
suatu tempat yang sepi untuk berlatih Ang-siu-to-hoat? Nah, di sinilah tempat paling
baik untuk berlatih ilmu golok tersebut.”
Sehabis berkata ia lantas mengajak anak buahnya meninggalkan tempat itu.
Dengan suara tertahan Hui Beng-cu berkata, “Pang-toako, Ho-toako, kita tertipu,

ternyata nenek she tong itu tidak bermaksud baik!”
Pang Goan tidak menjawab, buru-buru ia membuka salah satu bungkusan itu dan
diperiksa isinya.
Ternyata kecuali sebungkus ransum kering ada pula beberapa setel pakaian tebal anti
dingin.
Ketika bungkusan yang lain dibuka, ternyata isinya sama.
Sekarang Ho Leng-hong baru menghela napas panjang, keluhnya, “Berlatih ilmu
golok di istana es. Ya, pasti tempat inilah Peng-kiong!”
“Benar!” sambung nenek Po mendadak, “tempat ini adalah istana es!”
--------------------
Udara di dalam istana es dinginnya bukan kepalang, dalam rumah batu itupun tak
kurang dinginnya.
Ho Leng-hong bertiga mengenakan pakaian tebal anti dingin. Lalu di bawah
“kawalan” nenek Po dan kedua orang petugas “benang biru” mereka digiring ke
dalam rumah batu itu.
Wajah tiga orang perempuan itu lebih dingin daripada udara dalam ruangan tersebut,
pakaian yang mereka kenakan juga sangat tipis.
Dari sini dapat diketahui bahwa ketiga perempuan buta itu pasti memiliki tenaga
dalam yang luar biasa hebatnya.
Oleh sebab itu Pang Goan bertiga sangat tahu diri, mereka menurut perintah tanpa
membantah, merekapun tidak mengatur rencana untuk kabur, apalagi keadaan dalam
lembah tersebut memang tidak memungkinkan orang untuk melarikan diri.
Setelah masuk ke dalam rumah batu, nenek Po menanyai dulu nama mereka bertiga,
lalu sambil memberi tiga butir pil ia berkata, “Bila kalian tahu nama istana es tentu
pernah mendengar juga nama liang api? Nah, agar kalian memiliki kesempatan untuk
mempertahankan hidup secara adil, terlebih dahulu akan kuterangkan segala sesuatu
yang menyangkut keadaan kedua tempat itu . . . . .”
Ketiga orang itu tidak bersuara, rupanya mereka sama sekali tidak tertarik untuk
mempertahankan hidup.
Nenek Po melanjutkan perkataannya, “Istana es dan liang api adalah tempat aneh
dalam lembah kami, tempat itu merupakan gudang penyimpan pusaka pemberian
alam, dalam istana es itulah kitab ilmu golok Ang-siu-to-hoat disimpan, suhu dalam
istana es dingin luar biasa, tiap titik air akan segera beku menjadi es, sekalipun ilmu
silat seseorang amat lihay juga jangan harap akan hidup lebih enam jam di tempat itu .
. . . . .”

Setelah berhenti sebentar, sambil menuding ketiga biji obat itu, lanjutnya pula,
“Cuma untuk memberi kesempatan kepada kalian agar bisa mendalami rahasia Angsiu-
to-hoat tersebut, maka barang siapa memasuki istana es akan diberi hadiah sebuti
obat kuat, setiap orang yang makan pil itu bisa memperoleh kekuatan untuk menahan
rasa dingin selama enam jam, atau dengan perkataan lain kalian mempunyai
kesempatan untuk hidup dua belas jam dalam istana es, dalam waktu yang tersedia ini
bukan saja dapat kalian gunakan mempelajari rahasia ilmu golok, kalian pun bisa
memikirkan cara meloloskan diri dari situ.”
Ketiga orang itu tidak bersuara, tapi mereka mendengarkan keterangan itu dengan
saksama, akhirnya dapat disimpulkan bahwa mereka masih ada kesempatan untuk
lolos dengan selamat.
Terdengar nenek Po berkata lebih jauh, “Pintu istana es hanya bisa masuk dan tak
bisa keluar, satu-satunya jalan bagi kalian untuk mencari hidup adalah menerobos
liang api, tempat itu pun harus dilewati dalam waktu dua belas jam. Antara liang api
dengan istana es hanya terbatas oleh sebuah gua, tapi suhu udara di kedua tempat
sama sekali bertolak belakang, dalam liang api terdapat api alam yang sepanjang
tahun menyemburkan api dahsyat, jangankan manusia, sebatang baja pun akan
meleleh, maka jika kalian bisa menemukan cara bagus untuk menembus liang api
tersebut, bukan saja dapat memperoleh ilmu Ang-siu-to-hoat yang maha sakti itu,
kalian akan disambut pula oleh segenap rakyat lembah dengan segala kehormatan,
kalau perempuan akan diangkat menjadi Kokcu, bila pria akan menjadi Huma . . . . .
tentu saja semenjak lembah ini didirikan hingga kini belum pernah ada orang yang
berhasil melintasi istana es dan liang api dengan selamat, sebaliknya jumlah yang
tewas si situ justru tak terhitung banyaknya.”
Berbicara sampai di sini tiba-tiba ia tertawa bangga, katanya lagi, “Nah cukuplah
keterangan ini, apa yang harus kukatakan telah kuucapkan, jika kalian masih ada
pertanyaan boleh diajukan sekarang kepadaku, dengan senang hati akan kuterangkan,
kalau tak ada pertanyaan, maka kalian akan kuantar masuk ke istana es.”
Hui Beng-cu hanya memandang Pang Goan dan Leng-hong dengan sedih, tiba-tiba
air matanya jatuh bercucuran.
Pang Goan menepuknya pelahan dan berkata pelahan dan berkata dengan suara getir,
“Siau-cu, jangan takut, manusia akhirnya akan mati, bukan sembarangan orang bisa
mendapatkan kuburan yang panas-dingin komplit semacam ini, biasanya tempat yang
mengandung unsur api dan air dikatakan Heng-sui yang baik, keturunan kita kelak
tentu akan makmur.”
Hui Beng-cu tak dapat menerima kata-kata gurauan seperti itu, isak-tangisnya tak
terbendungkan lagi, air matanya jatuh dengan derasnya.
Ho Leng-hong tetap bersikap tenang dan sedikitpun tanpa emosi, selang sejenak baru
ia berkata, “Nenek, bolehkah kuajukan dua pertanyaan?”
“Katakan!”
“Pertama, benarkah ketiga biji obat pemberian nenek ini sangat manjur?”

“Tentu saja sangat manjur, aku dapat menghadiahkan obat itu kepada kalian, buat apa
bohong? Kalau kau tidak percaya, setelah masuk ke dalam istana es nanti makanlah
obat ini, dalam waktu dua belas jam kau takkan merasa kedinginan.”
Ho Leng-hong manggut-manggut, katanya lagi, “Kedua, aku ingin bertanya,
andaikata nasib kami lagi mujur dan bisa lolos dari istana es dan liang api dalam
keadaan hidup, benarkah akan memperoleh sanjungan dan penghormatan dari segenap
rakyat lembah?”
“Betul, ini sudah merupakan peraturan nenek moyang kami, jadi bukan peraturan
ciptaan kami.”
“Baik! Asal kami tidak mati pasti akan berkunjung pula ke lembah ini,” selesai
berkata ia masukkan ketiga biji obat itu ke dalam sakunya.
Nenek Po segera membuka sebuah pintu di ruang belakang, lalu melangkah masuk
lebih dulu.
Tanpa ragu Ho Leng-hong menyusul di belakangnya.
Pang Goan memayang Hui Beng-cu menyusul di belakangnya, sedangkan kedua
perempuan tua berbenang biru berjalan paling belakang.
Di balik pintu adalah sebuah gua yang sangat gelap, di situ tak ada cahaya lampu,
yang ada hanya hawa dingin yang merasuk tulang.
Sekalipun matanya buta, ternyata langkah kaki nenek Po sangat cepat, untungnya
permukaan gua amat datar dan tiada tikungan, tak lama kemudian sampailah mereka
di depan sebuah pintu batu.
Lambat-laun Ho Leng-hong sudah mulai terbiasa dengan kegelapan, ia menghimpun
segenap kekuatannya untuk memperhatikan keadaan sekeliling tempat itu.
Ternyata pintu batu itu sangat tebal dan beratnya ribuan kati, gelang pintu terbuat
dari baja dan tampaknya terdapat pula sebuah lubang kunci raksasa.
Nenek Po memasukkan lencana tembaga tadi ke dalam lubang kunci, setelah itu baru
menggunakan sebuah anak kunci untuk membuka kunci pintu, pelahan pintu batu itu
ditarik.
Setelah pintu terbuka, segulung angin dingin pun berembus keluar, tanpa terasa Ho
Leng-hong bertiga bergidik.
“Silakan masuk saudara bertiga!” kata nenek Po kemudian.
Leng-hong melongok ke dalam, di balik pintu merupakan sebuah gua karang, cuma
dari kejauhan sana lamat-lamat kelihatan selapis cahaya putih seperti lapisan kabut.
Ia menarik napas panjang-panjang, lalu melangkah masuk ke dalam gua itu.

Pang Goan bermaksud membimbing Hui Beng-cu masuk pula ke dalam gua, siapa
tahu mendadak gadis itu meronta dan melepaskan diri dari pegangan Pang Goan, ia
cabut golok panjang di pinggang orang she Pang itu, sambil memutar badan terus
melancarkan serangan kilat ke arah kedua orang perempuan buta berbenang biru di
belakangnya.
Perubahan kejadian ini sangat tiba-tiba, dalam kejutnya Pang Goan ingin mencegah,
sayang tak sempat.
Jangan kira kedua orang perempuan itu buta, ternyata perasaannya tajam sekali, baru
saja Hui Beng-cu melolos golok, kedua orang itu segera menubruk maju dari kanan
dan kiri.
Sambil membacok, Hui Beng-cu berteriak, “Aku tak mau ke istana es, kalau ingin
nyawa cepat me . . . .”
Kata “menyingkir” belum selesai, pergelangan tangannya tahu-tahu kaku dan gadis
itupun dicengkeram oleh salah seorang perempuan buta tadi.
Perempuan buta yang lain dengan cekatan merampas goloknya, lalu mendorong Hui
Beng-cu ke dalam pintu.
Buru-buru Pang Goan menyambutnya, dengan sempoyongan mereka berdua
terdorong masuk ke dalam gua.
“Blang!” pintu batu tertutup rapat memisahkan gua tadi menjadi dua bagian.
Sambil menutup wajahnya Hui Beng-cu menangis tersedu-sedu, pekiknya, “Pangtoako,
Ho-toako, habislah riwayat kita, tak bisa tidak kita pasti mati dalam istana es
ini.”
“Sekalipun harus mati, apa gunanya menangis?” jawab Leng-hong dengan tenang.
Hui Beng-cu mendongakkan kepalanya sambil berseru, “Ho-toako, kenapa kau tidak
takut? Apakah sudah kautemukan akal untuk meloloskan diri?”
Leng-hong menggeleng kepala berulang kali, “Aku tidak takut karena takut tak dapat
menyelamatkan jiwa kita, melawan juga bukan cara yang baik, maka tidak perlu kita
lakukan perlawanan yang tak bermanfaat, kita harus menggunakan segenap kekuatan
yang kita miliki untuk mencari jalan keluar.”
“Tapi istana es dan liang api jelas adalah jalan kematian, tidak mungkin kita bisa
keluar dalam keadaan hidup,” keluh sang gadis sambil terisak.
“Sampai sekarang kita belum mencobanya, darimana kautahu jalan ini adalah jalan
kematian?”
“Tidakkah kau dengar perkataan mereka? Sejak lembah Mi-kok ini ada, belum
pernah ada orang berhasil lolos dari istana es dan liang api dalam keadaan hidup.”

“Itu kan perkataan mereka, kan tidak berarti dulu tak pernah ada orang yang berhasil
dan seterusnya juga tak ada, aku yakin pasti ada orang yang berhasil menerobos kedua
tempat itu.”
“Darimana kautahu?”
“Bila tak pernah ada orang yang berhasil melewati istana es dan liang api, darimana
bisa diketahui bahwa istana es dan liang api bisa menembus ke luar lembah?
Darimana diketahui bahwa di belakang lembah adalah satu-satunya jalan keluar?”
Hui Beng-cu tertegun dan berhenti menangis, sesudah berpikir sebentar, katanya
pula, “Mungkin tak pernah ada orang yang berhasil? Siapa tahu ucapan tersebut hanya
mereka gunakan untuk membohongi orang lain?”
“Kalau bohong, tak mungkin nenek moyang lembah Mi-kok menetapkan peraturan
untuk mengelu-elukan orang yang berhasil lolos dari dasar lembah ini!”
Hui Beng-cu jadi bungkam dan tak dapat membantah lagi.
Selanjutnya Ho Leng-hong berkata pula, “Dari sini dapat diketahui bahwa istana es
dan liang api bukan jalan buntu yang mematikan, tempat itu hanya bisa disebut
sebagai jalan keluar yang sangat berbahaya, jika orang dulu bisa menembusnya,
kenapa kita tak berusaha menembusnya pula?”
“Masuk akal,” kata Pang Goan, “mari kita coba sekarang juga!”
Tapi Ho Leng-hong menggoyangkan tangannya dan berkata, “Tunggu sebentar, jelas
kita harus cari dan coba, cuma kita tak boleh bertindak ceroboh.”
“Lalu apa yang mesti kita lakukan?”
“Pertama kita harus mengendalikan sisa waktu hidup secermatnya, semakin lama
waktu hidup kita, semakin besar pula harapan kita untuk lolos dari bahaya....”
“Betul!” Pang Goan manggut-manggut.
“Sejak kini kita hanya mempunyai waktu selama dua belas jam untuk hidup, dalam
waktu ini di samping mencari jalan keluar kitapun harus berusaha mempelajari
rahasia ilmu golok Ang-siu-to-hoat, jadi dua pekerjaan ini lebih baik dilaksanakan
oleh dua orang, sementara seorang lainnya tetap tinggal di sini, tak boleh bergerak,
tempat ini pasti jauh lebih hangat dibandingkan di dalam istana es, jadi orang yang
tetap tinggal di sini tidak perlu makan obat, dengan tersisanya sebutir pil berarti akan
memperpanjang waktu bergerak bagi kedua orang yang lain.”
“Daya ingatanmu tajam, tugas mengapalkan rahasia ilmu golok itu adalah bagianmu,
sedang mencari jalan keluar serahkan saja kepadaku,” kata Pang Goan dengan cepat.
“Tidak!” seru Beng-cu, “kaum perempuan lebih teliti dan saksama, tugas mencari
jalan keluar biar kulakukan untukmu, sedang Pang-toako beristirahat lebih dulu . . . .

.”
“Tidak, kau adalah seorang gadis, kau lebih pantas beristirahat, biar segala pekerjaan
diselesaikan oleh kaum pria saja.”
“Kalian tak usah berebut,” kata Leng-hong, “mencari jalan keluar adalah tugas yang
berat, orang yang tetap tinggal di sini pun tak boleh minum obat, dia harus
mengerahkan hawa murninya untuk melawan hawa dingin, keadaan semacam itu
bukan perasaan yang nikmat.”
“Tak perlu berbuat demikian,” kata Pang Goan, “Siau-cu boleh minum obatnya, biar
sebutir obatku yang disimpan, dapat menemukan jalan keluar atau tidak dalam waktu
enam jam kukira sudah lebih dari cukup.”
“Masalah ini menyangkut mati-hidup kita, jangan kita menuruti perkiraan saja, pada
umumnya untuk mengapalkan rahasia ilmu golok tidak perlu membutuhkan waktu
sampai enam jam, tapi tugas ini sangat memeras pikiran dan tenaga. Sekalipun
demikian tugas mencari jalan keluar tetap merupakan tugas terpenting, kalau jalan
keluar tidak ditemukan, sekalipun ilmu golok sakti ini berhasil diapalkan, lalu apa
gunanya? Menurut pendapatku, obat itu sepantasnya diberikan semua untuk Pangtoako.”
Hui Beng-cu tertawa getir, katanya, “Paling banyak kita cuma ada waktu sehari untuk
hidup, buat apa persoalan itu diributkan? Sungguh perbuatan yang tak ada harganya,
sedikitnya kita harus tinjau dulu keadaan dalam istana es sebelum perundingan
dilanjutkan, bagaimana pendapat kalian?”
“Betul!” kata Pang Goan, “sekalipun kita bakal mampus di sini, paling tidak harus
kita tinjau dulu tempat kubur kita ini. Mari berangkat!”
Tanpa makan obat, berangkatlah ketiga orang itu menyusuri gua itu.
Gumpalan cahaya putih itu makin lama makin cemerlang dan menyilaukan mata, tapi
suhu udaranya makin lama makin dingin.
Baru sampai di tengah jalan, ketiga orang itu sudah mulai merasakan sekujur
badannya kaku, mau-tak-mau terpaksa mereka harus mengerahkan tenaga dalamnya
untuk melawan rasa dingin yang luar biasa itu.
Semakin mendekati mulut gua, biji mata semua orang seolah-olah ikut menjadi beku.
Tapi, pada saat itulah suatu pemandangan aneh tiba-tiba muncul di depan mata....
Gua itu terletak dalam perut gunung, tingginya berpuluh tombak dengan lebar tiga
sampai empat puluh tombak, bentuknya mirip sebuah tangkupan mangkuk besar.
Dalam gua tiada cahaya lampu, tapi suasana terang benderang bagaikan di siang hari,
sebab seluruh permukaan dinding gua itu berlapiskan es yang tebal sekali, sementara
dalam gua yang tingginya lebih lima kaki di depan sana api berkobar dengan keras.

Ketika cahaya api itu menimpa permukaan dinding es yang tebal, maka terpancar
sinar refleks yang menyilaukan mata, keadaan ini ibaratnya sebuah cermin besar
dalam ruangan yang tertimpa sinar matahari, hal ini membuat pemandangan dalam
gua itu bagaikan sebuah dunia kaca, pemandangannya aneh, indah mempesonakan.
Rahasia Ang-siu-to-hoat yang dikatakan tiada tandingannya di dunia ini justru
tersimpan dalam istana es yang indah, aneh dan fantastik ini.
Bukan kitab pusaka atau kertas bergambar penjelasan yang berada di sana, melainkan
manusia sungguhkan yang memperagakan berbagai jurus serangan.
Ilmu golok itu semuanya terdiri dari sembilan jurus yang diperagakan oleh sembilan
orang gadis berbaju merah, dan semuanya terbingkai dalam es beku di sekeliling gua.
Tentu saja kesembilan gadis itu bukan orang hidup, tetapi kendati pun mayat itu
sudah berusia ratusan tahun, oleh karena berada dalam lapisan es yang tebal, maka
bukan saja tidak membusuk, malah bentuknya masih tetap utuh seperti hidup.
Selain kesembilan sosok mayat itu, masih ada dua puluhan sosok mayat lain yang
tersebar di sekeliling gua, ada di antaranya yang sedang duduk bersila, jelas sedang
memusatkan perhatiannya untuk mempelajari intisari ilmu golok tersebut, ada yang
berbaring sambil melingkarkan badan, jelas tidak tahan melawan hawa dingin dan
lapar, ada pula yang bermata melotot dengan wajah gusar, seakan-akan tidak rela mati
dengan begitu saja, tapi ada pula yang bersikap tenang seakan-akan puas menghadapi
kematian dalam keadaan seperti itu . . . .
Mereka semua adalah kawanan jago persilatan yang berdatangan ke Mi-kok untuk
belajar ilmu golok, tentu saja tujuh bersaudara Nyo dari Thian-po-hu termasuk di
antaranya.
Pang Goan bertiga berdiri tertegun di depan pintu istana, pemandangan aneh itu
membuat mereka terbelalak dan melongo, untuk sesaat tak tahu apa yang mesti
dilakukan . . . . .
Tiba-tiba Ho Leng-hong bergidik, serunya cepat, “Cepat pejamkan mata dan mundur
keluar!”
Bentakan itu dengan cepat menyadarkan Pang Goan dan Hui Beng-cu, buru-buru
mereka kabur keluar dari gua tersebut.
Sesudah mengatur pernapasan sejenak, Pang Goan menggeleng kepala sambil
menghela napas, “Bahaya . . . sungguh teramat berbahaya!”
“Pemandangan tersebut sungguh merupakan pemandangan aneh yang sukar ditemui
di dunia,” kata Hui Beng-cu pula, “ditambah lagi jurus-jurus ilmu golok yang indah
dan memesona, membuat aku terkesima hingga lupa mengatur pernapasan. Ai, coba
jika Ho-toako tidak membentak tepat pada saatnya, nyaris akupun mati kedinginan di
situ.”
“Orang-orang itu justru mati dalam istana es lantaran kejadian demikian,” kata Ho

Leng-hong dengan wajah serius, “sering kali orang terkesima bila menjumpai
pemandangan seaneh itu, ketika mereka sadar akan bahaya, hawa dingin telah
menyerang dan mereka sama mati kaku di situ, jangankan lolos dari tempat ini,
mungkin kesempatan untuk mencari jalan keluar pun belum sempat dilakukan.”
Pang Goan manggut-manggut, “Untung kita masuk bertiga, coba kalau sendirian,
mungkin tak seorangpun bisa lolos dari tempat ini dengan selamat.”
Leng-hong tertawa, katanya, “Cuma setelah ada pengalaman ini, berarti menambah
kesempatan hidup kita.”
“Kenapa?” tanya Hui Beng-cu tercengang.
Leng-hong tidak menjawab, dia mengeluarkan obat itu dan ditelan sebutir, lalu
sisanya yang dua butir diberikan kepada Pang Goan sambil berpesan, “Tunggulah di
sini, aku akan masuk lebih duluan!”
“Kau hendak ke mana?” seru Hui Beng-cu.
Leng-hong tidak menjawab melainkan masuk lagi ke dalam istana es.
Tak lama kemudian, ketika pemuda itu muncul kembali, tangannya membawa sebuah
bungkusan kain, ketika bungkusan itu dibuka, ternyata isinya adalah ransum kering
serta belasan butir pil.
Ransum kering itu ada sebagian yang telah berubah warna dan tak bisa dimakan, tapi
pil-pil itu sama bentuknya seperti pil yang diberikan nenek Po kepada mereka untuk
melawan hawa dingin, bahkan bentuknya sama sekali belum berubah.
“Hei, darimana kau peroleh barang-barang itu?” seru Hui Beng-cu dengan mata
terbelalak.
“Peristiwa barusan telah menimbulkan suatu pikiran dalam benakku,” tutur Lenghong
sambil tertawa, “Kupikir orang-orang yang mati dalam istana es pasti membawa
ransum kering dan diberi pil, tapi sewaktu masuk ke istana es lantaran mereka
mengira dengan tenaga dalam sendiri pasti mampu bertahan selama enam jam, pil-pil
itu tidak mereka makan, ketika tubuhnya dirasakan mulai beku, tak sempat lagi untuk
minum obat, sebab itulah sengaja kugeledah saku mereka, ternyata sebagian besar
memang belum pernah menggunakan ransum serta obat mereka, dengan persediaan
kita sekarang, paling sedikit kita bisa tahan hidup tiga-empat hari lagi lebih lama.”
Beng-cu sangat girang, cepat ia hitung barang-barang tersebut, ternyata masih ada
enam-tujuh bagian ransum kering itu yang masih bisa digunakan, sedang pil penahan
dingin berjumlah tiga belas biji, jadi kalau dibagi untuk tiga orang bisa digunakan
untuk bertahan selama empat hari.
Dengan kelebihan waktu empat hari mereka tidak sulit untuk mencari jalan keluar,
rasa percaya diri sendiri seketika tambah kuat.
“Selanjutnya apa yang harus kita lakukan?” tanya Pang Goan kemudian.

“Bila Lotoako janji tidak akan berebut denganku, bagaimana kalau aku yang
membagi tugas?”
“Baik, akan kuturuti perkataanmu,” kata Pang Goan sambil tertawa.
“Seperti semula, aku bertanggung jawab mengapalkan ilmu golok Ang-siu-to-hoat,
Lotoako bertugas mencari jalan keluar, sedang Beng-cu tinggal di sini mengurusi obat
dan ransum, cuma ada beberapa hal harus diperhatikan dan dipatuhi oleh kita
bersama.”
“Apa itu? Katakan saja!”
“Pertama, perhatian kita harus tertuju pada tugas yang sedang dilaksanakan dan tak
boleh bercabang pikiran pada soal lain, misalnya saja Toako yang bertugas mencari
jalan keluar, maka kau tak boleh pencarkan perhatian untuk mempelajari ilmu golok.”
“Baik! Aku pasti dapat melakukannya!”
“Kedua, demi menjaga kekuatan tubuh kita maka semua orang harus makan obat
pada saatnya, termasuk juga Beng-cu, kita tak boleh melawan hawa dingin dengan
tenaga dalam, setiap tiga jam kita makan ransum sekali, setiap enam jam makan obat
sekali, kita tak boleh berdiam terlalu lama dalam istana es ini, mengenai perhitungan
waktu kita tugaskan Beng-cu untuk melakukannya, dan lagi setiap saat harus
meninggalkan tanda, begitu waktunya sampai kau harus memanggil kami agar
mengundurkan diri dari istana es untuk beristirahat.”
Hui Beng-cu mengangguk tanda setuju.
Sayang dalam gua sukar untuk membedakan siang atau malam, jadi sulit untuk
menentukan waktu secara tepat, terpaksa Beng-cu membagi ransum kering itu
menjadi beberapa bagian dengan bobot yang sama, dengan perkiraan setiap bagian
ransum itu cukup mengisi perut selama dua-tiga jam, dengan rasa lapar inilah ia
menentukan waktu, sekalipun tidak cocok tapi masih bisa digunakan sebagai ancerancer
untuk menentukan pagi harikah atau malam harikah waktu itu? Dan beberapa
hari sudah dilewatkan?
Setelah makan kenyang, Pang Goan dan Leng-hong masuk ke istana es untuk
melaksanakan tugas masing-masing, tiga jam kemudian sewaktu mengundurkan diri
untuk mengisi perut pertama kalinya, air muka mereka tampak murung.
Leng-hong menyatakan bahwa ilmu golok Ang-siu-to-hoat meski hanya terdiri dari
sembilan jurus, namun setiap jurus mengandung macam-macam perubahan, untuk
mengingat gerakannya saja memang tidak sulit, tapi untuk meresapi intisari dari tiap
gerakan, setiap jurusnya paling sedikit membutuhkan waktu dua-tiga jam.
Oleh sebab itu ia putuskan untuk mengapalkan jurusnya lebih dulu, kemudian bila
sudah lolos dari bahaya baru akan diselami lagi gerak perubahan rahasianya.
Kendatipun demikian, dalam tiga jam ia hanya berhasil mengingat empat jurus

belaka, itu berarti belum mencapai setengah dari seluruh ilmu golok Ang-siu-to-hoat
yang ada.
Sebaliknya Pang Goan hanya mengembalikan kertas putih alias kosong. Menurut
hasil penelitiannya selama tiga jam, hakikatnya tiada jalan keluar di tempat tersebut.
Sekeliling dinding istana es hanya terdiri dari es yang tebal, jangankan manusia, lalat
pun tak bisa menerobos keluar dari situ, dua jalan tembus yang ditemukan di situ
hanya terdiri dari jalan menuju pintu istana es ini serta jalan tembus menuju ke liang
api.
Liang api itu hanya diketahui lima kaki tingginya, tapi berapa dalam liang tersebut
dan berapa panjangnya ia tak tahu.
Api yang menyembur keluar dari liang itu berlangsung tiada hentinya, antara liang
api dengan istana es terpisah oleh sebuah kolam, ternyata air dalam kolam itu
separuhnya dingin dan separuh lagi panas, perbedaan itu menyolok sekali dan ternyata
tidak membaur menjadi satu.
Pang Goan pernah mencoba untuk melemparkan kepingan perak ke dalam liang api,
tapi begitu kepingan perak itu masuk api segera sirna dan tidak menimbulkan suara
apa-apa, jelas perak itu segera meleleh dan lenyap tak berbekas.
Selesai mendengar uraian tersebut, terpaksa Ho Leng-hong harus menghibur mereka,
katanya, “Jangan putus asa, kalau jalan keluar itu mudah ditemukan niscaya tidak
terjadi banyak orang mati dalam istana es, ilmu golok Ang-siu-to-hoat tentu juga
sudah lama tersebar luas dalam dunia persilatan, carilah pelahan dan perhatikan
tempat-tempat yang mencurigakan, asal nasib kita tidak ditakdirkan tamat di sini, akal
untuk lolos dari sini pasti akan kita temukan, sebaliknya kalau memang sudah takdir,
kitapun tak usah menyesal.”
Pang Goan menggeleng kepala tanpa menjawab, mukanya tampak sedih.
“Pang-toako,” tiba-tiba Beng-cu menyela, “kau telah memeriksa keadaan dalam
istana es, apa salahnya kalau beristirahat dulu dan memikirkan suatu akal untuk
melepaskan diri dari sini, sementara kesempatan ini biar kugunakan untuk melakukan
pemeriksaan pula, bagaimanapun jalan pikiran satu orang tak akan menangkan hasil
pemikiran dua orang.”
Leng-hong termenung sebentar, kemudian jawabnya, “Ya, hal ini memang bisa
dicoba, tapi harus ada satu orang tinggal di sini untuk siap sedia menolong rekannya,
bila ilmu golok Ang-siu-to-hoat telah berhasil kuapalkan, kita bersama-sama
melakukan pencarian lagi di sekitar tempat ini.”
Tiga jam kembali sudah lewat, Hui Beng-cu kembali dengan wajah murung dan
putus asa.
Berbeda dengan Ho Leng-hong, dengan penuh kegirangan ia berseru, “Kita tidak siasia
makan obat kuat, lumayan juga hasil yang kita capai.”

“Hasil apa?” tanya Beng-cu.
“Pang-toako, bukankah kau pernah berkata bahwa Ang-ih Hui-nio pernah delapan
kali mengalahkan To-seng (nabi golok) Oh It-to, sedang kedelapan jurus ilmu golok
To-seng bukan lain adalah Poh-in-pat-tay-sik dari Thian-po-hu dewasa ini?”
“Benar!”
“Kalau begitu, seharusnya jurus ilmu golok yang ditinggalkan Ang-ih Hui-nio juga
terdiri dari delapan jurus, tapi di dinding es itu kenapa terdapat sembilan jurus.”
“O, ini memang rada aneh, kenapa bisa kelebihan satu jurus?” seru Pang Goan
keheranan.
“Mula-mula Siaute juga heran,” ujar Leng-hong sambil tertawa, “sebab itu akupun
menaruh perhatian khusus terhadap jurus terakhir, itulah sebabnya aku bilang
perjalanan kita kali ini tidak sia-sia, ternyata dalam jurus terakhir itulah tercantum
seluruh intisari dan kekuatan dari segenap jurus serangan Ang-ih Hui-nio, dan di situ
pula tercantum segenap kepandaian dahsyat yang diciptakan oleh Oh It-to sepanjang
hidupnya.”
“Kenapa bisa begini?” tanya Pang Goan tercengang.
“Sebab setelah kalah delapan kali, Oh It-to memeras otak untuk mencari akal untuk
memecahkan kehebatan ilmu golok Ang-ih Hui-nio, sayang niat tersebut rupanya
tidak berhasil diwujudkan, tapi rahasia itu justru akhirnya berhasil dipecahkan sendiri
oleh Ang-ih Hui-nio.”
“Jangan-jangan jurus kesembilan yang kaumaksudkan itu?” tanya Pang Goan kaget.
“Benar, jurus kesembilan justru merupakan jurus tandingan untuk mematahkan
kedelapan jurus lainnya, jadi asal jurus ini berhasil kita kuasai, maka secara gampang
ilmu golok Ang-siu-to-hoat akan kita patahkan, dan kitapun tak perlu takut lagi
menghadapi ilmu golok sakti dari Mi-kok ini.”
Pang Goan tertegun sejenak, kemudian seperti baru memahami sesuatu ia berseru,
“Ya, pantas tong Siau-sian dan Tong-popo berusaha dengan segala akal untuk
mendapatkan golok mestika Yan-ci-po-to, kiranya di sinilah letak alasannya.”
“Tahu begini, mestinya Siaute apalkan dulu jurus tersebut, sedang kedelapan jurus
lainnya tak ada artinya lagi.”
“Ah, kupikir tak bisa dikatakan demikian, sebab setiap jurus ilmu golok Ang-siu-tohoat
terkandung intisari ilmu golok, kendatipun jurus kesembilan bisa mematahkan
ilmu golok Ang-siu-to-hoat, ini tidak berati jurus tersebut adalah jurus yang tak
terkalahkan.”
Sementara kedua orang itu terlibat dalam pembicaraan serius tentang ilmu golok
Ang-siu-to-hoat, dengan ogah-ogahan Hui Beng-cu menyela dari samping, “Bisa atau
tidak bisa mematahkan ilmu golok Ang-siu-to-hoat tetap sama saja jika kita gagal

meninggalkan tempat ini, apa gunanya semuanya itu?”
“Akal adalah hasil pemikiran manusia,” kata Leng-hong sambil tertawa, “kalau ilmu
golok Ang-siu-to-hoat bisa dipecahkan, masakah hanya sebuah istana es tak mampu
diatasi?”
Perkataan yang gagah ini pun tidak bisa dikatakan salah, sayang kenyataannya justru
tidak segampang apa yang mereka bayangkan.
Ho Leng-hong telah berhasil mengapalkan kesembilan jurus Ang-siu-to-hoat, namun
Pang Goan dan Hui Beng-cu belum berhasil juga menemukan jalan keluarnya.
Bahkan Ho Leng-hong akhirnya ikut mencari, meneliti dan pemikiran, tapi jalan
keluar tetap merupakan tanda tanya besar.
Persediaan pil dan ransum kian menipis, tanda waktu yang diukir di atas dinding
makin bertambah banyak, bekas telapak kaki ketiga orang itu hampir menjelajahi
setiap jengkal tanah dalam istana es itu, namun tiada sesuatu yang berhasil ditemukan.
Kecuali pintu istana di mana mereka datang, serta gua menuju ke liang api, dalam
istana es itu tidak ditemukan lubang lain, pun tidak ditemukan jalan keluar ketiga.
Pintu istana telah terkunci dari luar, mustahil bagi mereka untuk mendobrak pintu
dan kabur dari situ, kini satu-satunya jalan keluar bagi mereka hanya liang api dengan
semburan api yang dahsyat itu.
Api yang menyembur keluar dari dasar bumi tak pernah padam, baik diguyur dengan
air, ditutup dengan salju, ternyata sama sekali tak ada gunanya.
Bahkan Ho Leng-hong telah mendorong sesosok mayat ke dalam liang api sebagai
percobaan, hasilnya . . . dalam sekejap mata mayat itu hangus dan lenyap, termasuk
tulang-belulangnya lenyap begitu saja.
Berhadapan dengan kobaran api yang begini dahsyat, wajah mereka menjadi pucat.
Untuk mengirit persediaan pil dan ransum yang makin menipis, terpaksa ketiga orang
itu harus beroperasi secara bergilir, dan lagi merekapun berusaha memperpanjang
waktu untuk mengisi perut, bagi mereka yang tidak beroperasi, maka orang itu harus
berhenti makan pil dan mesti mengerahkan hawa murni sendiri untuk melawan hawa
dingin.
Waktu berlalu dengan cepatnya, kini pil penahan dingin tinggal empat biji saja.
Dengan perasaan apa daya terpaksa Ho Leng-hong menghentikan operasi pencarian,
mereka bertiga duduk berdempet dalam gua, di samping mengerahkan tenaga untuk
melawan hawa dingin, merekapun harus putar otak untuk mencari akal guna
meloloskan diri dari situ.
Menyusul ransum yang mereka miliki mulai habis.

Orang bilang, lapar dan dingin saling bergandengan. Artinya barang siapa berada
dalam keadaan lapar, maka dia juga akan sulit melawan hawa dingin yang main
mencekam.
Setelah ransum habis, suasana dalam istana es seolah-olah berubah menjadi neraka,
hawa dingin kian menghebat, sekalipun mereka bertiga telah melingkarkan tubuh
untuk menahan rasa dingin, namun rasa dingin tetap merasuk tulang sumsum.
Tiba-tiba Leng-hong meronta bangun berdiri, serunya, “Kita benar-benar amat
bodoh, kenapa hanya duduk terpekur di sini? Apa salahnya kalau kita pergi mandi air
panas?”
“Mandi?”serentak Pang Goan dan Hui Beng-cu memandang ke arah Ho Leng-hong
dengan tercengang.
Leng-hong tertawa ewa, katanya lagi, “Masa kalian lupa? Meskipun tempat ini sangat
dingin di samping liang api kan terdapat setengah kolam air yang hangat.”
Dengan cemas Pang Goan menghela napas, “Lote,” katanya, “jangan kaulakukan
perbuatan bodoh itu, dengan kelas kautahu air kolam itu separuhnya dingin dan
separuh lagi panas, yang dingin bisa membekukan badan, dan yang panas dapat
mematikan orang.”
“Hanya berduduk di sini, cepat atau lambat juga mati, daripada mati kedinginan
enakan mati kepanasan, malam mampusnya bisa lebih cepatan,” kata Leng-hong.
Habis berkata, ia tarik napas panjang dan dengan sempoyongan melangkah masuk ke
istana es.
Buru-buru Pang Goan melompat bangun dan berseru, “Jangan pergi, aku masih ingin
bicara lagi!”
“Tak usah bicara lagi Lotoako,” kata Leng-hong sambil berpaling, “hanya duduk
belaka sambil menanti kematian, akhirnya tetap mati, setelah kupergi nanti gunakan
keempat biji pil itu untuk bisa hidup dua belas jam lagi, hal ini jauh lebih baik
daripada mampus semuanya.”
Selesai berkata ia percepat langkahnya dan masuk ke dalam gua.
Gerak tubuh Pang Goan jauh lebih cepat lagi, sekali melompat ia menerjang tubuh
Ho Leng-hong, serta merta mereka berdua bergumul menjadi satu.
“Hei, ingatlah waktu apa ini, masa kalian masih ada tenaga untuk berkelahi?” seru
Beng-cu dengan suara gemetar, “simpan saja tenaga kalian agar bisa bertahan lebih
lama, bukankah hal ini jauh lebih baik?”
Dengan sepenuh tenaga Pang Goan menindih tubuh Ho Leng-hong, lalu dengan
napas tersengal katanya, “Bila obat itu habis daya kerjanya, akhirnya kita toh mati
juga, tapi kalau ingin hidup, kita harus hidup bersama, mau mati biar mati bersama,

apa bedanya antara enam jam dengan dua belas jam? Siau-cu, bawa kemari obat itu,
ayo kita makan bersama sebutir obat dan bersama melewati sisa enam jam yang
terakhir ini.”
Hui Beng-cu angsurkan obat itu ke tangannya, tanpa banyak bicara Pang Goan
menjejalkan sebutir pil ke mulut Ho Leng-hong, sementara ia dan Beng-cu juga
menelan sebutir, kemudian melepaskan pemuda itu dari tindihannya.
Setelah obat itu masuk ke dalam perut, hawa hangat seketika menjalar ke seluruh
tubuh.
Ho Leng-hong menggeleng kepala dan tertawa getir, ia berkata, “Lotoako, buat apa
kau berbuat demikian . . . . . .” Tanpa terasa air mata jatuh berlinang membasahi
pipinya.
“Hei, apa yang kau tangisi? Jangan bersikap tak becus seperti itu, masa tidak takut
ditertawai Siau-cu?”
Air mata berderai membasahi wajah Ho Leng-hong, sambil menahan isak tangisnya
ia berkata, “Aku menangis bukan lantaran takut mati, tapi apa yang kita alami tadi
justru mengingatkan aku akan ibuku yang telah tiada . . . .”
“Mengapa dengan ibumu?” tanya Pang Goan tercengang.
“Sewaktu kecil dulu watakku sangat keras kepala, masih kuingat suatu ketika tatkala
kau jatuh sakit, ibu suruh aku minum obat tapi aku tak mau, ibu memaksaku untuk
menghabiskan obat itu, akhirnya kejadian seperti tadi, obat itu tumpah ke tanah
sedang ibuku kena kutendang waktu mencekoki obat ke mulutku . . . .”
Kejadian itu merupakan pengalaman pada masa kecil yang mudah menimbulkan
gelak tertawa, tapi entah mengapa, Pang Goan dan Hui Beng-cu tak mampu tertawa.
Ho Leng-hong terbuai lagi dalam lamunannya, “waktu kecil nakalku tidak
ketolongan lagi, sampai ibuku kehabisan akal padaku, suati hari seorang kakek
tetangga mati, keluarganya mengeluarkan sebutir mutiara untuk dijual guna membeli
peti mati, ibu merasa senang dengan mutiara itu tapi tak mampu membelinya, waktu
itu aku berada di sisinya dan berkata, “Ibu, apa yang menarik dengan benda itu, bila
aku dewasa nanti dan kaya, bila ibu meninggal pasti akan kubelikan sebuah peti mati
kaca . . . .”
Belum habis perkataannya, mendadak mencorong sinar matanya.
Tiba-tiba ia melompat bangun dan lari masuk ke dalam istana es.
Pang Goan dan Hui Beng-cu kuatir ia mengalami kejadian di luar dugaan, buru-buru
mereka mengejar ke dalam.
Ketika itu daya kerja obat telah menyebar, setelah berada dalam istana es, mereka
tidak merasa kedinginan.

Ho Leng-hong langsung menghampiri kolam di tepi liang api itu, dengan mata
melotot ditatapnya dua sosok mayat di tepi kolam tersebut dengan termangu.
Mayat tua dan muda itu mungkin terdiri dari seorang ayah dengan puteranya, anak
berbaring di atas sebuah panggung es setinggi dua tombak, sedang ayahnya
berjongkok di tepi kolam seperti sedang mengambil air, entah mengapa mereka
berdua sama-sama mati kedinginan di situ.
Pang Goan dan Hui Beng-cu berdiri saling pandang, mereka sama tercengang dan
tidak mengerti.
Tiba-tiba Ho Leng-hong bertanya, “Coba kalian lihat, bukankah kematian kedua
orang ini sangat aneh?”
“Benar, memang aneh, cuma makna apakah yang terkandung di balik keanehan itu?”
ucap Pang Goan.
“Coba kauterka, apa yang sedang mereka lakukan?”
Pang Goan berpikir sejenak, lalu sahutnya, “Mungkin puteranya membeku karena
kedinginan, maka ayahnya ingin mengguyur tubuhnya dengan air panas, sayang dia
sendiripun tidak tahan hingga akhirnya ikut mati di tepi kolam . . . .”
“Betul!” jawab Ho Leng-hong sambil mengangguk, “ia memang sedang menolong
puteranya, sebab kematian puteranya dalam keadaan beku adalah karena salah
perhitungan.”
“Darimana kautahu?” tanya Pang Goan terkejut.
“Coba kalian perhatikan dengan saksama, di sini terdapat dua bagian tempat yang
pantas diperhatikan secara khusus. Pertama, di mana puteranya berbaring terdapat
sebuah panggung es yang tingginya mencapai dua kaki, sesungguhnya di situ tiada
bentuk tanah semacam itu. Kedua, telapak tangan ayahnya hancur, ini menunjukkan
air yang diambil adalah air panas dan bukan air dingin.”
“Tapi apa artinya semuanya itu?” kembali Pang Goan bertanya.
“Kupikir mereka telah berhasil menemukan cara untuk meloloskan diri, sayang
karena suatu kekeliruan kecil mengakibatkan usaha mereka gagal total, bahkan harus
mati secara penasaran,” tutur Leng-hong.
Berdetak keras jantung Pang Goan dan Hui Beng-cu setelah mendengar perkataan
itu, serentak mereka berseru, “Bagaimana caranya itu?”
“Menyembunyikan orang di dalam es!” jawab Leng-hong dengan serius.
“Menyembunyikan orang di dalam es?” seperti baru sadar akan sesuatu Pang Goan
segera berseru, “maksudmu, kita simpan orang di dalam balok es, lalu

meneroboskannya lewat liang api?”
“Benar. Keadaan ini persis seperti peti mati kaca yang tadi kubicarakan, kurasa hanya
dengan cara ini saja orang bisa melewati liang api tanpa kuatir terbakar tubuhnya!”
“Kalau begitu mari kita coba sekarang juga....” seru Hui Beng-cu dengan girang.
Tapi Pang Goan segera menggoyang tangan dan mencegah gadis itu berbicara lebih
jauh, kepada Ho Leng-hong ia berkata, “Apakah kau berhasil menemukan sebabsebab
kegagalan mereka?”
“Ya!” jawab Leng-hong sambil mengangguk, “mereka gunakan air dingin untuk
membuat panggung es lebih dulu, kemudian menyuruh puteranya berbaring di atas
panggung itu, lalu ayahnya menyirami tubuh anaknya dengan air dingin, karena udara
dalam ruangan ini sangat dingin maka dalam waktu singkat sekeliling tubuh
puteranya sudah dilapisi oleh es beku, cara ini memang sempurna, sayang mereka
telah melupakan suatu hal kecil, yakni setelah air itu membeku maka lapisan es itu
akan melengket menjadi satu dengan lantai dan tak mungkin bisa di gerakkan lagi,
jelas ayahnya menjadi gelisah, dalam keadaan begini, maka ia ingin menggunakan air
panas untuk melumerkan lapisan es, sebab itu tangannya menjadi melepuh dan luka
parah, akibatnya mereka berdua mati di tepi kolam.”
Sambil mendengarkan uraian tersebut, Pang Goan mengangguk, katanya kemudian,
“Mungkin juga tenaga dalam puteranya tidak cukup kuat dan tak sanggup bertahan
lama dalam es, akibatnya ia mati sesak di situ.”
“Padahal kalau ingin menghindari pembekuan antara balok es dengan lapisan es di
lantai, asal kita lapisi secarik kain lebih dulu di tanah sebelum pembentukan balok es,
hal ini akan beres dengan sendirinya, kendati demikian masih ada dua hal yang
merupakan kekurangan besar yang sulit untuk diatasi.”
“Dua hal bagaimana itu?”
“Pertama, cara ini terlalu menyerempet bahaya, sebab siapapun tidak tahu berapa
panjang jarak liang api itu dengan daerah aman, kalau jaraknya lebih jauh dari
perkiraan, akibatnya balok es itu habis cair lebih dulu sebelum sampai di tempat
tujuan, dalam keadaan demikian kita bakal mati konyol.”
“Ya, kecuali cara ini tak ada jalan lain yang lebih baik lagi, tapi tetap berharga untuk
menempuh bahaya ini. Coba sebutkan pula kekurangan kedua!”
“Kedua, untuk mewujudkan cara ini kita harus korbankan seseorang untuk tetap
tinggal di sini, selain itu datarkah liang api itu? Tiadakah tikungan lainnya? Hal ini
masih bergantung pada nasib mujur masing-masing, jelas tak mungkin diselidiki
sebelumnya.”
Pang Goan menengadah dan menarik napas panjang, “Tiada sesuatu cara yang
sempurna, kurasa inilah satu-satunya cara yang bisa kita coba sekalipun tetap harus
menyerempet bahaya. Bahwa seseorang harus berkorban dan tetap tinggal di sini,
kurasa jauh lebih baik daripada semua orang mampus sekaligus, biar aku saja yang

tinggal di sini.”
“Tidak bisa, Toako adalah pemilik Cian-sui-hu, kalau dibilang siapa yang harus
berkorban maka sepantasnya akulah yang tetap tinggal di sini,” kata Leng-hong.
“Tidak, orang yang tinggal harus memiliki tenaga dalam yang sempurna, dengan
demikian baru bisa cepat mendorong kedua rekannya melewati liang api itu, tenaga
dalammu tak dapat menandingi kelihaianku, buat apa kau berebut denganku?”
“Tapi cara ini akulah yang mendapatkan, aku berhak untuk membagi tugas kerja
untuk kalian.”
“Dalam hal ini jangan dibicarakan soal hak, kita mesti berbicara mengikuti keadaan
umumnya, di antara kita bertiga, Siau-cu adalah kaum perempuan, jelas ia tak boleh
tinggal di sini, sedang kau adalah satu-satunya orang berhasil menguasai ilmu golok
Ang-siu-to-hoat, maka kaupun tak boleh tinggal di sini.”
“Di antara kalian berdua, yang seorang adalah pemilik Cian-sui-hu, sedang yang lain
adalah puteri kesayangan dari Hiang-in-hu, kematian kalian berdua sangat
mempengaruhi keadaan orang banyak, jadi kalian sama-sama tak boleh tinggal di sini,
hanya aku seorang yang hidup sebatang kara tanpa sanak tanpa keluarga, maka pantas
kalau aku yang ditinggal di sini . . . . .”
“Cukup! Cukup!” teriak Hui Beng-cu dengan suara lantang, “kalian dua orang lelaki
selalu ribut setiap menghadapi persoalan, sungguh menjemukan! Menurut
penilaianku, yang tinggal di sini justru paling aman, sedang orang yang pertama yang
harus melewati liang api itu justru paling berbahaya, sekarang kalian saling berebut
sendiri, apakah kalian sama-sama takut mati?”
“Darimana kautahu yang tetap tinggal di sini justru yang paling aman?” tanya Lenghong
dengan penasaran.
“Kenapa tidak?” jawab Beng-cu, “coba bayangkan sendiri, bila tidak berhasil
melampaui liang api, orang yang disimpan dalam balok es pasti akan mati lebih dulu,
sebaliknya kalau berhasil, maka orang yang lolos itu masih bisa berusaha untuk
mengadakan pertolongan pada temannya lewat pintu istana sebelah depan, bukankah
yang tinggal di sini paling aman?”
Ho Leng-hong dan Pang Goan menundukkan kepalanya dan berpikir, mereka tidak
bicara lagi.
Ucapan Hui Beng-cu memang masuk diakal, tapi juga belum tentu benar, karena
orang yang berada dalam balok es meski termasuk menyerempet bahaya toh ia masih
ada harapan untuk hidup, sebaliknya mereka yang tinggal dalam istana es dengan
ransum yang sudah habis, paling banyak Cuma bisa bertahan selama dua belas jam
saja, padahal keadaan dalam Mi-kok amat kacau, siapa yang berani menjamin yang
sudah lolos itu akan memberi pertolongan dengan lancar dalam sehari semalam yang
amat singkat?
Kalau pertolongan datangnya terlambat, niscaya orang itu akan tewas juga.

Berputar pikiran Pang Goan, tiba-tiba ia berkata, “Lote, begini saja. Salah seorang di
antara kita berdua harus dapat menembus liang api ini meski menyerempet bahaya,
sedangkan yang lain tetap tinggal di sini, untuk adilnya, marilah kita undi saja?”
Leng-hong termenung agak lama, akhirnya ia setuju juga.
Dari sakunya Pang Goan mengambil keluar beberapa keping uang perak, sambil
digenggam dalam tangan katanya, “Mari kita bertaruh jumlah kepingan perak dalam
genggamanku ini, kita bertaruh dalam jumlah ganjil atau genap, yang salah menebak
dia harus menyerempet bahaya untuk menerobos liang api, sedang yang menebak
dengan jitu tetap tinggal di sini, taruhan hanya berlangsung sekali dan tak boleh
menyesal. Nah, tebaklah lebih dulu.”
“Uang perak itu milikmu, tentu saja kau tahu jumlahnya,” kata Leng-hong.
“Sebab itulah kupersilakan kepadamu untuk menebak lebih dulu, dengan demikian
baru adil namanya.”
Leng-hong berpikir sebentar, lalu katanya, “Baiklah, aku tebak ganjil!”
Pang Goan segera membuka telapak tangannya sambil tertawa, “Maaf, tebakanmu
keliru, perak ini berjumlah enam keping, jadi genap!”
Ho Leng-hong mencoba untuk memperhatikan keenam keping uang perak itu, empat
di antaranya berwarna lusuh, jelas sudah lama, sedang dua keping lainnya berwarna
agak baru, jelas secara diam-diam Pang Goan telah meremukkan kepingan perak yang
agak besar menjadi dua keping kecil.
Ditatapnya Pang Goan dengan rasa haru, ia tak tega membongkar rahasia itu,
terpaksa katanya dengan menghela napas, “Legakan hatimu Toako, bila aku
beruntung bisa lolos dengan selamat, dalam waktu dua belas jam kami pasti akan
kembali ke sini untuk menolongmu.”
“Kaupun jangan kuatir,” sahut Pang Goan dengan tertawa, “sepergi kalian nanti, aku
akan tidur sekenyangnya di sini, siapa tahu begitu mendusin dari tidurku nanti, pintu
istana telah terbuka lebar.”
Habis berkata ia mulai membentang selembar pakaian di tanah dan membuat
panggung es.
Pang Goan dan Hui Beng-cu segera bekerja sama menyiramkan air kolam ke atas
tubuh Ho Leng-hong, air yang diambil dari kolam segera membeku, tak lama
kemudian sebatas dada Ho Leng-hong ke bawah sudah dilapisi oleh lapisan es yang
tebal.
Akhirnya bagian kepala pun dilapisi es, ia harus menahan napas hingga keluar dari
liang api itu, otomatis pembentukan lapisan es dilakukan dengan lebih cepat.
Sesaat sebelum mengguyurkan air dingin ke wajah Ho Leng-hong, tiba-tiba Pang

Goan berbisik, “Golok mestika Yan-ci-po-to yang didapatkan Ci-moay-hwe adalah
golok yang asli, tapi mata golok telah kupoles dengan air raksa sehingga kelihatan
amat tumpul, asal golok itu kau garang sebentar di atas api, ketajamannya akan segera
pulih kembali . . . . Cian-sui-hu dan Thian-po-hu kuserahkan kepadamu, semoga kau
melindungi Wan-kun dan menyayangi anaknya . . . . . “
Jelas ucapan itu merupakan pesan terakhirnya sebelum berpisah, ini membuktikan
pula tekadnya untuk mengorbankan diri sendiri serta tidak ada niat untuk melanjutkan
hidup.
Ho Leng-hong merasa darah dalam rongga dadanya bergolak keras, hampir saja ia
melompat bangun.
Tapi sebelum ia sempat berusaha, bahkan sebelum ia mengangguk atau melakukan
gerakan yang lain, air dingin telah diguyurkan pada wajahnya . . . . .
Ho Leng-hong memejamkan mata dan menutup pernapasan, telinganya sudah tak
dapat mendengar apa-apa lagi, ia hanya merasa tubuhnya seakan-akan berada dalam
sebuah peti mati besar yang amat dingin, iapun merasa sekujur badan bagaikan diikat
kencang-kencang oleh tali yang kuat sehingga sama sekali tak berkutik.
Namun ia tahu dengan jelas, justru dalam detik-detik yang singkat inilah matihidupnya
akan ditentukan, kalau usahanya meloloskan diri gagal, maka kemungkinan
besar tidurnya ini akan berlangsung untuk selamanya, atau mungkin juga badannya
akan hancur lebur terbakar menjadi abu.
Ia bukan seorang laki-laki pengecut yang takut mati, tapi ia selalu berharap dapat
hidup lebih lama karena tanggung jawab yang berada di pundaknya teramat berat,
semua ini membuatnya tak boleh mati dan juga tak berani mati . . . .
Mendadak ia merasakan sekujur badan bergetar keras dan seperti melayang di udara .
. . hawa dingin di sekelilingnya lenyap dengan cepat, disusul kemudian udara yang
amat panas menyerang tubuhnya.
Sudah pasti lapisan es yang membungkus tubuhnya mulai cair tertimpa panasnya api.
Udara yang panas membuat anak muda itu teringat pada api yang berkobar dalam
liang api, dalam detik yang amat singkat ini, kemungkinan besar tubuhnya akan
terbakar lenyap tak berbekas....
Segala apapun tak berani dibayangkan Ho Leng-hong lagi, ia hanya berharap semoga
tubuhnya yang sedang melayang dapat berhenti dengan cepat.
Asal sudah berhenti maka mati-hidupnya akan diketahui, jika berada di luar liang api
berati umurnya masih panjang, kalau berada dalam liang maka jangan harap akan
hidup terus.
Tapi justru guncangan tersebut dan gerakan melayang belum juga berhenti,
sebaliknya hawa panas yang menyengat badan kian lama kian sukar ditahan, seakanakan
berada dalam sebuah kukusan raksasa yang airnya mendidih.

Dia ingin melihat keadaan itu, namun matanya tak sanggup dibuka, ingin berteriak
namun tiada suara yang keluar, ingin meronta namun tiada tenaga, dalam keadaan
serba susah ia merasa seakan-akan sekujur badan menjadi kaku, seperti terbakar, dan
berubah menjadi abu, berubah menjadi asap . . . .
Blang! Terjadi getaran yang dahsyat, lalu ia tak sadarkan diri.
-----------------------
Rasanya baru terjadi dalam sekejap, tapi juga seakan-akan sudah berlangsung sangat
lama.
Ho Leng-hong membuka matanya, pertama-tama ia lihat langit yang biru, kemudian
ia merasa sekelilingnya berbau belerang yang amat tebal.
Reaksinya yang pertama adalah ingin melompat bangun dan duduk, tapi sebuah
tangan segera menekan tubuhnya, menyusul bergema suara nyaring merdu di sisi
telinganya, “Jangan sembarangan bergerak, apakah kau ingin membuat terbalik
perahu ini agar semua orang berubah seperti ayam kucemplung kali?”
Itulah tangan seorang perempuan, suara perempuan, bahkan kedengaran seperti sudah
dikenalnya.
Mula-mula Ho Leng-hong mengira perempuan itu adalah Hui Beng-cu, tapi setelah
berpaling baru diketahui bahwa ia berbaring di atas sebuah perahu kecil, orang yang
sedang mendayung perahu itu adalah seorang gadis asing.
Perahu itu kecil sekali, si nona masih amat muda, sekilas pandang bisa diketahui
bahwa usianya baru dua puluh tahunan, mukanya bulat telur dengan mata yang besar
dan jeli, bajunya berwarna hijau dengan gaun berwarna biru, separuh gaunnya basah
kuyup.
Leng-hong mencoba untuk duduk, sayang sampan itu terlampau kecil, baru saja ia
bergerak segera menimbulkan guncangan keras.
Buru-buru nona berbaju hijau itu menghentikan dayungnya, dengan setengah
mengomel dan setengah tertawa katanya, “Eh, bagaimana kamu ini?” Suruh jangan
bergerak, kenapa kau tidak mau menurut perkataanku? Coba lihatlah, lantaran ingin
menolongmu, gaunku menjadi basah kuyup, atau kau baru puas bila melihat sekujur
badanku menjadi basah?”
Terpaksa Leng-hong berbaring kembali, dengan menyesal katanya, “O, maaf, aku
tidak bermaksud demikian, aku hanya ingin . . . ingin . . . .”
Nona berbaju hijau itu kembali mendayung, tukasnya, “Bukankah kauingin bertanya
padaku, seorang kawan perempuanmu apakah juga sudah tertolong, begitu bukan?”
“Benar! apakah nona melihatnya?” seru Leng-hong gelisah.

Nona berbaju hijau itu tertawa, “Tentu saja telah kulihat dia, kalau tidak, darimana
kutahu kau masih mempunyai seorang kawan?”
“Sekarang ia berada di mana? Bagaimana keadaannya?”
“Jangan kuatir, ia baik-baik saja dan berada di perahu lain, mungkin sudah berangkat
pulang duluan, taciku yang membawa perahu tersebut.”
“Terima kasih banyak nona . . . .”
Demi mengetahui Hui Beng-cu juga sudah tertolong, ia tak tahu haruskah bergirang
atau sedih? Girang karena mereka berdua akhirnya berhasil lolos dari liang api dengan
selamat, sedih karena meski Hui Beng-cu berhasil lolos dan tertolong, ini
membuktikan pula bahwa di antara mereka berdua tentu terpaut suatu jarak waktu
yang cukup lama, hal ini kemungkinan besar mempengaruhi keselamatan jiwa Pang
Goan yang berada di dalam istana es.
Tempat ini merupakan sebuah telaga kecil di atas gunung, luasnya tidak seberapa
besar, berhubung letaknya dekat kawah, maka air telaga pun menjadi panas dan
mengandung belerang.
Ho Leng-hong sangat menguatirkan keselamatan Pang Goan, segera ia tanya pula,
“Nona, tahukah kau sudah berapa lama aku tercebur ke dalam telaga?”
“Hahaha, lucu amat pertanyaanmu,” kata si nona baju hijau sambil tertawa, “masa
kausendiri tidak tahu sudah berapa lama tercebur ke dalam telaga?”
“Terus terang, ketika tercebur ke dalam telaga aku berada dalam keadaan tak sadar,
hakikatnya aku tidak tahu soal waktu.”
“Apa sebabnya kau sampai tercebur ke dalam telaga?”
“Tentang ini . . .” Ho Leng-hong tak ingin menyinggung masalah lembah Mi-kok,
terpaksa bohongnya, “aku dengan nona Hui sedang mencari obat di atas gunung,
karena kurang hati-hati kami berdua terpeleset jatuh ke bawah.”
“Mencari obat? Mencari obat apa? Gunung ini tandus dan gersang, rumput pun tak
bisa tumbuh, apalagi tumbuhan obat segala?”
Seketika Leng-hong tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Memang betul,
bukit belakang dekat Mi-kok memang sebuah bukit yang gersang dan gundul, hanya
di seberang telaga saja ada tumbuh-tumbuhan.
Untung otaknya dapat berputar cepat, buru-buru katanya lagi sambil tertawa, “Obat
yang kami cari bukan sembarangan rumput obat, melainkan sejenis benda yang
tertanam dalam tanah, bila digali keluar akan bisa dipakai untuk bahan mesiu.”
“O, tahulah aku sekarang, kalian pasti sedang mencari belerang.”
“Bukan, bukan belerang, tapi sejenis benda yang hampir mirip dengan belerang.”

Ia merasa gadis berbaju hijau ini mempunyai daya pikir yang bagus, terutama bila
menghubungkan persoalan yang satu dengan lainnya, nona itu pun suka tanya macammacam,
maka ia tak berani bicara secara pasti.
Ternyata kali ini si nona tidak mendesak lebih jauh, sambil tertawa katanya, “Ah,
pokoknya aku tahu kalian bukan datang untuk mencari obat, persoalan ini tidak
menyangkut diriku dan akupun tak ingin banyak bertanya, dulu ibu sering berkata
kepadaku, ‘Kalau bertemu orang, bicaralah tiga patah kata saja, agar jangan disangka
yang bukan-bukan oleh orang.’ Rupanya kalian mempunyai jalan pikiran seperti itu?”
“Nona salah paham . . . .” kata Leng-hong sambil tertawa getir. Cepat-cepat dia
alihkan pembicaraan ke soal lain, katanya, “Terima kasih banyak atas bantuan nona.
Bolehkah kutahu siapa namamu?”
“Kautanya namaku? atau juga keluargaku?”
“Tentu saja menanyakan semuanya, sebab sebenarnya kita akan berkunjung ke
rumahmu serta mengucapkan terima kasih langsung kepada ibumu.”
“Tidak usah, ibuku sudah lama tiada, di rumah hanya ada tiga orang kakak beradik,
kami dari keluarga Kim, Toaci bernama Lam-giok, aku bernama Lik-giok dan adikku
bernama Hong-giok, maka panggil saja namaku Lik-giok!”
Sementara itu perahu sudah menepi dan berlabuh di sebuah selat yang menyorok ke
dalam.
Setelah menambat perahunya, Kim Lik-giok melompat ke daratan lebih dulu,
kemudian menjulurkan tangannya seraya berkata, “Turunlah dengan pelahan, jangan
sampai membuat sampan terbalik.”
Pelahan Ho Leng-hong berduduk dan mengatur napas, ternyata isi perutnya tidak
terluka, hanya sekujur badan terasa pegal, keempat anggota badannya lemas dan tak
bertenaga, maka di bawah bimbingan Lik-giok iapun naik ke darat.
Tak jauh di depan sana berlabuh pula sebuah sampan kecil, papan geladaknya basah,
tapi tak nampak manusia, rupanya Hui Beng-cu benar-benar sudah tertolong dan
mendarat duluan.
Ketika Lik-giok melihat langkah Leng-hong amat susah, serta merta dipayangnya
pemuda itu sambil berkata, “Tangga batu ini tinggi, mari kubimbing kau ke atas.”
Buru-buru Ho Leng-hong mengucapkan terima kasih, di bawah bimbingan Lik-giok
selangkah demi selangkah ia naiki tangga batu itu.
Tangga batu itu mencapai seratus undak lebih, pada ujung tangga tersebut berupa
sebuah tanah lapang berumput yang luas, beberapa tombak di sebelah depan sana
berdirilah tiga buah rumah gubuk berpagar bambu.
Ketika mencapai tepi pagar bambu, Ho Leng-hong sudah kepayahan hingga napas

tersengal, dengan susah payah ia memasuki rumah tersebut, suasana di situ amat
hening dan tak nampak sesosok bayangan manusia pun.
Lik-giok membimbingnya masuk ke dalam sebuah kamar di samping kanan, lalu
katanya, “Lepaskan dulu pakaianmu yang basah, akan kubawa untuk dijemur, setelah
kering nanti dikenakan kembali.”
Leng-hong coba memperhatikan sekejap sekeliling ruangan, ditemuinya kecuali
sebuah selimut di atas pembaringan, di situ tidak ditemukan secuwil kain pun, hal ini
membuatnya ragu.
“Ayo, cepat lepas pakaianmu,” desak Lik-giok lagi, “jangan sampai masuk angin
karena memakai baju yang basah kuyup.”
Leng-hong tertawa jengah, katanya, “Nona, apakah kaupunya pakaian untuk lelaki?
Pinjamkan untukku!”
“Wah, sulit, di rumah hanya terdiri dari tiga orang perempuan, darimana datangnya
pakaian lelaki? Lebih baik berbaringlah dalam selimut, bagaimanapun toh tak ada
orang lagi, jangan kuatir ketahuan orang lain.”
“Aku rasa . . . hal ini kurang baik!”
“Kenapa tidak baik? Itu pembaringanku, aku rela digunakan olehmu, siapa yang
berani mengatakan tidak?”
Gadis itu ternyata tidak banyak pikir, sebaliknya Ho Leng-hong merasa malu untuk
melepaskan pakaian dan berbaring dalam keadaan telanjang bulat di atas pembaringan
si nona.
Bukannya dia tidak berpengalaman dalam keadaan demikian, tapi gadis itu tak
pernah dikenalnya, tak pernah mempunyai hubungan apa-apa, lagi telah menolong
jiwanya, kendatipun ia bukan seorang Kuncu (gentleman), tapi dia tak ingin
melakukan sesuatu yang melanggar tata susila, apalagi berduaan saja dalam sebuah
kamar dengan seorang gadis muda.
Tapi dalam kamar tidak tersedia pakaian kering sebagai penggantinya, bagaimana
pun mustahil baginya untuk berbaring di atas pembaringan dalam keadaan basah
kuyup . . . .
Sementara ia merasa serba susah, dengan tidak sabar Lik-giok berkata, “Mengakunya
seorang lelaki sejati, tapi tidak tegas menghadapi persoalan, sekarang kusediakan dulu
makanan untukmu, bila aku kembali nanti ternyata bajumu belum dilepas, jangan
menyesal jika aku yang akan mencopot bajumu.”
Sepeninggal Lik-giok, Ho Leng-hong merasa kehabisan akal, terpaksa ia lepaskan
baju yang basah dan buru-buru menyusup ke dalam selimut.
Tak lama kemudian Lik-giok telah kembali sambil membawa semangkuk besar
bubur hangat, katanya sambil tertawa, “Kutahu perutmu tentu lapar, cepat habiskan

bubur ini sementara kujemurkan pakaianmu yang basah ini.”
Leng-hong memang sangat lapar, baru saja Lik-giok keluar kamar, separuh mangkuk
bubur sudah berpindah ke perutnya.
Manusia adalah besi, nasi adalah baja.
Setelah semangkuk bubur habis dimakan, Ho Leng-hong merasa semangatnya pulih
kembali, rasa linu pegal berkurang banyak, iapun ingin cepat-cepat bertemu dengan
Hui Beng-cu dan berusaha lekas kembali ke Mi-kok untuk menolong Pang Goan.
Siapa tahu Lik-giok sudah pergi lama sekali dan belum juga kembali, suasana di
sekeliling sana amat sepi tak terdengar suara apapun, seakan-akan rumah itu kokang,
tak berpenghuni.
Lambat laun, cahaya matahari di luar jendela pun condong ke barat.
Makin ditunggu Leng-hong merasakan keadaan semakin tidak beres, sebenarnya ia
ingin bangun untuk memeriksa, apa daya, tubuhnya dalam keadaan bugil, beberapa
kali ia mencoba berteriak, namun tak seorang pun yang menjawab.
Tak lama kemudian sang surya telah tenggelam di balik bukit, senja pun tiba.
Leng-hong jadi teringat kembali akan suara Lik-giok yang seperti sudah dikenalnya,
menyusul kemudian iapun teringat bahwa Lik-giok tak pernah tanya nama dan
alamatnya, padahal di sekitar lembah tak ada penduduk, mana mungkin ada orang luar
yang bertempat tinggal di dekat Mi-kok . . . . .
“Wah, celaka, aku tertipu!”
Dengan terperanjat Ho Leng-hong melompat bangun, baru saja dia hendak merobek
selimut untuk menutupi bagian tubuhnya yang terlarang agar bisa keluar dari situ,
mendadak bayangan seorang muncul di depan pintu.
Dia adalah seorang nona berbaju merah, entah sedari kapan nona itu sudah berdiri di
luar pintu sambil memandangnya dengan senyum dikulum.
“Ho-tayhiap, masih kenal padaku?” sapa gadis itu sambil tertawa cekikikan.
Warna pakaian yang sudah dikenalnya dengan suara yang amat dikenal pula.
Rasa ngeri muncul dari lubuk hati Ho Leng-hong, tanpa terasa ia berseru,
“Samkongcu!”
Cepat-cepat ia menyusup lagi ke dalam selimut dan menutupi tubuhnya yang bugil
itu.
Sambil tertawa cekikikan Samkongcu melangkah ke dalam ruangan, kemudian
katanya, “Tak kusangka Ho-tayhiap masih ingat padaku, cuma Samkongcu hanya
sebutan yang berlaku dalam organisasi Ci-moay-hwe, namaku sekarang adalah Kim

Hong-giok!”
“O, kalau begitu Kim Lam-giok dan Kim Lik-giok adalah Toakongcu dan Jikongcu
dari Ci-moay-hwe?” pekik Ho Leng-hong dengan kaget.
“Ho-tayhiap memang tak malu disebut sebagai orang pintar,” goda Samkongcu
sambil tertawa, “aku berurutan nomor tiga, tentu saja di atasku masih ada dua orang
kakak, sudah lama sekali kami bertiga dari Ci-moay-hwe menanti kedatangan Hotayhiap
di sini.”
“Mau apa kalian menantikan kedatanganku?”
“Bersahabat, membicarakan transaksi dagang dan kedua belah pihak akan sama-sama
mendapatkan untung.”
Ho Leng-hong tertawa dingin, “Hehehe, kalian telah memperalah diriku sebagai Nyo
Cu-wi, lalu mencuri golok Yan-ci-po-to, kemudian memfitnah kami agar ditangkap
pihak Mi-kok . . . tidak cukupkah kalian membikin celaka kami ini? Apa lagi yang
perlu dibicarakan? Maaf, aku tidak berminat lagi.”
Samkongcu tidak menyangkal semua tuduhan tersebut, dengan wajah masih dihiasi
senyuman ia berkata, “Urusan yang sudah lewat lebih baik jangan dibicarakan lagi,
yang perlu dibicarakan adalah masalah sekarang, masalah yang menyangkut tiga
nyawa, kupikir Ho-tayhiap pasti masih berminat.”
Karena ucapan yang penuh keyakinan itu mau-tak-mau Ho Leng-hong harus
memperhatikan, tanyanya, “Tiga nyawa yang mana?”
“Kau, Hui Beng-cu serta Pang Goan yang masih tertinggal dalam istana es dan
menunggu pertolonganmu.”
“Kau mengetahui semuanya?” desis Leng-hong.
Samkongcu manggut-manggut, “Bagaimanapun Hui Beng-cu masih muda dan lebih
jujur dibandingkan dirimu, ia telah menceritakan semua kejadian kepada kami. Nah,
bagaimana? Waktu tidak banyak, bersediakah kau melakukan suatu barter yang adil?”
Menyinggung soal waktu, Leng-hong merasa gelisah sekali, teringat pada Pang Goan
yang sedang menunggu dalam istana es ditambah lagi cuaca mulai gelap, kendatipun
gemas, tapi apa daya?”
Akhirnya dengan perasaan apa boleh buat ia menghela napas panjang, sedapatnya ia
bersikap tenang, katanya sambil tertawa, “Baiklah, anggap saja kau yang menang,
pertukaran apa yang kauinginkan?”
“Tiga nyawa ditukar dengan rahasia ilmu golok Ang-siu-to-hoat, adil bukan?”
“Kim Hong-giok, kau jangan keliru, aku Ho Leng-hong bukan anggota lembah Mikok.”

“Aku tahu,” rupanya Kim Hong-giok sudah mempunyai perhitungan sendiri, ia
berkata lebih jauh, “aku tahu baru saja kau menerobos istana es dan menembus kawah
api, baru lolos dari kematian, tidak mungkin kau keluar dengan tangan hampa
bukan?”
Leng-hong tertawa getir, “Kalau sudah tahu kami baru lolos dari kematian, mestinya
kau juga harus tahu bahwa kami tak punya waktu untuk mempelajari ilmu golok
tersebut.”
“buat orang lain mungkin ucapan ini benar, tapi tak berlaku bagimu,” kata Kim
Hong-giok dengan tertawa.
“Tapi aku kan sama saja, juga seorang manusia.”
“Benar, kau memang manusia, tapi bukan manusia goblok, kau adalah seorang
manusia cerdas yang tak akan melupakan apa yang pernah kaulihat.”
Kemudian ditatapnya wajah Ho Leng-hong dengan serius, katanya lebih jauh,
“Menurut apa yang kuketahui, sewaktu berada di Tiang-lo-wan dalam Mi-kok, cukup
menyaksikan jalannya pertarungan antara Pui Hui-ji dengan Yu Ji-nio, beberapa jurus
ilmu golok mereka tentu berhasil kausadap, kukira hal ini pernah terjadi bukan?”
“Tapi bukankah kausendiri pernah juga menyadap To-kiam-hap-ping-kiam-hoat
Pang-toako dengan cara menyuruh keempat perempuan Ainu itu mengerubutinya?”
“Sebab itulah lebih baik kita bicara blak-blakan, apapun tak usah membohongi yang
lain,” kata Kim Hong-giok sambil tertawa.
Leng-hong berpikir sebentar, lalu katanya, “Bukankah kau telah bersekongkol
dengan orang-orang dari Mi-kok? Untuk mencuri belajar ilmu golok mereka
sesungguhnya bukan pekerjaan yang sulit, mengapa kau harus mengincar aku orang
she Ho?”
“Ini disebabkan oleh dua alasan, pertama mengenai untung-rugi kedua pihak, jadi tak
mungkin berhubungan secara jujur, kedua, aku ingin membuktikan apakah ilmu golok
yang mereka pelajari adalah ilmu golok yang komplit? Ataukah masih ada bagian
yang sengaja mereka rahasiakan?”
Ho Leng-hong tak ingin membuang waktu percuma, setelah termenung sebentar,
jawabnya, “Baiklah, kukabulkan permintaanmu, tapi ada syaratnya yang harus
kaupenuhi dulu.”
“Katakan!”
“Bukankah kaubilang akan bertukar syarat denganku dengan jaminan tiga nyawa,
diantaranya termasuk juga Pang-toako? Oleh karena itu, kau harus membantu
menolong Pang-toako lebih dahulu sebelum ilmu golok Ang-siu-to-hoat
kuberitahukan kepadamu.”
“Maksudmu aku harus membantumu menyerbu ke Mi-kok, membuka pintu istana es

dan mempersilakan Pang Goan keluar dengan terang-terangan?”
“Betul!”
“Maaf, aku tidak memiliki kekuatan tersebut. Bila istana es bisa kumasuki
sekehendak hatiku, apa perlunya aku bertukar syarat denganmu?”
“Sekarang Pang-toako belum lolos dari bahaya, jadi kau tidak dapat melaksanakan
syarat kita, lalu apa gunanya kaubicara pertukaran kepadaku.”
“Soal ini . . . . . .” Kim Hong-giok berpikir sejenak, “Yang bisa kulakukan hanya
mengantarmu kembali ke Mi-kok, di samping itu kuberikan pula perlindungan serta
keleluasaan untuk bergerak, mengenai pertolongan atas Pang Goan adalah urusanmu
sendiri, maaf bila aku tak dapat membantu apa-apa.”
“Padahal dua masalah tersebut tak perlu bantuanmu, kauanggap aku tak bisa pergi
sendiri ke Mi-kok?” seraya berkata ia lantas bangkit dan duduk di pembaringan . . . . .
. . .
Tapi baru setengah badan terangkat, cepat ia mengkeret lagi, tiba-tiba ia menemukan
dirinya memang benar-benar tak bisa pergi lagi ke Mi-kok.
Pertama, tentu saja karena ia berada dalam keadaan bugil dan tak mungkin turun dari
pembaringan.
Kedua, ia merasa dalam dadanya seperti ada gumpalan hawa dingin yang menyumbat
jalan pernapasannya dan membuat ia tak mungkin mengerahkan tenaga dalamnya.
Terhadap kesulitan yang pertama, ia masih sanggup untuk melakukannya dengan
tebalkan muka, tapi terhadap kesulitan yang terakhir, mau-tak-mau ia terkejut juga,
jelas dalam bubur panas tadi telah dicampuri sesuatu obat tertentu.
Kim Hong-giok tertawa genit, ucapnya dengan lembut, “Ho-tayhiap, sekarang apa
mau bertukar syarat denganku? Aku tak terburu-buru ingin mengetahui Ang-siu-tohoat,
tapi kukuati Pang-tayhiap tidak memiliki waktu yang cukup untuk menunggu
kedatanganmu.”
“Orang she Kim, kau benar-benar manusia rendah yang tak tahu malu,” damprat
Leng-hong gemas.
Kim Hong-giok tidak menyangkal, mala ucapnya dengan tertawa, “Terhadap seorang
yang telah belajar Ang-siu-to-hoat harus di hadapi seperti menghadapi seekor harimau
ganas, mau-tak-mau kami harus waspada.”
“Baik! Aku mengaku kalah,” jawab Leng-hong sambil memejamkan mata, “beri aku
pakaian dan obat penawar, segera kudemonstrasikan ilmu golok Ang-siu-to-hoat di
hadapanmu.”
“Tahu begini, kita tak usah banyak bicara,” kata Kim Hong-giok sambil tersenyum.

Ia bertepuk tangan tiga kali, seorang perempuan setengah umur mengiakan dan
melangkah masuk, di tangannya membawa pakaian Ho Leng-hong serta sebutir pil.
Kim Hong-giok meletakkan pakaian dan pil itu di ujung pembaringan, sambil
berbangkit berdiri katanya, “Waktu lebih berharga daripada emas, aku tak ingin
mengganggumu lebih lama, harap kau lakukan seperti apa yang dijanjikan agar tidak
mendatangkan kesulitan lagi bagi nona Hui. Nah, akan kutunggu jawabanmu di luar.”
Seperti seekor ayam jago yang kalah bertarung, terpaksa Leng-hong menuruti
perintah si nona.
-------------------
Ci-moay-hwe tidak malu disebut sebagai sebuah organisasi yang amat rahasia,
hingga kini setiap langkah mereka selalu diatur dengan masak, setiap persolan selalu
berada dalam perhitungan mereka, seolah-olah setiap urusan yang dicampuri Cimoay-
hwe pasti akan terjatuh dalam cengkeraman mereka, bahkan keadaan dalam
lembah Mi-kok pun tidak terkecuali.
Akan tetapi, kendatipun Kim Hong-giok amat cerdik, tapi ia melalaikan sesuatu yang
justru sangat penting artinya.
Yakni ia tidak tahu bahwa ilmu golok Ang-siu-to-hoat sesungguhnya terdiri dari
sembilan jurus.
Setiap orang yang pernah mendengar kisah mengenai Ang-ih Hui-nio dengan Oh Itto
tentu mengetahui bahwa sejak suami-isteri ini berpisah, mereka telah bertarung
sebanyak delapan kali dari setiap kali bertarung hanya terdiri dari satu jurus, yaitu asal
mulanya ilmu golok Poh-in-pat-tay-sik dan ilmu golok Ang-siu-to-hoat.
Oleh sebab itu ketika Ho Leng-hong hanya memainkan delapan jurus, dan jurus
kesembilan yang merupakan jurus terpenting sengaja dirahasiakan, Kim Hong-giok
sedikitpun tidak merasa curiga.
Kendatipun hanya delapan jurus, ternyata sudah menarik segenap perhatiannya,
secara beruntun dia paksa Ho Leng-hong berlatih tiga kali lagi baru garis besar ilmu
golok itu berhasil di apalkan olehnya, tentu saja belum mencakup intisarinya.
Kim Hong-giok memang cerdik, kalau Ho Leng-hong membutuhkan waktu dua-tiga
jam untuk memahami satu jurus, maka Kim Hong-giok seluruhnya hanya perlu duatiga
jam untuk memahami delapan jurus tersebut.
Ketika delapan jurus serangan itu selesai dilatih, tengah malam pun sudah lewat.
“Hanya ini saja yang kuketahui,” demikian Leng-hong berkata kemudian, “kini Pangtoako
sedang menunggu pertolongan dalam istana es, aku tak bisa membuang waktu
lebih lama lagi, semoga perkataanmu bisa dipercaya dan berusaha membantu aku
masuk kembali ke Mi-kok.”
“O, tentu! Bukan Cuma membantumu kembali ke lembah saja, kami pun berharap

setelah Pang Goan berhasil diselamatkan, kita masih bisa menjadi sahabat untuk
seterusnya, maka kuputuskan untuk menemani kauberangkat ke Mi-kok.”
Leng-hong tercengang, ia tahu keberangkatan si nona ke Mi-kok pasti mengandung
maksud tertentu, tapi untuk mengejar waktu ia tak sempat berpikir panjang lagi, dia
hanya berharap bisa segera berangkat.
Agaknya Kim Hong-giok telah mengadakan persiapan, ketika gaun merahnya diberi
sedikit perubahan dan ditambah jubah luar, maka berubahlah menjadi dandanan
seorang pengawal “berbenang putih”, diajaknya Ho Leng-hong meninggalkan rumah
gubuk itu.
Dari rumah gubuk menuju ke mulut lembah ternyata tidak jauh, Kim Hong-giok juga
apal dengan daerah ini, tak sampai setengah jam mereka telah tiba di tempat tujuan.
Ketika tiba kembali di tempat lama, teringat pengalamannya ketika lolos dari bahaya,
sungguh ngeri rasa hati Ho Leng-hong, ia berhenti di tempat kejauhan sambil
bisiknya, “Hei, kita akan masuk secara terang-terangan ataukah secara diam-diam?”
“Jangan kuatir,” jawab Kim Hong-giok sambil tertawa, “sudah kuatur segala
sesuatunya.”
Ia menyulut api, kemudian obor itu digoyangkan ke atas tiga kali.
Tak lama kemudian dari mulut lembah muncul segerombolan bayangan manusia
yang bergerak mendekat dengan cepat.
Mereka adalah lima gadis bergolok dan seorang utusan “berbenang biru”, sekilas
pandang Ho Leng-hong kenal utusan tersebut sebagai Hoa Jin.
Kim Hong-giok membisikkan sesuatu kepada Hoa Jin, kemudian membaukan diri ke
dalam kelompok perempuan pengawal itu.
Hoa Jin seperti tidak percaya dan terkejut, buru-buru ia maju ke depan dan
mengamati wajah Ho Leng-hong dengan saksama, kemudian serunya tercengang,
“Ah, rupanya benar-benar kau, sungguh tak pernah kusangka!”
“Akupun tak menyangka, tentu kemunculanku ini akan sangat mengecewakan nenek
Tong dan saudara sekalian,” sahut Leng-hong dengan tertawa.
Hoa Jin tidak menjawab, dia memberi tanda dan berseru, “Pasang obor, bunyikan
terompet penyambut tamu agung!”
Enam batang obor segera dipasang, menyusul kemudian suara terompet bergema
nyaring.
Dalam waktu singkat bunyi terompet bersahut-sahutan dari dalam lembah, cahaya
obor bermunculan di mana-mana disusul gemuruh suara manusia.
“Hei, apa-apaan kau?” tegur Leng-hong tercengang.

Sambil memberi hormat, jawab Hoa Jin, “Ho-tayhiap berhasil menerobos istana es
dan melewati kawah api dengan selamat, itu berarti kau telah menjadi tamu terhormat
lembah kami, kedatanganmu akan disambut oleh segenap anggota masyarakat kami.”
Tidak banyak berbicara lagi, mereka lantas mengiringi Ho Leng-hong menuju ke
mulut lembah.
Sepanjang jalan tampak cahaya obor sambung-menyambung bagaikan ular panjang,
sejak mulut lembah sepanjang jalan penuh berjejal manusia baik lelaki maupun
perempuan, tua dan muda, saling berebut melihat kedatangan tamu agung tersebut.
Bunyi terompet yang sahut menyahut agaknya telah membangunkan semua
penduduk lembah dari tidurnya.
Gerak-gerik Ho Leng-hong menjadi tak bebas, sepanjang jalan ia dielu-elukan oleh
masyarakat lembah, ia digiring menuju ke depan perkampungan di mana cahaya
lampu pun terang benderang, Kokcu Tong Siau-sian beserta para Popo dari Tiang-lowan
menyambut kedatangannya di pintu perkampungan.
Air muka Tong Siau-sian lebih banyak diliputi rasa kejut daripada rasa girang, gerakgeriknya
tampak kikuk, sebaliknya para Tianglo tampak diliputi rasa gembira dan
bangga.
Ketika Ho Leng-hong tiba di tempat tujuan, serentak bunyi mercon digelar.
Tong Siau-sian mengalungkan sehelai selendang merah ke atas bahu Ho Leng-hong,
kemudian bisiknya, “Semenjak berdirinya Mi-kok, Ho-tayhiap adalah orang pertama
yang berhasil keluar dari istana es dalam keadaan hidup, dengan inilah kami
mengucapkan selamat padamu.”
“Tidak berani,” sahut Leng-hong sambil menjura, “semua ini berkat nasibku yang
mujur, juga berkat bantuan Kokcu.”
Entak mengapa, tiba-tiba air muka Tong Siau-sian bersemu merah.
Tong-popo tertawa bergelak, “Hahaha, sungguh pandai bicara, mungkin takdir yang
menghendaki Ho-tayhiap mencapai sukses.”
Diiringi orang banyak Ho Leng-hong dibawa masuk ke ruang tengah, Tong Siau-sian
segera mempersilakan tamunya menempati kursi utama dengan didampingi para
Tianglo di kedua sisinya, pelayan segera menghidangkan teh wangi.
Dulu sebagai tawanan dan kini sebagai tamu terhormat, ternyata Ho Leng-hong sama
sekali tidak merasa senang, apa yang dipikirkan sekarang hanya bagaimana caranya
memasuki istana es untuk menolong Pang Goan, cuma sayang ia tak punya
kesempatan untuk buka suara.
Para pengawal berbenang putih belum berhak masuk ke dalam ruangan menemani
tamu, jadi Kim Hong-giok pun tidak diketahui ke mana perginya.

Setelah air teh dihidangkan, Tong Siau-sian kembali menitahkan orang untuk
menyiapkan arak, sementara ia sendiri mohon diri untuk meninggalkan ruangan.
Begitu Tong Siau-sian pergi, Tong-popo lantas berkata dengan tertawa, “Ho-tayhiap,
sejak kedatanganmu di lembah ini, aku sudah tahu bahwa kau bukan manusia
sembarangan, buktinya memang demikian. Nah, aku ingin minta suguhan secawan
arak darimu.”
“Popo terlalu sungkan, aku orang she Ho adalah manusia tak becus, keberhasilanku
tak lebih lantaran nasib lagi mujur,” sahut pemuda itu.
Di luar ia berkata demikian, dalam hati pikirnya, “Mau minum arak boleh minum
sepuasnya nanti, yang penting sekarang lekas buka istana es dan menjemput Pangtoako
keluar dari situ . . . . .”
Di dengarnya Tong-popo berkata lagi sambil tertawa, “Ho-tayhiap adalah naga di
antara manusia, semua Popo telah membuktikan sendiri, menurut pendapatku,
persoalan inipun tak usah dirundingkan lagi, kita tentukan besok sebagai hari baik
saja, entah bagaimana pendapat Cici sekalian?”
“Bagus sekali! Bagus sekali!” sahut para Tianglo serentak.
Lalu Tong-popo berkata kepada Ho Leng-hong, “Inilah rejeki Ho-tayhiap dan juga
merupakan peraturan dari lembah kami, kukira Ho-tayhiap tak akan mengajukan
pendapat lain bukan?”
Apa yang dipikirkan Ho Leng-hong sekarang bagaimana caranya masuk ke istana es,
hakikatnya ia tidak menaruh perhatian terhadap apa yang mereka bicarakan, maka
seenaknya saja ia mengangguk.
“Popo sekalian tak usah terlalu berlebihan, sudah kukatakan keberhasilanku adalah
karena nasibku lagi mujur . . . .”
Karena kurang memperhatikan, dia mengira orang sedang berunding untuk
mengadakan pesta keesokan harinya untuk merayakan peristiwa besar ini.
“Baik!” ujar Tong-popo girang, “kita putuskan besok tengah hari sebagai saat
bahagia, segera siarkan ke seluruh lembah agar bersiap mengadakan pesta.”
Ketika berita tersebut disiarkan, serentak semua anggota masyarakat lembah itu
menyambutnya dengan sorak-sorai gembira, dentuman mercon segera berbunyi di
mana-mana menambah semaraknya suasana.
Ho Leng-hong masih menyatakan terima kasih dengan senyum dikulum, setelah
bunyi mercon mereda, ia baru memperoleh kesempatan untuk berkata,
“Sesungguhnya kalian tak perlu merayakan kejadian ini secara besar-besaran, bila
Popo sekalian ingin merayakannya, lebih baik kabulkan saja suatu permintaanku,
untuk mana selamanya aku akan berterima kasih.”

Tong-popo tertawa, “Kini kita adalah orang sendiri, apa permintaanmu, asal dapat
kulakukan pasti akan kukabulkan, buat apa sungkan-sungkan?”
“Popo tentu tahu bukan, aku mempunyai seorang teman she Pang yang masuk ke
istana es bersamaku?”
“Benar, kaumaksudkan Pang Goan, Pang-tayhiap pemilik Cian-sui-hu? kenapa dia?”
“Karena harus membantuku lolos, ia sendiri tak mampu meninggalkan tempat
tersebut, hingga kini masih tertinggal di dalam istana es . . . .”
“O, sayang sekali,” tukas Tong-popo, “padahal aku selalu menaruh hormat kepada
Pang-tayhiap, ia rela membantu orang lain dengan mengorbankan diri sendiri, jiwa
besarnya itu sungguh mengagumkan.”
“Popo telah salah mengartikan kata-kataku,” ucap Leng-hong sambil menggeleng
kepala dan tertawa, “maksudku, hingga kini Pang-toako masih hidup dalam istana es,
ia belum mati.”
Tong-popo melengak, tiba-tiba ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
“Jangan tertawa Popo, aku bicara sesungguhnya,” kata Leng-hong.
Sambil tertawa Tong-popo berpaling ke arah para Tianglo lainnya seraya berkata,
“Percayakah kalian? Ia bilang Pang Goan masih hidup dalam istana es, dan katanya ia
tidak bohong? Hahaha.....”
Beberapa nenek itupun ikut menggeleng kepala sambil tertawa, “Mungkin itulah
harapan Ho-tayhiap, tentu saja kamipun berharap ia masih hidup, tapi harapan tinggal
harapan, kenyataannya hal ini tak mungkin terjadi.”
“Ketika kumasuk ke istana es, bukankah kalian pun tidak percaya bahwa aku akan
keluar dalam keadaan hidup?” kata Leng-hong serius, “tapi kenyataannya sekarang
aku bisa keluar dengan selamat, ini kan juga suatu kenyataan!”
“Kami hanya mengakui kenyataan dan bukan khayalan, kecuali Pang Goan pun bisa
keluar dengan selamat, siapapun tak akan percaya perkataanmu itu.”
“Kalau tidak percaya, boleh kita buka istana es dan memeriksanya?”
Tong-popo menggeleng kepala berulang kali, “Tidak mungkin! Menurut peraturan
lembah hanya satu orang yang boleh masuk ke istana es, dan lagi diapun harus
mempunyai alasan khusus, itupun harus memperoleh persetujuan dulu dari dewan
para Tianglo.”
“Siapakah orang itu?” buru-buru Leng-hong bertanya.
“Kokcu!”
“Baik! Sekarang juga akan kutemui dia, kuharap Popo sekalian mengizinkan ia

masuk ke istana es . . . .”
Sambil tertawa kembali Tong-popo menggeleng kepala, “Ho-tayhiap, tak usah ke
sana, sebelum tengah hari besok, Kokcu takkan menjumpai dirimu.”
“Kenapa?” tanya Leng-hong.
“Sebab kalian belum melakukan upacara nikah secara resmi, masa calon pengantin
boleh bertemu muka dulu?”
Leng-hong tertegun, ia termangu-mangu.
Sambil tertawa kembali Tong-popo berkata, “Jangan terburu napsu, untuk
menghormati kau sebagai orang pertama yang bisa keluar dari istana es, kami
putuskan akan mengizinkan Kokcu masuk ke istana es satu kali guna melakukan
pemeriksaan, akan tetapi itupun harus dilakukan seusai upacara nikah kalian tengah
hari esok, harap kau bersabar dulu.”
“Tidak!” teriak Leng-hong sambil melonjak, “aku tidak mau menjadi Huma dari Mikok,
lebih-lebih tidak ingin menetap di lembah ini, kembaliku kemari hanya
bermaksud menolong Pang-toako....”
Air muka Tong-popo berubah masam, katanya dingin, “Ho-tayhiap, sebelum bicara
hendaklah pikirkan dulu tiga kali. Inilah peraturan lembah dan kaupun telah
menyetujuinya, kini berita perkawinan telah tersiar luas di seluruh lembah, kenapa
kau malah mengucapkan kata-kata semacam itu?”
“Hei, sejak kapan aku menyetujui?”
“Bukankah tadi kau telah setuju, malahan kau minta agar jangan terlalu meriah, masa
ucapanmu itu cuma omong kosong saja? Kami menjodohkan Kokcu kepadamu, meski
hanya untuk memenuhi peraturan nenek moyang, itupun karena menghormati dirimu,
masa kau bersikap plin-plan?”
“Bila kalian menghargai diriku, aku rela melepaskan kesempatan untuk kawin
dengan Kokcu, aku hanya mohon agar Pang-toako diizinkan meninggalkan istana es.”
“Ah, perkataan apakah itu?” kata Tong-popo tak senang hati, “betapa terhormatnya
seorang Kokcu, masa kauanggap perkawinan sebagai permainan kanak-kanak?
Lagipula antara soal perkawinan dengan mati-hidup Pang Goan hakikatnya
merupakan dua masalah yang tidak ada hubungannya, jika kau tidak tahu adat lagi,
jangan menyesal bila kamipun tak akan sungkan-sungkan.”
Diam-diam Ho Leng-hong mengeluh, kini ia baru sadar bahwa dirinya telah terjebak
oleh perangkap lawan.
Persekongkolan antara Samkongcu Kim Hong-giok dengan Tong-popo untuk
memaksanya kawin jelas suatu intrik yang busuk dengan tujuan tertentu, soal ini bisa
tidak diurus, apakah dirinya mengawini Tong Siau-sian atau tidak juga bukan masalah
penting, tapi Pang Goan yang menanti pertolongan dalam istana es jelas tak bisa

ditunda-tunda lagi, betapapun tak dapat menunggu usainya upacara perkawinan
tengah hari besok, persoalan ini justru masalah yang paling penting.
Dalam cemasnya hampir saja ia hendak menerjang masuk ke dalam istana es dengan
kekerasan, tapi ia sadar kekuatannya terbatas, dua kepalan sukar menandingi empat
tangan, apalagi jago-jago dalam lembah tak terhitung banyaknya.
Ia sadar umpama istana es berhasil diterobos, Pang Goan dapat diselamatkan, belum
tentu ia bisa lolos keluar Mi-kok, sekalipun bisa keluar dari lembah ini, Hui Beng-cu
yang ada di tangan Ci-moay-hwe pasti juga akan celaka.
Sungguh masalah pelik yang sukar diatasi.
Untung Ho Leng-hong bukan seorang yang keras kepala, setelah berpikir sebentar,
tiba-tiba senyuman menghiasi wajahnya.
“Ya, karena cemas aku sampai keblingar,” demikian katanya, “entah berapa banyak
orang yang mengimpikan untuk menjadi Huma dari Mi-kok, masa kesempatan baik
yang kudapatkan kutolak begitu saja? Sungguh tindakan yang salah besar.”
“Jadi sekarang kau sudah memahaminya?” tanya Tong-popo ketus.
“Ya, sudah paham, sebagai manusia mau-tak-mau harus memikirkan diri sendiri,
hanya orang bodoh yang tidak menggunakan kesempatan baik ini, mengenai matihidup
Pang Goan, aku telah berusaha sepenuh tenaga, kesetiaan kawan paling-paling
cuma begini saja, kupercaya dia tak akan menyalahkan diriku.”
Tampaknya Tong-popo rada curiga terhadap perubahan sikapnya yang tiba-tiba itu,
namun ia tidak mengusut lebih jauh, hanya katanya dengan hambar, “Kalau bisa
demikian akan lebih baik, sudah sepantasnya kita berusaha sepenuh tenaga demi
sahabat, tapi tidak perlu urus soal waktu yang cuma setengah hari saja.”
“Betul,” kata Leng-hong sambil tertawa, “bila ia sudah mati, cemas juga tak berguna,
sebaliknya kalau ia tidak ditakdirkan mati, Pang-toako pasti dapat menunggu diriku
setengah hari lagi.”
Sejak itu masalah yang menyangkut Pang Goan tidak disinggung-singgung lagi,
Leng-hong bersenda-gurau dan tertawa, ia membual tentang pengalamannya ketika
lolos dari istana es.
Tak lama kemudian, perjamuan sudah siap, para Tianglo pun menemani Ho Lenghong
bersantap.
Kelakuan Leng-hong bagaikan orang yang delapan keturunan tak pernah minum
arak, setiap cawan yang diangkat segera dihabiskan, tentu saja beberapa orang nenek
itu bukan tandingannya minum arak.
Tak lama kemudian, para nenek itu menjadi mabuk dan pusing kepala, semua orang
tak berani minum lagi, sedangkan Ho Leng-hong masih saja memaksanya minum,
dalam keadaan demikian terpaksa nenek-nenek itu harus mengambil langkah seribu.

Perjamuan itu hanya berlangsung dalam waktu singkat dan diakhiri begitu saja.
Bagaimanapun Tong-popo adalah nenek yang lanjut usia, setelah minum beberapa
cawan arak akhirnya dia tak tahan, setelah menitahkan orang menyiapkan kamar tidur
di bilik timur buat Ho Leng-hong, ia sendiri pun kembali ke Tiang-lo-wan untuk
istirahat.
Leng-hong tahu bahwa di sekeliling bilik timur pasti tersebar para penjaga yang
mengawasi gerak-geriknya, maka ia sengaja memanggil petugas penjaga untuk
menghadap.
Kepada penjaga itu dikatakannya, “Aku tahu penghuni perkampungan ini
kebanyakan adalah kaum perempuan, padahal aku mempunyai kebiasaan tidur
telanjang, oleh karena itu untuk menjaga tata kesopanan terpaksa pintu dan jendela
akan kututup rapat, tolong nona sampaikan kepada semua orang, harap malam ini
jangan mendekati kamar bilik timur.”
Semakin ia bersikap misterius, para penjaga semakin tak berani gegabah. Baru saja ia
masuk kamar, penjaga itu segera melaporkan kejadian tersebut kepada Hoa Jin.”
Mendengar laporan tersebut, Hoa Jin tertawa dingin, katanya, “Kalian masih gadis
dan belum kawin, tentu saja harus menghindarinya, lain dengan diriku yang sudah
kawin dan pernah punya anak, aku tidak takut hal begitu, tugas jaga malam ini
serahkan saja kepadaku.”
Ketika semua orang sudah beristirahat, Hoa Jin dengan golok terhunus mendatangi
bilik timur, betul juga, lampu kamar telah dipadamkan, pintu mau pun jendela juga
tertutup rapat.
Pelahan Hoa Jin menghampiri jendela dan coba memperhatikannya, ternyata suasana
dalam kamar amat hening, bahkan suara napas pun tidak terdengar.
Timbul curiga dalam hatinya, jangan-jangan Ho Leng-hong sudah tidak berada di
dalam kamar lagi?
Untuk melaksanakan tugasnya, mau-tak-mau dia harus “nyerempet bahaya” untuk
melakukan pengintipan.
Hoa Jin tarik napas panjang, setelah berhasil menenangkan hatinya, pelahan ia
merobek sedikit kertas jendela dan mengintip ke dalam.
Hah, aneh benar! Hanya kegelapan dalam ruangan tersebut, apapun tidak dilihatnya.
Ia mengucak mata kemudian mengerahkan ketajaman matanya untuk memperhatikan
lebih jauh tapi tetap kegelapan saja yang di lihat, jangankan bayangan orang
pembaringan dan meja kursi pun tidak kelihatan.
Akhirnya, setelah diperhatikan lebih jauh, ia menjadi paham, ternyata dibalik jendela
telah ditutup secarik kain hitam, sudah barang tentu sulit bagi orang luar untuk

melihat keadaan dalam kamar.
Hoa Jin tertawa dingin, pelahan ia membuka daun jendela.
Kain hitam itu tergantung tiga kaki dari daun jendela, ia harus menyingkap kain
tersebut untuk bisa melihat ke arah pembaringan, karena tiada jalan lain, terpaksa
dengan sangat hati-hati ia memasukkan separoh badannya ke dalam jendela,
kemudian dengan tangannya menyingkap kain hitam itu . . . .
Mimpipun tak disangkanya kalau Ho Leng-hong justru bersembunyi di balik kain
hitam itu, baru saja ujung kain tersingkap, mendadak sekujur badannya menjadi kaku
dan jalan darah pada pergelangan tangannya kena dicengkeram oleh Ho Leng-hong.
Belum sempat ia berteriak minta tolong, tahu-tahu jalan darah bisu sudah tertutuk,
menyusul separuh badanya ikut tertarik masuk ke dalam ruangan.
Masih untung di halaman tiada orang lain, coba kalau perbuatan Hoa Jin “menerobos
jendela” itu diketahui orang, biarpun keramas tujuh hari pun nodanya takkan tercuci
bersih . . . . . . .
Sambil tertawa lirih Leng-hong berkata, “maaf, kukira budak-budak kecil itu tak
pernah lihat, maka mereka ingin menambah pengalaman, tak tahunya Hoa-toaso
sendiri yang berkunjung kemari, maaf kalau aku bersikap kurang sopan.”
Seraya berkata ia mulai mencopoti jubah luar Hoa Jin dan ambil goloknya, lalu
dikenakan di tubuh sendiri, sekali lompat ia sudah keluar jendela, kemudian ia tutup
kembali daun jendela dan berangkatlah ia menuju ke lembah belakang.
Hoa Jin tertutuk dan tak bisa berteriak, apalagi berkutik, terpaksa ia cuma bisa
menyaksikan kepergian pemuda itu dengan mata melotot, entah harus gusar ataukah
kecewa?
Sesaat menjelang fajar, biasanya merupakan suasana yang paling gelap.
Ketika Ho Leng-hong tiba di lembah belakang, itulah saat fajar hampir menyingsing,
dari kejauhan ia sudah berhenti, melepaskan baju merah Hoa Jin dan membuang pula
sarung goloknya, sambil menghunus golok ia beristirahat sebentar untuk menunggu
kesempatan.
Tiga orang nenek buta yang menjaga pintu masuk istana es itu terdiri dari seorang
Tianglo dan dua orang “berbenang biru”, tentu saja kungfu mereka tidak lemah.
Ho Leng-hong mengerti bahwa kehadirannya tak akan mampu mengelabuhi mereka,
maka ia membuang lelah dulu agar bilamana perlu ia bisa menyerbu secara kekerasan.
Pemuda itu bertekad, bagaimanapun jua sebelum fajar menyingsing nanti dia sudah
harus dapat menyelamatkan Pang Goan serta meninggalkan Mi-kok, kemudian baru
berusaha menyelamatkan Hui Beng-cu.

Seandainya di antara Pang Goan dan Hui Beng-cu dia hanya bisa menolong satu
orang saja, dia pasti akan memilih Pang Goan karena ini adalah soal moral.
Bila pertolongan harus dibedakan mana lebih dulu, dia juga akan menolong Pang
Goan duluan, sebab Hui Beng-cu yang berada di tangan Ci-moay-hwe tak akan segera
mati, sebaliknya Pang Goan yang terkurung di istana es justru berada dalam keadaan
kritis.
Pemilihan demikian adalah pemilihan terpaksa, sebab kecuali cara demikian ia tidak
punya cara lain yang lebih sempurna.
Oleh sebab itu, ketika sambil membawa golok ia berjalan mendekati rumah batu,
hatinya merasa berat sekali.
Setelah ambil keputusan yang terpaksa, tentu saja dia tak mau mengalami kegagalan
di sini sana.
Betul juga, kedatangannya tak dapat mengelabui nenek Po yang berada dalam rumah
batu, baru saja berada tiga kaki dari pintu rumah, dari dalam telah berkumandang
suara bentakan, “Siapa di situ? Berhenti!”
Ho Leng-hong berjalan maju beberapa kaki lagi sebelum berhenti, goloknya segera
disembunyikan di balik siku, sementara persiapan dilakukan secara diam-diam guna
menghadapi segala kejadian yang tidak diinginkan.
Nenek Po diiringi dua orang perempuan buta lainnya menyongsong kedatangannya,
dengan mata putih mendelik ia membentak.
“Besar amat nyalimu! Suruh kau berhenti, ternyata kau malah berani maju dua kaki
lagi sebelum berhenti? Sebutkan namamu!”
“Aku she Ho, ada urusan penting hendak masuk ke istana es, harap Popo
mengabulkan permintaanku.”
“She Ho? Ho apa? Aku seperti merasa pernah kenal suaramu,” kata nenek Po dengan
tercengang.
Leng-hong segera menyebutkan namanya, kemudian ia menambahkan, “Aku adalah
orang yang masuk ke dalam istana es bersama dua orang rekanku beberapa hari yang
lalu, apakah Popo masih ingat?”
Mendengar jawaban tersebut, nenek Po menjadi sangat girang, buru-buru sahutnya,
“Ah, ya, yaa . . . aku masih ingat, aku masih ingat, kenapa tidak ingat? Aku dengar
Ho-tayhiap telah lolos dari istana es dan kawah api dengan selamat, besok akan
menjadi Huma lembah kami, hampir saja aku si nenek lupa menyampaikan selamat
kepadamu.”
Kepada kedua orang perempuan buta lainnya ia lantas menitahkan, “Tamu terhormat
telah datang, cepat mempersilakan Ho-tayhiap duduk di dalam, kita harus
menyampaikan selamat kepadanya.”

Buru-buru kedua orang perempuan buta itu masuk ke dalam ruangan, memasang
lampu dan mempersilakan Ho Leng-hong masuk ke dalam.
Tindakan tersebut sedikit di luar dugaan Ho Leng-hong, katanya sambil tersenyum,
“Popo tak usah sungkan, aku masih ada seorang teman yang ketinggalan di dalam
istana es, dia harus cepat ditolong keluar, sebab itulah mohon kepada Popo suka
membukakan pintu istana, untuk mana kami akan sangat berterima kasih kepadamu.”
“Apa? Kau hendak masuk lagi ke istana es?”
“Betul, mohon Popo suka mengabulkan permintaanku ini.”
Nenek Po berpikir sebentar, kemudian katanya, “Baiklah, terpaksa kuucapkan
selamat kepada Ho-tayhiap setelah upacara perkawinan besok.”
Ho Leng-hong tidak mengira orang akan mengabulkan permintaannya, dengan girang
ia berseru, “Terima kasih banyak, nenek!!”
Selesai berkata ia langsung melangkah ke ruangan dalam.
Mendadak nenek Po mengulurkan tangan ke depan sambil berseru, “Coba perlihatkan
dulu!”
“Apa yang kau maksudkan,” tanya Ho Leng-hong tertegun.
“Lencana nomor, nomor kunci untuk membuka pintu istana!”
“Soal ini....” Leng-hong menjadi bingung, selang sejenak ia baru berkata lagi sambil
tertawa, “Maaf, lantaran datang terburu-buru, kulupa minta Ho-pay (tanda nomor)
dari Tong-popo, apakah bisa ditiadakan saja untuk kali ini?”
“Tidak, tidak bisa,” jawab nenek Po sambil geleng kepala, “untuk membuka pintu
istana harus ada Ho-pay lebih dulu, terpaksa Ho-tayhiap harus kembali dulu ke Tianglo-
wan untuk mengambil Ho-pay tersebut.”
“Tapi aku harus segera masuk, aku tak ada waktu untuk pergi datang lagi.”
“Maaf,” kata nenek Po sambil mengangkat bahu, “tanpa Ho-pay, siapapun jangan
harap bisa memasuki istana es, aku hanya seorang penjaga pintu dan harus
melaksanakan tugas, aku betul-betul tak bisa membantumu.”
“Keadaan sangat mendesak, tolonglah untuk sekali ini saja, sekembaliku dari sana
nanti baru disusulkan tanda nomornya.”
“Tidak bisa!” jawab nenek Po tegas.
Diam-diam Ho Leng-hong berpikir, “Nenek ini berdisiplin tegas dan tidak kenal
kompromi, agaknya banyak bicara juga tak berguna, lebih baik kubekuk dulu orang
ini . . . .”

Begitu ingatan tersebut terlintas dalam benaknya, golok segera berputar dan siap
melancarkan serangan.
Pada saat itulah tiba-tiba dari belakang berkumandang suara orang berdehem lirih,
menyusul kemudian seseorang berkata, “Ho-pay berada di sini!”
Buru-buru Leng-hong berpaling, ia lihat sesosok bayangan manusia berdiri di sana
sambil mengangkat tinggi-tinggi sebuah lencana nomor kunci.
Dia ternyata adalah Tong Siau-sian, sang Kokcu.
Tampaknya Tong Siau-sian sudah berdiri lama di situ, hingga Leng-hong melihat
jelas dia baru dia maju mendekat.
Rupanya dia kuatir Leng-hong salah mengartikan maksud kedatangannya, sambil
berjalan mendekat katanya, “Leng-hong, kau memang terlalu terburu nafsu, nenek Po
adalah seorang berhati baja yang tidak kenal kompromi, tanpa Ho-pay tak nanti kau
diizinkan masuk. Karena kutahu kau tak akan berhasil, maka kususulkan Ho-pay
kemari.”
Nada pembicaraan lembut dan hangat, bagaikan ucapan seorang calon isteri,
ditambah pula Ho-pay tersebut memang berada di tangannya, ini membuktikan
kedatangannya memang tidak bermaksud jahat.
Ho Leng-hong menjadi bingung dan tak mampu bersuara.
“Hormat, Kokcu!” buru-buru nenek Po dan kedua orang buta itu memberi hormat.
“Tak usah banyak adat,” kata Tong Siau-sian sambil tertawa, “ambil Ho-pay ini dan
tunggu di pintu istana, masih ada beberapa persoalan hendak kubicarakan dulu dengan
Ho-tayhiap, sebentar aku menyusul ke sana.”
Nenek Po mengiakan, setelah menerima Ho-pay mereka mengundurkan diri dari situ.
Setelah ketiga orang itu masuk ke dalam ruangan batu, Tong Siau-sian baru berkata
sambil menghela napas sedih, “Jangan menatap aku dengan sinar mata seperti itu,
dengan tulus ikhlas ingin kubantumu, Ho-pay itu asli, bukan palsu seperti peta
penyimpan golokmu.”
“Urusan yang sudah lewat harap jangan dipikirkan lagi, Kokcu,” kata Ho Leng-hong
sambil menjura, “bila sobatku bisa diselamatkan, selama hidup orang she Ho akan
sangat berterima kasih kepadamu.”
“Aku tidak mengharapkan terima kasihmu,” kata Tong Siau-sian sambil tersenyum
getir, “aku hanya ingin tanya satu soal, kuharap kau menjawab dengan jujur.”
“Katakan saja Kokcu, pasti akan kujawab dengan sejujurnya,” ucap Leng-hong cepat.
Tong Siau-sian menunduk kepala rendah-rendah, lalu dengan suara lirih bertanya,

“Aku hanya ingin tahu, apa rencanamu menghadapi peristiwa besok.”
“Tentang ini . . . . .” Leng-hong agak sangsi, kemudian katanya dengan serius, “terus
terang, aku merasa rendah diri, aku tak berani mengharapkan yang muluk-muluk dan
mendapat jodoh Kokcu, kudatang kemari hanya ingin menolong temanku yang masih
terkurung.”
Tong Siau-sian sama sekali tidak menunjukkan sikap di luar dugaan, ucapnya dengan
tenang, “Setelah Pang-tayhiap berhasil diselamatkan, lalu bagaimana?”
“Setelah itu . . . tentu saja aku harus berusaha untuk menolong nona Hui dari Hiangin-
hu yang terjatuh di tangan Ci-moay-hwe.”
“Bila aku berhasil membantumu menyelamatkan nona Hui?”
“Kami . . . . kami pasti akan sangat berterima kasih kepada Kokcu.”
“Hanya sepatah kata terima kasih saja dan habis perkara?”
“Tentu saja bila kaupun mengharapkan bantuanku, dengan sepenuh tenaga akan
kulaksanakan demi membalas budi kebaikan Kokcu.”
“Seperti telah kukatakan tadi, aku tidak mengharapkan balasan apa-apa, aku hanya
ingin tahu bagaimana rencanamu tentang persoalan besok?”
Lantaran di desak terus, Leng-hong merasa kewalahan, terpaksa katanya sambil
tertawa, “Apa yang Kokcu ingin kulakukan, tentu akan kulakukannya.”
“Aku ingin mengetahui jalan pikiranmu sendiri!” desak Tong Siau-sian lebih jauh.
Leng-hong benar-benar kehabisan akal, terpaksa sambil angkat bahu katanya, “Apa
lagi yang bisa kukatakan? Bila Kokcu tidak merasa derajatku terlampau rendah, tentu
saja akupun akan menerimanya dengan senang hati, cuma bila burung gagak
mendampingi burung hong, hal ini tentu akan menodai nama baik Kokcu . . . .”
Tong Siau-sian mendongakkan kepalanya dan menatap pemuda itu tajam-tajam,
kemudian tanyanya, “Tuluskah ucapanmu ini?”
“Setiap patah kataku keluar dari lubuk hatiku yang murni, tentu saja aku berbicara
dengan tulus ikhlas.”
Tong Siau-sian mengembus napas pelahan, katanya, “Baik, aku percaya kepadamu,
sekarang akupun ingin memberitahukan sepatah dua kata kepadamu, meskipun nenek
Tong mengatur perkawinan ini atas dasar peraturan lembah, tapi iapun telah
merundingkan suatu siasat keji dengan pihak Ci-moay-hwe untuk mencelakai jiwa
kita berdua.”
“Hah?! Apa rencananya terhadap kita?”
“Persoalan ini panjang sekali untuk dibicarakan, lebih baik kita selamatkan dulu

Pang-tayhiap.”
Mereka lantas menembus ruang batu dan masuk ke dalam gua, belum sampai
beberapa langkah mendadak Tong Siau-sian berhenti seraya bertanya, “Yakinkah kau
bahwa Pang-tayhiap masih hidup?”
“Dia pasti masih hidup, pil anti dingin yang dimilikinya masih sanggup
mempertahankan hidupnya selama dua belas jam, padahal aku baru sepuluh jam
meninggalkan istana es.”
“Kalau begitu, tunggu aku di pintu istana, akan kuwakilimu untuk menyelamatkan
Pang-tayhiap.”
“Mengapa harus demikian?”
“Sebab nenek Po adalah seorang yang berdisiplin keras dan tidak kenal kompromi,
menurut peraturan hanya aku seorang yang boleh masuk-keluar istana es, kendatipun
kau memiliki Ho-pay juta tidak boleh masuk keluar seenaknya, setelah masuk ke
dalam kau tak bisa keluar lagi, terutama bila nenek Po menutup pintu istana setelah
kau masuk, bukankah hal ini akan menambah kesulitan pula?”
Ho Leng-hong tak pernah berpikir sampai di situ, ia menjadi tertegun, tiba-tiba ia
dapat meresapi ucapan Tong Siau-sian itu, rupanya si nona mempunyai tujuan lain.
Dengan menggunakan nama nenek Po sebagai alasan rupanya ia ingin menunjukkan
keikhlasannya yang benar-benar ingin membantu, bila Ho Leng-hong dibiarkan
masuk sendiri ke istana es, mungkin dia akan sangsi bila pintu istana tiba-tiba ditutup,
maka ia rela mewakilinya dengan meninggalkan Ho Leng-hong di luar sebagai tanda
bahwa ia tidak berniat mencelakainya.
Padahal Ho Leng-hong tak pernah mencurigainya, meski demikian terharu juga
hatinya, tentu saja dia tak tega untuk menolak maksud baik si nona.
Maka sambil menggenggam tangannya dengan senyum dikulum ia berkata, “Kalau
begitu kutitipkan tugas ini padamu, aku dan Pang-toako selamanya akan ingat atas
budi kebaikanmu ini.”
Genggamannya yang hangat itu membuat Tong Siau-sian girang bercampur malu,
buru-buru ia menarik kembali tangannya dan lari masuk ke sana.
Dalam pada itu nenek Po dan kedua orang perempuan buta itu sudah lama sekali
menunggu di pintu istana es.
Setibanya di hadapan mereka Tong Siau-sian segera berkata, “Ho-tayhiap telah
memutuskan tidak masuk ke istana es, aku akan mewakilinya masuk ke dalam, tak
lama aku berada di dalam. Kalian tunggu saja di sini dan pintu istana tak perlu
dikunci.”
Sebetulnya nenek Po sudah siap mengeluarkan anak kuncinya untuk membuka pintu,
ketika mendengar perkataan ini tiba-tiba ia berkata, “Bila Kokcu ingin masuk ke

istana es, kau perlu minta persetujuan lebih dulu dari Tiang-lo-wan.”
“Tentu saja Tiang-lo-wan sudah setuju,” sahut Tong Siau-sian, “kalau tidak,
darimana aku bisa mendapatkan Ho-pay?”
“Hanya Ho-pay saja masih tidak cukup, harap Kokcu tinggalkan pula Kim-to-leng,
dengan demikian pintu istana baru takkan kukunci.”
“Apakah kau tidak tahu aku ini Kokcu?” tegur Tong Siau-sian dengan tidak senang.
Nenek Po segera membungkuk badan dan memberi hormat, “Hamba buta, sulit untuk
menentukan diri seseorang hanya berdasarkan suara saja, lebih baik Kokcu bertindak
menuruti peraturan agar hamba tidak serba sulit.”
Nenek ini betul-betul disiplin dan tidak kenal kompromi, dia hanya kenal benda dan
tidak kenal orang, bahkan terhadap Kokcu sendiri pun tak mau memberi muka.
Tong Siau-sian berpaling ke arah Ho Leng-hong sambil tertawa getir, kemudian
katanya lagi, “Nenek Po, jadi kau berkeras ingin minta Kim-to-leng daripada menurut
perkataanku?”
“Hamba hanya melakukan tugas menurut peraturan, lencana nomor kunci hanya
tanda masuk dan buka tanda keluar, bila ingin pintu istana tidak dikunci, Ho-pay dan
Kim-to-leng harus lengkap tersedia.
Dengan perasaan apa boleh buat Tong Siau-sian geleng kepala berulang kali, “Ai, tak
heran kalau selama hidup kau diberi bertugas menjaga pintu istana dan siapapun tak
ada yang bisa menggeser kedudukanmu. Baiklah, Kim-to-leng berada di sini,
ambillah!”
Nenek Po menjulurkan tangannya untuk menerima, siapa tahu tangan Tong Siau-sian
mendadak menekan ke bawah, secepat kilat ia mencengkeram jalan darahnya.
Kedua perempuan buta lainnya terperanjat, cepat mereka melolos senjata.
Dengan suara tertahan Tong Siau-sian membentak, “Leng-hong, kuasai mereka,
cepat!”
Sesungguhnya Ho Leng-hong sendiripun merasa terkejut dan heran, tapi lantaran
kedua perempuan buta itu sudah melolos golok masing-masing, tak sempat baginya
untuk menganalisa sebab musabab terjadinya peristiwa itu, cepat iapun mencabut
goloknya dan turun tangan . . . .
Ilmu silat kedua orang perempuan buta itu sangat lihay, sayang Ho Leng-hong bukan
saja memahami ilmu golok Ang-siu-to-hoat, iapun memiliki jurus sakti anti kelihaian
ilmu golok tersebut, maka cuma lima gebrakan, kedua perempuan buta itu sudah
terdesak hingga mundur ke sudut pintu istana dan tak mampu berkutik.
Ho Leng-hong segera melompat maju dan membekuk kedua perempuan buta itu.

Cepat Tong Siau-sian menggeledah anak kunci dari saku nenek Po, setelah pintu
istana terbuka, segera ia pesan, “Leng-hong, awasi mereka, aku pergi menolong Pangtayhiap.”
Sebelum Leng-hong menjawab nona itu sudah menerobos masuk ke dalam istana es.
Meskipun diliputi rasa sangsi, Leng-hong tidak sempat tanya gadis itu, dia hanya
menduga tentu Tong Siau-sian mempunyai alasan yang memaksanya berbuat
demikian, mungkin waktu sudah mendesak, ia tak ingin berdebat lebih jauh dengan
nenek Po, maka terpaksa diambilnya tindakan tersebut . . . . .
Untung tindakannya ini bertujuan membantunya untuk menolong orang, jadi apapun
juga tindakannya dapat dimaklumi.
Hawa dingin yang berembus keluar dari balik pintu istana membuat orang tak tahan,
terpaksa Leng-hong merapatkan pintu batu itu dan memindahkan tubuh nenek Po
serta kedua perempuan buta itu ke kaki dinding sana agar jalan tidak teralang.
Tetapi, meski sudah ditunggu sekian lama, ternyata Tong Siau-sian belum muncul
juga.
Leng-hong mulai berpikir, “Jangan-jangan dia menjadi kaku kedinginan karena tidak
makan obat anti dingin? Atau mungkin dia tidak kenal Pang-toako dan tidak
menemukan di mana ia berada?”
Berpikir sampai di situ, hatinya terasa gelisah, buru-buru ia membuka pintu batu dan
siap masuk ke dalam . . . .
Mendadak dari lorong gua berkumandang suara langkah kaki orang yang riuh.
Buru-buru Ho Leng-hong menutup pintu batu, ia menatap ke sana, segera ia
terperanjat.
Sesosok bayangan orang muncul, orang itu memakai baju merah dengan sulaman
benang emas, ternyata orang inipun Tong Siau-sian.
Leng-hong kucek-kucek matanya, ia pandang pintu batu di belakangnya, ia menjadi
bingung.
Gua itu gelap tak berlampu, dengan ketajaman matanya ia lihat Tong Siau-sian yang
baru muncul ini tidak berbeda dengan Tong Siau-sian yang masuk ke istana es tadi,
yang satu sudah berada dalam istana es dan yang lain baru datang, ini membuktikan
bahwa salah seorang di antaranya adalah gadungan.
Ketika Tong Siau-sian yang baru datang ini menemukan Ho Leng-hong berada di
sini, segera ia menegur, “Besar amat nyalimu, berani kau datangi istana es sendirian.
Ketahuilah bahwa perbuatanmu ini merupakan pantangan besar lembah kami, kalau
sampai ketahuan orang, kau bisa dijatuhi hukuman mati, mengerti?”
Leng-hong tidak menjawab, dia hanya mengawasi orang lekat-lekat, sebab ia benarKoleksi
Kang Zusi
benar tak bisa membedakan manakah Tong Siau-sian yang asli.
Karena pemuda itu tidak menjawab, Tong Siau-sian maju beberapa langkah lagi ke
depan, ucapannya dengan suara tertahan, “Orangnya sudah kautolong belum?
Sebentar fajar akan menyingsing, tidak cepat-cepat kau tinggalkan tempat ini, apalagi
yang kautunggu?”
Leng-hong menarik napas panjang, pelahan dan sepatah demi sepatah ia menegur,
“Siapa kau?”
“Hei, aneh benar kau ini? Masa tidak kenal siapakah aku?”
“Kenal sih kenal, Cuma aku tidak tahu kau ini asli ataukah yang gadungan?”
Tong Siau-sian melengak, “Dalam Mi-kok ini hanya ada aku seorang sebagai Kokcu,
masa ada yang gadungan?”
“Betul,” Leng-hong mengangguk, “barusan ada seorang juga mengaku sebagai
Kokcu dari Mi-kok, kini ia berada dalam istana es, aku tidak tahu siapakah di antara
kalian yang gadungan, pokoknya salah satu pasti palsu.”
“Hah, masa ada kejadian begini?” seru Tong Siau-sian terperanjat, “Wah, kalau
begitu dia pastilah Samkongcu Kim Hong-giok dari Ci-moay-hwe, konon dia cerdas
dan berbakat, sesuatu yang dilihatnya tak pernah terlupa lagi, diapun pandai
menirukan logat bicara orang lain, Ho-tayhiap, jangan kau tertipu olehnya . . . .”
“Aku tak mau tertipu oleh siapapun, akupun enggan mengurusi siapakah di antara
kalian ini Tong Siau-sian dan Kim Hong-giok, aku hanya ingin menolong orang, siapa
bisa membantuku menolong orang, aku akan percaya kepadanya.”
“Bila kau berharap Kim Hong-giok akan membantumu menolong orang, keliru
besarlah kau,” kata Tong Siau-sian dengan cemas, “tujuannya masuk ke istana es
tidak lain adalah ingin mencuri belajar ilmu golok Ang-siu-to-hoat dari lembah kami.”
“Lantas, apa pula tujuanmu?”
“Aku . . . .” rupanya Tong Siau-sian tidak tahu cara bagaimana harus memberi
penjelasan, kakinya menggentak tanah dan serunya, “Tentu kuharap bisa
membantumu, kalau tidak, tak nanti aku menyusul kemari.”
“Mengapa kau membantuku?”
“Karena Tong-popo dan Ci-moay-hwe telah bersekongkol dan bermaksud jahat
terhadap kita berdua, kini situasinya tidak menguntungkan kita, kau dan aku harus
bekerja sama untuk menghadapi musuh yang sama.”
“Kaumaksudkan masalah perkawinan?”
“Benar, atas dasar peraturan leluhur ia paksa kita kawin, padahal tujuan sebenarnya
adalah ingin membinasakan kita berdua, agar ia dapat mengangkangi Mi-kok

sendirian.”
Nada ucapannya tak jauh berbeda dengan apa yang diucapkan Tong Siau-sian
pertama tadi, siapa yang asli dan siapa yang gadungan? Makin lama semakin sulit
untuk dibedakan.”
Leng-hong berpikir sebentar, katanya kemudian, “Dengan cara bagaimana kau bisa
membuktikan bahwa dirimu adalah Tong Siau-sian sedang dia adalah Kim Honggiok?”
“Gampang sekali, kau bisa tanya langsung kepada nenek Po, suruh dia saja yang
membedakan.”
Leng-hong menggeleng kepala, “Dia seorang buta, jawabnya belum tentu tepat.”
“Kokcu mempunyai sebuah lencana Kim-to-leng, aku bisa menunjukkan kepadamu.”
Ho Leng-hong masih juga menggeleng kepala, “Belum pernah kulihat lencana
tersebut, orang saja bisa dipalsukan apalagi cuma sebuah benda, kan bisa dicuri atau
dipalsukan.”
Tong Siau-sian termenung sebentar, kemudian katanya, “Ah, betul, kepadaku
mungkin kau tidak percaya, tapi terhadap Pang Wan-kun tentu kau percaya bukan?
Dia berada di luar, kita boleh memanggilnya ke sini untuk menjadi saksi.”
“Bila seorang berada dalam ancaman sering kali dia akan bicara bohong, aku pernah
tertipu satu kali, aku tak ingin tertipu untuk kedua kalinya.”
“Ai, lalu dengan cara bagaimana baru kau mau percaya?” tanya Tong Siau-sian
dengan gelisah.
“Aku pikir, satu-satunya cara yang terbaik adalah menunggu sampai Tong Siau-sian
itu keluar dari istana es, asal kalian berdua berhadapan satu sama lain, siapa asli dan
siapa gadungan pasti akan segera ketahuan.”
“Tapi kalau menunggu sampai ia berhasil mempelajari ilmu golok Ang-siu-to-hoat,
bukan saja jiwa Pang-tayhiap akan lenyap, kaupun takkan lolos dari kematian, bahkan
akupun akan ikut menjadi korban.”
“Kenapa kau akan ikut jadi korban?”
“Peraturan dalam Mi-kok amat ketat, apabila salah seorang di antara suami-isteri
melanggar peraturan lembah dan dijatuhi hukuman mati, maka orang satunya harus
ikut berkorban pula, inilah rencana keji Tong-popo untuk mencelakai kita berdua.”
“Tapi kita sekarang kan belum resmi menikah!”
“Aku adalah seorang Kokcu, setelah perjodohan ditentukan berarti kita sudah
menjadi suami-isteri . . . apalagi yang perlu kukatakan . . . .”

Ia memang telah mengucapkan semuanya, lambat laun Ho Leng-hong juga mulai
percaya, sebab sudah sekian lama Tong Siau-sian yang pertama masuk ke istana es
dan hingga kini belum tampak keluar, jelaslah ia masuk ke dalam istana bukan untuk
menolong Pang Goan.
Tapi, kendatipun ia mulai curiga bahwa gadis yang pertama adalah Kim Hong-giok,
tapi karena urusan menyangkut keselamatan Pang Goan, dia tak berani bertindak
secara gegabah.
Sementara dia merasa ragu, tiba-tiba dari lorong gua berkumandang seruan yang
gelisah, “Kokcu, cepat dikit, Tiang-lo-wan sudah mulai bergerak, mungkin lenyapnya
Ho-tayhiap telah mereka ketahui.
“Kaudengar tidak,” kata Tong Siau-sian dengan cemas, “sekarang keadaan sangat
mendesak, apakah kau benar-benar rela terjatuh ke dalam perangkap Tong-popo?”
Sambil menggertak gigi Ho Leng-hong tetap membungkam.
Sejenak kemudian di luar gua kembali terdengar seruan nyaring, “Kokcu, lampu
merah tanda bahaya telah dipasang dalam perkampungan, kita tak bisa menunggu lagi
. . . .”
Ho Leng-hong jadi nekat, katanya tiba-tiba, “Pergilah lebih dulu, segera kususul.”
“Mau apa lagi kau tinggal di sini?”
“Aku harus menolong Pang-toako, kalau tidak aku lebih rela mati di dalam istana es.”
“Sekarang kita sudah sehidup-semati, kalau kau tidak mau pergi, akupun tidak pergi,
kutemani kau masuk ke istana es untuk menolong Pang-tayhiap,” kata Tong Siau-sian
tegas.
Leng-hong tak bisa menolak niat orang, dia mengangguk dan segera mendorong
pintu batu itu.
Pintu baru terbuka, segera Tong Siau-sian menerobos masuk lebih dahulu . . . .
Di balik pintu itu masih terdapat sebuah lorong penghubung, tapi di bawah pantulan
cahaya istana es dan kawah api, lamat-lamat dapat terlihat jelas keadaan lorong
tersebut.
Pintu batu itu berat sekali, Ho Leng-hong harus mengerahkan tenaga untuk
menggeser pintu itu, baru saja ia akan ikut menerobos masuk, tidak tersangka dari
balik pintu tiba-tiba berkelebat keluar sesosok bayangan manusia, hampir saja kedua
orang saling bertumbukan.
Orang itu tak lain adalah Tong Siau-sian pertama tadi, kalau sewaktu masuk ia tidak
membawa apa-apa, maka sekarang tangannya telah bertambah dengan sebilah golok

panjang.
Leng-hong tidak menyangka orang akan bersembunyi di balik pintu, sebaliknya nona
itupun tidak menyangka orang yang menerjang masuk adalah Ho Leng-hong, maka
pergokan ini membuat kedua pihak sama-sama kaget.
“Di mana Pang-toako?” bentak Leng-hong cepat.
“Ia sudah mati, aku telah berusaha, tapi gagal menyelamatkan jiwanya . . . .”
“Omong kosong! Dia berada di mana?” bentak Leng-hong pula.
“Itu? Di kaki dinding sana, kalau tidak percaya periksalah sendiri,” kata orang itu
sambil menunjuk ke sana.
“Baik, ayo ikut ke sana!” teriak Leng-hong lagi sambil melintangkan goloknya.
“Aku . . . aku . . . .” belum habis perkataannya, mendadak golok nona itu membacok.
Ho Leng-hong mundur setengah langkah sambil miring ke samping, ditangkisnya
bacokan itu, lalu secepat kilat melancarkan serangan balasan.
Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah bergebrak empat-lima jurus, semua
gerakan yang dipergunakan adalah jurus-jurus ilmu golok Ang-siu-to-hoat, ternyata
keduanya sama kuat.
“Kim Hong-giok, rupanya kau!” teriak Leng-hong terkesiap.
Orang itu tertawa dingin, “Benar, sayang sudah terlambat, aku telah menguasai
sembilan jurus Ang-siu-to-hoat, kukira kau tak bisa lagi mengapa-apakan diriku.”
“Aku tidak peduli Ang-siu-to-hoat segala,” bentak Leng-hong dengan gusar,
“pokoknya kalau sampai Pang-toako mengalami sesuatu, aku bersumpah akan
mencincang tubuhmu.”
Baru selesai ia berkata, tiba-tiba terdengar jeritan kaget Tong Siau-sian, “Jangan
lepaskan dia, Pang-tayhiap telah dibunuhnya....”
Jeritan tersebut bagaikan bunyi guntur di siang bolong, hampir saja golok panjang di
tangan Ho Leng-hong terlepas dari genggaman, cepat ia tanya, “Ia benar-benar sudah
mati?”
“Lambungnya tertusuk golok perempuan hina itu, lukanya parah sekali, tapi
nyawanya belum putus.”
Merah membara mata Ho Leng-hong saking gusarnya, sambil membentak golok
segera membacok Kim Hong-giok.
Keadaan anak muda itu sekarang ibaratnya harimau terluka, dengan kalap dia
lancarkan serangan secara bertubi-tubi, semua jurus serangan mematikan.

Entah cuma pura-pura atau memang gentar pada keberingasan wajah lawan yang
mengerikan, secara beruntun Kim Hong-giok terdesak mundur tiga-empat tindak.
Kedua orang itu bertarung di depan pintu batu, setelah yang satu maju dan yang lain
mundur, akhirnya mereka tiba di luar pintu, hawa dingin yang berembus keluar dari
istana es membuat anggota tubuh mereka terasa kaku, permainan golok otomatis tak
bisa dikembangkan sebagaimana mestinya lagi.
Ho Leng-hong ingin melukai Kim Hong-giok, tapi dia lupa menyumbat jalan
mundurnya.
Sebaliknya Kim Hong-giok hanya memikirkan bagaimana cara meloloskan diri,
begitu melihat ada kesempatan ia lantas berpura-pura tidak tahan, sambil berseru ia
terus mundur ke dinding sebelah kiri.
Leng-hong sangat girang, goloknya berputar dan menyerang pula.
Diam-diam Kim Hong-giok mengerahkan tenaga dalam dan menangkis bacokan itu
dengan sepenuh tenaga, pada kesempatan tersebut ia berputar dan menerjang keluar
dengan menyusuri kaki dinding, lalu sambil bergelinding beberapa kali menerobos
lewat di bawah kaki Ho Leng-hong.
Serangan Ho Leng-hong yang lain belum sempat dilancarkan lagi, iapun tak
menduga Kim Hong-giok akan mengeluarkan jurus bahaya seperti itu untuk
meloloskan diri, padahal kaki dinding merupakan sudut mati, untuk membacok ke
bawah jelas tak sempat lagi . . . .
Sementara ia tertegun, Kim Hong-giok telah melompat keluar, ini berarti pula mereka
telah bertukar arah.
Tentu saja Kim Hong-giok gunakan kesempatan tersebut dengan baik, begitu
melompat bangun di lantas kabur keluar.
Dengan sendirinya Ho Leng-hong tak mau melepaskannya dengan begitu saja, sambil
membentak goloknya disambitkan ke depan.
Kim Hong-giok ketika itu mungkin terlalu girang, atau mungkin terpengaruh hawa
dingin istana es sehingga anggota badannya tak bisa bergerak selincah dulu, ketika
mendengar desing golok dari belakang, buru-buru ia berusaha berkelit ke samping,
sayang terlambat setengah langkah, mata golok yang dingin dan tajam sekali telah
menembus bahu kirinya.
Ia mengeluh tertahan dengan sempoyongan, tapi ia tak berani berhenti, sambil
membawa golok yang masih menancap di tubuhnya ia kabur keluar . . .
Ho Leng-hong mengejar dari belakang, ia sambar golok nenek Po yang tergeletak di
tanah dan siap mengejar lebih jauh, tapi saat itulah terdengar Tong Siau-sian
berteriak, “Pang-tayhiap tidak tahan lagi, cepat . . . cepat kemari . . . .”

Terpaksa Ho Leng-hong melepaskan Kim Hong-giok kabur dengan membawa luka
dan buru-buru kembali ke dalam sana.
Pang Goan tampak berbaring di sisi dinding, perutnya terbacok hingga keadaannya
sangat gawat, tapi nyawanya belum putus, ia masih berusaha meronta untuk duduk.
Leng-hong segera membuang goloknya dan berjongkok, katanya, “Pang-toako,
maafkan aku datang terlambat.”
Napas Pang Goan tersengal, tapi sekulum senyum masih juga menghiasi bibirnya,
sahutnya lirih, “Tidak, kedatanganmu belum terlambat, adalah perempuan hina itu
yang datang selangkah lebih dulu, waktu itu aku sangat lemas karena lapar, maka
perutku kena dibacok satu kali . . . .”
“Mari kita tinggalkan tempat ini, lukamu perlu cepat diobati . . . .”
“Jangan, jangan kau angkat diriku meninggalkan tempat ini.” Cegah Pang Goan
sambil menggeleng kepala, “tempat ini sangat dingin maka darah yang mengalir
keluar dari lukaku menjadi beku, sebab itu pula aku sanggup bertahan untuk
mengucapkan beberapa patah kata padamu, sekali kau membawaku meninggalkan
tempat ini, aku akan mati lebih cepat.”
“Benar juga perkataanmu,” bisik Tong Siau-sian, “ikuti saja keinginannya, dengarkan
dulu pesan apa yang hendak ia sampaikan kepadamu.”
Leng-hong mengangguk, bagaimanapun dinginnya udara dalam istana es, menetes
juga air matanya yang panas.
“Apakah Siau-cu juga selamat?” tanya Pang Goan dengan napas tersengal, “kenapa
ia tidak ikut kemari?”
“Ia baik-baik saja,” jawab Leng-hong dengan tersendat, “dia . . . lantaran ada urusan
lain, ia tak dapat kemari . . . .”
Dalam keadaan seperti ini, ia benar-benar tak tega untuk memberitahukan keadaan
Hui Beng-cu yang sesungguhnya.
“Syukurlah kalau selamat, dulu kita salah menuduhnya yang bukan-bukan, mulai
sekarang kita tak boleh membuatnya menderita lagi.”
“Aku tahu!” Leng-hong mengangguk, air matanya jatuh bercucuran.
Tiba-tiba Pang Goan tertawa, katanya, “Terus terang, aku kuatir sekali kalian akan
terpanggang mati dalam kawah api itu, beri tahulah kepadaku, bagaimana rasanya di
sana? Tentunya panas sekali bukan?”
Ho Leng-hong mengangguk, “Benar . . . . di sana memang panas sekali . . . tapi kami
semua tidak terluka, kami . . . entah bagaimana harus berterima kasih kepada Toako . .
. .”

“Berterima kasih apa!” kata Pang Goan, “apa yang kulakukan tidak lebih cuma
mendorong kalian belaka... Bicara terus terang, sungguh akupun ingin sekali tidur
dalam balok es, sayang aku tak mungkin bisa merasakannya.”
Setelah berhenti sebentar, katanya pula, “Kalian sudah bertemu dengan Wan-kun?”
“Sudah, iapun sangat baik....”
“Sekarang ia berada di luar gua,” sambung Tong Siau-sian dengan cepat, “bagaimana
kalau kupanggil dia masuk kemari?”
Pang Goan menggeleng kepala, lalu pegang tangan Ho Leng-hong, katanya,
“Kabulkanlah permintaanku, jangan salahkan dia yang telah membohongi kita tempo
hari, kutahu iapun bermaksud baik.”
“Jangan kuatir Toako, tak ada orang yang menyalahkan dia, aku akan melindunginya
serta mengantar dia bersama anaknya pulang ke Thian-po-hu.”
“Bagus! Bagus sekali!” lambat laun tangan Pang Goan berubah menjadi amat dingin,
sinar mata pun menjadi pudar, ia celingukan sekejap ke sekeliling situ, lalu
gumamnya, “Sesungguhnya tempat ini adalah suatu tempat istirahat yang sukar dicari,
sayang udaranya terlampau dingin . . . .”
“Pang-toako . . .! Pang-toako . . . .” Leng-hong tak dapat mengendalikan rasa
sedihnya, ia menangis tersedu-sedu.
Di tengah panggilan yang memilukan hati itulah Pang Goan menghembuskan
napasnya yang penghabisan . . . . .
-----------------------
Pintu batu istana es kembali ditutup, jalan darah nenek Po dan kedua orang
perempuan buta yang tertutuk kini telah dibebaskan, mereka menerobos lorong gua
dan menuju ke rumah batu.
Sepanjang jalan tidak ada yang berbicara, jelas hati setiap orang dicekam oleh
perasaan yang berat.
Dengan membawa luka Kim Hong-giok berhasil melarikan diri, Pang Goan
mengakhiri hidupnya dalam istana es, sedang keselamatan Hui Beng-cu masih
merupakan sebuah tanda tanya yang besar . . . .
Yang sudah lewat kini telah lewat, kejadian pada masa mendatang sukar diduga,
hanya satu hal yang harus segera dihadapi, yakni, Tong-popo tidak akan melepaskan
mereka dari tuduhan “masuk ke dalam istana es yang terlarang”, bahkan mungkin
orang di luar sedang menantikan kemunculan mereka.
Barang siapa berani masuk ke daerah terlarang itu, hukumannya adalah mati.
Kendatipun Tong Siau-sian adalah pejabat Kokcu, sulit baginya untuk mengelakkan
peraturan “hukuman mati” atas suaminya, asal ia mati, maka kekuasaan memerintah

Mi-kok akan terjatuh ke tangan Tiang-lo-wan, dan hal inilah yang diidam-idamkan
oleh Tong-popo.
Tidak sulit bagi Tong Siau-sian untuk membayangkan girang Tong-popo saat ini, tapi
kesalahan ini sudah terbukti dan jelas tidak bisa dibantah lagi, atau dengan perkataan
lain dalam perebutan kekuasaan kali ini, ia sudah jelas berada di pihak yang kalah.
Bukan saja kalah dalam berebut kekuasaan, bahkan jiwanya ikut pula menjadi
korban.
Ia tidak menyesal, iapun tidak takut, karena sekalipun ia kehilangan segala-galanya,
namun berhasil mendapatkan cinta yang paling berharga, bagi seorang gadis hal ini
sudah lebih dari cukup.
Mungkin saja Ho Leng-hong bukan laki-laki paling sempurna di dunia ini, tapi
kerelaannya untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran bagi Thian-po-hu
membuktikan bahwa ia seorang lelaki yang jujur, keberhasilannya lolos dari kawah
api membuktikan akan kecerdasannya, daya ingatnya yang kuat serta keberhasilannya
mempelajari ilmu golok Ang-siu-to-hoat membuktikan kepintaran serta bakatnya
yang bagus, sikap pegang janji serta tidak lupa kepada budi yang diperlihatkan selama
ini membuktikan pula bahwa dia adalah seorang lelaki berhati mulia . . . .
Laki-laki semacam inilah merupakan teman hidup yang paling diidam-idamkan oleh
setiap gadis.
Tong Siau-sian telah mengambil keputusan dalam hati, sekalipun harus mati, ia rela
mendampinginya sampai akhir hayat.
Selama masih hidup, iapun tak segan-segan mendampingi kekasihnya untuk
mendobrak kepungan serta berusaha meninggalkan Mi-kok.
Oleh sebab itu, sepanjang perjalanan mendampingi Ho Leng-hong, ia tidak merasa
takut menghadapi apapun.
Apa yang diduga ternyata benar, dalam rumah batu telah dipenuhi bayangan manusia.
Sebagai pemimpin adalah Tong-popo, hampir seluruh anggota Tiang-lo-wan hadir di
situ, kecuali itu, di bawah pimpinan Hoa Jin, dua belas orang jago berbenang biru
dengan golok terhunus siap sedia di sekitar sana.
Di luar rumah batu masih ada pula dua puluh empat pengawal perempuan pelaksana
hukum serta hampir ratusan pasukan yang tergabung dalam Bok-lan-pek-tui dan Boklan-
hek-tui.
Waktu itu fajar telah menyingsing, di luar sana lautan manusia sudah berkumpul,
sebagian besar masyarakat lembah telah tiba di luar ruangan batu itu.
Pang Wan-kun tampak dibelenggu dan berada di barisan depan pasukan pelaksana
hukum

Baru saja Ho Leng-hong melangkah masuk ke dalam ruangan batu, Tong-popo
segera membentak, “Tangkap dia!”
Ke-12 orang berbenang biru serentak mengiakan dan menyerbu maju.
“Berhenti!” bentak Tong Siau-sian, “kalian mau berontak?”
Bagaimanapun dia adalah Kokcu, begitu dia membentak, Hoa Jin sekalian lantas tak
berani bergerak lagi.
Tong-popo tertawa dingin, ejeknya, “Tong Siau-sian, tak perlu kaupamer kuasa
sebagai seorang Kokcu, ketahuilah jabatan itu bukan hak Tong Siau-sian lagi!”
“Kedudukan Kokcu adalah kedudukan yang turun-temurun,” bentak Tong Siau-sian
lantang, “sejak dulu sampai sekarang hanya keluarga Tong yang berhak menjadi
Kokcu, siapa yang berani tidak menghormati diriku?”
“Memang, selama ini kedudukan Kokcu secara turun-temurun dipegang oleh
keluarga Tong, tapi itu cuma berlangsung sampai kau Tong Siau-sian, menurut
peraturan lembah, Tiang-lo-wan berhak memilih Kokcu baru setelah kau meninggal
dunia.”
“Tapi sampai sekarang aku belum mati!”
“Ya, belum, tapi hampir. Kau telah setuju kawin dengan Ho Leng-hong, dan
sekarang ia sudah melanggar peraturan dan harus dijatuhi hukuman mati, menurut
peraturan kau harus mengiringi pula kematiannya.”
“Ho Leng-hong adalah pahlawan lembah kita, kesalahan besar apa yang dilakukan
dia?”
“Malam-malam ia memasuki lembah belakang dan menerobos ke dalam istana es
secara paksa, kesalahan tersebut pantas dijatuhi hukuman mati.”
“Memutuskan hukuman mati terhadap seseorang merupakan hak dan keputusan
Kokcu, bukan Tiang-lo-wan yang berhak memutuskannya dengan begitu saja.”
“Jika orang yang melanggar peraturan adalah calon suami Kokcu, apa lagi Kokcu
sendiripun tersangkut dalam peristiwa ini, tentu saja Tiang-lo-wan berhak
memutuskan hukuman tersebut.”
“Hehe, omong kosong, sehari aku belum mati, sehari pula aku menjadi Kokcu Mikok,
Tiang-lo-wan tidak lebih hanya merupakan pemangku sementara bila aku mati,
kalian tidak berhak merebut kedudukanku sebagai Kokcu dengan begitu saja. Tongpopo,
kau begitu takabur, berani menghina diriku, tidak menuruti peraturan leluhur,
rupanya kau hendak mengkhianati lembah dan merombak peraturan?”
“Aku bertindak demikian justru untuk melaksanakan peraturan leluhur, Ho Lenghong
telah melanggar peraturan dan harus dijatuhi hukuman mati, menurut peraturan
kaupun harus mengiringinya mati, apakah kau hendak melanggar peraturan leluhur

kita ini?”
“Bersalah atau tidaknya Ho Leng-hong adalah hakku untuk memutuskan, sebelum ia
diputuskan bersalah, siapa yang berani tidak mengakui diriku sebagai Kokcu Mikok?”
Saking mendongkol Tong-popo mendengus, tanyanya, “Baik, anggaplah kau masih
seorang Kokcu, sekarang aku ingin tanya padamu, Ho Leng-hong yang telah masuk
ke daerah terlarang dengan paksa harus dikatakan berdosa atau tidak?”
“Berdosa atau tidak harus disertai dengan bukti, kau tak boleh menuduh seenaknya
saja, siapa yang bisa membuktikan ia telah masuk daerah terlarang?”
“Baru saja ia keluar dari lambung bukit, apakah hal ini belum cukup sebagai bukti?”
teriak Tong-popo.
Tong Siau-sian mengangkat bahu, “Itupun hanya membuktikan ia memasuki lorong
dalam lambung bukit, bukan bukti ia memasuki istana es, lorong dalam lambung bukit
bukan daerah terlarang, selama ia tidak masuk ke istana es secara paksa, menurut
peraturan ia tak dapat dijatuhi hukuman mati, apakah kau menyaksikan dengan mata
kepala sendiri bahwa ia masuk ke istana es?”
“Sekalipun aku tidak menyaksikan sendiri, nenek Po dan kedua orang petugas
penjaga pintu istana telah menyaksikannya.”
Tong Siau-sian tertawa, “Wahai Tong-popo, hendaknya kaubicarakan yang jelas,
nenek Po dan kedua orang petugas itu semuanya buta, hakikatnya tak mungkin
mereka menyaksikan apa pun.”
Ucapan ini seketika membuat Tong-popo menjadi bungkam.
Sekalipun semua orang yang hadir tahu alasan Tong Siau-sian terlalu dipaksakan, tak
urung mereka alihkan juga sorot matanya ke wajah nenek Po.
“Mataku memang buta, tapi hatiku tidak buta,” kata nenek Po dengan tenang, “aku
merasa yakin masih sanggup untuk menjadi saksi apakah Ho Leng-hong telah masuk
ke istana es atau tidak, cuma tak tahu apakah kalian mau percaya pada pengakuan si
nenek buta atau tidak.”
“Betul,” seru Tong-popo dengan girang, “meskipun mata enci Po buta, kutahu
tindakanmu selalu jujur dan tidak mengenal kompromi, selaku pemegang kunci istana
es, memang dia pantas dijadikan saksi.”
“Apakah kesaksianku bisa kalian percayai?” tanya nenek Po dengan wajah tanpa
emosi.
“Pati percaya,” jawab Tong-popo cepat, “enci Po, katakanlah kesaksianmu itu, kami
percaya padamu.”
Diam-diam Tong Siau-sian amat gelisah, buru-buru ia menyela, “Nenek Po, aku

selalu bersikap baik padamu, kuminta jangan sampai kaujerumuskan orang baik ke
dalam lembah kehancuran.”
“Aku si nenek buta tak pernah bermusuhan dengan siapapun,” kata nenek Po hambar,
“aku hanya tahu menjaga pintu istana es adalah tugas kewajibanku, apa yang terjadi
hari ini akan kukatakan apa adanya dan bagaimana kejadiannya, aku tidak peduli
kesaksianku ini akan menyinggung perasaan ataupun akan menguntungkan orang
lain.”
“Nenek Po . . . .” rengek Tong Siau-sian dengan suara lirih.
“Rekan-rekan seperguruan,” kata Tong-popo segera dengan suara lantang, “masuk ke
daerah terlarang secara paksa adalah suatu kejadian serius, kalau Kokcu berkeras
menghendaki bukti, marilah kita dengarkan bersama kesaksian enci Po, apakah Ho
Leng-hong bersalah atau tidak akan kita putuskan setelah mendengarkan
kesaksiannya.”
Seketika itu suasana di luar maupun dalam ruangan batu menjadi hening, semua
orang menahan napas dan siap mendengarkan pengakuan nenek Po.
“Nah, enci Po,” kata Tong-popo kemudian dengan bangga, “harap berikan
kesaksianmu dengan suara keras agar setiap orang dapat mendengarkan.”
Berputar biji mata nenek Po yang putih, lalu dengan suara lantang katanya, “Po Suilan
bertugas menjaga istana es sebagai daerah terlarang, untuk mempertanggung
jawabkan kewajibanku, dengan ini kuberikan kesaksian yang sebenar-benarnya. Hari
ini Kokcu dan Ho Leng-hong benar-benar telah datang ke istana es . . . .”
Kontan saja Tong-popo dan Hoa Jin sekalian menyambut dengan sorakan senang.
“Jangan berisik dulu,” bentak nenek Po lantang, “keteranganku belum selesai
kuucapkan . . . .
Sambil tertawa Tong-popo berkata, “Baik, silakan enci Po menyelesaikan katakatanya,
kami semua pasti mendukung kesaksian enci Po ini.”
Nenek Po berdehem, lalu serunya lagi dengan suara lantang, “Aku dapat
membuktikan bahwa Kokcu dan Ho Leng-hong hanya sampai di depan pintu istana
es, mereka sama sekali tidak melangkah masuk ke dalam istana tersebut!”
Begitu kesaksian ini diutarakan, kontan suasana di sekeliling tempat itu menjadi
sunyi, tak kedengaran sedikit suarapun, semua orang sama tertegun.
Selang sesaat kemudian, dari luar ruangan baru meledak suara sorak sorai yang
nyaring, “Hidup Kokcu! Hidup Huma!”
Hampir saja Tong Siau-sian tidak percaya hal itu bisa terjadi, ditatapnya nenek Po
sekejap dengan sorot mata penuh rasa terima kasih, lama dan lama sekali ia baru
berbisik dengan gemetar, “Terima kasih banyak, nenek Po!”

Tapi luapan terima kasih yang lirih itu telah tertutup oleh gemuruh sorak sorai di luar
ruangan, serta merta pasukan pelaksana hukum melepaskan tali yang membelenggu
tubuh Pang Wan-kun.
Air muka Tong-popo berubah menjadi merah padam, lalu berubah pucat pias, dengan
gemas serunya, “Bagus sekali tua bangka she Po, kita lihat saja nanti!”
“Tidak usah menunggu sampai nanti,” jawab nenek Po tenang, “kauberani memfitnah
Kokcu dengan tuduhan yang bukan-bukan, menghasut khalayak ramai untuk
memberontak, kau pantas dijatuhi hukuman mati. Hmm, kaukira hari ini bisa keluar
ruangan ini dengan selamat?”
Tong-popo mendengus, “Hmm, aku tidak percaya ada orang mampu menahan diriku
di sini. Ayo pergi!”
Sambil mengulap tangannya, ia berjalan keluar ruangan itu.
“Berhenti!” terdengar bentakan nyaring.
Sambil melolos golok panjang milik seorang perempuan buta, Tong Siau-sian maju
ke depan sambil membentak, “Tong Siok-tin, besar amat nyalimu, setelah melakukan
kesalahan besar, berani pula kau melawan perintah. Hmm, kau masih menghargai
peraturan lembah atau tidak?”
“Selaku seorang Tianglo yang memimpin Tiang-lo-wan, kedudukanku tidak berada
di bawah kedudukanmu sebagai Kokcu, kau tak perlu pamer kekuasaanmu di depan si
nenek.”
“Tong Siok-tin berani melawan dan mengkhianati lembah, dosanya tak terampunkan,
atas nama Kim-to-leng yang diwariskan leluhur, mulai detik ini kupecat Tong Siok-tin
dari kedudukannya sebagai Tianglo,” seru Tong Siau-sian dengan suara lantang,
“dengan ini pula diperintahkan kepada seluruh anggota perguruan agar bersama-sama
menangkap pengkhianat itu, barang siapa berhasil menangkap Tong Siok-tin, dia akan
kuangkat sebagai pemimpin para Tianglo, barang siapa berkomplot dengan Tong
Siok-tin akan dianggap sebagai pengkhianat dan dijatuhi hukuman mati.”
Semua anggota lembah Mi-kok saling pandang dengan sangsi, untuk sesaat mereka
tak tahu apa yang harus dilakukan?”
Tong-popo segera menengadah sambil tertawa terbahak-bahak, ejeknya, “Tong Siausian,
Kim-to-lengmu itu tak lebih Cuma kekuasaan sebesar ini. Hm, Tiang-lo-wan
adalah lembaga paling tinggi dalam lembah ini, kau tidak berhak menghapus atau
memecat seseorang dari kedudukannya sebagai Tianglo, sebaliknya kami justru
mempunyai hak untuk memecat kau sebagai Kokcu yang tak becus . . . .”
Bicara sampai di sini ia lantas berpaling ke arah beberapa orang Tianglo lain seraya
berkata, “Saudara sekalian, urusan telah berkembang menjadi begini, lebih baik kita
turun tangan saja membekuk budak ini, entah bagaimana pendapat kalian?”
Beberapa orang Tianglo itu hanya saling pandang saja dengan terbelalak, sikap

mereka kelihatan sangsi.
Melihat gelagat tidak menguntungkan, Tong-popo segera memberi tanda sambil
membentak, “Tong Siau-sian tidak becus dan tak pantas memimpin Mi-kok, Tiang-lowan
memutuskan bahwa mulai saat ini dia dipecat dari jabatannya untuk kemudian
memilih Kokcu baru lagi. Pengawal tangkap dia!”
Seseorang mengiakan sambil melolos senjatanya, ternyata dia adalah Hoa Jin, tapi
ketika ia celingukan ke sana kemari dan diketahui cuma di sendiri yang menyahut, ia
menjadi gugup dan ragu untuk bertindak lebih lanjut.
Tong Siau-sian segera mengeluarkan sebilah pisau kecil berwarna emas, sambil
mengangkatnya tinggi-tinggi ia berseru, “Hoa Jin berani berkomplot untuk melakukan
pengkhianatan, barang siapa menangkap Hoa Jin, dia akan kuberi jabatan sebagai
Tianglo berbenang perak!”
Baru saja ucapan itu diutarakan, seseorang segera tampil ke depan seraya berseru,
“Terima perintah!”
Orang itupun seorang petugas “Benang biru”, dia tak lain adalah Yu Ji-nio.
“Kau manusia plin-plan dan pengecut,” maki Hoa Jin dengan gusar, “setelah keadaan
berubah menjadi begini, kenapa kau malah membantu orang lain?”
“Kentut busuk,” bentak Yu Ji-nio, “turun temurun kita menetap dalam lembah ini,
belum pernah ada orang berani menggeser kedudukan Kokcu, kauingin memfitnah
diriku sebagai pengkhianat? Hmm, justru aku sekarang hendak membekukmu untuk
menebus dosa. Lihat serangan!”
Golok panjangnya segera bergetar dan langsung menyerang Hoa Jin.
Bagaimanapun lebih banyak anak murid Mi-kok yang berjiwa jujur daripada yang
bermaksud khianat, sekalipun mereka tak berani bertindak ketika terjadi percecokan
antara Kokcu dan pemimpin Tianglo, tapi terhadap Hoa Jin tak seorang pun yang
merasa takut, begitu Yu Ji-nio turun tangan, serentak merekapun ikut berkobar jiwa
ksatrianya, sambil berteriak nyaring masing-masing melolos golok dan ikut
mengerubuti Hoa Jin.
Begitulah suasana dalam ruangan telah berubah, dari luar ruangan pun terjadi
pergolakan, semua anak murid Mi-kok serentak melolos senjata masing-masing dan
ikut terjun dalam gerakan menentang pengkhianatan.
Melihat masa jaya baginya sudah lewat, dengan penuh kebencian Tong-popo
menggentakan kakinya ke tanah, lalu sambil putar senjata ia terjang keluar ruangan.
Bagaimanapun dia seorang Tianglo, tentu saja tenaga dalamnya jauh lebih sempurna
dibandingkan para jago Benang Biru serta para anggota pasukan Bok-lan-tui, di mana
cahaya golok berkelebat segera timbul gelombang hawa dingin, kontan semua orang
menyingkir ke belakang, dengan demikian dalam waktu singkat ia berhasil menerobos
pergi.

Menyaksikan hal tersebut, Tong Siau-sian mau turun tangan sendiri, tapi pada saat
itulah tanpa menimbulkan suara Ho Leng-hong telah melompat ke depan dan
mengadang jalan lari Tong-popo.
Selama ini beberapa orang nenek lainnya yang tergabung dalam Tiang-lo-wan tidak
melakukan gerakan apa-apa, jelas mereka tidak setuju dengan tindakan Tong-popo
yang berkhianat secara terang-terangan itu.
Saat itulah Tong Siau-sian baru bisa mengembuskan napas lega, bisiknya kepada
nenek Po, “Bila semua pengkhianat telah berhasil dibekuk, aku pasti akan berterima
kasih atas perlindungan kau orang tua . . . .”
“Tak usah berterima kasih kepadaku,” kata nenek Po sambil menggeleng, “kalau
ingin berterima kasih, seharusnya kau berterima kasih kepada Ho Leng-hong.”
“Kenapa?” tanya Tong Siau-sian tercengang.
Nenek Po menghela napas, “Ai, selama berpuluh tahun ini tidak sedikit sudah orang
yang kuantar masuk ke dalam istana es, meskipun mereka tewas dalam istana es, tapi
tiada bedanya seperti mati di tanganku, dengan susah payah akhirnya ada juga
seorang yang berhasil keluar dengan selamat, mana aku sampai hati mencelakai lagi
jiwanya dengan sepatah kataku?”
Tong Siau-sian tertawa, tanyanya pula, “Tapi kau orang tua selamanya tak pernah
bohong, kenapa sekali ini . . . .”
Biji mata nenek Po yang putih berputar, “Siapa bilang aku tak pernah bohong? Aku
hanya tidak mendapatkan kesempatan saja. Kalau ada orang mengaku selama
hidupnya tak pernah bohong, maka pengakuan itu sendiri adalah bohong besar.”
Di dunia ini memang tak ada orang yang tak pernah bohong, seperti juga di dunia ini
tak pernah ada orang yang tak mengampuni kesalahannya sendiri. Justru karena
semua orang suka memaafkan kesalahan sendiri, maka mereka suka berbohong.
------------------------
Sesungguhnya tenaga dalam Leng-hong bukan tandingan Tong-popo, tapi lantaran ia
memahami jurus kesembilan yang merupakan jurus anti ilmu golok Ang-siu-to-hoat,
maka setiap gebrakan ia selalu mengawasi keadaan dan membuat permainan golok
Tong-popo sukar dikembangkan.
Tak sampai lima enam gebrakan, secara beruntun Tong-popo telah menerima dua
kali bacokan sekalipun tidak parah, namun cukup menggetarkan sukma Tong-popo.
Setelah sadar bahwa ia bukan tandingan Ho Leng-hong, tiba-tiba nenek itu berkata
lirih, “Hei, orang she Ho, jangan terlalu mendesak diriku, kau masih ingin menolong
Hui Beng-cu tidak?”
Tergerak juga hati Ho Leng-hong, serangan goloknya dikendurkan, lalu balik

bertanya, “Kau sanggup menolongnya?”
“Jika kau mau melepaskan diriku, tentu saja aku mempunyai cara untuk
menolongnya lolos dari cengkeraman orang.”
“Coba jelaskan dulu!”
“Setelah terluka, sampai sekarang, Samkongcu dari Ci-moay-hwe belum
meninggalkan lembah ini, hanya aku yang mengetahui di mana dia bersembunyi,
kalau kausetujui untuk melepaskan diriku dari sini, dia akan kuserahkan padamu,
dengan ia sebagai sandera, apa susahnya untuk memaksa pihak Ci-moay-hwe
membebaskan Hui Beng-cu.”
Mencorong sinar mata Ho Leng-hong, ia menarik kembali goloknya seraya bertanya,
“Sekarang dia berada di mana?”
“Sedang merawat lukanya dalam lembah ini, asal Ho-tayhiap bersedia memberi jalan
lewat, sekarang juga kuajak kau ke sana . . . .”
“Baik. Ayo bawa aku ke sana!” golok Leng-hong segera ditarik kembali dan
memberi jalan lewat, secepat kilat Tong-popo kabur dari situ.
“Leng-hong, cepat cegat dia!” teriak Tong Siau-sian kaget.
Ho Leng-hong mengulapkan tangannya seraya berkata dengan suara tertahan, “Baikbaiklah
mengatur urusan lembah sini, serahkan orang itu kepadaku, jangan mengirim
orang untuk menyusulnya, aku akan kembali dengan cepat.”
Tong Siau-sian masih ingin tanya lagi, tapi Ho Leng-hong telah melayang ke sana
menyusul Tong-popo.
----------------------------
Sebagian besar anak murid Mi-kok telah berkumpul di belakang lembah ini hingga
bangunan induk terasa lenggang dan sepi.
Tong-popo langsung kembali ke Tiang-lo-wan, ibaratnya anjing yang kena gebuk, ia
pulang dengan lemas dan murung.
Kendatipun dalam gedung saat itu tinggal beberapa orang pelayan saja, orang-orang
itupun diusir keluar semua.
Dalam keadaan demikian, kecuali kepada diri sendiri boleh di bilang ia tidak percaya
pada orang lain lagi, selain itu iapun tak berani berdiam lama dalam lembah, maka
sebelum meninggalkan tempat itu untuk selamanya, beberapa macam barang berharga
perlu dibawa serta.
Di antara barang mestika termasuk juga dua bilah golok pusaka, yang pertama adalah
Yan-ci-po-to dari Thian-po-hu, sedang yang kedua adalah golok sabit dari Hui Bengcu.

Terhadap asli tidaknya golok mestika Yan-ci-po-to untuk sementara waktu belum
dapat ditentukan, maka dia hanya menyandangnya di punggung, sementara golok
sabit milik Hui Beng-cu dipegangnya dan siap dipergunakan untuk menghadapi
segala kemungkinan.
Ho Leng-hong mengadang jalan perginya di tengah halaman, begitu ia muncul,
pemuda itu segera menegur dengan ketus, “Kim Hong-giok bersembunyi di mana?
Kalau tidak kauserahkan padaku, jangan harap meninggalkan lembah Mi-kok dengan
selamat.”
Sesudah lolos dari kepungan, apalagi golok mestika sudah berada dalam genggaman,
Tong-popo kelihatan tidak takut lagi, katanya sambil tertawa, “Ho-tayhiap, antara kau
dan aku ibaratnya air sumur tak melanggar air sungai, aku harap kau jangan mendesak
orang keterlaluan, selewatnya hari ini, rasanya kita masih akan berjumpa lagi.”
“Boleh saja aku tidak mencampuri urusan dalam lembah kalian, tapi harus
kauserahkan Kim Hong-giok kepadaku, sebab itulah syarat bagimu untuk meloloskan
diri dari sini.”
“Bila orang itu kuserahkan padamu, dapatkah kau menjamin bahwa Tong Siau-sian
akan mengundurkan diri dari jabatannya dan menyerahkan semua kekuasaan Mi-kok
kepadaku?”
“Itu urusan lembah kalian, aku tidak dapat memberi jaminan seperti itu.”
“Makanya akupun tak dapat menyerahkan Kim Hong-giok kepadamu,” jawab Tongpopo
sambil tertawa dingin, “sebab mereka akan mendukungku kembali ke sini,
sudah lama Ci-moay-hwe menyiapkan orang-orangnya di sekitar sini, kalau aku
sampai bentrok dengan mereka, siapa yang akan mendukungku kembali ke lembah
ini?”
“Jadi kau hendak mengingkar janji?” bentak Leng-hong.
“Bukanya aku ingkar janji, terus terang kuberitahu, tadi Kim Hong-giok telah kabur
pergi dari Mi-kok, apa yang kuucapkan tadi tidak lebih hanya siasat belaka.”
Betapa geram Ho Leng-hong, bentaknya, “Kalau begitu, jangan harap kau bisa lolos
dari sini!”
“Ho-tayhiap, sekalipun kau menahan diriku atau menyerahkan diriku kepada Tong
Siau-sian untuk dijatuhi hukuman, hal inipun tidak bermanfaat bagimu, sebaliknya
bila kau ikut diriku meninggalkan lembah ini, bisa saja kubawa kau ke markas rahasia
Ci-moay-hwe, tentu saja berhasil atau tidaknya kau menolong Hui Beng-cu
bergantung kepada kepandaianmu sendiri, aku hanya bertugas membawa jalan, aku
tak ingin menyalahi teman-temanku sendiri.”
Nenek itu sungguh licik dan banyak tipu muslihatnya, jelas tujuannya hanya ingin
mempergunakan Ho Leng-hong untuk melindunginya meninggalkan Mi-kok,
andaikata tiba di sarang rahasia Ci-moay-hwe, diapun pasti akan berpihak kepada CiKoleksi
Kang Zusi
moay-hwe dan membekuk Ho Leng-hong guna mencari pahala, jadi kalau dia bilang
berniat membantu pemuda itu menolong Hui Beng-cu, hal ini jelas hanya tipuan
belaka.
Tapi Ho Leng-hong seolah-olah tidak berpikir sampai ke situ, setelah termenung
sebentar, dia mengangguk, “Baik, aku percaya padamu sekali lagi, kalau kau berani
membohongi pula, jangan menyesal bila aku tidak sungkan lagi padamu.”
“Jangan kuatir,” kata Tong-popo dengan tertawa, “sekali ini aku bicara sejujurnya.
Bayangkan sendiri, setelah kabur dari Mi-kok, kecuali menuju ke Ci-moay-hwe, aku
dapat kabur ke mana lagi?”
“Ayo berangkat!” seru Leng-hong kemudian, segera ia berangkat lebih dulu
meninggalkan gedung tersebut.
Tiba di mulut lembah, belasan orang pengawal dari Bok-lan-pek-tui telah mengadang
mereka, seorang petugas dari benang biru segera berkata, “Tong-popo telah
berkhianat dan melarikan diri, Kokcu memberi perintah agar membekuknya, siapapun
dilarang meninggalkan lembah ini.”
“Berilah jalan lewat padaku, bila Kokcu menegur nanti, akulah yang bertanggung
jawab,” sahut Ho Leng-hong.
“Ho-huma adalah tamu agung kami, untuk melepaskanmu pergi kami masih berani
melakukannya, tapi Tong-popo . . . . .”
“Aku yang membawanya pergi, bila terjadi sesuatu tentu saja aku pula yang
bertanggung jawab.”
Petugas penjaga lembah itu menjadi serba susah, katanya dengan ragu, “Tentang ini .
. . bagaimana kalau hamba minta persetujuan Kokcu lebih dulu?”
“Aku ada urusan yang mendesak, tiada waktu lagi untuk menunggu jawaban kalian,”
kata Leng-hong dengan tidak sabar, “pokoknya sampaikan saja apa yang kukatakan
ini kepada Kokcu.”
Sampai di sini, tanpa menunggu jawaban lagi, ia lantas menerobos lewat lebih dulu.
Dengan golok sabit terhunus Tong-popo ikut menerjang keluar pula.
Para penjaga tak ada yang berani turun tangan mengalangi mereka, dengan mata
terbelalak terpaksa mereka membiarkan kedua orang itu meninggalkan lembah.
Pada waktu pergi Tong-popo masih sempat mendamprat dengan penuh kebencian
tapi para penjaga pura-pura tidak mendengar, setelah kedua orang itu pergi jauh, satu
di antara penjaga itu secara hati-hati sekali membuntuti kedua orang itu dari kejauhan.
Sekalipun orang itu mengenakan baju barisan “benang putih”, kenyataannya dia
adalah Pang Wan-kun.

----------------------------
Yang dimaksudkan sebagai markas rahasia Ci-moay-hwe oleh Tong-popo, pada
hakikatnya adalah rumah gubuk yang terletak di bukit gerbang di belakang Mi-kok.
Sepanjang jalan ia lari berdampingan dengan Ho Leng-hong, ketika mendekati rumah
gubuk itu tiba-tiba ia mengerahkan tenaga dalam dan mempercepat langkahnya.
Leng-hong kuatir nenek itu akan kabur, buru-buru mengerahkan tenaga dalam untuk
menyusul.
Satu di depan yang lain di belakang, dalam waktu singkat kedua orang telah tiba di
tanah lapang di depan rumah gubuk itu.
Tiba-tiba Tong-popo mencabut golok lengkungnya sambil membentak, “Ho Lenghong,
jangan kau mendesak orang keterlaluan, aku sudah terperosot seperti ini, tapi
kau masih mengejar tiada hentinya. Hm, biarlah aku beradu jiwa denganmu.”
Seraya berkata goloknya terus berputar dan menerjang Ho Leng-hong.
Tapi baru bergebrak beberapa jurus, mendadak ia berlagak tidak tahan, permainan
goloknya menjadi kalut, bersamaan itu ia berteriak dengan gugup, “Nona Lik-giok,
cepat bantu aku. Samkongcu telah terjebak dalam Mi-kok, kalian tak dapat berpeluk
tangan belaka....”
Di tengah teriakannya itu, bayangan manusia segera bermunculan, dalam waktu
singkat dua puluhan orang perempuan berbaju hitam telah muncul di situ.
Perempuan-perempuan berbaju hitam itu semuanya memakai baju pendek dengan
ujung lengan lebar, rambutnya disanggul tinggi, setiap orang menggenggam sebilah
golok panjang sempit dan sebilah pisau pendek terselip di pinggang.
Bersamaan itu pula, dari balik rumah gubuk berjalan keluar dua orang, seorang
mengenakan baju warna hijau dan yang lain berjubah biru.
Yang memakai baju hijau itu adalah Kim Lik-giok, sedangkan yang memakai jubah
biru belum pernah dijumpainya.
Akan tetapi usia maupun kedudukan perempuan berjubah biru ini agaknya di atas
Kim Lik-giok, ditinjau dari dandanannya jelas dia adalah seorang perempuan asing
suku Ainu.
Begitu muncul ia lantas membentak, “Tahan!”
Bahasa yang dipergunakan adalah Bahasa Han, akan tetapi logatnya kaku sehingga
kedengarannya sangat lucu.
Tong-popo dan Ho Leng-hong segera menarik kembali serangannya sambil mundur
ke belakang, serentak para perempuan Ainu yang berada di sekeliling tempat itu
bergerak maju dan mengurung kedua orang itu rapat-rapat.

Tong-popo kelihatan tercengang, serunya, “Nona ini adalah . . . .”
“Dia adalah Toasuci,” jawab Kim Lik-giok, “bernama Kim Lam-giok, ketua
perkumpulan kami.”
Kim Lam-giok! Ketua Ci-moay-hwe!
Tanpa terasa Ho Leng-hong berpaling ke arah perempuan itu, usia Kim Lam-giok
baru 26 – 27 tahun, amat cantik dan sedikit agak genit, diam-diam hatinya tergiur
juga.
Sementara itu Tong-popo tersenyum ketika mengetahui bahwa perempuan itu adalah
ketua Ci-moay-hwe, katanya cepat, “O, rupanya Toakongcu, terimalah hormatku.”
“Tak usah banyak adat,” sahut Kim Lam-giok ketus, “Benarkah apa yang kau
ucapkan tadi?”
“Aku dengan perkumpulan kalian telah mengikat tali persahabatan, untuk apa aku
berbohong?”
“Tapi, mengapa kau menderita kekalahan sedemikian mengenaskan? Kenapa
Sammoay bisa terjebak dalam Mi-kok?”
“Semuanya itu adalah gara-gara orang she Ho ini . . .” sahut Tong-popo sambil
menuding Ho Leng-hong dengan ujung goloknya.
Secara ringkas diceritakannya bagaimana Ho Leng-hong dan Tong Siau-sian
memasuki istana es, bagaimana Kim Hong-giok terluka dan bagaimana nenek Po
memberikan kesaksiannya . . . .
Tampaknya Lam-giok tidak tertarik pada urusan Tong-popo berebut kekuasaan
dengan Tong Siau-sian, semua perhatiannya hanya tertuju pada soal Kim Hong-giok,
kembali ia tanya, “Kalau Sammoay terluka, mengapa kau tidak membawanya kemari?
Kenapa kau meninggalkannya dalam lembah?”
“Setelah terluka parah, Samkongcu tidak leluasa untuk bergerak, terpaksa
kusembunyikan di dalam gua di balik gunung-gunungan dalam taman Tiang-lo-wan,
tempat itu sangat rahasia dan tak mungkin bisa ditemukan orang, setelah urusanku
gagal, sebetulnya aku hendak menolongnya kabur, tapi orang she Ho ini mengikuti
diriku terus menerus, dalam keadaan demikian terpaksa kupancing ia kemari. Bila
Hwecu ingin menolong Samkongcu, silakan membekuk Ho Leng-hong lebih dulu,
kemudian kita bersama-sama kembali ke Mi-kok dan melenyapkan Tong Siau-sian,
tentu Samkongcu bisa kita selamatkan.”
Kim Lam-giok mendengus, “Hmm, maksudmu kami harus membantumu untuk
melenyapkan musuh tangguhmu lebih dulu, kemudian mengantarmu pulang untuk
menjadi penguasa Mi-kok?”
“Tidak, aku tidak bermaksud begitu,” sahut Tong-popo cemas, “setelah terjebak

dalam lembah, keadaan Samkongcu berbahaya sekali, kita tak bisa mengulur waktu
lagi, kendatipun kalian membantuku, sama artinya menolong Samkongcu, tindakan
ini akan menguntungkan kedua pihak.”
“Ya, tapi urusan beradu jiwa dengan musuh, kauminta Ci-moay-hwe melakukannya
bagimu?”
“Sebetulnya kita tak perlu beradu jiwa dengan musuh,” kata Tong-popo lagi, “Ho
Leng-hong adalah calon suami Tong Siau-sian, asal kita berhasil membekuknya, tidak
sulit untuk memaksa Tong Siau-sian menuruti kehendak kita!”
“Kalau begitu, silakan kau sendiri membekuk orang itu!”
“Tapi . . .” Tong-popo menjadi sangsi, “orang ini telah berhasil menguasai golok
lembah kami, dengan kekuatanku seorang sulit merobohkan dia ....”
“Lantas apa gunamu kecuali berpeluk tangan menunggu hasil yang menguntungkan,
apa yang bisa kau lakukan?” bentak Kim Lam-giok.
Sambil mengulap tangannya ia lantas berseru, “bunuh orang itu . . . .”
Belum habis ucapannya, Kim Lik-giok yang berada di sampingnya tiba-tiba menyela,
“Tunggu sebentar, masih ada persoalan hendak kutanyakan padanya.”
Perempuan Ainu yang berada di sekeliling telah mengangkat golok tinggi-tinggi
sambil maju memperkecil lingkaran kepungan, mereka telah siap melancarkan
serangan.
“Tong-popo,” kata Lik-giok kemudian, “kita telah bekerja sama, adalah pantas kalau
masing-masing berusaha dengan sepenuh tenaga dan saling tolong-menolong, kini
Sammoay terluka, kau tidak melindunginya, sebaliknya malah kabur sendiri, tak
heran kalau Toaci menjadi marah.”
“Kalian hanya menyalahkan diriku, kenapa tidak menyalahkan diri sendiri?” kata
Tong-popo dengan marah, “ketika Kim Hong-giok menyeludup ke dalam istana es
untuk mencuri belajar Ang-siu-to-hoat, sebelumnya ia tak pernah memberitahukan
apa-apa kepadaku, tapi setelah kejadian itu aku telah menyembunyikan dia, apakah
akupun salah?”
“Tentu saja bukan seluruhnya kesalahanmu, aku ingin tanya padamu, benar amankah
tempat sembunyi Sammoay?”
“Tanggung . . .”
“Tanggung tidak aman!” tiba-tiba seorang menyela ucapan Tong-popo.
Menyusul ucapan tersebut, serombongan besar bayangan orang melayang ke atas
tanah lapang . . . . mereka adalah kedua belas jago “kelompok benang biru” yang
memimpin empat puluhan orang pasukan berbenang hitam yang tergabung dalam
Bok-lan-pek-tui.

Di tengah berkelebatannya bayangan merah, dalam waktu singkat puluhan
perempuan pendek berbaju hitam suku Ainu itu sudah terkepung.
Sebagai pemimpinya bukan lain adalah Tong Siau-sian. Kokcu lembah Mi-kok,
sedang yang berbicara adalah Pang Wan-kun.
Dua anggota Bok-lan-pek-tui menggotong sebuah pembaringan kayu, di atas
pembaringan membujur tubuh Samkongcu Kim Hong-giok yang tertutuk jalan
darahnya.
Air muka Kim Lam-giok dan Kim Lik-giok berubah menjadi pucat seperti mayat,
mereka menatap Kim Hong-giok yang berada di pembaringan dengan rasa cemas dan
gelisah.
Keadaan Tong-popo lebih mengenaskan lagi, ibaratnya seekor anjing liar yang
menghadapi jalan buntu, dengan sinar mata yang penuh rasa cemas ia celingukan ke
sana kemari sambil berusaha keras mencari kesempatan untuk kabur.
Tapi hampir ratusan orang telah mengepung sekeliling tempat itu, cahaya golok
berkilauan, apa lagi di sampingnya masih berdiri seorang Ho Leng-hong yang
mengawasinya tanpa berkedip, ingin kabur? Jelas bukan pekerjaan gampang.
Walaupun Pang Wan-kun tidak mengenakan seragam Mi-kok, kini ia merupakan
seorang yang mempunyai kedudukan tinggi dalam Mi-kok, terdengar ia berseru
dengan suara lantang, “Ci-moay-hwe bukan saja berani memasuki tempat terlarang
lembah kami dan mencuri belajar ilmu silat kami, kalian pun berani pula melindungi
buronan lembah kami, bicara soal kesalahan kalian pantas dihukum mati, bila ada di
antara kalian yang mau melepaskan senjata dan menyerahkan buronan, Kokcu kami
bersedia mengampuni dosa kalian dengan memberi jalan hidup. Nah, sekarang siapa
yang ingin hidup dan siapa ingin mati terserah pada pilihan kalian sendiri.”
Kim Lam-giok dan Kim Lik-giok tidak bicara apa-apa, kedua puluh orang
perempuan Ainu pun tak ada yang melepaskan senjata, jelas kendatipun mereka
merasa tak bisa menang menghadapi lawan lihai, namun mereka pantang menyerah
dengan begitu saja.
Menyaksikan keadaan ini, Pang Wan-kun berpaling ke arah Tong Siau-sian, gadis
itupun mengangguk.
Hal ini berarti segala sesuatunya telah diserahkan kepada Pang Wan-kun untuk
memutuskan.
Dengan wajah serius pelahan Pang Wan-kun mengangkat tangan kanannya, lalu
berkata, “Kalian sendiri yang mencari mampus, jangan menyesal jika pihak kami
tidak memberi kesempatan lagi kepada kalian!”
Baru saja ia hendak menitahkan anak buahnya untuk melancarkan serangan, tiba-tiba
Kim Lam-giok menengadah sambil tertawa terbahak-bahak....

“Hei, kematian sudah berada di ambang pintu apa yang kau tertawakan?” bentak
Wan-kun.
“Benar, ilmu golok Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok memang tiada tandingan di dunia
ini, apalagi dengan jumlah orang yang banyak, bila terjadi pertarungan mungkin saja
Ci-moay-hwe kalah, tetapi sebelum menderita kekalahan total, kami pun tak akan
melepaskan orang yang berada di tangan kami.
Sambil berpaling ke arah rumah gubuk, bentaknya, “Suheng, gusur ke keluar orangorang
itu!”
Dari dalam rumah gubuk terdengar suara orang menyahut, menyusul muncul
serombongan orang, orang pertama adalah laki-laki setengah umur bertubuh pendek
tapi kekar, di belakangnya mengikuti dua orang laki-laki berbaju pendek dan
menggusur seorang lelaki dan seorang perempuan.
Lelaki itu berusia lima puluhan, berwajah keren, bermuka merah, beralis tebal dan
dibelenggu oleh tali sekujur badannya sehingga mirip seorang tawanan.
Yang perempuan adalah Hui Beng-cu, iapun dibelenggu kencang dengan golok
dipalangkan pada tengkuknya.
“Ho Leng-hong!” kata Kim Lam-giok kemudian, “tahukah kau siapa tawanan lakilaki
ini? Jika kau ingin tahu, silakan tanya sendiri kepada Pang Wan-kun!”
“Tak perlu tanya, aku tahu dia pastilah pemilik gedung Hiang-in-hu dari Hu-yong,
Tay-yang-to (golok matahari) Hui Pek-ling!”
“Hahaha, kau memang pintar sekali!” kata Kim Lam-giok sambil tertawa, “Kalau
begitu, kau tentu mengetahui bukan, seandainya orang-orang Mi-kok sampai turun
tangan, apa yang akan kuperbuat terhadap kedua orang ayah dan anak ini?”
Hawa amarah terpancar dari wajah Ho Leng-hong, bentaknya dengan menahan
geram, “Perselisihan kalian dengan Mi-kok apa sangkut pautnya dengan mereka ayah
dan anak? Tidakkah kau merasakan perbuatanmu itu terlalu rendah dan kotor?”
“Mereka ayah dan anak mempunyai hubungan dengan kau, dan kau adalah tamu
agung Mi-kok, asal kaumau tampil ke depan, perselisihan di antara kedua pihak baru
bisa terselesaikan,” jawab Kim Lam-giok dengan tertawa.
Leng-hong hanya mendengus dan tidak berkata apa-apa.
Kembali Kim Lam-giok berkata, “Kami tidak mempunyai permintaan lain, aku hanya
ingin menggunakan kedua orang ini untuk ditukar dengan Sammoayku Hong-giok,
kemudian Ci-moay-hwe akan segera angkat kaki dari Tay-pa-san ini, mengenai Tongpopo,
kuserahkan penyelesaiannya kepada kalian, entah bagaimana pendapat Hotayhiap
dengan syarat ini?”
Belum sempat Ho Leng-hong menjawab, dengan gusar Tong-popo telah berteriak,
“Perempuan busuk, lantaran posisiku sudah tersudut, maka kau ‘setelah menyeberang

sungai lantas menghancurkan jembatan’? Hm, terus terang kuberitahukan padamu,
tidak segampang itu rencanamu bisa terpenuhi, bila aku si nenek tak mampu
meloloskan diri, kalian perempuan asing busuk juga jangan harap bisa meninggalkan
tempat ini dengan selamat.”
“Hei, apa gunanya kau marah kepada kami?” ejek Kim Lam-giok, “bukannya aku tak
sudi membantumu, adalah kau yang mencelakai Sammoay lebih dahulu!”
Kemarahan nenek Tong tak terkendalikan lagi, tiba-tiba ia putar goloknya dan
menerjang ke arah rumah gubuk itu.
Begitu dia turun tangan, serentak perempuan-perempuan Ainu yang berada di
sekeliling sanapun turun tangan mengalanginya, serentak cahaya golok dan bentakan
nyaring lantas berjangkit di sana sini.
Sekalipun jumlah perempuan Ainu itu sangat banyak, ilmu golok mereka jauh
ketinggalan bila dibandingkan Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok, begitu pertarungan
berkobar, beruntun empat lima orang telah terluka, Tong-popo berhasil menerobos
lingkaran tersebut.
Tapi di luar lingkaran kepungan perempuan Ainu itu masih ada sekelompok besar
anak murid Mi-kok.
Dengan tenaga dalamnya yang sempurna, secara nekat Tong-popo menerjang.
“Cegat jalan perginya, mati atau hidup, bekuk dia!” bentak Pang Wan-kun.
Empat jago “benang biru” serentak maju bersama mengadang jalan pergi Tong-popo.
Waktu itu Tong-popo mulai menyadari lemahnya kekuatan sendiri, bukan pekerjaan
gampang untuk menembus kepungan rapat itu, tapi iapun sadar bila menyerah berati
mati, sebaliknya kalau nekat mungkin masih ada harapan untuk hidup, maka seperti
harimau terluka, goloknya diputar sedemikian rupa untuk menghadapi kepungan
musuh.
Baru tiga-empat gebrakan, salah seorang lawan kena dibacok bahunya sehingga
melompat mundur.
Seorang jago kelompok benang biru dengan cepat melompat maju untuk menutup
kekosongan tersebut, dengan demikian posisinya masih tetap empat lawan satu.
Makin lama Tong-popo makin nekat, di tengah bentakan-bentakan gusar yang
nyaring, kembali ia berhasil membacok roboh seorang lawan.
Begitu orang itu terluka dan mundur, segera orang lain menutupi kekosongan
tersebut, sedikitpun tidak memberi peluang bagi nenek Tong untuk melarikan diri.
Keadaan tersebut amat tidak menguntungkan nenek Tong, karena kawanan jago
benang biru berjumlah dua belas orang, sedang ia cuma seorang diri, apalagi di luar
lingkaran kepungan masih ada empat puluh orang lebih pasukan Bok-lan-tui.

Pertarungan ini betul-betul pertarungan kalap seperti seekor binatang yang terjebak,
sengit dan tegang, seperti demonstrasi kelihayan ilmu golok aliran Mi-kok, semua ini
membuat para perempuan Ainu yang berada di sekitar situ menjadi tertegun.
Baju merah saling berkelebat, cahaya golok menyilaukan mata. Bagaimanapun Tongpopo
hanya seorang diri, dalam suatu kesempatan akhirnya suatu bacokan sempat
mampir juga pada pahanya.
Darah segera berhamburan membasahi pakaiannya yang berbenang perak itu, begitu
kehilangan banyak darah, tenaga makin lemah, gerakannya jadi lamban, akhirnya
lengan kiri dan pinggang juga kena bacokan.
Tong-popo tidak tahan lagi, sambil melepaskan serangan, buru-buru ia mundur
dengan sempoyongan.
Tiba-tiba satu tangan memayang tubuhnya, menyusul terdengar Ho Leng-hong
menghela napas panjang, “Ai, apa gunanya saling membunuh dengan sesama saudara
perguruan, lepaskan golokmu Popo!”
Sekuat tenaga Tong-popo bermaksud menyerang pula, tapi pergelangan tangan
segera kesemutan dan golok lengkung sudah dirampas oleh Ho Leng-hong.
Segenap anggota Mi-kok menyambut kejadian itu dengan sorak kegirangan, serentak
mereka menerobos kepungan perempuan-perempuan Ainu dan berkerumun ke depan .
. . .
“Jangan buru-buru turun tangan,” seru Ho Leng-hong, “ada yang hendak kukatakan
lebih dulu.”
Dengan sebelah tangan memegang golok dan tangan lain memayang Tong-popo,
pemuda itu berkata lebih jauh, “Nona Tong, bersediakah kau mengabulkan
permintaanku?”
“Kenapa? Kau ingin mintakan ampun baginya?”
“Sebenarnya aku tidak berhak mintakan ampun bagi Tong-popo yang telah
melanggar peraturan Mi-kok, tapi bagaimanapun dia adalah ahli waris Ang-ih Huinio,
ia keblingar dan melakukan kesalahan besar lantaran kemaruk kekuasaan, apakah
nona bersedia memandang hubungan persaudaraan dan mengampuni jiwanya?
Biarkan dia hidup sampai akhir hayatnya alam lembah dengan status sebagai orang
hukuman!”
Tong Siau-sian mengernyitkan alis, lalu berkata, “Ia telah menipumu masuk ke istana
es, berulang kali ingin mencelakai jiwamu, apakah kau telah melupakan semua itu?”
Ho Leng-hong tertawa getir, “Bila mana bisa mengampuni orang, ampunilah dia! Ia
sudah tua dan paling banter hidup beberapa tahun lagi, apa salahnya kalau kita
ampuni jiwanya dan memberi kesempatan kepadanya untuk melewatkan sisa-sisa
kehidupannya saat ini?”

Tong Siau-sian termenung sejenak akhirnya ia mengangguk, “Baiklah, kukabulkan
permintaanmu, tapi ilmu silatnya harus dipunahkan dan sepanjang hidupnya ditahan
dalam penjara!”
“Terima kasih, nona!” Leng-hong segera memberi hormat.
Ia lantas melepaskan golok mestika Yan-ci-po-to dari punggung Tong-popo,
menutuk jalan darahnya dan menyerahkan nenek itu kepada dua orang petugas
benang biru untuk menggusurnya pergi.
Semua perempuan Ainu yang berada di sekitar situ dapat mengikuti adegan tersebut,
mereka sama terharu sehingga banyak di antaranya tanpa sadar menurunkan
samurainya masing-masing.
Ho Leng-hong menyapu pandang sekejap wajah orang-orang di sekelilingnya, lalu
dengan suara lantang berkata, “Kalian semua adalah perempuan baik-baik bangsa
Ainu, kenapa kalian mau diperalat orang dan jauh-jauh menyeberangi lautan datang
ke Tionggoan untuk mengantar kematian? Ketahuilah, laki-laki dan perempuan secara
kodrat mempunyai kewajiban yang berbeda, perempuan Ainu terkenal bijak dan alim,
apa gunanya kalian datang ke wilayah Tionggoan sini? Apakah kalian tidak rindu
pada orang tua yang berada di negerimu sendiri?”
Perempuan Ainu itu saling pandang tak seorang pun bersuara atau memberi
komentar.
“Ho Leng-hong, jangan kau memecah belah kekuatan Ci-moay-hwe!” teriak Kim
Lam-giok, “kami perempuan bangsa Ainu sudah muak dan tak tahan diperbudak oleh
kaum pria macam kau, sebab itu kami mengambil keputusan untuk mendirikan Cimoay-
hwe, kamipun ingin membuat kaum lelaki merasakan bagaimana rasanya kalau
ditindas dan diperbudak orang.”
“Sekalipun demikian, sepantasnya kaudirikan Ci-moay-hwe di negerimu sendiri yang
menindas dan memperbudak kalian dan bukan laki-laki bangsa Tionggoan, apa
gunanya kalian bikin kacau di wilayah Tionggoan kami?”
“Ini . . . .” seketika Kim Lam-giok terbungkam, tapi setelah berpikir sebentar,
katanya lagi, “hal ini disebabkan daratan Tionggoan sangat luas dan rakyatnya
banyak, kami akan mendirikan Ci-moay-hwe di sini lebih dulu, setelah daratan
Tionggoan kami kuasai, tidaklah sulit bagi kami untuk menguasai bangsa Ainu.”
Ho Leng-hong tersenyum, katanya, “Sayang perempuan Tionggoan kebanyakan
berwatak bajik, tak mudah mereka terpengaruh, kalau tidak percaya tanyalah kepada
puluhan orang perempuan Tionggoan yang hadir di sini, siapa di antara mereka yang
mau menggabungkan diri dengan Ci-moay-hwe?”
Puluhan anggota Mi-kok sama tergelak, mereka merasa persoalan Ci-moay-hwe ini
sangat lucu dan tak seorang pun tertarik untuk menjadi anggota.
Tiba-tiba Leng-hong berkata dengan kereng, “Masalah Tong-popo telah berakhir,
seperti apa yang dijanjikan oleh Mi-kok Kokcu, barang siapa ingin pulang ke negeri

asalnya dalam keadaan hidup boleh segera membuang senjatanya ke tanah, masingmasing
akan diberi pesangon seratus tahil perak untuk ongkos pulang, kalau tidak,
maka Tay-pa-san akan menjadi kuburan kalian untuk selamanya.”
Baru selesai ia berseru, belasan orang di antara dua puluhan perempuan Ainu itu
membuang senjata mereka dan mengundurkan diri ke samping.
Buru-buru Kim Lam-giok membentak dengan bahasa Ainu, ternyata bentakan itu tak
ada gunanya, kembali ada beberapa orang membuang senjata mereka.
Kim Lik-giok menjadi gugup, katanya dengan agak gemetar, “Ho-tayhiap, kami tidak
ingin memusuhi dirimu, asalkan Sammoay Hong-giok dilepaskan, kami segera akan
angkat kaki dari sini.”
“Ya, kalau tidak terpaksa kami akan bunuh Hui Pek-ling dan putrinya lebih dulu,
kemudian baru bertarung mati-mati melawanmu,” sambung Kim Lam-giok.
Ho Leng-hong menggeleng kepala, “Kim Hong-giok telah mencuri belajar ilmu
aliran Mi-kok, perbuatannya itu melanggar peraturan Mi-kok, aku tidak berhak
melepaskannya, kalau kalian berani melukai ayah dan anak keluarga Hui itu, jangan
harap kalian bisa lolos dengan selamat.”
“Barusan kau telah mintakan ampun bagi Tong-popo, sekarang apa salahnya
kamipun mintakan ampun buat saudaraku?” pinta Kim Lik-giok.
“Tong-popo adalah anggota lembah, sebaliknya Kim Hong-giok hendak
meninggalkan lembah ini, jadi aku tak bisa memintakan ampun baginya.”
Kim Peng yang sejak tadi membungkam mendadak membentak, “Ho Leng-hong,
jangan latah, kalau punya kepandaian, beranikah bertaruh denganku?”
“Bertaruh bagaimana?” tanya Leng-hong.
“Beranikah kau berduel denganku tanpa menggunakan ilmu golok aliran Mi-kok, jika
kau menang, kami bersedia membubarkan Ci-moay-hwe, semuanya bergabung
dengan Mi-kok dan selamanya tidak pulang ke negeri asal.”
“Seandainya aku kalah?” tanya Ho Leng-hong sambil tertawa.
“Kalau kaukalah, maka harus kausuruh Tong Siau-sian membubarkan Mi-kok dan
bergabung dengan Ci-moay-hwe, Mi-kok akan menjadi pusat markas besar
perkumpulan Ci-moay-hwe kami.”
“Maaf, aku tak dapat menerima taruhan seperti itu, karena Mi-kok bukan milikku,”
kata Leng-hong sambil menggeleng kepala.
“Kau tidak berani menerima tantanganku?” ejek Kim Peng sambil tertawa dingin.
“Bukannya tidak berani, aku tak bisa menyanggupi . . . .”

“Aku setuju!” mendadak seorang menyambung.
Orang itu ternyata adalah Tong Siau-sian.
Leng-hong melenggong, katanya cepat, “Nona, persoalan ini bukan masalah kecil,
Mi-kok mempunyai aturan leluhur yang ketat, andaikata . . . .”
“Tak ada andaikata, aku percaya kau pasti akan merebut kemenangan.”
“Sudah lama Kim Peng berdiam di wilayah Leng-lam,” kata Leng-hong dengan
kening berkerut, “ia sudah apal sekali Tay-yang-sin-to (tiga belas bacokan panas
matahari) dari Hiang-in-hu, aku tidak mempunyai keyakinan akan menangkan
perarungan ini.”
Tong Siau-sian tertawa, “Dia Cuma berlatih ilmu golok dan tak pernah berlatih ilmu
pedang, lagipula kecuali Ang-siu-to-hoat, di dunia dewasa ini ada ilmu golok macam
apakah yang sanggup menandingi Poh-in-pat-tay-sik (delapan jurus sakti pembuyar
mega) kemahiranmu itu?”
“Kokcu sendiri tidak kuatir, apalagi yang kaukuatirkan?” bisik Pang Wan-kun, “turun
tanganlah, beri ajaran setimpal pada si kate itu!”
Kenyataannya tidak mengizinkan Ho Leng-hong untuk bersangsi lebih lama, karena
waktu itu Kim Peng dengan langkah lebar telah menuju ke tengah arena, semenara
perempuan-perempuan Ainu serta anggota Mi-kok yang berada di tanah lapang telah
mengundurkan diri dari situ.
Terpaksa Ho Leng-hong mengangkat bahu, setelah menyelipkan Yan-ci-po-to ke ikat
pinggang, sambil menenteng golok lengkung ia menyongsong ke depan.
Setelah kedua orang itu berdiri berhadapan, ternyata Ho Leng-hong lebih tinggi satu
kepala daripada Kim Peng, sebaliknya pinggang Kim Peng satu kali lebih besar
dibandingkan pinggang Ho Leng-hong.
Yang satu langsing dan jangkung, yang lain kekar dan pendek, masing-masing telah
mengambil posisi siap tempur.
Ho Leng-hong membawa dua bilah golok, Kim Peng juga memegang samurai
panjang dan sebilah pedang pendek.
“Ingat!” kata Kim Peng kemudian sambil menengadah, “kau tak boleh menggunakan
Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok!”
“Jangan kuatir!” sahut Leng-hong sambil mengangguk.
“Kita tidak membatasi jumlah jurus, pokoknya menang-kalah ditentukan bila salah
seorang terkena, barang siapa berhenti di tengah jalan, dia dianggap kalah.”
“Boleh!”

“Untuk memperoleh kemenangan, semua pihak diperkenankan mempergunakan cara
apapun, tapi hanya terbatas saling menutul saja.”
“Baik!”
Tiba-tiba Kim Peng berseru ke arah belakang Ho Leng-hong, “Hei, nona, harap
mundur sedikit, tidak boleh membantu secara diam-diam!”
Ho Leng-hong mengira ada orang hendak membantunya secara diam-diam, cepat ia
berpaling . . . . .
Pada saat ia berpaling itulah cahaya golok secepat kilat menggulung pinggangnya.
Ternyata Kim Peng hanya pura-pura membentak untuk mengalihkan perhatian
pemuda itu, lalu ia menyergap secepat kilat.
Karena tidak menyangka, hampir saja Ho Leng-hong termakan serangan itu, buruburu
ia bergeser ke samping dan putar badan . . . . .
Kendatipun tebasan itu berhasil dihindari, tapi Kim Peng telah berhasil merebut
posisi di atas angin, samurainya berputar sedemikian rupa sehingga berwujud satu
lingkaran sinar, dalam sekejap ia telah melancarkan tujuh-delapan kali tebasan maut.
Di bawah tekanan musuh yang bertubi-tubi, Ho Leng-hong tak sempat menghentikan
gerak tubuhnya, dia terdesak mundur sejauh satu tombak lebih, ia membentak dan
segera ayun goloknya untuk menangkis dengan keras lawan keras.
“Trang!” mendadak Ho Leng-hong merasa tangannya menjadi ringan, ternyata golok
lengkung itu patah menjadi dua.
Ho Leng-hong jadi teringat pada cerita Hui Beng-cu, dikatakan bahwa ayahnya, Hui
Pek-ling, terpikat oleh Kim Lam-giok lantaran ingin mencari sebilah golok mestika,
rupanya golok mestika yang berada di tangan Kim Peng inilah yang dimaksudkan.
Padahal golok lengkung juga golok pilihan, siapa sangka sekali bentrok lantas kutung
menjadi dua, pantas Kim Peng seperti begitu yakin pada pertarungan ini, rupanya ia
mengandalkan golok mestika tersebut.
Tanpa senjata di tangan, posisi Ho Leng-hong menjadi berbahaya, terpaksa ia buang
gagang golok itu, ia berjumpalitan di udara dan melayang lewat di atas kepala Kim
Peng, kesempatan itu dipergunakan melolos golok mestika Yan-ci-po-to yang terselip
di pinggang itu.
Kendatipun Yan-ci-po-to telah dipoles dengan cairan air raksa sehingga menutupi
ketajamannya, paling sedikit ia tak kuatir goloknya akan terpapas kutung lagi.
Oleh sebab itu, begitu melayang turun ia lantas mengembangkan goloknya dan
melancarkan serangan balasan.
Kim Peng masih juga berusaha untuk mengutungi Yan-ci-po-to, tapi setelah beberapa
kali bentrokan tidak berhasil, ia mulai kuatir dan ketakutan.

Dengan demikian, Ho Leng-hong dapat merebut kembali posisinya, ia mendesak
maju terus.
Dalam paniknya Kim Peng ganti serangan, kali ini dia khusus menyerang tiga arah
bagian bawah lawan, dengan potongan badan yang pendek, ia mengelilingi kaki Ho
Leng-hong dengan gerakan cepat dan mengembangkan ilmu golok Tay-yang-sin-to
dari Hiang-in-hu.
Tay-yang-sin-to ini bukan cuma bergerak cepat, sewaktu dikembangkan golok itu
memancarkan hawa berwarna merah darah bagaikan kobaran api.
Tentu saja untuk memainkan ilmu golok Tay-yang-sin-to ini banyak tenaga dalam
yang harus digunakan.
Tapi Kim Peng seperti memiliki tenaga yang tiada habisnya, permainan goloknya
kian lama kian cepat, di antara putaran goloknya, kabur merah menyelimuti angkasa
dan seakan-akan mengurung Ho Leng-hong dalam sebuah tungku api yang membara.
Hawa udara yang panas tentu saja tidak enak, ditambah lagi Ho Leng-hong yang
jangkung harus menghadapi lawan yang cebol, keadaan ini sangat tidak
menguntungkan dia, tak lama kemudian sekujur badannya sudah basah kuyup oleh
keringat.
Tapi iapun berhasil menemukan sesuatu yang aneh . . . golok mestika Yan-ci-po-to
seakan-akan kian lama kian bertambah tajam.
Ia jadi teringat pada pesan Pang Goan, bahwa mata golok Yan-ci-po-to telah dipoles
dengan air raksa sehingga kelihatannya tumpul, tapi kalau digarang api sehingga air
raksa meleleh, maka ketajamannya akan pulih kembali, jangan-jangan lantaran Kim
Peng menggunakan ilmu golok Tay-yang-sin-to, maka air raksa pada mata golok
menjadi meleleh?
Ho Leng-hong masih juga tidak percaya, pada suatu kesempatan, tiba-tiba ia
membacok tubuh lawan dengan sepenuh tenaga.
Sesungguhnya Kim Peng mempunyai peluang untuk berkelit, tapi diam-diam timbul
hawa napsu membunuhnya. Mendadak golok di pindah ke tangan kanan, kaki
setengah berlutut, dengan jurus Heng-ka-kim-ko (menangkis melintang batang emas)
ia sambut bacokan lawan dengan keras lawan keras, sementara tangan kiri secepat
kilat melolos pisau pendek dari pinggang dan menikam lambung anak muda itu.
Jurus serangan ini benar-benar ganas dan keji Tong Siau-sian menjerit saking
terkejutnya.
Keadaan waktu itu memang gawat, tangkisan samurai Kim Peng telah mengunci mati
golok Ho Leng-hong, sementara tikaman tangan kiri berlangsung dalam jarak yang
amat dekat, serangan yang tidak terduga . . . .
Serentak jeritan ngeri berkumandang menggetar perasaan setiap orang.

Hampir setiap orang yang berada di situ menganggap Ho Leng-hong pasti terluka,
tapi kenyataannya ternyata tidak.
Yang terluka sebaliknya adalah Kim Peng, golok panjangnya kutung, bahkan seluruh
lengan kirinya ikut terpapas kutung juga, darah membasahi sebagian besar tubuhnya
dan ia sendiri roboh tak sadarkan diri.
Tangan kirinya yang menggenggam golok pendek itu tergeletak di samping kaki Ho
Leng-hong, ujung jolok itu sempat melubangi jubah luar yang dikenakan anak muda
itu.
Ho Leng-hong berdiri termangu di situ sambil mengawasi golok mestika Yan-ci-poto
itu dengan terkesima, tampak bingung dan tak habis mengerti.
Tiba-tiba Kim Lam-giok menjerit, “Orang she Ho, kau benar-benar rendah dan tak
tahu malu, tadi telah janji hanya terbatas saling menutul saja kenapa sekarang kau
gunakan serangan sekeji ini?”
Sepatah katapun Ho Leng-hong tidak bersuara, ia hanya menutuk jalan darah sekitar
luka Kim Peng, lalu mengangkatnya bangun.
“Lepaskan dia! Lepaskan dia....” bentak Kim Lam-giok dengan gusar.
Leng-hong tetap membungkam, ia menerobos kepungan orang Mi-kok dan berhenti
di hadapan Tong Siau-sian, tanyanya lirih, “Apakah nona membawa obat penghenti
darah?”
Tong Siau-sian mengangguk, Pang Wan-kun segera mengeluarkan sebutir pil dan
diangsurkan.
Ho Leng-hong mencekokkan obat itu ke mulut Kim Peng, kemudian katanya, “Aku
telah salah melukainya, untuk membayar kesalahan ini, bersediakah nona memenuhi
suatu permintaanku?”
“Katakanlah, asal aku sanggup pasti kukabulkan.”
“Harap nona membebaskan Kim Hong-giok, biar mereka membawa Kim Peng pergi,
segala akibatnya akan kutanggung sendiri.”
Tong Siau-sian ragu-ragu sejenak, katanya, “Apakah kaulupa bahwa Kim Hong-giok
telah mencuri belajar Ang-siu-to-hoat kita? Melepaskan harimau kembali ke gunung
hanya akan mendatangkan bencana bagi kita di kemudian hari.”
Leng-hong mengangguk, “Aku akan menunggu sampai mereka berhasil meyakini
Ang-siu-to-hoat, lalu menentukan suatu tempat untuk berduel lagi, bagaimanapun aku
tak ingin orang asing menertawakan bangsa kita yang cuma sanggup menyerang
orang yang sedang susah!”
Mencorong tajam sinar mata Tong Siau-sian, katanya sambil tertawa, “Baik, sebagai

bangsa yang besar harus memiliki jiwa ksatria seperti itu.”
Ia lantas memberi tanda, dua orang pengawal lantas membebaskan Kim Hong-giok
dari pengaruh tutukan.
“Padahal kaupun tak perlu menyalahkan diri sendiri,” bisik Pang Wan-kun kemudian,
“apa yang terjadi dapat kita saksikan dengan jelas, caramu melukainya dengan tidak
sengaja, sebaliknya dia yang berhati keji dan bermaksud merenggut nyawamu....”
Ho Leng-hong tertawa hambar, “Bangsa Ainu tersohor berpandangan picik dan
berjiwa sempit, bagaimanapun yang terluka kan dia.”
Bicara sampai di sini, ia lantas serahkan Kim Peng kepada Kim Hong-giok, katanya,
“Kutahu nona telah mengikuti kejadian tadi dengan mata kepala sendiri, semua budi
dan dendam hanya menyangkut aku orang she Ho seorang dan sama sekali tak ada
hubungannya dengan ayah dan anak keluarga Hui, kuharap nona segera mengambil
keputusan.”
Kim Hong-giok manggut-manggut, sambil mengangkat tubuh Kim Peng ia berjalan
ke rumah gubuk.
Tapi baru beberapa langkah, mendadak ia berpaling dan berkata, “Apakah semua
keputusanku akan kauterima?”
“Tentu saja!”
“Kau tidak menyesal?”
“Pasti tidak!”
Kim Hong-giok tertawa, ia percepat langkahnya dan kembali ke rumah gubuk itu.
“Apakah perlu kita kepung rumah gubuk itu untuk mencegah niat jahat mereka
melukai ayah dan anak keluarga Hui?” tanya Wan-kun kemudian.
“Aku rasa tidak perlu,” jawab Leng-hong sambil menggeleng, “aku percaya Kim
Hong-giok bukan manusia semacam itu.”
Akan tetapi kejadian selanjutnya ternyata di luar dugaan mereka semua.
Sekembalinya ke rumah gubuk, Kim Hong-giok sama sekali tidak membebaskan Hui
Pek-ling dan Hui Beng-cu, setelah tiga bersaudara seperguruan itu berunding sejenak
mereka mengantar Kim Peng masuk ke dalam rumah, kemudian Kim Lam-giok
tampil ke depan dan berkata, “Harap Nyo-hujin dari Thian-po-hu datang kemari
sebentar untuk merundingkan sesuatu.”
“Permainan apalagi yang hendak dilakukan perempuan asing ini?” bisik Wan-kun
agak bingung.
“Penuhi saja permintaan mereka, jangan kuatir,” ujar Leng-hong, “tampaknya

mereka tidak bermaksud jahat, kalau tidak, tak mungkin dia memanggilmu dengan
sebutan demikian.”
Tong Siau-sian ikut berkata, “Ya, sebelum meninggalkan Tay-pa-san, tak nanti
mereka berani melukaimu, mungkin saja mereka hendak merundingkan syarat
meloloskan diri dari sini.”
Terpaksa Wan-kun memberanikan diri menuju ke rumah gubuk itu, kedatangannya
segera disambut oleh Kim Lam-giok dan diajak masuk ke dalam rumah, selang
sejenak Wan-kun muncul kembali seorang diri.
Sekembalinya dari rumah gubuk itu, ternyata ia menghindari Ho Leng-hong dan
langsung mengajak Tong Siau-sian ke samping serta berbisik-bisik dengan suara lirih.
“Hei, apa yang kalian rundingkan?” tak tahan Ho Leng-hong lantas menegur.
Tong Siau-sian tidak menjawab, tapi ia segera menitahkan pasukannya kembali ke
Mi-kok.
Leng-hong bingung sekali, ia berdiri termangu dan tak tahu apa gerangan yang
terjadi.
“Sudahlah, jangan melongo saja,” tegur Wan-kun sambil tertawa misterius, “mari
kita pulang dulu ke Mi-kok, persoalan ini sebentar pasti akan kuberitahukan padamu.”
“Secara teratur pasukan Bok-lan-tui membubarkan kepungan dan kembali ke lembah,
ternyata para perempuan Ainu bekas anggota Ci-moay-hwe lantas membuntuti pula di
belakang mereka, kemudian empat bersaudara Kim, Hui Pek-ling dan Hui Beng-cu
sekalian juga meninggalkan rumah gubuk, ikut kembali ke Mi-kok.
Ho Leng-hong yang selama ini terkenal cerdik, kali ini benar-benar dibuat bingung
dan tidak habis mengerti oleh kejadian ini.
-----------------------
Upacara perkawinan diselenggarakan dalam Mi-kok bukan cuma meriah saja, bahkan
amat megah dan mewah, aneka warna lampion bergelantungan di sana sini, suasana
gembira ria meliputi seluruh pelosok lembah.
Semenjak dulu Mi-kok selalu mengadakan pesta perkawinan bagi Kokcunya, tapi tak
satu kalipun sedemikian megah dan meriah seperti upacara perkawinan sekali ini.
Karena menurut pengumuman resmi pihak Tiang-lo-wan, bahwa sejak hari
perkawinan itu, Kokcu lembah Mi-kok tidak harus lagi dijabat oleh seorang
perempuan, kedudukan itupun tidak bersifat turun-temurun lagi, setiap lelaki maupun
perempuan yang berbakat cerdik dan berhati mulia mempunyai hak yang sama untuk
menduduki jabatan Kokcu berikutnya.
Tentu saja, menyusul perubahan tata cara jabatan seorang Kokcu, banyak peraturan
lain yang kurang sesuai mengalami pula perubahan dan penambahan, semenjak itu

lembah Mi-kok tidak putus hubungan dengan dunia luar lagi, asal mereka tidak
berniat jahat, setiap saat boleh masuk ke lembah untuk berdagang ataupun menetap di
situ . . . .
Akan tetapi semua perubahan ini tidak berhasil juga membuat Ho Leng-hong paham
terhadap persoalan yang selama ini mengganjal hatinya, persoalan tersebut akhirnya
dipahami juga setelah upacara perkawinan dilangsungkan.
Ternyata pengantin perempuan yang berdiri di sisi permadani merah ada dua orang.
Yang satu adalah Tong Siau-sian sedang yang lain ialah Kim Hong-giok.
Hui Pek-ling dan Hui Beng-cu telah menjadi comblangnya, pihak Tiang-lo-wan
menjadi wali untuk Tong Siau-sian, Pang Wan-kun dengan kedudukan sebagai enso
bertindak selaku wali Ho Leng-hong, sedangkan wali untuk Kim Hong-giok ternyata
adalah Kim Peng yang kini berlengan buntung.
Kim Lam-giok dan Kim Lik-giok menjadi pendamping pengantin, bukan pengantin
perempuan yang didampingi, dengan satu di kiri dan yang lain di kanan mereka justru
mengapit Ho Leng-hong.
Ho Leng-hong sendiri tidak menyangka akan digiring begitu saja, sedikit sangsi
segera ia dijepit oleh kedua orang iparnya hingga tak mampu berkutik lagi.
Dengan nada menggertak Kim Lam-giok berkata, “Tahu diri sedikit, jangan coba
kabur dari sini. Ketahuilah, untuk menjamin agar ilmu golok Ang-siu-to-hoat tak
sampai tersiar ke luar, terpaksa Sammoay menerima bujukan kami dan mau dimadu,
kalau kau berani menelantarkannya, hati-hati kalau kamipun akan menuntut dendam
terpapasnya lengan Suheng kami.”
Ho Leng-hong tertawa getir, “Tapi perkawinan adalah masalah besar yang
menyangkut kehidupan seseorang, seharusnya kalian memberitahukan kepadaku lebih
dahulu.”
“Ah, kenapa memberitahukan padamu?” tukas Kim Lam-giok, “enso bagaikan ibu,
asal Nyo-hujin sudah setuju, apalagi yang bisa kaukatakan?”
Ya apalagi yang bisa dikatakan Ho Leng-hong?
Bagaimanapun juga mereka sudah berada di ruang upacara, tentu saja ia tak bisa
berteriak, juga tak dapat kabur, terpaksa ia “pasrah nasib” terhadap apapun yang akan
menimpa dirinya.
Padahal di dunia ini pasti sangat banyak lelaki yang ingin “pasrah nasib” semacam
itu, sayang mereka tidak mujur seperti apa yang dialami Ho Leng-hong . . . .

Tamat